|
|
6. Tentang Pencelaan
Jalan pencelaan telah dijalani oleh beberapa Syaikh Sufi.
Pencelaan mempunyai pengaruh yang besar dalam menciptakan
cinta yang tulus. Pengikut-pengikut Kebenaran (ahl-i
haqq) menjadi terkenal karena menjadi objek pencelaan
orang awam, terutama tokoh-tokoh kelompok ini. Rasulullah
saw., yang menjadi teladan dan pemimpin orang-orang yang
mengikuti Kebenaran, dan yang mengungguli derajat
pencinta-pencinta Tuhan, dihormati dan martabat baiknya
diakui oleh semua orang hingga penjelasan tentang Kebenaran
diwahyukan kepada beliau dan ilham ttirun kepada beliau.
Kemudian orang-orang secara sembarangan mencela beliau.
Sebagian orang mengatakan, Dia seorang
pengada-ada; yang lain, Dia seorang
penyair; yang lain lagi, Dia orang gila;
yang lain, Dia seorang pendusta; dan sebagainya.
Dan Tuhan berfirman, yang melukiskan orang-orang beriman
yang sejati: Mereka tidak takut celaan
seseorang; itulah rahmat Tuhan yang Dia anugerahkan kepada
siapa pun yang Dia kehendaki; Tuhan adalah Maha Pemurah dan
Bijaksana (QS 5:59). Demikianlah ketetapan Tuhan,
bahwa Dia menyebabkan orang-orang yang berbicara tentang Dia
dicela oleh seluruh dunia, namun melindungi hati mereka dari
termakan oleh celaan dunia itu. Ini Dia lakukan karena
cemburu: Dia menjaga pencinta-pencinta-Nya dari memandang
kepada yang lain (ghayr), supaya mata
seorang asing tidak, melihat keindahan keadaan mereka; dan
Dia juga menjaga mereka dari memandang diri mereka sendiri,
supaya mereka tidak menyadari keindahan mereka sendiri dan
jatuh ke dalam kebanggaan diri dan kesombongan. Karenanya
Dia membuat orang-orang awam dengan seenaknya mencela
mereka, dan telah menjadikan jiwa yang mencela
(nafs-i lawwamah) bagian dari hidup mereka, supaya
mereka bisa dicela oleh orang lain atas apa saja yang mereka
lakukan, dan oleh mereka sendiri karena berbuat buruk atau
karena berbuat baik secara tak sempurna.
Nah, ini adalah sebuah prinsip yang kuat dalam jalan
menuju Allah, karena dalam jalan ini tidak ada noda atau
tirai yang lebih sulit disingkirkan, selain kebanggaan diri.
Tuhan dengan Kemurahan-Nya telah menutup jalan kekeliruan
bagi sahabat-sahabat-Nya. Perilaku-perilaku mereka,
betapapun baiknya, tidak diterima oleh orang-orang awam,
yang tidak melihat mereka sebagaimana mestinya; dan mereka
sendiri tidak memandang tindak-tindakan mujahadat mereka,
betapapun banyaknya, sebagai berasal dari kekuatan dan
kekuasaan mereka sendiri: akibatnya mereka tidak menyenangi
diri mereka sendiri dan terlindung dari membanggakan diri.
Barangsiapa yang diridhai oleh Allah, tidak diterima oleh
orang-orang awam, dan barangsiapa yang dipilih oleh dirinya
sendiri, tidak termasuk di antara orang-orang pilihan Tuhan.
Makanya Iblis diterima oleh umat manusia dan diterima oleh
malaikat-malaikat, dan ia menyenangi dirinya sendiri; tetapi
karena Tuhan tidak menyukai dia, maka penerimaan mereka
hanya membawa laknat atasnya. Adam, di lain pihak, tidak
disetujui oleh malaikat-malaikat yang berkata:
Akankah Engkau tempatkan di situ (di muka bumi)
orang yang akan berbuat kerusakan di dalamnya? (QS
2:30), dan tidak menyenangi dirinya sendiri, karenanya ia
berkata: Wahai Tuhan, kami telah menganiaya diri
sendiri (QS 7: 23); tetapi karena Tuhan
menyukainya, ketidaksetujuan malaikat-malaikat dan
ketidak-sukaan diri sendiri telah membawa buah rahmat.
