|
|
11. PARA IMAM DARI GENERASI SESUDAH
TABIIN
13. Abu Abdallah Al-Harits
bin Asad Al-Muhasibi
Dia alim dalam ilmu-ilmu ushul dan furu, dan
wewenangnya diakui oleh semua ahli ilmu kalam pada zamannya.
Dia menulis sebuah buku, berjudul
Riayat,1 mengenai prinsip-prinsip
tasawuf, juga banyak karya lainnya. Di setiap cabang ilmu
dia adalah seorang yang mulia jiwanya dan cemerlang
pikirannya. Dia adalah Syaikh kepala di Baghdad pada masa
hidupnya. Diriwayatkan bahwa dia berkata: Al-ilm
bi-harakat al-qulub fi mutalaat al-ghuyub asyraf min
al-amal biharakat al-jawarih, yakni dia yang
mengenal gerakan-gerakan kalbu, lebih baik daripada dia yang
bertindak dengan gerakan-gerakan anggota badan. Maknanya
ialah bahwa pengetahuan merupakan tempat penyempurnaan,
sedangkan kebodohan adalah tempat mencari, dan pengetahuan
yang terbungkus rapi lebih baik daripada kebodohan yang
terbuka: pengetahuan membawa manusia kepada kesempurnaan,
tetapi kebodohan bahkan mencegahnya masuk (ke jalan menuju
kesempurnaan). Sesungguhnya pengetahuan lebih agung daripada
tindakan, sebab orang dapat mengenal Allah dengan sarana
pengetahuan, tetapi tak mungkin menjangkau Dia dengan sarana
tindakan. Jika Dia bisa didapat dengan tindakan tanpa
pengetahuan, orang-orang Kristen dan pendeta-pendeta dalam
kezuhudan mereka akan dapat bertatap muka dengan-Nya, dan
orang-orang beriman yang berdosa tak akan pernah
melihat-Nya. Karenanya, pengetahuan adalah sifat Tuhan, dan
tindakan adalah sifat manusia. Sebagian periwayat ujaran ini
telah berbuat keliru karena membaca al-amal
bi-harakat al-qulub,2 yang tampak aneh,
karena tindakan-tindakan manusia tak berhubungan dengan
gerakan-gerakan kalbu. Jika si pengarang menggunakan
ungkapan ini untuk menunjukkan refleksi dan kontemplasi
tentang perasaan-perasaan batin, hal ini tidak aneh, karena
Rasul bersabda: Refleksi (renungan) sejenak lebih baik
daripada enam puluh tahun beribadah, dan
tindakan-tindakan ruhani sesungguhnya lebih utama daripada
tindakan-tindakan jasmaniah, dan akibat yang dibentuk oleh
perasaan-perasaan dan tindakan-tindakan batin nyata-nyata
lebih lengkap daripada akibat yang dibentuk oleh
tindakan-tindakan lahir. Oleh sebab itu, dikatakan:
Tidurnya orang arif adalah suatu tindak ibadah dan
bangunnya orang jahil adalah suatu dosa, karena hati
orang arif terkendalikan (oleh Tuhan) baik ketika dia tidur
atau bangun, dan bilamana hati terkendalikan, badan pun
terkendalikan juga. Karena itu, kalbu yang dikendalikan oleh
kuasa Tuhan lebih baik daripada hawa nafsu manusia yang
mengendalikan gerakan-gerakan lahiriahnya dan tindak-tindak
peniadaan nafsu diri. Diriwayatkan bahwa Harits berkata pada
suatu hari kepada seorang darwisy, kun lillah wa-illa la
takun (Jadilah milik Tuhan atau tidak jadi apa-apa),
yakni menjadi hidup lantaran Tuhan atau sirna terhadap
wujudmu sendiri; bersatu dengan kesucian (shafwat)
atau terpisah oleh kefakiran (faqr); dalam keadaan
yang dilukiskan oleh kata-kata, Bersujudlah engkau
kepada Adam (QS 2:32) atau dalam keadaan yang
digambarkan oleh kata-kata Adalah telah datang
kepada manusia suatu waktu ketika dia belum disebut
apa-apa? (QS 76:1). Jika engkau hendak
mempersembahkan dirimu kepada Tuhan atas kehendakmu sendiri,
kebangkitanmu kembali akan terjadi melalui engkau sendiri,
tetapi jika engkau tidak berkehendak demikian, maka
kebangkitanmu kembali akan terjadi melalui Tuhan.
