|
|
11. PARA IMAM DARI GENERASI SESUDAH
TABIIN
51. Abu Muhammad Ahmad bin
Al-Husayn Al-Jurayri
Dia sahabat karib Junayd, dan juga bersahabat dengan Sahl
bin Abdallah. Alim dalam setiap cabang ilmu dan Imam
pada zamannya dalam bidang fiqih, di samping alim dalam ilmu
kalam. Tingkatannya dalam tasawuf sedemikian rupa sehingga
Junayd berkata kepadanya: Ajarilah murid-muridku
disiplin dan latihlah diri mereka! Dia menggantikan
kedudukan Junayd. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Keteguhan iman dan kelanggengan agama dan kesehatan
tubuh bergantung pada tiga keadaan: kepuasan
(iktifa), ketakwaan (ittiqa), dan
keberpantangan (ihtima). Jika seseorang ridha dengan
Tuhan, hati nuraninya menjadi baik; dan jika seseorang
menjauhkan dirinya dari apa yang telah Tuhan larang,
wataknya menjadi lurus; dan jika seseorang berpantang dari
apa yang tidak disetujuinya, tubuhnya akan sehat. Buah dari
keridhaan adalah pengetahuan murni tentang Tuhan, dan buah
dari ketakwaan adalah keluhuran akhlak, dan tujuan
berpantang adalah keseimbangan tubuh. Rasul bersabda,
Dia yang banyak bersembahyang di malam hari, wajahnya
ceria di siang hari, dan beliau juga bersabda bahwa
orang-orang yang bertakwa akan muncul di Hari Kebangkitan
dengan wajah-wajah cemerlang bermahkotakan
cahaya.
52. Abul Abbas Ahmad bin
Muhammad bin Sahl Al-Amuli
Dia selalu dihormati oleh orang-orang sezamannya. Alim
dalam ilmu-ilmu kritik dan tafsir Al-Quran, dan menerangkan
kemusykilan-kemusykilan Al-Quran dengan gamblang dan dengan
pandangan tajam yang khas dirinya. Murid terkemuka Junayd
dan bersahabat dengan Ibrahim Maristani. Abu Said
Kharraz sangat menghormatinya, dan biasa menyatakan bahwa
tidak ada seorang pun yang pantas disebut Sufi kecuali dia.
Diriwayatkan bahwa dia berkata: Terlena dalam
kebiasaan-kebiasaan alamiah mencegah seseorang dari
menjangkau derajat-derajat ruhani yang terpuji, karena
kecenderungan-kecenderungan alamiah adalah alat-alat dan
organ-organ sisi hawa nafsu (nafs), yang merupakan
pusat tabir (hijab), sedangkan sisi
ruhani (haqiqat) merupakan pusat wahyu.
Kecenderungan-kecenderungan alamiah terikat pada dua hal:
pertama, pada dunia ini dan hiasan-hiasannya, dan kedua,
pada akhirat dan keadaan-keadaannya; pada yang pertama
disebabkan oleh homogenitas, dan pada yang terakhir melalui
imajinasi dan disebabkan oleh heterogenitas dan tidak adanya
intuisi. Karena itu, mereka terikat pada pengertian tentang
akhirat, bukan pada gagasannya yang hakiki, sebab jika
mereka benar-benar mengetahuinya, mereka akan memutuskan
hubungannya dengan dunia ini, dan kemudian alam
(nature) akan kehilangan semua kekuatannya, dan
segala yang spiritual akan terungkap. Tidak mungkin ada
keselarasan antara akhirat dan kodrat manusia hingga yang
terakhir lenyap, sebab akhirat adalah sesuatu yang tak
pernah dipahami hati. Nilai (khathar) akhirat
terletak dalam kenyataan bahwa jalan menuju akhirat penuh
dengan bahaya (khathar). Sesuatu yang dipikirkan
(khawatir), nilainya kecil; dan karena imajinasi tak mampu
mengenal realitas akhirat, maka bagaimana bisa kodrat
manusia mengenal baik gagasan hakiki (ayn)
tentangnya? Tentunya kemampuan-kemampuan alamiah kita bisa
mengenal hanya pengertian tentang akhirat.
