|
|
14. Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab
Sufi
8. Kharraziyah
Mereka adalah pengikut-pengikut Abu Said Kharraz,
yang telah menulis karya-karya cemerlang tentang tasawuf dan
telah mencapai derajat yang tinggi dalam keterlepasan dari
ikatan dunia ini. Dialah yang pertama kali menerangkan
keadaan fana dan baka (fana u baqa), dan dia
meringkaskan seluruh doktrinnya dalam dua istilah ini. Nah
aku akan memaparkan makna keduanya dan memperlihatkan
kekeliruan-kekeliruan yang telah dibuat oleh beberapa orang
dalam hubungan ini, agar engkau bisa mengetahui bagaimanakah
doktrinnya itu dan apakah yang dimaksudkan oleh Sufi-sufi
bilamana mereka menggunakan ungkapan-ungkapan ini.
Baka dan Fana
Ketahuilah bahwa fana dan baka memiliki satu makna dalam
ilmu pengetahuan dan makna lain dalam tasawuf, dan bahwa
kaum zhahiriyah lebih dibingungkan oleh kata-kata ini
daripada oleh istilah-istilah teknis yang lain dari kaum
Sufi. Baka dalam pemahaman ilmiah dan etimologisnya ada tiga
macam:
(1) baka yang bermula dan berakhir dalam fana, misalnya
dunia ini, yang memiliki permulaan dan akan berakhir, dan
sekarang masih maujud;
(2) baka yang sudah berwujud dan tidak akan pernah fana,
yakni surga dan neraka dan akhirat beserta penghuninya;
(3) baka yang senantiasa ada dan akan selalu ada, yakni
kelang gengan Tuhan dan sifat-sifat-Nya yang
azali-abadi.
Karena itu, pengetahuan tentang fana terletak dalam
pengetahuanmu bahwa dunia ini akan sirna dan pengetahuan
tentang baka terletak dalam pengetahuanmu bahwa akhirat
adalah abadi.
Tapi, baka dan fana suatu keadaan (hal); ini
berarti, umpamanya, bahwa bilamana kebodohan telah lenyap,
pasti maujudlah pengetahuan dan bahwa bilamana dosa telah
lenyap, maka muncullah ketakwaan dan bahwa bilamana
seseorang memperoleh pengetahuan tentang ketakwaannya, maka
kelalaiannya (ghaflat) dilenyapkan oleh ingat kepada
Tuhan (dzikr), yaitu, bilamana seseorang memperoleh
pengetahuan tentang Tuhan dan terus mengetahui tentang Dia,
ia pun lenyap dari kebodohan tentang Dia, dan bilamana ia
lenyap dari kelalaian, ia pun menjadi terus-menerus ingat
kepada-Nya. dan ini melibatkan pencampakan sifat-sifat
tercela dan maujudnya sifat-sifat terpuji. Namun, ada arti
yang berbeda pada istilah-istilah tersebut menurut Sufi-sufi
pilihan. Mereka tidak merujukkan ungkapan-ungkapan ini
kepada pengetahuan (ilm) atau
keadaan (hal), tetapi menerapkan keduanya
kepada derajat kesempurnaan yang dicapai oleh wali-wali yang
sudah terbebaskan dari derita perjuangan melawan hawa nafsu
dan terlepas dari penjara maqam-maqam dan perubahan
keadaan-keadaan, dan yang pencariannya telah
berakhir dalam penemuan, sehingga mereka telah melihat
segala sesuatu yang tampak, dan telah mendengar segala
sesuatu yang terdengar, dan telah menemukan rahasia-rahasia
hati; dan yang, karena mengetahui ketidaksempurnaan penemuan
mereka, telah berpaling dari segala sesuatu dan telah
melenyap dalam apa yang diinginkan, dan dalam
hakikat-terdalam keinginan telah kehilangan semua keinginan
yang mereka miliki karena bilamana seorang manusia telah
sirna dari sifat-sifatnya, ia mencapai kebakaan sempurna, ia
tidaklah dekat atau jauh, tidak asing atau akrab, tidak
sadar dan tidak mabuk, tidak terpisah dan tidak bersatu; ia
tak punya nama, tanda, atau cap.
