Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

11. PARA IMAM DARI GENERASI SESUDAH TABI’IN

1. Habib Al-’Ajami

Pertobatan (tawbat)-nya dimulai lewat Hasan Al-Bashri. Semula dia adalah seorang tukang riba dan melakukan segala macam tindakan keji. Namun, Tuhan telah membuatnya benar-benar bertobat. Dia belajar dari Hasan Al-Bashri sedikit banyak tentang teori dan praktik agama. Bahasa aslinya adalah Persia (‘ajami). Dia tidak bisa berbahasa Arab dengan baik. Suatu petang, Hasan Al-Bashri lewat di depan pintu selnya. Habib baru saja mengumandangkan azan dan sedang shalat. Hasan masuk, namun bukan untuk bermakmum dengannya, karena Habib tidak dapat berbahasa Arab dengan fasih atau membaca Al-Quran dengan benar. Malam itu juga, Hasan bermimpi dia melihat Tuhan dan berkata kepada-Nya: “Ya Allah, di manakah letak keridhaan-Mu?” maka Tuhan menjawab: “Wahai Hasan, engkau telah mendapat ridha-Ku, namun kau tidak mengetahui nilainya; jika tadi malam engkau bermakmum di belakang Habib, dan jika kebaikan niatmu telah menahanmu dari meremehkan lafalnya, tentu Aku akan ridha sekali denganmu.” Sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan Sufi bahwa ketika Hasan Al-Bashri lari dari Hajjaj, dia memasuki sel Habib. Serdadu-serdadu lalu datang dan berkata kepada Habib: “Engkau melihat Hasan?” Habib menjawab: “Ya.” “Di manakah dia?” “Dia ada dalam selku.” Mereka segera masuk ke dalam sel, tetapi tak kelihatan seorang pun di sana. Dikira Habib mempermainkan mereka, mereka menghardiknya dan menyebutnya pembohong. Dia bersumpah bahwa dia berkata sebenarnya. Mereka kembali lagi dua-tiga kali, tetapi tak seorang pun didapati dan akhirnya ditinggalkannya tempat itu. Segera Hasan keluar dan berkata kepada Habib: “Aku tahu ini terjadi berkat barakahmu sehingga Tuhan tidak menampakkan aku di mata orang-orang keji itu, tapi mengapa engkau memberitahu mereka bahwa aku ada di sini?” Habib menjawab: “Wahai Guru, bukan karena barakah-barakahku mereka tidak melihatmu, melainkan berkat barakah ucapanku tentang kebenaran. Bila aku berbohong, kita berdua tentu akan malu.” Habib ditanya: “Apa yang diridhai Tuhan?” Dia menjawab: “Hati yang tidak ternodai oleh kemunafikan, ” karena kemunafikan (nifaq) adalah lawan dari keselarasan (wifaq), dan keadaan ridha adalah hakikat keselarasan. Tidak ada kaitan antara kemunafikan dan cinta, dan cinta senantiasa hidup dalam keadaan ridha (dengan apa saja yang telah ditentukan oleh Tuhan). Karena itu, ridha adalah watak sahabat-sahabat Tuhan, sementara kemunafikan adalah watak seteru-seteru-Nya. Ini adalah suatu masalah yang sangat penting. Aku akan menjelaskannya di tempat yang lain.

2. Malik bin Dinar

Dia adalah sahabat Hasan Al-Bashri. Dinar adalah seorang budak, dan Malik dilahirkan sebelum ayahnya mendapatkan kemerdekaan. Tobatnya dimulai sebagai berikut. Suatu malam dia bersuka ria dengan sekelompok temannya. Ketika mereka sudah tidur nyenyak, sebuah suara datang dari sebuah kecapi yang mereka mainkan tadi: ‘Wahai Malik! Mengapa engkau tidak bertobat?” Malik lalu meninggalkan keburukan-keburukannya, dan pergi menemui Hasan Al-Bashri, serta memperlihatkan bahwa dia benar-benar telah bertobat. Dia telah mencapai derajat tinggi sedemikian sehingga pada suatu hari ketika dia berada dalam sebuah kapal, dan dituduh mencuri sebuah permata, begitu dia melayangkan pandangannya ke langit, serta-merta semua ikan di laut muncul ke permukaan dan setiap ikan membawa sebuah batu permata di mulutnya. Malik mengambil salah satu dari batu-batu permata itu, dan memberikannya kepada orang yang kehilangan batu permatanya; kemudian dia menapakkan kaki di atas permukaan laut dan berjalan hingga mencapai pantai. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Perbuatan yang paling kucintai adalah keikhlasan dalam beramal,” karena amal hanya menjadi amal dikarenakan keikhlasannya. Hubungan keikhlasan dengan amal adalah hubungan ruh dengan jasmani: badan tanpa ruh adalah benda mati, maka begitu pula amal tanpa keikhlasan sepenuhnya tidak maujud. Keikhlasan tergolong jenis tindakan batin, sedangkan amal-amal ibadah tergolong jenis tindakan lahir; yang terakhir dilengkapi oleh yang pertama, sementara yang pertama menurunkan nilainya dari yang terakhir. Meskipun seorang manusia menjaga agar hatinya ikhlas selama seribu tahun, bukanlah keikhlasan sebelum keikhlasannya bersenyawa dengan tindakan; dan meskipun dia melaksanakan tindakan-tindakan lahir seribu tahun lamanya, tindakan-tindakannya tidak akan menjadi amal ibadah sebelum bersenyawa dengan keikhlasan.

3. Abu Halim Habib bin Salim1 Al-Ra’i

Dia adalah sahabat Salman Al-Farisi. Dia meriwayatkan bahwa Rasul saw. bersabda: “Niat orang beriman lebih baik daripada tindakan-tindakannya.” Dia punya sekawanan biri-biri, dan rumahnya terletak di tepi sungai Eufrat. Jalan (thariq) keagamaannya adalah menarik diri dari dunia. Seorang Syaikh meriwayatkan sebagai berikut: “Suatu hari aku lewat di dekatnya dan mendapatkan dia sedang bersembahyang, sementara seekor serigala memperhatikan dombanya. Aku bergegas menemuinya, karena dia tampak bagiku punya tanda-tanda kebesaran. Setelah kami saling memberikan salam, aku berkata: “Wahai Syaikh! Kulihat serigala berbaik-baik dengan domba.” Dia menjawab: “Itu karena penggembalanya selaras dengan Tuhan.” Dengan kata-kata itu, dia meletakkan sebuah baki kayu di bawah sebuah batu karang, dan dua mata air terpancar dari batu karang itu, yang satu susu dan satunya lagi madu. “Wahai Syaikh!” aku berseru, selagi dia menyuruhku minum, “bagaimana engkau mencapai derajat ini?” Dia menjawab: “Dengan ketaatan kepada Muhammad, Rasulullah. Wahai anakku; batu karang memberikan air kepada umat Musa,2 meskipun mereka tidak taat kepadanya, dan meskipun Musa tidak sama derajatnya dengan Muhammad: mengapa batu karang itu tak memberikan susu dan madu kepadaku, padahal aku taat kepada Muhammad, yang lebih tinggi derajatnya daripada Musa?” Aku berkata: “Berilah aku wejangan.” Dia berkata: “Jangan jadikan hatimu keranjang keinginan hawa nafsu dan perutmu periuk barang-barang haram.”

