Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

6. Tentang Pencelaan

Jalan pencelaan telah dijalani oleh beberapa Syaikh Sufi. Pencelaan mempunyai pengaruh yang besar dalam menciptakan cinta yang tulus. Pengikut-pengikut Kebenaran (ahl-i haqq) menjadi terkenal karena menjadi objek pencelaan orang awam, terutama tokoh-tokoh kelompok ini. Rasulullah saw., yang menjadi teladan dan pemimpin orang-orang yang mengikuti Kebenaran, dan yang mengungguli derajat pencinta-pencinta Tuhan, dihormati dan martabat baiknya diakui oleh semua orang hingga penjelasan tentang Kebenaran diwahyukan kepada beliau dan ilham ttirun kepada beliau. Kemudian orang-orang secara sembarangan mencela beliau. Sebagian orang mengatakan, “Dia seorang pengada-ada;” yang lain, “Dia seorang penyair;” yang lain lagi, “Dia orang gila;” yang lain, “Dia seorang pendusta;” dan sebagainya. Dan Tuhan berfirman, yang melukiskan orang-orang beriman yang sejati: “Mereka tidak takut celaan seseorang; itulah rahmat Tuhan yang Dia anugerahkan kepada siapa pun yang Dia kehendaki; Tuhan adalah Maha Pemurah dan Bijaksana” (QS 5:59). Demikianlah ketetapan Tuhan, bahwa Dia menyebabkan orang-orang yang berbicara tentang Dia dicela oleh seluruh dunia, namun melindungi hati mereka dari termakan oleh celaan dunia itu. Ini Dia lakukan karena cemburu: Dia menjaga pencinta-pencinta-Nya dari memandang kepada “yang lain” (ghayr), supaya mata seorang asing tidak, melihat keindahan keadaan mereka; dan Dia juga menjaga mereka dari memandang diri mereka sendiri, supaya mereka tidak menyadari keindahan mereka sendiri dan jatuh ke dalam kebanggaan diri dan kesombongan. Karenanya Dia membuat orang-orang awam dengan seenaknya mencela mereka, dan telah menjadikan “jiwa yang mencela” (nafs-i lawwamah) bagian dari hidup mereka, supaya mereka bisa dicela oleh orang lain atas apa saja yang mereka lakukan, dan oleh mereka sendiri karena berbuat buruk atau karena berbuat baik secara tak sempurna.

Nah, ini adalah sebuah prinsip yang kuat dalam jalan menuju Allah, karena dalam jalan ini tidak ada noda atau tirai yang lebih sulit disingkirkan, selain kebanggaan diri. Tuhan dengan Kemurahan-Nya telah menutup jalan kekeliruan bagi sahabat-sahabat-Nya. Perilaku-perilaku mereka, betapapun baiknya, tidak diterima oleh orang-orang awam, yang tidak melihat mereka sebagaimana mestinya; dan mereka sendiri tidak memandang tindak-tindakan mujahadat mereka, betapapun banyaknya, sebagai berasal dari kekuatan dan kekuasaan mereka sendiri: akibatnya mereka tidak menyenangi diri mereka sendiri dan terlindung dari membanggakan diri. Barangsiapa yang diridhai oleh Allah, tidak diterima oleh orang-orang awam, dan barangsiapa yang dipilih oleh dirinya sendiri, tidak termasuk di antara orang-orang pilihan Tuhan. Makanya Iblis diterima oleh umat manusia dan diterima oleh malaikat-malaikat, dan ia menyenangi dirinya sendiri; tetapi karena Tuhan tidak menyukai dia, maka penerimaan mereka hanya membawa laknat atasnya. Adam, di lain pihak, tidak disetujui oleh malaikat-malaikat yang berkata: “Akankah Engkau tempatkan di situ (di muka bumi) orang yang akan berbuat kerusakan di dalamnya?” (QS 2:30), dan tidak menyenangi dirinya sendiri, karenanya ia berkata: “Wahai Tuhan, kami telah menganiaya diri sendiri” (QS 7: 23); tetapi karena Tuhan menyukainya, ketidaksetujuan malaikat-malaikat dan ketidak-sukaan diri sendiri telah membawa buah rahmat. Karenanya, supaya semua manusia tahu bahwa orang-orang yang diterima oleh kita ditolak orang banyak, dan yang diterima oleh orang banyak ditolak oleh kita. Maka dari itu celaan manusia adalah makanan sahabat-sahabat Tuhan, karena ini merupakan tanda keridhaan Tuhan; ini merupakan kenikmatan bagi wali-wali Allah, karena ini merupakan tanda kedekatan dengan Dia: mereka merasakan kenikmatan di dalamnya sebagaimana orang-orang lain merasakan nikmatnya kemasyhuran. Ada sebuah hadis qudsi yang diterima Rasulullah dari Jibril, bahwa Tuhan berfirman: “Sahabat-sahabat-Ku (wali-wali) berada di balik tirai-Ku; selain Aku, tak satu pun yang mengetahui mereka, kecuali sahabat-sahabat-Ku.”

