|
|
11. PARA IMAM DARI GENERASI SESUDAH
TABIIN
25. Abu Zakariyya Yahya bin
Muadz Al-Razi
Dia sangat alim dalam teori yang benar tentang harapan
kepada Tuhan, sehingga Hushri berkata: Tuhan mempunyai
dua Yahya, yang satu seorang nabi dan lainnya seorang wali.
Yahya bin Zakariyya menempuh jalan takut sehingga semua
penempuhnya dikuasai oleh rasa takut dan putus harap akan
keselamatan mereka, sedangkan Yahya bin Muadz menempuh
jalan harap sehingga dia mengikat erat tangan-tangan semua
penempuhnya pada harap. Mereka berkata kepada Hushri:
Keadaan Yahya bin Zakariyya dikenal luas, namun
bagaimanakah keadaan Yahya bin Muadz? Dia
menjawab: Aku diberitahu bahwa dia (Yahya bin
Muadz) tak pernah berada dalam keadaan kebodohan
(jahiliyyat) dan tak pernah melakukan dosa-dosa besar
(kabira). Dalam amalan ibadah, dia menunjukkan
suatu keteguhan mendalam yang tak mampu dilakukan orang
lain. Seorang muridnya berkata kepadanya: Wahai
Syaikh, maqam-mu adalah maqam harap, tetapi amalanmu adalah
amalan orang-orang yang takut. Yahya menjawab:
Ketahuilah, anakku, bahwa meninggalkan ibadah kepada
Tuhan, adalah tersesat. Takut dan harap adalah dua
sokoguru iman. Tidaklah mungkin seseorang akan jatuh ke
dalam kesesatan lantaran mengamalkan salah satu di antara
keduanya. Orang-orang yang takut itu melakukan ibadah karena
takut berpisah (dari Tuhan), dan orang-orang yang berharap
itu melakukannya karena berharap dapat bersatu (dengan
Tuhan). Tanpa ibadah rasa takut atau harap tak bisa
benar-benar dirasakan, tetapi bilamana ada ibadah, rasa
takut dan harap bersifat metaforis (ibarat); dan
metafor-metafor tak berguna bila ibadah diperlukan. Yahya
menulis banyak buku, ujaran-ujaran tinggi, dan ajaran-ajaran
yang murni. Dia adalah Syaikh pertama dari mazhab ini,
sesudah Khalifah-khalifah, yang naik mimbar. Aku sangat
menyukai ujaran-ujarannya yang indah dan menyedapkan telinga
serta tinggi kandungannya. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Dunia ini adalah sebuah tempat dukacita
(asyghal) dan akhirat tempat ketakutan yang mencekam
(ahwal), dan manusia tak pernah lepas dari duka cita
dan ketakutan yang mencekam hingga dia masuk surga atau
neraka. Berbahagialah jiwa yang terlepas dari duka
cita dan ketakutan yang mencekam, dan yang telah membebaskan
pikiran-pikirannya dari kedua alam, dan yang telah sampai
kepada Tuhan! Yahya menganut doktrin bahwa kekayaan
mengungguli kefakiran. Setelah mendapat banyak utang di
Rayy, dia bertolak ke Khurasan. Ketika dia sampai di Balkh,
orang-orang di kota itu menahannya untuk beberapa saat agar
dia bisa berbincang-bincang dengan mereka, dan mereka
memberinya seratus ribu dirham. Dalam perjalanannya kembali
ke Rayy, dia diserang oleh penyamun-penyamun, yang berhasil
merebut segala miliknya. Dia memasuki kota Nisyapur dalam
keadaan yang sangat menyedihkan, di sinilah dia mengembuskan
nafas terakhirnya. Dia selalu dihormati dan dimuliakan oleh
orang banyak.
26. Abu Hafsh Amr bin Salim
Al-Nisyapuri Al-Haddadi
Dia adalah seorang Sufi terkemuka, yang dipuji oleh semua
Syaikh. Dia bergabung dengan Abu Abdallah Al-Abiwardi
dan Ahmad bin Khadhruyah. Syah Syuja datang dari
Kirman mengunjungi dia. Dia tidak mengetahui bahasa Arab,
dan ketika dia pergi ke Baghdad mengunjungi Syaikh-syaikh di
sana, murid-muridnya berbincang satu sama lain:
Sungguh memalukan bahwa seorang Syaikh agung dari
Khurasan membutuhkan seorang penerjemah untuk memahami apa
yang mereka katakan. Namun, ketika dia menjumpai
Syaikh-syaikh di Baghdad, termasuk Junayd, di Masjid
Syuniziyyah, dia berbicara dengan mereka dalam bahasa Arab
yang bagus, sehingga mereka tak mampu menandingi
kefasihannya. Mereka bertanya kepadanya: Apakah
kemurahan hati itu? Dia berkata: Silakan salah
satu dari kalian menyatakan tentang hal itu. Junayd
berkata: Menurut pendapatku, kemurahan hati itu adalah
tidak memandang kemurahan hatimu dan tidak menisbahkannya
kepadamu sendiri. Abu Hafsh menjawab: Betapa
jitunya yang Syaikh katakan! Tetapi, menurut pendapatku,
kemurahan hati itu adalah berbuat keadilan dan bukan
menuntut keadilan. Junayd berkata kepada
murid-muridnya: Bangkitlah! Karena Abu Hafsh telah
melampaui Adam dan semua anak-cucunya (dalam kemurahan
hati). Tobatnya diriwayatkan sebagai berikut. Dia
mencintai seorang gadis, dan atas nasihat teman-temannya,
dia minta tolong kepada seorang Yahudi yang tinggal di kota
Nisyapur. Orang Yahudi itu menyuruh dia agar tidak
bersembahyang selama empat puluh hari, dan agar tak memuji
Tuhan, atau agar tak berbuat baik, atau agar tidak berniat
baik; kemudian dia memberikan kepada Abu Hafsh cara mencapai
keinginannya. Abu Hafsh menerima anjuran-anjuran ini, dan
setelah empat puluh hari, orang Yahudi itu membuat sebuah
azimat sebagaimana telah dia janjikan, namun terbukti tak
berhasil. Dia berkata: Kamu pasti telah melakukan
perbuatan baik! Abu Hafsh menjawab bahwa kebaikan yang
telah dia lakukan hanyalah menyingkirkan sebuah batu yang
dia temukan di tengah jalan agar orang tidak tersandung batu
itu. Orang Yahudi itu berkata kepadanya: Ketahuilah
bahwa Tuhan tidak menyia-nyiakan tindakanmu yang sekecil itu
meskipun engkau telah melanggar perintah-perintah-Nya selama
empat puluh hari. Abu Hafsh bertobat, dan orang Yahudi
itu lalu masuk Islam.