Syaikhku mengetahui hadis-hadis lebih lanjut mengenai diri beliau, tetapi aku tak mungkin dapat mengemukakan lebih daripada ini. Kitab-kitabku masih tertinggal di Ghazna — semoga Tuhan menjaganya — sementara aku sendiri telah menjadi seorang yang terpenjara di tengah-tengah kaum yang tabiatnya tak sama denganku di distrik Lahawur, yang dikuasai Multan. Segala puji bagi Allah dalam keadaan suka maupun duka.

4. Abu Hazim Al-Madani

Dia teguh dalam kefakiran, dan benar-benar tangguh dalam beraneka pengendalian nafsu diri. ‘Amr bin ‘Utsman Al-Makki, yang menunjukkan semangat yang besar, meriwayatkan bahwa pada waktu ditanya apa saja yang dimilikinya, dia menjawab: “Keridhaan dengan Tuhan dan kemerdekaan dari umat manusia.” Seorang Syaikh pergi menjenguknya dan didapatinya dia sedang tidur. Ketika bangun, dia berkata: “Aku baru saja bermimpi bahwa Rasul saw. memberiku sebuah pesan untukmu, dan menyuruhku mengatakan kepadamu bahwa lebih baik memenuhi tugas kewajiban terhadap ibu daripada melakukan ziarah haji. Maka, kembalilah dan cobalah senangkan ibumu.” Orang yang bercerita itu segera kembali pulang, dan tidak jadi pergi ke Makkah. Hanya inilah yang telah kudengar mengenal Abu Hazim.

5. Muhammad bin Wasi’

Dia bergaul dengan banyak Tabi’in dan beberapa Syaikh terdahulu, dan memiliki pengetahuan yang sempurna tentang tasawuf. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Aku tidak pernah melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan di dalamnya.” Ini adalah suatu maqam yang tinggi dalam perenungan. Bilamana seorang manusia dikuasai oleh cinta kepada Tuhan. dia mencapai derajat sedemikian sehingga dia tidak memandang tindakan kecuali hanya Tuhan semata-mata, seperti seseorang yang ketika melihat sebuah lukisan, yang dilihatnya hanya pelukisnya semata. Arti hakiki kata-kata ini sama dengan sabda Ibrahim, Sahabat Tuhan (Khalil) dan Rasulullah, yang berkata kepada matahari, bulan dan bintang-bintang: “Inilah Tuhanku” (QS 6:76-8), karena dia dikuasai rasa rindu (syawq), sehingga kualitas-kualitas kekasihnya tampak baginya pada setiap , sesuatu yang dia lihat. Sahabat-sahabat Tuhan memahami bahwa alam semesta tunduk kepada kekuatan-Nya dan berada dalam kekuasaan-Nya, dan bahwa perwujudan segala ciptaan seakan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kekuatan Sumber segala sesuatu itu. Ketika mereka memandang ke sana dengan kerinduan, mereka tidak melihat yang tunduk, yang pasif dan yang dicipta, melainkan hanya Yang Mahakuasa, Sumber segalanya, Sang Pencipta. Akan aku bahas masalah ini dalam Bab mengenai “Perenungan”. Sementara orang telah berbuat salah, dan mengatakan bahwa kata-kata Muhammad bin Wasi’, “Aku melihat Tuhan di dalamnya,” melibatkan tempat pemisahan dan turun (makan-i tajziya u hulul), yang jelas-jelas merupakan kekufuran, karena tempat itu sejenis dengan apa yang terkandung di dalamnya, dan jika seseorang menganggap bahwa tempat itu diciptakan, objek yang terkandung harus juga diciptakan; atau jika yang terakhir ini menjadi kekal, yang pertama juga harus menjadi kekal; maka, pernyataan ini mengandung dua macam akibat buruk, yang kedua-duanya merupakan kekufuran, yaitu, baik pernyataan bahwa benda-benda yang diciptakan adalah kekal (qadim) maupun pernyataan bahwa Tuhan Pencipta adalah tidak-kekal (muhdats). Karenanya, ketika Muhammad bin Wasi’ mengatakan bahwa dia melihat Tuhan dalam benda-benda, yang dia artikan, seperti yang telah aku terangkan di atas, adalah bahwa dia melihat dalam benda-benda itu tanda-tanda dan bukti-bukti tentang Tuhan.

Aku akan membahas di tempat yang sesuai tentang segi-segi musykil tertentu yang berkaitan dengan persoalan ini.

6. Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al-Kharraz

Dia adalah Imam dari segala Imam dan teladan di kalangan Sunni. Dia amat piawai dalam soal-soal pengendalian nafsu diri dan ibadah, dan guru besar dalam prinsip-prinsip tasawuf. Pada mulanya dia ingin memisahkan diri dari pergaulan umum, untuk membuat hatinya bebas dari setiap pikiran tentang kekuasaan dan kebesaran manusia. Suatu malam, dia bermimpi mengumpulkan tulang-tulang Rasulullah saw. dari kuburannya dan memilih sebagian dan meninggalkan yang lainnya. Dia tersentak dari tidurnya dalam keadaan kacau dan bertanya kepada salah seorang murid Muhammad bin Sirin3 (untuk menafsirkan mimpi itu). Orang yang ditanyai ini berkata kepada Abu Hanifah: “Engkau akan mencapai suatu derajat yang tinggi dalam ilmu Rasulullah dan dalam melestarikan Sunnahnya, sehingga engkau akan dapat menjaga keaslian Sunnahnya.” Pada waktu yang lain, Abu Hanifah bermimpi bahwa Rasul berkata kepadanya: “Engkau telah dicipta untuk tujuan menghidupkan kembali Sunnah-sunnahku.” Dia adalah guru dari sejumlah besar Syaikh, seperti Ibrahim bin Adham, Fudhayl bin ‘Iyadh, Dawud Tha’i dan Bisyr Hafi.