Karenanya, supaya semua manusia tahu bahwa orang-orang yang
diterima oleh kita ditolak orang banyak, dan yang diterima
oleh orang banyak ditolak oleh kita. Maka dari itu celaan
manusia adalah makanan sahabat-sahabat Tuhan, karena ini
merupakan tanda keridhaan Tuhan; ini merupakan kenikmatan
bagi wali-wali Allah, karena ini merupakan tanda kedekatan
dengan Dia: mereka merasakan kenikmatan di dalamnya
sebagaimana orang-orang lain merasakan nikmatnya
kemasyhuran. Ada sebuah hadis qudsi yang diterima Rasulullah
dari Jibril, bahwa Tuhan berfirman: Sahabat-sahabat-Ku
(wali-wali) berada di balik tirai-Ku; selain Aku, tak satu
pun yang mengetahui mereka, kecuali
sahabat-sahabat-Ku.
Jenis Celaan
Nah, celaan (malamat) ada tiga jenis: yang
merupakan akibat (1) dari mengikuti jalan yang lempang
(malamat-i rast raftan), atau (2) dari tindakan yang
disengaja (malamat-i qashd kardan), atau (3) dari
meninggalkan hukum (malamat-i tark kardan). Dalam
kasus yang pertama, seseorang dicela karena memperhatikan
urusannya sendiri, melaksanakan kewajiban agamanya, dan
senantiasa tidak meninggalkan amal ibadah: sepenuhnya dia
tidak mempedulikan kelakuan orang terhadap dirinya. Dalam
kasus kedua, seseorang dihormati setinggi-tingginya oleh
orang banyak: hatinya cenderung kepada kehormatan yang
diperolehnya, dia ingin membuat dirinya bebas dari mereka
dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan; maka dia
sengaja membiarkan celaan mereka dengan melakukan tindakan
tertentu untuk menyerang mereka tetapi tidak melanggar
hukum: akibat tindakannya, mereka cuci tangan dari dia.
Dalam kasus ketiga, seseorang didorong oleh kekufuran
alamiahnya dan akidah-akidah yang salah untuk meninggalkan
hukum suci dan untuk tidak mematuhinya, dan berkata kepada
dirinya sendiri, Aku tapakkan kaki di jalan
pencelaan; dalam ini kelakuannya bergantung pada
dirinya sendiri.
Dia yang mengikuti jalan yang lempang dan menolak untuk
bertindak munafik, dan mencegah sikap pamer, tidak perduli
dengan orang banyak, tapi tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri
dia terus berjalan: sama saja bagi dia nama apa yang mereka
alamatkan kepadanya. Ada sebuah hikayat (tentang orang-orang
suci) bahwa pada suatu hari Syaikh Abu Thahir Harami
terlihat di pasar, menunggang seekor keledai dan diikuti
oleh salah seorang muridnya. Seseorang berteriak, Ini
dia si tua penganut aliran berpikir bebas! Sang murid
yang merasa jengkel lalu menyerang orang yang berteriak itu,
berusaha memukulnya, dan seisi pasar menjadi gaduh. Syaikh
itu berkata kepada muridnya: Jika engkau mau diam, aku
akan tunjukkan kepadamu sesuatu yang akan menyelamatkan
engkau dari keresahan semacam ini. Ketika mereka
pulang, dia memerintahkan muridnya membawa sebuah kotak yang
berisi surat-surat, dan menyuruh sang murid melihat
surat-surat itu. Perhatikan, katanya,
bagaimana penulis-penulis surat ini berkata kepadaku.
Ada yang memanggilku Syaikh Islam, ada yang
menyebut Syaikh yang suci, Syaikh yang
zuhud, Syaikh dua Tempat Suci, dan
seterusnya. Semuanya itu adalah gelar, tidak ada yang
menyebut namaku. Aku sama sekali bukanlah gelar-gelar itu,
tetapi setiap orang memberiku gelar menurut kepercayaannya
mengenai diriku. Jika orang yang tak mengerti itu baru saja
melakukan hal yang sama, mengapa engkau mesti bertengkar
dengannya?