Jenis Celaan

Nah, celaan (malamat) ada tiga jenis: yang merupakan akibat (1) dari mengikuti jalan yang lempang (malamat-i rast raftan), atau (2) dari tindakan yang disengaja (malamat-i qashd kardan), atau (3) dari meninggalkan hukum (malamat-i tark kardan). Dalam kasus yang pertama, seseorang dicela karena memperhatikan urusannya sendiri, melaksanakan kewajiban agamanya, dan senantiasa tidak meninggalkan amal ibadah: sepenuhnya dia tidak mempedulikan kelakuan orang terhadap dirinya. Dalam kasus kedua, seseorang dihormati setinggi-tingginya oleh orang banyak: hatinya cenderung kepada kehormatan yang diperolehnya, dia ingin membuat dirinya bebas dari mereka dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan; maka dia sengaja membiarkan celaan mereka dengan melakukan tindakan tertentu untuk menyerang mereka tetapi tidak melanggar hukum: akibat tindakannya, mereka cuci tangan dari dia. Dalam kasus ketiga, seseorang didorong oleh kekufuran alamiahnya dan akidah-akidah yang salah untuk meninggalkan hukum suci dan untuk tidak mematuhinya, dan berkata kepada dirinya sendiri, “Aku tapakkan kaki di jalan pencelaan;” dalam ini kelakuannya bergantung pada dirinya sendiri.

Dia yang mengikuti jalan yang lempang dan menolak untuk bertindak munafik, dan mencegah sikap pamer, tidak perduli dengan orang banyak, tapi tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri dia terus berjalan: sama saja bagi dia nama apa yang mereka alamatkan kepadanya. Ada sebuah hikayat (tentang orang-orang suci) bahwa pada suatu hari Syaikh Abu Thahir Harami terlihat di pasar, menunggang seekor keledai dan diikuti oleh salah seorang muridnya. Seseorang berteriak, “Ini dia si tua penganut aliran berpikir bebas!” Sang murid yang merasa jengkel lalu menyerang orang yang berteriak itu, berusaha memukulnya, dan seisi pasar menjadi gaduh. Syaikh itu berkata kepada muridnya: “Jika engkau mau diam, aku akan tunjukkan kepadamu sesuatu yang akan menyelamatkan engkau dari keresahan semacam ini.” Ketika mereka pulang, dia memerintahkan muridnya membawa sebuah kotak yang berisi surat-surat, dan menyuruh sang murid melihat surat-surat itu. “Perhatikan,” katanya, “bagaimana penulis-penulis surat ini berkata kepadaku. Ada yang memanggilku “Syaikh Islam”, ada yang menyebut “Syaikh yang suci”, “Syaikh yang zuhud”, “Syaikh dua Tempat Suci”, dan seterusnya. Semuanya itu adalah gelar, tidak ada yang menyebut namaku. Aku sama sekali bukanlah gelar-gelar itu, tetapi setiap orang memberiku gelar menurut kepercayaannya mengenai diriku. Jika orang yang tak mengerti itu baru saja melakukan hal yang sama, mengapa engkau mesti bertengkar dengannya?”