Pada masa kekuasaan Khalifah Manshur, sebuah rencana dibentuk untuk mengangkat salah seorang tokoh berikut ini sebagai Qadhi: Abu Hanifah, Sufyan Tsawri, Mis’ar bin Kidam, dan Syurayh. Sementara mereka berjalan bersama-sama untuk menemui Manshur, yang telah menyuruh mereka untuk memenuhi panggilannya, Abu Hanifah berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Aku akan menolak jabatan ini dengan cara tertentu; Mis’ar hendaknya berpura-pura gila, Sufyan hendaknya lari, dan Syurayh hendaknya menjadi Qadhi.” Sufyan lalu kabur dan bertolak meninggalkan pelabuhan dengan sebuah kapal, membujuk kaptennya untuk menyembunyikan dan membebaskannya dari hukuman. Yang lainnya bersidang di hadapan Khalifah. Manshur berkata kepada Abu Hanifah: “Engkau harus bertindak sebagai Qadhi.” Abu Hanifah menjawab: “Wahai Amirul Mu’minin, aku bukan seorang Arab, melainkan salah seorang sahabat mereka; dan pemimpin-pemimpin Arab tidak akan menerima keputusan-keputusanku.” Manshur berkata: “Masalah ini tak ada hubungannya dengan garis keturunan; hanya membutuhkan keahlian ilmu, dan engkau adalah alim terkemuka pada zaman ini.” Abu Hanifah tetap mempertahankan diri bahwa dia tak cocok memegang jabatan itu. “Apa yang baru kukatakan tadi, menunjukkan hal itu,” ujarnya “karena jika telah kukatakan bahwa aku tidak cocok, dan jika telah kukatakan sebuah kebohongan, tentu tidak dibenarkan seorang pendusta menjadi hakim atas kaum Muslim, dan tidak dibenarkan pula engkau mempercayakan kepadanya kehidupan, kekayaan, dan kehormatan yang engkau miliki.” Dia mengelak dengan cara ini. Lalu Mis’ar tampil ke muka dan menjabat tangan Khalifah seraya berkata: “Apa kabarmu, dan anak-anakmu, serta hewan-hewan ternak piaraanmu?” “Keluarkan dia,” seru Manshur, “dia orang gila!” Akhirnya, Syurayh diberitahu bahwa dia harus mengisi lowongan jabatan itu. “Aku ini mudah sedih,” ujarnya, “dan suka melucu,” lalu Khalifah Manshur menganjurkan minum obat hingga pikirannya pulih kembali. Dengan demikian Syurayh diangkat menjadi Qadhi dan Abu Hanifah tak pernah berkata sepatah pun kepadanya lagi. Kisah ini tidak saja menggambarkan kebijaksanaan Abu Hanifah, melainkan juga keteguhannya dalam jalan kebenaran dan keselamatan, dan tekadnya untuk tidak membiarkan dirinya dibuai oleh keinginan mencari popularitas dan pengakuan duniawi. Lebih jauh, hal ini menunjukkan kesahihan celaan (malamat), karena tiga orang yang mulia ini telah menggunakan cara tertentu untuk menghindarkan diri dari popularitas. Sangat berbeda dengan ulama-ulama pada zaman sekarang yang menjadikan istana-istana para sultan sebagai kiblat mereka dan rumah-rumah para durjana sebagai puri mereka.

Suatu hari seorang ulama dari Ghazna, yang mengaku sebagai pemimpin keagamaan, menyatakan bid’ah memakai jubah bertambal (muraqqa’at). Aku berkata kepadanya: “Engkau tidak menyebutnya bid’ah bagi orang yang memakai jubah brokat,4 yang seluruhnya dibuat dari sutera dan, di samping hal itu bagi laki-laki haram untuk memakainya, yang diminta berkali-kali, yang jelas-jelas diharamkan, dari durjana durjana yang harta miliknya mutlak haram. Lalu, mengapa dikatakan bid’ah memakai jubah yang dihalalkan, yang diperoleh dari tempat halal, dan dibeli dengan uang halal? Jika engkau tidak dikendalikan oleh watak angkuh dan kesesatan jiwamu, engkau akan mengungkapkan pendapat yang lebih arif. Wanita dihalalkan memakai baju yang terbuat dari sutera, tetapi hal ini tidak dihalalkan bagi laki-laki, dan hanya diperbolehkan (mubah) bagi penderita sakit jiwa. Jika engkau menerima kebenaran dari dua pernyataan ini, engkau dimaafkan (karena telah mencela jubah bertambal). Semoga Allah menyelamatkan kita dari hilangnya kearifan! “

Yahya bin Mu’adz Al-Razi meriwayatkan sebagai berikut: “Aku bermimpi berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, di mana akan kucari engkau?’ Beliau menjawab: ‘Di dalam ilmu Abu Hanifah’.”

Suatu hari, ketika aku berada di Syria, aku tertidur di kuburan Bilal sang muazin,5 dan aku bermimpi berada di Makkah, dan Rasul masuk melalui Pintu gerbang Banu Syaybah, dengan lembutnya memeluk seorang tua seperti orang mendekap anak; aku berlari menuju beliau dan mencium tumitnya, dan berdiri keheranan siapa gerangan orang tua itu; Rasul dapat membaca pikiranku dan berkata kepadaku, “Inilah Imam kamu dan Imam negerimu,” maksudnya Abu Hanifah.

Akibat dari mimpi ini aku punya harapan besar bagi diriku dan juga bagi orang-orang di negeriku. Ini telah meyakinkan diriku bahwa Abu Hanifah adalah salah seorang Yang, karena telah meniadakan sifat-sifat alamiahnya, terus-menerus melaksanakan hukum suci, seperti yang tampak dari fakta bahwa dia didekap oleh Rasul. Jika dia berjalan kaki, sifat-sifatnya tentu masih ada, dan orang yang demikian bisa gagal, dan bisa berhasil ; namun, karena dia didekap oleh Rasul, sifat-sifatnya tentu menjadi tiada sementara dia hidup oleh sifat-sifat kehidupan Rasulullah. Rasul tak mungkin berbuat keliru, dan tidak mungkin pula orang yang hidup oleh Rasul akan jatuh ke dalam kekeliruan atau kesesatan.

Ketika Dawud Tha’i memperoleh ilmu dan menjadi seorang ahli yang terkenal, dia pergi berkunjung ke Abu Hanifah dan berkata kepadanya: “Apa yang harus kukerjakan sekarang?” Abu Hanifah menjawab: “Amalkan apa yang telah kau pelajari, karena teori tanpa praktik ibarat tubuh tanpa ruh.” Dia yang merasa puas dengan ilmu saja, bukanlah alim, dan orang alim sejati tidak puas dengan ilmu saja.

Begitu pula, petunjuk Ilahi (hidayat) melibatkan pengendalian nafsu diri (mujahadat), yang tanpa ini perenungan (musyahadat) tak dapat dicapai. Tidak ada ilmu tanpa amal karena pengetahuan adalah buah dari tindakan, maujud dan berkembang serta bermanfaat berkat barakah-barakah tindakan. Dua hal itu tak dapat dipisahkan, seperti halnya Cahaya matahari tak dapat dipisahkan dari matahari itu sendiri.

