|
|
14. Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab
Sufi
10. Sayyariyah
Mereka para pengikut Abul Abbas Sayyari, Imam dari
Merw. Dia alim dalam semua ilmu dan bergabung dengan Abu
Bakr Wasithi. Sekarang ini dia mempunyai sejumlah besar
pengikut di Nasa dan Merw. Mazhab tasawufnya adalah
satu-satunya yang menjaga doktrin aslinya yang tidak
berubah, dan sebab adanya fakta ini ialah bahwa Nasa dan
Merw tak pernah tampak tanpa seseorang yang mengakui
otoritasnya dan berupaya agar pengikut-pengikutnya
mempertahankan doktrin pendiri mereka. Sayyariyah Nasa terus
melakukan diskusi dengan Sayyariyah Merw melalui
surat-menyurat, dan aku telah menemukan bagian korespondensi
ini di Merw; sangat bagus. Ungkapan-ungkapan mereka
didasarkan atas perpaduan (jam) dan
pemisahan (tafriqa). Kata-kata ini sudah
akrab di kalangan pakar ilmu dan dipakai oleh para spesialis
dalam setiap cabang ilmu sebagai sarana untuk membuat
keterangan-keterangan mereka dapat dipahami, tapi mereka
membawakan makna-makna yang berlainan pada tiap-tiap
masalah. Maka, dalam aritmatika (ilmu hitung), jam
menunjukkan penambahan dan tafriqa menunjukkan pengurangan
bilangan; dalam gramatika (ilmu tata bahasa), jam
adalah keselarasan kata-kata dalam derivasi (turunan),
sementara tafriqa adalah perbedaan dalam arti; dalam hukum,
jam adalah analogi (qiyas) dan tafriqa ialah
ciri khas teks yang otoritatif (shifat-i nushsh),
atau jam adalah teksnya dan tafriqa analoginya; dalam
teologi, jam menunjuk kepada yang hakiki dan tafriqa
menunjuk kepada sifat-sifat resmi Tuhan.1 Tapi,
kaum Sufi tidak menggunakan istilah-istilah ini dalam salah
satu dari arti-arti seperti telah aku sebutkan di atas. Nah,
karena itu, aku akan menerangkan arti istilah-istilah itu
menurut kaum Sufi dan beraneka ragam pandangan Syaikh-syaikh
tentang masalah ini.
Perpaduan dan Pemisahan
Tuhan memperpadukan (mempersatukan) umat manusia dalam
panggilan-Nya, sebagaimana Dia firmankan, Dan Tuhan
memanggil ke tempat yang damai sejahtera; kemudian
Dia memisahkan mereka dalam hubungannya dengan petunjuk
Ilahi, dan berfirman, dan menunjuki siapa saja yang
Dia kehendaki menuju jalan yang benar (QS 10:26).
Dia memanggil mereka semua, dan menyingkirkan sebagian
menurut pengejawantahan kehendak-Nya; Dia mempersatukan
mereka semua dan memberikan perintah, dan kemudian
memisahkan mereka, menolak sebagian dan meninggalkan mereka
tanpa pertolongan, tetapi menerima yang lain dan memberi
mereka pertolongan-Nya; kemudian sekali lagi Dia menyatukan
sejumlah tertentu dan memisahkannya, memberikan kepada
sebagian orang kekebalan dari dosa dan kepada yang lain
kecenderungan berbuat buruk. Karena itu, misteri perpaduan
yang hakiki ialah pengetahuan (ilmu) dan kehendak
(iradat) Tuhan, sementara pemisahan adalah
pengejawantahan dari yang Dia perintahkan dan Dia larang:
umpamanya, Dia memerintahkan Ibrahim memotong leher
Ismail, tetapi Dia berkehendak agar dia (Ibrahim)
tidak berbuat demikian; dan Dia memerintahkan Iblis untuk
bersujud kepada Adam, tetapi menghendaki yang sebaliknya;
dan Dia melarang Adam makan biji-bijian, tetapi menghendaki
agar ia memakannya; dan sebagainya. Persatuan ialah yang Dia
satukan melalui sifat-sifat-Nya, dan pemisahan ialah yang
Dia pisahkan melalui tindak-perbuatan-Nya. Semua ini
melibatkan penghentian kehendak manusia dan pengukuhan
kehendak Ilahi sedemikian sehingga mencabut semua inisiatif
pribadi. Mengenai apa yang telah dikatakan tentang masalah
perpaduan dan pemisahan, orang-orang Sunni, kecuali
Mutazilah, sepakat dengan Syaikh-syaikh Sufi, tapi
pada titik ini mereka mulai berbeda pendapat, sebagian
menggunakan istilah-istilah itu untuk Keesaan Tuhan
(tawhid), sebagian untuk sifat-sifat Ilahi, dan
sebagian lagi untuk tindak-perbuatan Tuhan. Mereka yang
merujuk kepada Keesaan Tuhan mengatakan bahwa ada dua
tingkat persatuan, yang satu dalam sifat-sifat Tuhan dan
yang lain dalam sifat-sifat manusia. Yang pertama ialah
misteri Pengesaan (tawhid), yang di dalamnya
tindakan-tindakan manusia tidak punya peran apa-apa; yang
kedua menunjuk kepada pengakuan Keesaan Ilahi dengan
keyakinan yang setulus-tulusnya dan tekad yang teguh. Inilah
pandangan Abu Ali Rudbari. Dan mereka yang merujukkan
istilah-istilah ini kepada sifat-sifat Ilahi mengatakan
bahwa kesatuan adalah sifat Tuhan, dan pemisahan merupakan
tindakan Tuhan yang di dalamnya manusia tidak turut campur,
karena Tuhan tidak punya tandingan dalam Ketuhanan. Oleh
karenanya, kesatuan bisa dirujukkan hanya pada zat dan
sifat-sifat-Nya, karena kesatuan adalah persamaan dalam inti
masalah yang mendasar ini (al-taswiyat
fil-ashl), dan tak ada dua hal yang sama dalam
hubungannya dengan kekekalan azali kecuali zat-Nya dan
sifat-sifat-Nya, yang, bilamana mereka dipisahkan oleh
analisis pengungkapan (ibarat u tafshil), tidak
bersatu. Ini berarti bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat yang
abadi yang khusus bagi-Nya dan baka melalui Diri-Nya; dan
bahwa Dia dan sifat-sifat-Nya tidaklah mendua, sebab
Keesaan-Nya tidak mengenal perbedaan dan bilangan. Atas
dasar ini, kesatuan itu tidak mungkin kecuali dalam
pengertian yang ditunjukkan di atas.
