|
|
12. Sufi-Sufi Terkemuka Pada Masa
Mutaakhir
Ketahuilah bahwa pada zaman kita ini ada beberapa orang
yang tidak bisa menanggung beban disiplin (riyadhat)
dan mencari wewenang (riyasat) tanpa disiplin. Mereka
mengira bahwa semua Sufi itu seperti mereka sendiri dan
bilamana mereka mendengar ujaran-ujaran dari orang-orang
yang sudah meninggal dunia dan melihat keunggulan mereka
serta membaca amal-amal ibadah mereka, orang-orang pada
zaman kita ini mencobai diri mereka sendiri, dan mendapati
bahwa mereka jauh lebih rendah daripada Syaikh-syaikh masa
lalu. Mereka tidak berusaha lebih jauh meneladani mereka,
tetapi berkata: Kami tidak seperti mereka, dan tidak
ada orang seperti mereka pada zaman kita. Pernyataan
mereka sungguh aneh, karena Tuhan tidak pernah membiarkan
bumi ini tanpa bukti kebenaran (hujjat) atau umat
Muslim tanpa seorang wali, sebagaimana Rasul bersabda:
Satu golongan dari umatku akan meneruskan kebaikan dan
kebenaran sampai hari Kebangkitan. Dan juga beliau
bersabda: Akan selalu ada dalam umatku empat puluh
orang yang mempunyai sifat Ibrahim.
Beberapa orang yang akan aku sebutkan di sini di
antaranya ada yang sudah wafat, dan sebagian ada yang masih
hidup.
1. Abul Abbas Ahmad bin
Muhammad Al-Qashshab
Dia bergabung dengan Syaikh-syaikh terkemuka di
Transoxania. Dia termasyhur karena pembawaan-pembawaan
ruhaninya yang luhur, kebijaksanaannya yang sejati,
bukti-bukti, praktik-praktik asketiknya, dan
karamah-karamahnya. Abu Abdallah Khayyathi, Imam di
Tabaristan, mengatakan tentang dia: Salah satu
kemurahan Allah adalah bahwa Dia telah membuat seorang yang
tak pernah diajar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kita
tentang kesulitan yang menyangkut prinsip-prinsip keagamaan
dan seluk-beluk Tauhid. Meskipun Abul
Abbas Qashshab buta aksara (ummi), dia membahas
dengan mendalam ilmu tasawuf dan ilmu kalam (teologi). Aku
telah mendengar kisah-kisah tentangnya, namun di dalam buku
ini aku akan menuturkan secara singkat saja.
Pada suatu hari, seekor unta dengan beban yang berat,
berjalan melalui pasar di Amul. Unta itu jatuh dan kakinya
patah. Sementara pemuda yang bertanggung jawab atas unta itu
merasa sedih dan mengangkat kedua belah tangannya memohon
pertolongan Tuhan, dan orang-orang yang ada di sekitarnya
menurunkan muatan dari punggung unta itu, Syaikh pun lewat,
dan menanyakan apa yang terjadi. Dikisahkan bahwa dia
memegang tali kendali unta dan memalingkan wajahnya ke
langit dan berkata: Wahai Tuhan, utuhkanlah kembali
kaki unta ini. Jika Engkau tidak melakukan demikian, mengapa
Engkau membiarkan hatiku leleh oleh tetesan air mata seorang
pemuda? Dengan serta merta unta itu bangkit dan
berjalan.
Dinyatakan bahwa dia berkata: Semua umat manusia,
baik mereka mau ataupun tidak, mesti merujukkan persahabatan
mereka dengan Tuhan, atau mereka akan mengalami
malapetaka, karena, bilamana engkau ridha dengan Dia
dalam malapetaka, engkau hanya melihat Pencipta malapetaka
dan malapetaka itu sendiri tidak tampak; dan kalau engkau
tidak selaras dengan·Tuhan, malapetaka muncul dan
hatimu dipenuhi duka cita. Allah yang telah menentukan
keridhaan dan ketidakridhaan kita, tidak mengubah
takdir-Nya; karena itu, keridhaan kita dengan
keputusan-keputusan-Nya adalah sebagian dari kebahagiaan
kita. Kapan saja orang selaras dengan Tuhan, hati orang itu
bergembira, dan kapan saja orang berpaling dari-Nya, maka
orang itu menderita dengan datangnya takdir.