53. Abul Mughits Al-Husayn bin
Manshur Al-Hallaj
Dia seorang ahli ibadah yang cintanya menyala-nyala dan
sangat mabuk akan tasawuf. Dia mempunyai ekstasi yang kuat
dan semangat yang tinggi. Syaikh-syaikh Sufi berbeda
pandangan mengenai dia. Sebagian menolaknya, sementara yang
lain menerimanya. Di antara golongan yang terakhir ialah
Amr bin Utsman Al-Makki, Abu Yaqub
Nahrajuri, Abu Yaqub Aqtha, Ali bin Sahl
Ishfahani, dan lain-lain. Lebih-lebih lagi, dia diterima
oleh Ibnu atha, Muhammad bin Khafif, Abul Qasim
Nashrabadi, dan segenap Sufi terkemudian. Yang lainnya
menangguhkan keputusan mereka mengenai dia, misalnya Junayd,
Syibli, Jurayri dan Hushri. Sebagian menuduhnya sebagai
tukang sihir dan hal-hal yang berkaitan dengan hal itu;
namun, pada masa kita ini Syaikh Agung Abu Said bin
Abil Khayr dan Syaikh Abul Qasim Jurjani dan Syaikh Abul
Abbas Syaqani memandangnya dengan sikap hormat dan
rasa senang, dan dalam pandangan mereka dia adalah seorang
tokoh besar. Maulwi Abul Qasim Qusyayri berkata bahwa jika
Al-Hallaj adalah seorang ahli ruhani yang murni, dia tidak
akan dilarang karena kutukan umum, dan jika dia ditolak oleh
tasawuf dan disangkal oleh Kebenaran, dia tentu tidak dapat
diterima walaupun umum menerimanya. Karena itu kita serahkan
dia kepada keputusan Tuhan, dan menghormatinya menurut
tanda-tanda Kebenaran yang telah kita jumpai ada padanya.
Tetapi dari semua Syaikh ini hanya beberapa yang menolak
kesempurnaan bidang keahliannya dan kemurnian ihwal
keruhaniannya serta kekayaan praktik-praktik kezuhudannya.
Adalah suatu tindakan yang tidak jujur bila menghapus
riwayat hidupnya dari buku ini. Beberapa orang menyatakan
tindakan lahiriahnya sebagai tindakan seorang kafir, dan
tidak mempercayainya dan mencapnya tukang tipu dan tukang
sihir, serta menganggap bahwa Husayn bin Manshur Al-Hallaj
ahli bidah dari Baghdad yang menjadi guru pembimbing
Muhammad bin Zakariyya1 dan sahabat Abu
Said Karmatsi; tetapi, Husayn ini, yang wataknya masih
diperdebatkan, adalah seorang Persia dan kelahiran Baydha,
dan ditolaknya dia oleh Syaikh-syaikh disebabkan bukan
karena serangan terhadap agama dan doktrin, melainkan karena
perilaku dan tindakannya. Semula dia adalah murid Sahl bin
Abdallah, yang dia tinggalkan, tanpa pamit, dengan
maksud menggabungkan dirinya dengan Amr bin
Utsman Makki. Kemudian dia tinggalkan Amr bin
Utsman, lagi-lagi tanpa pamit, untuk bergabung dengan
Junayd, tetapi Junayd tak sudi menerimanya. Inilah alasan
mengapa dia dilarang oleh semua Syaikh. Nah, orang yang
dilarang atas dasar perilakunya, tidak dilarang atas dasar
prinsip-prinsipnya. Apakah engkau tidak mengerti bahwa
Syibli berkata: Al-Hallaj dan aku memiliki kepercayaan
yang sama, tapi kegilaanku menyelamatkan diriku, sedangkan
kecerdasannya telah menghancurkan dirinya? Seandainya
agamanya dicurigai, tentu Syibli tak akan berkata:
Al-Hallaj dan aku memiliki kepercayaan yang
sama. Dan Muhammad bin Khafif berkata: Dia
adalah seorang alim ketuhanan
(alim-i·rabbani). Al-Hallaj menyusun
karangan-karangan dan kiasan-kiasan yang cemerlang serta
ujaran-ujaran yang bagus mengenai ilmu kalam dan fiqih. Aku
pernah melihat lima puluh karyanya di Baghdad dan di
daerah-daerah sekitarnya dan sebagian di Khuzistan dan Fars
dan Khurasan. Semua ujarannya adalah seperti
pandangan-pandangan pertama dari pemula-pemula jalan
tasawuf; sebagiannya ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang
mudah ditangkap, sebagian lagi tidak pantas. Bilamana Tuhan
menganugerahkan suatu pandangan batin kepada seseorang, dan
dia berusaha melukiskan apa yang dia lihat dengan kekuatan
ekstasi dan bantuan rahmat Ilahi, kata-katanya sulit
dimengerti, terutama jika dia mengungkapkan dirinya sendiri
dengan terburu-buru dan menakjubi diri: kemudian, kata-kata
itu lebih menjijikkan bagi imajinasi-imajinasi dan tak
terpahami oleh pikiran-pikiran pendengarnya, dan kemudian
orang berkata, Inilah ungkapan-ungkapan yang
luhur, baik mempercayainya maupun tidak, tapi
sama-sama tidak mengerti maknanya apakah mereka mempercayai
atau mengingkari. Di pihak lain, bilamana orang-orang yang
memiliki keruhanian yang hakiki dan pengertian mempunyai
pandangan-pandangan batin, mereka tak berupaya melukiskannya
dan tidak memuji-muji dirinya karena hai itu, dan tidak
mempedulikan pujian maupun celaan, serta tidak merasa
terganggu karena disangkal dan karena dipercaya.
