|
|
15. Menyingkap Tabir Pertama: makrifat
Allah
Rasulullah saw. bersabda: Jika engkau mengenal
Allah sebagaimana Dia harus dikenal, engkau akan dapat
berjalan di atas lautan, dan gunung-gunung akan bergerak
bila kau perintah. Mengenal Allah ada dua jenis:
secara ilmu pengetahuan (ilmi) dan secara
perasaan (hali). Mengenal Allah secara ilmiah adalah
dasar dari semua barakah di dunia ini dan di akhirat nanti,
karena hal yang paling penting bagi seseorang pada setiap
waktu dan dalam segala keadaan adalah pengetahuan tentang
Tuhan, sebagaimana Tuhan berfirman: Aku hanya
menciptakan jin dan manusia agar mereka mengabdi
kepada-Ku (QS 51 :56), yakni agar mereka bisa
mengenal-Ku. Namun, sebagian besar manusia melalaikan
kewajiban ini, kecuali mereka yang telah dipilih Tuhan dan
yang kalbu-kalbu mereka Dia hidupkan dengan Din-Nya Sendiri.
Mengenal Allah (makrifat) adalah kehidupan hati lewat
Tuhan dan berpalingnya pikiran-pikiran manusia dari semua
yang bukan Tuhan. Martabat atau nilai kehidupan setiap orang
bergantung pada makrifat. Ia yang tidak memiliki makrifat,
tak ada nilainya sama sekali. Para ahli teologi, ahli hukum
(fuqaha), dan sekelompok lain orang memberi
nama makrifat kepada pengetahuan yang benar
(ilm) tentang Tuhan. Namun, Syaikh-syaikh Sufi
menyebut perasaan yang benar (hal) terhadap Tuhan
dengan nama itu (makrifat). Karenanya, mereka
mengatakan bahwa makrifat lebih utama daripada pengetahuan
(ilm), sedangkan perasaan yang benar (hal)
adalah hasil dari pengetahuan yang benar. Tapi, pengetahuan
yang benar tidak sama dengan perasaan yang benar. Yakni
orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang Tuhan
bukanlah ahli makrifat (arif). Tapi orang
mungkin saja punya pengetahuan tentang Tuhan tanpa menjadi
ahli makrifat. Orang-orang dari kelompok yang satu yang
tidak mengenal perbedaan ini terlibat dalam perselisihan
yang sia-sia, dan kelompok yang satu tidak percaya kepada
kelompok yang lainnya. Nah, sekarang, akan aku jelaskan
masalah itu supaya kedua-duanya bisa mengerti.
Harus diketahui bahwa ada perbedaan besar dalam pandangan
yang menyangkut makrifat dan pengetahuan yang benar tentang
Allah. Kaum Mutazilah menyatakan bahwa makrifat
bersifat intelektual dan hanya orang yang berakal
(aqil) yang dapat memilikinya. Doktrin ini
ditolak oleh fakta bahwa orang gila, di dalam Islam, dapat
mempunyai makrifat, dan anak-anak, yang tidak berakal, dapat
mempunyai iman. Sekiranya ukuran makrifat adalah
intelektual, orang-orang seperti itu tentu tidak
bermakrifat, sementara orang-orang yang tidak beriman tidak
bisa disebut kafir hanya karena mereka berakal. Jika akal
merupakan sebab makrifat, akibatnya setiap orang yang
berakal mesti mengenal Allah, dan semua orang yang
kehilangan akal mesti tidak mengenal Allah. Hal ini jelas
aneh sekali. Pihak lain mengatakan bahwa pembuktian dengan
dalil (istidlal) adalah sebab dari pengetahuan
tentang Tuhan, dan bahwa pengetahuan seperti itu tidaklah
didapat kecuali oleh orang-orang yang merumuskannya dengan
cara ini. Kesesatan doktrin ini dicontohkan oleh Iblis,
karena ia melihat banyak bukti seperti surga, neraka, dan