Abu Hafsh terus membantu usaha seorang pandai-besi hingga
dia pergi ke Baward dan berikrar menjadi murid Abu
Abdallah Bawardi. Suatu hari, setelah kembali ke
Nisyapur, dia duduk di kedainya mendengarkan orang buta yang
sedang membaca Al-Quran di pasar. Dia sedemikian khusyuk
mendengarkannya sehingga dia memasukkan tangannya ke dalam
api dan, tanpa menggunakan penggapit, mengeluarkan sekeping
besi cair dari tungku perapian. Demi melihat hal ini, si
pandai-besi menjadi lemas dan lunglai. Ketika Abu Hafsh
sadar kembali, lalu dia meninggalkan kedainya dan tak lagi
mencari nafkah. Diriwayatkan bahwa dia berkata: Aku
tinggalkan pekerjaan dan kembali lagi kepadanya; kemudian
pekerjaan meninggalkan aku, dan aku tak pernah lagi kembali
kepadanya, karena meninggalkan sesuatu atas kemauan
dan usaha sendiri, itu tak lebih baik daripada
mendapatkannya, karena semua tindakan yang diupayakan
(aksab) tercemarkan dan menurunkan nilai tindakan itu dari
pengaruh ruhani yang mengalir dari Al-Ghayb tanpa
berikhtiar; pengaruh dari mana saja ia berasal, menyatu
dengan pilihan manusia dan kehilangan keruhaniannya yang
murni. Maka dari itu, manusia tidak dapat mendapatkan atau
meninggalkan sesuatu; adalah Tuhan yang dengan kemurahan-Nya
memberi dan mengambil, dan manusia hanya mendapatkan apa
yang telah Tuhan berikan atau kehilangan apa yang telah
Tuhan ambil. Meskipun seorang murid harus berjuang seribu
tahun untuk mendapatkan ridha Tuhan, hal ini kurang berarti
dibandingkan jika Tuhan meridhainya untuk sesaat, sebab
kebahagiaan mendatang yang kekal terkandung dalam keridhaan
ke-qadim-an masa lampau, dan manusia tak punya cara
melepaskan diri kecuali dengan kemurahan Tuhan. Maka,
terpujilah dia yang dari keadaannya Sang Penyebab telah
menyingkirkan semua sebab-sebab sekunder.
27. Abu Shaleh Hamdun bin Ahmad
bin Umara Al-Qashshar
Dia tergolong Syaikh awal, dan tekun beribadah. Dia
mencapai tingkat tertinggi dalam fiqih dan teologi, dan dia
belajar kedua ilmu itu dari Tsawri.1 Dalam
tasawuf, dia adalah murid Abu Turab Nakhsyabi dan Ali
Nashrabadi. Ketika dia terkenal sebagai ahli ilmu kalam,
Imam-imam dan orang-orang penting di Nisyapur mendesaknya
untuk berkhutbah kepada penduduk, tetapi dia menolak seraya
berkata: Hatiku masih terikat dengan dunia, maka dari
itu kata-kataku tak akan membekas di hati orang. Berbicara
kosong akan merendahkan harkat ilmu kalam dan menghina hukum
suci. Yang boleh berkhutbah hanyalah dia yang diamnya
menganiaya agama, dan yang bicaranya akan menyingkirkan
kezaliman. Ketika ditanya mengapa ujaran-ujaran kaum
Muslim dahulu lebih membuahkan hasil daripada
perkataan-perkataan tokoh-tokoh sezamannya, dia menjawab:
Karena mereka berbicara demi keagungan Islam dan
keselamatan jiwa manusia dan keridhaan Tuhan Yang Maha
Pengasih, sedangkan kita berbicara demi keagungan diri kita
sendiri dan mencari harkat duniawi dan suka cita manusia
semata-mata. Barangsiapa berbicara menurut kehendak
Tuhan dan karena Tuhan, kata-katanya mempunyai kekuatan dan
wibawa yang berkesan pada orang-orang durjana, tetapi jika
seseorang berbicara menurut kemauannya sendiri, kata-katanya
lemah dan tak berbobot serta tidak bermanfaat bagi
pendengar-pendengarnya.