7. ‘Abdallah bin Mubarak Al-Marwazi

Dia adalah Imam pada zamannya dan bersahabat dengan banyak Syaikh terkemuka. Dia adalah pengarang karya-karya terkenal dan masyhur dengan karamah-karamahnya. Pertobatannya diriwayatkan sebagai berikut: Dia mencintai seorang gadis. Pada suatu malam, di musim dingin, dia berdiri di depan dinding rumah sang gadis, sementara sang gadis naik ke loteng rumahnya, dan mereka berdua saling bertatapan muka satu sama lain hingga fajar menyingsing. Ketika ‘Abdallah mendengar azan subuh, dia kira itu waktu shalat maghrib; dan ketika matahari mulai memancarkan sinarnya, dia sadar bahwa dia semalaman berpandangan dengan kekasihnya dengan penuh gairah. Dia insaf, dan berkata kepada dirinya sendiri: “Malulah engkau, wahai putra Mubarak! Selalukah engkau berdiri semalam suntuk demi kesenanganmu sendiri, dan jengkel ketika imam membaca sebuah surat yang panjang dari Al-Quran?” Dia bertobat dan mengabdikan dirinya kepada pengkajian agama, dan memasuki kehidupan zuhud. Dalam kehidupan zuhud ini, dia mencapai derajat tinggi sehingga suatu saat ibunya mendapatkan dia tertidur di kebun, sementara ular be?ar mengusir serangga-serangga kecil dari dirinya dengan semburan mulut ular itu. Kemudian dia meninggalkan Merw dan tinggal beberapa lama di Baghdad, bersahabat dengan Syaikh-syaikh Sufi, dan juga bermukim beberapa lama di Makkah. Ketika dia kembali ke Merw, orang-orang di kota ini menyambutnya dengan rasa persahabatan dan membangun baginya sebuah kursi kemahaguruan dan sebuah gedung kuliah. Pada waktu itu, separuh penduduk Merw menjadi pengikut hadis dan separuhnya lagi pengikut pendapat (ra’yu), seperti pada masa kini. Mereka menyebutnya radhi al-fariqayn karena dia menyetujui dua pihak itu, dan setiap golongan mengakui dia sebagai bagian dari mereka sendiri. Dia membangun dua biara sufi (ribath) di Merw — satu bagi pengikut-pengikut hadis, dan satunya lagi bagi pengikut-pengikut ra’yu — yang telah mempertahankan bentuk asli mereka sampai kini. Sesudah itu, dia kembali lagi ke Hijaz dan mukim di Makkah. Ketika ditanya keajaiban-keajaiban apa yang pernah dilihatnya, dia menjawab: “Aku melihat seorang pendeta Kristen (rahib), yang kurus karena peniadaan nafsu diri dan bungkuk karena takut kepada Tuhan. Aku meminta kepadanya untuk menerangkan kepadaku jalan menuju Tuhan. Dia menjawab, “Jika engkau kenal Tuhan, engkau akan mengenal jalan menuju Tuhan.” Kemudian dia berkata, “Aku menyembah-Nya meskipun aku tidak mengenaI-Nya, sedangkan engkau tidak taat kepada-Nya meskipun engkau mengenal-Nya,” yakni “pengetahuan melahirkan rasa takut, namun aku tahu bahwa engkau yakin; dan kekufuran diikuti kebodohan, namun aku merasakan adanya ketakutan dalam diriku.” Aku menaruhnya ke dalam hati, dan karenanya aku terkendalikan dari banyak perbuatan buruk.” Diriwayatkan bahwa ‘Abdallah bin Mubarak berkata: “Ketenangan diharamkan bagi kalbu-kalbu para wali Allah,” sebab mereka digerakkan di dunia ini oleh pencarian akan Tuhan (thalab) dan di akhirat oleh sukacita (tharab); mereka tidak diperkenankan berhenti di sini, selagi mereka jauh dari Tuhan, atau di sana, selagi mereka menikmati kehadiran, pengejawantahan, dan penglihatan akan Tuhan. Karenanya, dunia ini sama seperti akhirat dalam pandangan mereka, dan akhirat sama seperti dunia ini, sebab ketenangan hati membutuhkan dua hal, tercapainya tujuan, atau ketakpedulian terhadap objek keinginan. Karena Dia tidak dapat dijangkau di dunia ini ataupun di akhirat, maka hati senantiasa digetarkan oleh cinta; dan karena ketidakpedulian diharamkan bagi orang-orang yang mencintai-Nya, maka hati senantiasa bergejolak mendambakan-Nya. Ini adalah sebuah prinsip yang kukuh pada jalan ahli-ahli ruhani.

8. Abu ‘Ali Al-Fudhayl bin ‘Iyad

Dia adalah salah seorang miskin (sha’alik) di kalangan Sufi dan salah ?eorang tokoh Sufi yang paling terkemuka dan terkenal. Semula dia biasa merampok antara Merw dan Baward, tetapi dia selalu cenderung kepada kesalehan dan menunjukkan sikap murah hati, sehingga dia tidak akan menyerang suatu kafilah yang di dalamnya ada wanita, atau tidak akan merampas harta benda seseorang yang sedikit; dan dia tidak merampas harta musafir-musafir. Suatu hari, seorang pedagang bepergian dari kota Merw. Teman-temannya menyarankan agar dia membawa pengawal, tapi dia berkata kepada mereka: “Aku telah mendengar bahwa Fudhayl adalah seorang yang takwa kepada Tuhan bukannya melakukan apa yang mereka inginkan, dia malah membawa seorang pembaca Al-Quran di atas punggung seekor unta agar dia memperdengarkan bacaan Al-Quran dengan sekeras-kerasnya siang dan malam selama perjalanan. Ketika mereka sampai di suatu tempat di mana Fudhayl menghadang, si pembaca Al-Quran kebetulan sedang membaca ayat: “Bukankah waktu telah datang bagi orang-orang beriman, agar hati mereka tunduk kepada panggilan Tuhan?” (QS 57:15). Hati Fudhayl menjadi lembut. Dia tinggalkan pekerjaan yang selama itu dia geluti. Setelah membuat daftar orang-orang yang pernah dia rampok, dia puas dengan tuntutan-tuntutan mereka terhadap dirinya. Kemudian dia pergi ke Makkah dan bermukim di sana selama beberapa waktu dan berkenalan dengan beberapa wali Allah. Sesudah itu dia kembali ke Kufah; di sini dia bersahabat dengan Abu Hanifah. Dia melepaskan hubungan-hubungan yang dijunjung tinggi oleh ahli-ahli hadis, dan dia adalah pengarang ujaran-ujaran tinggi mengenai kenyataan-kenyataan tasawuf dan teologi. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Barangsiapa yang mengenal Allah sebagaimana Dia seharusnya dikenal, .berarti dia beribadah kepada-Nya dengan segala kemampuannya,” karena setiap orang yang mengenal Tuhan, mengakui kemuliaan dan kemurahan serta kasih-sayang-Nya, dan karena itu mencintai-Nya; dan karena dia mencintai-Nya, dia taat kepada-Nya sejauh dia mampu, sebab tidak sulit menaati yang dicintai. Karenanya, semakin mencintai, semakin taat, dan cinta semakin kuat dengan pengetahuan yang hakiki.6 Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Dunia adalah rumah sakit jiwa, dan orang-orang yang ada di dalamnya adalah orang-orang gila, memakai belenggu-belenggu dan rantai-rantai.” Nafsu adalah belenggu kita dan dosa adalah rantai kita.

