Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

PENGANTAR PENERJEMAH

Saya berharap terjemahan karya berbahasa Persia tentang tasawuf yang tertua dan terkenal ini, dapat menyumbangkan manfaat, tidak hanya untuk sejumlah kecil mahasiswa yang menekuni mata pelajaran tasawuf sebagai bahan kajiannya yang utama, tetapi juga untuk sejumlah besar pembaca yang berminat mempelajari sejarah umum mistisisme dan mau memperbandingkan atau mempertemukan beraneka ragam perwujudan tentang mistik dalam ajaran Kristen, Buddha, dan Islam. Asal mula tasawuf dan kaitan-kaitannya dengan agama-agama besar ini, dengan sendirinya tidak dapat diterangkan di sini, dan saya menghindari persoalan-persoalan tersebut karena saya bermaksud membahasnya pada lain kesempatan. Tugas saya kali ini hanyalah mengajukan sedikit ulasan mengenai pengarang Kasyf Al-Mahjub1 dan menunjukkan karakter dari karyanya.

Abul-Hasan 'Ali bin 'Utsman bin 'Ali Al-Ghaznawi Al-Jullabi Al­ Hujwiri2 lahir di Ghazna, Afghanistan.3 Tentang kehidupannya diketahui sedikit sekali, yang secara sepintas lalu diriwayatkannya sendiri dalam Kasyf Al-Mahjub. Dia belajar tasawuf di bawah bimbingan Abul-Fadhl Muhammad bin Al-Hasan Al-Khuttali4 (h. 156) - yang pernah menjadi murid Abul-Hasan Al-Hushri (lahir 371 H) - dan di bawah bimbingan Abul-'Abbas Ahmad bin Muhammad Al-Asyqani atau Al­ Syaqani5 (h. 158). Dia juga menerima pelajaran dari Abul-Qasim Gurgani6 (h. 159) dan KhwajaMuzhaffar7 (h. 160), dan dia menyebut sejumlah besar Syaikh yang pernah dijumpainya dan diajaknya berbincang selama dalam pengembaraannya. Dia berjalan jauh dan berkeliling ke seluruh wilayah kerajaan Islam dari Syria hingga Turkistan dan dari Hindustan hingga Laut Kaspia. Di antara negeri-negeri dan tempat­tempat yang dia kunjungi adalah Azerbaijan (h. 63 dan 364), kuburan Bayazid di Bistham (h. 72), Damaskus, Ramla, dan Bayt Al-Jinn di Syria, Thus dan Uzkand, kuburan Abu Sa'id bin Abul Khayr di Mihna, Merv, dan Jabal Al-Buttaro di sebelah timur Samarkand. Dia agaknya pernah tinggal untuk sementara waktu di Irak, di mana dia terimpit oleh utang-utang (h.308).Kiranya dapat ditarik kesimpulan dari sebuah kalimat di halaman 324 bahwa dia pernah mengalami masa perkawinan singkat dan tidak menguntungkan. Akhirnya, menurut Riyadh Al­ Awliya', dia pindah ke Lahore dan mengakhiri masa hidupnya di kota tersebut. Bagaimanapun juga, menurut pernyataannya sendiri, karena dia terpenjara dan merasa sedih dalam mengarang Kasyf Al-Mahjub karena kitab-kitabnya tertinggal di Ghazna (h. 91).

