|
|
16. Menyingkap Tabir Kedua: Tauhid
Allah berfirman, Tuhanmu adalah satu
(QS 16: 23) dan lagi, Katakanlah, Tuhan
adalah satu (QS 112: 1). Dan Rasulullah
bersabda: Pada zaman dahulu ada seseorang yang tidak
berbuat baik, hanya saja dia menyatakan bahwa Tuhan adalah
satu. Menjelang ajalnya, ia mengatakan kepada kaumnya:
setelah aku mati, bakarlah aku dan kumpulkan debu-debuku,
dan pada hari ketika banyak angin lemparkan separuhnya ke
dalam lautan dan tebarkan separuhnya lagi ke angin di
daratan, sehingga tak ada bekasku yang tertinggal. Tak
lama setelah ia meninggal dunia dan pesannya itu
dilaksanakan, Tuhan menyuruh udara dan air menjaga debu-debu
yang mereka terima hingga Hari Kiamat. Dan ketika Dia
bangkitkan orang itu dari kematian, Dia akan menanyainya
mengapa dirinya dibakar, dan ia akan menjawab: Wahai
Tuhan, karena malu kepada-Mu, karena aku seorang pendosa
besar, dan Tuhan akan mengampuninya.
Tauhid itu adalah menyatakan keesaan sesuatu dan memiliki
pengetahuan yang sempurna tentang keesaannya. Karena Tuhan
itu esa; tanpa ada sekutu dalam zat dan sifat-sifat-Nya,
tanpa ada yang menyamai, tanpa ada sekutu dalam
tindakan-tindakan-Nya, dan karena para ahli tauhid
(muwahhidan) telah mengakui bahwa Dia demikian,
pengetahuan mereka tentang keesaan disebut tauhid
(pengesaan).
Pengesaan ada tiga macam: (1) pengesaan Tuhan akan Tuhan
sendiri, yakni Pengetahuan-Nya tentang keesaan-Nya; (2)
pengesaan Tuhan akan makhluk-makhluk-Nya, yakni takdir-Nya
bahwa manusia akan menyatakan-Nya esa, dan penciptaan
pengesaan di dalam hatinya; (3) pengesaan manusia akan
Tuhan, yakni pengetahuan mereka tentang keesaan Tuhan. Maka
dari itu, bilamana seseorang mengenal Tuhan, ia bisa
mengemukakan keesaan-Nya dan menyatakan bahwa Dia adalah
satu, yang tidak mengalami penyatuan dan pemisahan, tidak
mengenal dualitas; bahwa keesaan-Nya bukanlah sebuah
bilangan sedemikian rupa sehingga dapat dibuat menjadi dua
dengan penambahan bilangan lain; bahwa Dia bukanlah terbatas
sedemikian rupa sehingga mempunyai enam arah; bahwa Dia
tidak mempunyai ruang, dan bahwa Dia tidak berada di dalam
ruang; bahwa Dia bukanlah aksiden sedemikian rupa sehingga
membutuhkan substansi, atau bukan substansi yang tidak bisa
ada tanpa yang lain yang seperti dirinya, atau bukan resam
tubuh natural (thabi) yang bergerak dan diam,
atau bukan ruh sedemikian rupa sehingga membutuhkan kerangka
tubuh, atau bukannya tubuh sedemikian rupa sehingga tersusun
dari anggota-anggota tubuh; dan bahwa Dia tidak pernah
menjadi imanen (hall) di dalam benda-benda, sehingga Dia
harus menjadi serupa dengan mereka; dan bahwa Dia tidaklah
tergabung dengan sesuatu pun, sehingga sesuatu itu harus
menjadi bagian dari-Nya; dan bahwa Dia bebas dari semua
ketidaksempurnaan dan mengatasi semua kelemahan; dan bahwa
Dia tidak mempunyai keserupaan, sehingga Dia dan makhluk-Nya
akan menjadi dua, dan bahwa Dia tidak mempunyai anak,
sehingga akan menyebabkan-Nya menjadi berketurunan; dan
bahwa zat dan sifat-sifat-Nya tidak berubah; dan bahwa Dia
memiliki sifat-sifat sempurna itu yang diakui orang-orang
beriman dan ahli tauhid, dan yang Dia telah menggambarkan
Diri-Nya sebagai yang Mahakaya; dan bahwa Dia bebas dari
sifat-sifat yang seenaknya dinisbahkan kaum sesat kepada-Nya
itu; dan bahwa Dia Mahahidup, Maha Mengetahui, Maha
Mengampuni, Maha Pengasih, Maha Berkehendak, Mahakuasa, Maha
Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, dan Mahaabadi; dan
