Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

7. Para Sahabat Nabi SAW. Yang Menjadi Imam

Khalifah Abu Bakar

Beliau dipandang oleh Syaikh-syaikh Sufi sebagai imam orang-orang yang menjalani kehidupan perenungan (musyahadat), atas pertimbangan sedikitnya kisah-kisah dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh beliau; sementara ‘Umar dipandang sebagai imam orang-orang yang menjalani kehidupan pembersihan diri (mujahadat), karena keberanian dan keteguhannya dalam ibadah. Ini termaktub dalam hadis sahih, dan terkenal di kalangan ulama, bahwa bila Abu Bakar bersembahyang di malam hari, beliau biasa membaca Quran dengan suara lirih, sementara ‘Umar biasa membacanya dengan suara keras. Rasulullah saw. bertanya kepada Abu Bakar mengapa dia melakukannya begitu. Abu Bakar menjawab: “Dia yang kuajak bicara, pasti mendengar.” ‘Umar, ketika ditanya, menjawab: “Aku menggugah rasa kantuk dan mengusir setan.” Yang satu mengungkapkan perenungan, yang lain penyucian diri. Nah, penyucian diri, bila dibandingkan dengan perenungan, seperti setetes air di lautan, dan karena alasan inilah Rasul saw. bersabda bahwa ‘Umar, sebagai kemegahan Islam, hanyalah (sama dengan) satu kebaikan Abu Bakar (hal anta illa hasanatun min hasanati Abi Bakr). Diriwayatkan bahwa Abu Bakar berkata: “Tempat tinggalku ini fana, kehidupanku di dalamnya hanya sekadar pinjaman, nafas-nafasku terbilang, dan ketenteraman hatiku nyata.” Yang dimaksudkan beliau dengan hal ini adalah bahwa dunia ini terlalu tak berharga untuk dipikirkan; karena bila engkau menyibukkan diri dengan yang bisa sirna, maka engkau akan dibutakan terhadap yang kekal: sahabat-sahabat Tuhan mencampakkan dunia ini dan nafsu jasmani yang menabiri mereka dari Tuhan, dan mereka cenderung bertindak seakan-akan mereka itu pemilik sebuah benda yang benar-benar milik orang lain. Dan beliau berkata: “Wahai Tuhan, berilah daku kesenangan dunia ini dan jadikanlah daku berkehendak menyangkalnya!” Ujaran ini mengandung arti tersembunyi, yakni: “Pertama anugerahilah daku barang-barang duniawi supaya aku bersyukur karenanya, dan kemudian tolonglah daku untuk berpantangnya demi Engkau, sehingga aku bisa menikmati rasa bersyukur dan kebebasan serta keberpantangan, sehingga kefakiranku bisa ikhlas, bukan terpaksa.” Kata-kata ini menyanggah Pembimbing praktik mistik, yang berkata: “Dia yang kefakirannya karena terpaksa, lebih sempurna daripada dia yang kefakirannya karena ikhlas; karena kalau kefakiran ini karena terpaksa, dia adalah makhluk (shan’at) kefakiran, dan kalau kefakiran ini karena ikhlas, kefakiran adalah makhluknya; dan ini lebih baik sehingga tindakan-tindakannya akan bebas dari upaya untuk mendapatkan kefakiran demi dirinya sendiri, daripada dia memperoleh kefakiran dengan usahanya sendiri.” Mengenai masalah ini, kukatakan: “Makhluk kefakiran sesungguhnya adalah pribadi yang, ketika menikmati kebebasan, dikuasai oleh keinginan akan kefakiran, dan berusaha melepaskannya dari genggaman dunia; bukan pribadi yang, dalam keadaan fakir, dikuasai oleh keinginan akan kebebasan dan pergi ke rumah-rumah penjahat dan istana-istana para sultan untuk mendapatkan uang. Makhluk kefakiran adalah dia yang lepas dari kebebasan, dan menuju kefakiran, bukan dia yang, sebagai orang fakir, berupaya untuk menjadi kuat (menguasai). Abu Bakar adalah orang yang paling utama sesudah nabi-nabi, dan tidak diperkenankan seseorang mendahuluinya, karena beliau telah menempatkan kefakiran ikhlas di atas kefakiran terpaksa. Ini adalah doktrin yang dianut oleh semua Syaikh Sufi kecuali Pembimbing ruhani yang telah kita sebutkan.”

