Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

11. PARA IMAM DARI GENERASI SESUDAH TABI’IN

38. Abul Fawaris Syah Syuja’ Al-Kirmani

Dia adalah keturunan raja. Dia bersahabat dengan Abu Turab Nakhsyabi dan berbagai Syaikh yang lain. Telah dikatakan mengenai dia dalam pembahasan tentang Abu ‘Utsman Al-Hiri. Dia menyusun sebuah risalah yang terkenal tentang tasawuf, dan juga sebuah buku yang berjudul Mir’at Al-Hukama.1 Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Tokoh terkemuka menjadi terkemuka sampai dia melihatnya dan wali-wali mempunyai kewalian sampai mereka melihatnya,” yakni barangsiapa memandang keterkemukaannya, maka dia kehilangan hakikatnya, dan barangsiapa memandang kewaliannya, maka dia kehilangan hakikatnya. Periwayat-periwayat hidupnya mengatakan bahwa selama empat puluh tahun dia tak pernah tidur; lalu dia tertidur dan bermimpi tentang Tuhan. “Wahai Tuhanku,” dia berseru, “kucari Engkau dalam jaga di malam hari, tetapi kudapati Engkau dalam tidur.” Tuhan menjawab: “Wahai Syah, engkau telah mendapati Aku dengan cara berjaga di malam hari: jika engkau tak mencari-Ku di situ, engkau tidak akan mendapati-Ku di sini.”

39. ‘Amr bin ‘Utsman Al-Makki

Dia adalah seorang tokoh Sufi. Menulis karya-karya terkenal tentang ilmu-ilmu mistik. Menjadi murid Junayd sesudah berjumpa Abu Said Kharraz dan bersahabat dengan Nibaji.2 Dia adalah Imam pada zamannya dalam bidang teologi. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Ekstasi tidak dapat diterangkan karena hal ini merupakan rahasia antara Tuhan dan orang-orang beriman yang sejati.” Silakan orang-orang berusaha menerangkannya sebagaimana mereka maui, namun yang mereka terangkan bukanlah rahasia itu karena seluruh kekuatan dan usaha manusia terpisah dari misteri-misteri Ilahi. Dikatakan bahwa ketika ‘Amr datang ke Isfahan, seorang pemuda bergabung dengannya, padahal ,ayahnya tak mengizinkannya. Pemuda itu jatuh sakit. Suatu hari Syaikh dengan sejumlah sahabat datang mengunjunginya. Dia minta kepada Syaikh supaya menyuruh pelantun (qawwal) mendendangkan beberapa baris syair, karena ‘Amr menginginkan pelantun itu berdendang:

Ma li maridhtu wa-lam ya’udni ‘a’ide
Minkum wa-yamradhu ‘abdukum fa-a’udu.
 
“Bagaimana rasanya bila aku jatuh sakit tak seorang pun di antaramu datang menjengukku,
Meski kukunjungi hambamu bila ia jatuh sakit?”

Demi mendengar ini, si sakit meninggalkan tempat tidurnya dan ia pun duduk, lalu tekanan penderitaannya lenyaplah. Dia berkata: “Melantunlah lagi.” Maka sang pelantun berdendanglah:

Wa-asyaddu min maradhi ‘alayya shududukum
Wa-shududu ‘abdikumu ‘alayya syadidu.
 
“Ketakpedulianmu lebih menyedihkan bagiku daripada sakitku; Sedih rasanya tak mempedulikan hamba sahayamu.”

Maka sembuhlah pemuda itu dari sakitnya. Ayahnya memperkenakannya bersahabat dengan ‘Amr dan menyesali syak wasangka dalam hatinya, lalu pemuda itu menjadi seorang Sufi terkemuka.

40. Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdallah Al-Tustari

Dia sangat zuhud dan ahli ibadah. Ujaran-ujarannya tentang ketulusan hati dan cacatnya tindakan-tindakan manusia, bagus sekali. Ulama mengatakan bahwa dia telah menggabungkan Syariat dan Kebenaran (jama’a bayn al-syari’at wa al-haqiqat). Pernyataan ini keliru, karena dua hal ini tak pernah terpisah. Syari’at adalah Haqiqat, dan Haqiqat adalah Syari’at. Pernyataan mereka didasarkan atas fakta bahwa ujaran-ujaran Syaikh ini lebih terang dan mudah dipahami. Karena Tuhan telah menyatukan Syari’at dengan Kebenaran, maka tidaklah mungkin wali-wali-Nya akan memisahkan keduanya. Jika keduanya terpisah mau tak mau yang satu mesti ditolak dan lainnya diterima. Penolakan terhadap Syari’at adalah bid’ah, dan penolakan terhadap Haqiqat adalah kufur dan syirik. Pemisahan antara keduanya dibuat bukan untuk menciptakan perbedaan makna, tetapi untuk mengukuhkan Kebenaran, sebagaimana dikatakan.: “Kata-kata tiada tuhan kecuali Allah adalah Kebenaran (Haqiqat), dan kata-kata Muhammad adalah Utusan Allah adalah Syari’at (Hukum).” Tiada seorang pun yang bisa memisahkan yang satu dari yang lainnya. tanpa melemahkan imannya, dan sia-sia menginginkan berbuat demikian. Pendeknya, Syari’at adalah suatu cabang dari Kebenaran: pengetahuan tentang Tuhan adalah Kebenaran dan ketaatan kepada perintah-Nya adalah Syari’at. Kaum zhahiriyah menyangkal apa saja yang tidak cocok dengan angan-angan mereka; dan berbahaya menyangkal salah satu prinsip fundamental jalan menuju Tuhan. Segala puji bagi Allah atas iman yang telah Dia berikan kepada kita! Dan diriwayatkan bahwa dia berkata: “Matahari tak akan pernah terbit atau terbenam bagi seseorang di muka bumi yang mengenal Tuhan, jika dia tidak lebih menyukai Tuhan daripada jiwa dan ruhaninya sendiri dan daripada kehidupan kini dan kehidupan mendatang,” yakni, jika seseorang terikat pada kepentingan diri, itulah suatu bukti bahwa dia tidak mengenal Tuhan, karena pengetahuan tentang Tuhan memerlukan terhapusnya praduga (tadbir), dan terhapusnya praduga adalah penyerahan diri (taslim), sedangkan senantiasa berpraduga timbul dari kejahilan tentang takdir.

41. Abu Muhammad ‘Abdallah Muhammad bin Al-Fadhl Al-Balkhi

Dia diterima oleh orang-orang Irak, begitu pula oleh orang-orang Khurasan. Murid Ahmad bin Khadhruyah. Abu ‘Utsman dari Hira sangat menyayanginya. Karena diusir dari Balkh oleh kaum fanatik karena cintanya kepada tasawuf, dia lalu pergi ke Samarkand, dan di sinilah dia menjalani hidupnya. Diriwayatkan bahwa dia berkata:

“Orang yang paling mengenal Tuhan ialah orang yang berjuang keras untuk memenuhi perintah-perintah-Nya, dan mengikuti sedekat-dekatnya Sunnah Nabi-Nya.” Semakin dekat orang kepada Tuhan, semakin berhasrat dia melakukan perintah-Nya, dan semakin jauh orang dari Allah, semakin enggan dia untuk mengikuti Rasul-Nya. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Aku kagum kepada orang-orang yang melintasi gurun pasir dan hutan-hutan belantara untuk mencapai Rumah-Nya dan Tempat Suci-Nya, karena jejak-jejak nabi-nabi-Nya didapati di situ: mengapa mereka. tidak melintasi hawa nafsu mereka sendiri untuk mencapai kalbu-kalbu mereka, di mana mereka akan menemukan jejak-jejak Tuhan mereka?” Yaitu, kalbu adalah singgasana untuk mengenal Tuhan dan lebih berharga daripada Ka’bah, kiblat manusia dalam beribadah. Manusia senantiasa memandang ke Ka’bah, tetapi Tuhan senantiasa memandang ke kalbu . Di mana pun kalbu berada, di situlah Kekasihku ada; di dalam ketentuan-Nya itulah keinginanku berada; di mana pun jejak-jejak nabi-nabi3 berada, mata orang-orang yang kucintai terarah ke sana.