Pendeknya, pelenyapan sejati dari sesuatu melibatkan
kesadaran akan ketidaksempurnaannya dan tidak adanya
keinginannya kepada hal itu, bukan semata-mata karena orang
harus berkata, ketika ia menyukai sesuatu, aku baka di
dalamnya, atau ketika ia tidak menyukainya, ia harus
berkata, aku lenyap darinya; karena
kualitas-kualitas ini merupakan ciri khas orang yang masih
mencari. Dalam kefanaan tidak ada cinta ataupun benci, dan
dalam kebakaan tidak ada kesadaran akan persatuan atau
pemisahan. Sementara orang secara keliru membayangkan bahwa
fana berarti hilangnya esensi dan binasanya personalitas,
dan bahwa baka menunjukkan kelanggengan Tuhan dalam manusia;
kedua pengertian ini sungguh aneh. Di India, aku pernah
berselisih tentang persoalan ini dengan seseorang yang
mengaku alim dalam tafsir Al-Quran dan teologi. Ketika aku
telaah pretensinya, aku mendapati bahwa ia tidak mengetahui
sama sekali tentang fana dan baka, dan bahwa ia tak bisa
membedakan yang qadim-azali dari yang fenomenal. Banyak Sufi
jahil menganggap bahwa kefanaan menyeluruh (fana-yi
kulliyat) mungkin terjadi, tapi anggapan ini merupakan
suatu kekeliruan yang nyata, karena sirnanya bermacam-macam
bagian dari sebuah substansi material (tinati) tak
akan bisa terjadi. Aku bertanya kepada orang-orang yang tak
mengerti dan keliru ini: Apa yang engkau maksud dengan
kefanaan seperti ini? Jika mereka menjawab,
Pelenyapan substansi (fana-yi ayn),
itu tidak mungkin; dan jika mereka menjawab,
Pelenyapan sifat-sifat, itu hanya mungkin sejauh
satu sifat bisa lenyap melalui kelanggengan sifat yang lain,
kedua sifat itu milik manusia; tapi sungguh aneh untuk
menganggap bahwa seseorang bisa langgeng melalui sifat-sifat
individu lain. Kaum Nestorian dari Rum dan Kristen
menganggap bahwa Maryam melenyap dengan mematikan semua
sifat manusiawi (awsaf-i nasut) dan bahwa
kelanggengan Ilahi menjadi ada padanya, sehingga ia menjadi
baka melalui kebakaan Tuhan, dan bahwa Nabi Isa adalah
h sil dari itu, dan bahwa dia pada mulanya tidak terdiri
atas zat manusiawi, karena kebakaannya dihasilkan oleh
realisasi kebakaan Ilahi; dan bahwa, sebagai akibat dari hal
ini, dia dan ibunya dan Tuhan semuanya baka melalui satu
kebakaan, yang adalah abadi dan suatu sifat Tuhan. Semuanya
ini sesuai dengan doktrin dari sekte-sekte antropomorfistik
Hasywiyyah, yang mengatakan bahwa esensi Ilahi adalah
locus (tempat kedudukan) fenomena (mahall-i
hawadits) dan bahwa yang Qadim bisa mempunyai
sifat-sifat yang fenomenal. Aku bertanya kepada semua orang
yang memaklumkan paham-paham semacam itu: Apa
perbedaan antara pandangan bahwa yang Qadim adalah locus
dari yang fenomenal, dan pandangan bahwa yang fenomenal
adalah locus dari yang Qadim, atau antara pernyataan bahwa
yang Qadim punya sifat-sifat fenomenal, dan pernyataan yang
fenomenal punya sifat-sifat yang Qadim?