28. Abul Sari Manshur bin
Ammar
Dia termasuk ke dalam mazhab Irak, tetapi diterima oleh
orang-orang Khurasan. Pidato-pidatonya tak tertandingi
keindahan bahasanya dan ketangkasan ungkapannya. Dia alim
dalam semua cabang ilmu kalam, hadis, usul fiqh, dan
muamalah. Beberapa calon Sufi melebih-lebihkan keahliannya
sampai di luar batas. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Terpujilah Dia yang telah membuat kalbu-kalbu ahli
makrifat jambangan-jambangan pujian (dzikr), dan
kalbu-kalbu ahli zuhud jambangan-jambangan kepasrahan
(tawakkal), dan kalbu-kalbu orang yang berserah diri
(mutawakkilin) jambangan-jambangan keridhaan
(ridha), dan kalbu-kalbu para darwisy (fuqara)
jambangan-jambangan kepuasan, dan kalbu-kalbu orang yang
terikat dunia jambangan-jambangan ketamakan! Penting
untuk dikemukakan bahwa di kala Tuhan menempatkan pada
setiap anggota tubuh dan pada setiap indera suatu kualitas
yang sejenis umpamanya, pada tangan berupa sifat menangkap
atau menggenggam, pada kaki sifat berjalan, pada mata sifat
melihat, pada telinga sifat mendengar Dia menempatkan
pada setiap kalbu suatu kualitas yang berbeda dan keinginan
yang berlainan, sehingga yang satu menjadi tempat ilmu, yang
lainnya kesesatan, yang lainnya kepuasan hati, yang lainnya
lagi ketamakan, dan seterusnya; karena itu,
keajaiban-keajaiban tindakan Tuhan tampak lebih jelas dalam
hati manusia. Diriwayatkan bahwa dia berkata: Semua
manusia bisa diringkas ke dalam dua ciri khas manusia
yang mengenal dirinya, dan yang urusannya adalah peniadaan
nafsu diri dan disiplin, dan manusia yang mengenal Tuhannya,
dan yang kesibukannya ialah mengabdi, menyembah, dan mencari
ridha-Nya. Karena itu, ibadahnya yang pertama ialah
disiplin (riyadhat), sedangkan ibadahnya yang kedua ialah
kedaulatan (riyasat); yang pertama mengamalkan ibadah supaya
bisa mencapai derajat yang tinggi, tetapi yang kedua
mengamalkan ibadah dan sudah mencapai semuanya. Betapa besar
perbedaan antara keduanya! Yang satu langgeng dalam
peniadaan nafsu diri (mujahadat), yang lain dalam
kontemplasi (musyahadat). Dan diriwayatkan bahwa dia
berkata: Ada dua golongan manusia: manusia yang
membutuhkan Tuhan dan mereka menduduki tingkat teratas dari
sudut pandang hukum suci dan manusia yang tak mempedulikan
kebutuhan mereka akan Tuhan, karena mereka tahu bahwa Tuhan
telah menentukan penciptaan mereka, penghidupan, kematian
dan kehidupan, dan kebahagiaan serta kemalangan mereka;
mereka butuh Tuhan saja, dan dengan demikian bebas dari
segala yang lain. Yang pertama, lantaran memandang
kebutuhan mereka sendiri, tertabiri dari memandang kemurahan
Allah, sedangkan yang kedua lantaran tidak memandang
kebutuhan mereka sendiri, tak tertabiri dan bebas. Yang
pertama menikmati kebahagiaan, tetapi yang kedua menikmati
Pemberi kebahagiaan.
29. Abu Abdallah Ahmad bin
Ashim Al-Anthaki
Dia berumur panjang dan bergabung dengan Syaikh-syaikh
awal, dan kenal dengan orang-orang dari generasi ketiga
sesudah Nabi (atba al-tabiin). Dia
sezaman dengan Bisyr dan Sari, dan murid dari Harits
Muhasibi. Dia bertemu Fudhayl dan bersahabat dengannya.
Diriwayatkan bahwa dia berkata: Kefakiran yang paling
bermanfaat ialah kefakiran yang engkau pandang sebagai
sesuatu yang mulia, dan yang sangat engkau sukai,
yakni, kehormatan orang-orang awam terletak dalam pengukuhan
sebab-sebab sekunder, tetapi kehormatan sang darwisy
terletak dalam menyangkal sebab-sebab sekunder dan dalam
mengukuhkan Penyebab, dan dalam memulangkan setiap sesuatu
kepada-Nya, dan dalam keridhaan dengan segala keputusan-Nya.
Kefakiran adalah tidak adanya sebab-sebab sekunder,
sementara kekayaan adalah keberadaan sebab-sebab sekunder.
Kefakiran yang terlepas dari sebab sekunder, berarti dengan
Tuhan, dan kekayaan yang terikat pada sebab sekunder,
berarti dengan kekayaan itu sendiri. Maka dari itu,
sebab-sebab sekunder melibatkan keadaan tertabiri (dari
Tuhan), sementara tidak adanya sebab-sebab sekunder
melibatkan keadaan tak tertabiri. Inilah keterangan yang
jelas tentang lebih utamanya kefakiran daripada
kekayaan.
30. Abu Muhammad Abdallah
bin Khubayq
Dia adalah seorang zahid (asketik) dan ahli
ibadah. Dia meriwayatkan hadis-hadis sahih; dan dalam fiqih,
demikian juga dalam muamalah dan teori ketuhanan, dia
mengikuti ajaran Tsawri. Dia bergabung dengan murid-murid
Tsawri. Diriwayatkan bahwa dia berkata: Barangsiapa
ingin hidup dalam kehidupannya, jangan membiarkan ketamakan
bersarang di hati, sebab orang yang loba itu akan mati
dalam jaring-jaring ketamakannya, yang adalah seperti segel
pada hatinya; dan hati yang tersegel itu mati. Beruntunglah
hati yang mati terhadap segalanya kecuali Tuhan dan hidup
karena Tuhan. Karena itu, Tuhan telah membuat zikir
kepada-Nya merupakan keagungan kalbu-kalbu manusia, dan
ketamakan merupakan aib kalbu-kalbu manusia; berkata
Abdallah bin Khubayq tentang hal ini: Tuhan
menciptakan kalbu-kalbu manusia untuk menjadi rumah-rumah
zikir kepada-Nya, namun mereka telah menjadi rumah-rumah
hawa nafsu; dan tiada sesuatu yang dapat membebaskan mereka
dari hawa nafsu kecuali rasa takut yang mencekam atau
keinginan yang membara. Rasa takut dan keinginan
(syawq) adalah dua sokoguru iman. Bilamana iman
terhunjam dalam hati, zikir dan ridha menyertainya, bukan
ketamakan dan ketakpedulian. Hawa nafsu dan ketamakan adalah
akibat dari menghindari kebersamaan dengan Tuhan. Kalbu yang
menghindari kebersamaan dengan Tuhan tidak mengenal iman
sama sekali, sebab iman merupakan keakraban dengan Tuhan dan
keengganan berhubungan dengan Iainnya yang hampa.