Sungguh aneh sekali mencap Al-Hallaj sebagai tukang
sihir. Menurut prinsip-prinsip Islam, sihir itu benar-benar
ada, sebagaimana mukjizat-mukjizat juga ada; namun,
perwujudan sihir dalam keadaan sempurna adalah kekafiran,
sedangkan perwujudan mukjizat-mukjizat dalam keadaan
sempurna adalah pengetahuan tentang Allah (marifat),
karena yang pertama merupakan akibat kemurkaan Tuhan,
sementara yang kedua adalah akibat dari keridhaan-Nya. Aku
akan menerangkannya lebih lengkap pada bab tentang
pembenaran mukjizat-mukjizat. Berdasarkan kesepakatan kaum
Sunni yang memiliki ketajaman pandangan, tiada seorang
Muslim pun yang bisa menjadi tukang sihir dan tiada seorang
kafir pun yang dapat dihormati, karena hal-hal yang
bertentangan tak pernah bertemu. Husayn, sepanjang hidupnya,
memakai jubah ketakwaan, senantiasa menegakkan shalat dan
berzikir memuji Tuhan dan berpuasa terus-menerus serta
menyampaikan ujaran-ujaran yang tinggi dan bagus tentang
Tauhid. Jika tindakan-tindakannya bersifat magis atau berbau
sihir, semuanya ini tentu tak mungkin maujud darinya.
Akibatnya, tindakan-tindakannya tentulah merupakan
mukjizat-mukjizat, dan mukjizat-mukjizat hanya dianugerahkan
kepada seorang wali sejati. Sementara ahli-ahli ilmu kalam
menolaknya atas dasar bahwa kata-katanya bernafaskan
panteistik, namun apa yang dituduhkan itu cuma terletak pada
ungkapan, bukan pada maknanya. Seseorang yang dikuasai oleh
kegairahan akan Tuhan tak punya kekuatan untuk mengungkapkan
dirinya sendiri secara memadai; di samping itu, makna
ungkapannya mungkin sulit untuk dipahami, sehingga
orang-orang salah memahami maksud penulis, dan menyangkal,
bukan makna hakiki yang dimaksud oleh dia, melainkan
pengertian yang mereka bentuk sendiri. Aku telah melihat di
Baghdad dan di daerah-daerah tetangganya sejumlah kaum
zindiq yang berlagak menjadi pengikut-pengikut Al-Hallaj dan
membuat ujaran-ujarannya sebagai hujah bagi kezindiqan
mereka dan menyebut diri mereka kaum Hallaji. Mereka
berbicara tentang dia secara berlebihan (ghuluw) sama
seperti yang dilakukan kaum Rafidhi terhadap Khalifah
Ali. Aku akan membantah doktrin-doktrin mereka pada
bab mengenai berbagai aliran Sufi. Kesimpulannya, perlu
diketahui bahwa ujaran-ujaran Al-Hallaj jangan diambil
sebagai model karena dia adalah seorang ekstatis, belum
kukuh (mutamakkin), dan orang perlu kukuh sebelum
ujaran-ujarannya dapat dipandang otoritatif. Maka dari itu,
meskipun dia sangat penting di hatiku, namun
jalan-nya tidak dibangun dengan kuat di atas
prinsip apa pun, dan ihwalnya belum mantap pada posisi apa
pun, dan pengalaman-pengalamannya umumnya masih berbaur
dengan kesalahan. Ketika penglihatanku akan kebenaran mulai
muncul, aku menarik banyak dukungan dari dia, yaitu berupa
bukti-bukti (barahin). Sebelumnya aku telah menyusun
sebuah buku yang menerangkan ujaran-ujarannya dan
menampilkan kecanggihan ujaran-ujarannya dengan bukti-bukti
dan hujah-hujah. Lebih jauh dari itu, dalam karya yang lain,
yang berjudul Minhaj, aku telah menguraikan kehidupannya
dari awal hingga akhir; dan di sini kini telah kupaparkan
sedikit banyak tentang dia. Bagaimana bisa sebuah doktrin
yang prinsip-prinsipnya perlu diperkuat dengan begitu banyak
kehati-hatian diikuti dan ditiru? Kebenaran dan angan-angan
kosong tak pernah bersepakat. Dia terus-menerus berupaya
berpegang pada teori tertentu yang keliru. Diriwayatkan
bahwa dia berkata: Al-alsinat mustanthiqat tahta nuthqiha
mustahlikat2 (membuka mulut berarti kehancuran
kalbu-kalbu yang tenang). Ungkapan-ungkapan yang demikian
sepenuhnya kacau balau. Pengungkapan makna realitas adalah
sia-sia. Jika makna ada, ia tidak hilang dengan
pengungkapan, dan jika makna tidak ada, ia tidaklah ada oleh
pengungkapan. Pengungkapan hanya menghasilkan pengertian
yang tidak hakiki dan membawa pelajar ke lembah kesesatan
karena menyebabkan dia membayangkan bahwa ungkapan itu
merupakan makna yang hakiki.
54. Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad
Al-Khawwash
Dia telah mencapai derajat yang tinggi dalam doktrin
tentang penyerahan diri kepada Tuhan (tawakkal). Dia
berjumpa dengan banyak Syaikh; dan banyak tanda serta
karamah dianugerahkan kepadanya. Dia menulis karya-karya
yang bagus mengenai etika tasawuf. Diriwayatkan bahwa dia
berkata: Semua pengetahuan terpadatkan dalam dua
kalimat: jangan menyusahkan dirimu dengan sesuatu yang
dilakukan bagimu, dan jangan menyia-nyiakan sesuatu yang
harus kau perbuat bagi dirimu, yakni, jangan
menyusahkan dirimu dengan takdir, karena apa yang sudah
ditakdirkan dari kekekalan tak akan berubah oleh
usaha-usahamu, dan jangan menyia-nyiakan perintah-Nya, sebab
engkau akan dihukum jika engkau menyia-nyiakannya. Dia
ditanya keajaiban-keajaiban apa yang telah dia lihat.
Banyak, jawabnya, tetapi yang paling
menakjubkan ialah bahwa Rasul Khidhr memintaku untuk
merelakan dia bersahabat denganku, dan aku menolak. Bukan
aku tidak menginginkan seorang sahabat yang sangat baik,
tetapi aku khawatir jangan-jangan aku akan bergantung
padanya, bukannya pada Tuhan, dan jangan-jangan tawakalku
kepada Tuhan akan berkurang karena bersahabat dengannya, dan
akibatnya aku melakukan pekerjaan sunnah dan tidak
melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadaku.
Inilah derajat kesempurnaan.
55. Abu Hamzah
Al-Baghdadi Al-Bazzaz
Dia adalah salah seorang Sufi ahli teologi skolastik
(mutakallimin). Murid Harits Muhasibi dan bersahabat
dengan Sari dan sezaman dengan Nuri dan Khayr Nassaj. Dia
biasa berkhutbah di masjid Rushafah di Baghdad. Dia alim
dalam tafsir Al-Quran dan meriwayatkan hadis-hadis Rasul
dari sumber tepercaya. Dia sedang bersama Nuri ketika yang
terakhir ini diperlakukan dengan tidak semestinya dan ketika
Tuhan menyelamatkan Sufi-sufi dari maut. Aku akan menuturkan
kisah ini pada kesempatan menerangkan doktrin Nuri.
Diriwayatkan bahwa Abu Hamzah berkata: Jika
diri-mu (nafs) terlepas darimu, engkau
berhasil mengatasi semua yang disebabkannya; dan jika
manusia terlepas darimu, engkau telah menebus semua yang
disebabkan oleh mereka, yakni, ada dua kewajiban, satu
yang kau kaitkan dengan diri-mu dan satunya lagi
yang kau kaitkan dengan orang lain. Jika engkau menjauhkan
diri-mu dari dosa dan mendambakan agar jiwa
memperoleh jalan keselamatan di masa mendatang, engkau telah
memenuhi kewajibanmu terhadapnya; dan jika engkau membuat
orang lain merasa aman dari kedurjanaanmu dan tidak mau
melukai mereka, engkau telah memenuhi kewajibanmu terhadap
mereka. Berupayalah agar keburukan tidak terjadi pada
diri-mu, atau agar orang lain tidak mendapatkan
keburukan darimu; lalu penuhilah kewajibanmu kepada
Tuhan.