Diperkirakan dia wafat pada tahun 456 H (1063-4 M) atau 464 H (1071-2 M), namun tampaknya dia hidup sezaman dengan Abul-Qasim Al-Qusyayri, yang wafat pada tahun 465 H (1072 M). Menurut observasi Rieu (Catalogue of the Persian MSS in the British Museum, i, 343) bahwa pengarang menempatkan Qusyayri setingkat dengan para sufi yang telah wafat sebelum lembaran-lembaran Kasyf Al-Mahjub ditulis, sebenarya tidaklah tepat. Pengarang mengatakan (h. 152): "Beberapa orang yang akan kusebut dalam bab ini sudah meninggal dunia, dan sebagian lagi masih hidup." Tetapi, dari sepuluh orang sufi yang dipersoalkan hanya satu orang, yaitu Abul-Qasim Gurgani, yang tak ayal lagi bahwa dia hidup ketika pengarang menulis Kasyf Al-Mahjub. Dalam Safinat Al-Awliya', nomor 71, dinyatakan bahwa Abul-Qasim Gurgani wafat pada tahun 450 H. Jika tarikh ini benar, Kasyf Al-Mahjub tentunya ditulis paling tidak lima belas tahun sebelum wafatnya Qusyayri. Di pihak lain, manuskrip Syadzarat Al-Dzahab yang saya miliki mencatat kematian Abul-Qasim Gurgani di bawah tahun 469 H, suatu tarikh yang bagi saya tampak lebih memungkinkan. Berkaitan dengan itu, maka pernyataan bahwa pengarang hidup sezaman dengan Qusyayri dapat diterima, walaupun bukti-buktinya pada pokoknya negatif, karena kita tidak dapat menekankan sepenuhnya pada fakta bahwa nama Qusyayri kadang kala dipercayai oleh kaum Muslim sepadan dengan "kenangan yang mengandung berkah". Jadi, saya memperkirakan bahwa pengarang wafat antara tahun 465 dan 469 H.8 Kelahirannya dapat ditempatkan pada dasawarsa terakhir dari abad kesepuluh Masehi atau dasawarsa pertama dari abad kesebelas, dan dia tentunya ketika itu masih remaja sekali ketika Sultan Mahmud wafat pada tahun 421 H (1030 M). Risalah-i Abdaliyya,9 sebuah risalah abad kelima belas mengenai wali-wali Islam oleh Ya'qub bin 'Utsman Al-Ghaznawi, berisi sebuah hikayat - yang akan menimbulkan risiko bila mengakui risalah tersebut sebagai mengandung nilai sejarah - tentang Al-Hujwiri. Dalam hikayat itu dikatakan bahwa pada suatu hari, di hadapan Sultan Mahmud, Al-Hujwiri berdebat dengan seorang filosof India dan mengalahkannya dengan suatu karamah. Barangkali, karena itulah dia dihormati sebagai seorang wali Allah setelah wafatnya, sehingga kuburannya di Lahore ramai dikunjungi peziarah-peziarah ketika Bakhtawar Khan menulis Riyadh Al-Awliya' pada paruh kedua abad ketujuh belas Masehi.

Dalam mukadimah Kasyf Al-Mahjub, Al-Hujwiri mengeluh bahwa dua karya awalnya telah disiarkan ke tengah khalayak ramai oleh orang­orang yang menghapus namanya dari halaman judul, dan bermaksud agar mereka sendiri dianggap sebagai pengarang-pengarangnya. Untuk menjaga agar penipuan semacam itu tidak terulang lagi, dia mencantumkan namanya pada banyak bagian dalam karya yang tersaji kali ini. Karya-karya tulisnya, yang sempat dia rujuk dalam Kasyf Al-Mahjub, adalah:

  1. Sebuah Diwan.
  2. Minhaj Al-Din, tentang metode tasawuf. Karya ini menekankan suatu ulasan terinci tentang ahl al-suffah (h. 83) dan sebuah riwayat hidup tentang Husayn bin Mansur Al-Hallaj.
  3. Asrar Al-Khiraq wa al-ma'unat, tentang jubah bertambal yang dikenakan kaum sufi.
  4. Kitab-i Jana u baqa', berisi "tentang kecongkakan dan kesembronoan pemuda"
  5. Sebuah karya, yang judulnya tidak disebutkan, tentang ujaran-ujaran Husayn bin Mansur Al-Hallaj
  6. Kitab Al-bayan li Ahl Al-Iyan, tentang persatuan dengan Allah.
  7. Bahr Al-Qulub.
  8. Al-Ri'ayat li-Huquq Allah, tentang tauhid Ilahi.
  9. Sebuah karya, yang judulnya tidak disebutkan, tentang iman (h. 258).

Tidak satu pun dari kitab-kitab tersebut yang terlestarikan.