Orang yang tidak mempedulikan celaan, menanggalkan kehormatan, dan menarik diri dari kekuasaan, dia seperti Khalifah ‘Utsman yang, meskipun dia mempunyai empat ratus budak, ketika pulang dari kebun kurmanya membawa seikat kayu bakar di atas kepalanya. Ketika ditanya mengapa dia berbuat begitu, dia menjawab: “Aku ingin menguji diriku.” Dia tidak akan membiarkan kemuliaan yang didapatnya menghalanginya dari bekerja. Ada sebuah kisah yang serupa tentang Imam Abu Hanifah dalam risalah (uraian) ini. Juga ada sebuah cerita bahwa ketika Abu Yazid memasuki Rayy dalam perjalanannya dari Hijaz, masyarakat kota itu berbondong-bondong menemuinya untuk menunjukkan rasa hormat kepadanya. Perhatian mereka mengacaukan hatinya dan memalingkan pikiran-pikirannya dari Tuhan. Ketika dia sampai di pasar, dia mengeluarkan sepotong roti dari lengan bajunya dan mulai memakannya. Mereka semua pada pergi, karena pada saat itu bulan Ramadhan. Dia berkata kepada seorang murid yang menemaninya dalam perjalanan: “Engkau mengerti begitu aku laksanakan satu hukum,1 mereka semua menolakku.” Pada masa itu perlu, untuk menjadikan diri bahan celaan, melakukan sesuatu yang tidak disetujui atau yang luar biasa; tetapi pada zaman kita, jika seseorang ingin dicela, dia cukup memperpanjang sedikit shalat-shalat nafalnya (shalat sunnah) atau melakukan praktik-praktik keagamaan yang dianjurkan: pada saat itu setiap orang akan menyebutnya munafik.

Orang yang meninggalkan hukum dan melakukan tindakan yang dilarang agama, dan mengatakan bahwa dia mengikuti garis-aturan “celaan”, berarti benar-benar salah, keji, dan memperturutkan hawa nafsu. Pada zaman sekarang banyak orang yang mencari popularitas dengan cara ini, mereka lupa bahwa seseorang tentu sudah memperoleh popularitas sebelum melakukan tindakan sedemikian rupa sehingga membuat orang menolak dia; jika tidak demikian, upayanya membuat dirinya tidak populer, hanya sekadar dalih yang dibuat-buat untuk mendapatkan popularitas. Pada kesempatan tertentu aku bersama dengan salah seorang yang membuat-buat dalih seperti itu. Dia melakukan suatu tindakan keji dan memaafkan dirinya dengan mengatakan bahwa dia melakukannya demi dicela orang. Salah seorang dari golongan itu berkata, “Itu sia-sia.” Dia mengungkapkan rasa sedih. Aku mengatakan kepadanya: “Jika engkau mengaku menjadi seorang Malamati dan kukuh dalam kepercayaanmu, ketidaksetujuan orang ini tentang apa yang telah engkau lakukan harus membuatmu tabah hati; dan karena dia membantumu memilih jalanmu, mengapa engkau begitu benci dan marah kepadanya? Kelakuanmu lebih menyerupai kepura-puraan daripada menghendaki celaan. Barangsiapa yang mengaku dipimpin oleh Kebenaran, harus memberikan bukti tertentu mengenai pernyataannya, dan pembuktian itu berupa menunaikan yang sunnah. Engkau membuat pengakuan ini, padahal aku lihat engkau telah gagal melaksanakan suatu kewajiban keagamaan. Perilakumu menempatkan engkau di luar batas Islam.”