31. Abul Qasim Al-Junayd bin
Muhammad bin Al-Junayd Al-Baghdadi
Dia diterima oleh kaum zhahiriyah dan kaum batiniyah. Dia
menguasai setiap cabang ilmu dan membicarakan teologi,
fiqih, dan etika. Dia pengikut Tsawri. Ujaran-ujarannya
bermutu tinggi dan keadaan batinnya sempurna, sehingga semua
Sufi sepakat mengakui kepemimpinannya. Ibunya adalah saudara
perempuan Sari Saqathi, dan Junayd adalah murid Sari. Suatu
hari, Sari ditanya apakah tingkatan seorang murid kadangkala
lebih tinggi daripada tingkatan pembimbing ruhaninya. Dia
menjawab: Ya, ada bukti yang jelas tentang ini;
tingkatan Junayd di atas tingkatanku. Adalah
kerendahan hati dan pandangan batin Sari yang menyebabkannya
mengatakan demikian. Orang tahu bahwa Junayd menolak
berbicara kepada murid-muridnya selama Sari masih hidup,
hingga pada suatu malam dia bermimpi Rasulullah bersabda
kepadanya: Wahai Junayd, berbicaralah kepada orang
banyak, karena Allah telah membuat kata-katamu sarana untuk
menyelamatkan manusia. Ketika bangun, terpikir olehnya
bahwa tingkatannya mengungguli tingkatan Sari, karena Rasul
telah memerintahkannya untuk berkhutbah. Ketika fajar
menyingsing, Sari mengutus seorang murid kepada Junayd
dengan pesan sebagai berikut: Engkau tak bakal
berbicara kepada murid-muridmu tatkala mereka mendesakmu
untuk melakukan demikian, dan engkau menolak perantaraan
Syaikh-syaikh di Baghdad, serta permintaanku sendiri. Nah,
karena Rasul telah memerintahkanmu, taatilah
perintah-perintahnya. Junayd berkata: Khayalan
itu tak ada dalam otakku. Aku paham bahwa Sari mengenal baik
pikiran-pikiran lahir dan batinku, dan bahwa tingkatannya
lebih tinggi daripada tingkatanku karena dia mengenal baik
pikiran-pikiranku yang tersembunyi, sedangkan aku tak
mengetahui keadaannya. Aku datang kepadanya dan minta maaf,
dan bertanya kepadanya bagaimana dia tahu bahwa aku telah
bermimpi tentang Rasulullah. Dia menjawab: Aku
bermimpi menemui Tuhan, yang memberitahuku bahwa Dia telah
mengutus Rasul untuk menyuruhmu berkhutbah.
Kisah ini mengandung petunjuk yang jelas bahwa
pembimbing-pembimbing ruhani dalam setiap hal mengenal
pengalaman-pengalaman batin murid-murid mereka.
Diriwayatkan bahwa dia berkata: Pembicaraan
nabi-nabi memberikan keterangan mengenai kehadiran
(hudhur), sementara pembicaraan wali-wali
(shiddiqin) mengisyaratkan kontemplasi
(musyahadat). Keterangan yang benar diturunkan
dari penglihatan dan tidak mungkin memberikan keterangan
tentang sesuatu yang memang tidak disaksikan, sementara
isyarat mengandung perujukan kepada sesuatu yang lain.
Karena itu, kesempurnaan dan tujuan akhir wali-wali adalah
permulaan keadaan nabi-nabi. Perbedaan antara nabi dan wali,
dan keunggulan nabi terhadap wali, adalah sangat jelas,
meskipun dua aliran yang menyimpang itu menyatakan bahwa
keadaan wali-wali melampaui keadaan nabi-nabi. Diriwayatkan
bahwa dia berkata: Aku berhasrat ingin bertemu Iblis.
Suatu hari, ketika aku sedang berdiri di masjid, seorang tua
masuk lewat pintu dan memandang ke arahku. Ketakutan
merenggut hatiku. Ketika dia mendekat, aku berkata
kepadanya, Siapakah engkau? karena aku tak tahan
melihatmu, atau berpikir tentang dirimu. Dia menjawab,
Akulah yang ingin kau lihat. Aku berseru,
Wahai yang terkutuk! Mengapa engkau tak mau tunduk
kepada Adam? Dia menjawab, Wahai Junayd,
bagaimana engkau bisa membayangkan bahwa aku harus tunduk
kepada siapa pun kecuali Tuhan? Aku heran pada
ucapannya ini, tapi sebuah suara diam-diam berbisik:
Katakan kepadanya, Engkau dusta. Kalau kau telah
menjadi seorang hamba yang taat, engkau tak akan mendurhakai
perintah-Nya. Iblis mendengar suara dalam hatiku ini.
Dia berteriak dan berkata, Demi Tuhan, engkau telah
membakarku! dan lenyap. Kisah ini menunjukkan
bahwa Tuhan menjaga wali-wali-Nya dalam segala keadaan dari
godaan setan. Salah seorang murid Junayd menaruh dendam
kepadanya dan setelah meninggalkannya, suatu hari kembali
lagi dengan maksud mengujinya. Junayd waspada akan hal ini
dan berkata dalam menjawab pertanyaannya: Apakah
engkau menghendaki jawaban lahiriah atau jawaban
ruhaniah? Sang murid berkata:
Kedua-duanya. Junayd berkata: Jawaban
lahiriah ialah kalau engkau telah menguji dirimu sendiri,
tentu engkau tak perlu mengujiku. Jawaban ruhaniah ialah aku
menjauhkan engkau dari kewalianmu. Langsung wajah sang
murid menjadi kelam. Dia berseru, Nikmat kepastian
(yaqin) lenyap dari hatiku, dan buru-buru minta
diampuni dan menyingkirkan kebanggaan dirinya yang tolol.