42. Abu ‘Abdallah Muhammad bin ‘Ali Al-Tirmidzi

Dia menulis banyak buku luar biasa yang dengan gaya bahasanya yang lancar dan menarik menunjukkan karamah-karamah yang dianugerahkan kepadanya, seperti Khatm Al-Wilayat,4 Kitab Al-Nahj,5 Nawadir Al-Ushul,6 dan banyak lagi, seperti Kitab Al-tawhid7 dan Kitab ‘Adzab Al-Qabr,8 terlalu banyak untuk menyebutkan semuanya. Aku sangat menghormatinya dan sepenuhnya mengabdi kepadanya. Syaikhku berkata: “Muhammad adalah mutiara persatuan yang tidak ada taranya di seluruh dunia.” Dia juga menulis karya-karya tentang ilmu-ilmu formal, dan adalah seorang ahli tepercaya dalam hadis-hadis Nabi yang dia riwayatkan. Dia pernah menulis tafsir Al-Quran, tetapi tak sempat memyelesaikannya. Tafsirnya ini beredar luas di kalangan ahli-ahli teologi. Dia mempelajari fiqih bersama seorang kawan akrab Abu Hanifah. Penduduk Tirmidz menyebutnya Muhammad Hakim; Hakimiah, sebuah mazhab Sufi di daerah itu, adalah pengikutnya. Banyak kisah yang menakjubkan tentang dia, seperti misalnya bahwa dia bersahabat dengan Rasul Khidhr. Muridnya, Abu Bakr Warraq, meriwayatkan bahwa Khidhr biasa mengunjunginya setiap hari Ahad, lalu mereka berbincang satu sama lain. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Seseorang yang tidak mengenal sifat keabdian (‘ubudiyyat), dia makin tidak mengenal sifat ketuhanan (rububiyyat),” yakni barangsiapa tidak mengetahui jalan menuju pengetahuan tentang dirinya, dia tidak mengetahui jalan menuju pengetahuan tentang Tuhan, dan barangsiapa tidak mengenal cemarnya kualitas-kualitas manusia, dia tidak mengenal kesucian sifat-sifat Tuhan, karena yang lahiriah berkaitan dengan yang batiniah, dan barangsiapa mengaku mempunyai yang pertama tanpa memiliki yang terakhir, maka dia membuat pernyataan aneh. Pengetahuan tentang sifat ketuhanan bergantung pada pemilikan prinsip-prinsip keabdian yang benar, dan tidak lengkap tanpa keduanya. Ini adalah ujaran yang mendalam dan mengandung pelajaran. Ini akan diterangkan secara terinci pada tempat yang tepat.

43. Abu Bakr Muhammad bin ‘Umar Al-Warraq

Dia adalah seorang Syaikh agung dan seorang zahid. Berjumpa dengan Ahmad bin Khadhruyah dan bersahabat dengan Muhammad bin ‘Ali. Menulis buku-buku mengenai disiplin (riyadhat) dan etika. Syaikh-syaikh Sufi menyebutnya “Guru Wali-wali” (mu’addtib al-awliya’). Dia meriwayatkan kisah berikut: “Muhammad bin ‘Ali menyerahkan kepadaku beberapa tulisannya dan meminta agar aku melemparkan tulisan-tulisan itu ke dalam sungai Oxus. Aku tidak sampai hati melakukan demikian, tetapi menaruhnya di rumahku. Aku datang kepadanya seraya mengatakan bahwa aku telah melaksanakan permintaannya. Dia bertanya kepadaku apa yang telah kulihat. Aku menjawab, ‘Tidak melihat apa pun’! Dia berkata, ‘Engkau tidak menaatiku; kembali dan lemparkan tulisan-tulisan itu ke dalam sungai’. Aku kembali, meragukan apa yang tadi dikatakannya, dan membuangnya ke dalam sungai. Air tersibak dan sebuah kotak muncul dengan tutupnya terbuka. Begitu kertas-kertas itu jatuh ke dalamnya, tutupnya mengatup rapat dan air kembali seperti semula serta kotak itu pun lenyaplah. Aku pergi menemuinya lagi dan mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi. Dia menjawab, ‘Nah, engkau telah membenamkannya.’ Aku mohon kepadanya untuk menerangkan misteri itu. Dia berkata: ‘Kususun sebuah karya tentang teologi dan tasawuf yang hampir-hampir tidak bisa dipahami oleh akal. Saudaraku Khidhr menginginkannya dariku, dan Allah menyuruh air membawanya kepada Khidhr’.”