Orang yang tidak mempedulikan celaan, menanggalkan
kehormatan, dan menarik diri dari kekuasaan, dia seperti
Khalifah Utsman yang, meskipun dia mempunyai empat
ratus budak, ketika pulang dari kebun kurmanya membawa
seikat kayu bakar di atas kepalanya. Ketika ditanya mengapa
dia berbuat begitu, dia menjawab: Aku ingin menguji
diriku. Dia tidak akan membiarkan kemuliaan yang
didapatnya menghalanginya dari bekerja. Ada sebuah kisah
yang serupa tentang Imam Abu Hanifah dalam risalah (uraian)
ini. Juga ada sebuah cerita bahwa ketika Abu Yazid memasuki
Rayy dalam perjalanannya dari Hijaz, masyarakat kota itu
berbondong-bondong menemuinya untuk menunjukkan rasa hormat
kepadanya. Perhatian mereka mengacaukan hatinya dan
memalingkan pikiran-pikirannya dari Tuhan. Ketika dia sampai
di pasar, dia mengeluarkan sepotong roti dari lengan bajunya
dan mulai memakannya. Mereka semua pada pergi, karena pada
saat itu bulan Ramadhan. Dia berkata kepada seorang murid
yang menemaninya dalam perjalanan: Engkau mengerti
begitu aku laksanakan satu hukum,1 mereka semua
menolakku. Pada masa itu perlu, untuk menjadikan diri
bahan celaan, melakukan sesuatu yang tidak disetujui atau
yang luar biasa; tetapi pada zaman kita, jika seseorang
ingin dicela, dia cukup memperpanjang sedikit shalat-shalat
nafalnya (shalat sunnah) atau melakukan praktik-praktik
keagamaan yang dianjurkan: pada saat itu setiap orang akan
menyebutnya munafik.
Orang yang meninggalkan hukum dan melakukan tindakan yang
dilarang agama, dan mengatakan bahwa dia mengikuti
garis-aturan celaan, berarti benar-benar salah,
keji, dan memperturutkan hawa nafsu. Pada zaman sekarang
banyak orang yang mencari popularitas dengan cara ini,
mereka lupa bahwa seseorang tentu sudah memperoleh
popularitas sebelum melakukan tindakan sedemikian rupa
sehingga membuat orang menolak dia; jika tidak demikian,
upayanya membuat dirinya tidak populer, hanya sekadar dalih
yang dibuat-buat untuk mendapatkan popularitas. Pada
kesempatan tertentu aku bersama dengan salah seorang yang
membuat-buat dalih seperti itu. Dia melakukan suatu tindakan
keji dan memaafkan dirinya dengan mengatakan bahwa dia
melakukannya demi dicela orang. Salah seorang dari golongan
itu berkata, Itu sia-sia. Dia mengungkapkan rasa
sedih. Aku mengatakan kepadanya: Jika engkau mengaku
menjadi seorang Malamati dan kukuh dalam kepercayaanmu,
ketidaksetujuan orang ini tentang apa yang telah engkau
lakukan harus membuatmu tabah hati; dan karena dia
membantumu memilih jalanmu, mengapa engkau begitu benci dan
marah kepadanya? Kelakuanmu lebih menyerupai kepura-puraan
daripada menghendaki celaan. Barangsiapa yang mengaku
dipimpin oleh Kebenaran, harus memberikan bukti tertentu
mengenai pernyataannya, dan pembuktian itu berupa menunaikan
yang sunnah. Engkau membuat pengakuan ini, padahal aku lihat
engkau telah gagal melaksanakan suatu kewajiban keagamaan.
Perilakumu menempatkan engkau di luar batas Islam.
Hikmah di Balik Celaan
Doktrin tentang celaan disebarkan dalam mazhab ini oleh
Syaikh zamannya, Hamdun Qashshar. Dia mempunyai banyak
ujaran yang bagus tentang masalah ini. Diriwayatkan bahwa
dia berkata: Al-malamat tark al-salamat (Celaan
adalah meninggalkan kesejahteraan). Jika seseorang sengaja
meninggalkan kesejahteraannya dan mempersiapkan diri untuk
menanggung kemalangan, dan menyangkal kesenangan-kesenangan
dan ikatan-ikatan pergaulannya, dengan harapan agar
keagungan Tuhan diungkapkan kepadanya, maka semakin dia
terpisah dari khalayak. ramai, dia semakin bersatu dengan
Tuhan. Karena itu, ahli-ahli di Jalan Pencelaan tidak
mempedulikan hal itu, yakni kesejahteraan (salamat),
yang menjadi idaman penghuni dunia ini, karena
aspirasi-aspirasi dari yang pertama adalah bermanunggal
dengan Tuhan (wahdani). Ahmad bin Fatik meriwayatkan
bahwa Husayn bin Manshur, dalam menjawab pertanyaan
Siapakah Sufi?, berkata: Dia yang tunggal
dalam esensi (wahdani al-dzat). Hamdun juga
berujar mengenai Pencelaan: Ini adalah jalan sulit
bagi orang kebanyakan, tetapi akan aku katakan satu bagian
darinya: kaum Malamati dicirikan oleh harapan kaum Murjiah
dan kecemasan kaum Qadariah. Ujaran ini mempunyai
makna tersembunyi yang membutuhkan penjelasan. Adalah tabiat
manusia yang lebih dijerakan oleh popularitas daripada oleh
sesuatu yang lain, dalam mencari kedekatan kepada Tuhan.