Pemisahan dalam hukum (al-tafriqat fi al-hukm)
merujuk kepada perbuatan-perbuatan Tuhan, yang semuanya
terpilah dalam hubungan ini. Hukum bagi yang satu adalah ada
(wujud); dan yang lain, tidak ada
(adam), tetapi tidak-ada yang bisa saja ada;
yang lainnya, pelenyapan (fana), dan yang lain lagi
kelanggengan (baqa). Dan ada sebagian yang merujukkan
istilah-istilah ini kepada pengetahuan (ilm)
dan mengatakan bahwa kesatuan adalah pengetahuan tentang
Keesaan Ilahi dan pemisahan adalah pengetahuan tentang
peraturan-peraturan Ilahi. Karenanya, teologi adalah
kesatuan, dan yurisprudensi (fiqih) adalah pemisahan.
Salah seorang dari Syaikh mengatakan: Kesatuan adalah
yang disepakati para ahli teologi, dan pemisahan ialah yang
diperselisihkan mereka. Semua Sufi, kapan saja mereka
menggunakan istilah pemisahan dalam
pengungkapan-pengungkapan mereka dan isyarat-isyarat mereka,
memberinya arti perbuatan-perbuatan manusia
(makasib), misalnya mujahadat, dan yang mereka maksud
dengan kesatuan adalah karunia-karunia
Ilahi (mawahib), misalnya kontemplasi
(musyahadat). Apa pun yang diperoleh melalui
perjuangan melawan hawa nafsu (mujahadat) adalah
pemisahan, dan apa pun yang semata-mata basil
dari nikmat dan petunjuk Tuhan adalah kesatuan.
Inilah kemuliaan manusia yang, selagi tindakan-tindakannya
ada dan mujahadat-nya mungkin, dia akan terlepas dengan
kebaikan Tuhan dari ketidaksempurnaan tindakan-tindakannya
sendiri, dan akan mendapati semua itu terserap dalam
kemurahan-kemurahan Ilahi, sehingga dia sepenuhnya
bergantung pada Tuhan dan menyerahkan semua sifatnya kepada
kuasa-Nya dan merujukkan semua tindakannya kepada-Nya dan
sama sekali bukan kepada dirinya sendiri, sebagaimana Jibril
mengatakan kepada Rasulullah bahwa Tuhan berfirman:
Hamba-Ku terus-menerus mencari kedekatan dengan-Ku
dengan melakukan amal-amal sunnah hingga Aku mencintainya;
dan bilamana Aku mencintainya, Aku menjadi telinga dan mata,
hati, dan lidahnya; karena Aku dia mendengar dan melihat dan
berbicara dan memegang, yakni, dalam mengingat-Ku dia
dikuasai oleh ingat (dzikr) akan Diri-Ku, dan
daya-upaya-nya sendiri (kasb)
terlenyapkan sedemikian rupa sehingga tidak punya peran
dalam zikirnya, dan zikirnya kepada-Ku menenggelamkan
ingatannya akan dirinya, dan hubungan kemanusiaan sepenuhnya
hilang dari ingatannya; maka, ingat-Ku adalah ingatnya dan
dalam kegairahannya dia bahkan menjadi seperti Abu Yazid
pada waktu dia mengatakan, Mahasucilah aku! Betapa
besar kemuliaanku! (Subhani! Maazhma
syani! - penerjemah). Kata-kata ini cuma sekadar
isyarat lahiriah dari perkataannya, tetapi pembicara yang
sebenarnya adalah Tuhan. Begitu pula, ketika Rasul bersabda:
Tuhan berbicara lewat lidah Umar.
Sesungguhnya bilamana kekuasaan Ilahi menampakkan daya
kuasanya atas manusia, hal ini mengeluarkan manusia dari
kemaujudannya sendiri, sehingga perkataannya menjadi
perkataan Tuhan. Tetapi, tidak mungkin bahwa Tuhan akan
bercampur baur (imtizaj) dengan benda-benda ciptaan
atau menjadi satu (ittihad) dengan karya-karya-Nya
atau menjelma (hall) dalam benda-benda: Tuhan sangat
jauh dari hal yang demikian, dan jauh dari apa yang kaum
zindiq gambarkan tentang Dia.
Bisa terjadi bahwa cinta Tuhan berkuasa mutlak atas hati
hamba-Nya, dan bahwa akal dan kemampuan-kemampuan alamiahnya
begitu lemah untuk menopang kerinduan dan intensitasnya, dan
bahwa dia kehilangan semua kendali atas kekuatannya untuk
bertindak (kasb). Keadaan ini disebut
persatuan atau
kemanunggalan.2 Bersama dengan ini
terkait semua mukjizat dan karamah. Semua tindakan yang
biasa merupakan pemisahan atau
keterpisahan, dan semua perilaku yang luar biasa
merupakan persatuan atau
kemanunggalan. Tuhan menganugerahkan
keajaiban-keajaiban ini kepada Nabi-nabi dan wali-wali-Nya,
dan merujukkan tindakan-tindakan-Nya kepada mereka dan
tindakan-tindakan mereka kepada Tuhan sebagaimana Dia telah
berfirman: Sesungguhnya, mereka yang bersumpah
setia kepadamu, bersumpah setia kepada Tuhan (QS
48:10), dan lagi: Barangsiapa taat kepada Rasul,
sebenarnya menaati Allah (QS 4:81). Karena itu,
wali-wali-Nya dipersatukan (mujtami) oleh
perasaan-perasaan batin mereka (asrar) dan dipisahkan
(muftariq) oleh perilaku lahiriah mereka, sehingga
cinta mereka kepada Tuhan diperkuat oleh persatuan batin,
dan pemenuhan tugas mereka yang sebaik-baiknya sebagai
hamba-hamba Tuhan diperkuat oleh pemisahan lahiriah mereka.