14. Abu Sulayman Dawud bin Nushayr
Al-Thai
Dia adalah murid Abu Hanifah dan sezaman dengan Fudhayl
dan Ibrahim bin Adham. Dalam tasawuf dia adalah murid Habib
Rai. Dia alim sekali dalam semua ilmu dan tidak
tertandingi dalam yurisprudensi (fiqh); tetapi dia
beruzlah dan mencampakkan kekuasaan, serta memilih jalan
kezuhudan dan kesalehan. Diriwayatkan bahwa dia mengatakan
kepada salah seorang muridnya: Jika engkau
menginginkan kesejahteraan, ucapkan selamat tinggal kepada
dunia ini, dan jika engkau menginginkan rahmat, kumandangkan
takbir kepada akhirat, yakni keduanya adalah
tempat-tempat yang menabiri (tempat-tempat yang mencegahmu
dari melihat Tuhan). Setiap ketenangan (faraghat)
bergantung pada dua hal ini. Barangsiapa ingin tenang
tubuhnya, maka tinggalkanlah dunia ini; dan barangsiapa
ingin tenang kalbunya, bersihkanlah hati dari semua
keinginan akan akhirat. Ada kisah yang terkenal bahwa Dawud
selamanya bersahabat dengan Muhammad bin Al-Hasan, tetapi
tak pernah menerima Qadhi Abu Yusuf.3 Ketika
ditanya mengapa dia menghormati salah seorang ulama yang
terkemuka ini tetapi menolak untuk menemui yang lain, dia
menjawab bahwa Muhammad bin Al-Hasan menjadi seorang ahli
ilmu kalam sesudah dia kaya dan ilmu kalam menjadi sebab
kemajuan keagamaannya dan pelecehannya terhadap hal-hal
duniawi, sementara Abu Yusuf menjadi seorang ahli ilmu kalam
sesudah dia miskin dan terhina, dan menjadikan ilmu kalam
alat untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan. Diriwayatkan
bahwa Maruf Karkhi berkata: Aku tak pernah
melihat seseorang yang kurang mempedulikan barang-barang
duniawi selain Dawud Thai; dunia dan orang-orangnya
tak punya arti apa pun dalam pandangannya, dan dia biasa
memandang darwisy-darwisy (fuqara) sebagai sempurna
meskipun mereka berbuat kerusakan.
15. Abul Hasan Sari bin Mughallis
Al-Saqathi
Dia adalah paman Junayd dari pihak ibunya. Dia
benar-benar piawai dalam semua ilmu dan terkemuka dalam
tasawuf, dan orang pertama yang telah mencurahkan perhatian
untuk menata maqam-maqam (maqamat) dan untuk
menerangkan keadaan-keadaan ruhani
(ahwal). Kebanyakan Syaikh di Irak adalah
murid-muridnya. Dia bersahabat dengan Habib Rai dan
murid Maruf Karkhi. Dia biasa berjualan di pasar di
Baghdad. Ketika pasar ditelan api, dia diberitahu bahwa
tokonya terbakar. Dia menjawab: Maka aku terbebaskan
dari memperhatikannya. Ternyata tokonya tidak
terbakar, meskipun semua toko di sekelilingnya hancur luluh.
Demi melihat keadaan ini, Sari memberikan semua yang dia
miliki kepada orang-orang miskin dan memilih jalan tasawuf.
Ketika ditanya bagaimana awal terjadinya perubahan dalam
dirinya, dia menjawab: Suatu hari, Habib Rai
lewat di depan tokoku. Aku memberinya kulit roti untuk
diberikan kepada orang miskin. Dia berkata kepadaku,
Semoga Allah memberimu pahala! Semenjak
mendengar doa ini, urusan-urusan duniawiku tak pernah
menguntungkan lagi. Diriwayatkan bahwa Sari berkata:
Ya Tuhan, apa pun hukuman yang mungkin Engkau timpakan
kepadaku, jangan hukum daku dengan kehinaan tertabiri
dari-Mu, sebab jika aku tidak tertabiri dari-Mu,
siksaan dan penderitaanku akan menjadi ringan dengan
mengingat dan merenungi diri-Mu; tetapi jika aku tertabiri
dari-Mu, bahkan kemurahan-Mu akan terasa gersang bagiku.
Tiada hukuman di neraka yang lebih pedih dan keras dirasakan
daripada tersiksa karena tertabiri. Jika Tuhan tampak dalam
pandangan penghuni neraka, orang-orang mukmin yang berdosa
tak akan berpikir tentang surga karena melihat Tuhan akan
membuat mereka sedemikian gembira sehingga mereka tak akan
merasakan kepedihan badaniah. Dan di surga tak ada
kesenangan yang lebih sempurna daripada keadaan tak
tertabiri (kasyf). Jika penghuni surga menikmati
semua kesenangan di tempat itu dan kesenangan-kesenangan
lain yang seratus kali lipat, tetapi tertabiri dari Tuhan,
hati mereka akan sangat merana. Karenanya sudah menjadi
hukum Tuhan bahwa hati orang-orang yang mencintai-Nya
mempunyai penglihatan akan Dia selalu, sehingga kenikmatan
penglihatan tersebut membuat mereka dapat menanggung setiap
bencana; dan mereka mengatakan: Kami pandang semua
siksaan lebih menyenangkan daripada tertabiri dari-Mu.
Bilamana keindahan-Mu tersingkapkan bagi hati kami, kami
takkan berpikir tentang penderitaan.
16. Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim
Al-Azdi
Dia alim dalam semua ilmu hukum, praktis, dan
teoretis dan menyusun banyak karya tentang berbagai
cabang tasawuf. Dia bersahabat dengan Ibrahim bin Adham dan
banyak Syaikh yang lain. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Tuhan telah membuat orang saleh hidup dalam
kematiannya, dan telah membuat orang durjana mati selama
hidupnya, yakni meskipun mati; orang saleh tetap
hidup, sebab para malaikat mengucapkan salam bahagia atas
kesalehannya hingga dia dikekalkan dengan pahala yang dia
terima pada saat Kebangkitan kembali. Maka, dalam kefanaan
yang ditimbulkan oleh maut, dia baka melalui keabadian
pahala. Suatu hari, seorang tua datang kepada Syaqiq dan
berkata kepadanya: Wahai Syaikh, aku telah banyak
berbuat dosa, dan sekarang ingin bertobat. Syaqiq
berkata: Kau terlambat datang. Orang tua itu
menjawab: Tidak, aku datang segera. Barangsiapa datang
sebelum dia mati, berarti datang segera, meskipun dia
mungkin terlambat datang. Diriwayatkan bahwa tobatnya
Syaqiq terjadi begini, bahwa suatu ketika ada kelaparan di
Balkh, dan orang-orang saling makan daging orang lain.
Sementara kaum Muslim mengalami kepahitan hidup, Syaqiq
melihat seorang pemuda tertawa-tawa dan berhura-hura di
pasar. Orang-orang berkata: Mengapa engkau tertawa?
Tidakkah engkau malu bergembira ketika orang-orang lain
berdukacita? Pemuda itu berkata: Aku tak punya
kesusahan. Aku seorang hamba sahaya dari seseorang yang
mempunyai sebuah du?un pribadi, dan dia telah membuatku tak
perlu lagi memikirkan semua kebutuhan hidupku. Syaqiq
berseru: Wahai Tuhan seru sekalian alam, pemuda ini
terlalu bergembira karena mempunyai seorang tuan yang
mempunyai sebuah dusun, tetapi Engkau adalah Raja dari
segala raja, dan Engkau telah berjanji untuk memberi kami
roti makanan kami sehari-hari; dan bagaimanapun juga kami
telah mengisi hati kami dengan semua kesusahan ini karena
kami hanyut dengan hal-hal duniawi. Dia berpaling
kepada Tuhan dan mulai menempuh jalan Kebenaran, dan
tak pernah dirinya bersedih lagi mengenai roti makanan
sehari-harinya. Sesudah itu dia biasa mengatakan: Aku
murid dari seorang pemuda; semua yang kupelajari berasal
darinya. Kerendahan hatinya menyebabkan dia mengatakan
demikian.
17. Abu Sulayman Abdur
Rahman bin Atiyyah Ad-Darani
Dia dihormati oleh Sufi-sufi dan (disebut) penyedap
kalbu-kalbu. Dia terkenal dengan kezuhudan dan tindak-tindak
peniadaan nafsu diri. Dia alim dalam ilmu tentang
waktu (ilm-i waqt) dan dalam
pengetahuan tentang penyakit-penyakit jiwa, dan mengetahui
benar jerat-jeratnya yang tersembunyi. Dia berbicara dengan
istilah-istilah yang tinggi mengenai praktik ibadah, dan
mengenai perlunya menguasai hati dan anggota badan.
Diriwayatkan bahwa dia berkata: Bilamana berharap
menguasai rasa takut, waktu menjadi tak
terasa, karena waktu melestarikan
keadaan (hal), yang hanya terlestarikan
sepanjang orang direnggut rasa takut. Jika, di pihak lain,
rasa takut menguasai harapan, kepercayaan kepada Tauhid
hilang, karena rasa takut yang berlebihan terbit dari
hilangnya harapan dan hilangnya harapan akan Tuhan adalah
syirik. Karena itu, kepercayaan kepada Tauhid terkandung
dalam harapan yang benar, dan waktu akan terasa
dalam rasa takut yang benar, dan keduanya maujud bilamana
ada kesamaan antara harap dan takut. Kepercayaan akan Tauhid
menjadikan seseorang beriman (mumin), sementara
menjaga waktu menjadikan seseorang taat
(muthi). Harapan sepenuhnya berkaitan dengan
kontemplasi (musyahadat), yang di dalamnya terdapat
keyakinan yang kukuh (itiqad); dan takut
sepenuhnya berkaitan dengan penyucian (mujahadat),
yang di dalamnya terlibat kegelisahan (idhtirab).
Kontemplasi adalah buah penyucian, atau, untuk mengungkapkan
gagasan yang sama dengan cara yang berbeda, setiap harapan
adalah hasil dari keputusasaan. Kapan pun seorang manusia,
disebabkan oleh tindakan-tindakannya, putus asa akan
kesejahteraan masa depannya, maka hilangnya harapan itu
menunjukkan kepadanya jalan menuju keselamatan dan
kesejahteraan serta kasih sayang Ilahi, dan membukakan
baginya pintu kegembiraan, dan membersihkan godaan-godaan
nafsu dari kalbunya, dan menyingkapkan kepadanya
rahasia-rahasia Ilahi.