bahwa pengetahuan-Nya bukanlah keadaan (hal) di dalam
Diri-Nya, atau kekuasaan-Nya bukannya tertanam dalam-dalam
(shalabat) di dalam Diri-Nya, atau pendengaran dan
penglihatan-Nya bukannya berdiri sendiri (mutajarrid) di
dalam Diri-Nya, atau pembicaraan-Nya bukannya terbagi-bagi
di dalam Diri-Nya; dan bahwa Dia bersama-sama dengan
sifat-sifat-Nya ada secara abadi; dan bahwa apa yang
diketahui bukanlah berada di luar pengetahuan-Nya, dan bahwa
entitas-entitas sepenuhnya bergantung pada kehendak-Nya; dan
bahwa Dia selalu berbuat menurut apa yang Dia kehendaki, dan
menghendaki yang Dia ketahui, dan tidak ada satu makhluk pun
yang mengetahuinya; dan bahwa takdir-Nya adalah fakta
absolut, dan bahwa wali-wali-Nya tidak mempunyai daya apa
pun selain penyerahan; dan bahwa Dia adalah satu-satunya
yang menentukan baik dan buruk, dan satu-satunya yang pantas
diharapkan atau ditakuti; dan bahwa Dia menciptakan semua
keuntungan dan kerugian; dan bahwa Dia sendiri yang memberi
keputusan, dan keputusan-Nya serba bijaksana; dan bahwa
tidak ada yang mempunyai kemungkinan mencapai-Nya; dan bahwa
para penghuni surga akan melihat-Nya; dan bahwa penyerupaan
(tasybih) tidak mungkin; dan bahwa istilah-istilah
seperti berhadapan dan melihat saling
bertatap muka (muqabalat u muwajahat) tidak
bisa diterapkan pada wujud-Nya; dan bahwa wali-wali-Nya bisa
menikmati kontemplasi (musyahadat) tentang-Nya di dunia
ini.
Orang-orang yang tidak mengakui-Nya demikian, berarti
mereka menanggung dosa besar. Aku, Ali bin
Utsman Al-Jullabi, telah mengatakan pada permulaan bab
ini bahwa pengesaan itu adalah menyatakan keesaan sesuatu,
dan bahwa suatu pernyataan semacam itu tidak bisa dibuat
tanpa pengetahuan. Kaum Sunni telah menyatakan keesaan Tuhan
dengan pengertian yang benar, karena, dengan melihat suatu
karya yang canggih sekali dan suatu tindak yang tak ada
duanya, mereka memahami bahwa yang demikian tidak mungkin
ada dengan sendirinya, dan karena menjumpai bukti-bukti yang
jelas tentang asal-muasal (huduts) segala sesuatu,
mereka memahami bahwa tentu ada satu Sumber yang mewujudkan
alam semesta - bumi, langit, matahari, bulan, daratan,
lautan, dan semua yang bergerak dan diam, dan pengetahuan
dan tutur-kata dan kehidupan dan kematian mereka. Bagi semua
ini tentu ada perancangnya. Karena itu, kaum Sunni, karena
menolak paham bahwa ada dua atau tiga perancang, menyatakan
yakin adanya perancang tunggal yang mahasempurna, mahahidup,
mahamengetahui, mahakuasa, dan tidak bersekutu. Dan karena
suatu tindakan setidak-tidaknya memerlukan satu sumber dan
adanya dua sumber untuk satu tindakan melibatkan
kebergantungan yang satu pada yang lainnya, maka Sumber itu
pasti satu. Di sini kita berselisih paham dengan kaum
dualis, yang mengukuhkan cahaya dan kegelapan, dan dengan
kaum Majusi, yang mengukuhkan Yazdan dan Ahriman, dan dengan
para ahli fisika (thabaiiyan) yang
mengukuhkan alam dan potensialitas (quwwat), dan
dengan ahli astronomi (falakiyan) yang mengukuhkan
tujuh planet, dan dengan kaum Mutazilah yang
mengukuhkan pencipta-pencipta dan perancang-perancang tanpa
akhir. Aku telah menyangkal dengan singkat semua pandangan
yang sia-sia ini dalam sebuah buku yang berjudul
Al-Riayat li-Huquq Allah.1 Bagi yang ingin
mendapatkan informasi lebih jauh, rujuklah buku itu dan
karya-karya para teolog dulu. Sekarang aku akan membahas
isyarat-isyarat yang telah diberikan para Syaikh tentang
masalah ini.