Zuhri mengatakan bahwa, ketika Abu Bakar di-bay’at sebagai Khalifah, beliau naik ke mimbar dan menyampaikan sebuah pidato, yang di antaranya beliau mengatakan: “Demi Allah, aku tak pernah memimpikan kekuasaan ini, tak menginginkannya barang sehari atau semalam sekalipun, tidak pernah memohon kepada Tuhan untuk ini secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi, juga tidak pernah merasa senang dengan memilikinya.” Nah, bilamana Tuhan menyebabkan seseorang mencapai ketulusan hati yang sempurna dan mengangkatnya ke derajat kemantapan (tamkin), dia menunggu ilham Tuhan, yang bisa memberi petunjuk baginya; bila dia menjadi seorang miskin ataupun seorang pangeran, itu bukan karena pilihan dan kehendaknya sendiri. Jadi, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyandarkan dirinya kepada kehendak Tuhan, dari awal sampai akhir. Karenanya seluruh mazhab Sufi telah menjadikan beliau pola mereka dalam melepaskan diri dari segala hal duniawi, dalam kemantapan (tamkin), alam dambaan akan kefakiran, dan dalam kerinduan untuk menafikan otoritas. Dia adalah Imam bagi segenap kaum Muslim pada umumnya, dan Imam bagi para Sufi pada khususnya.

Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab

Beliau terutama dikenal karena kebijaksanaan dan ketegasannya, dan beliau banyak mengemukakan ujaran yang tinggi tentang tasawuf. Rasul saw. bersabda: “Kebenaran berbicara lewat lidah ‘Umar;” dan lagi, “Terdapat banyak orang yang menerima ilham (muhaddatsun) pada zaman dahulu, dan jika ada orang yang demikian di dalam umatku, inilah ‘Omar.” ‘Omar berkata: “Menarik diri dari khalayak ramai (‘uzlat) adalah sarana untuk menghindarkan seseorang dari pergaulan yang buruk.” Menarik diri ada dua macam, pertama, memalingkan diri dari orang banyak (i’rad az khalq), dan kedua, memalingkan diri sepenuhnya dari mereka (inqitha’ az isyan). Memalingkan diri dari orang banyak berupa memilih menyepi diri, dan berupa penyangkalan terhadap masyarakat secara lahiriah, dan berupa merenungkan tentang kekeliruan-kekeliruan dalam berperilaku, dan berupa berupaya melepaskan diri dari pergaulan dengan orang-orang, dan berupa menjadikan segenap orang terlepas dari tindakan-tindakan buruk. Namun, menarik diri dari khalayak ramai adalah suatu keadaan ruhaniah, yang tidak berkaitan dengan sesuatu yang lahiriah. Bilamana seseorang telah terlepas dari khalayak ramai secara ruhani, dia tidak mengetahui sama sekali tentang ciptaan, dan pikirannya tak akan dikuasai oleh hal itu. Orang semacam itu, meskipun dia hidup di tengah-tengah orang banyak, terisolasi dari mereka, dan ruhaninya terpisah dari mereka. Ini adalah suatu maqam yang sangat terpuji. ‘Omar menempuh jalan lurus maqam ini, karena secara lahiriah beliau hidup di tengah-tengah umat sebagai Amir dan Khalifah mereka. Kata-katanya menunjukkan secara jelas bahwa meskipun ahli-ahli keruhanian dapat berkumpul secara lahiriah dengan khalayak ramai, hati mereka selalu tertuju kepada Tuhan dan kembali kepada-Nya dalam segala keadaan. Mereka menganggap pergaulan mereka dengan orang-orang sebagai suatu cobaan yang diturunkan oleh Tuhan; dan pergaulan itu tidaklah memalingkan hati mereka dari Tuhan, karena dunia tak pernah menjadi suci dalam pandangan orang-orang yang dicintai Tuhan. ‘Omar berkata: “Sebuah tempat tinggal yang dibangun di atas penderitaan, senantiasa membawa penderitaan.” Sufi-sufi menjadikan beliau sebagai teladan mereka dalam memakai jubah bertambal (muraqqa’at) dan dalam keteguhan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.

Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan

Diriwayatkan oleh ‘Abdallah bin Rabah dan Abu Qatadah sebagai berikut: Kami bersama Amirul Mu’minin, ‘Utsman, pada suatu hari ketika rumah beliau diserang orang. Budak-budak beliau, begitu melihat kerumunan pemberontak yang memadati pintu, segera mengambil senjata. ‘Utsman berkata, “Barangsiapa di antara kalian yang tidak membawa senjata, adalah seorang yang merdeka.” Kami lari dari rumah itu, karena mengkhawatirkan hidup kami. Hasan bin ‘Ali menjumpai kami di jalan, lalu kami kembali dengannya ke ‘Utsman, agar kami mengetahui tentang urusannya. Sesudah menyalami dan menyampaikan rasa duka kepada ‘Utsman, Hasan berkata: “Wahai Pangeran orang-orang beriman, aku tidak berani menghunus pedang terhadap orang-orang Islam tanpa perintahmu. Engkau adalah Imam sejati. Perintahkan, tentu aku akan membelamu.” ‘Utsman menjawab: “Wahai saudara sepupuku, kembalilah ke rumahmu dan tunggu di sana sampai Tuhan mewujudkan takdir-Nya. Kita tak ingin menumpahkan darah.”

Kata-kata ini menunjukkan ketenangan dalam menghadapi bencana, dan menunjukkan bahwa sang pembicara telah mencapai derajat persahabatan dengan Tuhan (khullat). Begitu pula, ketika Namrud menyalakan api dan mengikat Ibrahim pada buaian (pala)1 senjata katapel (pelontar), Jibril mendatangi Ibrahim dan berkata, “Apa yang kau inginkan?” Dia menjawab, “Darimu, tidak.” Jibril berkata, “Maka mintalah kepada Tuhan.” Dia menjawab, “Karena Tuhan mengetahui kesulitan yang kualami, aku tidak perlu memohon kepada-Nya.” Di sini ‘Utsman berada dalam kedudukan Sahabat (khalil)2 dalam senjata katapel, dan gerombolan pemberontak dalam kedudukan api, dan Hasan berada dalam kedudukan Jibril; namun Ibrahim selamat, sementara ‘Utsman mati. Keselamatan (najat) berkaitan dengan kebakaan (baqa), dan kebinasaan (halak) dengan pelenyapan (fana): tentang topik ini, telah dibicarakan di atas. Sufi-sufi mengambil ‘Utsman sebagai teladan mereka dalam pengorbanan jiwa dan harta, dalam menyerahkan urusan-urusan mereka kepada Tuhan, dan dalam pengabdian yang tulus ikhlas.

Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib

Derajatnya di jalan (tasawuf) ini sangat tinggi. Beliau menerangkan prinsip-prinsip (ushul) kebenaran Ilahi dengan sedemikian luar biasa, sehingga Junayd berkata: “‘Ali adalah Syaikh kita berkenaan dengan prinsip-prinsip dan berkenaan dengan ketabahan dalam penderitaan, yakni dalam teori dan praktik tasawuf; karena kaum Sufi menyebut teori jalan ini ‘prinsip-prinsip’ (ushul), dan praktiknya sepenuhnya berupa ketabahan dalam penderitaan.” Diriwayatkan bahwa seseorang meminta kepada ‘Ali agar memberinya pesan (washiyyat). ‘Ali menjawab: “Jangan biarkan istri dan anak-anakmu menjadi perhatianmu yang utama; karena jika mereka menjadi sahabat-sahabat Tuhan, Tuhan pun akan menjaga sahabat-sahabat-Nya, dan jika mereka musuh-musuh Tuhan, mengapa engkau memperhatikan musuh-musuh Tuhan?” Pertanyaan ini berkaitan dengan keterpisahan hati dari segala sesuatu kecuali Allah, yang menjaga hamba-hamba-Nya dalam keadaan apa pun yang Dia kehendaki. Maka Musa meninggalkan putri Syu’aib3 dan menyerahkannya kepada Tuhan; dan Ibrahim membawa Hajar dan Isma’il ke sebuah lembah gersang dan menyerahkan mereka kepada Tuhan. Kedua Nabi ini, bukannya menjadikan istri dan anak mereka perhatian mereka yang utama, tetapi menghadapkan hati mereka kepada Tuhan. Ujaran ini mirip jawaban yang ‘Ali berikan kepada orang yang bertanya sesuatu apakah yang paling suci yang bisa diperoleh. Dia berkata: “Ini adalah yang ada dalam kalbu yang diperkaya oleh Tuhan” (ghana al-qalb billah). Kalbu yang begitu diperkaya takkan menjadi miskin karena tidak punya barang-barang duniawi, juga tidak merasa gembira karena memilikinya. Pokok masalah ini sebenarnya berkenaan dengan teori tentang kefakiran dan kesucian, yang sudah dibahas di atas. ‘Ali adalah teladan bagi Sufi-sufi tentang kebenaran-kebenaran dari ungkapan-ungkapan lahiriah dan ketinggian makna batiniah, tentang pelepasan diri dari semua harta dunia maupun akhirat, dan tentang keyakinan kepada santunan Ilahi.•

Catatan Kaki:

  1. Bahasa Arabnya kiffat. Lihat Dozy, Supplement, ii, 476.
  2. Ibrahim disebut oleh kaum Muslim sebagai “Sahabat Tuhan” (al-khalil).
  3. Musa, menurut riwayat, telah menikahi salah seorang putri Syu’aib. Lihat QS 28:22-28 namun nama Syu’aib tidak disebut-sebut.

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team