|
|
7. Para Sahabat Nabi SAW. Yang Menjadi
Imam
Beliau dipandang oleh Syaikh-syaikh Sufi sebagai imam
orang-orang yang menjalani kehidupan perenungan
(musyahadat), atas pertimbangan sedikitnya
kisah-kisah dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh beliau;
sementara Umar dipandang sebagai imam orang-orang yang
menjalani kehidupan pembersihan diri (mujahadat),
karena keberanian dan keteguhannya dalam ibadah. Ini
termaktub dalam hadis sahih, dan terkenal di kalangan ulama,
bahwa bila Abu Bakar bersembahyang di malam hari, beliau
biasa membaca Quran dengan suara lirih, sementara Umar
biasa membacanya dengan suara keras. Rasulullah saw.
bertanya kepada Abu Bakar mengapa dia melakukannya begitu.
Abu Bakar menjawab: Dia yang kuajak bicara, pasti
mendengar. Umar, ketika ditanya, menjawab:
Aku menggugah rasa kantuk dan mengusir setan.
Yang satu mengungkapkan perenungan, yang lain penyucian
diri. Nah, penyucian diri, bila dibandingkan dengan
perenungan, seperti setetes air di lautan, dan karena alasan
inilah Rasul saw. bersabda bahwa Umar, sebagai
kemegahan Islam, hanyalah (sama dengan) satu kebaikan Abu
Bakar (hal anta illa hasanatun min hasanati Abi
Bakr). Diriwayatkan bahwa Abu Bakar berkata:
Tempat tinggalku ini fana, kehidupanku di dalamnya
hanya sekadar pinjaman, nafas-nafasku terbilang, dan
ketenteraman hatiku nyata. Yang dimaksudkan beliau
dengan hal ini adalah bahwa dunia ini terlalu tak berharga
untuk dipikirkan; karena bila engkau menyibukkan diri dengan
yang bisa sirna, maka engkau akan dibutakan terhadap yang
kekal: sahabat-sahabat Tuhan mencampakkan dunia ini dan
nafsu jasmani yang menabiri mereka dari Tuhan, dan mereka
cenderung bertindak seakan-akan mereka itu pemilik sebuah
benda yang benar-benar milik orang lain. Dan beliau berkata:
Wahai Tuhan, berilah daku kesenangan dunia ini dan
jadikanlah daku berkehendak menyangkalnya! Ujaran ini
mengandung arti tersembunyi, yakni: Pertama
anugerahilah daku barang-barang duniawi supaya aku bersyukur
karenanya, dan kemudian tolonglah daku untuk berpantangnya
demi Engkau, sehingga aku bisa menikmati rasa bersyukur dan
kebebasan serta keberpantangan, sehingga kefakiranku bisa
ikhlas, bukan terpaksa. Kata-kata ini menyanggah
Pembimbing praktik mistik, yang berkata: Dia yang
kefakirannya karena terpaksa, lebih sempurna daripada dia
yang kefakirannya karena ikhlas; karena kalau kefakiran ini
karena terpaksa, dia adalah makhluk (shanat)
kefakiran, dan kalau kefakiran ini karena ikhlas, kefakiran
adalah makhluknya; dan ini lebih baik sehingga
tindakan-tindakannya akan bebas dari upaya untuk mendapatkan
kefakiran demi dirinya sendiri, daripada dia memperoleh
kefakiran dengan usahanya sendiri. Mengenai masalah
ini, kukatakan: Makhluk kefakiran sesungguhnya adalah
pribadi yang, ketika menikmati kebebasan, dikuasai oleh
keinginan akan kefakiran, dan berusaha melepaskannya dari
genggaman dunia; bukan pribadi yang, dalam keadaan fakir,
dikuasai oleh keinginan akan kebebasan dan pergi ke
rumah-rumah penjahat dan istana-istana para sultan untuk
mendapatkan uang. Makhluk kefakiran adalah dia yang lepas
dari kebebasan, dan menuju kefakiran, bukan dia yang,
sebagai orang fakir, berupaya untuk menjadi kuat
(menguasai). Abu Bakar adalah orang yang paling utama
sesudah nabi-nabi, dan tidak diperkenankan seseorang
mendahuluinya, karena beliau telah menempatkan kefakiran
ikhlas di atas kefakiran terpaksa. Ini adalah doktrin yang
dianut oleh semua Syaikh Sufi kecuali Pembimbing ruhani yang
telah kita sebutkan.