2. Abu Ali Hasan bin Muhammad
Al-Daqqaq
Dia adalah otoritas terkemuka dalam bidang (ilmu
pengetahuan)-nya dan tidak ada tandingannya di antara
tokoh-tokoh sezamannya. Dia mudah dimengerti dalam
mengungkapkan ilmu dan fasih berbicara dalam masalah yang
menyangkut penyingkapan jalan menuju Tuhan. Dia mengenal
banyak Syaikh dan bergabung dengan mereka. Dia murid
Nashrabadi1 dan pernah menjadi muballigh
(tadzkir kardi). Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Barangsiapa akrab dengan sesuatu selain Tuhan, lemah
keadaan ruhaninya, dan barangsiapa berbicara tentang sesuatu
selain Tuhan, palsu dalam pembicaraannya, karena
kedekatan dengan sesuatu selain Tuhan, timbul karena tidak
mengenal Tuhan secara memadai, dan kedekatan dengan-Nya
adalah ketidakbersahabatan dengan yang lain-lain, dan
manusia yang tidak bersahabat tentu tak akan berbicara
tentang segala yang lain.
Aku pernah mendengar seorang tua meriwayatkan bahwa pada
suatu hari dia pergi ke tempat di mana Al-Daqqaq mengadakan
pertemuan-pertemuannya, dengan maksud ingin bertanya
kepadanya mengenai keadaan orang-orang yang menyerahkan diri
kepada Tuhan (mutawakkilin). Al-Daqqaq ketika itu
memakai surban tipis yang dibuat di Tabaristan, yang orang
lanjut usia itu menginginkannya. Ia berkata kepada
Al-Daqqaq: Apakah pasrah kepada Tuhan itu?
Syaikh menjawab: Mencegah diri dari menginginkan
surban-surban orang lain. Seraya mengucapkan kata-kata
ini, dia melemparkan surbannya di depan orang yang bertanya
itu.
3. Abul Hasan bin Ahmad
Al-Khurqani
Dia seorang Syaikh besar dan dipuji oleh semua wali Allah
pada zamannya. Syaikh Abu Said biasa mengunjunginya,
dan mereka bertukar pendapat satu sama lain tentang setiap
topik pembicaraan. Ketika mau minta pamit, dia berkata
kepada Al-Khurqani: Aku memilihmu menjadi
penggantiku. Aku telah mendengar dari Hasan Muaddib,
yang menjadi pelayan Abu Said, bahwa ketika Abu
Said ada di depan Al-Khurqani, dia tidak berbicara
lain, kecuali mendengarkan dan hanya berbicara untuk
menjawab apa yang dikatakan oleh Al-Khurqani. Hasan bertanya
kepadanya mengapa, ia diam begitu saja. Dia menjawab:
Seorang juru tafsir cukup untuk satu tema
pembicaraan. Dan aku mendengar Maulawi Abul Qasim
Qusyayri berkata: Ketika aku pergi ke Khurqan,
kefasihanku berbicara hilang, dan tak lagi dapat
mengungkapkan diriku sendiri, karena rasa hormatku kepada
pembimbing ruhani itu; dan aku kira diriku telah terlepas
dari kewalianku.
Diriwayatkan bahwa dia berkata: Ada dua jalan, yang
satu salah, dan lainnya benar. Jalan yang salah adalah jalan
manusia menuju Tuhan, dan jalan yang benar adalah jalan
Tuhan kepada manusia. Barangsiapa mengatakan telah sampai
kepada Tuhan, sebenarnya tidak sampai; tetapi bilamana
seseorang mengatakan bahwa ia telah dibuat sampai kepada
Tuhan, ketahuilah bahwa ia sebenarnya telah sampai.