Seorang Syaikh besar mengatakan:
- Aku telah mewujudkan yang ada dalam diriku, dan
lidahku berbincang dengan-Mu diam-diam,
- Dan kita bersatu dalam satu hal, namun kita terpisah
dalam hal lain.
- Meskipun kedahsyatan menyembunyikan-Mu dari
kerdip-kerdip mataku,
- Ekstasi membuat-Mu dekat dengan relung-relung hatiku
terdalam.3
Keadaan bersatu secara batiniah dia sebut
persatuan, dan percakapan lisan yang diam-diam
dia sebut pemisahan; lalu dia menunjukkan bahwa
persatuan dan pemisahan kedua-duanya ada dalam dirinya, dan
menisbahkan basis (qaidah) keduanya kepada
dirinya sendiri. Ini sangat musykil.
Di sini aku harus memperhatikan masalah perselisihan kita
dan orang-orang yang mengatakan bahwa perwujudan persatuan
adalah penyangkalan akan pemisahan, karena dua istilah itu
bertentangan satu sama lain, dan bahwa bilamana seseorang
berada di bawah kuasa mutlak petunjuk Ilahi, dia berhenti
bertindak dan ber-mujahadat. Ini penghapusan
(tathil) yang sempurna karena manusia tidak
akan pernah sama sekali berhenti beribadah dan ber-mujahadat
sepanjang ia mempunyai kemungkinan dan kemampuan
melakukannya. Lagi pula, persatuan tidaklah terlepas dari
pemisahan (keterpisahan), seperti halnya cahaya terlepas
dari matahari, dan aksiden dari substansi, dan sifat dari
objek. Maka dari itu, sama sekali tiadalah mujahadat
terlepas dari hidayah Ilahi, Kebenaran tidaklah terlepas
dari Hukum, juga penemuan tidaklah terlepas dari pencarian.
Tetapi, mujahadat bisa mendahului atau mengikuti hidayah
Ilahi. Dalam kasus yang pertama, penderitaan manusia
meningkat, sebab dia dalam ketidakhadiran
(ghaybat), sementara dalam kasus yang kedua dia tidak
merasa sedih ataupun -menderita, sebab dia dalam
kehadiran (hadhrat). Orang-orang yang
baginya penafian menjadi sumber (masyrab) tindakan,
dan yang baginya hal ini tampak sebagai substansi
(ayn) tindakan, maka mereka melakukan
kekeliruan yang besar. Namun, manusia bisa mencapai derajat
sedemikian rupa sehingga dia memandang semua kualitasnya
sebagai kekeliruan dan kecacatan karena bilamana dia melihat
bahwa kualitas-kualitasnya yang terpuji itu buruk dan tidak
sempurna, kualitas-kualitasnya yang tak terpuji pastilah
akan tampak lebih buruk. Aku kemukakan
pertimbangan-pertimbangan ini sebab beberapa orang yang
tidak mengerti, yang telah jatuh dalam kekeliruan yang
mendekati kekufuran menyatakan bahwa tak ada akibat apa pun
yang bergantung pada upaya kita, dan bahwa karena
tindakan-tindakan dan ibadah-ibadah kita merupakan
kekeliruan dan mujahadat-mujahadat kita adalah
ketidaksempurnaan, maka sesuatu yang tetap tak terlakukan
masih lebih baik daripada sesuatu yang dilakukan. Terhadap
argumen ini aku jawab: Engkau sepakat dalam
beranggapan bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh kita
mempunyai tenaga (fil), dan engkau menyatakan
bahwa daya-daya kita adalah pusat kecacatan dan sumber
keburukan dan kerusakan. Akibatnya, engkau juga mengira
bahwa segala sesuatu yang tetap tak terlakukan oleh kita
mempunyai daya; dan karena dalam kedua kasus itu terdapat
daya yang melibatkan kecacatan, betapa bisa engkau
menganggap bahwa yang tak kita lakukan sebagai lebih baik
daripada yang kita lakukan? Pengertian ini jelas-jelas
merupakan khayalan kosong belaka. Di sini kita mempunyai
kriterium yang utama untuk membedakan yang mukmin dari yang
kafir. Keduanya sepakat bahwa daya-daya mereka secara
inheren cacat, tapi orang yang beriman, menurut perintah
Tuhan, menganggap sesuatu yang dilakukan lebih baik daripada
sesuatu yang tidak dilakukan; sementara orang kafir, sesuai
dengan pengingkarannya kepada sang Pencipta, mengira sesuatu
yang tak dilakukan lebih baik daripada sesuatu yang
dilakukan.