Fadhl bin Rabi’ meriwayatkan sebagai berikut: “Aku menyertai Harun Al-Rasyid ke Makkah. Setelah kami melaksanakan ibadah haji, dia berkata kepadaku, “Adakah di sini hamba Tuhan yang bisa aku kunjungi?” Aku menjawab, “Ya, ‘Abdur-Razzaq Shan’ani. “7 Kami pergi ke rumahnya dan berbincang dengannya sebentar. Ketika kami minta pamit, Harun menyuruhku bertanya apakah dia punya utang-utang. Dia berkata, “Ya,” dan Harun memerintahkan agar utang-utang itu dibayar. Setelah berada di luar, Harun berkata kepadaku, “Wahai Fadhl, hatiku masih ingin menemui seorang tokoh yang lebih besar daripada orang ini.” Aku mengajak dia pergi ke Sufyan bin ‘Uyaynah.8 Kedatangan kami berakhir seperti itu juga. Harun memerintahkan supaya membayar utang-utangnya dan segera meninggalkan tempat itu. Kemudian dia berkata kepadaku, “Aku ingat bahwa Fudhayl bin ‘Iyadh ada di sini; marilah kita pergi menemuinya.” Kami menjumpainya di kamar atas sedang membaca sebuah ayat suci Al-Quran. Ketika kami mengetuk pintunya, dia berseru, “Siapakah itu?” Aku menjawab, “Amirul Mu’minin.” “Apa hubunganku dengan Amirul Mu’minin?” katanya. Aku berkata, “Bukankah ada hadis Rasul yang mengatakan bahwa orang tidak boleh menghinakan dirinya karena ibadah kepada Tuhan?” Dia menjawab, “Ya, cuma kepasrahan kepada kehendak Tuhan (ridha) adalah kemuliaan yang abadi dalam pandangan kaum Sufi; engkau melihat kerendahan diriku, namun aku melihat kemuliaanku.” Kemudian dia turun dan membuka pintu, seraya mematikan lampu dan berdiri di sebuah sudut. Harun masuk dan berusaha mencarinya. Tangan mereka saling bersentuhan. Fudhayl berseru, “Aduh! tak pernah kurasakan tangan sehalus ini; akan sangat mengagumkan jika tangan ini selamat dari azab Tuhan.” Harun mulai meneteskan air mata, dan tetesan demikian derasnya sehingga dia terisak-isak. Ketika sudah tenang kembali, Harun berkata, “Wahai Fudhayl, berilah aku nasihat.” Fudhayl berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, leluhurmu (‘Abbas) adalah paman Al-Mushthafa (Nabi Muhammad saw.). Dia memohon kepada Nabi agar memberinya kekuasaan atas umat manusia. Nabi menjawab, ‘Wahai pamanku, aku akan memberimu kekuasaan selama satu masa atas dirimu sendiri,’ yakni satu masa ketaatanmu kepada Tuhan adalah lebih baik daripada seribu tahun ketaatan orang-orang kepadamu, karena kekuasaan itu akan membawa penyesalan pada Hari Kiamat.” Harun berkata, “Nasihati aku lagi.” Fudhayl meneruskan: “Ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz diangkat menjadi Khalifah, dia memanggil Salim bin ‘Abdallah dan Raja bin Hayat, serta Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, dan berkata kepada mereka, ‘Apa yang harus kulakukan dalam kesulitan ini? Karena aku memandang kekhalifahan sebagai kesulitan, meskipun pada umumnya orang-orang mengatakannya sebagai keberuntungan.’ Salah satu di antara mereka menjawab: ‘Jika engkau hendak diselamatkan kelak dari hukuman Tuhan, pandanglah orang-orang Muslim yang lebih tua darimu sebagai ayah-ayahmu, dan pemuda-pemudanya sebagai saudara-saudaramu, serta anak-anaknya sebagai anak-anakmu juga. Seluruh kawasan Islam adalah rumahmu, dan penduduknya adalah keluargamu. Kunjungilah bapakmu, dan hormatilah saudaramu, serta sayangilah anak-anakmu Itu’.” Lalu Fudhayl berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, aku khawatir kalau-kalau wajahmu yang rupawan ini membawamu ke dalam api neraka. Bertakwalah kepada Tuhan, dan laksanakan kewajiban-kewajibanmu kepada-Nya lebih baik dari ini.” Harun bertanya kepada Fudhayl apakah dia punya utang. Dia menjawab, “Ya, utang kepada Tuhan, yakni ketaatan kepada Tuhan; celakalah aku, kalau Dia memanggilku untuk mempertanggungjawabkannya! “ Harun berkata, “Wahai Fudhayl, aku berbicara tentang utang-utang kepada manusia.” Dia menjawab, “Terpujilah Tuhan! Kemurahan-Nya kepadaku sungguh besar, dan aku tak punya alasan untuk mengeluhkan tentang-Nya kepada hamba-hamba-Nya.” Harun menghadiahkan kepadanya sekantong uang berjumlah seribu dinar, seraya berkata, “Gunakan uang ini untuk keperluanmu.” Fudhayl berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, nasihat-nasihatku tidak memberikan kebaikan kepadamu. Di sini pula engkau bertindak salah dan tidak adil.” Harun berseru, “Bagaimana itu?” Fudhayl berkata, “Kuinginkan engkau selamat, namun engkau mencampakkan aku ke dalam siksa neraka; bukankah ini tidak adil?” Kami meninggalkannya dengan linangan airmata, dan Harun berkata kepadaku, “Wahai Fadhl, Fudhayl adalah seorang raja yang sejati.”

Semua ini menunjukkan kebenciannya terhadap dunia dan orang-orangnya, dan pelecehannya terhadap nikmat-nikmatnya, serta penolakannya untuk merendahkan dirinya di hadapan benda-benda duniawi demi memperoleh keuntungan duniawi.

9. Abul Fayd Dzun Nun bin Ibrahim Al-Mishri

Dia adalah putra seorang Nubia, yang bernama Tsawban. Dia adalah salah seorang yang terbaik dari mazhab ini, dan salah seorang ahli keruhanian paling terkemuka (‘ayyaran) mereka, karena dia menempuh jalan penderitaan dan celaan (malamat). Semua orang Mesir mengkhawatirkan keadaannya yang sebenarnya, dan tidak percaya kepadanya sampai dia meninggal dunia. Di malam kematiannya, tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah yang bersabda: “Aku datang menemui Dzun Nun, wali Allah.” Dan sesudah kematiannya, kata-kata berikut didapati tertulis pada keningnya: Ini adalah kekasih Tuhan, yang mati dalam mencintai Tuhan, dibunuh oleh Tuhan. Pada saat penguburannya, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya, dan mengembangkan sayap-sayap mereka bersama-sama seakan-akan memayung?nya. Pada saat melihat peristiwa ini, semua orang Mesir merasa menyesali ketidakadilan yang telah mereka perbuat terhadapnya. Dia mempunyai banyak ujaran yang bagus mengenai prinsip-prinsip ilmu mistik. Dia mengatakan, sebagai contoh: “Ahli makrifat (‘arif) bertambah miskin setiap hari, karena dia semakin mendekati Tuhannya setiap saat,” karena dia menyadari kedahsyatan Kekuasaan Tuhan, dan bilamana keagungan Tuhan telah merenggut hatinya, dia menyadari betapa jauh dia dari Tuhan, dan bahwa tiada jalan untuk mencapai-Nya; maka dari itu dia semakin miskin. Untuk itu Musa berkata, ketika dia berbincang-bincang dengan Tuhan: “Wahai Tuhan, di mana akan kucari Engkau?” Tuhan menjawab: “Di antara orang-orang yang hatinya remuk.” Musa berkata: “Wahai Tuhan, tidak ada hati yang lebih remuk dan berantakan daripada hatiku.” Tuhan menjawab: “Nah, Aku ada di mana engkau ada.” Karena itu, seseorang yang mengaku mengenal Allah, sementara dia tidak miskin dan tidak takut, adalah seorang jahil lagi bodoh, bukan seorang ahli makrifat. Tanda dari ilmu sejati ialah ketulusan kehendak, dan kehendak yang tulus akan memutuskan sebab-sebab sekunder dan semua tali perhubungan, sehingga tak ada yang tinggal kecuali Tuhan. Dzun Nun berkata: “Ketulusan (shidq) adalah pedang Tuhan di bumi; ia memotong setiap sesuatu yang ia sentuh.” Nah, ketulusan berhubungan dengan Sang Penyebab, dan bukan terletak dalam pengukuhan sebab-sebab sekunder. Mengukuhkan sebab-sebab sekunder berarti menghancurkan prinsip ketulusan.

