|
|
8. Para Imam dari Ahlu-Bayt Nabi
SAW.
Hasan bin Ali
Dia sangat ahli dalam tasawuf. Dia berkata: Jagalah
kalbu-kalbu kalian karena Tuhan mengetahui rahasia-rahasia
yang tersirat dalam pikiran-pikiran kalian.
Menjaga kalbu berupa berpaling dari yang
lain (selain Tuhan) dan menjaga pikiran-pikiran rahasia
sedemikian sehingga tidak durhaka kepada Tuhan yang
Mahakuasa. Ketika kaum Qadariyah mendapat angin, dan doktrin
rasionalisme (Mutazilah - penerjemah) berkembang luas,
Hasan Al-Bashri menulis surat kepada Hasan bin Ali
memohon petunjuk, dan memintanya agar menyatakan pendapatnya
tentang masalah yang membingungkan, yaitu masalah takdir,
dan tentang perselisihan pendapat apakah manusia mempunyai
kekuatan untuk bertindak (istithaat). Hasan bin
Ali menjawab bahwa, menurut pandangannya, orang-orang
yang tidak percaya pada ditentukannya (qadar)
kelakuan-kelakuan manusia yang baik dan buruk oleh Tuhan
adalah orang-orang kafir, dan bahwa orang-orang yang
menisbahkan dosa-dosa mereka kepada Tuhan, adalah
orang-orang yang keji, yakni Kaum Qadariyah yang menyangkal
tindakan Tuhan, dan kaum Jabariyah yang menisbahkan
dosa-dosa mereka kepada Tuhan; karenanya manusia bebas
berbuat menurut kekuatan yang diberikan kepada mereka oleh
Tuhan, dan maka dari itu agama kita mengambil jalan tengah
antara kehendak bebas dan takdir. Aku pernah membaca dalam
hikayat-hikayat bahwa ketika Hasan bin Ali duduk di
pintu rumahnya di Kufah, seorang Badui tiba-tiba datang
menghinanya, menghina ayah dan ibunya. Hasan bangkit seraya
berkata: Wahai Badui, mungkin engkau lapar atau haus,
atau apakah engkau sakit? Badui itu tak menghiraukan,
tetapi terus mencemoohnya. Hasan menyuruh hamba sahayanya
untuk membawakan sebuah kotak perak, dan memberikannya
kepada orang itu, seraya berkata: Wahai Badui, maaf,
karena tidak ada lagi barang di rumah ini; sudah tiada lagi,
aku tak segan-segan memberikannya kepadamu. Demi
mendengar hal ini, orang Badui itu berseru: Aku
bersaksi bahwa engkau adalah cucu Rasulullah. Aku datang ke
mari untuk menguji kebaikan hatimu. Begitulah
wali-wali sejati dan Syaikh-syaikh yang tidak mempedulikan
apakah mereka dipuji atau dicela, dan dengan tenang
mendengarkan ejekan.
Husayn bin Ali
Dia syahid di Karbala, dan semua Sufi sepakat bahwa dia
berada pada jalan kebenaran. Selama Kebenaran tampak, dia
mengikutinya; tetapi ketika Kebenaran menghilang, dia
menghunus pedang dan pantang mundur, hingga dia mengurbankan
hidupnya yang mulia demi Tuhan semata. Rasul telah
mengistimewakannya dengan berbagai tanda kehormatan. Maka,
Umar bin Al-Khaththab meriwayatkan bahwa pada suatu
hari dia melihat Rasulullah merangkak, sementara Husayn
duduk di atas punggung beliau seraya memegang seutas tali,
yang ujung lain tali itu berada dalam mulut Rasulullah.
Umar berkata: Betapa bagusnya unta yang kau
miliki, wahai Bapak Abdallah! Rasul menjawab:
Betapa bagus penunggangnya, wahai Umar!
Diriwayatkan bahwa Husayn berkata: Agamamu adalah
sebaik-baik persahabatan bagimu, karena keselamatan
manusia terletak dalam mengikuti agama, dan kebinasaannya
terletak dalam ketidakpatuhan kepada agama.
Ali bin Husayn bin Ali
(Bergelar Zayn Al-Abidin)
Dia berkata bahwa orang yang paling diberkati di dunia
ini dan di akhirat nanti ialah orang yang, bilamana diberi
kesenangan, tidak terbawa oleh kesenangannya ke dalam
keburukan; dan ketika dia marah, tidak dihanyutkan oleh
kemarahannya hingga melampaui batas kebenaran. Ini adalah
watak orang-orang yang telah mencapai kelurusan yang
sempurna (kamal-i mustaqiman). Husayn biasa
menyebutnya Ali Muda (Ali Ashghar). Ketika
Husayn dan anak-anaknya terbunuh di Karbala, yang selamat
hanya Ali Ashghar; dan dia sakit. Para wanita dibawa
tanpa hijab dengan unta-unta menuju Yazid bin Muawiyah
- semoga Tuhan melaknatnya - di Damaskus. Seseorang berkata
kepada Ali: Apa kabar pagi ini, wahai Ali
dan anggota-anggota Bayt Al-Rahman? Ali
menjawab: Kedudukan kami di antara umat kami sama
dengan kedudukan umat Musa di tengah-tengah kaum
Firaun, yang membunuh anak-anak lelaki mereka dan
mengambil perempuan-perempuan mereka hidup-hidup; kami tak
dapat membedakan pagi dari petang karena kenyataan
penderitaan kami.