Junayd berkata kepadanya: Apakah engkau tidak tahu
bahwa wali-wali Allah mempunyai kekuatan-kekuatan
tersembunyi? Engkau tak dapat menahan kekuatan-kekuatan
mereka. Dia jengkel kepada sang murid, yang secepatnya
mengurungkan maksud semula sang murid yang menyesal telah
mengecam Syaikh-syaikh.
32. Abul Hasan Ahmad bin
Muhammad Al-Nuri
Dia mempunyai suatu ajaran khas dalam tasawuf dan
merupakan teladan bagi sejumlah orang yang mengikuti jalan
tasawuf, yang mengikuti dia dan disebut kaum Nuriyah. Orang
yang mengikuti jalan tasawuf itu terdiri dari dua belas
aliran: dua di antaranya dikutuk (mardud), sementara
sisanya yang sepuluh diterima (maqbul). Yang diterima
ini ialah Muhasibiyah, Qashshariyah, Thayfuriyah,
Junaydiyah, Nuriyah, Sahliyah, Hakimiyah, Kharraziyah,
Khafifiyah, dan Sayyariyah. Semuanya ini benar dan dari
Ahlus Sunnah. Dua aliran yang dituduh sesat itu, Pertama,
Hululiyah,2 yang mengambil namanya dari doktrin
inkarnasi (hulul) dan inkorporasi (imtizaj),
dan yang berkaitan dengan mereka adalah aliran kaum
antropomorfis Salimi,3 dan kedua, Hallajiyah,
yang meninggalkan hukum suci (Syariat), dan
telah menempuh jalan bidah, dan yang berkaitan dengan
mereka adalah aliran Ibahatiyah4 dan aliran
Farisiyah. Dalam buku ini ada sebuah bab tentang dua belas
aliran dan dijelaskan pula perbedaan doktrin mereka
masing-masing.
Nuri menempuh jalan yang terpuji dalam menolak perbuatan
baik yang dibuat-buat (ke-riya-an) dan dorongan hawa
nafsu dan tetap menjalani mujahadat. Diriwayatkan bahwa dia
berkata: Aku datang mengunjungi Junayd dan
mendapatkannya sedang duduk di kursi kemahaguruan
(mushaddar). Aku berkata kepadanya: Wahai Abul
Qasim, engkau telah menyembunyikan kebenaran dari mereka dan
mereka telah menempatkanmu pada kedudukan yang terhormat;
meskipun aku telah beritahu mereka yang sebenarnya tetapi
mereka melempariku dengan batu-batu, karena
ke-riya-an sesuai dengan hawa nafsu dan keikhlasan
adalah lawannya, serta orang membenci siapa pun yang melawan
keinginan-keinginan mereka dan mencintai siapa pun yang
memenuhi keinginan-keinginan mereka. Nuri adalah sahabat
Junayd dan murid Sari. Dia bergabung dengan Syaikh-syaikh
dan telah bertemu Ahmad bin Abil Hawari. Dia adalah penyusun
ajaran-ajaran yang musykil dan ujaran-ujaran bagus mengenai
bermacam cabang ilmu mistik. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Persatuan dengan Tuhan adalah perpisahan dari segala
yang lain, dan perpisahan dari segala yang lain adalah
persatuan dengan-Nya, yaitu seseorang yang pikirannya
bersatu dengan Tuhan, dia terpisah dari segala yang lain,
dan sebaliknya: karena itu, persatuan pikiran dengan Tuhan
merupakan perpisahan dari memikirkan benda-benda ciptaan dan
berpaling dari fenomena adalah berpaling kepada Tuhan. Aku
telah membaca dalam hikayat-hikayat bahwa sekali peristiwa
Nuri berdiri di kamarnya selama tiga hari tiga malam, tidak
bergerak sedikit pun dari tempatnya atau terus menangis.
Junayd pergi menemuinya dan berkata: Wahai Abul Hasan,
jika engkau mengetahui bahwa meratap keras-keras kepada
Tuhan adalah sesuatu yang diperlukan, katakan kepadaku,
supaya aku juga bisa meratap keras-keras; tetapi jika engkau
mengetahui bahwa ini tak perlu, serahkan dirimu kepada
keridhaan dengan kehendak Tuhan, agar hatimu bisa
bahagia. Nuri kemudian berhenti menangis dan berkata:
Engkau telah mengajarku dengan baik, wahai Abul
Qasim! Diriwayatkan bahwa dia berkata: Dua hal
yang sangat jarang pada zaman kita ialah seorang alim yang
mengamalkan apa yang dia ketahui dan seorang ahli makrifat
yang berbicara dari kenyataan ihwalnya sendiri, yakni
ilmu dan makrifat kedua-duanya langka karena ilmu bukanlah
ilmu jika tidak diamalkan, dan makrifat bukanlah makrifat
jika tidak mempunyai kenyataan. Nuri menyebutkan kejadian
pada zamannya sendiri, tetapi hal itu semua langka di
sepanjang zaman dan keduanya tetap langka pada masa kini.
Siapa pun yang berupaya mencari orang-orang alim dan
ahli-ahli makrifat, maka ia akan menyia-nyiakan waktunya dan
tidak akan menjumpai mereka. Hendaknya dia berupaya agar
bisa melihat ilmu di setiap tempat, dan hendaknya dia
berpaling dari dirinya sendiri, dan hanya berpaling kepada
Tuhan agar dia bisa melihat makrifat di mana pun. Hendaknya
dia mencari ilmu dan makrifat dalam dirinya sendiri, dan
hendaknya dia menuntut amal dan kenyataan dari dirinya
sendiri. Diriwayatkan bahwa Nuri berkata: Orang yang
menganggap segala sesuatu sebagai ditentukan oleh Tuhan,
maka dia berpaling kepada Tuhan dalam segala sesuatu,
karena dia menemukan ketenteraman dalam memandang Sang
Pencipta, bukan benda-benda ciptaan, sedangkan mereka akan
selalu malang jika menganggap segala sesuatu sebagai sebab
musabab tindakan-tindakan. Berbuat demikian adalah syirik
karena sebuah sebab tidaklah maujud dengan sendirinya,
tetapi bergantung pada Sang Penyebab (Pencipta sebab).