Akibatnya, orang yang takut akan bahaya ini selalu berupaya
menghindarinya, dan ada dua malapetaka yang menghadangnya:
pertama, takut kalau-kalau dia terdindingi dari Tuhan oleh
sanjungan sesama manusia; dan kedua, takut melakukan
perbuatan tertentu sehingga orang-orang akan mencelanya dan
karenanya jatuh ke dalam dosa. Karena itu, kaum Malamati
harus, pertama-tama, berusaha menjauhi pertengkaran dengan
mereka yang disebabkan oleh apa yang mereka katakan tentang
dia, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, dan demi
keselamatannya sendiri dia harus melakukan perbuatan
tertentu yang, secara hukum, bukan dosa besar
(kabira) dan juga bukan dosa kecil (shaghira),
supaya orang bisa menolaknya. Karena itu, ketakutannya akan
masalah-masalah akhlak adalah seperti takutnya kaum
Qadariyah, dan harapannya untuk berurusan dengan orang-orang
yang mencelanya, adalah seperti harapan kaum Murjiah. Dalam
cinta yang sejati tiada yang lebih manis daripada celaan,
karena celaan terhadap sang Kekasih tidak akan mempengaruhi
hati sang pencinta: dia tidak menghiraukan apa yang
orang-orang katakan, karena hatinya senantiasa
percaya·kepada yang dicintainya.
Sungguh manislah dicela itu, bila sudah
cinta.
Kaum Sufi menjadi lebih mulia daripada semua makhluk di
alam semesta, dengan memilih untuk dicela jasmaninya, demi
kesejahteraan jiwa-jiwa mereka; dan derajat yang tinggi ini
tidak dicapai oleh makhluk-makhluk samawi ataupun
makhluk-makhluk ruhani, atau tidak dijangkau oleh kaum
asketik, kaum abid, dan pencari-pencari Tuhan dari
bangsa-bangsa terdahulu, tetapi derajat ini dipersembahkan
bagi ahli-ahli ibadah dalam umat ini yang menempuh jalan
pelepasan dari seluruh ikatan benda-benda duniawi.
Dalam pandanganku, mencari Celaan hanya berarti berpamer
diri, dan berpamer diri itu munafik. Orang yang suka pamer
sengaja bertindak sedemikian rupa untuk memperoleh
popularitas, sementara kaum Malamati sengaja bertindak
sedemikian rupa agar orang menolaknya. Yang menjadi
perhatian pikiran mereka adalah manusia. Kaum darwisy,
sebaliknya, malahan tak pernah berpikir tentang manusia, dan
apabila hatinya telah dijauhkan dari hal-hal demikian, dia
tak peduli lagi dengan pencelaan dan pujian mereka: dia
senantiasa bergerak bebas. Sekali waktu aku berkata kepada
seorang Malamati dari Transoxania, yang telah cukup lama
bergaul baik denganku: Wahai saudaraku, apakah
tujuanmu dalam tindakan-tindakan yang menyimpang ini?