56. Abu Bakr Muhammad bin
Musa Al-Wasithi
Dia adalah seorang ahli teosofi dan terpuji dalam
pandangan semua Syaikh. Salah seorang murid awal Junayd.
Cara pengungkapannya yang sulit dipahami telah menyebabkan
ujaran-ujarannya dipandang dengan kecurigaan oleh kaum
formalis (zhahiriyah). Baru di Merw inilah dia
menemukan kedamaian. Penduduk Merw menyambutnya dengan
hangat karena wataknya yang baik - sebab dia seorang yang
saleh - dan mendengarkan ujaran-ujarannya; dan dia menjalani
masa hidupnya di situ. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Orang yang mengingat zikirnya kepada Allah lebih
lengah daripada orang yang melupakan zikirnya (kepada
Tuhan), karena jika orang melupakan zikir, itu tak
jadi soal; tetapi yang menjadi persoalan adalah jika dia
mengingat zikirnya dan melupakan Allah. Zikir tidaklah sama
dengan objek yang dizikiri. Tidak mempedulikan objek yang
dizikiri dan dipadu dengan berpikir tentang zikir, lebih
mendekati ketakpedulian daripada melupakan zikir tanpa
pikiran. Dia yang melupakan, dalam kelupaannya dan
ketakhadirannya, tidaklah mengira bahwa dia hadir (bersama
Tuhan), tetapi dia yang mengingat, dalam pengingatannya dan
ketidakhadirannya dari objek yang dizikiri, mengira bahwa
dia hadir (bersama Tuhan). Karena itu, mengira bahwa kita
hadir ketika kita tidak hadir, lebih mendekati ketakpedulian
daripada tidak hadir tetapi tidak mengira bahwa kita hadir,
karena kebanggaan adalah keruntuhan orang-orang yang
mendambakan Kebenaran. Makin bangga, makin jauh dari
kenyataan, dan sebaliknya. Kebanggaan sebenarnya timbul dari
kecurigaan (tuhmat) akal, yang dihasilkan oleh
keinginan yang tidak terpuaskan (nahmat) dari jiwa
yang rendah; dan aspirasi yang suci (himmat) sungguh
jauh dari kualitas-kualitas ini. Prinsip dasar mengingat
Allah (dzikr) berada dalam ketidakhadiran
(ghaybat), atau dalam kehadiran (hudhur).
Bilamana orang tidak hadir dari dirinya sendiri dan hadir
bersama Tuhan, keadaan itu bukanlah kehadiran, melainkan
perenungan (musyahadat); dan bilamana orang tidak
hadir dari Tuhan dan hadir bersama dirinya sendiri, keadaan
itu bukanlah mengingat Allah (dzikr), melainkan
ketidakhadiran; dan ketidakhadiran adalah akibat dari
kelalaian (ghaflat). Tuhan maha mengetahui
Kebenaran.
57. Abu Bakr bin Dulaf bin Jahdar
Al-Syibli
Dia adalah seorang Syaikh agung dan terkenal. Memiliki
kehidupan ruhani yang tak tercela dan menikmati kehidupan
manunggal yang sempurna dengan Tuhan. Perlambang yang
digunakannya sulit dimengerti, karenanya salah seorang Sufi
mutaakhir berkata: Keajaiban-keajaiban dunia ada tiga,
yaitu pernyataan-pernyataan simbolis (isyarat) dari
Syibli, dan ujaran-ujaran mistis (nukat) dari Murtaisy,
serta hikayat-hikayat dari Jafar.3
Semula dia adalah kepala istana Khalifah, tapi dia bertobat
(mengundurkan diri dari kehidupan semulanya) dalam majlis
Khayr Al-Nassaj dan menjadi murid Junayd. Dia berkenalan
dengan sejumlah besar Syaikh. Diriwayatkan bahwa dia
menjelaskan ayat Katakan kepada orang-orang beriman
agar memalingkan pandangan mata mereka (QS 24:30)
sebagai berikut: Wahai Muhammad, katakan kepada
orang-orang beriman agar memalingkan mata jasmaniah mereka
dari apa yang diharamkan, dan memalingkan mata ruhaniah
mereka dari setiap sesuatu kecuali Tuhan, yakni tidak
memandang hawa nafsu dan tidak mempunyai pikiran apa pun
kecuali penglihatan akan Tuhan. Tanda kelalaian adalah
mengikuti hawa nafsu dan memandang barang-barang yang
diharamkan, dan malapetaka terbesar yang menimpa kelalaian
ialah bahwa mereka tidak mengetahui kekeliruan-kekeliruan
mereka sendiri; sebab orang yang tidak mengetahui di dunia
ini juga akan tidak mengetahui di akhirat nanti:
Orang-orang yang buta di dunia ini, akan menjadi
buta di akhirat (QS 17:74). Sebenarnya, sampai
Tuhan membersihkan keinginan hawa nafsu dari hati manusia,
mata jasmaniah tidak lepas dari bahaya-bahaya yang
tersembunyi, dan sampai Tuhan mengukuhkan keinginan akan
Diri-Nya di dalam hati manusia, mata ruhaniah tidak lepas
dari memandang selain Tuhan.