Ini bukanlah persoalan tentang sampai atau tidak sampai, dan
tentang keselamatan atau bukan-keselamatan, melainkan
tentang disebabkan sampai atau tidak sampai, dan tentang
keselamatan atau tidak diberi keselamatan.
4. Abu Abdallah
Muhammad bin Ali, yang Lazim Dikenal sebagai
Al-Dastani
Dia tinggal di Bistham. Dia alim dalam berbagai cabang
ilmu pengetahuan, dan menggubah pembahasan-pembahasan yang
cemerlang dan keterangan-keterangan simbolis yang sangat
halus. Dia menemukan pengganti utama dalam diri Syaikh
Sahlagi, Imam di daerah itu. Aku pernah mendengar dari
Sahlagi beberapa ungkapan keruhaniannya (anfas) yang
sangat luhur dan mengagumkan. Dia berkata, sebagai contoh:
Pengesaan (tawhid), yang datang darimu, adalah
maujud (mawjud), tetapi engkau dalam pengesaan
tidak-maujud (mafqud), yakni pengesaan,
bilamana berasal darimu, adalah tidak keliru
(durust), tetapi engkau keliru dalam pengesaan karena
engkau tidak memenuhi tuntutan-tuntutannya. Derajat yang
terendah dalam pengesaan adalah penyangkalan terhadap
kendali pribadimu atas sesuatu yang engkau miliki, dan
peneguhan terhadap penyerahan-mutlakmu kepada Tuhan dalam
segala urusanmu. Syaikh Sahlagi meriwayatkan sebagai
berikut: Pada suatu hari, belalang-belalang datang
menyerbu Bistham dalam jumlah sedemikian sehingga setiap
pepohonan dan ladang menjadi hitam karenanya. Orang-orang
berteriak minta tolong. Syaikh bertanya kepadaku:
Gerangan apa ini? Kuberitahu dia bahwa
belalang-belalang telah datang dan bahwa orang-orang merasa
sedih karenanya. Dia bangkit dan naik ke atap rumah serta
memandang ke arah langit. Tak lama kemudian
belalang-belalang itu pun mulai beterbangan. Menjelang waktu
shalat ashar, tidak ada satu belalang pun yang tertinggal,
dan tidak seorang pun kehilangan sehelai rumput.
5. Abu Said Fadhlallah bin
Muhammad Al-Mayhani
Dia adalah sultan pada zamannya, dan hiasan jalan mistik.
Semua orang sezamannya bergantung kepadanya, ada yang
melalui persepsi-persepsi mereka yang bagus, dan ada yang
melalui kepercayaan mereka yang sahih, serta ada yang
melalui pengaruh kuat perasaan-perasaan ruhani mereka. Dia
alim dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Dia mempunyai
pengalaman keagamaan yang menakjubkan dan kekuatan yang luar
biasa untuk membaca pikiran-pikiran rahasia manusia. Di
samping itu, dia mempunyai banyak kekuatan dan bukti yang
menakjubkan, yang akibat-akibatnya nyata pada saat ini.
