Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

17. Menyingkap Tabir Ketiga: Iman

Rasulullah saw. bersabda: “Iman adalah percaya kepada Allah dan para malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya. ”Secara etimologis, iman berarti pembenaran (tashdiq). Mengenai penerapan prinsip-prinsipnya kepada hukum keagamaan, ada diskusi dan perselisihan besar. Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa iman melibatkan semua tindak peribadatan, baik secara teoretis maupun praktis. Karenanya, mereka mengatakan bahwa adalah dosa mengeluarkan manusia dari iman. Kaum Kharijiyah, yang menyebut seseorang kafir karena berbuat dosa, menganut pandangan yang sama. Sebagian menyatakan bahwa iman hanyalah pengakuan lisan, sementara yang lain mengatakan hanyalah pengetahuan tentang Tuhan, dan segolongan ahli teologi Sunni menyatakan bahwa iman hanyalah pembenaran. Aku telah menulis sebuah karya tersendiri yang menerangkan masalah ini, tetapi tujuanku sekarang adalah mengukuhkan apa yang diyakini oleh Syaikh-syaikh Sufi. Mereka dibagi dalam persoalan ini menjadi seperti faqih-faqih dari dua mazhab yang berlawanan itu. Sebagian dari mereka, seperti Fudhayl bin ‘Iyadh dan Bisyr Hafi dan Khayr Al-Nassaj dan Sumnun Al-Muhibb dan Abu Hamzah Al-Baghdadi dan Muhammad Jurayri dan sejumlah besar yang lain, beranggapan bahwa iman adalah pengakuan lisan dan pembenaran serta amal perbuatan. Tetapi yang lain, seperti Ibrahim bin Adham dan Dzun Nun Al-Mishri dan Abu Yazid Al-Bisthami dan Abu Sulayman Darani dan Harits Muhasibi dan Junayd dan Sahl bin ‘Abdallah Al-Tustari dan Syaqiq Al-Balkhi dan Hatim Asham dan Muhammad bin Al-Fadhl Al-Balkhi dan sejumlah yang lain, beranggapan bahwa iman adalah pengakuan lisan dan pembenaran. Sementara faqih-faqih seperti Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, menganut pandangan yang pertama, sedangkan pandangan yang kedua didukung oleh Abu Hanifah dan Husayn bin Fadhl Al-Balkhi dan pengikut-pengikut Abu Yusuf. Perbedaan di antara mereka ialah perbedaan ungkapan, bukan substansi, sebagaimana aku akan jelaskan secara singkat sekarang, agar tidak ada lagi seorang pun yang memperselisihkan prinsip iman.

Prinsip dan Cabang Iman

Ketahuilah bahwa mayoritas kaum Muslim dan para Sufi sepakat bahwa iman mempunyai sebuah prinsip (ashl) dan sebuah cabang (far’), prinsipnya berupa pembenaran di dalam hati, dan cabangnya berupa pelaksanaan perintah (Tuhan). Nah orang-orang Arab pada umumnya dan biasanya mengalihkan nama prinsip ke cabang dengan cara majaz (metafor), misalnya mereka menyebut sinar matahari sebagai “matahari”. Dengan pengertian ini, yang pertama dari dua golongan yang tersebut di atas menggunakan sebutan iman terhadap ketaatan, satu-satunya hal yang menyelamatkan seseorang dari hukuman yang akan datang. Semata-mata pembenaran (yakni kepercayaan), tanpa melaksanakan perintah-perintah Ilahi, tidaklah memberikan keselamatan. Maka, karena keselamatan itu ada berkat ketaatan, dan ketaatan bersama-sama pembenaran dan pengakuan lisan adalah sebab bagi adanya keselamatan, mereka menyebut ketaatan itu “iman”. Namun, golongan lain menyatakan bahwa makrifat, bukan ketaatan, adalah sebab bagi adanya keselamatan. Ketaatan, menurut mereka, tidak ada gunanya tanpa makrifat, sedangkan orang yang mempunyai makrifat tetapi tidak taat pada akhirnya akan diselamatkan, meskipun hal ini bergantung pada kehendak Tuhan apakah ia akan diampuni dengan rahmat Ilahi atau melalui syafaat Rasulullah, atau apakah ia akan dihukum menurut ukuran dosanya dan kemudian dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke surga. Maka, karena orang-orang yang mempunyai makrifat, sekalipun mereka berdosa, berkat makrifat mereka, tidaklah tinggal selamanya di neraka, sementara orang-orang yang hanya beramal tanpa memiliki :makrifat tidaklah masuk surga, maka ketaatan di sini bukanlah sebab bagi adanya keselamatan. Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang pun di antaramu yang akan diselamatkan dengan amal-amalnya.” Karena itu, pada hakikatnya, tanpa ada perselisihan di antara kaum Muslim, iman adalah makrifat dan pengakuan serta diterimanya amal-amal. Barangsiapa mengenal Allah, maka ia mengenal-Nya melalui salah satu sifat-Nya, dan sifat-Nya yang paling utama ada tiga macam: yang berhubungan dengan keindahan-Nya (jamal), dan dengan keperkasaan-Nya (jalal), serta dengan kesempurnaan-Nya (kamal). Kesempurnaan-Nya tidak bisa dicapai kecuali oleh orang-orang yang memiliki kesempurnaan dan yang ketidaksempurnaannya telah sirna. Yang tinggal hanya keindahan dan keperkasaan. Orang-orang yang buktinya dalam makrifat adalah keindahan Tuhan selalu merindukan penglihatan, dan orang-orang yang buktinya dalam makrifat adalah keperkasaan-Nya selalu membenci sifat-sifat mereka sendiri dan hati mereka selalu takjub.