Selanjutnya, persatuan melibatkan ini - bahwa, walaupun
ketidak-sempurnaan pemisahan diakui, wewenangnya
(hukm) tak akan membiarkan hal demikian berlalu; dan
pemisahan melibatkan hal demikian - bahwa, walaupun
seseorang terhijab dari pandangan akan persatuan, ia mengira
bahwa pemisahan adalah persatuan. Muzayyin mengatakan:
Persatuan adalah keadaan istimewa
(khushushiyyat) dan pemisahan adalah keadaan seorang
hamba (ubudiyyat), dan keadaan-keadaan ini
berpadu erat satu sama lain, karena adalah upaya
keadaan istimewa untuk memenuhi tugas-tugas penghambaan;
maka dari itu, meskipun kelelahan dan kepedihan mujahadat
dan usaha pribadi bisa disingkirkan dari orang yang
melaksanakan semua yang dituntut darinya dalam hubungan ini,
tidak mungkin bahwa substansi (ayn) mujahadat
dan kewajiban keagamaan disingkirkan dari seseorang,
meskipun dia berada dalam esensi persatuan, kecuali dia
mempunyai alasan nyata yang secara umum diakui oleh wewenang
hukum keagamaan. Sekarang aku akan menerangkan masalah ini
supaya engkau bisa memahaminya dengan lebih baik.
Persatuan itu ada dua jenis: (1) persatuan yang kukuh
(jam-i salamat), dan (2) persatuan yang
terpecah (jam-i taksir). Persatuan yang kukuh
ialah yang Tuhan wujudkan dalam diri manusia ketika ia dalam
keadaan rindu dan ekstasi, dan bilamana Tuhan menyebabkannya
menerima dan memenuhi perintah-perintah-Nya dan mematikan
hawa nafsunya sendiri. Inilah keadaan Sahl bin
Abdallah dan Abu Hafsh Haddad dan Abul Abbas
Sayyari, pencipta doktrin ini. Abu Yazid Al-Bisthami, Abu
Bakr Syibli, Abul Hasan Hushri, dan sejumlah Syaikh besar
terus-menerus dalam keadaan terkuasai cinta dan rindu Ilahi
hingga saat-saat sembahyang tiba; kemudian mereka kembali
sadar, dan setelah melaksanakan shalat, mereka menjadi mabuk
kepayang dalam kerinduan dan cinta kepada Tuhan lagi. Selagi
engkau berada dalam keadaan terpisah, engkau adalah engkau
sendiri, dan engkau penuhi perintah Tuhan; tetapi, bilamana
Tuhan membawamu, Dia sangat berhak melihat engkau
melaksanakan perintah-Nya karena dua alasan: pertama, supaya
tanda penghambaan tidak tersingkirkan darimu, dan kedua,
supaya Dia bisa menepati janji-Nya bahwa Dia tidak akan
membiarkan Syariat Muhammad terhapus. Persatuan
terpilah (jam-i taksir) begini: bahwa
penilaian manusia bisa kacau sehingga tampak seperti
penilaian seorang gila; lalu ia dimaafkan dari melaksanakan
kewajiban-kewajiban agama, atau diberi ganjaran
(masykur) karena melaksanakan kewajiban-kewajiban
itu; dan keadaan dia yang diberi pahala itu lebih baik
daripada keadaan orang yang dimaafkan.
Ketahuilah bahwa persatuan tidaklah melibatkan suatu
maqam khusus atau keadaan khusus karena
persatuan adalah pemusatan pikiran (jam-i
himmat) kepada yang diinginkan. Menurut sebagian orang
penyingkapan tabir masalah ini terjadi dalam maqam-maqam,
menurut yang lain dalam keadaan-keadaan
(ahwal), dan dalam kasus apa pun keinginan dari orang
yang bersatu (shahib jam) dicapai
dengan menafikan keinginannya. Ini juga berlaku pada segala
sesuatu, misalnya, Yaqub memusatkan pikirannya kepada
Yusuf, sehingga dia (Yaqub) tidak berpikir kecuali
tentang dia (Yusuf); dan Majnun memusatkan pikirannya kepada
Layla, sehingga dia (Majnun) hanya melihat ia (Layla) di
seluruh dunia, dan semua ciptaan menjadi berbentuk Layla
dalam pandangannya. Suatu hari, ketika Abu Yazid berada di
dalam kamarnya, seseorang datang dan bertanya: Adakah
Abu Yazid di sini? Dia menjawab: Adakah di sini
kecuali Allah? Dan seorang Syaikh meriwayatkan bahwa
seorang darwisy berkunjung ke Makkah dan terus-menerus
merenungi Kabah setahun lamanya, selama waktu itu dia
sama sekali tidak makan dan tidak minum, tidak tidur, tidak
membersihkan dirinya, disebabkan oleh pemusatan pikirannya
kepada Kabah, sehingga perenungan itu menjadi makanan
jasadnya dan minuman jiwanya. Prinsip dalam semua kasus ini
sama saja, yakni bahwa Tuhan membagi satu substansi
cinta-Nya dan menganugerahkan sezarrah darinya, sebagai
karunia khusus, kepada setiap sahabat-Nya sesuai dengan
keasyikan mereka dengan-Nya; kemudian Dia menutupi zarrah
itu dengan kain-kain kemanusiaan dan tabiat serta temperamen
dan ruh, supaya dengan upayanya itu ia bisa mengubah semua
zarrah yang ada padanya menjadi kualitasnya sendiri, sampai
lempung pencinta itu sepenuhnya berubah menjadi cinta, dan
semua tindakan dan pandangannya menjadi sedemikian banyak
persyaratan cinta yang tak bisa dipungkiri lagi. Keadaan ini
disebut persatuan oleh orang-orang yang
memandang batiniahnya dan orang-orang yang memperhatikan
ungkapan-ungkapan lahiriahnya. Husayn bin Manshur
(Al-Hallaj) mengatakan dalam pengertian seperti ini:
- Kehendak-Mu terpenuhi, wahai Tuhan!
- Kehendak-Mu terpenuhi, wahai tujuan dan arti
hidupku!
- Wahai hakikat wujudku, wahai sasaran
keinginanku!
- Wahai sabdaku dan seruan-seruanku serta
isyarat-isyaratku!