Diriwayatkan bahwa Abu Bakr Warraq berkata: “Ada tiga golongan manusia - ulama, sultan (umara), dan darwisy (fuqara). Bilamana ulama telah rusak, ketakwaan dan agama tak berguna lagi; bilamana sultan telah rusak, penghidupan rakyat terganggu; dan bilamana darwisy telah rusak, akhlak manusia menjadi bejat.” Karenanya, kerusakan ulama disebabkan oleh ketamakan, kerusakan sultan disebabkan oleh ketidakadilan, dan kerusakan darwisy oleh kemunafikan. Sultan akan rusak jika dia menjauhkan diri dari ulama, dan ulama akan rusak jika dia bersahabat dengan sultan, dan darwisy akan rusak jika dia mencari ke-riya’-an, karena ketidakadilan sultan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, dan ketamakan ulama disebabkan oleh kurangnya ketakwaan, dan kemunafikan darwisy disebabkan oleh kurangnya kepasrahan kepada Tuhan.

44. Abu Sa’id Ahmad bin ‘Isa Al-Kharraz

Dia yang pertama-tama menerangkan doktrin tentang pelenyapan (fana) dan kelanggengan (baqa). Dia menulis mushaf-mushaf yang cemerlang. Ujaran-ujaran serta kiasan-kiasannya menawan hati. Dia berjumpa dengan Dzun Nun Al-Mishri, dan bersahabat dengan Bisyr dan Sari. Diriwayatkan bahwa berkenaan dengan sabda-sabda Rasulullah, “Kalbu-kalbu biasanya cenderung mencintai dia yang berlaku kasih terhadap mereka,” dia berkata: “Betapa kagum aku kepadanya yang tidak melihat siapa-siapa yang berlaku kasih padanya kecuali Tuhan, bagaimana dia tak akan condong kepada Tuhan dengan seluruh wujudnya,” karena kemurahan sejati milik Tuhannya objek-objek fenomenal dan dianugerahkan hanya kepada orang-orang yang membutuhkannya; bagaimana bisa dia yang membutuhkan kemurahan dari yang lain menganugerahkannya kepada seseorang? Allah adalah Raja dan Tuhan semesta alam dan tak pernah membutuhkan sesuatu pun. Karena menyadari hai ini, sahabat-sahabat Tuhan melihat Tuhan Maha Pemurah dalam setiap anugerah dan kemurahan. Kalbu-kalbu mereka sepenuhnya dikuasai oleh cinta kepada-Nya dan berpaling dari segala sesuatu yang lain.

45. Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad Al-Ishfahani

Menurut sebagian orang, namanya adalah ‘Ali bin Sahl. Dia adalah seorang Syaikh agung. Junayd dan dia saling menulis surat-surat begitu indah dan tinggi kandungannya satu sama lain, dan ‘Amr bin ‘Utsman Makki pergi ke Isfahan untuk mengunjunginya. Dia bersahabat dengan Abu Turab dan Junayd. Dia mengikuti suatu jalan terpuji dalam tasawuf dan yang khas dia. Dia ridha kepada kehendak Tuhan dan memiliki disiplin diri, serta terjaga dari kesesatan-kesesatan dan kecemaran-kecemaran. Dia begitu fasih menguraikan teori dan praktik tasawuf dan secara gamblang menjelaskan kesulitan-kesulitan dan isyarat-isyarat perlambangnya. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Kehadiran (hudhur) lebih baik daripada keyakinan (yaqin), karena kehadiran adalah suatu keadaan yang tetap (wathanat), sedang keyakinan adalah suatu keadaan yang sementara (khatharat),” yakni, kehadiran senantiasa menetap dalam kalbu dan tidak memberi jalan bagi kealpaan, sedangkan keyakinan adalah suatu perasaan yang senantiasa datang dan pergi; karenanya orang yang “hadir” (hadhiran) berada di dalam tempat yang aman dan orang yang mempunyai keyakinan (muqinan) hanya berada di pintu gerbang. Masalah “ketidakhadiran” dan “kehadiran” akan diperbincangkan dalam bab tersendiri dalam buku ini.