Bilamana mereka berpaling kepada-Nya, mereka terlepas dari
duka nestapa.
33. Abu Utsman Said
bin Ismail Al-Hiri
Dia adalah salah seorang Syaikh terkemuka pada masa
lampau. Semula dia bergabung dengan Yahya bin Muadz;
kemudian dia bersahabat untuk beberapa waktu dengan Syah
Syuja di Kirman dan menyertainya ke Nisyapur dalam
suatu kunjungan ke tempat Abu Hafsh. Bersama Abu Hafsh
inilah Abu Utsman tinggal hingga akhir hayatnya.
Diriwayatkan dari sumber terpercaya bahwa dia berkata:
Pada masa kanak-kanakku aku selalu mencari Kebenaran
dan kaum Zhahiriyah membuatku merasakan sesuatu yang
memuakkan. Aku tahu bahwa hukum suci (Syariat)
mengandung sebuah misteri di balik bentuk-bentuk lahirnya
yang diikuti oleh orang-orang awam. Ketika telah dewasa,
terdengar olehku wacana Yahya bin Muadz dari Rayy dan
aku menjumpai di situ misteri yang sedang kucari. Aku terus
bersahabat dengan Yahya hingga, demi mendengar
laporan-laporan tentang Syah Syuja Kirmani dari
sejumlah orang yang telah bersamanya, aku merasa rindu untuk
mengunjunginya. Karena itu, aku meninggalkan Rayy dan
bertolak ke Kirman. Syah Syuja tak akan memperkenankan
aku bersamanya. Engkau telah dibesarkan,
katanya, dalam doktrin tentang harap
(raja), yang menjadi sikap Yahya. Tak seorang
pun yang telah menghirup doktrin ini dapat menempuh jalan
penyucian karena suatu kepercayaan mekanis kepada harap
menghasilkan kemalasan. Aku memohon kepadanya dengan
sungguh-sungguh dan meratap serta tinggal di depan rumahnya
selama dua puluh hari. Akhirnya dia memperkenankan aku, dan
aku menjadi jamaahnya, hingga dia mengajakku bersamanya
pergi mengunjungi Abu Hafsh di Nisyapur. Pada kesempatan
ini, Syah Syuja mengenakan jas (qaba). Ketika
melihatnya, Abu Hafsh bangkit dari tempat duduknya dan
langsung menemui dia, seraya berkata, Aku telah
mendapati dalam jas apa yang kucari dalam jubah
(aba). Selama berada di Nisyapur, dalam
diriku timbul keinginan kuat untuk bergabung dengan Abu
Hafsh, tetapi aku tak bisa berkhidmat kepadanya karena rasa
hormatku kepada Syah Syuja. Sementara itu, aku memohon
perkenan Tuhan untuk dapat bersama Abu Hafsh tanpa
menyinggung perasaan Syah Syuja, seorang yang
pencemburu dan Abu Hafsh menyadari keinginanku. Pada hari
keberangkatan, aku bersiap-siap untuk suatu perjalanan,
meskipun hatiku tetap bersama Abu Hafsh. Abu Hafsh dengan
ramah berkata kepada Syah Syuja, Aku senang
dengan pemuda ini; biarlah dia tinggal di sini. Syah
Syuja berpaling kepadaku dan berkata, Lakukan
apa yang diminta Syaikh ini. Dengan demikian aku
tinggal bersama Abu Hafsh dan mengalami banyak keajaiban
ketika bersamanya. Tuhan telah membawa Abu
Utsman melampaui tiga maqam bersama tiga pembimbing
ruhani, dan maqam-maqam ini, yang dia tunjukkan sebagai
maqam-maqam mereka, dilampauinya: maqam harap melalui Yahya,
maqam kecemburuan melalui Syah Syuja, dan maqam kasih
sayang (syafaqat) melalui Abu Hafsh. Seorang murid
boleh bergabung dengan lima atau enam atau lebih pembimbing
dan mempunyai maqam yang berbeda yang telah disingkapkan
kepadanya oleh masing-masing pembimbing itu, tetapi lebih
baik dia tak mengacaukan maqamnya sendiri dengan maqam-maqam
mereka. Dia hendaknya menunjukan penyempurnaan mereka dalam
maqam itu dan berkata: Aku meraih maqam ini karena
persahabatan dengan mereka, tetapi mereka melebihi maqam
ini. Ini lebih sesuai dengan perilaku-perilaku yang
baik karena ahli-ahli ruhani tidak ada hubungannya dengan
maqam-maqam dan keadaan-keadaan
(ahwal).
Berkat Abu Utsman tersebarlah tasawuf di Nisyapur
dan Khurasan. Dia bersahabat dengan Junayd, Ruwaym, Yusuf
bin Al-Husayn, dan Muhammad bin Fadhl Al-Balkhi. Dan tiada
Syaikh yang pernah memetik sebegitu banyak keuntungan
ruhani, kecuali dari dia. Orang-orang Nisyapur menyediakan
mimbar agar dia dapat menguraikan tasawuf kepada mereka. Dia
menulis risalah-risalah yang bermutu tinggi mengenai
berbagai cabang ilmu ini. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Sudah sepantasnya orang yang telah Tuhan muliakan
dengan makrifat, tidak menghinakan dirinya dengan
kedurhakaan kepada Tuhan. Ini menunjuk kepada
tindakan-tindakan yang dilakukan manusia, dan kepada
usahanya yang terus-menerus untuk menjaga perintah-perintah
Tuhan, sebab, meskipun engkau mengetahui bahwa sudah
sepatutnya Tuhan tidak akan menghinakan, karena
kedurhakaannya, orang yang telah Dia muliakan dengan
makrifat, makrifat merupakan anugerah Tuhan, dan kedurhakaan
adalah tindak manusia. Sungguh tidak mungkin bahwa orang
yang dimuliakan dengan anugerah Tuhan akan terhina karena
tindakannya sendiri. Tuhan memuliakan Adam dengan
pengetahuan: Dia tidak menghinakannya karena dosanya.