Di antara kisah-kisah yang dituturkan tentang Dzun Nun yang aku baca ialah bahwa suatu hari dia berlayar dengan murid-muridnya dengan sebuah perahu di Sungai Nil, suatu kebiasaan orang Mesir apabila mereka ingin berekreasi. Ada perahu lain bermuatan orang-orang yang suka berhura-hura yang perilaku mereka memuakkan murid-murid Dzun Nun. Murid-murid ini meminta Dzun Nun untuk memanjatkan doa kepada Allah memohon agar perahu itu tenggelam. Dzun Nun mengangkat kedua belah tangannya dan berseru: “Wahai Tuhan, sebagaimana Engkau telah memberi orang-orang itu suatu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka suatu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti!” Murid-muridnya tercengang-cengang dengan doanya itu. Ketika perahu itu mendekat dan penumpangnya melihat Dzun Nun, mereka mulai menyesal dan minta maaf, dan meremukkan kecapi-kecapi mereka dan bertobat kepada Tuhan. Dzun Nun berkata kepada murid-muridnya: “Suatu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti adalah bertobat di dunia ini. Kalian dan mereka semua puas tanpa merugikan siapa pun.” Jadi dia bertindak karena kasih sayangnya yang teramat sangat terhadap kaum Muslim, mengikuti teladan Rasul, Yang, bagaimanapun perlakuan jahat yang dia terima dari orang-orang kafir, tak pernah berhenti berucap: “Ya Tuhan! bimbinglah umatku, karena mereka tidak tahu.” Dzun Nun meriwayatkan bahwa ketika dia sedang mengadakan perjalanan dari Yerusalem ke Mesir, dia melihat di kejauhan seseorang bergegas mendekatinya, dan penasaran ingin menanyakan sesuatu. Ketika orang itu sudah dekat, barulah dia jelas bahwa itu adalah seorang wanita tua yang membawa sebuah tongkat (‘ukkaza),9 dan memakai jubah bulu domba. Dia bertanya kepada wanita tua itu dari mana dia datang. Dijawabnya: “Dari Tuhan.” “Dan ke mana engkau pergi?” “Kepada Tuhan.” Dzun Nun mengeluarkan sekeping emas yang dipunyainya dan memberikannya kepada wanita tua itu, tetapi dia menolak dan berseru: “Wahai Dzun Nun, pengertianmu tentang diriku muncul dari kelemahan akalmu. Aku bekerja hanya untuk Tuhan semata, dan tidak menerima sesuatu pun kecuali dari-Nya. Aku beribadah kepada-Nya saja dan mendapatkan dari-Nya saja.” Setelah berkata begini, dia pun pergi.

Ujaran wanita tua bahwa dia bekerja demi Tuhan semata membuktikan ketulusannya dalam cinta. Orang yang berhubungan dengan Tuhan terbagi ke dalam dua kelompok. Sebagian membayangkan bahwa mereka bekerja demi Tuhan semata, padahal mereka benar-benar bekerja demi diri mereka sendiri; dan meskipun pekerjaan mereka tidak dilakukan dengan suatu tujuan duniawi, mereka menginginkan pahala di akhirat nanti. Yang lain tak pernah berpikir tentang pahala ataupun hukuman di akhirat kelak, juga bukan tentang ke-riya’-an dan mengejar harkat di dunia ini, namun bertindak semata-mata karena menjunjung tinggi perintah-perintah Tuhan. Cinta mereka kepada Tuhan menuntut mereka melupakan setiap kepentingan diri sendiri dalam mengerjakan perintah-Nya. Kelompok yang pertama membayangkan bahwa apa yang mereka kerjakan demi akhirat, itu adalah juga demi Tuhan, dan tak mengetahui bahwa orang saleh mempunyai kepentingan diri yang lebih besar dalam ibadah daripada orang durjana, karena kesenangan orang yang berbuat dosa berlangsung hanya sesaat, sementara ibadah adalah suatu kenikmatan yang abadi. Di samping itu, keuntungan-keuntungan apa yang didapat Tuhan dari amal-amal manusia, atau kerugian apa karena mereka tak melaksanakan ketentuan agama? Jika seluruh dunia bertindak dengan ketulusan Abu Bakar, keuntungannya akan menjadi milik mereka seluruhnya. Dan jika dengan kepalsuan Fir’aun, kerugiannya akan menjadi milik mereka seluruhnya, sebagaimana Tuhan berfirman: “Jika engkau berbuat kebajikan, ini untuk dirimu sendiri, dan jika engkau berbuat keburukan, ini untuk dirimu sendiri” (QS 17:7); dan juga: “Barangsiapa yang berjihad (dalam agama), jihadnya untuk keuntungan dirinya sendiri. Sesungguhnya, Allah mahakaya tak bergantung pada seluruh alam ciptaan” (QS 19:6). Mereka mengupayakan bagi diri mereka suatu kerajaan yang kekal seraya berkata, “Kami bekerja demi Tuhan;” hanya saja menempuh jalan cinta adalah hal yang lain. Para pencinta, dalam memenuhi perintah Tuhan, hanya memikirkan bagaimana memenuhi kehendak sang Kekasih, dan tak melihat apa pun selain itu.

Topik serupa akan dibahas dalam bab mengenai ketulusan (ikhlash).