Doktrin-doktrin semacam itu melibatkan materialisme
(dahr) dan menghancurkan bukti watak fenomenal alam
semesta, dan memaksa kita untuk mengatakan bahwa Pencipta
dan ciptaan-ciptaan-Nya adalah qadim atau kedua-duanya
fenomenal, atau bahwa apa yang diciptakan bisa bercampur
dengan apa yang tidak diciptakan, dan bahwa apa yang tak
tercipta bisa turun ke dalam apa yang diciptakan. Jika,
sebagaimana mereka terpaksa menerimanya, ciptaan adalah
fenomenal, lalu Pencipta mereka juga harus fenomenal, karena
tempat kedudukan sesuatu adalah seperti substansinya; jika
tempat kedudukannya fenomenal, maka kandungannya fenomenal
juga. Ringkas kata, bilamana satu benda berkaitan dan
bersatu dan bercampur baur dengan benda lain, kedua benda
itu pada hakikatnya satu.
Karena itu, kebakaan dan kefanaan kita adalah sifat-sifat
diri kita sendiri dan serupa satu sama lain dalam hal wujud
mereka sebagai sifat-sifat kita. Fana adalah sirnanya satu
sifat melalui kebakaan sifat yang lain. Namun, orang bisa
mengatakan tentang kefanaan yang bebas dan kebakaan dan juga
tentang kebakaan yang bebas dari kefanaan: dalam kasus itu
fana berarti sirnanya semua ingatan akan yang
lain, dan kebakaan berarti kelanggengan ingatan
akan Allah (baqa-yi dzikr-i haqq). Barangsiapa
yang sirna dari kehendak dirinya, maka ia baka dalam
kehendak Tuhan, karena kehendakmu fana dan kehendak Tuhan
abadi: bilamana engkau bersama kehendakmu sendiri, engkau
bersama kefanaan, tapi bilamana engkau secara mutlak
dikuasai oleh kehendak Tuhan, engkau bersama dengan
kekekalan. Begitu pula, daya api memindahkan ke kualitasnya
sendiri sesuatu yang jatuh ke dalamnya, dan sesungguhnya
kekuatan kehendak Tuhan lebih besar daripada kekuatan api;
tapi api hanya mempengaruhi kualitas besi tanpa mengubah
substansinya, karena besi tak pernah bisa menjadi api.
Hakikat Fana dan Baka
Semua Syaikh telah memberikan petunjuk-petunjuk yang
terinci tentang masalah ini. Abu Said Kharraz,
pencipta doktrin ini, mengatakan: Fana adalah sirnanya
kesadaran tentang manusia (ubudiyyat), dan baka
adalah kelanggengan dalam tafakur tentang Tuhan
(ilahiyyat). Yakni, adalah suatu
ketidaksempurnaan bila sadar akan tindakan-tindakannya
sendiri bahwa dia adalah manusia, dan orang sampai pada
kemanusiaannya yang sesungguhnya (bandagi) bilamana
tidak menyadari tindakan-tindakannya, tapi sirna sedemikian
rupa sehingga tidak melihat tindakan-tindakan itu, dan
menjadi baka melalui melihat tindakan Tuhan. Oleh karenanya,
semua tindakan orang dirujukkan kepada Tuhan, bukan kepada
dirinya sendiri, dan sementara tindakan-tindakan manusia
yang dikaitkan dengan dirinya sendiri tidaklah sempurna,
yang dikaitkan dengan dirinya oleh Tuhan adalah sempurna.