- Wahai semua dari seluruh wujudku, wahai pendengaran
dan penglihatanku!
- Wahai seluruh diriku dan unsurku serta
zarrahku!
Oleh karenanya, bagi orang yang kualitas-kualitasnya
hanya merupakan pinjaman dari Tuhan, adalah aib untuk
menegaskan keberadaan dirinya sendiri, dan merupakan tindak
dualisme (zunnar) bila memperhatikan alam semesta
fenomena ini, dan semua objek yang diciptakan tidak ada
artinya sama sekali bagi pikirannya yang tinggi. Sebagian
orang telah digiring oleh kemusykilan dialektis mereka dan
pujian mereka akan fraseologi (susunan kata) untuk
mengatakan tentang persatuan dari persatuan
(jam al-jam). Ini adalah suatu
pengungkapan yang baik menurut susunan katanya, tapi jika
engkau mempertimbangkan maknanya, kurang pantas memberikan
sebutan persatuan dari persatuan karena istilah
persatuan tak akan bisa cocok digunakan kecuali
pada pemisahan. Sebelum persatuan bisa terjadi, ia tentu
sebelumnya terpisah, sementara fakta menunjukkan bahwa
persatuan tidak mengubah keadaannya. Karena itu, ungkapannya
dapat menimbulkan salah paham karena orang yang
dipersatukan tidak lagi memandang apa yang ada
di atas atau di bawahnya. Tidakkah engkau memahami bahwa
ketika dua alam diperlihatkan kepada Rasulullah pada malam
Miraj, beliau tidak memperhatikan apa pun? Beliau
berada dalam persatuan, dan orang yang
dipersatukan tidak melihat
perpisahan. Oleh karenanya, Allah berfirman:
Penglihatannya tidak berpaling dari yang
dilihatnya, atau tidak pula melampauinya (QS 53:
17). Jauh sebelum ini aku telah menyusun sebuah kitab
tentang masalah ini dan kuberi judul Kitab Al-Bayan li Ahl
Al-Iyan,4 dan aku juga telah membahas
masalah itu dengan panjang lebar dalam Bahr
Al-Qulub5 dalam bab tentang
Persatuan. Sekarang aku tidak akan membebani
para pembaca dengan menambah apa yang sudah aku uraikan di
sini.
Gambaran tentang doktrin golongan Sayyariyah ini menutup
uraianku tentang sekte-sekte Sufi yang sah dan mengikuti
Jalan teosofi yang sejati. Aku sekarang kembali kepada
pendapat-pendapat kaum zindiq yang telah mengaitkan diri
mereka dengan kaum Sufi dan telah mengambil
ungkapan-ungkapan ketasawufan sebagai sarana untuk
menyebarkan kezindiqan mereka. Maksudku ialah untuk
mengemukakan kekeliruan-kekeliruan mereka agar para pemula
jalan Sufi tidak terkecoh oleh pernyataan-pernyataan mereka
dan agar bisa menjaga diri dari kesesatan.
11. Hululiyah
Di antara dua sekte sesat yang mengaku tergolong sekte
Sufi dan membuat para Sufi sebagai mitra-mitra dalam
kekeliruan mereka, adalah yang mengikuti Abu Hulman dari
Damaskus.6 Kisah-kisah yang diriwayatkan oleh
para pengikutnya tentang dirinya tidak sesuai dengan apa
yang ditulis mengenai dirinya dalam buku-buku para Syaikh
karena, sementara para Sufi menganggapnya sebagai salah
seorang di antara mereka, orang-orang sekte ini menisbahkan
kepadanya doktrin-doktrin tentang inkarnasi (hulul)
dan pencampur-bauran (imtizaj) dan perpindahan
ruh-ruh (naskh-i arwah). Aku telah menjumpai
pernyataan ini dalam buku Muqaddasi,7 yang
menyerang dia; dan pemahaman yang sama tentangnya telah
dibentuk oleh ahli-ahli teologi, tetapi Tuhan paling
mengetahui apa yang sebenarnya. Sekte lainnya merujukkan
doktrin mereka kepada Faris,8 yang mengaku
menurunkannya dari Husayn bin Manshur (Al-Hallaj), namun ia
hanya salah seorang dari pengikut-pengikut Husayn yang
menganut ajaran-ajaran semacam itu. Aku lihat Abu
Jafar Shaydalani9 bersama empat ribu orang,
yang berasal dari seluruh penjuru Irak, yang merupakan kaum
Hallajiah; dan mereka semua mengutuk Faris karena doktrin
ini. Lagi pula, dalam karangan-karangan Al-Hallaj sendiri,
yang ada hanyalah teosofi yang mendalam.
Aku, Ali bin Otsman Al-Jullabi, mengatakan
bahwa aku tidak tahu siapa Faris dan Abu Hulman itu atau apa
yang mereka katakan. Tetapi, seseorang yang menganut suatu
doktrin yang bertentangan dengan Tauhid, dan teosofi sejati
tidak berperan apa-apa dalam agama. Jika agama, yang
merupakan akarnya, tak punya dasar yang kukuh, maka tasawuf,
yang merupakan cabang dan bagian dari agama, tentunya juga,
dengan alasan apa pun, lemah karena tak dapat dimengerti
bahwa karamah dan bukti-bukti kebenaran ditampakkan kepada
selain ulama-ulama dan ahli-ahli tauhid. Semua kekeliruan
orang-orang sekte ini berhubungan dengan ruh. Oleh
karenanya, aku akan menerangkan sifat dan prinsip-prinsipnya
menurut kaum Sunni, dan dalam uraianku itu, aku akan
membahas pandangan-pandangan yang keliru dan angan-angan
kosong kaum zindiq, supaya keimananmu semakin kuat.