Kasyf Al-Mahjub10 merupakan sebuah kitab yang ditulis pada belakangan dari kehidupan si pengarang, dan sebagiannya ditulis saat dia tinggal di Lahore, sebagai jawaban terhadap persoalan-persoalan tertentu yang diajukan kepadanya oleh teman sekotanya Abu Sa'id Al-Hujwiri. Tujuannya ialah untuk mengemukakan sebuah sistem tasawuf yang komprehensif, bukan untuk menghimpun sejumlah besar ujaran para Syaikh (guru Sufi) namun mendiskusikan menjelaskan doktrin-doktrin dan praktik-praktik para sufi. Sikap pengarang dalam hal ini adalah bertindak sebagai guru yang sedang mengajar muridnya. Bahkan tentang riwayat hidup dari sebuah karya (h.74-165) diungkapkan seluas-luasnya. Sebelum mengungkapkan pandangannya sendiri, dia biasanya menguji pendapat-pendapat yang ada tentang topik yang sama dan menyanggahnya jika perlu. Pembicaraan tentang persoalan-persoalan mistis dan pertentangan-pertentangan pendapat disemarakkan dengan berbagai ilustrasi yang diturunkan dari pengalaman pribadinya. Dalam hubungan ini, Kasyf Al­Mahjub lebih menarik daripada Risalah karya Qusyayri - yang bernilai tinggi sebagai sebuah himpunan ujaran-ujaran, hikayat-hikayat, definisi­ definisi, tapi mengikuti metode akademik dan agak formal dalam wadah ajaran ortodoks. Tiada seorang pun yang dapat membaca karya yang tersaji kali ini tanpa mendapatkan di balik terminologi skolastik sebuah nafas kenikmatan perenungan filosofis Persia yang sebenarnya. Meskipun dia seorang Sunni dan pengikut mazhab Hanafi, Al­Hujwiri - seperti kebanyakan sufi-sufi sebelumnya dan sesudahnya - menyelaraskan teologinya dengan suatu corak mistisisme yang tinggi, di mana teori tentang "pelenyapan" (fana) menduduki tempat yang utama. Namun, dia tidak sampai bersikap ekstrem sedemikian rupa sehingga bisa jadi kita menyebutnya sebagai seorang panteis. Dia dengan tegas mempertahankan dan menyatakan zindiq (atau bid'ah) sebagai sebuah doktrin yang mengatakan bahwa pribadi manusia dapat bercampur dan sirna di dalam Wujud Allah. Dia mengandaikan pelenyapan dengan pembakaran oleh api, yang mengalihkan kualitas semua benda kepada kualitasnya sendiri, tetapi membiarkan zat (esensi) mereka tidak berubah. Dia sepakat dengan pembimbing ruhaninya, Al-Khuttali, dalam mengambil teori Junayd bahwa "ketenangan" dalam makna istilah mistis itu lebih disukai ketimbang "kemabukan". Dia seringkali memperingatkan para pembacanya dan dengan tandas mengatakan bahwa semua sufi mencapai derajat kekudusan yang tinggi - baik yang sudah maupun yang belum - tetap terkena kewajiban menaati hukum keagamaan (Syari'at). Dalam segi-segi yang lain, seperti pembangkitan ekstasi oleh musik dan nyanyian dan penggunaan simbolisme erotik dalam puisi, dia bersikap - setidak-tidaknya - berhati-hati. Dia membela Al-Hallaj dari tuduhan sebagai seorang tukang sihir, dan menyatakan bahwa ujaran-ujaran Al-Hallaj hanya berbau wahdah al-wujud dalam kulitnya saja, tetapi memandang bahwa doktrin-doktrinnya itu tidak benar. Jelaslah bahwa dia ingin sekali melukiskan tasawuf sebagai tafsir yang benar tentang Islam, dan tentu saja bahwa tafsiran itu tidak serasi dengan pembicaraannya.11 Mau tidak mau, dengan penghormatan yang dia berikan kepada Nabi saw., kita tidak dapat memisahkan Al-Hujwiri -berkaitan dengan prinsip-prinsip utama ajarannya - dengan tokoh-tokoh sezamannya yang lebih tua maupun yang lebih muda, seperti Abu Sa'id bin Abil-Khayr dan 'Abdallah Anshari.12 Tiga tokoh sufi ini mengembangkan teosofi Persia yang diilhami oleh Faridh Al-Din 'Aththar dan Jalal Al-Din Rumi.