Arasy Ilahi, namun bukti-bukti itu tidak
menyebabkannya memiliki makrifat. Allah berfirman bahwa
pengetahuan tentang Dia bergantung pada kehendak-Nya (QS
6:111). Menurut pandangan mayoritas Muslim, kekuatan akal
dan melihat bukti-bukti adalah sarana (sabab) menuju
makrifat, namun bukanlah sebab langsung
(illat)-nya. Satu-satunya sebab-langsung adalah
kehendak dan inayah Allah, karena tanpa inayah-Nya, akal
tetap buta. Akal malahan tidak mengenal dirinya. Lalu,
bagaimana ia bisa mengenal yang lainnya? Kaum zindiq dari
segenap golongan menggunakan metode pembuktian, namun
kebanyakan mereka tidak mengenal Allah. Pada lain pihak,
kapan saja seseorang menikmati inayah Allah, semua
tindakannya adalah mengandung sedemikian banyak tanda
makrifat. Pembuktiannya adalah mencari (thalab),
sedangkan ketakpeduliannya terhadap pembuktian adalah
penyerahan kepada kehendak Tuhan (taslim). Namun,
dalam hubungannya dengan makrifat yang sempurna, penyerahan
tidaklah lebih baik daripada mencari karena mencari adalah
prinsip yang tidak bisa diabaikan, sementara penyerahan
adalah prinsip yang menyingkirkan kemungkinan meluapnya
perasaan (idhtfrab), dan dua prinsip ini pada
pokoknya tidak melibatkan makrifat. Sesungguhnya
satu-satunya penunjuk dan pencerah manusia adalah Allah.
Akal dan bukti-bukti yang disimpulkan oleh akal tidak mampu
menunjukkan seseorang kepada jalan yang benar. Jika
orang-orang kafir kembali dari sidang Pengadilan akhirat ke
dunia ini, mereka tetap saja kafir (lihat QS 6:28). Ketika
Amirul Mukminin, Ali, ditanyai tentang makrifat,
beliau menjawab: Aku mengenal Allah karena Allah, dan
aku mengenal yang bukan Allah dengan cahaya Allah.
Allah menciptakan badan dan memberikan kehidupannya kepada
ruh (jan), dan Dia menciptakan jiwa (dil) dan
menyerahkan kehidupannya kepada Diri-Nya Sendiri. Maka,
karena akal, kemampuan-kemampuan manusia serta dalil-dalil
tidak mampu membuat badan hidup, mereka tidak mampu membuat
jiwa hidup sebagaimana Allah telah berfirman:
Akankah ia yang telah mati dan ia yang Kami telah
bentuk kehidupan dan kepadanya Kami telah beri cahaya
sehingga ia bisa berjalan di antara umat manusia ...
? (QS 6:122), yaitu: Akulah Pencipta cahaya
yang di dalamnya orang-orang beriman tercerahkan.
Tuhanlah yang membuka dan menutup hati manusia (QS 39:23;
2:6). Maka Dia Sendirilah yang mampu menunjuki mereka.
Setiap sesuatu selain Dia adalah sebab atau sarana;
sebab-sebab dan sarana-sarana tidak bisa menunjukkan jalan
yang benar tanpa rahmat dari Sang Pencipta sebab. Dialah
yang mewajibkan ketaatan, yang pada hakikatnya adalah
makrifat; dan mereka yang terkena kewajiban itu, sejauh
mereka dalam keadaan wajib, tidak memikulkannya pada dirinya
dan tidak melepaskannya sekehendak mereka sendiri. Maka dari
itu, peran manusia dalam makrifat, kalau Tuhan tidak
membuatnya tahu, hanyalah ketakberdayaan. Abul Hasan Nuri
mengatakan: Tidak ada seorang pun yang dapat
menunjukkan jalan menuju Tuhan kecuali Tuhan sendiri.
Pengetahuan hanyalah dicari, untuk melakukan pengabdian
kepada-Nya. Tiada seorang makhluk pun yang mampu
menunjuki seseorang kepada Tuhan.