Maka dari itu, bilamana seseorang terlenyapkan dari
benda-benda yang bergantung kepadanya, ia menjadi baka
melalui keindahan Tuhan. Abu Yaqub Nahrajuri berkata:
Penghambaan sejati manusia (ubudiyyat)
terletak dalam kefanaan dan kebakaan, sebab tak ada
seorang pun dapat berbakti kepada Tuhan dengan ikhlas
kecuali ia menyangkal semua kepentingan-diri. Karenanya,
menyangkal yang manusiawi (adamiyyat) adalah fana,
dan ikhlas dalam penghambaan adalah baka. Dan Ibrahim bin
Syayban mengatakan: Ilmu tentang fana dan baka
berkenaan dengan keikhlasan dan keesaan (wahidiyyat)
dan penghambaan sejati; semua yang lain adalah keliru dan
bidah, yakni, bilamana seseorang mengakui
keesaan Tuhan, ia merasa dirinya dikuasai oleh kemahakuasaan
Tuhan, dan orang yang dikuasai (maghlub) lenyap dalam
kuasa penguasanya; dan bilamana pelenyapannya benar-benar
terjadi pada dirinya, ia mengakui kelemahannya dan tak
melihat sumber daya kecuali mengabdi kepada Tuhan, dan
berusaha mendapatkan keridhaan-Nya. Dan siapa saja yang
menerangkan istilah-istilah ini tidak dalam makna yang
sesungguhnya, yakni pelenyapan yang diartikan
pelenyapan substansi dan kelanggengan diartikan
kelanggengan Tuhan (dalam manusia), maka dia itu
zindiq dan Kristen, sebagaimana telah dikemukakan di
atas.
Nah, aku, Ali bin Utsman Al-Jullabi,
menyatakan bahwa semua ujaran ini dekat satu sama lain dalam
makna, meskipun berbeda dalam pengungkapan; dan inti sarinya
yang sesungguhnya ialah begini, bahwa kefanaan datang kepada
manusia melalui penglihatan akan keagungan Tuhan dan melalui
terkuaknya kemahakuasaan Ilahi kepada hatinya, sehingga
dalam perasaan yang terkuasai keagungan Tuhan, dunia ini dan
akhirat sirna dari pikirannya, dan
keadaan-keadaan serta maqam-maqam tampak tak
berarti dalam pandangannya, dan apa yang diperlihatkan
kepadanya tentang anugerah luar biasa sirna sama sekali: ia
menjadi mati terhadap akal dan hawa nafsu, malahan mati
terhadap kefanaan itu sendiri, dan dalam fananya kefanaan
itu, mulutnya mengumandangkan Tuhan, dan pikiran serta
jasadnya runduk dan hina, seperti semula ketika anak cucu
Adam dikeluarkan dari sulbinya dalam keadaan suci dan
berikrar akan menghambakan diri kepada Tuhan (QS 7:172).
Demikianlah prinsip-prinsip fana dan baka. Aku telah
membahas sedikit banyak tentang masalah ini dalam bab
tentang kefakiran dan tasawuf, dan di mana pun
istilah-istilah ini dijumpai dalam karya yang tersaji ini,
itu mengandung makna seperti yang sudah aku terangkan.
9. Khafifiyah
Mereka adalah pengikut-pengikut Abu Abdallah
Muhammad bin Khafif dari Syiraz, seorang Sufi terkemuka pada
zamannya dan pengarang berbagai risalah terkenal tentang
beraneka ragam cabang tasawuf. Dia mempunyai pengaruh ruhani
yang besar, dan dia tidak suka memperturutkan hawa nafsunya.