Dulunya dia hidup di Mihna (Mayhana) dan datang ke Sarakhs
guna belajar. Dirinya merasa tertarik kepada Abu Ali
Zahir, yang darinya ia belajar dalam satu hari sebanyak tiga
mata kuliah, dan ia biasa menggunakan waktunya yang lain
dalam ibadah. Wali di Sarakhs pada saat itu adalah Abul
Fadhl Hasan. Suatu hari, ketika Abu Said sedang
berjalan di tepi sungai Sarakhs, Abul Fadhl bertemu
dengannya dan mengatakan: Jalanmu bukanlah yang sedang
kau lalui; ambillah jalanmu sendiri. Syaikh itu tidak
menggabungkan diri dengannya, tetapi kembali ke kota
kelahirannya dan hidup zuhud sehingga Tuhan membukakan
baginya pintu petunjuk dan mengangkatnya ke peringkat
tertinggi. Aku mendengar kisah berikut dari Syaikh Abu
Muslim Farisi: Aku selalu, dia mengatakan,
tidak akur dengan Syaikh itu. Suatu ketika, aku pergi
mengunjunginya. Jubah tambalanku begitu kotor sehingga
seperti kulit. Ketika aku menghadapnya, kujumpai dia duduk
di balai-balai mengenakan jubah yang terbuat dari kain linen
Mesir. Aku berkata kepada diriku sendiri: Orang ini
mengaku menjadi darwisy (faqir) dengan segala hal
duniawi (alaiq), sementara aku mengaku
darwisy dengan segala keterlepasan dari dunia ini
(tajrid). Bagaimana aku bisa sepakat dengan orang
ini? Dia membaca pikiranku, dan mendongakkan kepalanya
seraya berseru: Wahai Abu Muslim, dalam diwan, apa
engkau telah temukan bahwa nama darwisy digunakan untuk
seseorang yang hatinya hidup dalam kontemplasi
(musyahadah) kepada Tuhan? yakni orang-orang
yang bertafakur tentang Tuhan adalah kaya dalam Tuhan,
sementara darwisy-darwisy (fuqara) sibuk dengan
penundukan hawa nafsu (mujahadat). Aku bertobat dari
kebanggaanku dan memohon kepada Tuhan untuk mengampuni
kesalahanku karena pikiran orang tidak pantas itu.
Dan diriwayatkan bahwa dia berkata: Tasawuf adalah
kelanggengan hati bersama Tuhan tanpa perantara. Ini
menunjuk kepada kontemplasi (musyahadat), yang
merupakan kekerasan cinta, dan terisapnya sifat-sifat
manusiawi dalam merealisasikan penglihatan akan Tuhan, dan
pelenyapan mereka oleh kelanggengan Tuhan. Aku akan
membicarakan sifat musyahadat ini dalam bab yang membahas
tentang haji.
Pada suatu kesempatan, Abu Said bertolak dari
Nisyapur menuju Thus. Sewaktu dia melalui ngarai, kakinya
terasa kedinginan. Seorang darwisy yang menyertainya
mengatakan: Terpikir olehku untuk menyobek celanaku
(futha) menjadi dua bagian guna membalut kakinya; tetapi aku
tak mampu berbuat demikian, karena futha-ku sangat bagus.
Ketika kami sampai di Thus, aku mengikuti pertemuannya dan
minta kepadanya untuk menerangkan perbedaan antara
bisikan-bisikan setan (waswas) dan inspirasi Tuhan
(ilham). Dia menjawab: Adalah ilham Tuhan yang
mendesakmu untuk menyobek futha-mu menjadi dua bagian guna
menghangatkan kakiku; dan merupakan bisikan setan yang
mengelabuimu dari berbuat demikian. Dia
menunjukkan serangkaian keajaiban semacam ini yang juga
dibuat oleh para ahli keruhanian.