Ahmad bin Abil Hawari meriwayatkan bahwa pada suatu
malam, di kala dia bersembahyang sendirian, dia merasakan
kesenangan yang amat besar. Esoknya dia memberitahu Abu
Sulayman, yang menjawab: Engkau seorang manusia yang
lemah, karena engkau masih memandang manusia, maka engkau
adalah satu hal dalam kesendirian, dan hal lain dalam
khalayak ramai. Tiada sesuatu di dua dunia yang cukup
penting untuk menjauhkan manusia dari Tuhan. Bilamana
mempelai wanita terlihat oleh orang banyak, alasannya ialah
agar setiap orang bisa melihatnya dan agar dia semakin
dihormati, tetapi tidaklah tepat kalau agar dia melihat
siapa pun kecuali mempelai pria, karena dia akan mendapatkan
aib dengan melihat orang lain. Jika manusia hendak melihat
keagungan kesalehan orang saleh, tidak ada buruknya baginya,
tetapi jika dia melihat keagungan kesalehannya sendiri, dia
akan binasa.
18. Abu Mahfuzh Maruf bin
Firuz Al-Karkhi
Dia adalah salah seorang Syaikh awal dan ulama serta
termasyhur karena kesalehan dan kemurahan hatinya.
Pembicaraan tentangnya seharusnya tampil di awal buku ini.
Namun, aku menempatkannya di sini sesuai dengan dua tokoh
yang dihormatinya yang telah menulis buku sebelum aku. Salah
satu di antara mereka adalah seorang periwayat hadis dan
yang satunya lagi seorang yang memiliki otoritas (shahib
tasharruf) yang aku maksudkan adalah Syaikh Abu
Abdur Rahman Al-Sulami, yang di dalam karyanya menukil
susunan yang telah aku lanjutkan, dan Maulwi dan Imam Abul
Qasim Al-Qusyayri yang telah menaruh perhatian kepada
Maruf pada bagian pengantar kitabnya.4
Aku memilih rangkaian seperti ini, karena Maruf
adalah guru besar dari Sari Saqathi dan murid Dawud
Thai. Semula Maruf bukan seorang Muslim
(begana), lalu dia memeluk Islam lewat Ali bin
Musa Al-Ridha, yang dia junjung tinggi. Diriwayatkan bahwa
dia berkata: Ada tiga tanda kesalehan: menjaga iman,
berzikir dengan ikhlas, dan memberi tanpa diminta.
Pada diri manusia, semua kualitas ini hanyalah pinjaman. Dan
sesungguhnya kualitas-kualitas ini milik Tuhan. Dan Tuhanlah
yang pada akhirnya bertindak terhadap hamba-hamba-Nya. Tuhan
memantapkan iman orang-orang Yang mencintai Dia. Meskipun
mereka memperlihatkan kemunduran dalam menjaga iman, Dia
tetap meningkatkan kemurahan-Nya kepada mereka. Sudah
seyogianya Tuhan memberi seseorang kasih sayang dan
menjadikannya mulia dan mengistimewakan dia dengan
nikmat-Nya.
19. Abu Abdur Rahman Hatim bin
Ulwan5 Al-Ashamm
Dia adalah salah seorang tokoh besar Balkh dan salah
seorang Syaikh Khurasan. Murid Syaqiq dan gurunya Ahmad
Khadruya. Dia tidak pernah satu kali pun bertindak tidak
benar, sehingga Junayd berkata: Hatim Al-Ashamm adalah
seorang yang jujur dan benar (shiddiq) pada zaman
kita. Dia mempunyai ujaran-ujaran yang bermutu tinggi
tentang kemusykilan-kemusykilan yang memilahkan antara
kanker-kanker jiwa dan kelemahan-kelemahan tabiat manusia,
dan penulis karya-karya terkenal tentang etika
(ilm-i muamalat). Diriwayatkan bahwa dia
berkata: Nafsu terdiri atas tiga macam nafsu dalam
makan, nafsu dalam berbicara, dan nafsu dalam melihat.
Jagalah makananmu dengan berpasrah kepada Tuhan, jagalah
mulutmu dengan berkata benar, dan jagalah matamu dengan
mengambil pelajaran (ibrat). Kepasrahan
sejati kepada Tuhan bersumber dari pengetahuan yang benar
karena orang-orang yang mengenal Dia mesti mempunyai
keyakinan bahwa Dia akan memberi mereka roti makanan
sehari-hari mereka, dan mereka berbicara serta melihat
dengan pengetahuan yang benar, sehingga makanan mereka dan
minuman mereka hanyalah cinta, dan pembicaraan mereka
hanyalah karena ekstasi, dan penglihatan mereka hanyalah
perenungan. Mereka pasti mengetahui bahwa yang mereka makan
itu halal. Dan bilamana mereka berkata, sesungguhnya mereka
menyatakan pujian (kepada Tuhan), dan bilamana mereka
melihat, benar-benar mereka terpesona kepada-Nya. Sebab
tiada makanan yang halal kecuali apa yang Dia berikan dan
diperkenankan untuk dimakan. Dan pujian hanya ditujukan
kepada Dia. Yang harus dilihat di dalam semesta alam ini
hanyalah keindahan dan keagungan-Nya.