Aku mendengar bahwa dia menikah empat ratus kali. Ini
disebabkan oleh fakta bahwa dia adalah keturunan raja, dan
bahwa sesudah bertobat, rakyat Syiraz sangat memuliakannya,
dan putri-putri para raja dan bangsawan ingin menikahinya
demi mendapatkan barakah. Dia biasa memenuhi hasrat mereka,
dan kemudian menceraikan mereka sebelum memenuhi kebutuhan
perkawinan (persenggamaan - penerjemah). Tetapi, dalam masa
hidupnya, empat puluh istri yang asing baginya
(begana), dua atau tiga orang sekaligus, biasa
melayaninya sebagai pelayan-pelayan (khadiman-·i
firasy), dan salah seorang di antara mereka - ia adalah
putri seorang wazir - hidup bersamanya selama empat puluh
tahun. Aku mendengar dari Abul Hasan Ali bin Bakran
dari Syiraz bahwa suatu hari beberapa orang istrinya
berkumpul bersama-sama, dan masing-masing menceritakan
sesuatu mengenai dia (Khafif). Mereka semua sepakat sese
nunquam eum vidisse libidini obsequentem (mereka
memperkuat kata satu sama lain bahwa dalam hidup mereka
belum pernah mereka melihat atau merasakan perlakuan yang
demikian lembut penuh kasih sayang). Sampai saat itu, setiap
orang di antara mereka yakin bahwa dialah (putri wazir) yang
diperlakukan secara istimewa dalam hubungan ini, dan ketika
mereka tahu bahwa perilaku Syaikh sama terhadap mereka
semua, mereka merasa heran dan sangsi apakah yang demikian
benar adanya. Karena itu, mereka mengutus dua orang dari
mereka untuk menanyakan kepada sang putri wazir, yang paling
dicintai Syaikh, perihal perlakuannya terhadap sang putri
wazir itu. Ia menjawab: Ketika Syaikh mengawiniku dan
aku diberitahu bahwa dia akan mengunjungiku pada malam itu,
kusediakan santapan yang lezat dan menghias diriku
seelok-eloknya. Begitu dia datang dan makanan tersajikan,
dia memanggilku dan memandang sesaat pertama kepadaku dan
kemudian kepada makanan. Lalu dia memegang tanganku dan
memasukkannya ke dalam lengan bajunya. Dari dada sampai
pusatnya ternyata ada limabelas utas tali
(aqd). Dia berkata, Bertanyalah kepadaku
apakah ini semua; maka bertanyalah aku kepadanya dan
dia menjawab, Itu adalah tali-tali yang terbuat dari
duka cita keberpantanganku terhadap wajah seperti ini dan
makanan-makanan seperti ini. Dia tak berkata apa-apa
lagi, hanya pergi begitu saja; dan itulah segenap
keakrabanku dengannya.
Bentuk doktrinnya dalam tasawuf adalah
ketidakhadiran (ghaybat) dan
kehadiran (hudhur). Aku akan
menerangkannya sejauh mungkin.
Ketidakhadiran dan
Kehadiran
Istilah-istilah ini, walaupun tampaknya bertentangan satu
sama lain, mengungkapkan makna yang sama dari sudut-sudut
pandang yang berbeda. Kehadiran adalah
kehadiran hati, sebagai bukti kepercayaan
intuitif (yaqin), sehingga apa yang tersembunyi
darinya mempunyai kekuatan yang sama dengan apa yang bisa
terlihat olehnya. Ketidakhadiran adalah
ketidakhadiran hati dari segala sesuatu selain
Tuhan sedemikian rupa sehingga ia menjadi tidak hadir
dari dirinya dan malahan tidak hadir dari ketidakhadirannya,
sehingga ia tak lagi melihat dirinya; dan tanda keadaan ini
ialah terlepas dari segala otoritas resmi (hukm-i
rusum), seperti halnya ketika seorang nabi dijauhkan
oleh Tuhan dari apa yang diharamkan. Karena itu,
ketidakhadiran dari diri adalah kehadiran bersama Tuhan, dan
sebaliknya. Tuhan adalah penguasa hati manusia; bilamana
suatu kerinduan ilahiah (jadzbat) menguasai hati sang
pencari, ketidakhadiran hatinya menjadi sama dengan
kehadirannya (bersama Tuhan); persekutuan (syirqat)
dan pembagian (qismat) lenyap dan perhubungan dengan
diri berakhirlah sudah, sebagaimana salah
seorang Syaikh mengatakan dalam baris puisi:
- Engkaulah Penguasa hatiku,
- Tanpa satu sekutu pun; lalu, bagaimana bisa
dibagi-bagi?