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari ketika Syibli masuk
pasar, orang-orang berkata, Inilah orang gila.
Dia menjawab: Engkau kira aku gila, dan kukira engkau
berakal sehat; semoga Tuhan menambah kegilaanku dan menambah
akal sehatmu! karena kegilaanku itu akibat dari cinta
yang mendalam kepada Tuhan, sementara akal sehatmu itu
akibat kelengahan yang amat sangat, semoga Tuhan menambah
kegilaanku agar aku semakin dekat dengan-Nya, dan semoga Dia
menambah akal sehatmu agar engkau semakin jauh dari Tuhan.
Ini dia katakan karena kecemburuan (ghayrat) di mana orang
akan sedemikian lupa daratan sehingga tidak dapat melepaskan
cinta kepada Tuhan dari kegilaan, dan tidak memperbedakan
keduanya di dunia ini ataupun di akhirat.
58. Abu Muhammad Jafar
bin Nushayr Al-Khuldi
Dia adalah penulis riwayat hidup wali-wali yang terkenal.
Salah seorang murid Junayd yang paling terkemuka dan paling
tua. Sangat alim dalam berbagai cabang tasawuf dan menaruh
rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada Syaikh-syaikh.
Ujaran-ujarannya yang luhur banyak. Agar dapat menghilangkan
kebanggaan ruhani, dia nisbahkan kepada pelbagai orang
hikayat-hikayat yang dia susun untuk menggambarkan
masing-masing topik. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Bertawakal kepada Tuhan ialah selalu tenang baik
engkau menemukan sesuatu atau tidak yakni, engkau
tidak bergembira karena makan roti atau bersedih hati karena
tidak memakannya, sebab ini adalah milik Tuhan, yang lebih
berhak dari padamu untuk melestarikan maupun membinasakan;
jangan ikut campur, tetapi biarlah Tuhan menentukan hak
milik-Nya. Jafar meriwayatkan bahwa dia pergi menemui
Junayd dan mendapatinya menderita sakit demam. Wahai
Guru, dia berseru, mintalah kepada Tuhan agar
Dia menyembuhkanmu. Junayd berkata: Tadi
malam aku melakukannya, tetapi sebuah suara berbisik di
hatiku, Badanmu milik-Ku: Aku membuatnya sehat atau
sakit, sesuka Aku. Siapa sebenarnya engkau, mengapa
mencampuri hak milik-Ku.
59. Abu Ali Muhammad bin
Al-Qasim Al-Rudbari
Dia seorang Sufi besar dan masih keturunan raja. Banyak
tanda dan kebajikan dianugerahkan kepadanya. Dia membahas
dengan gamblang rahasia-rahasia tasawuf. Diriwayatkan bahwa
dia berkata: Dia yang berkeinginan (murid)
menginginkan bagi dirinya sendiri hanya apa yang Tuhan
inginkan baginya, dan dia yang diinginkan (murad)
tidak menginginkan sesuatu di dunia ini maupun di akhirat
kecuali Tuhan. Karena itu, dia yang merasa puas dengan
kehendak Tuhan, melepaskan kehendak dirinya agar dia bisa
berkeinginan, sementara pencinta tak punya kehendaknya
sendiri untuk mempunyai apa yang diinginkan. Dia yang
menginginkan Tuhan, menginginkan hanya apa yang Tuhan
inginkan, dan dia yang Tuhan ingini, hanya menginginkan
Tuhan. Oleh karena itu, kepuasan (ridha) adalah salah
satu maqam pada permulaannya, dan cinta (mahabbat) adalah
salah satu keadaan (hal) pada
penghabisannya. Maqam berkaitan dengan realisasi penghambaan
(ubudiyyat), sementara ekstasi (masyrab)
mengantarkan kepada pengukuhan Ketuhanan
(rububiyyat); Demikianlah adanya, yang menginginkan
(murid) hidup di dalam dirinya sendiri, dan yang diinginkan
(murad) langgeng di dalam Tuhan.