Ruh
Ketahuilah bahwa pengetahuan mengenai keberadaan ruh
adalah intuitif (dharuri), dan akal tak sanggup
memahami sifatnya (ruh). Setiap ulama dan orang-orang
arif telah mengungkapkan perkiraan tertentu tentang masalah
ini, yang juga telah diperdebatkan oleh orang-orang yang
tidak beriman dari berbagai golongan. Ketika orang-orang
kafir Quraysy, yang dihasut oleh orang-orang Yahudi,
mengutus Nadhr bin Al-Harits untuk mengajukan pertanyaan
kepada Rasulullah mengenai sifat dan hakikat ruh, Allah
pertama-tama menegaskan substansi. (zat)-nya dan berfirman,
Dan mereka menanyakan kepadamu tentang
ruh; kemudian Dia (Allah) menyangkal
kekekalan-azalinya, seraya berfirman, Katakan,
ruh termasuk yang (yakni yang penciptaan-nya) Tuhanku
perintahkan (QS 17:87). Dan Rasul bersabda:
Ruh-ruh adalah tentara: mereka yang mengenal satu sama
lain bersepakat dan mereka yang tidak mengenal satu sama
lain berselisih. Ada banyak bukti yang serupa tentang
keberadaan ruh, tapi semuanya tidak mengandung pernyataan
yang kuat mengenai sifatnya. Sebagian mengatakan bahwa ruh
adalah kehidupan yang menyebabkan badan menjadi hidup, suatu
pandangan yang juga dianut oleh sejumlah filosof skolastik.
Menurut pandangan ini, ruh adalah aksiden
(arad), yang, karena perintah Tuhan, menjaga
badan supaya hidup, dan dari situlah maujud persatuan,
gerakan, hubungan, dan aksiden-aksiden serupa sehingga badan
berubah dari satu keadaan ke keadaan lain. Dan yang lain
menyatakan bahwa ruh bukanlah kehidupan, tapi kehidupan
tidak bakal ada tanpa ruh, seperti halnya ruh tidak bakal
ada tanpa badan, dan bahwa kedua-duanya tak pernah
terpisahkan karena mereka tidak bisa dipisahkan, seperti
sakit dan pengetahuan tentang sakit. Menurut pandangan ini
juga, bahwa ruh adalah aksiden sebagaimana kehidupan. Semua
Syaikh Sufi dan kebanyakan Muslim menganggap bahwa ruh
adalah substansi dan bukan atribut; karena, selama ia
berkaitan dengan badan, Tuhan terus-menerus mencipta
kehidupan dalam badan, dan kehidupan manusia adalah atribut
dan dengannya ia hidup, tapi ruh tersimpan dalam badannya
dan bisa dipisahkan darinya sewaktu ia masih hidup, seperti
dalam keadaan tidur. Tapi bilamana ruh meninggalkannya,
akal-pikiran dan pengetahuan tidak lagi bisa ada dalam
dirinya, karena Rasulullah mengatakan bahwa ruh-ruh para
syahid berada dalam tembolok burung. Dengan demikian, ruh
itu tentu substansi (zat). Dan Rasulullah mengatakan bahwa
ruh adalah tentara (junud) dan tentara adalah baka
(baqi), dan aksiden tidak bisa baka karena aksiden
tidaklah berdiri sendiri.
Jadi, ruh adalah sebuah jasad halus (jismi lathif)
yang datang dan pergi menurut perintah Tuhan. Pada malam
Miraj ketika Rasulullah saw. melihat di Langit Adam,
Yusuf, Musa, Harun, Isa dan Ibrahim, adalah ruh-ruh
mereka yang beliau lihat; dan kalau ruh adalah aksiden,
tentu tidak akan berdiri sendiri sedemikian rupa sehingga
bisa terlihat, karena ruh memerlukan tempat (locus) dalam
substansi-substansi, sedangkan substansi-substansi itu kasar
(katsif). Karena itu, dipastikan bahwa ruh adalah
halus dan berjasad (jasim), dan karena berjasad, maka
ia bisa dilihat; hanya saja terlihat oleh mata akal-pikiran
(chashm-i dil). Dan bisa menempati tembolok burung
atau bisa menjadi tentara yang bergerak kesana-kemari,
sebagaimana dinyatakan oleh hadis-hadis Rasul saw..