Bab yang sangat mengagumkan dalam Kasyf Al-Mahjub ialah bab keempat belas, "Doktrin-doktrin Pelbagai Mazhab Sufi", di mana pengarang mencantumkan dua belas mazhab tasawuf dan menguraikan masing-masing doktrin khususnya.13 Sejauh yang saya ketahui, dia adalah penulis pertama yang melakukannya. Di antara sekian mazhab sufi, hanya .mazhab Malamatiyah yang agaknya sudah dicantumkan pada kitab-kitab awal tentang tasawuf; perujukan-perujukan singkat kepada mazhab-mazhab lain seperti yang terjadi dalam kitab-kitab terkemudian, misalnya dalam Tadzkirat Al·Awliya' barangkali bersumber darinya. Persoalan mungkin timbul, "Apakah mazhab-mazhab ini benar­benar ada, atau cuma direka-reka oleh Al-Hujwiri demi keinginannya untuk mensistematisasi teori tasawuf?" Saya tidak melihat adanya dasar yang tepat pada saat ini untuk hipotesis yang terakhir, yang melibatkan anggapan bahwa Al-Hujwiri telah membuat pernyataan-pernyataan palsu. Bagaimanapun juga, sangatlah mungkin bahwa di dalam menguraikan doktrin-doktrin khusus itu - yang dia nisbahkan kepada pendiri tiap-tiap mazhab tersebut - dia kerapkali mengungkapkan pandangan-pandangannya sendiri atas subjek yang timbul dan mencampuradukkannya dengan doktrin-doktrin aslinya.

Adanya mazhab-mazhab dan doktrin-doktrin tersebut, meskipun nantinya kurang mendapat dukungan,14 bagi saya tidaklah merupakan sesuatu yang tidak dapat dipercaya; malahan sebaliknya, sesuai dengan apa yang terjadi dalam kasus Mu'tazilah dan firqah-firqah Islam yang lain. Doktrin-doktrin tertentu dihasilkan dan dielaborasi oleh Syaikh­syaikh terkenal, yang mempublikasikannya dalam bentuk risalah-risalah atau mencukupkan diri dengan berceramah tentang doktrin-doktrin tersebut sehingga, melalui proses yang akrab, doktrin yang baru itu menjadi corak utama sebuah mazhab. Lalu, mazhab-mazhab lainnya boleh menerima atau menolaknya. Dalam kasus-kasus tertentu, pertentangan tajam timbul, sedangkan ajaran baru itu memperoleh sedikit dukungan sehingga hanya terbatas pada mazhab penciptanya atau hanya dipeluk oleh sekelompok kecil paguyuban sufi. Dalam perkembangannya kemudian, hal itu lebih sering menjadi materi umum dan tersusutkan ke tingkatnya yang sebenarnya. Dr. Goldziher telah meneliti bahwa tasawuf tidak dapat dianggap sebagai suatu mazhab yang diorganisasi secara rapi di dalam Islam, dan bahwa dogma-dogmanya tidak dapat dihimpun menjadi suatu sistem yang tertib.15 Hal itu sepenuhnya benar, namun setelah membiarkan semua perbedaan­perbedaan dan perselisihan-perselisihan di situ tinggallah sebatang tubuh doktrin tertentu yang pada umumnya dianut oleh sufi-sufi dari berbagai kalangan paguyuban dan merupakan hasil dari penghimpunan bertahap dari pikiran-pikiran yang beraneka ragam.