20. Abu Abdallah Muhammad
bin Idris Al-Syafii
Selama di Madinah dia menjadi murid Imam Malik, dan
ketika dia pergi ke Irak dia bergabung dengan Muhammad bin
Al-Hasan. Dia selalu mempunyai keinginan alamiah untuk
mengasingkan diri, dan biasa mencari pengertian yang
sedalam-dalamnya tentang jalan hidup ini, hingga sekelompok
orang mengelilinginya dan mengikuti wewenangnya. Salah
seorang di antara mereka ialah Ahmad bin Hanbal. Kemudian
Syafii sibuk mencari kedudukan dan melaksanakan
wewenangnya sebagai Imam, dan tak bisa mengundurkan diri
dari dunia. Semula dia tidak tertarik kepada orang-orang
yang menempuh jalan tasawuf, tetapi sesudah dia bertemu
Sulayman Rai dan diterima menjadi kelompoknya, dia
terus mencari kebenaran di mana pun dia pergi. Diriwayatkan
bahwa dia berkata: Bilamana engkau melihat seorang
ulama menyibukkan dirinya dengan kepentingan-kepentingan
pribadi (rukhas), tidak ada hal yang baik yang dapat
diberikan olehnya, yakni ulama adalah pemimpin segala
lapisan manusia, dan tiada seorang pun yang bisa mendahului
mereka dalam suatu masalah, dan jalan Tuhan tidak dapat
ditempuh tanpa kehati-hatian dan peniadaan nafsu diri; dan
mencari kepentingan-kepentingan diri dalam ilmu kalam adalah
perilaku orang yang menjauhkan diri dari peniadaan nafsu
diri dan yang lebih cenderung menyenangkan dirinya sendiri.
Orang-orang awam berusaha agar mereka tetap berada dalam
batas-batas hukum suci, tetapi orang-orang pilihan
mempraktikkan peniadaan nafsu diri untuk merasakan buahnya
dalam hati mereka. Ulama termasuk orang-orang pilihan, dan
bilamana salah seorang dari mereka merasa puas dengan
bertindak seperti orang awam, tiada kebaikan yang dapat
diberikan olehnya. Lebih dari itu, memuaskan nafsu diri
berarti menganggap ringan perintah Tuhan, ulama mencintai
Tuhan: seorang pencinta tidak menganggap ringan perintah
dari yang dicintainya.
Seorang Syaikh meriwayatkan bahwa suatu malam dia
bermimpi ketemu Nabi Muhammad saw. dan berkata kepada
beliau: Wahai Rasulullah, sebuah hadis telah sampai
kepadaku bahwa di bumi ini Tuhan memiliki wali-wali dengan
berbagai tingkatan. Rasulullah bersabda bahwa
periwayat hadis menyampaikannya dengan benar dan dalam
menjawab permohonan Syaikh untuk bisa melihat salah seorang
di antara orang-orang suci itu, beliau berkata:
Muhammad bin Idris adalah salah seorang di antara
mereka.
21. Imam Ahmad bin Hanbal
Dia terkenal takwa dan saleh, dan dia adalah pengawal
hadis-hadis Rasulullah. Sufi-sufi dari semua aliran
mengakuinya sebagai orang yang diberkati. Dia bergabung
dengan Syaikh-syaikh agung, seperti Dzun Nun dari Mesir,
Bisyr Al-Hafi, Sari Al-Saqathi, Maruf Al-Karkhi, dan
lain-lain. Mukjizat-mukjizatnya tampak mengejawantah dan
kecerdasannya menonjol sekali. Doktrin-doktrin yang
dinisbahkan kepadanya pada masa kini oleh orang-orang
antropomorfis tertentu adalah mengada-ada; dia bersih dari
pengertian-pengertian semacam itu. Dia sangat meyakini
prinsip-prinsip agama, dan akidahnya diakui kebenarannya
oleh semua ulama. Ketika kaum Mutazilah berkuasa di
Baghdad, mereka ingin memaksa agar dia mengakui bahwa
Al-Quran itu makhluk (diciptakan), dan meskipun dia seorang
tua yang lemah, mereka menaruhnya pada papan kayu dan
melecutnya dengan seribu cambukan. Walaupun demikian, dia
tidak mau mengatakan bahwa Al-Quran diciptakan. Selama
menjalani hukuman, izar-nya terlepas. Kedua tangannya
dibelenggu, namun muncul tangan lain mengikatnya. Melihat
hal ini, mereka melepaskannya pergi. Dia wafat karena
luka-luka yang diderita pada peristiwa itu. Menjelang
kematiannya, beberapa orang mengunjunginya dan bertanya apa
yang perlu dikatakannya mengenai orang-orang yang telah
mencambuknya. Dia menjawab: Apa yang hendak kukatakan?
Mereka mencambukku demi Tuhan, mengira bahwa aku bersalah
dan bahwa mereka yang benar. Aku tak ingin menuntut mereka
pada Hari Kebangkitan hanya karena cambukan-cambukan.