6. Abul Fadhl Muhammad bin
Al-Hasan Al-Khuttali
Dia adalah guru yang kuikuti dalam tasawuf. Dia alim
dalam ilmu tafsir Al-Quran dan hadis-hadis (riwayat). Dalam
tasawuf dia menganut doktrin Junayd. Dia adalah murid
Hushri2 dan sahabat Sirawani, dan sezaman dengan
Abu Amr Qazwini dan Abul Hasan bin Saliba. Dia
menggunakan waktunya enam puluh tahun untuk mengasingkan
diri dari dunia ramai, sebagian besar di gunung Lukam. Dia
memperlihatkan banyak tanda dan bukti (kewalian), tetapi dia
tidak memakai jubah atau mengambil gaya-gaya lahiriah para
Sufi, dan dia biasa bersikap keras terhadap kaum formalis
(zhahiriyah). Aku tidak pernah melihat seorang pun yang
lebih menakjubkan diriku selain dia. Diriwayatkan bahwa dia
berkata: Dunia cuma sehari saja, tempat di mana kita
berpuasa, yakni, kita tidak mendapatkan sesuatu
darinya, dan kita tidak disibukkan dengannya, karena kita
telah memahami kerusakannya dan tabir-tabir
penghalang-nya dan kita telah berpaling darinya. Suatu
ketika aku menuangkan air di kedua belah tangannya agar dia
bisa membersihkan dirinya. Terpikir olehku: Oleh
karena setiap sesuatu sudah ditakdirkan, mengapa orang-orang
yang merdeka mesti membuat diri mereka budak-budak dari
pembimbing-pembimbing ruhani dengan harapan mempunyai
karamah yang dianugerahkan kepada mereka? Syaikh itu
berkata: Wahai anakku, aku tahu apa yang sedang kau
pikirkan. Yakinlah bahwa ada suatu sebab bagi setiap
ketentuan Tuhan. Apabila Tuhan hendak menganugerahkan
mahkota dan kerajaan kepada anak penjaga pintu istana
(awan-bacha), Dia memberinya ampunan dan
menggunakannya untuk melayani salah seorang sahabat-Nya,
agar dengan demikian pelayanan ini bisa menjadi sarana
baginya untuk mendapatkan karamah. Banyak ujaran luhur
semacam itu yang ia ungkapkan kepadaku setiap hari. Dia
wafat di Bayt Al-Jinn, sebuah desa yang terletak pada puncak
sebuah gunung, terentang antara Baniyas3 dan
sebuah sungai di Damaskus. Sewaktu terbaring di ranjangnya,
kepalanya menyandar di dadaku (dan pada saat itu aku merasa
sedih, sebagaimana orang-orang merasakannya selalu, oleh
tingkah laku seorang sahabatku), dia berkata kepadaku:
Wahai anakku, aku akan memberitahukan kepadamu satu
rukun iman yang, bilamana engkau pegang teguh, akan
membebaskanmu dari semua duka cita. Apa saja yang baik atau
buruk yang Tuhan ciptakan, janganlah di tempat apa pun atau
keadaan apa pun engkau melawan tindakan Tuhan atau berdurja
dalam hatimu. Itulah amanat yang dia berikan kepadaku,
dan akhirnya dia pun wafat.
7. Abul Qasim Abdul Karim bin
Hawazin Al-Qusyayri
Pada zamannya dia seorang yang luar biasa. Peringkatnya
dan kedudukannya tinggi dan kehidupan ruhani serta
kebajikan-kebajikannya termasyhur pada masa kini.
Ujaran-ujarannya luhur dan karya-karyanya tinggi mutunya,
semuanya bernafaskan teosofis, dan dalam setiap cabang ilmu
pengetahuan. Tuhan menyelamatkan perasaan-perasaan dan
mulutnya dari antropomorfisme (hasyw). Aku pernah
mendengar dia berkata: Sufi itu seperti (orang yang
terkena) penyakit yang disebut birsam, yang diawali dengan
meracau, dan akhirnya tenang; sebab bilamana engkau telah
mencapai kepastian, engkau bisu. Tasawuf
(shafwat) mempunyai dua sisi: ekstasi (wajd)
dan penglihatan batin (numud). Numud merupakan milik para
pemula tasawuf dan ungkapan numud semacam itu berupa
peracauan (hadzayan). Ekstasi merupakan milik
orang-orang yang sudah sampai pada tujuan (ahli keruhanian),
dan ungkapan ekstasi, sementara ekstasi berjalan terus,
tidaklah mungkin. Sepanjang mereka hanya pencari-pencari,
mereka mengungkapkan aspirasi-aspirasi yang luhur, yang
nampak seperti peracauan bahkan bagi orang-orang yang
mempunyai aspirasi (ahl-i-himmat); tetapi bilamana
mereka telah mencapai, mereka diam, dan tidak lagi
mengungkapkan sesuatu baik dengan kata-kata maupun dengan
isyarat. Karena Musa seorang pemula (mubtadi),
keinginannya hanyalah melihat Tuhan; dia mengungkapkan
keinginannya dan berkata, Wahai Tuhan, tunjukkan
kepadaku agar aku bisa melihat-Mu (QS 7:143).