Nah, rindu adalah akibat cinta, dan begitu pula kebencian akan sifat-sifat manusia, karena terkuaknya tabir sifat-sifat manusia, adalah hakikat cinta itu sendiri. Maka iman dan makrifat adalah cinta, sedangkan ketaatan adalah tanda cinta. Siapa pun yang menyangkalnya, berarti melalaikan perintah Tuhan dan tidak mengetahui apa-apa tentang makrifat sama sekali. Keburukan ini tampak di kalangan calon-calon Sufi pada masa kini. Sebagian kaum zindiq, yang melihat keutamaan mereka dan tertarik kepada derajat luhur mereka, meniru mereka dan mengatakan: “Kesedihan hanya berlangsung selagi engkau tidak mengenal Allah. Begitu engkau mengenal-Nya, semua amal ketaatan diangkat dari badan.” Namun mereka salah. Kujawab bahwa ketika engkau mengenal-Nya, hati diisi dengan kerinduan, dan perintah-Nya lebih dijunjung tinggi daripada sebelumnya. Aku akui bahwa seorang yang saleh bisa mencapai suatu titik di mana ia dibebaskan dari rasa jemu terhadap ketaatan lewat bertambahnya pertolongan Ilahi (tawfiq), sehingga ia melaksanakan perintah Tuhan tanpa rasa enggan sedikit pun seperti yang dialami oleh orang-orang lain. Tetapi, hasil ini tidak bisa dicapai tanpa kerinduan yang melahirkan semangat bergelora. Sebagian orang mengatakan bahwa iman sepenuhnya datang dari Tuhan, sementara yang lain mengatakan bahwa iman sepenuhnya bersumber dari manusia. Ini telah lama menjadi bahan pertentangan di kalangan masyarakat Transoxania. Menyatakan bahwa iman sepenuhnya datang dari Tuhan adalah paksaan mutlak (jabr), karena manusia dengan demikian tidak mempunyai pilihan. Dan menyatakan bahwa iman bersumber sepenuhnya dari manusia adalah sepenuhnya kehendak bebas karena manusia tidak mengenal Allah kecuali melalui pengetahuan yang Allah berikan kepadanya. Doktrin pengesaan itu kurang dari terpaksa dan lebih dari kehendak bebas. Iman juga sebenarnya adalah tindak manusia yang menyertai petunjuk Tuhan, sebagaimana Tuhan berfirman: “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya petunjuk, Dia akan membuka dadanya untuk menerima Islam; dan barangsiapa yang Dia kehendaki sesat, Dia akan membuat dadanya sesak lagi sempit” (QS 6:125). Berdasarkan prinsip ini, kecenderungan untuk beriman (girawisy) adalah petunjuk Tuhan, sementara keimanan (girawidan) adalah tindak manusia. Tanda-tanda iman adalah begini: di dalam hati, berpegang teguh pada pengesaan; pada mata, berpaling dari melihat hal-hal yang haram dan melihat bukti-bukti dengan penuh perhatian; ada telinga, mendengarkan firman-Nya; pada perut, kosong dari barang-barang yang diharamkan; pada lidah, kejujuran. Karenanya, orang-orang (yang menyatakan bahwa iman datang sepenuhnya dari Tuhan) mengatakan. bahwa makrifat dan iman bisa bertambah dan berkurang, yang pada umumnya dipandang salah, karena jika benar, maka objek makrifat tentu bisa bertambah dan berkurang. Karena itu, bertambah dan berkurang tentu ada dalam cabang, yang berupa tindakan; dan pada umumnya diakui bahwa ketaatan bisa berkurang dan bertambah. Hal ini tidak disukai oleh kaum antropomorfis (hasywiyan) yang meniru dua golongan yang tersebut di atas, karena sebagian dari mereka menganggap bahwa ketaatan adalah unsur iman, sementara yang lain menyatakan bahwa iman adalah pengakuan lisan, dan hanya itu. Kedua doktrin ini tidak benar.