Dia banyak mengemukakan ujaran-ujaran yang bermutu tinggi
tentang etika. Bila ditanya tentang segi yang berkaitan
dengan amalan, dia selalu menjawab, tetapi kalau ditanya
tentang segi teori mistik (haqaiq), dia akan
merujukkan orang yang bertanya kepada Bisyr Hafi. Pada suatu
hari, seseorang bertanya kepadanya: Apakah ketulusan
hati itu? Dia menjawab: Bebas dari
penyakit-penyakit tindakan (amal), yakni hendaknya
tindakan-tindakanmu bebas dari sifat pamer diri dan
kemunafikan serta kepentingan diri sendiri. Lalu sang
penanya bertanya: Apakah kepasrahan itu
(tawakkal)? Ahmad menjawab: Keyakinan kepada
Tuhan, bahwa Dia akan menjamin roti makananmu
sehari-hari. Orang itu bertanya: Apakah
keridhaan itu? Dia menjawab: Menyerahkan
urusan-urusanmu kepada Tuhan. Dan apakah cinta
itu (mahabbat)? Ahmad berkata: Tanyakan
persoalan ini kepada Bisyr Hafi, sebab aku tidak akan
menjawabnya selama dia masih hidup. Ahmad bin Hanbal
tetap saja dianiaya selama hidupnya oleh serangan-serangan
kaum Mutazilah, dan sesudah matinya dengan tuduhan
memiliki pandangan-pandangan kaum antropomorfis. Akibatnya,
mayoritas kaum Muslim tidak mengetahui keadaan dia yang
sebenarnya dan mencurigainya. Tapi dia bersih dari semua
yang dituduhkan kepada dirinya itu.
22. Abul Hasan Ahmad bin Abil
Hawari
Dia adalah salah seorang Syaikh Syria yang paling
terkemuka dan dipuji oleh semua Sufi terkemuka. Junayd
berkata: Ahmad bin Abil Hawari adalah rayhan
(tumbuhan yang harum baunya) dari Syria. Murid Abu
Sulayman Darani dan bergabung dengan Sufyan bin
Uyaynah dan Marwan bin Muawiyah, pembaca
Al-Quran (al-qari).6 Dia juga seorang ahli
ibadah pengembara (sayyah). Diriwayatkan bahwa dia
berkata: Dunia ini adalah onggokan kotoran dan tempat
berkumpulnya anjing-anjing; dan orang yang enggan
meninggalkan tempat itu lebih rendah daripada seekor anjing,
sebab seekor anjing mengambil apa yang ia ingini lalu pergi,
sedang pencinta dunia tak pernah meninggalkannya barang
sesaat pun. Semula dia adalah seorang siswa dan lalu
mencapai tingkatan Imam, tetapi sesudah itu dia melemparkan
semua buku bukunya ke laut, dan berkata: Engkau semua
adalah pemandu-pemandu yang baik, namun tak mungkin memandu
seseorang sesudah orang itu mencapai tujuan, karena
pemandu dibutuhkan selama murid menempuh perjalanan; apabila
tempat suci terlihat, jalan raya dan pintu gerbang tidak
lagi berarti. Syaikh-syaikh mengatakan bahwa Ahmad berlaku
demikian dalam keadaan mabuk (sukr). Di jalan mistik,
dia yang berkata, Aku telah sampai, maka ia
telah sesat. Karena, sampai adalah ketidaksempurnaan, upaya
adalah kesulitan (yang berlebih-lebihan), bebas dari upaya
adalah menganggur, dan dalam kasus apa saja maka prinsip
kesatuan (wushul) adalah ketidakberadaan karena upaya dan
lawannya adalah kualitas-kualitas manusiawi. Bersatu dan
berpisah bergantung pada kehendak kekal dan dukungan Tuhan.
Oleh sebab itu, tidak mungkin mencapai kesatuan dengan
Tuhan. Istilah kedekatan tak bisa diterapkan
pada Tuhan. Seorang manusia bersatu dengan Tuhan bilamana
Tuhan menghormatinya, dan terpisah dari Tuhan bilamana Tuhan
tidak menghormatinya. Aku, Ali bin Utsman
Al-Jullabi, mengatakan bahwa kemungkinan maksud Syaikh
terkemuka itu dalam menggunakan kata kesatuan
(wushul) adalah menemukan jalan menuju
Tuhan karena jalan menuju Tuhan tidak dijumpai di
dalam kitab-kitab; dan bilamana jalan sudah terbentang
lebar, maka keterangan tidak diperlukan. Orang-orang yang
telah mencapai pengetahuan hakiki tak perlu berbicara, dan
malahan buku-buku kurang berarti. Syaikh-syaikh yang lain
telah bertindak seperti Ahmad bin Abil Hawari, umpamanya
Syaikhul Akbar Abu Said Fadhlallah bin Muhammad Al
Mayhani, dan mereka ditiru oleh sejumlah kaum zhahiriyah
yang tujuannya hanya memuaskan kemalasan dan kebodohan
mereka. Agaknya Syaikh-syaikh yang mulia itu bertindak
karena keinginan untuk melepaskan ikatan-ikatan duniawi dan
mengosongkan kalbu-kalbu mereka dari segalanya kecuali
Tuhan. Namun hal ini hanya tepat dalam keadaan mabuk pada
masa permulaan (ibtida) dan dalam gejolak masa remaja.