Tahap pertama pembuktian adalah berpaling dari Allah,
karena pembuktian melibatkan pertimbangan tentang sesuatu
yang lain, sementara makrifat adalah berpaling dari semua
yang bukan Allah. Objek-objek pencarian yang biasa, didapat
dengan cara pembuktian, tetapi pengetahuan tentang Allah itu
luar biasa. Maka dari itu, pengetahuan tentang Dia hanyalah
diperoleh dengan menghentikan kebingungan akal. Dan
anugerah-Nya tidaklah diperoleh dengan daya upaya manusia,
tetapi diturunkan secara menakjubkan kepada hati manusia.
Apa yang bukan Tuhan adalah fenomenal (muhdats).
Walaupun wujud fenomenal bisa mencapai wujud lain seperti
dirinya, ia tidak bisa mencapai Penciptanya selagi ia ada.
Karena, pada setiap daya upaya ia yang membuat upaya, maka
ia yang menguasai, dan sesuatu yang diupayakan berada di
bawah kekuasaannya. Karena itu, karamah bukanlah supaya akal
mengukuhkan keberadaan Sumber ciptaan (Tuhan). melainkan
supaya seorang wali terpandu dengan cahaya Kebenaran
sehingga dia menyangkal eksistensinya sendiri. Pengetahuan
yang diperoleh pada satu kasus adalah materi logika. pada
kasus lain menjadi pengalaman batin. Biarlah orang-orang
yang mengira akal menjadi sebab-langsung makrifat,
mempertimbangkan apa yang akal kukuhkan dalam
pikiran-pikiran mereka mengenai substansi makrifat. Karena,
makrifat melibatkan penafian apa pun yang dikukuhkan oleh
akal, yakni pengertian apa pun tentang Tuhan yang bisa
dibentuk oleh akal. Allah pada hakikatnya adalah sesuatu
yang berbeda sama sekali. Lalu, bagaimana ada kemungkinan
bagi akal untuk sampai pada makrifat dengan cara pembuktian?
Akal dan imajinasi adalah serupa, dan di mana jenis
(genus) dikukuhkan, tentu makrifat tersangkal.
Menyimpulkan adanya Tuhan dari bukti-bukti intelektual
adalah asimilasi (tasybih), dan menyangkalnya karena
alasan yang sama adalah peniadaan (tathil).
Akal tak dapat melampaui dua prinsip ini, yang dalam
hubungannya dengan makrifat adalah agnostisisme. Karena
golongan-golongan yang mengakuinya bukanlah orang-orang yang
bertauhid (muwahhid).
Maka dari itu, bilamana akal lepas sejauh-jauhnya, dan
jiwa-jiwa pencinta-Nya perlu mencari-Nya, mereka pasrah tak
berdaya tanpa fakultas-fakultas mereka, dan selagi mereka
sedemikian pasrah, mereka menjadi resah dan mengangkat
tangan-tangan mereka dalam doa dan mencari pertolongan bagi
jiwa-jiwa mereka. Dan bilamana mereka telah menguras seluruh
upaya mereka dalam pencarian, dan telah kehabisan daya, maka
kekuatan Tuhan menjadi milik mereka, yakni mereka menemukan
jalan dari Dia menuju Dia dan terbebaskan dari derita
ketidakhadiran dan melangkahkan kaki di taman kedekatan dan
tenang. Sedangkan akal, bilamana ia melihat bahwa jiwa-jiwa
telah mencapai keinginan-keinginan mereka, mencoba
mengendalikannya, namun gagal. Dan bilamana gagal, ia
menjadi kelabakan; dan bilamana kelabakan, ia menyerah.
Kemudian Allah mengenakan padanya jubah pengabdian (khidmat)
dan berkata kepadanya: "Selagi engkau bebas, engkau
tertabiri oleh kemampuan-kemampuanmu dan penggunaannya. Dan
bilamana ini semua ditiadakan, engkau tentu gagal, dan
bilamana telah gagal, engkau tentu berhasil mencapai.