Hikmah di Balik Celaan

Doktrin tentang celaan disebarkan dalam mazhab ini oleh Syaikh zamannya, Hamdun Qashshar. Dia mempunyai banyak ujaran yang bagus tentang masalah ini. Diriwayatkan bahwa dia berkata: Al-malamat tark al-salamat (Celaan adalah meninggalkan kesejahteraan). Jika seseorang sengaja meninggalkan kesejahteraannya dan mempersiapkan diri untuk menanggung kemalangan, dan menyangkal kesenangan-kesenangan dan ikatan-ikatan pergaulannya, dengan harapan agar keagungan Tuhan diungkapkan kepadanya, maka semakin dia terpisah dari khalayak. ramai, dia semakin bersatu dengan Tuhan. Karena itu, ahli-ahli di Jalan Pencelaan tidak mempedulikan hal itu, yakni kesejahteraan (salamat), yang menjadi idaman penghuni dunia ini, karena aspirasi-aspirasi dari yang pertama adalah bermanunggal dengan Tuhan (wahdani). Ahmad bin Fatik meriwayatkan bahwa Husayn bin Manshur, dalam menjawab pertanyaan “Siapakah Sufi?”, berkata: “Dia yang tunggal dalam esensi” (wahdani al-dzat). Hamdun juga berujar mengenai Pencelaan: “Ini adalah jalan sulit bagi orang kebanyakan, tetapi akan aku katakan satu bagian darinya: kaum Malamati dicirikan oleh harapan kaum Murjiah dan kecemasan kaum Qadariah.” Ujaran ini mempunyai makna tersembunyi yang membutuhkan penjelasan. Adalah tabiat manusia yang lebih dijerakan oleh popularitas daripada oleh sesuatu yang lain, dalam mencari kedekatan kepada Tuhan. Akibatnya, orang yang takut akan bahaya ini selalu berupaya menghindarinya, dan ada dua malapetaka yang menghadangnya: pertama, takut kalau-kalau dia terdindingi dari Tuhan oleh sanjungan sesama manusia; dan kedua, takut melakukan perbuatan tertentu sehingga orang-orang akan mencelanya dan karenanya jatuh ke dalam dosa. Karena itu, kaum Malamati harus, pertama-tama, berusaha menjauhi pertengkaran dengan mereka yang disebabkan oleh apa yang mereka katakan tentang dia, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, dan demi keselamatannya sendiri dia harus melakukan perbuatan tertentu yang, secara hukum, bukan dosa besar (kabira) dan juga bukan dosa kecil (shaghira), supaya orang bisa menolaknya. Karena itu, ketakutannya akan masalah-masalah akhlak adalah seperti takutnya kaum Qadariyah, dan harapannya untuk berurusan dengan orang-orang yang mencelanya, adalah seperti harapan kaum Murjiah. Dalam cinta yang sejati tiada yang lebih manis daripada celaan, karena celaan terhadap sang Kekasih tidak akan mempengaruhi hati sang pencinta: dia tidak menghiraukan apa yang orang-orang katakan, karena hatinya senantiasa percaya·kepada yang dicintainya.

“Sungguh manislah dicela itu, bila sudah cinta.”

Kaum Sufi menjadi lebih mulia daripada semua makhluk di alam semesta, dengan memilih untuk dicela jasmaninya, demi kesejahteraan jiwa-jiwa mereka; dan derajat yang tinggi ini tidak dicapai oleh makhluk-makhluk samawi ataupun makhluk-makhluk ruhani, atau tidak dijangkau oleh kaum asketik, kaum ‘abid, dan pencari-pencari Tuhan dari bangsa-bangsa terdahulu, tetapi derajat ini dipersembahkan bagi ahli-ahli ibadah dalam umat ini yang menempuh jalan pelepasan dari seluruh ikatan benda-benda duniawi.

Dalam pandanganku, mencari Celaan hanya berarti berpamer diri, dan berpamer diri itu munafik. Orang yang suka pamer sengaja bertindak sedemikian rupa untuk memperoleh popularitas, sementara kaum Malamati sengaja bertindak sedemikian rupa agar orang menolaknya. Yang menjadi perhatian pikiran mereka adalah manusia. Kaum darwisy, sebaliknya, malahan tak pernah berpikir tentang manusia, dan apabila hatinya telah dijauhkan dari hal-hal demikian, dia tak peduli lagi dengan pencelaan dan pujian mereka: dia senantiasa bergerak bebas. Sekali waktu aku berkata kepada seorang Malamati dari Transoxania, yang telah cukup lama bergaul baik denganku: “Wahai saudaraku, apakah tujuanmu dalam tindakan-tindakan yang menyimpang ini?” Dia menjawab: “Membuat orang tak ada sama sekali di mataku.” “Orang,” kukatakan, “itu banyak, dan selama hidup engkau tak akan bisa membuat mereka tidak ada bagi dirimu; namun jadikan dirimu tidak ada bagi orang banyak, dan dengan demikian engkau bisa terbebas dari semua kesulitan ini. Sementara orang yang berpikir tentang orang banyak membayangkan bahwa orang banyak berpikir tentang mereka. Jika engkau ingin agar tak seorang pun melihatmu, jangan lihat dirimu sendiri. Karena semua keburukanmu timbul dari memandang dirimu sendiri, apa urusan engkau dengan orang lain? Jika orang sakit yang obatnya berpantang berkeinginan memuaskan seleranya, dia adalah orang bodoh.” Yang lain, sekali lagi mempraktikkan metode Celaan dengan motif seorang zahid (asketik): mereka ingin dicemooh oleh orang supaya mereka dapat mengekang diri mereka sendiri, dan mereka sangat senang bila diri mereka malang dan terhina. Ibrahim bin Adham ditanya, “Pernahkah keinginanmu tercapai?” Dia menjawab: “Ya, dua kali; pada satu kesempatan aku berada dalam sebuah kapal yang tak seorang pun mengenalku. Aku mengenakan pakaian biasa, dan rambutku panjang, dan penyamaranku sedemikian sehingga orang-orang di kapal mencemooh dan menertawakan aku. Di antara mereka ada seorang badut, yang selalu datang, menjambak rambutku, dan mencabut-cabutnya, dan lalu menghinaku. Pada saat itu aku merasa puas sekali, dan aku bangga berpakaian seperti itu. Pada suatu hari, kegembiraanku mencapai puncaknya ketika badut tadi bangkit dari tempat duduknya dan super me minxit. Pada kesempatan kedua, aku sampai di sebuah desa di kala hujan lebat, yang telah membasahi jubah bertambalku yang kupakai, dan aku dikuasai oleh dinginnya musim dingin. Aku pergi ke sebuah masjid, tapi tidak diperbolehkan masuk. Hal yang sama terjadi pada tiga masjid yang lain di mana aku berusaha berteduh di sana. Dalam keadaan putus asa, sewaktu dingin menyengat ulu hatiku, aku masuk ke sebuah kamar mandi dan mendekatkan bajuku ke dekat tungku perapian. Asapnya menyelimutiku dan menghitamkan pakaian dan mukaku. Aku juga merasa puas sekali.”