34. Abu Abdallah
Ahmad bin Yahya Al-Jalla
Dia bersahabat dengan Junayd dan Abul Hasan Nuri dan
Syaikh-syaikh agung yang lain. Diriwayatkan bahwa dia
berkata: Pikiran ahli makrifat tertuju kepada
Tuhannya; dia tidak lagi memperhatikan sesuatu yang
lain, karena ahli makrifat mengetahui tak ada sesuatu
pun kecuali makrifat, dan karena makrifat merupakan seluruh
modal hatinya, maka pikiran pikirannya sepenuhnya
terpusatkan kepada melihat (Tuhan), karena penyimpangan
pikiran membuahkan perhatian, dan perhatian memalingkan
seseorang dari Tuhan. Dia menuturkan kisah berikut ini:
Pada suatu hari, aku melihat seorang pemuda Kristen
yang tampan. Aku mengagumi ketampanannya dan berdiri
berhadapan dengannya. Junayd lewat di dekatku. Aku berkata
kepadanya, Wahai guru, akankah Tuhan membakar wajah
seperti ini dalam api neraka? Dia menjawab:
Wahai anakku, ini adalah tipuan daging, bukan
pemandangan yang dengannya orang mengambil peringatan. Jika
engkau melihat dengan perenungan yang mendalam, maka
keajaiban yang sama juga ada pada setiap atom di alam
semesta. Engkau akan segera dihukum karena ketakjuban
ini. Ketika Junayd pergi dariku, aku langsung tidak
lagi hafal Al-Quran, dan ini terjadi sampai aku selama
bertahun-tahun memohon perkenan Tuhan untuk menolongku dan
bertobat dari dosaku. Kini aku tak berani memalingkan muka
kepada ciptaan atau menyia-nyiakan waktuku dengan melihat
benda-benda.
35. Abu Muhammad Ruwaym
bin Ahmad
Dia adalah sahabat karib Junayd. Dalam fiqih, dia
mengikuti Dawud5 dan dia sangat alim dalam
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir dan bacaan Al-Quran.
Dia termasyhur dengan ketinggian keadaan (hal)-nya
dan kemuliaan maqam-nya, dan dengan perjalanan-perjalanan
hidupnya dalam melepaskan diri dari dunia (tajrid),
serta dengan kezuhudan-kezuhudannya. Sampai menjelang akhir
hidupnya dia menyembunyikan dirinya di antara orang-orang
kaya dan memperoleh kepercayaan Khalifah, tetapi yang
demikian merupakan kesempurnaan tingkat ruhaninya, sehingga
dengan demikian dia tidak tertabiri dari Tuhan. Oleh sebab
itu Junayd berkata: Kami adalah ahli-ahli ibadah yang
berurusan (dengan dunia), dan Ruwaym adalah orang yang
berurusan (dengan dunia) yang berbakti (kepada Tuhan).
Dia menulis beberapa karya tentang tasawuf, satu di
antaranya, yang berjudul Ghalath
Al-Wajidin,6 patut disebutkan secara
khusus. Aku sangat menyukainya. Suatu hari, dia ditanya,
Bagaimana keadaanmu? Dia menjawab:
Bagaimana dia yang agamanya adalah hawa nafsu dan yang
pikirannya (tertuju kepada) urusan-urusan duniawinya, yang
bukan orang yang bertakwa kepada Tuhan, juga bukan seorang
ahli makrifat dan bukan salah seorang pilihan Tuhan?
Ini menunjuk kepada kerusakan-kerusakan jiwa yang tunduk
kepada hawa nafsu dan yang menganggap hawa nafsu sebagai
agamanya. Orang-orang yang menuruti hawa nafsunya memandang
orang yang menuruti kecenderungan-kecenderungan mereka
sebagai saleh, meskipun dia seorang ahli bidah, dan
memandang orang yang menentang keinginan-keinginan mereka
sebagai tidak beragama, meskipun dia seorang yang takwa. Ini
adalah penyakit yang merajalela pada zaman sekarang. Semoga
Tuhan menyelamatkan kita dari bergaul dengan orang semacam
itu! Ruwaym dengan tegas memberikan jawaban ini berkenaan
dengan keadaan batin orang yang bertanya, yang benar-benar
telah didiagnosisnya, atau mungkin saja Tuhan untuk
sementara waktu telah menghendakinya jatuh ke dalam keadaan
itu, dan dia menggambarkan dirinya sebagaimana adanya pada
saat itu.