Dan dia juga berkata: “Dari zaman Adam hingga Hari Kiamat, orang-orang berseru, “Kalbu, kalbu!” dan aku ingin agar aku bisa menjumpai seseorang yang dapat melukiskan apakah atau bagaimana kalbu itu, tapi aku tidak menjumpai sama sekali. Orang pada umumnya memberi nama “kalbu” (dil) untuk segumpal daging yang dimiliki orang gila (majdzub) dan kaum ekstatik dan anak-anak, yang kenyataannya mereka tak memiliki kalbu (bedil). Lalu, apakah kalbu ini, yang namanya belaka yang kudengar?” Yaitu, jika akal kusebut kalbu, ini bukanlah kalbu; dan jika ruh kusebut kalbu, ini bukanlah kalbu; dan jika pengetahuan kusebut kalbu, ini bukanlah kalbu. Semua bukti tentang Kebenaran ada dalam kalbu, namun hanya namanya saja yang dijumpai.

46. Abul Hasan Muhammad bin Isma’il Khayr Al-Nassaj

Dia adalah seorang Syaikh agung, dan pada zamannya berbicara dengan fasih mengenai etika dan berkhutbah dengan bagus sekali. Wafat dalam usia lanjut. Syibli dan Ibrahim Khawwas bertobat untuk memperbarui hidup di balai pertemuannya. Dia mengutus Syibli kepada Junayd, mengharap agar berlaku hormat kepada Junayd. Dia adalah murid Sari dan sezaman dengan Junayd dan Abul Hasan Nuri. Junayd sangat menjunjung tinggi dia dan Abu Hamzah Baghdadi sangat memuliakannya. Diriwayatkan bahwa dia disebut Khayr Al-Nassaj karena keadaan berikut ini. Dia meninggalkan Samarra, kota kelahirannya, dengan niat melaksanakan ibadah haji. Di pintu gerbang kota Kufah, dia ditangkap oleh seorang penenun sutera, yang berseru: “Engkau budakku, dan namamu Khayr.” Karena dikiranya ini datang dari Tuhan, dia tidak menentang si penenun itu, dan hidup bertahun-tahun bekerja kepadanya. Kapan pun tuannya berkata “Khayr!” dia menjawab, “Labbayk” (ya, tuan), hingga orang itu bertobat dari apa yang telah dia lakukan dan berkata kepada Khayr: “Aku bersalah; engkau bukan budakku.” Lalu Khayr pergi ke Makkah, di sini dia mencapai derajat sedemikian rupa sehingga Junayd berkata: “Khayr paling baik di antara kita” (Khayr khayruna). Dia lebih suka dipanggil Khayr, dan berkata: “Adalah salah jika aku mengganti nama yang dianugerahkan kepadaku oleh seorang Muslim.” Mereka meriwayatkan bahwa saat-saat menjelang ajalnya tiba adalah saat waktu shalat ‘Isya. Dia membuka matanya dan melihat Malaikat Maut dan berkata: “Sebentar! Semoga Tuhan menyelamatkan engkau! Engkau hanya seorang hamba yang telah menerima perintah-perintah-Nya, dan aku juga sama. Yang engkau diperintah untuk berbuat (yaitu mencabut nyawaku) harus engkau lakukan, tetapi yang aku diperintah untuk berbuat (yaitu menegakkan shalat ‘Isya), biarlah aku lakukan, setelah itu kerjakan perintah-Nya.” Kemudian dia mengambil air wudhu, membersihkan dirinya, menegakkan shalat ‘Isya, dan menyerahkan hidupnya. Pada malam itu juga dia terlihat dalam mimpi dan ditanya: “Apa yang telah Tuhan perbuat kepadamu?” Dia menjawab: “Jangan tanyakan aku tentang ini, aku telah terlepas dari duniamu.”