10. Abu Ishaq Ibrahim bin Adham bin Manshur

Dia adalah seorang yang unik di jalannya, dan pemimpin orang-orang sezamannya. Murid dari Rasul Khidhr. Bertemu dengan sejumlah besar Syaikh Sufi di masanya, dan bersahabat dengan Imam Abu Hanifah, yang darinya dia belajar ilmu ketuhanan (‘ilm). Pada usia mudanya, dia adalah seorang Pangeran Balkh. Suatu hari, dia pergi berburu dan terpisah dari pengawalnya ketika dia sedang memburu seekor rusa. Tuhan menyebabkan rusa itu berkhutbah kepadanya dengan bahasa yang fasih: “Apakah engkau dicipta untuk tujuan ini, atau apakah engkau diperintah untuk mengerjakan ini?” Dia lalu bertobat, meninggalkan segala kebiasaannya, dan memasuki jalan zuhud. Dia berkenalan dengan Fudhayl bin ‘Iyadh dan Sufyan Tsawri, dan bersahabat dengan mereka. Sesudah bertobat dia tak pernah makan makanan apa pun kecuali apa yang didapat dengan kerjanya sendiri. Ujaran-ujarannya mengenai seluk-beluk tasawuf adalah asli dan mendalam. Junayd berkata: “Ibrahim adalah kunci ilmu pengetahuan (mistik).” Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Jadikan Tuhan sebagai sahabatmu dan tinggalkan saja manusia,” yakni ketika seseorang benar-benar dan dengan tulus hati berpaling kepada Tuhan, dan kesungguhan berpalingnya dia kepada Tuhan menuntut agar dia berpaling dari manusia, karena masyarakat manusia ada kaitannya dengan berpikir tentang Tuhan. Bersahabat dengan Tuhan itu adalah ketulusan dalam memenuhi perintah-perintah-Nya, dan ketulusan dalam ibadah bersemi dari kemurnian cinta, dan cinta yang murni kepada Tuhan terjadi karena benci kepada hawa nafsu. Barangsiapa terbuai hawa nafsu, dia terpisah dari Tuhan; dan barangsiapa terpisah dari hawa nafsu, dia hidup bersama Tuhan. Karenanya, kalian semua, umat manusia, berkenaan dengan dirimu: berpalinglah dari dirimu, maka barulah engkau berpaling dari semua manusia. Engkau berbuat keliru berpaling dari manusia dan berpaling kepada dirimu sendiri, dan berurusan dengan dirimu sendiri, padahal tindakan-tindakan manusia ditentukan oleh kemurahan dan takdir Tuhan. Kelurusan lahir dan batin (istiqamat) dari sang pencari dibangun di atas dua hal, yang satu bersifat teoretis, dan lainnya bersifat praktis. Yang pertama berupa memandang semua yang baik dan yang buruk sebagai sudah ditakdirkan oleh Tuhan, sehingga tak ada sesuatu di alam semesta yang diam atau bergerak hingga Tuhan menjadikan sesuatu itu diam atau bergerak; yang kedua berupa melaksanakan perintah Tuhan, tindakan yang benar terhadap Tuhan dan menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah Dia bebankan. Takdir tak pernah bisa menjadi hujah untuk menolak perintah-perintah-Nya. Penolakan sejati terhadap manusia adalah tidak mungkin, sampai engkau menolak dirimu sendiri. Begitu menyangkal dirimu sendiri, manusia diperlukan untuk memenuhi kehendak Tuhan; dan begitu engkau berpaling kepada Tuhan, engkau diperlukan untuk mewujudkan keputusan Tuhan. Karena itu, tidak diperkenankan merasa puas dengan manusia. Jika ingin berpuas hati dengan sesuatu selain Tuhan, setidak-tidaknya berarti puas dengan yang lain (ghayr), karena kepuasan dengan yang lain itu adalah memperhatikan Tauhid, sedangkan kepuasan dengan diri sendiri mengukuhkan sikap menganggap sepi Tuhan Pencipta (ta’thil). Karena alasan inilah Syaikh Abul Hasan Saliba10 biasa mengatakan bahwa lebih baik bagi pemula untuk berada di bawah wewenang seekor kucing daripada di bawah wewenang mereka sendiri, karena persahabatan dengan yang lain adalah demi Tuhan semata, sedangkan persahabatan dengan diri sendiri berarti memelihara hawa nafsu. Topik ini akan diperbincangkan pada tempat yang semestinya. Ibrahim bin Adham menuturkan kisah berikut: “Ketika aku sampai di gurun pasir, aku bertemu seorang tua dan berkata kepadaku, ‘Wahai Ibrahim, tahukah engkau tempat apa ini, dan mengapa engkau berkelana tanpa perbekalan dan hanya berjalan kaki?’ Aku tahu bahwa ia adalah setan. Aku keluarkan dari bajuku empat daniq — uang hasil penjualanku di Kufah — dan mencampakkannya serta berikrar bahwa aku akan melakukan shalat dengan empat ratus kali rukuk untuk setiap mil perjalanan. Aku menetap empat tahun di gurun pasir, dan Tuhan memberiku roti setiap hari tanpa aku mencarinya. Selama waktu itu Khidhr menemaniku dan mengajariku Nama Agung Tuhan. Kemudian hatiku menjadi sepenuhnya hampa dari yang ‘lain’ (ghayr).”

11. Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi

Dia bersahabat dengan Fudhayl dan murid pamannya dari pihak ibunya, ‘Ali bin Khasyram. Dia alim dalam ilmu-ilmu ushul maupun furu’. Tobatnya dimulai sebagai berikut. Suatu hari, ketika dia sedang mabuk, dia menemukan di jalanan secarik kertas bertuliskan: “Bismillahirrahmanirrahim.” Dia memungutnya dengan rasa hormat, membubuhi wewangian, dan menaruh di tempat yang bersih. Pada malam itu juga dia bermimpi Tuhan berfirman kepadanya: “Wahai Bisyr, karena engkau telah mengharumkan Nama-Ku, Aku bersumpah demi Keagungan-Ku bahwa Aku akan mengharumkan namamu di dunia dan di akhirat.” Setelah itu, dia bertobat dan memilih hidup zuhud. Demikian dalamnya dia tenggelam dalam perenungan tentang Tuhan sehingga dia tak pernah beralas kaki. Ketika ditanyakan alasan tentang hal ini, dia mengatakan: “Bumi adalah karpet-Nya, dan kukira merupakan kesalahan berjalan di atas karpet-Nya selagi masih ada sesuatu antara kakiku dan karpet-Nya.” Ini adalah salah satu praktiknya yang khas: dalam pemusatan pikirannya kepada Tuhan, sepatu bagi dia merupakan tirai (antara dia dan Tuhan). Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Barangsiapa ingin dihormati di dunia ini dan dimuliakan di akhirat kelak, hendaknya dia menyingkirkan tiga hal: hendaknya dia tidak meminta belas kasih (bantuan) seseorang, tidak membicarakan keburukan seseorang, dan tidak menerima undangan makan dari seseorang.” Orang yang mengenal jalan menuju Allah, tidak akan meminta belas kasih orang lain karena berbuat demikian adalah bukti kebodohannya tentang Tuhan; jika dia mengetahui Pemberi semua pertolongan, dia tak akan meminta pertolongan dari sesama makhluk. Orang yang membicarakan keburukan seseorang adalah mengkritik ketentuan Tuhan, karena orang itu sendiri dan tindakan-tindakannya diciptakan oleh Tuhan; dan kepada siapa lagi dapat dilemparkan celaan atas suatu tindakan, kalau bukan kepada sumbernya? Namun, hal ini tidak berlaku pada celaan yang telah Tuhan perintahkan kita untuk mengalamatkannya kepada orang-orang kafir. Ketiga, mengenai ujarannya, “Jangan makan santapan orang-orang lain,” alasannya adalah karena Tuhan adalah Pemberi rezeki yang sesungguhnya. Jika Dia membuat makhluk menjadi sarana untuk memberimu roti santapan sehari-hari, jangan perhatikan makhluk itu, tapi perhatikan bahwa roti yang Tuhan datangkan ke hadapanmu bukanlah miliknya melainkan milik Tuhan. Kalau dia berpikir bahwa itu miliknya, dan bahwa dengan demikian dia menganugerahkan nikmat bagimu, jangan diterima. Dalam masalah roti itu, seseorang tidaklah sama sekali menganugerahkan nikmat apa pun karena, menurut pandangan mayoritas kaum Muslim, roti adalah makanan (ghidza), walaupun kaum Mu’tazilah menganggapnya sebagai milik (milk); dan Tuhan, bukannya makhluk, menyantuni manusia dengan makanan. Perkataan ini bisa diterangkan dengan cara lain, jika diambil dalam arti profan atau metaforis (majaz).