Ungkapan keinginan yang tidak tercapai ini nampak seperti
meracau. Namun, Rasul kita adalah seorang yang telah sampai
(muntahi) dan mantap dalam kedudukannya
(mutamakkin). Bilamana diri beliau sampai pada maqam
keinginan, keinginannya sirna, dan beliau berkata, Aku
tak bisa memuji-Mu secara memadai.
8. Abul Abbas Ahmad bin
Muhammad Al-Asyqani
Dia adalah seorang Imam dalam setiap cabang ilmu-ilmu
pokok dan turunan, dan sempurna dalam semua segi. Dia telah
menjumpai sejumlah besar Sufi terkemuka. Doktrinnya
didasarkan atas pelenyapan (fana), dan
cara pengungkapannya yang sulit dipahami adalah khas
miliknya; tetapi aku pernah melihat beberapa orang bodoh
yang menirunya dan mengambil ungkapan-ungkapan ekstatiknya
(syathha). Tidaklah terpuji meniru sebuah makna
ruhani; kemudian, perhatikan, betapa salahnya meniru
ungkapan semata-mata! Aku sangat akrab dengannya, dan dia
benar-benar sayang kepadaku. Dia adalah guruku dalam
beberapa ilmu pengetahuan. Selama hidupku tak pernah kulihat
seseorang, dari mazhab mana pun, yang lebih memegang teguh
hukum agama kecuali dia. Dia telah terbebas dari semua
benda-benda ciptaan; dan cuma seorang Imam yang mempunyai
pandangan batin yang dalam sajalah yang bisa menurunkan
ajaran dari dia, dikarenakan sulitnya penjelasan-penjelasan
teologisnya. Dia senantiasa muak terhadap dunia ini dan
akhirat, dan kerap kali berseru: Asytahi adaman la
wujud lahu (Aku merindukan non-eksistensi yang tidak
mempunyai eksistensi). Dan dia biasa mengatakan dalam bahasa
Persia: Setiap orang mempunyai keinginan yang tidak
mungkin bisa dicapai, dan aku juga mempunyai keinginan yang
tidak mungkin bisa dicapai, yang sebenarnya aku tahu tidak
pernah akan bisa direalisasikan, yakni, agar Tuhan membawaku
ke non-eksistensi yang tidak akan pernah kembali ke
eksistensi. Dia menginginkannya karena maqam-maqam dan
karamah adalah pusat penabiran (yakni, mereka menabiri
manusia dari Tuhan). Manusia jatuh cinta dengan apa yang
menabirinya. Ketidakmaujudan dalam keinginan akan visi, itu
lebih baik daripada bersukacita dalam tabir. Karena Tuhan
adalah suatu Wujud yang tidak tunduk kepada ketiadaan, maka
kehilangan apa yang akan diderita kerajaan-Nya jika aku
menjadi ketakmaujudan yang tidak akan pernah maujud. Inilah
suatu prinsip yang kuat dalam suatu pelenyapan sejati.
9. Abul Qasim bin Ali bin
Abdallah Al-Gurgani
(Semoga Allah memperpanjang hidupnya demi kebahagiaan
kami dan semua kaum Muslim)
Pada zamannya dia adalah satu-satunya dan tidak ada
tandingannya. Permulaan kehidupan kesufiannya
(ibtida) sangat terpuji dan kuat, dan
perjalanan-perjalanan kesufiannya dilakukan dengan
melaksanakan dengan saksama hukum suci (Syariat). Pada
saat itu kalbu-kalbu semua pemula jalan tasawuf (ahli-i
dargah) berpaling kepadanya, dan semua pencari
(thaliban) sangat mempercayainya. Dia mempunyai kekuatan
yang mengagumkan dalam mengungkapkan pengalaman-pengalaman
batin para pemula (kasyfi waqia-i muridan), dan
dia alim dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Semua
muridnya adalah hiasan-hiasan masyarakat di mana mereka
berada. Insya Allah, dia akan mempunyai seorang pengganti
yang piawai, yang wewenangnya diakui seluruh Sufi, yakni Abu
Ali Al-Fadhl bin Muhammad Al-Farmadzi (semoga Tuhan
memperpanjang hari-harinya),4 yang tidak pernah
lalai memenuhi tugas kewajibannya terhadap gurunya, dan
telah meninggalkan semua benda duniawi, dan melalui berkah
dari (penyangkalan) itu dia telah dibuat oleh Tuhan sebagai
corong ruhani (zaban-i hai).