Tauhid di Mata Para Guru Sufi
Diriwayatkan bahwa Junayd berkata: Pengesaan adalah
pemisahan yang qadim dari yang bermula dalam waktu," yakni
engkau tidak boleh menganggap yang qadim sebagai tempat
(locus) dari yang fenomenal, atau yang fenomenal sebagai
tempat dari yang qadim. Dan ketahuilah bahwa Tuhan adalah
qadim dan bahwa engkau adalah fenomenal, dan bahwa tidak ada
di antara jenismu yang berkaitan dengan-Nya, dan bahwa tidak
ada di antara sifat-sifat-Nya yang membaur di dalam dirimu,
dan bahwa tidak ada keserupaan antara yang qadim dan yang
fenomenal. Ini bertentangan dengan doktrin orang-orang yang
mempercayai bahwa ruh itu qadim seperti telah disebutkan di
atas. Bilamana yang qadim dipercayai sebagai turun ke dalam
fenomena, atau fenomena dikaitkan dengan yang qadim, maka
tidak ada bukti lagi tentang ke-qadim-an Tuhan dan
berasalnya alam semesta. Dan ini membawa kepada materialisme
(madzhab-i dahriyan). Dalam semua tindakan fenomena ada
bukti-bukti pengesaan dan bukti-bukti kemahakuasaan Tuhan
dan tanda-tanda yang menguatkan ke-qadim-an Tuhan, tetapi
orang-orang begitu lalai untuk mendambakan hanya Dia atau
untuk puas mengingat-Nya selalu. Husayn bin Manshur
(Al-Hallaj) mengatakan: Langkah pertama dalam
pengesaan adalah lenyapnya keterpisahan
(tafrid), karena keterpisahan adalah maklumat
bahwa orang telah terpisah dari ketidaksempurnaan
(afat), sementara pengesaan adalah pernyataan tentang
keesaan sesuatu. Maka, dalam kesendirian
(fardaniyyat) ada kemungkinan untuk mengukuhkan yang
selain Tuhan, dan kualitas ini bisa disifatkan kepada semua
yang selain Tuhan. Tetapi, dalam keesaan
(wahdaniyyat) tidak mungkin mengukuhkan selain Tuhan,
dan keesaan tidak bisa disifatkan kepada sesuatu selain
Tuhan. Karena itu, langkah pertama dalam pengesaan adalah
menyangkal (bahwa Tuhan mempunyai) sekutu (syarik)
dan menafikan percampuran (mizaj) karena percampuran
pada jalan (menuju Tuhan) itu seperti mencari jalan raya
dengan sebuah lampu (mizaj andar minhaj chun
thalab-i minhaj basyad ba-siraj). Dan Husri mengatakan:
Prinsip kami dalam pengesaan ada lima: meniadakan
fenomena, mengukuhkan yang qadim, meninggalkan
kebiasaan-kebiasaan, memisahkan diri dari saudara-saudara,
dan melupakan sepenuhnya apa yang diketahui dan yang tidak
diketahui. Meniadakan fenomena itu adalah menyangkal
bahwa fenomena mempunyai hubungan dengan pengesaan atau
bahwa fenomena bisa mencapai zat kudus-Nya. Dan mengukuhkan
yang qadim itu adalah yakin bahwa Tuhan senantiasa maujud,
sebagaimana sudah aku terangkan dalam membicarakan ujaran
Junayd. Dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan, bagi pemula,
berarti meninggalkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu yang
menjadi kebiasaan dan aneka rupa dunia ini, dan bagi yang
sudah ahli berarti meninggalkan maqam-maqam yang tinggi dan
keadaan-keadaan yang agung serta karamah-karamah. Dan
memisahkan diri dari persaudaraan berarti berpaling dari
bermasyarakat dengan manusia dan berpaling kepada
berhubungan dengan Tuhan, karena pikiran tentang selain
Tuhan adalah tabir dan ketidaksempurnaan, dan semakin
seseorang memikirkan tentang selain Tuhan, semakin dia
ditabiri dari Tuhan. Karena, secara umum diakui bahwa
pengesaan adalah pemusatan pikiran-pikiran (jam-i
himam), sedangkan merasa puas dengan yang selain
Tuhan merupakan tanda terpecahnya pikiran (tafriqa-i
himmat). Dan melupakan sepenuhnya sesuatu yang diketahui
atau yang tidak diketahui berarti pengesaan sesuatu itu,
karena pengesaan menyangkal apa saja yang dikukuhkan
pengetahuan manusia tentangnya; dan apa pun yang dikukuhkan
oleh kebodohan mereka tentangnya hanyalah bertentangan
dengan pengetahuan mereka, karena kebodohan bukanlah
pengesaan dan pengetahuan tentang hakikat pengesaan tidak
dapat dicapai tanpa menyangkal inisiatif pribadi
(tasharruf), tempat keberadaan pengetahuan dan
kebodohan. Seorang Syaikh meriwayatkan: Selagi Husri
berbicara kepada seorang pendengar, aku terlelap dan
bermimpi bahwa dua malaikat turun dari langit dan
mendengarkan sejenak pembicaraannya. Kemudian yang satu
berkata kepada yang lain, Apa yang orang ini katakan
adalah teori (ilm) tentang pengesaan, bukan
pengesaan itu sendiri (ayn). Ketika aku
bangun, dia sedang menerangkan pengesaan. Dia melihatku dan
berkata, Wahai fulan, tidaklah mungkin berbicara
tentang pengesaan kecuali secara teoretis.