Jadi, inilah nasib baik jiwa untuk dekat kepada Allah, dan
nasib baik akal adalah melaksanakan pengabdian kepada-Nya.
Allah menyebabkan manusia mengenal-Nya melalui Diri-Nya
dengan pengetahuan yang tidak berkaitan dengan kemampuan apa
pun, suatu pengetahuan yang di dalamnya eksistensi manusia
hanyalah majazi (metaforis) belaka. Karenanya, bagi
ahli makrifat, keakuan adalah pengkhianatan terang-terangan.
Ingatnya kepada Allah tanpa kelalaian, dan makrifatnya
bukanlah kata-kata yang kosong melainkan perasaan yang
aktual.
Yang lain menyatakan bahwa makrifat adalah hasil dari
inspirasi (ilham). Ini juga tidak mungkin karena
makrifat memberikan tolok ukur untuk membedakan kebenaran
dari kepalsuan, sementara yang beroleh ilham tidak memiliki
tolok ukur semacam itu. Jika orang mengatakan, Aku
mengetahui melalui ilham bahwa Allah berada dalam
ruang, dan yang lain mengatakan, Aku mengetahui
melalui ilham bahwa Dia tidak berada dalam ruang,
salah satu dari pernyataan-pernyataan yang bertentangan ini
tentu mengandung kebenaran, tetapi bukti diperlukan guna
memutuskan di mana kebenaran itu berada. Akibatnya,
pandangan yang dianut oleh kaum Brahman dan kaum
inspirasionis (ilhamiyan) ini rubuhlah. Sekarang ini,
aku telah menjumpai sejumlah orang membawanya secara
berlebihan dan yang mengaitkan posisi mereka dengan doktrin
orang-orang yang religius, namun mereka tersesat dan
pernyataan mereka ditolak oleh kaum Muslim yang berakal dan
kaum kafir. Jika dikatakan bahwa apa pun yang berlawanan
dengan hukum suci (Syariat) bukanlah ilham, aku
menjawab bahwa argumen ini pada dasarnya tidak kuat, karena,
jika ilham dinilai dan diabsahkan dengan standar hukum suci,
maka makrifat tidak bergantung pada ilham, tetapi pada
hukum, kenabian, dan petunjuk Tuhan.
Yang lainnya lagi menyatakan bahwa pengetahuan tentang
Tuhan adalah intuitif (dharuri). Ini juga tidak
mungkin. Segala sesuatu yang diketahui dengan cara ini harus
juga diketahui oleh semua orang yang berakal. Dan karena
kita melihat bahwa sebagian orang berakal menyangkal adanya
Tuhan dan menganut doktrin-doktrin asimilasi
(tasybih) dan peniadaan (tathil), maka
terbukti bahwa pengetahuan tentang Tuhan tidaklah intuitif.
Lagi pula, jika demikian adanya, maka prinsip kewajiban
agamawi (taklif) akan hancur, karena prinsip itu
tidak mungkin bisa diterapkan pada objek-objek pengetahuan
intuitif, seperti diri, langit dan bumi, siang dan malam,
senang dan sedih, dan sebagainya, yang mengenai
eksistensinya tidak ada orang berakal yang dapat
meragukannya, dan yang harus diketahuinya sekalipun tidak
sesuai dengan kehendaknya sendiri. Tetapi sebagian orang
yang menempuh jalan tasawuf, dengan mempertimbangkan
kepastian mutlak (yaqin) yang mereka rasakan,
mengatakan: Kami mengetahui Tuhan secara
intuitif, dan memberi nama intuisi kepada kepastian
ini. Pada pokoknya mereka benar. Namun ungkapan mereka
keliru, karena pengetahuan intuitif tidak hanya terbatas
pada orang-orang yang sempurna saja. Sebaliknya, ia milik
semua orang yang berakal. Selanjutnya, ia muncul dalam
pikiran makhluk hidup tanpa sarana atau bukti apa pun,
sementara pengetahuan tentang Tuhan adalah sebuah sarana
(sababi). Tetapi, Abu Ali Daqqaq dan Syaikh Abu
Sahl Shuluki1 dan ayahnya, seorang tokoh
agama terkemuka di Nisyapur, menekankan bahwa permulaan
makrifat adalah pembuktian (demonstratif) dan akhirnya
adalah intuitif, seperti halnya pengetahuan teknis yang
awalnya diupayakan dan akhirnya menjadi instinktif.
