|
|
|
|
|
MANUSIA (1/3)
Dalam bukunya, Man the Unknown, Dr. A. Carrel menjelaskan
tentang kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat
manusia. Dia mengatakan bahwa pengetahuan tentang
makhluk-makhluk hidup secara umum dan manusia khususnya belum
lagi mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang
ilmu pengetahuan lainnya. Selanj utnya ia menulis:
Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan
usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya,
kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup
banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof,
sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian
sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya mampu
mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita. Kita
tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita
ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari
bagian-bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya
dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada
hakikatnya, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia --kepada
diri mereka-- hingga kini masih tetap tanpa jawaban.
Keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya itu
disebabkan oleh:
1. Pembahasan tentang masalah manusia terlambat
dilakukan, karena pada mulanya perhatian manusia hanya
tertuju pada penyelidikan tentang alam materi. Pada
zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk
menundukkan atau menjinakkan alam sekitarnya, seperti
upaya membuat senjata-senjata melawan
binatang-binatang buas, penemuan api, pertanian,
peternakan, dan sebagainya sehingga mereka tidak
mempunyai waktu luang untuk memikirkan diri mereka
sebagai manusia. Demikian pula halnya Pada Zaman
Kebangkitan (Renaisans) ketika para ahli digiurkan
oleh penemuan-penemuan baru mereka yang disamping
menghasilkan keuntungan material, juga menyenangkan
publik secara umum karena penemuan-penemuan tersebut
mempermudah dan memperindah kehidupan ini.
2. Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung
memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan
oleh sifat aka1 kita seperti yang dinyatakan oleh
Bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup.
3. Multikompleksnya masalah manusia.
Dari penjelasan di atas, agamawan dapat berkomentar, bahwa
pengetahuan tentang manusia demikian itu disebabkan karena
manusia adalah satu-satunya makhluk yang dalam unsur
penciptaannya terdapat ruh Ilahi sedang manusia tidak diberi
pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit (QS Al-Isra' [17]:
85).
Jika apa yang dikemukakan oleh A. Carrel itu diterima, maka
satu-satunya jalan untuk mengenal dengan baik siapa manusia,
adalah merujuk kepada wahyu Ilahi, agar kita dapat menemukan
jawabannya.
Untuk maksud tersebut tentu tidak cukup dengan hanya merujuk
kepada satu dua ayat, tetapi seharusnya merujuk kepada semua
ayat Al-Quran (atau paling tidak ayat-ayat pokok) yang
berbicara tentang masalah yang dibahas, dengan mempelajari
konteksnya masing-masing, dan mencari penguat-penguatnya baik
dari penjelasan Rasul, maupun hakikat-hakikat ilmiah yang
telah mapan. Cara ini dikenal dalam disiplin ilmu Al-Quran
dengan metode maudhu'i (tematis).
Istilah Manusia dalam Al-Quran
Ada tiga kata yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada
manusia.
l. Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun,
dan sin, semacam insan, ins, nas, atau unas.
2. Menggunakan kata basyar.
3. Menggunakan kata Bani Adam, dan zuriyat Adam.
Uraian ini akan mengarahkan pandangan secara khusus kepada
kata basyar dan kata insan.
Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti
penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang
sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai
basyar karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan kulit
binatang yang lain.
Al-Quran menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk
tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna (dual) untuk menunjuk
manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan
manusia seluruhnya. Karena itu Nabi Muhammad Saw.
diperintahkan untuk menyampaikan bahwa,
Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi
wahyu (QS Al-Kahf [18]: 110).
Dari sisi lain diamati bahwa banyak ayat-ayat Al-Quran yang
menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses
kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahap-tahap sehingga
mencapai tahap kedewasaan.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya (Allah)
menciptakan kamu dari tanah, kemudian ketika kamu
menjadi basyar kamu bertebaran (QS Al-Rum [30]: 20).
Bertebaran di sini bisa diartikan berkembang biak akibat
hubungan seks atau bertebaran mencari rezeki. Kedua hal ini
tidak dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki
kedewasaan dan tanggung jawab. Karena itu pula Maryam a.s.
mengungkapkan keheranannya dapat memperoleh anak, padahal dia
belum pernah disentuh oleh basyar (manusia dewasa yang mampu
berhubungan seks) (QS Ali 'Imran [3]: 47). Kata basyiruhunna
yang digunakan oleh Al-Quran sebanyak dua kali (QS Al-Baqarah
[2]: 187), juga diartikan dengan hubungan seks.