Suatu hari aku duduk bersama Syaikh dan mengutarakan
kepadanya pengalaman-pengalaman dan penglihatan-penglihatan
ruhaniku agar dia bisa mengujinya, karena dia mempunyai
kemahiran yang tidak tertandingi dalam bidang ini. Dia
mendengarkan baik-baik apa yang aku katakan. Aliran darah
dan semangat muda membuatku ingin menceritakan semua masalah
itu, dan terpikir olehku bahwa barangkali Syaikh, dalam masa
permulaan kesufiannya, tidak menikmati pengalaman-pengalaman
semacam itu, atau dia tidak akan memperlihatkan kerendahan
hati sedemikian rupa kepadaku dan keinginan sedemikian rupa
untuk bertanya mengenai keadaan ruhaniku. Syaikh menangkap
apa yang sedang kupikirkan. Sahabatku yang baik,
katanya, engkau harus tahu bahwa kerendahan hatiku
bukan karena kamu atau pengalaman-pengalamanmu, melainkan
diperlihatkan kepada-Nya yang membuat pengalaman-pengalaman
itu berlangsung. Hal itu semua bukanlah khusus bagi dirimu,
melainkan umum bagi semua pencari Tuhan. Pada saat
mendengar yang ia katakan ini, aku sepenuhnya tersentak. Ia
melihat kekacauanku dan berkata: Wahai putraku,
manusia tidak mempunyai kaitan lebih jauh dengan jalan ini
kecuali bahwa, bilamana dia telah terikat kepadanya, dia
membayangkan bahwa dia telah menemukannya, dan bilamana dia
terlepas darinya dia membusanai imajinasinya dengan
kata-kata. Oleh karena itu, penyangkalannya dan
pengukuhannya, ketidak-beradaannya dan keberadaannya adalah
imajinasi semata-mata. Manusia tak pernah bebas dari penjara
imajinasi. Hal ini membuatnya seperti seorang budak yang
berada di pintu, dan menyingkirkan dari dirinya setiap
hubungan (nisbat) kecuali hubungan manusiawi dan
ketaatan. Setelah itu, aku banyak berbicara keruhanian
dengannya, tetapi jika aku hendak memaparkan
kekuatan-kekuatannya yang luar biasa, serta merta aku tak
mampu.
10. Abu Ahmad
Al-Muzhaffar bin Ahmad bin Hamdan
Selagi dia duduk di singgasana otoritas (riyasat),
Tuhan membukakan baginya pintu rahasia ini (tasawuf)
dan memberikan kepadanya mahkota karamah. Dia berbicara
dengan fasih dan dalam tentang kefanaan dan kebakaan
(fana u baqa). Syaikh agung, Abu Said, berkata:
Aku diantar ke istana Ilahi melalui penghambaan
(bandagi), tetapi Khwaja Muzhaffar dipandu ke sana
melalui kepangeranan dan kekuasaan (khwajagi),
yakni, Aku mencapai kontemplasi (musyahadat)
dengan sarana kezuhudan (mujahadat), sementara dia
bertolak dari musyahadat menuju mujahadat. Aku
pernah mendengar dia berkata: Apa yang para mistikus
besar temukan dengan melintasi padang pasir dan hutan
belantara, aku mendapatkannya di singgasana kekuasaan dan
keutamaan (balish u sadr). Beberapa orang jahil
dan yang berbangga diri telah menganggap kata-katanya ini
sebagai kesombongan, tetapi sama sekali bukanlah kesombongan
kalau menyatakan keadaan sebenarnya, terutama kalau sang
pembicara adalah seorang ahli ruhani (spiritualis). Pada
masa kini, Muzhaffar mempunyai seorang pengganti utama dan
terhormat dalam diri Khwaja Ahmad. Suatu hari, ketika aku
sedang bersamanya, seorang pembohong dari Nisyapur
menggunakan ungkapan: Ia menjadi fana dan kemudian
menjadi baka. Khwaja Muzhaffar berkata:
Bagaimana bisa kebakaan menjadi predikat kefanaan?