Di sinilah kita berbeda pandangan dengan kaum zindiq,
yang menyatakan bahwa ruh itu kekal-azali (qadim),
dan memujanya, dan menganggapnya sebagai agen tunggal dan
penguasa benda-benda, dan menyebutnya ruh-tak-tercipta
Tuhan, dan mempercayai bahwa ruh berpindah dari satu badan
ke badan lainnya. Tiada kekeliruan yang diterima sedemikian
luas seperti doktrin ini, yang dianut oleh orang-orang
Kristen, meskipun mereka mengungkapkannya dengan
istilah-istilah yang tampak bertentangan dengannya, dan oleh
semua orang India, Tibet, dan Cina, dan didukung oleh
kesatuan pendapat di kalangan Qaramithah dan Ismaili
(Batiniyan), dan dianut oleh dua sekte sesat
tersebut. Semua orang dari sekte-sekte ini mendasarkan
kepercayaannya pada proposisi-proposisi tertentu dan
mengajukan bukti-bukti untuk mempertahankan pernyataan
mereka. Aku menanyakan kepada mereka soal berikut:
Apakah yang engkau artikan dengan kekekalan
azali (qidam)? Apakah engkau mengartikan
pra-keberadaan sesuatu yang tidak kekal azali (tidak
qadim), atau sesuatu yang kekal-azali (qadim)
yang tidak pernah maujud? Jika mereka mengartikan
pra-keberadaan sesuatu yang tidak qadim, maka tak ada
perbedaan antara kita pada prinsipnya karena kita juga
mengatakan bahwa ruh itu tidak-qadim
(muhdats), dan bahwa ruh ada sebelum badan ada,
sebagaimana Rasul bersabda: Tuhan menciptakan ruh-ruh
dua ribu tahun sebelum badan-badan ada. Karena
itu, ruh merupakan salah satu makhluk Allah, dan Dia (Tuhan)
menggabungkannya dengan jenis lain makhluk-Nya, dan dalam
menggabungkan mereka, Dia (Tuhan) menciptakan kehidupan
lewat takdir-Nya. Tetapi, ruh tak dapat berpindah dari badan
yang satu ke badan lainnya, sebab, seperti halnya badan tak
dapat mempunyai dua kehidupan (jiwa), demikian pula ruh tak
dapat mempunyai dua badan. Jika fakta-fakta ini tidak
ditegaskan dalam hadis-hadis Rasul oleh seorang Rasul yang
berbicara dengan benar, dan jika masalah itu dipikirkan
masak-masak dari sudut pandang akal sehat, maka ruh itu
kehidupan dan bukan yang lain, dan ruh itu atribut (sifat),
bukan substansi (zat). Nah, taruhlah, pada pihak lain,
mereka mengatakan bahwa ruh adalah sesuatu yang kekal-azali
(qadim) yang tak pernah maujud. Dalam kasus ini, aku
bertanya: Adakah ruh berdiri sendiri atau berdiri
dengan sesuatu yang lain? Jika mereka mengatakan,
Mandiri, aku bertanya kepada mereka,
Apakah Tuhan itu alamnya atau bukan? Jika mereka
menjawab bahwa Tuhan bukan alamnya, mereka menguatkan
keberadaan dua wujud yang qadim, yang bertentangan
dengan akal, karena yang qadim itu tak berbatas dan
esensi satu wujud yang qadim akan membatasi yang
lainnya. Tapi jika mereka menjawab bahwa Tuhan adalah
alamnya, maka aku mengatakan bahwa Tuhan itu qadim
dan makhluk-makhluk-Nya tidak qadim. Tidak mungkin
bahwa yang qadim akan bercampur-baur dengan yang
tidak qadim atau menjadi satu dengannya, atau menjadi
imanen (terlekat) di dalamnya, atau bahwa yang tidak
qadim akan menjadi tempat bagi yang qadim atau
bahwa yang qadim akan membawanya. Karena apa saja
yang tergabung dengan sesuatu, tentulah seperti sesuatu itu
dan hanya benda-benda yang sejenis sajalah yang bisa
disatukan dan dipisahkan. Dan jika mereka mengatakan bahwa
ruh tidak berdiri sendiri, tapi berdiri melalui sesuatu yang
lain, maka ia tentu atribut (sifat) atau aksiden
(arad). Jika aksiden, ia tentu berada dalam
tempat (locus) atau tidak. Jika berada dalam tempat,
tempatnya tentu seperti dirinya dan sama sekali tidak bisa
disebut qadim; dan mengatakan bahwa ia tidak
bertempat, itu aneh, karena aksiden tidak bisa berdiri
sendiri. Dan jika mereka mengatakan bahwa ruh adalah sifat
yang qadim - dan inilah doktrin Hululiyah dan
orang-orang yang percaya kepada metem-psyschosis
(yakni perpindahan ruh dari satu badan ke badan lainnya
[tanasukhiyan]) - dan menyebutnya sifat
Tuhan, maka aku jawab bahwa sifat qadim Tuhan tidak
akan mungkin menjadi sifat makhluk-makhluk-Nya; karena, jika
kehidupan-Nya bisa menjadi kehidupan makhluk-Nya, maka tentu
kekuasaan-Nya bisa menjadi kekuasaan mereka; dan karena
sifat itu maujud melalui objeknya, bagaimana bisa sifat yang
qadim maujud melalui objek yang tidak qadim?
Maka dari itu, sebagaimana telah aku tunjukkan, yang
qadim tidak mempunyai kaitan dengan yang tidak
qadim, dan doktrin kaum zindiq yang menegaskannya
adalah sesat. Ruh itu diciptakan dan berada di bawah
perintah Tuhan (amri rabbi).10 Seseorang
yang menganut kepercayaan lain juga berbuat keliru dan tak
bisa membedakan antara yang tidak qadim dan yang
qadim. Tiada seorang wali pun, jika dia benar-benar
wali, yang tak mengenal sifat-sifat Tuhan. Aku senantiasa
memuji Tuhan yang telah melindungi kita dari
kezindiqan-kezindiqan dan bahaya-bahaya, dan telah
menganugerahi kita akal pikiran untuk menguji dan menolak
semuanya itu dengan argumen-argumen kita, dan telah memberi
kita iman agar kita bisa mengenal-Nya. Bilamana orang-orang
yang hanya melihat yang lahir mendengar kisah-kisah seperti
ini dari ahli-ahli ilmu kalam, mereka membayangkan bahwa
inilah doktrin semua orang yang mendambakan tasawuf. Mereka
mempunyai kesalahan yang besar dan sepenuhnya tertipu dan
akibatnya mereka telah buta terhadap keindahan ilmu mistik
kita dan terhadap keindahan wali Tuhan, serta terhadap
sorotan-sorotan cahaya ruhani karena Sufi-sufi terkemuka
tidak mempedulikan persetujuan umum dan celaan umum.
Salah seorang Syaikh mengatakan: Ruh dalam badan
seperti api dalam minyak. Api itu diciptakan
(makhluq) dan arang itu dibuat
(mashnu). Tidak ada yang bisa digambarkan
sebagai yang qadim kecuali esensi dan sifat-sifat
Allah. Abu Bakr Wasithi telah membahas tentang ruh lebih
daripada yang dilakukan oleh Syaikh-syaikh Sufi.