Orang-orang yang telah mantap (mutamakkin) tak tertabiri
(dari Tuhan) oleh seluruh alam semesta: apalagi oleh
selembar kertas. Bisa dikatakan bahwa rusaknya sebuah buku
menandakan ketidakmungkinan mengungkapkan makna hakiki
(sebuah gagasan). Dalam keadaan itu, ketidakmungkinan yang
sama harus dikatakan berkenaan dengan lidah karena kata-kata
yang diucapkan tidaklah lebih baik daripada kata-kata yang
ditulis. Aku bayangkan Ahmad bin Abil Hawari, yang tak
mendapatkan pendengar dalam ekstasinya, menuliskan
keterangan tentang perasaan-perasaannya di lembaran-lembaran
kertas, dan setelah bertumpuk-tumpuk kertas,
lembaran-lembaran kertas itu dipandangnya sebagai tidak
layak untuk diungkapkan, dan karenanya dia mencampakkan
lembaran-lembaran kertas itu ke dalam air. Mungkin juga dia
telah mengumpulkan banyak buku yang melalaikan dia dari
amalan-amalan ibadahnya, dan dia menyingkirkan buku-buku itu
untuk alasan ini.
23. Abu Hamid Ahmad bin Khadruyah
Al-Balkhi
Dia menempuh jalan celaan (malamat) dan mengenakan
pakaian tentara. Istrinya, Fathimah, putri Amir di Balkh,
dikenal sebagai seorang Sufi. Ketika dia (Fathimah) ingin
bertobat (dari kehidupannya yang dahulu), dia mengirim pesan
kepada Ahmad, menyuruhnya melamar dia (Fathimah) kepada ayah
Fathimah. Ahmad menolak, lalu Fathimah mengirim pesan lain
sebagai berikut: Wahai Ahmad, kukira engkau tentu
terlalu gagah untuk menyerang orang-orang yang menempuh
jalan menuju Tuhan. Jadilah seorang penunjuk jalan
(rahbar), bukan seorang bandit (rahbur).
Ahmad melamarnya kepada ayah Fathimah, yang menyetujuinya
dengan harapan menerima barakah pemuda itu. Fathimah
memutuskan diri dari semua ikatan duniawi dan hidup dalam
pengasingan diri bersama suaminya. Ketika Ahmad pergi
mengunjungi Bayazid, Fathimah menyertainya. Dan demi melihat
Bayazid, dia membuka kerudungnya dan bercakap-cakap dengan
Bayazid tanpa canggung-canggung lagi. Ahmad menjadi cemburu
dan berkata kepadanya: Kenapa engkau bebas benar
dengan Bayazid? Fathimah menjawab: Sebab engkau
adalah suami alamiahku, sedang dia adalah suami keagamaanku;
lewat engkau aku memenuhi keinginanku, lewat dia aku menuju
Tuhan. Buktinya ialah dia tak butuh hidup bersamaku,
sedangkan engkau memerlukannya. Ia terus bersikap
demikian terhadap Bayazid, hingga suatu hari Bayazid
memperhatikan bahwa tangan Fathimah diwarnai dengan
hinna (sejenis kosmetik) dan bertanya kepadanya
mengapa. Ia menjawab: Wahai Bayazid, selama engkau
belum melihat tanganku dan hinna, aku senang denganmu,
tetapi kini engkau telah melihat diriku, maka persahabatan
kita diharamkan. Kemudian Ahmad dan Fathimah pergi ke
Nisyapur dan tinggal di sana. Khalayak dan Syaikh-syaikh di
Nisyapur senang sekali dengan Ahmad. Ketika Yahya bin
Muadz Al-Razi melewati Nisyapur dalam perjalanannya
dari Rayy ke Balkh, Ahmad ingin menyuguh dia suatu jamuan
makan, dan bermusyawarah dengan Fathimah apa yang kira-kira
diperlukan. Ia memberitahu Ahmad supaya menyediakan
sedemikian banyak lembu dan biri-biri, sejumlah bumbu
penyedap, bawang-bawangan, lilin-lilin, dan wewangian, dan
menambahkan, Kita harus juga menyembelih dua puluh
ekor keledai. Ahmad berkata: Apa artinya
menyembelih keledai-keledai? Oh! kata
Fathimah, apabila seorang yang mulia datang bertamu ke
rumah seorang mulia, anjing-anjing di perempatan jalan punya
bagian juga. Bayazid berkata tentang Fathimah:
Barangsiapa ingin melihat seorang pria yang menyamar
dengan pakaian wanita, biarlah dia melihat Fathimah!
Dan Abu Hafsh Haddad berkata: Namun bagi Ahmad bin
Khadhruyah, kemurahan hati tak perlu diperlihatkan.