(Pengarang kemudian meriwayatkan kisah terkenal tentang
Hisyam bin Abdul Malik yang bertemu dengan Ali
bin Husayn di Makkah - bagaimana Khalifah, yang ingin
mencium Hajar Aswad tapi tak bisa mencapainya, melihat
kerumunan massa yang segera memberikan jalan bagi Ali
dan mundur seraya memberi hormat; bagaimana seorang tokoh
dari Syria menanyakan kepada Khalifah siapa nama orang yang
sedemikian dimuliakan itu; bagaimana Hisyam berpura-pura
tidak tahu, karena takut kalau-kalau pendukung-pendukungnya
akan terguncang kesetiaannya kepadanya; dan betapa penyair
Farazdaq melangkah ke depan dan membacakan permulaan sajak
pujian yang indah:1
- Inilah dia yang jejak kakinya dikenal di lembah
Makkah,
- Dia yang selalu dikenal Kabah dan tanah
suci.
- Inilah putra dari sebaik-baik hamba Allah,
- Inilah yang bertakwa, pilihan, yang suci, yang
terkemuka.
Hisyam marah dan menjebloskan Farazdaq ke dalam penjara.
Ali mengirimkan kepadanya sebuah kotak berisi 12.000
dirham; namun, sang penyair mengembalikannya, dengan pesan
bahwa dia telah mengungkapkan berbagai kebohongan dalam
pujian tentang pangeran-pangeran dan gubernur-gubernur yang
biasa dia gubah demi mendapatkan uang, dan bahwa dia telah
mempersembahkan baris-baris puisi ini kepada Ali untuk
menebus dosa-dosanya dalam penghormatan itu, dan untuk
membuktikan cintanya kepada Ahlu-Bayt Nabi. Namun, Ali
tak akan mengambil kembali apa yang telah dia berikan; dan
Farazdaq pada akhirnya mau menerima uang itu).
Jafar Muhammad bin Ali bin
Husayn Al-Baqir
Sementara orang berkata bahwa nama
kehormatan-nya adalah Abu Abdallah. Julukannya
adalah Baqir. Dia terkenal alim dalam ilmu-ilmu yang
musykil, dan terkenal dengan penjelasan-penjelasannya yang
tinggi tentang makna Al-Quran. Diriwayatkan bahwa pernah
seorang raja, yang ingin membinasakannya, memintanya untuk
datang. Ketika Baqir sudah datang, sang raja minta maaf,
lalu memberikan hadiah-hadiah kepadanya, dan
memperlakukannya dengan baik. Ketika ditanyakan mengapa dia
bertindak seperti ini, sang raja menjawab: Ketika dia
(Baqir) masuk, aku melihat dua ekor singa, satu di
tanganannya dan satu di tangan kirinya, yang siap menerkamku
jika aku berbuat sesuatu yang mencelakakannya. Dalam
keterangannya tentang ayat, Barangsiapa yang tidak
percaya kepada thaghut dan percaya kepada Allah
(QS 2:237), Baqir berkata: Sesuatu yang mencegahmu
dari merenungkan Kebenaran, adalah thaghut-mu. Seorang
sahabat karibnya meriwayatkan bahwa ketika sebagian malam
telah berlalu dan Baqir sudah menyelesaikan zikir-zikirnya,
dia biasa menangis kepada Tuhan: Wahai Tuhanku, malam
telah datang, dan kekuasaan raja-raja telah terkulai, dan
bintang-bintang meriap di angkasa, dan semua manusia
terlelap tidur, dan Banu Umayah telah istirahat dan menutup
pintu-pintu mereka dan telah menempatkan pengawal-pengawal
mereka; dan orang-orang yang menginginkan sesuatu dari
mereka telah melupakan urusan-urusan mereka. Tuhan,
Engkaulah Yang Hidup, Yang Abadi, Yang Melihat, Yang
Mengetahui. Tidur dan kantuk tak dapat menyentuh-Mu. Orang
yang tak mengetahui bahwa Engkau adalah seperti yang
kulukiskan, tak patut menerima kemurahan-Mu. Wahai Engkau
yang tak bertara, yang kekekalannya tak terlusuhkan oleh
siang dan malam, yang pintu-pintu rahmat-Mu terbuka bagi
semua orang yang menyeru kepada-Mu, dan yang seluruh
kekayaan yang tak ternilai dilimpahkan atas orang-orang yang
memuji-Mu; Engkau tak pernah mengabaikan si peminta, dan tak
ada makhluk di bumi atau langit dapat mencegah Mukmin sejati
yang memohon kepada-Mu dari mencapai istana-Mu. Wahai Tuhan,
di kala aku mengenang maut, kubur dan hari perhitungan,
bisakah aku mendapatkan kegembiraan di dunia ini? Karena aku
mengakui Engkau Esa, kumohon Engkau memberiku damai pada
saat maut menjelang, tanpa derita, dan bahagia pada saat
hari perhitungan, tanpa hukuman.
Abu Muhammad Jafar bin Muhammad
Shadiq
Dia terkenal di kalangan Syaikh-syaikh Sufi karena
kecanggihan pembicaraannya dan wawasannya yang tajam tentang
kebenaran-kebenaran ruhaniah, dan dia telah menulis
kitab-kitab masyhur yang menerangkan tasawuf. Diriwayatkan
bahwa dia berkata: Barangsiapa yang mengenal Allah dia
akan meninggalkan segala sesuatu yang lain. Ahli
makrifat (arif) mencampakkan yang
lain (selain Allah) dan memutuskan hubungan dari
hal-hal duniawi, karena makrifatnya adalah ketidaktahuan
yang murni (nakirat), karenanya ketidaktahuan
membentuk bagian dari makrifatnya, dan makrifat membentuk
bagian dari ketidaktahuannya. Maka sang ahli makrifat
terpisah dari khalayak ramai dan dari berpikir tentang
mereka, dan dia hidup bersama dengan Tuhan. Yang
lain tak ada tempat dalam hatinya, dan keberadaan
mereka tak terhiraukan olehnya. Dan diriwayatkan bahwa dia
berkata: Tiada pengabdian yang benar tanpa
pertobatan, karena Tuhan telah menaruh pertobatan di depan
pengabdian, dan berfirman, Orang-orang yang bertobat dan
mengabdi (QS 9:113). Pertobatan (tawbat) adalah
maqam pertama dalam jalan ini, dan pengabdian. (ibadat)
adalah yang terakhir. Apabila Tuhan menyebut ketidaktaatan,
Dia menyeru mereka supaya bertobat, dan berfirman,
Bertobatlah kepada Tuhan semuanya (QS
24:31); tetapi, apabila Dia menyebut Rasul, Dia menunjuk
kepada pengabdian-nya (ubudiyyat),
dan berfirman, Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa
yang Dia wahyukan (QS 53: 10). Aku pernah membaca
dalam hikayat-hikayat bahwa Dawud Thai mendatangi
Jafar Shadiq dan berkata: Wahai Putra
Rasulullah, nasihati aku karena pikiranku sedang
gelap. Jafar menjawab: Wahai Abu Sulaiman,
engkau adalah zahid pada zamanmu; apa yang kau butuhkan dari
nasihatku? Dia menjawab: Wahai putra Rasul,
keluargamu mengungguli semua umat manusia, dan wajib bagimu
memberi nasihat kepada semuanya. Wahai Abu
Sulaiman, seru Jafar, Aku khawatir
kalau-kalau pada Hari Kebangkitan kakek buyutku akan
menegurku: Mengapa tak kau penuhi kewajiban mengikuti
langkah-langkahku? Ini bukanlah suatu masalah yang
bergantung pada keotentikan dan persaudaraan (dengan
Muhammad), melainkan pada perbuatan baik di hadapan
Kebenaran. Dawud Thai mulai menangis dan
berseru: Wahai Tuhan, jika orang yang lempungnya
dipola dengan air Kenabian, yang kakek buyutnya adalah
Rasul, dan yang ibunya adalah Fathimah (Batul) - jika orang
yang demikian terguncangkan oleh keragu-raguan, maka
siapakah aku yang bahagia dengan urusanku (kepada
Tuhan)? Suatu hari Jafar berkata kepada
sahabatnya: Marilah kita berikrar bahwa siapa saja di
antara kita yang akan mendapatkan keselamatan pada Hari
Kebangkitan, akan memberikan syafaat kepada yang lain.
Mereka berkata: Wahai Putra Rasul, bagaimana mungkin engkau
membutuhkan syafaat kami, karena kakekmu memberikan syafaat
kepada semua umat manusia? Jafar menjawab:
Perbuatan-perbuatanku sedemikian rupa sehingga aku
malu di hadapan kakekku pada Hari Akhir itu. Memahami
kekeliruan-kekeliruan sendiri adalah mutu kesempurnaan, dan
ciri orang yang mantap dalam kehadiran Ilahi, apakah mereka
itu nabi-nabi, wali-wali, atau rasul-rasul. Rasulullah
bersabda: Apabila Tuhan menginginkan agar seseorang
itu baik, Dia membuatnya menyadari
kekeliruan-kekeliruannya. Barangsiapa bersujud dengan
rendah hati, seperti seorang budak, Tuhan akan mengangkat
derajatnya di dua alam.
Sekarang akan aku sebutkan secara singkat tentang
ahl-i shuffah. Dalam sebuah buku yang berjudul
Jalan Terang Agama (Minhaj Al-Din), yang
kususun sebelum karya ini, aku telah memberikan uraian
terinci tentang mereka masing-masing, tetapi di sini hanya
cukup menyebutkan nama-nama mereka dan nama-nama
kehormatan mereka.
Catatan Kaki:
- Ada sebanyak dua puluh lima baris yang dikutip.
|