Kemungkinan besar bahwa tradisi lisan (manqulat) adalah sumber utama Al-Hujwiri dalam hal materi pokok bagi karyanya. Dari risalah­ risalah ilmiah yang masih ada tentang tasawuf dia menyebutkan hanya Kitab Al-Luma' karya Abu Nashr Al-Sarraj, yang wafat pada tahun 377 atau 378 Hijri. Kitab tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan merupakan yang tertua menurut kelasnya. Dengan kemurahan hati A.G. Ellis, yang baru-baru ini telah mengusahakan satu-satunya copy yang kini dikenal oleh para orientalis, saya mampu membuktikan kebenaran lafal sebuah alinea yang dikutip oleh Al-Hujwiri (h. 305), dan meyakinkan diri saya bahwa dia benar-benar mengenal karya pendahulunya. Sistematika Kasyf Al-Mahjub sebagian didasarkan pada sistematika Kitab Al-Luma', dan kedua buku itu serupa satu sama lain dalam rancangan umumnya, serta rincian-rincian tertentu dari kitab yang pertama jelas meminjam dari yang kedua. Al-Hujwiri mengacu dalam catatannya tentang Ma'ruf Al-Karkhi (h. 112) kepada sejumlah riwayat hidup para sufi yang dihimpun oleh Abu 'Abd Al-Rahman Al-Sulami dan Abul-Qasim Al­Qusyayri. Meskipun dia tidak memberikan judul-judulnya, dia diperkirakan mengacu kepada Thabaqat Al-Shufiyyah karya Al-Sulami dan Risalah karya Qusyayri.16 Kasyf Al-Mahjub mengandung sebuah salinan berbahasa Persia dari bagian-bagian tertentu di dalam Risalah-nya Qusyayri, yang dengan siapa Al-Hujwiri agaknya berkenalan secara pribadi. Kutipan dari 'Abdallah Anshari terdapat pada halaman 35.

Manuskrip atau tulisan-tangan Kasyf Al-Mahjub dirawat di berbagai perpustakaan Eropa.17 Dicetak secara litografis di Lahore dan Professor Schukovski dari Saint Petersburg saat ini - seperti yang saya ketahui - tengah mempersiapkan sebuah naskah kritik. Edisi Lahore tidak teliti, terutama dalam ejaan nama-nama, tapi kebanyakan kesalahan-kesalahannya mudah diperbaiki, dan naskah itu sesuai benar dengan dua buah MSS dalam Perpustakaan Negara India (No. 1773 dan 1774 dalam Ethe's Catalogue), yang saya perbandingkan. Saya juga telah mencocokkan dengan Ms. (manuskrip) yang baik dalam Museum Inggris (Rieu's Catalogue, i, 342). Berikut ini adalah singkatan-singkatan yang dipergunakan:

  • L. menunjuk kepada Edisi Lahore.
  • I. menunjuk kepada India Office MS. 1773 (awal abad ketujuh belas).
  • J. menunjuk kepada India Office MS. 1774 (akhir abad ketujuh belas).
  • Dan B. menunjuk kepada British Museum MS. Or. 219 (awal abad ketujuh belas).

Dalam terjemahan saya, tentunya saya, telah mengoreksi naskah Lahore bilamana perlu. Sementara bagian-bagian yang meragukan yang jumlahnya hanya sedikit sekali, saya mengakui, ada sejumlah tempat di mana suatu usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar maksud si pengarang dapat ditangkap dan argumennya dapat dipahami. Logika seorang sufi Persia tentu kadang kala tampak bagi pembaca-pembaca Eropa tidak logis. Kekaburan yang lain dapat disingkirkan dengan cara memberikan anotasi, tetapi upaya ini jika benar-benar diambil akan memperluas halaman buku menjadi sangat tebal sekali.