Pendeknya, iman sebenarnya adalah terserapnya semua sifat manusia dalam mencari Tuhan. Ini tentu diterima bulat oleh semua orang mukmin. Kuasa makrifat menundukkan sifat-sifat agnostisisme dan di mana iman ada, di situ agnostisisme tersingkir; karena, sebagaimana dikatakan: “Sebuah lampu tak berguna lagi ketika fajar menyingsing.” Allah berfirman: “Raja-raja, bilamana mereka memasuki sebuah kota, menghancurkannya” (QS 27:34). Bilamana makrifat ada di dalam hati ahli makrifat, kuasa keraguan dan kesangsian dan agnostisisme sepenuhnya hancur, dan kedaulatan makrifat menundukkan pancainderanya dan hawa nafsunya sehingga dalam semua pandangan dan tindakannya serta kata-katanya ia tetap di dalam lingkaran wewenangnya. Aku pernah membaca bahwa ketika Ibrahim Khawwash ditanya mengenai hakikat iman, dia menjawab: “Aku tak punya jawaban terhadap pertanyaan ini sekarang, karena apa saja yang kukatakan hanyalah ungkapan semata, dan perlu bagiku menjawabnya dengan tindakan-tindakanku. Tetapi aku sedang menuju Makkah. Apakah kau mau menyertaiku sehingga pertanyaanmu bisa dijawab.” Si periwayat melanjutkan: “Aku setuju. Ketika kami berjalan menempuh padang pasir, setiap hari ada dua piring berisi makanan dan dua cangkir berisi air. Ia memberiku satu dan yang lain untuk dirinya sendiri. Suatu hari, kami bertemu dengan seorang·tua dan orang tua itu lalu turun dari tunggangannya dan berbicara dengan Ibrahim sejenak. Kemudian ia meninggalkan kami. Aku bertanya kepada Ibrahim, siapakah dia. Ibrahim menjawab: ‘Inilah jawaban bagi pertanyaanmu.’ ‘Kenapa demikian?’ aku bertanya. Ia berkata: ‘Itulah Khidhr, yang memintaku agar dia menyertaiku, tapi aku menolaknya, karena aku takut jangan-jangan ketika bersamanya aku mempercayainya sebagai ganti mempercayai Tuhan, dan kemudian kepasrahanku kepada Tuhan (tawakkal) akan terampas. Iman yang sebenarnya adalah pasrah kepada Tuhan’.” Dan Muhammad bin Khafif mengatakan: “Iman adalah kepercayaan hati kepada pengetahuan yang datang dari yang Gaib,” karena iman adalah kepada yang tersembunyi, dan hanya bisa dicapai melalui dikuatkannya oleh Tuhan keyakinan kita yang merupakan hasil dari pengetahuan yang dianugerahkan oleh Allah.

Sekarang, aku akan membahas masalah amal dan akan menerangkan kesulitan-kesulitannya.•

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team