60. Abul Abbas Qasim bin
Al-Mahdi4 As-Sayyari
Dia bersahabat dengan Abu Bakr Wasithi dan menurunkan
instruksi dari banyak Syaikh. Dia Sufi paling sempurna
(azraf) dalam persahabatan (shuhbat) dan
paling bisa menahan diri (azhad) di antara mereka
dalam persahabatan (ulfat). Dia menulis ujaran-ujaran
yang bermutu tinggi da.n karangan-karangan yang terpuji.
Diriwayatkan bahwa dia berkata: Pengesaan
(al-tawhid) itu begini: bahwa tidak ada yang
terlintas pada pikiranmu kecuali Tuhan. Dia tergolong
seorang alim dan dari keluarga berpengaruh di Merw.
Warisannya yang banyak dari ayahnya dia berikan seluruhnya
demi dua helai rambut Rasulullah. Melalui barakah dua helai
rambut itu, Tuhan melimpahkan kepadanya pertobatan yang
ikhlas. Dia bersahabat. dengan Abu Bakr Wasithi dan mencapai
derajat yang sedemikian tinggi sehingga dia menjadi pemimpin
dari sebuah mazhab Sufi. Menjelang ajalnya, dia memberikan
pengarahan-pengarahan bahwa rambut-rambut itu harus ditaruh
di dalam mulutnya. Kuburannya sampai sekarang masih terlihat
di Merw, dan orang-orang berkunjung ke sana untuk mencari
apa yang mereka inginkan; dan doa-doa mereka dikabulkan.
61. Abu Abdallah
Muhammad bin Khafif
Dia adalah Imam pada zamannya dalam berbagai ilmu
pengetahuan. Dia terkenal karena kezuhudannya dan karena
keahliannya menjelaskan dengan sejelas-jelasnya
kebenaran-kebenaran mistis. Pencapaian-pencapaian ruhaninya
dengan jelas ditampilkan lewat karangan-karangannya. Dia
berkenalan dengan Ibn Atha, Syibli, Husayn bin Manshur
Al-Hallaj, dan Jurayri, serta bersahabat di Makkah dengan
Abu Yaqub Nahrajuri. Dia melakukan
pengembaraan-pengembaraan yang luar biasa dengan maksud
melepaskan diri dari dunia ramai (tajrid). Dia
keturunan raja, tetapi Tuhan telah menganugerahkan kepadanya
pertobatan, sehingga dia memalingkan diri dari
kebesaran-kebesaran dunia ini. Dia dijunjung tinggi oleh
ahli-ahli ruhani. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Pengesaan terletak dalam memalingkan diri dari tabiat
alam, karena tabiat alam umat manusia semuanya
tertabiri. dari kemurahan-kemurahan (Tuhan) dan buta
terhadap kasih sayang Ilahi. Oleh karena itu, tak ada
seorang pun yang bisa berpaling kepada Tuhan, sampai dia
berpaling dari kodrat alam, dan manusia alamiah
(shahib thab) tak mampu memahami hakikat
Pengesaan, yang hanya terungkap kepadamu tatkala engkau
melihat kerusakan tabiatmu sendiri.
62. Abu Utsman Said
bin Sallam Al-Maghribi
Dia seorang ahli ruhani terkemuka yang telah mencapai
kepastian atau kemantapan (ahl-i
tamkin), dan sangat alim dalam berbagai pengetahuan. Dia
mempraktikkan kezuhudan, dan menulis banyak ujaran penting
dan hujah-hujah yang gemilang mengenai noda-noda ruhani
(ruyat-i afat). Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Kapan pun seseorang lebih suka bersahabat dengan orang
kaya, daripada duduk bersama si miskin, maka Tuhan
menimpakan kepadanya kematian ruhani. Istilah
persahabatan (shuhbat) dan duduk
bersama (mujalasat) dipakai karena seseorang
berpaling dari si miskin hanya tatkala dia duduk bersama si
miskin, bukan ketika dia bersahabat dengan si miskin; karena
tidak ada keberpalingan (dari sesuatu) dalam persahabatan.
Bilamana dia meninggalkan duduk bersama si miskin guna
bersahabat dengan orang kaya, hatinya menjadi mati untuk
berderma (niyaz) dan tubuhnya terperangkap dalam
jaring-jaring ketamakan (az). Karena, akibat
berpaling dari mujalasat adalah kematian ruhani, bagaimana
akan ada keberpalingan dari shuhbat? Kedua istilah ini jelas
berbeda satu sama lain dalam ujaran ini.