Diriwayatkan bahwa. dia berkata dalam balai pertemuannya: “Tuhan telah melapangkan dada orang-orang yang bertakwa dengan cahaya keyakinan, dan telah membuka mata orang-orang yang memiliki keyakinan dengan cahaya kebenaran iman.” Keyakinan sangat penting bagi orang bertakwa, yang kalbu-kalbunya dilapangkan dengan cahaya keyakinan dan orang yang mempunyai keyakinan tak bisa berbuat tanpa kebenaran iman, karena pandangan akal mereka terkandung dalam cahaya iman . Karena itu, di mana ada iman, keyakinan ada di situ, dan di mana ada keyakinan, ketakwaan ada di situ, karena keduanya berkaitan satu sama lain.

47. Abu Hamzah Al-Khurasani

Dia salah seorang Syaikh awal Khurasan. Bersahabat dengan Abu Turab, dan berjumpa dengan Kharraz.9 Sangat kukuh keimanannya kepada Tuhan (tawakkal). Ada sebuah kisah sangat terkenal bahwa pada suatu hari dia jatuh ke dalam sebuah lubang yang dalam. Sesudah tiga hari berlalu, serombongan musafir mendekatinya. Abu Hamzah berkata kepada dirinya sendiri: “Aku akan berteriak memanggil mereka.” Lalu dia berkata: “Tidak, tidak baik sekiranya aku mencari bantuan dari seseorang kecuali Tuhan, dan aku berarti mengadu tentang Tuhan seandainya kukatakan kepada mereka bahwa Tuhanku telah mencampakkan aku ke dalam sebuah lubang yang dalam dan meminta mereka untuk menyelamatkan diriku.” Ketika mereka sudah dekat dan melihat lubang terbuka di tengah-tengah jalan, mereka berkata: “Demi mendapatkan ganjaran dari Tuhan (tsawab) kita harus menutup lubang ini agar tidak seorang pun jatuh ke dalamnya.” Abu Hamzah berkata: “Aku menjadi sedih dan putus harapan untuk hidup. Sesudah mereka menutup lubang itu dan lalu pergi, aku berdoa kepada Tuhan dan berserah diri kepada kematian, dan tidak berharap lagi kepada manusia. Ketika malam telah larut, aku mendengar sebuah gerakan di atas lubang itu. Kuperhatikan benar-benar. Mulut lubang terbuka dan kulihat seekor binatang raksasa seperti seekor naga yang ekornya menjulur ke bawah. Aku tahu bahwa Tuhan telah mengirimkannya dan dengan demikian aku bakal diselamatkan. Kupegang ekornya dan ia menarikku keluar. Sebuah suara dari langit berseru kepadaku, “Ini suatu penyelamatanmu yang luar biasa, wahai Abu Hamzah! Kami telah menyelamatkanmu dari kematian dengan cara kematian” (yakni raksasa yang menyeramkan).

Dia ditanya “Siapakah orang asing itu (gharib)?” Dia menjawab, “Dia yang menyingkirkan diri dari masyarakat,” sebab sang darwisy tak punya rumah tinggal atau masyarakat, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak dan bilamana dia terlepas dari keberadaan fenomenal, dia melepaskan diri dari segala sesuatu, barulah kemudian dia menjadi seorang asing; dan ini adalah suatu derajat yang tinggi.