12. Abu Yazid Tayfur bin ‘Isa Al-Bisthami

Dia adalah Syaikh yang paling tinggi maqam dan kemuliaannya, sehingga Junayd berkata: “Kedudukan Abu Yazid di antara kita sama seperti Jibril di antara para malaikat.” Kakeknya adalah seorang penganut agama Majusi dan ayahnya adalah salah seorang tokoh di Bistham. Dia banyak meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah, dan dia adalah salah seorang di antara sepuluh Imam tasawuf yang terkenal. Tidak ada seorang pun sebelumnya yang sedemikian menguasai ilmu ini. Dia adalah seorang pencinta ilmu kalam (teologi) dan menjunjung tinggi hukum suci (Syari’at). Dan ada saja orang-orang yang menisbahkan kepadanya doktrin palsu dengan tujuan mendukung bid’ah-bid’ah mereka. Dari semula, kehidupannya didasarkan pada peniadaan nafsu diri (mujahadat) dan praktik ibadah. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Selama tiga puluh tahun aku giat dalam peniadaan nafsu diri dan tak ada yang lebih sulit daripada mempelajari teologi dan mengikuti ajaran-ajarannya. Namun karena ketidaksepakatan ulama-ulama, aku gagal. Ketidaksepakatan ulama-ulama itu adalah rahmat, kecuali mengenai masalah Tauhid.” Sungguh, demikianlah karena kodrat manusia lebih cenderung kepada kebodohan daripada kepada pengetahuan, dan sementara banyak hal yang dapat dikerjakan secara mudah dengan kebodohan, tak satu langkah pun bisa mudah dibuat dengan pengetahuan. Jembatan hukum suci jauh lebih sempit dan lebih berbahaya daripada Jembatan (Shirat) di akhirat kelak. Maka hendaknya bertindaklah sedemikian rupa sehingga, jika engkau tak mencapai derajat yang tinggi dan maqam yang mulia, engkau tetap berada dalam lingkaran hukum suci. Malahan jika engkau kehilangan segala yang lain, engkau akan terus beribadah. Meninggalkan ibadah semacam itu adalah kesesatan terburuk yang dapat terjadi pada seorang pemula.

Diriwayatkan bahwa Abu Yazid berkata: “Surga tak ada artinya dalam pandangan para pencinta, dan para pencinta tertabiri (dari Tuhan) oleh cinta mereka,” yakni surga itu diciptakan, sedangkan cinta adalah sifat Tuhan yang tidak diciptakan. Barangsiapa tertahan oleh sesuatu ciptaan dari yang bukan ciptaan, maka dia tidak punya arti dan nilai. Segala sesuatu yang diciptakan tak berarti dalam pandangan para pencinta. Para pencinta tertabiri oleh cinta, sebab keberadaan cinta melibatkan dualitas yang tidak sesuai dengan Tauhid. Jalan para pencinta ialah dari ketunggalan menuju ketunggalan; namun, cinta memiliki kelemahan ini, sehingga ia memerlukan pendamba (murid) dan tujuan yang didambakan (murad). Tuhan harus menjadi pendamba dan manusia yang didambakan, atau sebaliknya. Dalam keadaan yang pertama, kemaujudan manusia ada dalam dambaan Tuhan, namun jika manusia adalah pendamba dan Tuhan merupakan yang didambakan, pencarian dan dambaan makhluk tak dapat menemukan jalan menuju Tuhan; dalam keadaan seperti Itu, penyakit wujud tetap ada dalam pencinta. Karena itu, pelenyapan pencinta dalam keabadian cinta lebih sempurna daripada kelanggengannya melalui keabadian cinta.

Diriwayatkan bahwa Abu Yazid berkata: “Aku pergi ke Makkah dan melihat sebuah Rumah berdiri tersendiri. Aku berkata, ‘Hajiku tak diterima karena aku telah melihat banyak batu semacam ini.’ Aku pergi lagi, dan melihat Rumah itu dan juga Tuhannya Rumah itu. Aku berkata, ‘Ini masih bukan pengesaan yang hakiki.’ Aku pergi untuk ketiga kalinya, dan hanya melihat Tuhannya Rumah itu. Suara dalam hatiku berbisik, ‘wahai Bayazid, jika engkau tidak melihat dirimu sendiri, engkau tidak akan menjadi seorang musyrik walaupun engkau melihat seluruh jagad raya; dan karena engkau melihat dirimu sendiri, engkau adalah seorang musyrik walaupun engkau buta terhadap seluruh jagad raya.’ Maka dari itu, aku bertobat lagi dan tobatku yang kali ini adalah bertobat dari memandang wujudku sendiri.”

Ini adalah sebuah kisah yang musykil mengenai keteguhan keadaannya, dan memberikan suatu petunjuk yang sangat bagus kepada ahli-ahli keruhanian.

Catatan Kaki:

  1. L. Aslam.
  2. QS 7:160.
  3. Seorang ulama terkenal, wafat pada 110 H. Lihat Ibn Khallikan, No. 576. Sebuah karya tentang tafsir mimpi dinisbahkan kepadanya (Brockelmann, i, 66).
  4. Teksnya adalah jama-i hasyisyi dibaqi. Nampaknya kata pertama harus ditulis “i”. Dilukiskan dalam Vuller’s Persian Dictionary sebagai “sejenis pakaian”.
  5. Bilal bin Rabah, muazin Nabi, dikuburkan di Damaskus.
  6. Di sini pengarang meriwayatkan dua hikayat yang menggambarkan ibadahnya Muhammad saw.
  7. Wafat pada 211 H. Lihat Ibn Khallikan, No. 409.
  8. Wafat pada 168 H. Lihat Ibn Khallikan, No. 266.
  9. Menurut catatan pinggir dalam I., ‘ukkaza adalah meja berkaki tiga di mana kantong air yang terbikin dari kulit binatang digantungkan.
  10. Lihat Nafahat, No. 347, di mana dia disebut Abul Husayn Saliba.

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team