Tidakkah engkau memahami, kata mereka,
bahwa di surga pengetahuan tentang Tuhan menjadi
intuitif? Mengapa ia tidak intuitif di dunia ini juga? Dan
para Rasul, bilamana mereka mendengar firman Tuhan, baik
secara langsung, lewat mulut malaikat, maupun dengan wahyu,
mengetahui-Nya secara intuitif. Aku jawab bahwa para
penghuni surga mengetahui Tuhan secara intuitif di dalam
surga, karena di dalam surga tidak ada beban kewajiban agama
dan para Rasul akhirnya tidak takut terpisah dari Tuhan sama
sekali, tetapi menikmati keamanan seperti yang dirasakan
orang-orang yang mengenal Tuhan secara intuitif. Keutamaan
makrifat dan iman terletak dalam kegaiban keduanya. Bilamana
keduanya terlihat, iman menjadi paksaan (jabr), dan
kehendak bebas tidak ada lagi sehubungan dengan substansinya
yang bisa dilihat (ayn), dan dasar-dasar hukum
keagamaan terguncang, dan prinsip kemurtadan tertiadakan,
sehingga Balam2 dan Iblis dan
Barshisha3 dengan sendirinya tidak bisa
dilukiskan sebagai kafir, karena telah disepakati secara
umum bahwa mereka mempunyai pengetahuan tentang Tuhan. Ahli
makrifat, selagi dia tetap sebagai ahli makrifat, tidak
takut terpisah dari Tuhan. Keterpisahan diakibatkan oleh
hilangnya makrifat, tetapi pengetahuan intuitif tidak bisa
hilang walau dalam bayangan. Doktrin ini berbahaya sekali
bagi orang-orang awam. Agar bisa menghindar dari
akibat-akibat buruknya, engkau harus mengetahui bahwa
pengetahuan manusia dan pengetahuannya tentang Tuhan
sepenuhnya bergantung pada informasi dan petunjuk Kebenaran
yang kekal. Keyakinan manusia dalam makrifat bisa saja
bertambah dan juga berkurang, namun prinsip makrifat tidak
pernah bertambah dan tidak pernah berkurang, karena dalam
kasus apa saja makrifat akan menjadi berkurang. Janganlah
sampai taklid buta masuk ke dalam pengetahuanmu tentang
Tuhan, dan kenalilah Dia melalui sifat-sifat sempurna-Nya.
Hal ini bisa dicapai hanya melalui rahmat Tuhan, yang
berkuasa mutlak atas pikiran-pikiran kita. Jika Dia
berkehendak demikian, Dia menjadikan salah satu tindakan-Nya
sebagai petunjuk yang membawa kita kepada Diri-Nya. Dan jika
Dia berkehendak lain, Dia membuat tindakan yang sama itu
suatu kendala yang mencegah kita untuk sampai kepada-Nya.
Maka Isa bagi sebagian orang adalah pemandu yang
mengantarkan mereka kepada makrifat, tetapi bagi sebagian
yang lain dia merupakan kendala yang mencegah mereka dari
makrifat. Golongan pertama mengatakan, Inilah hamba
Tuhan, dan yang kedua mengatakan, Inilah putra
Tuhan. Sebagian orang juga dibawa kepada Tuhan oleh
berhala-berhala dan oleh matahari dan bulan, sementara yang
lain tersesat. Pemandu-pemandu semacam itu adalah sarana
makrifat, tetapi bukan sebab-langsung makrifat. Dan sarana
yang satu tidaklah lebih baik daripada yang lainnya dalam
hubungannya dengan-Nya yang mencipta mereka semua.