Kefanaan berarti tidak ada, sementara kebakaan
menunjuk kepada ada: masing-masing istilah
menyangkal yang lainnya. Kita tahu apa kefanaan itu, tetapi
bilamana itu bukan kefanaan, jika itu menjadi
ada, identitasnya (ayn) hilang.
Esensi tak dapat lenyap. Namun, atribut (sifat) bisa
dilenyapkan, dan dengan demikian bisa menjadi sebab kedua.
Oleh karena itu, bilamana sifat dan sebab kedua dilenyapkan,
Objek yang memiliki sifat-sifat dan Pencipta sebab-sebab
kedua terus-menerus baka: Esensi-Nya tidak mengenal
pelenyapan. Aku tidak ingat kata-katanya yang persis
yang dipakai Muzhaffar untuk mengungkapkan pengertiannya,
tapi ini merupakan maksud kata-katanya yang bisa ditangkap.
Sekarang aku akan menerangkan lebih jelas lagi apa yang ia
maksudkan, supaya bisa dimengerti secara lebih umum.
Kehendak manusia (ikhtiyar) adalah suatu sifat dalam
dirinya, dan ia ditabiri oleh kehendaknya dari kehendak
Tuhan. Oleh sebab itu, sifat-sifat manusia menabirinya dari
Tuhan. Kehendak Ilahi itu qadim (eternal) dan kehendak
manusia hawadits (fenomenal), dan yang qadim tak bisa
dilenyapkan. Bilamana kehendak Ilahi dalam kaitannya dengan
manusia menjadi baka (baqa yabad), kehendaknya
dilenyapkan, dan inisiatif pribadinya lenyap. Namun Tuhanlah
yang paling mengetahui.
Suatu hari aku menghadapnya, ketika cuaca sangat panas
sekali, dengan memakai baju musafir dan dengan rambutku yang
awut-awutan. Dia berkata kepadaku: Beritahukan
kepadaku apa yang kau inginkan pada saat ini. Aku
menjawab bahwa aku ingin mendengarkan musik
(sama). Dia langsung mendatangkan seorang
penyanyi (qawwal) dan sejumlah musisi. Dasar anak
muda yang penuh hasrat serta semangat yang menggebu-gebu
sebagai seorang pemula (murid), aku menjadi tenggelam
sedalam-dalamnya dalam perasaanku ketika alunan musik
menyentuh telingaku. Sesudah beberapa lama, ketika
perasaanku mereda, dia menanyakan kepadaku apakah aku
menyukainya. Aku berkata kepadanya bahwa aku sangat
menikmatinya. Dia menjawab: Akan datang suatu ketika
musik bagimu tidak lebih daripada sekadar pekik seekor
burung gagak. Pengaruh musik hanya berlangsung selama tidak
ada kontemplasi (musyahadat), dan begitu
berkontemplasi, musik tidak lagi punya kekuatan. Jagalah
dirimu supaya tidak terbiasa dengan ini (musik) supaya ini
tidak menjadi bagian dari tabiatmu dan memalingkan dirimu
dari hal-hal yang lebih tinggi.
Catatan Kaki:
- Lihat Bab XI, No. 63.
- Lihat Bab XI, No. 64.
- L. Baniyah, IJ. Maniyan.
- Nafahat, No. 428.
|