63. Abul Qasim Ibrahim bin
Muhammad bin Mahmud Al-Nashrabadi
Dia ibarat seorang raja di Nisyapur, kecuali kebesaran
raja-raja ada di dunia ini, sedangkan kebesarannya ada di
akhirat nanti. Ujaran-ujaran yang asli .dan tanda-tanda yang
terpuji dianugerahkan kepadanya. Dia sendiri murid Syibli.
Dia adalah guru dari Syaikh-syaikh terkemudian di Khurasan.
Dia orang yang paling alim dan ahli ibadah pada zamannya.
Tercatat bahwa dia berkata: Engkau ada di antara dua
perhubungan: satu dengan Adam lainnya dengan Tuhan. Jika
engkau mengakui perhubungan dengan Adam, engkau akan
memasuki gelanggang hawa nafsu dan tempat-tempat kerusakan
dan kesesatan; karena dengan pengakuan ini engkau berupaya
merealisasikan kemanusiaanmu (basyariyyat). Tuhan
telah berfirman: Sesungguhnya, dia, berbuat aniaya
dan bodoh (QS 33:72). Namun, jika engkau mengakui
perhubungan dengan Tuhan. engkau akan memasuki maqam-maqam
penyingkapan, pembuktian, perlindungan (dari dosa), dan
kewalian; karena dengan pengakuan ini engkau berupaya
merealisasikan kehambaanmu (ubudiyyat). Tuhan
telah berfirman: Hamba-hamba Tuhan Yang Maha
Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi
dengan merundukkan kepala (QS 25:64).
Perhubungan dengan Adam berakhir pada Hari Kebangkitan,
sementara perhubungan selaku hamba Tuhan berlangsung terus
dan tidak bisa berubah lagi. Bilamana manusia merujukkan
dirinya kepada dirinya sendiri atau kepada Adam, paling
banter yang dia bisa capai ialah mengatakan:
Sesungguhnya, aku telah menganiaya diriku
sendiri (QS 28:15); tetapi bilamana dia merujukkan
dirinya kepada Tuhan, anak Adam ada dalam keadaan seperti
orang-orang yang Tuhan telah firmankan: Wahai
hamba-hamba-Ku, tiada rasa takut bagimu hari ini
(QS 43:68).
64. Abul Hasan Ali bin
Ibrahim Al-Hushri
Dia adalah salah seorang Imam besar para Sufi dan tidak
ada tandingannya pada masa hidupnya. Ujaran-ujarannya luhur
dan keterangan-keterangannya mengenai semua hal yang
berkenaan dengan keruhanian mengagumkan. Diriwayatkan bahwa
dia berkata: Tinggalkan daku sendirian dalam
penderitaanku! Bukankah engkau, wahai anak-anak Adam, yang
Tuhan telah bentuk dengan tangan-Nya sendiri dan meniupkan
ruh ke dalamnya dan menyebabkan para malaikat bersujud
kepadanya? Lalu Dia menyuruhnya untuk berbuat sesuatu, dan
ia tidak mematuhi. Jika yang pertama dari kendi anggur itu
endapan-endapan, bagaimana dengan yang terakhirnya?
Yaitu, Bilamana manusia dipasrahkan kepada dirinya
sendiri, dia serba tidak patuh, tetapi bilamana rahmat Ilahi
menolongnya, dia serba cinta. Nah, pandanglah keindahan
rahmat Ilahi dan bandingkan itu dengan kebodohan tindakanmu,
dan habiskan seluruh hidupmu di situ.
Aku telah menyebutkan beberapa Sufi zaman dulu yang
teladannya otoritatif. Jika aku memperhatikan itu semua dan
menampilkan kehidupan mereka secara terinci serta
mencantumkan hikayat-hikayat yang berhubungan dengan mereka,
maksud tujuanku tentu belum tercapai, dan buku ini akan
tebal sekali. Kini aku akan menambahkan beberapa uraian
tentang Sufi-sufi mutaakhir.
Catatan Kaki:
- Dokter (tabib) yang termasyhur; nama lengkapnya Abu
Bakr Muhammad bin Zakariyya Al-Razi, wafat kira-kira 320
H. Lihat Brockelmann, i, 233.
- Secara harfiah, Lidah·lidah ingin
berbicara, (namun) di bawah pembicaraan mereka mereka
ingin binasa.
- Lihat No. 58.
- Dalam Nafahat, No. 167, termaktub
Qasim bin Al-Qasim Al-Mahdi.
|