Pengesahan ahli makrifat terhadap sarana adalah tanda
dualisme (zunnar), dan memandang kepada sesuatu
selain objek pengetahuan adalah syirik. Bilamana seseorang
telah ditakdirkan binasa dalam Lauh Al-Mahfuzh,
menurut kehendak dan ilmu Ilahi, bagaimana bisa bukti dan
pembuktian mengantarkannya kepada kebenaran? Tuhan Yang
Mahatinggi, sebagaimana Dia berkehendak dan dengan sarana
apa pun yang Dia kehendaki, menunjuki hamba-Nya jalan kepada
Diri-Nya dan membukakan baginya pintu makrifat, sehingga ia
mencapai suatu derajat di mana esensi makrifat itu sendiri
tampak asing (ghayr) dan sifat-sifatnya menjadi
merugikan baginya, dan dia tertabiri oleh makrifatnya dari
objek yang diketahui dan menyadari bahwa makrifatnya adalah
pretensi atau pengakuan (dawah). Dzun Nun
Al-Mishri mengatakan: Berhati-hatilah jangan sampai
engkau mengaku memiliki. makrifat. Dikatakan dalam
bait puisi:
- Ahli makrifat mengaku berpengetahuan,
- Namun aku mengaku bodoh: itulah
pengetahuanku.
Karena itu, jangan mengaku memiliki makrifat, supaya
engkau tidak binasa dalam pengakuanmu, tetapi berpeganglah
pada realitasnya, sehingga engkau bisa selamat. Bilamana
seseorang dianugerahi wahyu kemegahan Ilahi, eksistensinya
menjadi wabah penyakit baginya dan semua sifatnya menjadi
sumber kerusakan. Ia yang milik Tuhan dan yang Tuhan adalah
miliknya. tidaklah berhubungan dengan apa pun di jagat raya
ini. Intisari makrifat yang sebenarnya ialah mengenal bahwa
bagi Tuhanlah kerajaan itu. Bilamana seseorang mengetahui
bahwa semua milikan berada dalam kendali mutlak Tuhan,
urusan apa lagi yang ia miliki dengan sesama manusia,
sehingga ia akan ditabiri dari Tuhan oleh mereka atau oleh
dirinya sendiri? Semua tabir semacam itu adalah akibat dari
kebodohan. Begitu kebodohan sirna, tabir-tabir itu pun
lenyap, dan kehidupan dunia ini sama peringkatnya dengan
kehidupan akhirat nanti.
makrifatSufi>makrifat menurut Para Guru
Sufi
Nah, demi kejelasan, aku akan menyebutkan beberapa ujaran
Syaikh-syaikh tentang masalah ini.
Abdallah bin Mubarak mengatakan: makrifat
adalah tidak terherankan oleh apa pun, karena
ketakjuban muncul dari tindakan yang melebihi kekuatan si
pelaku. Dan karena Allah mahakuasa, maka tidaklah mungkin
seorang ahli makrifat akan terherankan oleh
tindakan-tindakan-Nya. Jika ada kemungkinan untuk takjub,
yang perlu ditakjubi adalah bahwa Tuhan memuliakan segenggam
tanah dengan derajat sedemikian sehingga ia menerima
perintah-perintah-Nya, dan setetes darah dengan kemuliaan
sedemikian sehingga ia berbicara tentang cinta dan
pengetahuan tentang Dia, dan mencari penglihatan akan Dia,
dan menginginkan persatuan dengan-Nya. Dzun Nun Al-Mishri
mengatakan: makrifat pada hakikatnya adalah firman
Tuhan tentang cahaya ruhani kepada kalbu-kalbu kita yang
terdalam, yakni Tuhan menyinari hati manusia dan
menjaganya dari ketercemaran, sehingga semua makhluk tidak
mempunyai arti lagi, bahkan sebiji sawi pun, di dalam
hatinya. Kontemplasi tentang rahasia-rahasia Ilahi, lahir
dan batin, tidak menguasainya. Tetapi bilamana Tuhan telah
melakukan demikian, setiap pandangannya menjadi tindak
kontemplasi (musyahadat). Syibli mengatakan: makrifat
adalah kekaguman yang terus menerus (hayrat).