Diriwayatkan bahwa Junayd berkata: Pengesaan ialah
begini, bahwa seseorang supaya menjadi figur
(syakhsh) di tangan Tuhan, figur yang menjadi sasaran
keputusan-keputusan-Nya sesuai ketentuan kemahakuasaan-Nya,
dan supaya seseorang tenggelam dalam samudera keesaan-Nya,
dan juga mati terhadap panggilan manusia kepadanya dan
jawabannya kepada mereka, terserap oleh hakikat keesaan
Tuhan dalam kedekatan yang sejati, dan sirna dari perasaan
dan tindakan, karena Tuhan memenuhi di dalam dirinya apa
yang Dia telah kehendaki darinya, yaitu bahwa keadaannya
yang terakhir harus menjadi keadaannya yang pertama, dan
bahwa ia harus menjadi seperti sebelum ia ada.
Semuanya ini berarti bahwa ahli tauhid dalam kehendak Tuhan
tidak lagi memiliki kehendaknya sendiri, dan dalam keesaan
Tuhan tidak berhubungan dengan dirinya sendiri, sehingga ia
menjadi bagaikan sebutir atom seperti ketika ia berada pada
masa lampau yang qadim di kala perjanjian pengesaan dibuat,
dan Tuhan menjawab pertanyaan yang diajukan-Nya Sendiri, dan
atom itu hanyalah objek pembicaraan-Nya.2 Manusia
tidak senang kepada yang demikian sehingga mereka menyerunya
kepada sesuatu, dan ia tidak bersahabat dengan siapa pun
yang perlu dijawab panggilannya. Perkataan ini menunjukkan
sirnanya sifat-sifat manusia dan penyerahan sempurna kepada
Tuhan dalam keadaan ketika manusia dikuasai oleh keterkuakan
kemegahan-Nya, sehingga ia menjadi alat yang pasif dan
substansi tinggi yang tidak merasakan apa-apa dan badannya
adalah tempat rahasia-rahasia Ilahi, yang kepadanya
pembicaraan dan tindakan-tindakannya disifatkan. Namun,
karena tidak menyadari bagaimana ia adanya, ia tetap terkena
hukum keagamaan, sampai hujah Tuhan bisa dikukuhkan. Itulah
Rasul ketika pada malam Miraj dibawa ke maqam
kedekatan. Beliau ingin badannya dilumatkan dan pribadinya
dilarutkan, tetapi maksud Tuhan ialah mengukuhkan hujah-Nya.