Ujaran-ujarannya bermutu tinggi, dan ungkapan-ungkapannya
bisa kebenarannya (anfas-i muhadzdzab). Dia menulis
karya-karya terkenal mengenai setiap cabang etika dan
wacana-wacana cemerlang tentang mistikisme. Diriwayatkan
bahwa dia berkata: Jalan sudah terbentang, dan
kebenaran sudah jelas, dan penggembala telah menyerukan
panggilannya; sesudah itu jika seseorang kehilangan dirinya
sendiri, ini karena kebutaannya sendiri, yaitu,
sungguh keliru mencari-cari jalan karena jalan menuju Tuhan
adalah seperti kilatan Sinar matahari; hendaknya engkau
mencari dirimu sendiri, karena bilamana engkau telah menemu
kan dirimu sendiri, engkau akan sampai pada tujuan
perjalanan karena Tuhan terlalu nyata untuk dicari. Dia
diriwayatkan telah berkata: Sembunyikanlah keagungan
kefakiranmu, yakni, jangan katakan kepada khalayak
ramai, Aku seorang darwisy, simpanlah rahasiamu,
sebab hal ini merupakan rahmat amat besar yang dianugerahkan
kepadamu oleh Tuhan. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Seorang darwisy mengundang seorang kaya raya untuk
berbuka puasa di bulan Ramadhan, dan tidak ada makanan
apa-apa di rumahnya kecuali sekerat roti kering.
Sekembalinya ke rumah, orang kaya itu mengirim kepadanya
sekantong uang emas. Dia mengirimnya kembali, seraya
berkata, Ini benar-benar membuatku mengungkapkan
rahasiaku kepada orang seperti engkau. Kemurnian
kefakirannya menyebabkan dia bertindak demikian.
24. Abu Turab Askar bin
Al-Husayn Al-Nakhsyabi Al-Nasafi
Dia adalah salah seorang Syaikh kepala di Khurasan, dan
terkenal dengan kemurahan hatinya, kezuhudan, dan
kesalehannya. Dia telah memperlihatkan banyak karamah dan
mengalami penjelajahan menakjubkan yang tidak terbilang di
padang pasir dan di tempat lainnya. Dia salah seorang
pengembara yang paling terpandang di kalangan kaum Sufi dan
biasa menyeberangi padang pasir yang sepenuhnya terlepas
dari hal-hal duniawi. Dia meninggal di padang pasir Basrah.
Setelah bertahun-tahun, dia ditemukan berdiri tegak dengan
mukanya menghadap Kabah, jasadnya mengering, dengan
sebuah ember di depannya dan sebuah tongkat di tangannya;
dan binatang-binatang buas tidak berani menyentuhnya atau
datang menghampirinya. Diriwayatkan bahwa dia berkata:
Makanan darwisy ialah apa yang dia dapati, dan
pakaiannya ialah apa yang menutupi badannya, dan tempat
tinggalnya ialah di mana saja dia berada, yakni dia
tidak memilih-milih makanannya atau bajunya, atau membuat
sebuah rumah bagi dirinya. Seluruh dunia didukakan oleh
ketiga hal ini, dan inisiatif pribadi di dalamnya membuat
kita senantiasa kusut pikir (masyghul) sedangkan kita
berusaha mendapatkan hal-hal itu. Ini adalah aspek praktis
dari masalah itu; namun dalam pengertian mistis, makanan
darwisy adalah ekstasi, dan pakaiannya adalah takwa, serta
tempat tinggalnya adalah Al-Ghayb, sebab Allah telah
berfirman, Jika mereka berdiri teguh di jalan yang
lempang (kebenaran), Kami akan membasahi mereka dengan hujan
berlimpahan (QS 72:16); dan lagi, dan
pakaian indah untuk perhiasan; tetapi pakaian takwa, itulah
yang lebih baik (QS 7:26); dan Rasul bersabda,
Kefakiran adalah tinggal dalam Al-Ghayb.
Catatan Kaki:
- Judul lengkapnya, Riayat li-Huquq Allah
(Pelaksanaan Apa yang Menjadi Hak-hak Allah).
- Bacaan ini disuguhkan dalam Thabaqat
Al-Shufiyyah karya Abu Abdur Rahman As-Sulami
(British Museum, Add. 18, 520, f. 13 a).
- Muhammad bin Al-Hasan dan Abu Yusuf adalah
faqih-faqih yang terkenal dari mazhab Hanafi.
Lihat Brockelmann, I, 171.
- Pernyataan ini tidak tepat. Komentar mengenai
Maruf Karkhi adalah bagian keempat dalam daftar
riwayat hidup karya Qusyayri di permulaan risalahnya
tentang tasawuf, dan terletak antara komentar-komentar
Fudhayl b. Iyadh dan Sari Saqathi. Dalam Thabaqat
Al-Shufiyyah karya Abdur Rahman Al-Sulami, komentar
tentang Maruf tampil pada urutan kesepuluh, namun
menduduki posisi yang sama seperti yang dilakukan di
sini, Yang diawali Abu Sulayman Darani dan diikuti Hatim
Al-Asham. Tampak dari kalimat lanjutannya bahwa
Al-Hujwiri mengikuti maqam kehidupan Maruf.
- LIJ. menuliskannya [huruf Arab].
- Marwan bin Muawiyah Al-Fazari asal Kufah
meninggal pada 193 H. Lihat karya Dzahabi Thabaqat
Al-Huffazh, disunting oleh Wistenfeld h. 63, pada No.
44. Al-Qari mungkin adalah salah transkripsi dari
Al-Fazari.
|