Diriwayatkan bahwa dia berkata: Ada sepuluh peringkat
(maqam) ruh: (1) ruh orang yang tulus
(mukhlish), yang dipenjara dalam kegelapan dan tidak
mengetahui apa yang akan menimpanya; (2) ruh orang saleh
(parsa-mardan), yang di langit dunia ini menikmati
hasil dari amalan-amalannya dan bersuka hati dalam ibadah;
dan oleh karenanya berjalan dengan kekuatan ibadah; (3) ruh
para murid (muridan), yang berada di langit keempat
dan tinggal bersama para malaikat dalam kenikmatan
kebenaran, dan berada dalam naungan perbuatan-perbuatan
baiknya; (4) ruh orang yang pengasih (ahl-i minan),
yang bergantung pada lampu-lampu cahaya dari Singgasana
Tuhan, dan makanannya adalah rahmat (kasih sayang), dan
minumannya adalah ridha dan kedekatan; (5) ruh orang beriman
yang taat (ahl-i wafa), yang bergetar gembira dalam
selubung kesucian dan maqam pilihan (ishthifa); (6)
ruh orang syahid, yang berada di surga dalam tembolok
burung, dan pergi ke mana saja yang disukainya di
taman-tamannya; (7) ruh orang yang rindu Ilahi
(musytaqan), yang berdiri di atas babut kehormatan
(adab) mengenakan selubung-selubung-cahaya
sifat-sifat Ilahi; (8) ruh ahli makrifat
(arif), yang, dalam lingkungan kekudusan,
mendengarkan firman-firman Tuhan pada pagi dan petang serta
melihat tempat-tempatnya di surga dan di dunia ini; (9) ruh
pencinta Tuhan (dustan), yang telah terserap dalam
merenungi keindahan Ilahi dan maqam wahyu (kasyf),
dan tidak memperhatikan sesuatu kecuali Tuhan dan tidak
merasa tenang dengan sesuatu yang lain; (10) ruh darwisy,
yang telah ridha dengan Tuhan di tempat kefanaan, dan telah
mengalami perubahan kualitas dan keadaan.
Telah diriwayatkan mengenai Syaikh-syaikh bahwa mereka
telah melihat ruh dalam berbagai bentuk dan rupa, dan ini
mungkin sekali, karena, seperti yang aku telah katakan, ruh
itu diciptakan, dan badan yang halus (jismi lathif)
tentu bisa dilihat. Tuhan memperlihatkannya kepada setiap
hamba-Nya, kapan saja dan menurut kehendak-Nya.
Aku, Ali bin Utsman Al-Jullabi, menyatakan
bahwa kehidupan kita sepenuhnya lewat Tuhan, dan kemantapan
kita lewat Tuhan, dan tetap hidupnya kita adalah tindakan
Tuhan dalam diri kita, dan kita hidup melalui cipta-Nya,
bukan melalui esensi dan sifat-sifat-Nya. Doktrin kaum
animis (ruhiyan) sepenuhnya sesat. Kepercayaan kepada
kekekalan-azali ruh adalah salah satu kekeliruan yang
membahayakan yang menguasai orang awam, dan diungkapkan
dalam berbagai cara yang berbeda, misalnya mereka
menggunakan istilah-istilah jiwa dan
materi (nafs u hayula), atau
cahaya dan kegelapan (nur u
zulmat), dan mereka yang mengaku-aku Sufi berbicara
tentang fana dan baka (fana u baqa), atau
persatuan dan keterpisahan
(jam u tafriqa), atau mengambil
ungkapan-ungkapan serupa sebagai topeng untuk menutupi
kekafiran mereka. Tetapi, Sufi-sufi sejati menolak
orang-orang zindiq ini karena Sufi-sufi sejati yakin bahwa
kewalian dan cinta sejati kepada Tuhan bergantung pada
pengetahuan tentang Dia, dan seseorang yang tidak mengetahui
antara yang qadim dari yang tidak qadim adalah
jahil dalam apa yang dia katakan, dan orang-orang pintar
(cendekiawan) tak akan menaruh perhatian kepada apa yang
dikatakan oleh orang-orang bodoh itu. Sekarang aku akan
menyingkapkan pintu-pintu praktik dan teori kaum Sufi. Aku
juga akan memaparkan bukti-bukti yang meyakinkan, supaya
engkau bisa lebih mudah memahami apa yang aku maksud, dan
supaya orang yang bimbang dan ragu yang mempunyai pandangan
batin. bisa kembali ke jalan yang benar, dan agar dengan
demikian aku bisa memperoleh hikmah (barakah) dan
pahala dari Tuhan.
Catatan Kaki:
- Untuk perbedaan antara shifat-i dzat dan
shifat-i fiil, lihat Dozy,
Supplement, ii, 810.
- Di sini pengarang melukiskan makna
persatuan dan pemisahan lewat
tindakan Muhammad ketika beliau melemparkan pasir ke mata
orang-orang kafir di Badar, dan lewat tindakan Dawud
ketika beliau membunuh Jalut (Goliath). Lihat h. 247
supra.
- Kata-kata terakhir rusak berantakan dan tak serasi
atau tak beraturan dalam semua teksnya. Saya (Nicholson)
telah mendapatkan bacaan yang sebenarnya, dalam sebuah
manuskrip (tulisan tangan) dari Kitab
Al-Luma oleh Abu Nashr As-Sarraj, yang kini
telah menjadi milik Mr. A.G. Ellis.
- Kitab Keterangan bagi Ahli lntuisi.
- Lautan Hati.
- Lihat catatan, h. 178.
- Nisba Muqaddasi atau Maqdisi termasuk penulis-penulis
Muslim. Saya tak mengerti siapa yang dimaksud di
sini.
- Lihat Naha, Nafahat, No. 178.
- Orang ini, yang oleh pengarang telah disebut pada
permulaan Bab XIII, tidak identik dengan Sufi yang sama
namanya yang sezaman dengan Junayd (Nafahat, No.
197).
- Lihat QS 17: 85 - penerjemah.
|