48. Abul ‘Abbas Ahmad bin Masruq

Dia adalah salah seorang besar Khurasan, dan wali-wali Allah dengan suara bulat sepakat bahwa dia adalah salah seorang dari Awtad. Dia bergabung dengan Quthb, yang merupakan poros alam semesta. Ketika diminta untuk mengatakan siapa Quthb itu, dia tidak menyatakan namanya namun mengisyaratkan Junayd adalah Quthb. Dia berkhidmat bagi Yang Empat Puluh yang mempunyai peringkat kepastian (shahib tamkin) dan menerima instruksi dari mereka. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Jika seseorang mendapatkan kegembiraan dalam selain Tuhan, kegembiraannya membuahkan kesusahan, dan jika seseorang tidak akrab dengan pengabdian kepada Tuhannya, keakrabannya membuahkan kesepian (wahsyat),” yakni selain Dia akan binasa atau fana, dan barangsiapa mendapatkan kegembiraan dalam apa yang akan binasa, bilamana hal itu binasa, dia menjadi sedih; dan kecuali khidmat kepada-Nya, segala sesuatu yang lain sia-sia, dan bilamana kehinaan benda-benda ciptaan menjadi nyata, keakrabannya (dengan mereka) sepenuhnya berbalik menjadi kesendirian yang hampa; sebab, kedukaan dan kesendirian di seluruh alam semesta disebabkan oleh memandang yang lain (selain Tuhan).

49. Abu ‘Abdallah Muhammad10 bin Isma’il Al-Maghribi

Pada zamannya dia adalah seorang guru yang menjadi panutan, dan memandu murid-muridnya dengan hati-hati. Ibrahim Khawwash dan Ibrahim Syahbani adalah murid-muridnya. Ujaran-ujarannya bermutu tinggi, dan hujah-hujahnya terang benderang. Dia sangat ahli dalam pelepasan ikatan dari dunia ini. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Aku tak pernah melihat siapa pun, kecuali seperti aku melihat dunia: jika engkau melayaninya, ia akan melayanimu, dan jika engkau meninggalkannya, ia akan meninggalkanmu,” yaitu sepanjang engkau mencarinya, ia akan mencarimu, tetapi bilamana engkau mengelak darinya dan mendambakan Tuhan, ia akan lari darimu, dan angan-angan duniawi tak akan lagi membelenggu hatimu.

50. Abu ‘Ali Al-Hasan bin ‘Ali Al-Juzajani

Dia menulis karya-karya cemerlang mengenai ilmu etika dan penyakit-penyakit ruhani. Dia murid Muhammad bin ‘Ali Al-Tirmidzi, dan sezaman dengan Abu Bakr Warraq. Ibrahim Samarqandi adalah muridnya. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Seluruh umat manusia berpacu dalam ketakpedulian, bersandar pada angan-angan kosong, sementara mereka mengira diri mereka ahli dalam Kebenaran dan berbicara dari wahyu Tuhan.” Perkataan ini mengisyaratkan kebanggaan diri dan kesombongan jiwa. Manusia, meskipun bodoh, punya kepercayaan yang kuat kepada kebodohannya, terutama Sufi-sufi yang bodoh, yang merupakan makhluk-makhluk terhina Tuhan; dan Sufi-sufi yang bijak adalah yang paling mulia. Sufi bijak ini punya Kebenaran dan tidak membanggakan diri, sedangkan Sufi bodoh punya kebanggaan dan tidak punya Kebenaran. Dia memakan rumput di padang-padang ketakpedulian dan membayangkan bahwa ini adalah padang kewalian. Dia bersandar pada angan-angan dan mengiranya keyakinan (kepastian).’ Dia melewatkan waktu dengan bentuk dan mengira itu sebagai kenyataan. Dia berbicara menurut hawa nafsunya dan mengiranya sebagai wahyu Ilahi. Ini dia lakukan karena kebanggaan takkan tersingkirkan dari otak manusia melainkan dengan pandangan terhadap keagungan atau keindahan Tuhan; karena dalam pengejawantahan keindahan-Nya, yang dilihatnya hanya Dia saja, dan kebanggaannya lenyap, sementara dengan tersingkapnya keagungan-Nya, dia tidak melihat dirinya dan kebanggaannya tidak mengganggu.

Catatan Kaki:

  1. Yakni “Cermin Orang-orang Bijak”.
  2. Sa’id (Abu ‘Abdallah) bin Yazid An·Nibaji. Lihat Nafahat, No. 86.
  3. Begitu pula dalam semua naskah.
  4. “Penutup Para Wali.”
  5. “Kitab Jalan Luhur.”
  6. “Prinsip-prinsip Pilihan.”
  7. “Kitab tentang Tauhid.”
  8. “Kitab Siksa Kubur.”
  9. Lihat No. 44.
  10. LB. menulis “Ahmad”.

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team