Demikian terlihat basyar dikaitkan dengan kedewasaan dalam
kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu memikul tanggung
jawab. Dan karena itu pula, tugas kekhalifahan dibebankan
kepada basyar {perhatikan QS Al-Hijr 115): 28 yang menggunakan
kata basyar), dan QS Al-Baqarah (2): 30 yang menggunakan kata
khalifah, yang keduanya mengandung pemberitaan Allah kepada
malaikat tentang manusia.
Kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak,
harmonis, dan tampak. Pendapat ini, jika ditinjau dari sudut
pandang Al-Quran lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia
terambil dan kata nasiya (lupa), atau nasa-yanusu
(berguncang).
Kitab Suci Al-Quran --seperti tulis Bint Al-Syathi' dalam
Al-Quran wa Qadhaya Al-Insan-- seringkali memperhadapkan insan
dengan jin/jan. Jin adalah makhluk halus yang tidak tampak,
sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata lagi ramah.
Kata insan, digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada manusia
dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang
berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat perbedaan
fisik, mental, dan kecerdasan.
Produksi dan Reproduksi Manusia
Al-Quran menguraikan produksi dan reproduksi manusia. Ketika
berbicara tentang penciptaan manusia pertama, Al-Quran
menunjuk kepada sang Pencipta dengan menggunakan pengganti
nama berbentuk tunggal:
Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dan tanah
(QS Shad [38]: 71).
Apa yang menghalangi kamu (iblis) sujud kepada apa
yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? (0S Shad
[38]: 75).
Tetapi ketika berbicara tentang reproduksi manusia secara
umum, Yang Maha Pencipta ditunjuk dengan menggunakan bentuk
jamak. Demikian kesimpulan kita kalau membaca surat At-Tin
ayat 4:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya.
Ha1 itu untuk menunjukkan perbedaan proses kejadian manusia
secara umum dan proses kejadian Adam a.s. Penciptaan manusia
secara umum, melalui proses keterlibatan Tuhan bersama
selain-Nya, yaitu ibu dan bapak. Keterlibatan ibu dan bapak
mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik dan psikis anak,
sedangkan dalam penciptaan Adam, tidak terdapat keterlibatan
pihak lain termasuk ibu dan bapak.
Al-Quran tidak menguraikan secara rinci proses kejadian Adam,
yang oleh mayoritas ulama dinamai manusia pertama. Yang
disampaikannya dalam konteks ini hanya:
a. Bahan awal manusia adalah tanah.
b. Bahan tersebut disempurnakan.
c. Setelah proses penyempurnaannya selesai, ditiupkan
kepadanya ruh Ilahi (QS Al-Hijr [15]: 28-29; Shad
[38]: 71-72).
Apa dan bagaimana penyempurnaan itu, tidak disinggung oleh
Al-Quran. Dari sini, terdapat sekian banyak cendekiawan dan
ulama Islam, jauh sebelum Darwin yang melakukan penyelidikan
dan analisis sehingga berkesimpulan bahwa manusia diciptakan
melalui fase atau evolusi tertentu, dan bahwa ada
tingkat-tingkat tertentu menyangkut ciptaan Allah. Nama-nama
seperti Al-Farabi (783-950 M), Ibnu Miskawaih (Wafat 1030 M),
Muhammad bin Syakir Al-Kutubi (1287- 1363 M), Ibnu Khaldun
(1332-1406 M) dapat disebut sebagai tokoh-tokoh paham evolusi
sebelum lahirnya teori evolusi Darwin (1804-1872 M). Perlu
ditambahkan bahwa kesimpulan ulama-ulama tersebut tidak
sepenuhnya sama dalam rincian teori evolusi yang dirumuskan
oleh Darwin.