Zuhri mengatakan bahwa, ketika Abu Bakar di-bayat
sebagai Khalifah, beliau naik ke mimbar dan menyampaikan
sebuah pidato, yang di antaranya beliau mengatakan:
Demi Allah, aku tak pernah memimpikan kekuasaan ini,
tak menginginkannya barang sehari atau semalam sekalipun,
tidak pernah memohon kepada Tuhan untuk ini secara
terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi, juga tidak
pernah merasa senang dengan memilikinya. Nah, bilamana
Tuhan menyebabkan seseorang mencapai ketulusan hati yang
sempurna dan mengangkatnya ke derajat kemantapan
(tamkin), dia menunggu ilham Tuhan, yang bisa memberi
petunjuk baginya; bila dia menjadi seorang miskin ataupun
seorang pangeran, itu bukan karena pilihan dan kehendaknya
sendiri. Jadi, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyandarkan dirinya
kepada kehendak Tuhan, dari awal sampai akhir. Karenanya
seluruh mazhab Sufi telah menjadikan beliau pola mereka
dalam melepaskan diri dari segala hal duniawi, dalam
kemantapan (tamkin), alam dambaan akan kefakiran, dan
dalam kerinduan untuk menafikan otoritas. Dia adalah Imam
bagi segenap kaum Muslim pada umumnya, dan Imam bagi para
Sufi pada khususnya.
Beliau terutama dikenal karena kebijaksanaan dan
ketegasannya, dan beliau banyak mengemukakan ujaran yang
tinggi tentang tasawuf. Rasul saw. bersabda: Kebenaran
berbicara lewat lidah Umar; dan lagi,
Terdapat banyak orang yang menerima ilham
(muhaddatsun) pada zaman dahulu, dan jika ada orang
yang demikian di dalam umatku, inilah Omar.
Omar berkata: Menarik diri dari khalayak ramai
(uzlat) adalah sarana untuk menghindarkan
seseorang dari pergaulan yang buruk. Menarik diri ada
dua macam, pertama, memalingkan diri dari orang banyak
(irad az khalq), dan kedua, memalingkan diri
sepenuhnya dari mereka (inqitha az isyan).
Memalingkan diri dari orang banyak berupa memilih menyepi
diri, dan berupa penyangkalan terhadap masyarakat secara
lahiriah, dan berupa merenungkan tentang
kekeliruan-kekeliruan dalam berperilaku, dan berupa berupaya
melepaskan diri dari pergaulan dengan orang-orang, dan
berupa menjadikan segenap orang terlepas dari
tindakan-tindakan buruk. Namun, menarik diri dari khalayak
ramai adalah suatu keadaan ruhaniah, yang tidak berkaitan
dengan sesuatu yang lahiriah. Bilamana seseorang telah
terlepas dari khalayak ramai secara ruhani, dia tidak
mengetahui sama sekali tentang ciptaan, dan pikirannya tak
akan dikuasai oleh hal itu. Orang semacam itu, meskipun dia
hidup di tengah-tengah orang banyak, terisolasi dari mereka,
dan ruhaninya terpisah dari mereka. Ini adalah suatu maqam
yang sangat terpuji. Omar menempuh jalan lurus maqam
ini, karena secara lahiriah beliau hidup di tengah-tengah
umat sebagai Amir dan Khalifah mereka. Kata-katanya
menunjukkan secara jelas bahwa meskipun ahli-ahli keruhanian
dapat berkumpul secara lahiriah dengan khalayak ramai, hati
mereka selalu tertuju kepada Tuhan dan kembali kepada-Nya
dalam segala keadaan. Mereka menganggap pergaulan mereka
dengan orang-orang sebagai suatu cobaan yang diturunkan oleh
Tuhan; dan pergaulan itu tidaklah memalingkan hati mereka
dari Tuhan, karena dunia tak pernah menjadi suci dalam
pandangan orang-orang yang dicintai Tuhan. Omar
berkata: Sebuah tempat tinggal yang dibangun di atas
penderitaan, senantiasa membawa penderitaan. Sufi-sufi
menjadikan beliau sebagai teladan mereka dalam memakai jubah
bertambal (muraqqaat) dan dalam keteguhan
melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.
Diriwayatkan oleh Abdallah bin Rabah dan Abu
Qatadah sebagai berikut: Kami bersama Amirul Muminin,
Utsman, pada suatu hari ketika rumah beliau diserang
orang. Budak-budak beliau, begitu melihat kerumunan
pemberontak yang memadati pintu, segera mengambil senjata.
Utsman berkata, Barangsiapa di antara kalian
yang tidak membawa senjata, adalah seorang yang
merdeka. Kami lari dari rumah itu, karena
mengkhawatirkan hidup kami. Hasan bin Ali menjumpai
kami di jalan, lalu kami kembali dengannya ke Utsman,
agar kami mengetahui tentang urusannya. Sesudah menyalami
dan menyampaikan rasa duka kepada Utsman, Hasan
berkata: Wahai Pangeran orang-orang beriman, aku tidak
berani menghunus pedang terhadap orang-orang Islam tanpa
perintahmu. Engkau adalah Imam sejati. Perintahkan, tentu
aku akan membelamu. Utsman menjawab: Wahai
saudara sepupuku, kembalilah ke rumahmu dan tunggu di sana
sampai Tuhan mewujudkan takdir-Nya. Kita tak ingin
menumpahkan darah.
Kata-kata ini menunjukkan ketenangan dalam menghadapi
bencana, dan menunjukkan bahwa sang pembicara telah mencapai
derajat persahabatan dengan Tuhan (khullat). Begitu
pula, ketika Namrud menyalakan api dan mengikat Ibrahim pada
buaian (pala)1 senjata katapel (pelontar),
Jibril mendatangi Ibrahim dan berkata, Apa yang kau
inginkan? Dia menjawab, Darimu, tidak.
Jibril berkata, Maka mintalah kepada Tuhan. Dia
menjawab, Karena Tuhan mengetahui kesulitan yang
kualami, aku tidak perlu memohon kepada-Nya. Di sini
Utsman berada dalam kedudukan Sahabat
(khalil)2 dalam senjata katapel, dan
gerombolan pemberontak dalam kedudukan api, dan Hasan berada
dalam kedudukan Jibril; namun Ibrahim selamat, sementara
Utsman mati. Keselamatan (najat) berkaitan
dengan kebakaan (baqa), dan kebinasaan (halak)
dengan pelenyapan (fana): tentang topik ini, telah
dibicarakan di atas. Sufi-sufi mengambil Utsman
sebagai teladan mereka dalam pengorbanan jiwa dan harta,
dalam menyerahkan urusan-urusan mereka kepada Tuhan, dan
dalam pengabdian yang tulus ikhlas.
Khalifah Ali bin Abi Thalib
Derajatnya di jalan (tasawuf) ini sangat tinggi. Beliau
menerangkan prinsip-prinsip (ushul) kebenaran Ilahi
dengan sedemikian luar biasa, sehingga Junayd berkata:
Ali adalah Syaikh kita berkenaan dengan
prinsip-prinsip dan berkenaan dengan ketabahan dalam
penderitaan, yakni dalam teori dan praktik tasawuf; karena
kaum Sufi menyebut teori jalan ini
prinsip-prinsip (ushul), dan praktiknya
sepenuhnya berupa ketabahan dalam penderitaan.
Diriwayatkan bahwa seseorang meminta kepada Ali agar
memberinya pesan (washiyyat). Ali menjawab:
Jangan biarkan istri dan anak-anakmu menjadi
perhatianmu yang utama; karena jika mereka menjadi
sahabat-sahabat Tuhan, Tuhan pun akan menjaga
sahabat-sahabat-Nya, dan jika mereka musuh-musuh Tuhan,
mengapa engkau memperhatikan musuh-musuh Tuhan?
Pertanyaan ini berkaitan dengan keterpisahan hati dari
segala sesuatu kecuali Allah, yang menjaga hamba-hamba-Nya
dalam keadaan apa pun yang Dia kehendaki. Maka Musa
meninggalkan putri Syuaib3 dan
menyerahkannya kepada Tuhan; dan Ibrahim membawa Hajar dan
Ismail ke sebuah lembah gersang dan menyerahkan mereka
kepada Tuhan. Kedua Nabi ini, bukannya menjadikan istri dan
anak mereka perhatian mereka yang utama, tetapi menghadapkan
hati mereka kepada Tuhan. Ujaran ini mirip jawaban yang
Ali berikan kepada orang yang bertanya sesuatu apakah
yang paling suci yang bisa diperoleh. Dia berkata: Ini
adalah yang ada dalam kalbu yang diperkaya oleh Tuhan
(ghana al-qalb billah). Kalbu yang begitu diperkaya
takkan menjadi miskin karena tidak punya barang-barang
duniawi, juga tidak merasa gembira karena memilikinya. Pokok
masalah ini sebenarnya berkenaan dengan teori tentang
kefakiran dan kesucian, yang sudah dibahas di atas.
Ali adalah teladan bagi Sufi-sufi tentang
kebenaran-kebenaran dari ungkapan-ungkapan lahiriah dan
ketinggian makna batiniah, tentang pelepasan diri dari semua
harta dunia maupun akhirat, dan tentang keyakinan kepada
santunan Ilahi.
Catatan Kaki:
- Bahasa Arabnya kiffat. Lihat Dozy, Supplement,
ii, 476.
- Ibrahim disebut oleh kaum Muslim sebagai
Sahabat Tuhan (al-khalil).
- Musa, menurut riwayat, telah menikahi salah seorang
putri Syuaib. Lihat QS 28:22-28 namun nama
Syuaib tidak disebut-sebut.
|