36. Abu Yaqub Yusuf bin
Al-Husayn Al-Razi
Dia adalah salah seorang Syaikh awal dan salah seorang
Imam besar pada zamannya. Dia murid Dzun Nun Al-Mishri, dan
bersahabat dengan sejumlah besar Syaikh dan berkhidmat
kepada mereka semua. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Serendah-rendah manusia adalah darwisy yang loba dan
dia yang mencintai kekasihnya, dan semulia-mulia manusia
ialah orang yang jujur dan lurus
(al-shiddiq).Ketamakan menjadikan darwisy hina
di dua alam, karena dia sudah hina di mata orang-orang yang
terikat hatinya kepada hal-hal duniawi, dan hanya menjadi
lebih hina lagi jika dia mengharapkan mereka. Kekayaan yang
terhormat jauh lebih sempurna daripada kefakiran yang
menjijikkan. Ketamakan menyebabkan darwisy dituduh suka
bohong. Dia yang mencintai kekasihnya adalah serendah-rendah
manusia, sebab si pencinta mengakui dirinya sangat hina
dibanding kekasihnya dan merendahkan diri di hadapan
kekasihnya; dan ini juga merupakan akibat dari keinginan
nafsu. Sepanjang Zulaykha menginginkan Yusuf, dia (Zulaykha)
setiap hari menjadi semakin rendah; ketika Zulaykha
menyingkirkan keinginan nafsunya, Tuhan mengembalikan
kecantikan dan kemudaannya. Sudah menjadi hukum bahwa ketika
si pencinta maju, sang kekasih surut. Jika si pencinta
memuaskan diri dengan cinta saja, lalu sang kekasih
mendekat. Sebenarnya, si pencinta hanya mempunyai kehormatan
selagi dia tak punya keinginan untuk bersatu. Jika cintanya
tidak menjauhkannya dari semua pikiran untuk bersatu atau
berpisah, maka cintanya itu lemah.
37. Abul Hasan Sumnun bin
Abdallah Al-Khawwash
Dia sangat dijunjung tinggi oleh semua Syaikh. Mereka
menyebutnya Sumnun si Pencinta (Al-Muhibb), namun dia
sendiri menyebut dirinya Sumnun si Pendusta
(al-kadzdzab). Dia menderita banyak perlakuan buruk
di tangan Ghulam Al-Khalil,7 yang membuat dirinya
dikenal oleh Khalifah dan pejabat-pejabat negara karena
ketakwaan dan tasawufnya yang palsu. Orang munafik ini
(Ghulam Khalil) menjelek-jelekkan para Syaikh dan darwisy,
dengan harapan dapat menyingkirkan mereka dari istana dan
mengukuhkan kekuasaannya sendiri. Untunglah Sumnun dan
Syaikh-syaikh hanya mempunyai satu musuh semacam ini. Pada
zaman sekarang ada seratus Ghulam Al-Khalil bagi setiap
ruhaniwan yang sejati. Bangkai adalah santapan yang pantas
bagi burung-burung gagak. Ketika Sumnun meraih kemuliaan dan
popularitas di Baghdad, Ghulam Al-Khalil mulai melakukan
intrik. Seorang wanita telah jatuh cinta kepada Sumnun dan
ingin menikah dengan Sumnun, tapi Sumnun menolak. Wanita itu
pergi menemui Junayd, meminta Junayd untuk menasihati Sumnun
agar mau mengawininya. Karena diusir oleh Junayd, wanita itu
mendatangi Ghulam Al-Khalil dan mengadukan perihal Sumnun.
Dia (Ghulam Al-Khalil) mendengarkan dengan penuh perhatian
umpatan-umpatan wanita itu, dan mendesak Khalifah
memerintahkan agar Sumnun dihukum mati. Ketika Khalifah akan
memberikan perintah kepada algojo, lidahnya menempel kaku di
tenggorokannya. Malam itu juga dia bermimpi kekuasaannya
berlangsung tak lebih lama dari umur Sumnun. Keesokan
harinya dia minta maaf dan insyaflah dia. Ujaran-ujaran
Sumnun bermutu tinggi. Dia memberikan petunjuk-petunjuk
musykil mengenai kodrat cinta yang hakiki. Dalam
perjalanannya dari Hijaz, warga Faydh memintanya agar
mengajar mereka mengenai masalah ini. Dia naik mimbar,
tetapi sementara dia berpidato, segenap hadirin pendengarnya
bubar. Sumnun berpaling kepada lampu-lampu dan berkata:
Aku berbicara kepadamu. Langsung lampu-lampu itu
padam dan hancur berantakan. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Sesuatu hanya bisa diterangkan dengan apa yang lebih
musykil daripada sesuatu itu sendiri; tiada yang lebih
musykil daripada cinta: lalu, dengan apa cinta bisa
diterangkan? Maknanya ialah bahwa cinta tidak bisa
diterangkan karena keterangan merupakan atribut orang yang
menerangkan. Cinta adalah atribut sang Kekasih, kodrat
hakikinya tak mungkin dapat diterangkan.
Catatan Kaki:
- Kata-kata madzhab-i Tsawri dasyt memang bisa
merujuk kepada Abu Tsawr Ibrahim bin Khalid, murid
Al-Syafii, yang wafat pada 246 H, atau kepada
Sufyan Al-Tsawri. Lihat Ibn Khallikan, No. 143.
- B. menulis Hulmaniyah, yakni para
pengikut Abu Hulman dari Damaskus. Lihat Syahristani,
terjemahan Haarbrucker, ii, 417.
- Kaum Salimiyah dilukiskan (ibid.) sejumlah
ahli-ahli teologi skolastik (mutakallimun) dari
Basrah.
- Ibahati atau
Ibahi adalah orang yang
menganggap segala sesuatu sebagai dihalalkan.
- Dawud Ishfahani, pendiri mazhab Zhahiriyah
(Brockelmann, i, 183).
- Kesesatan Orang-orang yang Ekstatik.
- Abu Abdallah Ahmad bin Muhammad bin Ghalib bin
Khalid Al-Bashri Al-Bahili, yang umum dikenal sebagai
Ghulam Al-Khalil, wafat pada 275 H. Dia dilukiskan oleh
Abul Mahasin (Nujum, ii, 79, I ff.) sebagai seorang
muhaddits, zahid dan wali. Menurut
kitab Tadzkirat Al-Awliya (ii, 48, 4 ff.),
dia menuturkan kepada Khalifah bahwa Junayd, Nuri,
Syibli, dan Sufi-sufi terkemuka lainnya adalah
orang-orang zindiq dan ahli bidah, dan
mendesak Khalifah agar menghukum mati mereka.
|