Versi bahasa Inggris ini mendekati sempurna dan tidak ada hal penting yang dihilangkan, meskipun saya tidak segan-segan menyingkat bilamana kesempatan ada. Ahli bahasa Arab akan memberikan komentar atas suatu penyimpangan yang sewaktu-waktu terjadi antara ujaran­ujaran yang berbahasa Arab yang dicetak miring dan terjemahan-terjemahan yang menyertainya. Demikianlah yang saya terjemahkan, yang aslinya bukan bahasa Arab, melainkan berasal dari ungkapan bahasa Persia yang disuguhkan oleh Al-Hujwiri.•

Catatan kaki:

  1. Judul lengkapnya adalah Kasyf Al-Mahjub li Arbab Al-Qulub (lihat catatan kaki no. 9 di bawah) yang artinya "Menyingkap Tabir Kegaiban atau Hakikat untuk Orang-orang yang Memiliki Penglihatan Tajam atau agar Orang Memiliki Penglihatan Tajam sebagaimana Para Sufi". Pada Bab "Mukadimah", subbab 'Hijab', pengarangnya (Al-Hujwiri) secara panjang lebar menjelaskan tentang arti judul tersebut - penyunting.
  2. Jullab dan Hujwir adalah dua desa di Ghazna. Hal ini terbukti dengan kenyataan bahwa dia pernah tinggal beberapa waktu di kedua desa tersebut.
  3. Petunjuk-petunjuk tersebut terdapat dalam kitab Nafahat Al-Uns, No. 377; Safinat Al­Awliya', No. 298 (Ethe's Cat. of the Persian MSS, in the Library of the India Office, i, co. 304); Ridyadh Al-Awliya', Or. 1745, f. 140 a (Rieu's Cat. of the Persian MSS in the British Museum, iii, 975). Dalam khatimat al-tab' pada halaman terakhir Kasyf Al-Mahjub edisi Lahore, dia disebut Hadhrat-i Data Ganj-bakhsy 'Ali Al-Hujwiri.
  4. Nafahat, No. 376. Melalui Al-Khuttali, Al-Husri, dan Abu Bakr Al-Syibli pengarang Kasyf Al-Mahjub, secara ruhani, dikaitkan dengan Junayd Al-Baghdadi (lahir 297 H).
  5. Nafahat, No. 375, Nisbah Syaqqani atau Syaqani diturunkan dari Syaqqan, sebuah desa dekat Nisyapur.
  6. Ibid., No. 67.
  7. Ibid., No. 308.
  8. Tarikh 465 H dikemukakan oleh Azad dalam karya biografisnya tentang orane-orang terkenal dari Balgram, yang berjudul Ma'atsir Al-Kiram.
  9. Lihat Ethe's Cat. of the Persian MSS in the India Office Library, No. 1774 (2). Pengarang risalah ini tidak menyebut Al-Hujwiri sebagai saudara Abu Sa'id bin Abil-Khayr, seperti halnya Ethe katakan, melainkan saudara ruhani:nya (biradar-i haqiqat).
  10. Judul lengkapnya ialah Kasyf Al-Mahjub li-Arbab Al-Qulub (Hajji Khalifa, v, 215).
  11. Pandangan pengarang terhadap ketidak-berartian bentuk-bentuk lahiriah agama diungkapkan dengan tegas dalam pembahasannya tentang ibadah haji (h. 292-298).
  12. Banyak bagian dari Kasyf Al-Mahjub yang dikutip, kata demi kata, dalam Nafahat Al-Uns karya Jami', yang merupakan resensi Thabaqat Al-Shufiyyah karya 'Abdallah Anshari yang dipermodern dan diperluas.
  13. Ikhtisar doktrin-doktrin ini akan dijumpai dalam esai tentang ''The Oldest Persian Manual of Sufism" yang saya baca di Oxford pada tahun 1908 (merupakan terjemahan dari Third International Congres for the History of Religions, i, 293-7).
  14. Sebagian dari dua belas mazhab menurut Al-Hujwiri, muncul kembali pada suatu masa kemudian sebagai tarikat-tarikat darwisy. Namun, sihilah tarikat-tarikat itu yang menarik garis asal-usulnya dari sufi-sufi awal biasanya bersifat fiktif.
  15. J.R.A.S., 1904, h. 130.
  16. Bagaimana pun juga, bandingkan dengan h.114, catatan (Edisi Inggris).
  17. Lihat Ethe's Catalogue of the Persian MSS in the Li India Office Library, i, col. 970, di mana MSS lain disebut, dan Blochet, Cat. des manuscrits persans de la Bibliotheque Nationale, i, 261 (No. 401).

Reynold A. Nicholson

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team