Karena Tuhan satu-satunya penguasa hati, Dia memiliki
kekuasaan mutlak untuk senantiasa membuatnya tidak hadir
ataupun hadir menurut kehendak-Nya, dan, sehubungan dengan
hakikat masalahnya, inilah keseluruhan argumen bagi doktrin
orang-orang pilihan-Nya; tetapi bilamana terjadi perbedaan,
Syaikh-syaikh menganut pendapat yang beraneka ragam tentang
masalah ini, sebagian lebih menyukai kehadiran
daripada ketidakhadiran, sementara yang lain
menyatakan bahwa ketidakhadiran mengungguli
kehadiran. Ada perselisihan yang juga terjadi
berkenaan dengan ketidakmabukan dan kemabukan, yang
sudah-aku terangkan di atas; tapi istilah-istilah ini
menunjukkan bahwa sifat-sifat manusia masih ada, sementara
ketidakhadiran dan kehadiran
menunjukkan bahwa sifat-sifat manusia sudah sirna. Karena
itu, istilah-istilah yang belakangan pada hakikatnya lebih
tepat.
Ketidakhadiran lebih disukai daripada
kehadiran oleh Ibn Atha, Husayn bin
Manshur (Al-Hallaj), Abu Bakr Syibli, Bundar bin Al-Husayn,
Abu Hamzah dari Baghdad, Sumnun Muhibb, dan sejumlah Syaikh
Irak. Mereka mengatakan: Dirimu sendiri adalah
sebesar-besar tabir antara engkau dan Tuhan; bilamana engkau
tidak hadir dari dirimu sendiri, maka keburukan-keburukan
dalam wujudmu lenyap dan keadaanmu mengalami perubahan yang
mendasar: maqam-maqam para pemula menjadi tabir bagimu, dan
keadaan-keadaan orang-orang yang mencari Tuhan
menjadi sumber kemudharatan bagimu; matamu tertutup terhadap
dirimu dan terhadap semua selain Tuhan, dan sifat-sifat
manusiawimu ditelan oleh nyala api kedekatan dengan Tuhan
(qurbat). Inilah keadaan yang sama dari
ketidakhadiran, yang di dalamnya Tuhan
mengeluarkanmu dari pinggang Adam, dan menyebabkanmu
mendengar kalam agung-Nya, dan mengistimewakanmu dengan
jubah kehormatan Tauhid dan pakaian musyahadat, selama
engkau tidak hadir dari dirimu, engkau hadir bersama Tuhan
berhadap-hadapan, tetapi bilamana engkau telah hadir bersama
sifat-sifat dirimu sendiri, engkau menjadi tidak hadir dari
kedekatanmu dengan Tuhan. Oleh karenanya,
kehadiran-mu adalah nerakamu. Inilah makna kalam
Allah, Dan sesungguhnya engkau akan menjumpai Kami
sendiri-sendiri, sebagaimana Kami menciptakanmu
semula (QS 6:94). Di pihak lain, Harits
Muhasibi, Junayd, Sahl bin Abdallah, Abu Jafar
Haddad,1 Hamdun Qashshar, Abu Muhammad Jurayri,
Husri, Muhammad bin Khafif, pencipta doktrin itu, dan yang
lain berpendapat bahwa kehadiran mengungguli
ketidakhadiran. Mereka berpendapat bahwa karena
semua keutamaan terikat dengan kehadiran, dan
karena tidak hadir dari diri adalah jalan menuju
kehadiran bersama Tuhan, jalan itu menjadi suatu
ketidaksempurnaan sesudah engkau sampai pada tujuan.
Kehadiran adalah buah dari
ketidakhadiran, tapi bagaimana jadinya dengan
ketidakhadiran tanpa kehadiran?
Seseorang perlu menafikan kelalaian supaya, melalui
ketidakhadiran ini, dia bisa mencapai
kehadiran; dan bilamana dia telah mencapai
sasarannya, sarana yang digunakannya untuk mencapainya tak
lagi bernilai.
- Orang yang tidak hadir bukanlah ia yang tidak
hadir dari negerinya,
- Tapi ia yang tidak hadir dari semua keinginan.