Kekaguman ada dua macam: (1) kekaguman kepada esensi dan (2)
kekaguman kepada kualitas. Yang pertama adalah syirik dan
kufur, karena seorang ahli makrifat tak mungkin bisa
ragu-ragu mengenai esensi (zat) Tuhan. Namun yang kedua
adalah makrifat, karena kualitas (sifat) Tuhan terletak di
luar ruang lingkup akal. Karenanya, ada orang mengatakan:
Wahai Pemandu dari yang kagum, tingkatkanlah
kekagumanku! Pertama-tama ia mengukuhkan (mengakui)
adanya Tuhan dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan mengenal
bahwa Dia adalah yang dicari manusia dan yang mengabulkan
doa-doa mereka dan pembuat kekaguman mereka. Kemudian ia
memohon agar kekagumannya semakin besar dan mengetahui bahwa
dalam mencari Tuhan akal tidak mempunyai alternatif antara
kekaguman dan syirik. Perasaan ini sangat halus sekali. Dan
bisa saja pengetahuan tentang wujud Ilahi melibatkan
kekaguman kepada diri sendiri. Karena, bilamana seseorang
mengenal Tuhan, ia melihat dirinya sepenuhnya dikendalikan
oleh kemahakuasaan Tuhan. Karena keberadaannya bergantung
pada Tuhan dan ketidakberadaannya disebabkan oleh Tuhan,
sedangkan diam dan geraknya diakibatkan oleh daya Tuhan, ia
menjadi takjub, seraya mengatakan: Siapa dan apakah
aku ini? Dalam hubungan ini Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia mengenal
Tuhannya, yakni ia yang tahu bahwa dirinya fana, ia
tahu bahwa Tuhan itu baka. Kefanaan merusak akal dan semua
sifat manusia, dan bilamana substansi sesuatu benda tidak
bisa ditangkap akal, ia tidak mungkin bisa diketahui tanpa
kekaguman. Abu Yazid mengatakan: makrifat itu adalah
mengetahui bahwa gerakan dan diamnya manusia bergantung pada
Tuhan, dan bahwa tanpa izin-Nya, orang sedikit pun tak
kuasa mengendalikan kerajaan-Nya, dan orang tidak bisa
melakukan tindakan apa pun, kecuali Dia menciptakan
kemampuan untuk bertindak dan meletakkan karsa untuk
bertindak di dalam hatinya, dan bahwa tindakan-tindakan
manusia adalah majazi (metaforis) dan bahwa Tuhan adalah
sumber yang hakiki. Muhammad bin Wasi mengatakan,
dalam melukiskan ahli makrifat: Kata-katanya sedikit
saja, dan ketakjubannya abadi, karena hal-hal yang
terbatas saja yang bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan
karena yang tidak terbatas tidak bisa diungkapkan, tentu
saja hal ini tidak meninggalkan daya apa pun kecuali
ketakjuban abadi. Syibli mengatakan: makrifat hakiki
adalah ketidaksanggupan untuk mencapai makrifat, yakni
ketidaksanggupan untuk mengetahui sesuatu, yang watak
hakikinya tidak bisa diketahui manusia dan manusia tidak
mungkin mencapainya. Maka, kalau dapat mencapainya, dia
benar-benar tidak mempercayai bahwa itu berkat dirinya
karena ketidaksanggupan (ajz) itu adalah
mencari, dan selama dia bergantung pada kemampuan-kemampuan
dan sifat-sifatnya sendiri, dia dengan sendirinya tidak bisa
dilukiskan dengan istilah itu. Dan bilamana
kemampuan-kemampuan dan sifat-sifat ini lepas, lalu
keadaannya bukanlah ketidaksanggupan, melainkan kefanaan.
Beberapa Sufi palsu, sementara mengakui sifat-sifat manusia
dan senantiasa wajibnya memutuskan dengan keputusan yang
adil (taklif ba-shihhat-i khithab) dan kewenangan
hujah-hujah Tuhan atas mereka, menyatakan bahwa makrifat
adalah ketidakkuasaan, dan bahwa mereka tidak berdaya dan
tidak sanggup mencapai apa-apa. Kujawab: Dalam mencari
hal apakah, engkau menjadi demikian tak berdaya?
Ketidakkuasaan (ajz) mempunyai dua tanda, yang
tidak dijumpai di dalam dirimu: pertama, fananya (lenyapnya)
kemampuan-kemampuan mencari, dan kedua, manifestasi
kebesaran Tuhan (tajalli). Ketika pelenyapan
kemampuan-kemampuan terjadi, tidak ada ungkapan lahiriah
(ibarat); dan ketika kebesaran Tuhan
tersingkapkan tiada jawaban yang bisa diberikan dan tidak
ada pembedaan yang bisa dipahami. Oleh karenanya, orang yang
tidak berdaya tidak mengetahui bahwa dia demikian, atau
bahwa keadaan yang disifatkan kepadanya disebut
ketidakkuasaan. Bagaimana dia akan mengetahui hal ini?
Ketidakkuasaan itu milik selain Tuhan, dan yang menegaskan
pengetahuan tentang selain Tuhan bukanlah makrifat. Dan
selama ada ruang dalam hati bagi sesuatu selain Allah, atau
kemungkinan mengungkapkan sesuatu selain Allah, makrifat
sejati tidak bisa dicapai. Ahli makrifat baru menjadi ahli
makrifat setelah ia menyingkir dari semua yang bukan Tuhan.
Abu Hafsh Haddad mengatakan: Semenjak aku mengenal
Tuhan, kebenaran ataupun kepalsuan sama sekali tidak
memasuki hatiku. Bilamana seseorang merasakan
keinginan dan hawa nafsu, ia ,berpaling kepada jiwa
(dil) agar jiwa bisa membawanya kepada hawa nafsu,
yang merupakan tempat kepalsuan (kebatilan). Dan bilamana ia
menjumpai bukti makrifat, ia juga berpaling kepada jiwa
supaya bisa memandunya kepada ruh, yang menjadi sumber
kebenaran dan kenyataan. Tetapi, bilamana sesuatu selain
Tuhan memasuki jiwa, sang ahli makrifat, jika ia berpaling
kepadanya, melakukan tindak agnostisisme. Jadi ada perbedaan
besar antara orang yang berpaling kepada jiwa dan orang yang
berpaling kepada Tuhan. Abu Bakr Wasithi mengatakan:
Ia yang mengenal Tuhan, terputus dari segala sesuatu,
bahkan ia bisu (kharisa wa-nqamaa),
yakni ia tidak sanggup mengungkapkan sesuatu pun dan semua
sifatnya sirna. Rasul, sementara beliau dalam keadaan
ketidakhadiran (ghaybat), bersabda: Akulah yang
paling fasih di antara orang-orang Arab dan bukan
Arab. Tetapi, bilamana berada bersama Tuhan, beliau
mengatakan: Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan
pujian kepada-Mu. Jawaban datang: Wahai
Muhammad, jika engkau tidak berbicara, Aku akan berbicara.
Jika engkau mengira dirimu tidak pantas memuji-Ku, Aku akan
membuat jagat raya wakilmu, sehingga semua atomnya bisa
memuji-Ku atas namamu.
Catatan Kaki:
- Lihat Nafahat, No. 373.
- Lihat Baydhawi tentang QS 7:174.
- Lihat Goldziher dan Landberg, Die Legende vom
Monch Barsisa (1896), dan N. Hartmann, Der heilige
Barsisa dalam Der Islamische Orient (1905), i,
23-8.
|