Suatu ketika aku, ‘Ali bin ‘Utsman Al-Jullabi, menemukan kesulitan. Setelah melakukan berbagai tindak ibadah, dengan harapan dapat menyelesaikan kesulitan itu, aku kembali - seperti telah kulakukan dengan sukses pada kesempatan sebelumnya - ke kuburan Abu Yazid, dan tinggal di sampingnya selama tiga bulan, dengan berwudhu tiga kali setiap hari dan tiga puluh kali bersuci dengan harapan agar kesulitanku bisa teratasi. Namun, ternyata, tidak berhasil; maka aku pergi menuju Khurasan. Pada suatu malam aku sampai di sebuah dusun di negeri itu, dan, di sini ada sebuah rumah ibadah (khanaqah) yang dihuni oleh sejumlah calon·Sufi. Aku memakai jubah biru tua (muraqqa’-i khisyan), sebagaimana dianjurkan oleh Sunnah2 tapi aku tidak membawa perlengkapan Sufi (alat-i ahl-i rasm) kecuali sebuah tongkat dan pundi-pundi air dari kulit (rakwa). Aku nampak sangat mengherankan dalam pandangan Sufi-sufi ini, yang tidak mengenalku. Mereka hanya memandang lahiriahku saja dan berbincang satu sama lain, “Orang ini bukanlah salah satu di antara kita.” Dan memang bukan: Aku bukan salah seorang di antara mereka, tapi harus kulewatkan malam itu di tempat itu. Mereka mempersilakan aku menginap di sebuah loteng, sementara mereka sendiri di sebuah loteng di atasku, dan menyodorkan kepadaku roti kering yang sudah berjamur. Aku merasakan bau lezatnya makanan mereka. Sepanjang waktu mereka melontarkan kata-kata mengejek kepadaku dari loteng. Setelah habis makan, mereka mulai melemparkan kulit-kulit semangka yang telah mereka makan kepadaku, seraya memperlihatkan betapa senang hati mereka dan betapa mereka meremehkan diriku. Aku berkata dalam hati: “Ya Allah, seandainya mereka tidak memakai pakaian sahabat-sahabat-Mu, tentu aku tak akan tahan.” Dan semakin mereka mencemooh diriku, semakin senanglah hatiku jadinya, sehingga penanggungan beban ini adalah sarana untuk membebaskan diriku dari kesulitan yang telah kusebutkan; dan dengan begitu aku mengerti mengapa Syaikh-syaikh selalu memberikan kesempatan untuk berhubungan dengan mereka, dan untuk alasan apa mereka menyerah kepada gangguan mereka.•

Catatan Kaki

  1. Abu Yazid, saat berada dalam perjalanan, secara hukum tidak diwajibkan melaksanakan puasa.
  2. I. menambahkan dalam catatan pinggir “bagi musafir-musafir”.

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team