Dia menjawab: Membuat orang tak ada sama sekali di
mataku. Orang, kukatakan, itu
banyak, dan selama hidup engkau tak akan bisa membuat mereka
tidak ada bagi dirimu; namun jadikan dirimu tidak ada bagi
orang banyak, dan dengan demikian engkau bisa terbebas dari
semua kesulitan ini. Sementara orang yang berpikir tentang
orang banyak membayangkan bahwa orang banyak berpikir
tentang mereka. Jika engkau ingin agar tak seorang pun
melihatmu, jangan lihat dirimu sendiri. Karena semua
keburukanmu timbul dari memandang dirimu sendiri, apa urusan
engkau dengan orang lain? Jika orang sakit yang obatnya
berpantang berkeinginan memuaskan seleranya, dia adalah
orang bodoh. Yang lain, sekali lagi mempraktikkan
metode Celaan dengan motif seorang zahid (asketik):
mereka ingin dicemooh oleh orang supaya mereka dapat
mengekang diri mereka sendiri, dan mereka sangat senang bila
diri mereka malang dan terhina. Ibrahim bin Adham ditanya,
Pernahkah keinginanmu tercapai? Dia menjawab:
Ya, dua kali; pada satu kesempatan aku berada dalam
sebuah kapal yang tak seorang pun mengenalku. Aku mengenakan
pakaian biasa, dan rambutku panjang, dan penyamaranku
sedemikian sehingga orang-orang di kapal mencemooh dan
menertawakan aku. Di antara mereka ada seorang badut, yang
selalu datang, menjambak rambutku, dan mencabut-cabutnya,
dan lalu menghinaku. Pada saat itu aku merasa puas sekali,
dan aku bangga berpakaian seperti itu. Pada suatu hari,
kegembiraanku mencapai puncaknya ketika badut tadi bangkit
dari tempat duduknya dan super me minxit. Pada kesempatan
kedua, aku sampai di sebuah desa di kala hujan lebat, yang
telah membasahi jubah bertambalku yang kupakai, dan aku
dikuasai oleh dinginnya musim dingin. Aku pergi ke sebuah
masjid, tapi tidak diperbolehkan masuk. Hal yang sama
terjadi pada tiga masjid yang lain di mana aku berusaha
berteduh di sana. Dalam keadaan putus asa, sewaktu dingin
menyengat ulu hatiku, aku masuk ke sebuah kamar mandi dan
mendekatkan bajuku ke dekat tungku perapian. Asapnya
menyelimutiku dan menghitamkan pakaian dan mukaku. Aku juga
merasa puas sekali.
Suatu ketika aku, Ali bin Utsman Al-Jullabi,
menemukan kesulitan. Setelah melakukan berbagai tindak
ibadah, dengan harapan dapat menyelesaikan kesulitan itu,
aku kembali - seperti telah kulakukan dengan sukses pada
kesempatan sebelumnya - ke kuburan Abu Yazid, dan tinggal di
sampingnya selama tiga bulan, dengan berwudhu tiga kali
setiap hari dan tiga puluh kali bersuci dengan harapan agar
kesulitanku bisa teratasi. Namun, ternyata, tidak berhasil;
maka aku pergi menuju Khurasan. Pada suatu malam aku sampai
di sebuah dusun di negeri itu, dan, di sini ada sebuah rumah
ibadah (khanaqah) yang dihuni oleh sejumlah
calon·Sufi. Aku memakai jubah biru tua
(muraqqa-i khisyan), sebagaimana dianjurkan
oleh Sunnah2 tapi aku tidak membawa perlengkapan Sufi
(alat-i ahl-i rasm) kecuali sebuah tongkat dan
pundi-pundi air dari kulit (rakwa). Aku nampak sangat
mengherankan dalam pandangan Sufi-sufi ini, yang tidak
mengenalku. Mereka hanya memandang lahiriahku saja dan
berbincang satu sama lain, Orang ini bukanlah
salah satu di antara kita. Dan memang bukan: Aku bukan
salah seorang di antara mereka, tapi harus kulewatkan malam
itu di tempat itu. Mereka mempersilakan aku menginap di
sebuah loteng, sementara mereka sendiri di sebuah loteng di
atasku, dan menyodorkan kepadaku roti kering yang sudah
berjamur. Aku merasakan bau lezatnya makanan mereka.
Sepanjang waktu mereka melontarkan kata-kata mengejek
kepadaku dari loteng. Setelah habis makan, mereka mulai
melemparkan kulit-kulit semangka yang telah mereka makan
kepadaku, seraya memperlihatkan betapa senang hati mereka
dan betapa mereka meremehkan diriku. Aku berkata dalam hati:
Ya Allah, seandainya mereka tidak memakai pakaian
sahabat-sahabat-Mu, tentu aku tak akan tahan. Dan
semakin mereka mencemooh diriku, semakin senanglah hatiku
jadinya, sehingga penanggungan beban ini adalah sarana untuk
membebaskan diriku dari kesulitan yang telah kusebutkan; dan
dengan begitu aku mengerti mengapa Syaikh-syaikh selalu
memberikan kesempatan untuk berhubungan dengan mereka, dan
untuk alasan apa mereka menyerah kepada gangguan
mereka.
Catatan Kaki
- Abu Yazid, saat berada dalam perjalanan, secara hukum
tidak diwajibkan melaksanakan puasa.
- I. menambahkan dalam catatan pinggir bagi
musafir-musafir.
|