Dari sini pula dapat dimengerti uraian pakar tafsir Syaikh
Muhammad Abduh yang menyatakan bahwa seandainya teori Darwin
tentang proses penciptaan manusia dapat dibuktikan
kebenarannya secara ilmiah, maka tidak ada alasan dari
Al-Quran untuk menolaknya. Al-Quran hanya menguraikan proses
pertama, pertengahan, dan akhir. Apa yang terjadi antara
proses pertama dan pertengahan, serta antara pertengahan dan
akhir, tidak dijelaskannya
Abbas Al-Aqad, seorang ilmuwan dan ulama Mesir kontemporer,
dalam bukunya Al-Insan fi Al-Quran (Manusia dalam Al-Quran)
mempersilakan setiap Muslim, untuk --menerima atau menolak
teori itu-- berdasarkan penelitian ilmiah, tanpa melibatkan
Al-Quran sedikit pun, karena Al-Quran tidak berbicara secara
rinci tentang proses kejadian manusia pertama.
Potensi Manusia
Yang banyak dibicarakan oleh Al-Quran tentang manusia adalah
sifat-sifat dan potensinya. Dalam hal ini, ditemukan sekian
ayat yang memuji dan memuliakan manusia, seperti pernyataan
tentang terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan yang
sebaik-baiknya (QS Al-Tin [95]: 5), dan penegasan tentang
dimuliakannya makhluk ini dibanding dengan kebanyakan
makhluk-makhluk Allah yang lain (QS Al-Isra' [17]: 70) Tetapi,
di samping itu sering pula manusia mendapat celaan Tuhan
karena ia amat aniaya dan mengingkari nikmat (QS Ibrahlm [14]:
34), sangat banyak membantah (QS Al-Kahf [18]: 54), dan
bersifat keluh kesah lagi kikir (QS Al-Ma'arij [70]: l9), dan
masih banyak lagi lainnya.
Ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan satu
dengan lainnya, akan tetapi ayat-ayat tersebut menunjukkan
beberapa kelemahan manusia yang harus dihindarinya. Disamping
menunjukkan bahwa makhluk ini mempunyai potensi (kesediaan)
untuk menempati tempat tertinggi sehingga ia terpuji, atau
berada di tempat yang rendah sehingga ia tercela.
Seperti dikemukakan di atas, Al-Quran menjelaskan bahwa
manusia diciptakan dari tanah dan setelah sempurna kejadiannya
dihembuskanlah kepadanya Ruh Ilahi (QS Shad [38]: 71-72) .
Dari sini jelas bahwa manusia merupakan kesatuan dua unsur
pokok, yang tidak dapat dipisahkan karena bila dipisahkan maka
ia bukan manusia lagi. Sebagaimana halnya air yang merupakan
perpaduan antara oksigen dan hidrogen dalam kadar-kadar
tertentu. Bila kadar oksigen dan hidrogennya dipisahkan, maka
ia tidak akan menjadi air lagi.
Potensi manusia dijelaskan oleh Al-Quran antara lain melalui
kisah Adam dan Hawa (QS Al-Baqarah [2]: 30-39).
Dalam ayat itu dijelaskan bahwa sebelum kejadian Adam, Allah
telah merencanakan agar manusia memikul tanggung jawab
kekhalifahan di bumi. Untuk maksud tersebut di samping tanah
(jasmani) dan Ruh Ilahi (akal dan ruhani), makhluk ini
dianugerahi pula:
a. Potensi untuk mengetahui nama dan fungsi benda-benda alam.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia adalah
makhluk yang berkemampuan untuk menyusun konsep-konsep,
mencipta, mengembangkan, dan mengemukakan gagasan, serta
melaksanakannya. Potensi ini adalah bukti yang membungkamkan
malaikat, yang tadinya merasa wajar untuk dijadikan khalifah
di bumi, dan karenanya mereka bersedia sujud kepada Adam.
b. pengalaman hidup di surga, baik yang berkaitan
dengan kecukupan dan kenikmatannya, maupun rayuan
Iblis dan akibat buruknya.
Pengalaman di surga adalah arah yang harus dituju dalam
membangun dunia ini, kecukupan sandang, pangan, dan papan,
serta rasa aman terpenuhi (QS Thaha [20]: 116-ll9), sekaligus
arah terakhir bagi kehidupannya di akhirat kelak. Sedangkan
godaan Iblis, dengan akibat yang sangat fatal itu, adalah
pengalaman yang amat berharga dalam menghadapi rayuan Iblis di
dunia, sekaligus peringatan bahwa jangankan yang belum masuk,
yang sudah masuk ke surga pun, bila mengikuti rayuannya akan
terusir.
---------------- (bersambung 2/3)
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
|
|
|
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota |