Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

16. Menyingkap Tabir Kedua: Tauhid

Allah berfirman, “Tuhanmu adalah satu” (QS 16: 23) “dan lagi, “Katakanlah, ‘Tuhan adalah satu’” (QS 112: 1). Dan Rasulullah bersabda: “Pada zaman dahulu ada seseorang yang tidak berbuat baik, hanya saja dia menyatakan bahwa Tuhan adalah satu. Menjelang ajalnya, ia mengatakan kepada kaumnya: setelah aku mati, bakarlah aku dan kumpulkan debu-debuku, dan pada hari ketika banyak angin lemparkan separuhnya ke dalam lautan dan tebarkan separuhnya lagi ke angin di daratan, sehingga tak ada bekasku yang tertinggal.’ Tak lama setelah ia meninggal dunia dan pesannya itu dilaksanakan, Tuhan menyuruh udara dan air menjaga debu-debu yang mereka terima hingga Hari Kiamat. Dan ketika Dia bangkitkan orang itu dari kematian, Dia akan menanyainya mengapa dirinya dibakar, dan ia akan menjawab: ‘Wahai Tuhan, karena malu kepada-Mu, karena aku seorang pendosa besar,’ dan Tuhan akan mengampuninya.”

Tauhid itu adalah menyatakan keesaan sesuatu dan memiliki pengetahuan yang sempurna tentang keesaannya. Karena Tuhan itu esa; tanpa ada sekutu dalam zat dan sifat-sifat-Nya, tanpa ada yang menyamai, tanpa ada sekutu dalam tindakan-tindakan-Nya, dan karena para ahli tauhid (muwahhidan) telah mengakui bahwa Dia demikian, pengetahuan mereka tentang keesaan disebut tauhid (pengesaan).

Pengesaan ada tiga macam: (1) pengesaan Tuhan akan Tuhan sendiri, yakni Pengetahuan-Nya tentang keesaan-Nya; (2) pengesaan Tuhan akan makhluk-makhluk-Nya, yakni takdir-Nya bahwa manusia akan menyatakan-Nya esa, dan penciptaan pengesaan di dalam hatinya; (3) pengesaan manusia akan Tuhan, yakni pengetahuan mereka tentang keesaan Tuhan. Maka dari itu, bilamana seseorang mengenal Tuhan, ia bisa mengemukakan keesaan-Nya dan menyatakan bahwa Dia adalah satu, yang tidak mengalami penyatuan dan pemisahan, tidak mengenal dualitas; bahwa keesaan-Nya bukanlah sebuah bilangan sedemikian rupa sehingga dapat dibuat menjadi dua dengan penambahan bilangan lain; bahwa Dia bukanlah terbatas sedemikian rupa sehingga mempunyai enam arah; bahwa Dia tidak mempunyai ruang, dan bahwa Dia tidak berada di dalam ruang; bahwa Dia bukanlah aksiden sedemikian rupa sehingga membutuhkan substansi, atau bukan substansi yang tidak bisa ada tanpa yang lain yang seperti dirinya, atau bukan resam tubuh natural (thab’i) yang bergerak dan diam, atau bukan ruh sedemikian rupa sehingga membutuhkan kerangka tubuh, atau bukannya tubuh sedemikian rupa sehingga tersusun dari anggota-anggota tubuh; dan bahwa Dia tidak pernah menjadi imanen (hall) di dalam benda-benda, sehingga Dia harus menjadi serupa dengan mereka; dan bahwa Dia tidaklah tergabung dengan sesuatu pun, sehingga sesuatu itu harus menjadi bagian dari-Nya; dan bahwa Dia bebas dari semua ketidaksempurnaan dan mengatasi semua kelemahan; dan bahwa Dia tidak mempunyai keserupaan, sehingga Dia dan makhluk-Nya akan menjadi dua, dan bahwa Dia tidak mempunyai anak, sehingga akan menyebabkan-Nya menjadi berketurunan; dan bahwa zat dan sifat-sifat-Nya tidak berubah; dan bahwa Dia memiliki sifat-sifat sempurna itu yang diakui orang-orang beriman dan ahli tauhid, dan yang Dia telah menggambarkan Diri-Nya sebagai yang Mahakaya; dan bahwa Dia bebas dari sifat-sifat yang seenaknya dinisbahkan kaum sesat kepada-Nya itu; dan bahwa Dia Mahahidup, Maha Mengetahui, Maha Mengampuni, Maha Pengasih, Maha Berkehendak, Mahakuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, dan Mahaabadi; dan bahwa pengetahuan-Nya bukanlah keadaan (hal) di dalam Diri-Nya, atau kekuasaan-Nya bukannya tertanam dalam-dalam (shalabat) di dalam Diri-Nya, atau pendengaran dan penglihatan-Nya bukannya berdiri sendiri (mutajarrid) di dalam Diri-Nya, atau pembicaraan-Nya bukannya terbagi-bagi di dalam Diri-Nya; dan bahwa Dia bersama-sama dengan sifat-sifat-Nya ada secara abadi; dan bahwa apa yang diketahui bukanlah berada di luar pengetahuan-Nya, dan bahwa entitas-entitas sepenuhnya bergantung pada kehendak-Nya; dan bahwa Dia selalu berbuat menurut apa yang Dia kehendaki, dan menghendaki yang Dia ketahui, dan tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya; dan bahwa takdir-Nya adalah fakta absolut, dan bahwa wali-wali-Nya tidak mempunyai daya apa pun selain penyerahan; dan bahwa Dia adalah satu-satunya yang menentukan baik dan buruk, dan satu-satunya yang pantas diharapkan atau ditakuti; dan bahwa Dia menciptakan semua keuntungan dan kerugian; dan bahwa Dia sendiri yang memberi keputusan, dan keputusan-Nya serba bijaksana; dan bahwa tidak ada yang mempunyai kemungkinan mencapai-Nya; dan bahwa para penghuni surga akan melihat-Nya; dan bahwa penyerupaan (tasybih) tidak mungkin; dan bahwa istilah-istilah seperti “berhadapan” dan “melihat saling bertatap muka” (muqabalat u muwajahat) tidak bisa diterapkan pada wujud-Nya; dan bahwa wali-wali-Nya bisa menikmati kontemplasi (musyahadat) tentang-Nya di dunia ini.

Orang-orang yang tidak mengakui-Nya demikian, berarti mereka menanggung dosa besar. Aku, ‘Ali bin ‘Utsman Al-Jullabi, telah mengatakan pada permulaan bab ini bahwa pengesaan itu adalah menyatakan keesaan sesuatu, dan bahwa suatu pernyataan semacam itu tidak bisa dibuat tanpa pengetahuan. Kaum Sunni telah menyatakan keesaan Tuhan dengan pengertian yang benar, karena, dengan melihat suatu karya yang canggih sekali dan suatu tindak yang tak ada duanya, mereka memahami bahwa yang demikian tidak mungkin ada dengan sendirinya, dan karena menjumpai bukti-bukti yang jelas tentang asal-muasal (huduts) segala sesuatu, mereka memahami bahwa tentu ada satu Sumber yang mewujudkan alam semesta - bumi, langit, matahari, bulan, daratan, lautan, dan semua yang bergerak dan diam, dan pengetahuan dan tutur-kata dan kehidupan dan kematian mereka. Bagi semua ini tentu ada perancangnya. Karena itu, kaum Sunni, karena menolak paham bahwa ada dua atau tiga perancang, menyatakan yakin adanya perancang tunggal yang mahasempurna, mahahidup, mahamengetahui, mahakuasa, dan tidak bersekutu. Dan karena suatu tindakan setidak-tidaknya memerlukan satu sumber dan adanya dua sumber untuk satu tindakan melibatkan kebergantungan yang satu pada yang lainnya, maka Sumber itu pasti satu. Di sini kita berselisih paham dengan kaum dualis, yang mengukuhkan cahaya dan kegelapan, dan dengan kaum Majusi, yang mengukuhkan Yazdan dan Ahriman, dan dengan para ahli fisika (thaba’i’iyan) yang mengukuhkan alam dan potensialitas (quwwat), dan dengan ahli astronomi (falakiyan) yang mengukuhkan tujuh planet, dan dengan kaum Mu’tazilah yang mengukuhkan pencipta-pencipta dan perancang-perancang tanpa akhir. Aku telah menyangkal dengan singkat semua pandangan yang sia-sia ini dalam sebuah buku yang berjudul Al-Ri’ayat li-Huquq Allah.1 Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih jauh, rujuklah buku itu dan karya-karya para teolog dulu. Sekarang aku akan membahas isyarat-isyarat yang telah diberikan para Syaikh tentang masalah ini.

Tauhid di Mata Para Guru Sufi

Diriwayatkan bahwa Junayd berkata: “Pengesaan adalah pemisahan yang qadim dari yang bermula dalam waktu," yakni engkau tidak boleh menganggap yang qadim sebagai tempat (locus) dari yang fenomenal, atau yang fenomenal sebagai tempat dari yang qadim. Dan ketahuilah bahwa Tuhan adalah qadim dan bahwa engkau adalah fenomenal, dan bahwa tidak ada di antara jenismu yang berkaitan dengan-Nya, dan bahwa tidak ada di antara sifat-sifat-Nya yang membaur di dalam dirimu, dan bahwa tidak ada keserupaan antara yang qadim dan yang fenomenal. Ini bertentangan dengan doktrin orang-orang yang mempercayai bahwa ruh itu qadim seperti telah disebutkan di atas. Bilamana yang qadim dipercayai sebagai turun ke dalam fenomena, atau fenomena dikaitkan dengan yang qadim, maka tidak ada bukti lagi tentang ke-qadim-an Tuhan dan berasalnya alam semesta. Dan ini membawa kepada materialisme (madzhab-i dahriyan). Dalam semua tindakan fenomena ada bukti-bukti pengesaan dan bukti-bukti kemahakuasaan Tuhan dan tanda-tanda yang menguatkan ke-qadim-an Tuhan, tetapi orang-orang begitu lalai untuk mendambakan hanya Dia atau untuk puas mengingat-Nya selalu. Husayn bin Manshur (Al-Hallaj) mengatakan: “Langkah pertama dalam pengesaan adalah lenyapnya keterpisahan (tafrid),” karena keterpisahan adalah maklumat bahwa orang telah terpisah dari ketidaksempurnaan (afat), sementara pengesaan adalah pernyataan tentang keesaan sesuatu. Maka, dalam kesendirian (fardaniyyat) ada kemungkinan untuk mengukuhkan yang selain Tuhan, dan kualitas ini bisa disifatkan kepada semua yang selain Tuhan. Tetapi, dalam keesaan (wahdaniyyat) tidak mungkin mengukuhkan selain Tuhan, dan keesaan tidak bisa disifatkan kepada sesuatu selain Tuhan. Karena itu, langkah pertama dalam pengesaan adalah menyangkal (bahwa Tuhan mempunyai) sekutu (syarik) dan menafikan percampuran (mizaj) karena percampuran pada jalan (menuju Tuhan) itu seperti mencari jalan raya dengan sebuah lampu (mizaj andar mi’nhaj chun thalab-i minhaj basyad ba-siraj). Dan Husri mengatakan: “Prinsip kami dalam pengesaan ada lima: meniadakan fenomena, mengukuhkan yang qadim, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan, memisahkan diri dari saudara-saudara, dan melupakan sepenuhnya apa yang diketahui dan yang tidak diketahui.” Meniadakan fenomena itu adalah menyangkal bahwa fenomena mempunyai hubungan dengan pengesaan atau bahwa fenomena bisa mencapai zat kudus-Nya. Dan mengukuhkan yang qadim itu adalah yakin bahwa Tuhan senantiasa maujud, sebagaimana sudah aku terangkan dalam membicarakan ujaran Junayd. Dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan, bagi pemula, berarti meninggalkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu yang menjadi kebiasaan dan aneka rupa dunia ini, dan bagi yang sudah ahli berarti meninggalkan maqam-maqam yang tinggi dan keadaan-keadaan yang agung serta karamah-karamah. Dan memisahkan diri dari persaudaraan berarti berpaling dari bermasyarakat dengan manusia dan berpaling kepada berhubungan dengan Tuhan, karena pikiran tentang selain Tuhan adalah tabir dan ketidaksempurnaan, dan semakin seseorang memikirkan tentang selain Tuhan, semakin dia ditabiri dari Tuhan. Karena, secara umum diakui bahwa pengesaan adalah pemusatan pikiran-pikiran (jam’-i hi’mam), sedangkan merasa puas dengan yang selain Tuhan merupakan tanda terpecahnya pikiran (tafriqa-i himmat). Dan melupakan sepenuhnya sesuatu yang diketahui atau yang tidak diketahui berarti pengesaan sesuatu itu, karena pengesaan menyangkal apa saja yang dikukuhkan pengetahuan manusia tentangnya; dan apa pun yang dikukuhkan oleh kebodohan mereka tentangnya hanyalah bertentangan dengan pengetahuan mereka, karena kebodohan bukanlah pengesaan dan pengetahuan tentang hakikat pengesaan tidak dapat dicapai tanpa menyangkal inisiatif pribadi (tasharruf), tempat keberadaan pengetahuan dan kebodohan. Seorang Syaikh meriwayatkan: “Selagi Husri berbicara kepada seorang pendengar, aku terlelap dan bermimpi bahwa dua malaikat turun dari langit dan mendengarkan sejenak pembicaraannya. Kemudian yang satu berkata kepada yang lain, ‘Apa yang orang ini katakan adalah teori (‘ilm) tentang pengesaan, bukan pengesaan itu sendiri (‘ayn).’ Ketika aku bangun, dia sedang menerangkan pengesaan. Dia melihatku dan berkata, ‘Wahai fulan, tidaklah mungkin berbicara tentang pengesaan kecuali secara teoretis’.” Diriwayatkan bahwa Junayd berkata: “Pengesaan ialah begini, bahwa seseorang supaya menjadi figur (syakhsh) di tangan Tuhan, figur yang menjadi sasaran keputusan-keputusan-Nya sesuai ketentuan kemahakuasaan-Nya, dan supaya seseorang tenggelam dalam samudera keesaan-Nya, dan juga mati terhadap panggilan manusia kepadanya dan jawabannya kepada mereka, terserap oleh hakikat keesaan Tuhan dalam kedekatan yang sejati, dan sirna dari perasaan dan tindakan, karena Tuhan memenuhi di dalam dirinya apa yang Dia telah kehendaki darinya, yaitu bahwa keadaannya yang terakhir harus menjadi keadaannya yang pertama, dan bahwa ia harus menjadi seperti sebelum ia ada.” Semuanya ini berarti bahwa ahli tauhid dalam kehendak Tuhan tidak lagi memiliki kehendaknya sendiri, dan dalam keesaan Tuhan tidak berhubungan dengan dirinya sendiri, sehingga ia menjadi bagaikan sebutir atom seperti ketika ia berada pada masa lampau yang qadim di kala perjanjian pengesaan dibuat, dan Tuhan menjawab pertanyaan yang diajukan-Nya Sendiri, dan atom itu hanyalah objek pembicaraan-Nya.2 Manusia tidak senang kepada yang demikian sehingga mereka menyerunya kepada sesuatu, dan ia tidak bersahabat dengan siapa pun yang perlu dijawab panggilannya. Perkataan ini menunjukkan sirnanya sifat-sifat manusia dan penyerahan sempurna kepada Tuhan dalam keadaan ketika manusia dikuasai oleh keterkuakan kemegahan-Nya, sehingga ia menjadi alat yang pasif dan substansi tinggi yang tidak merasakan apa-apa dan badannya adalah tempat rahasia-rahasia Ilahi, yang kepadanya pembicaraan dan tindakan-tindakannya disifatkan. Namun, karena tidak menyadari bagaimana ia adanya, ia tetap terkena hukum keagamaan, sampai hujah Tuhan bisa dikukuhkan. Itulah Rasul ketika pada malam Mi’raj dibawa ke maqam kedekatan. Beliau ingin badannya dilumatkan dan pribadinya dilarutkan, tetapi maksud Tuhan ialah mengukuhkan hujah-Nya. Dia menyuruh Rasul supaya tetap pada keadaan yang pernah beliau alami; yang karena itu beliau mendapatkan kekuatan dan mempertunjukkan eksistensi Tuhan dari non-eksistensinya sendiri dan bersabda, “Aku bukanlah seperti salah seorang darimu. Sesungguhnya, kulalui malam itu bersama Tuhanku, dan Dia memberiku makanan dan minuman.” Beliau juga mengatakan, “Aku bersama Tuhan dalam keadaan di mana tidak satu pun malaikat atau nabi yang mampu beserta denganku.” Diriwayatkan bahwa Sahl bin ‘Abdallah berkata: “Pengesaan itu begini, supaya engkau tahu bahwa esensi Tuhan memiliki pengetahuan, sehingga Dia tidak bisa dipahami atau tidak bisa dilihat dengan mata di dunia ini, tetapi Dia ada dalam realitas iman, tak berhingga, tidak bisa dipahami, tidak berinkarnasi. Dia akan dilihat di akhirat kelak, secara lahir dan batin, dalam kerajaan-Nya dan kekuasaan-Nya. Dan manusia ditabiri dari pengetahuan tentang watak puncak esensi-Nya. Dan bahwa kalbu mereka mengenal-Nya, namun intelek mereka tidak bisa sampai kepada-Nya. Dan bahwa orang-orang beriman akan memandang-Nya dengan mata (ruhani) mereka, tanpa memahami ketidakberhinggaan-Nya.” Ujaran ini mengandung semua prinsip pengesaan. Dan Junayd berkata: “Ujaran yang termulia mengenai pengesaan ialah yang dikatakan Abu Bakar, ‘Mahasuci Tuhan, yang tidak menganugerahi makhluk-makhluk-Nya sarana untuk mencapai pengetahuan tentang Dia kecuali melalui ketidakberdayaan untuk mencapai pengetahuan tentang Dia’.” Banyak orang salah mengartikan kata-kata Abu Bakar ini dan menganggap bahwa ketidakberdayaan untuk mencapai makrifat adalah sama dengan agnostisisme. Ini aneh sekali, karena ketidakberdayaan hanya merujuk kepada suatu keadaan yang maujud, bukan kepada suatu keadaan yang tidak maujud. Umpamanya, orang yang mati bukannya tidak dapat hidup, melainkan ia tidak bisa hidup selagi ia mati; dan orang yang buta bukannya tidak mampu melihat, melainkan ia tidak bisa melihat selagi ia buta. Karena itu, seorang ahli makrifat mampu memiliki makrifat selama makrifat itu ada, karena dalam kasus itu makrifatnya menyerupai intuisi. Ujaran Abu Bakar ini bisa dihubungkan dengan doktrin Abu Sahl Shu’luki dan Abu ‘Ali Daqqaq, yang menyatakan bahwa makrifat itu pada mulanya diupayakan, tetapi pada akhirnya menjadi intuitif. Pemilik pengetahuan intuitif itu terpaksa dan tidak mampu menolaknya atau meraihnya. Karenanya, menurut Abu Bakar, pengesaan adalah tindakan Tuhan pada hati makhluk-Nya. Syibli mengatakan: “Pengesaan menabiri ahli tauhid dari keindahan Yang Esa,” karena pengesaan dikatakan menjadi tindakan manusia, dan tindakan manusia tidak menyebabkan tersingkapnya Tuhan, dan di dalam realitas ketersingkapan yang tidak menyebabkan ketersingkapan adalah tabir (hijab). Manusia dengan semua sifatnya adalah selain Tuhan, karena jika sifat-sifatnya dianggap Ilahi, maka ia sendiri tentunya Ilahi. Dan kemudian ahli tauhid, tauhid dan yang Tunggal menjadi sebab-sebab keberadaan satu sama lain; dan ini sama dengan Trinitas Kristen. Jika sifat merintangi pencari Tuhan dari melenyapkan dirinya dalam pengesaan, ia masih ditabiri oleh sifat itu. Dan selagi ia ditabiri, ia bukanlah ahli tauhid, karena semuanya kecuali Tuhan adalah sia-sia. Inilah tafsir dari “Tidak ada tuhan kecuali Allah”.3

Syaikh-syaikh telah membicarakan panjang lebar istilah-istilah pengesaan. Sebagian mengatakan bahwa pengesaan adalah pelenyapan yang tidak bisa dicapai kecuali jika sifat-sifat itu baka, sementara yang lain mengatakan bahwa pengesaan tidak mempunyai sifat apa pun kecuali pelenyapan. Kias tentang penyatuan dan pemisahan (jam’ u tafriqa) harus diterapkan pada persoalan ini agar bisa dimengerti. Aku, ‘Ali bin ‘Utsman Al-Jullabi, menyatakan bahwa pengesaan adalah suatu rahasia yang disingkapkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan tidak bisa diungkapkan dengan bahasa sama sekali, apalagi dengan ungkapan kata yang tinggi. Istilah-istilah yang bersifat menjelaskan dan orang-orang yang menggunakannya adalah selain Tuhan, dan mengukuhkan apa yang selain Tuhan dalam pengesaan adalah mengukuhkan kesyirikan.•

Catatan Kaki:

  1. “Melaksanakan Apa yang Menjadi Hak-hak Tuhan.”
  2. QS. 7 171.
  3. Di sini pengarang mengutip sebuah hikayat tentang Ibrahim Al-Khawwash dan Al-Hallaj yang pernah diriwayatkan di atas.

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team