Dia menyuruh Rasul supaya tetap pada keadaan yang pernah
beliau alami; yang karena itu beliau mendapatkan kekuatan
dan mempertunjukkan eksistensi Tuhan dari non-eksistensinya
sendiri dan bersabda, Aku bukanlah seperti salah
seorang darimu. Sesungguhnya, kulalui malam itu bersama
Tuhanku, dan Dia memberiku makanan dan minuman. Beliau
juga mengatakan, Aku bersama Tuhan dalam keadaan di
mana tidak satu pun malaikat atau nabi yang mampu beserta
denganku. Diriwayatkan bahwa Sahl bin Abdallah
berkata: Pengesaan itu begini, supaya engkau tahu
bahwa esensi Tuhan memiliki pengetahuan, sehingga Dia tidak
bisa dipahami atau tidak bisa dilihat dengan mata di dunia
ini, tetapi Dia ada dalam realitas iman, tak berhingga,
tidak bisa dipahami, tidak berinkarnasi. Dia akan dilihat di
akhirat kelak, secara lahir dan batin, dalam kerajaan-Nya
dan kekuasaan-Nya. Dan manusia ditabiri dari pengetahuan
tentang watak puncak esensi-Nya. Dan bahwa kalbu mereka
mengenal-Nya, namun intelek mereka tidak bisa sampai
kepada-Nya. Dan bahwa orang-orang beriman akan memandang-Nya
dengan mata (ruhani) mereka, tanpa memahami
ketidakberhinggaan-Nya. Ujaran ini mengandung semua
prinsip pengesaan. Dan Junayd berkata: Ujaran yang
termulia mengenai pengesaan ialah yang dikatakan Abu Bakar,
Mahasuci Tuhan, yang tidak menganugerahi
makhluk-makhluk-Nya sarana untuk mencapai pengetahuan
tentang Dia kecuali melalui ketidakberdayaan untuk mencapai
pengetahuan tentang Dia. Banyak orang salah
mengartikan kata-kata Abu Bakar ini dan menganggap bahwa
ketidakberdayaan untuk mencapai makrifat adalah sama dengan
agnostisisme. Ini aneh sekali, karena ketidakberdayaan hanya
merujuk kepada suatu keadaan yang maujud, bukan kepada suatu
keadaan yang tidak maujud. Umpamanya, orang yang mati
bukannya tidak dapat hidup, melainkan ia tidak bisa hidup
selagi ia mati; dan orang yang buta bukannya tidak mampu
melihat, melainkan ia tidak bisa melihat selagi ia buta.
Karena itu, seorang ahli makrifat mampu memiliki makrifat
selama makrifat itu ada, karena dalam kasus itu makrifatnya
menyerupai intuisi. Ujaran Abu Bakar ini bisa dihubungkan
dengan doktrin Abu Sahl Shuluki dan Abu Ali
Daqqaq, yang menyatakan bahwa makrifat itu pada mulanya
diupayakan, tetapi pada akhirnya menjadi intuitif. Pemilik
pengetahuan intuitif itu terpaksa dan tidak mampu menolaknya
atau meraihnya. Karenanya, menurut Abu Bakar, pengesaan
adalah tindakan Tuhan pada hati makhluk-Nya. Syibli
mengatakan: Pengesaan menabiri ahli tauhid dari
keindahan Yang Esa, karena pengesaan dikatakan menjadi
tindakan manusia, dan tindakan manusia tidak menyebabkan
tersingkapnya Tuhan, dan di dalam realitas ketersingkapan
yang tidak menyebabkan ketersingkapan adalah tabir (hijab).
Manusia dengan semua sifatnya adalah selain Tuhan, karena
jika sifat-sifatnya dianggap Ilahi, maka ia sendiri tentunya
Ilahi. Dan kemudian ahli tauhid, tauhid dan yang Tunggal
menjadi sebab-sebab keberadaan satu sama lain; dan ini sama
dengan Trinitas Kristen. Jika sifat merintangi pencari Tuhan
dari melenyapkan dirinya dalam pengesaan, ia masih ditabiri
oleh sifat itu. Dan selagi ia ditabiri, ia bukanlah ahli
tauhid, karena semuanya kecuali Tuhan adalah sia-sia. Inilah
tafsir dari Tidak ada tuhan kecuali
Allah.3
Syaikh-syaikh telah membicarakan panjang lebar
istilah-istilah pengesaan. Sebagian mengatakan bahwa
pengesaan adalah pelenyapan yang tidak bisa dicapai kecuali
jika sifat-sifat itu baka, sementara yang lain mengatakan
bahwa pengesaan tidak mempunyai sifat apa pun kecuali
pelenyapan. Kias tentang penyatuan dan pemisahan
(jam u tafriqa) harus diterapkan pada persoalan
ini agar bisa dimengerti. Aku, Ali bin Utsman
Al-Jullabi, menyatakan bahwa pengesaan adalah suatu rahasia
yang disingkapkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan
tidak bisa diungkapkan dengan bahasa sama sekali, apalagi
dengan ungkapan kata yang tinggi. Istilah-istilah yang
bersifat menjelaskan dan orang-orang yang menggunakannya
adalah selain Tuhan, dan mengukuhkan apa yang selain Tuhan
dalam pengesaan adalah mengukuhkan kesyirikan.
Catatan Kaki:
- Melaksanakan Apa yang Menjadi Hak-hak
Tuhan.
- QS. 7 171.
- Di sini pengarang mengutip sebuah hikayat tentang
Ibrahim Al-Khawwash dan Al-Hallaj yang pernah
diriwayatkan di atas.
|