- Orang yang hadir bukanlah ia yang tak punya
keinginan,
- Tapi ia yang tak punya hati (tidak punya pikiran
tentang benda-benda dunia),
- Sehingga keinginannya selalu tertuju kepada
Tuhan.
Ada kisah terkenal bahwa salah seorang murid Dzun Nun
pergi mengunjungi Abu Yazid. Ketika ia mendekati ruangan Abu
Yazid dan mengetuk pintunya, Abu Yazid mengatakan:
Siapakah engkau, dan engkau ingin bertemu siapa?
Dia menjawab: Abu Yazid. Abu Yazid mengatakan:
Siapakah Abu Yazid, dan di mana ia, dan seperti apa
ia? Aku sudah lama mencari Abu Yazid, tapi aku belum
menemukannya. Ketika sang murid kembali kepada Dzun
Nun dan mengatakan apa yang sudah berlangsung, Dzun Nun
mengatakan: Saudaraku Abu Yazid telah hilang bersama
orang-orang yang hilang dalam Tuhan. Seseorang
mendatangi Junayd dan mengatakan: Hadirlah bersamaku
sesaat agar aku bisa berbicara denganmu. Junayd
menjawab: Wahai orang muda, engkau menginginkan
sesuatu dariku yang sekian lama kucari. Bertahun-tahun aku
mengharapkan bisa hadir bersama diriku sendiri sesaat saja,
tapi aku tak bisa; lalu bagaimanakah aku bisa hadir
bersamamu sekarang juga? Maka dari itu,
ketidakhadiran melibatkan kesedihan karena
tertabiri, sementara kehadiran melibatkan
kegembiraan karena tersingkapnya tabir, dan keadaan yang
pertama tak bisa disamakan dengan yang kedua. Syaikh Abu
Said mengatakan tentang masalah ini:
- Taqasysya a ghaymu al-hajri an qamari
al-hubbi
- Wa-asfara nuru al-shubhi an zhulmati
al-ghaybi.
- Tersingkirlah awan-awan pemisahan dari
bulan-cinta,
- Dan terpancarlah cahaya pagi dari kegelapan Yang
Gaib.
Perbedaan yang dibuat oleh Syaikh-syaikh antara dua
istilah ini bersifat mistis, dan pada permukaannya hanyalah
bersifat verbal karena istilah-istilah ini tampaknya
kira-kira sama. Hadir bersama Tuhan adalah tidak hadir dari
diri - apakah perbedaannya? - dan orang yang tidak absen
dari diri berarti tidak hadir bersama Tuhan. Jadi, karena
kesabaran Ayub dalam penderitaannya tidaklah timbul dari
dirinya, melainkan karena dia tidak hadir dari dirinya,
Tuhan tidaklah membedakan ketidaksabarannya dari
kesabarannya, bilamana dia berseru, Keburukan telah
menimpaku (QS 21 :83), Allah berfirman,
Sesungguhnya ia orang yang sabar. Inilah suatu
penilaian yang didasarkan pada watak hakiki masalahnya
(hukm ba-ayn). Diriwayatkan bahwa Junayd
mengatakan: Beberapa lama aku dalam keadaan sedemikian
rupa sehingga penghuni-penghuni langit dan bumi menangisi
kebingunganku (hayrat); aku juga pernah menjadi
sedemikian rupa sehingga aku menangisi kegaiban mereka
(ghaybat); dan kini keadaanku sedemikian rupa
sehingga aku tak punya pengetahuan tentang mereka dan juga
tentang diriku sendiri. Inilah petunjuk utama mengenai
kehadiran.
Secara singkat aku telah menerangkan arti
kehadiran dan ketidakhadiran supaya
engkau bisa mengenal doktrin aliran Khafifiyah, dan juga
bisa mengetahui dalam arti apa istilah tersebut digunakan
oleh para Sufi.
Catatan Kaki:
- Nafahat, No. 201.
|