|
|
14. Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab
Sufi
Aku baru saja menyatakan, dalam menguraikan tentang Abul
Hasan Nuri, bahwa Sufi-sufi dibagi menjadi dua belas aliran
(mazhab), dua ditolak dan sepuluh diterima. Setiap
aliran dari sepuluh aliran ini mempunyai sistem dan doktrin
yang menyangkut penyucian diri dari hawa nafsu
(mujahadat) dan kontemplasi (musyahadat).
Meskipun berbeda satu sama lain dalam praktik-praktik
peribadatan dan disiplin-disiplin asketik, mereka sepakat
dalam dasar-dasar dan cabang-cabang hukum keagamaan dan
Tauhid. Abu Yazid berkata: Perbedaan di antara para
ulama adalah rahmat, kecuali yang menyangkut keterlepasan
(tajrid)1 dari Tauhid; dan ada
sebuah hadis terkenal yang mengatakan demikian. Esensi
sesungguhnya dari tasawuf terletak di tengah-tengah
riwayat-riwayat (akhbar) atau tradisi-tradisi para
Syaikh, dan hanya dibagi secara resmi dan kias. Karena itu,
secara singkat, aku akan membagi ucapan-ucapan mereka dalam
menerangkan tasawuf dan mengungkapkan prinsip. utama yang
menjadi dasar bagi doktrin tiap-tiap aliran itu, supaya para
siswa bisa segera memahami masalah ini.
1. Muhasibiyah
Mereka adalah pengikut-pengikut Abu Abdallah Harits
bin Asad Al-Muhasibi, yang oleh tokoh-tokoh sezamannya
disepakati sebagai seorang yang mempunyai pengaruh ruhani
dan zuhud (maqbul al-nafas u maqtul al-nafs),
piawai dalam ilmu kalam, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf. Dia
membahas tentang keterlepasan (tajrid) dari dunia dan
Tauhid, sementara hubungan lahir dan batinnya (dengan Tuhan)
tidak tercela. Kekhasan doktrinnya ialah bahwa dia tidak
menganggap kepuasan hati (ridha) sebagai maqam,
tetapi memasukkannya ke dalam keadaan-keadaan
(ahwal). Dia adalah orang pertama yang menganut
pandangan ini, yang diambil oleh orang-orang Khurasan. Orang
Irak, sebaliknya, menyatakan bahwa ridha ialah salah satu
maqam, dan merupakan penghujung dari penyerahan kepada Tuhan
(tawakkal). Perselisihan di antara mereka ini
berlangsung sampai saat ini.2
Sifat Sejati Ridha dan Keterangan
tentang Doktrin Ini
Pertama-tama aku akan menjelaskan sifat sejati ridha dan
mengemukakan berbagai jenisnya; yang kedua, aku akan
menerangkan pengertian sesungguhnya dari
kedudukan (maqam) dan keadaan
(hal) dan perbedaan antara keduanya.
Ridha ada dua jenis: (a) ridha Tuhan kepada manusia, dan
(b) ridha manusia kepada Tuhan. Ridha Tuhan sebenarnya
terkandung dalam kehendak Tuhan bahwa manusia harus diberi
pahala (bagi perbuatan-perbuatan baiknya) dan dalam
penganugerahan kasih-sayang-Nya oleh-Nya kepada manusia.
Ridha manusia sebenarnya terkandung dalam dilaksanakannya
oleh manusia perintah Tuhan dan menyerah kepada
keputusan-Nya. Dengan demikian, keridhaan Tuhan mendahului
keridhaan manusia, karena manusia yang dibantu Tuhanlah yang
akan menyerah kepada keputusan Tuhan dan melaksanakan
perintah-Nya, sebab keridhaan manusia berkaitan dengan
keridhaan Tuhan. Pendeknya, keridhaan manusia adalah
ketenangan terhadap takdir, baik itu buruk maupun baik, dan
kemantapan ruhani (istiqamat) sehubungan dengan
peristiwa-peristiwa, apakah itu semua sebagai perwujudan
Keindahan Ilahi (jamal) ataupun Kegagahan Ilahi
(jalal). Dengan demikian, sama saja bagi manusia
apakah ia terbinasakan dalam api laknat ataupun tercerahkan
oleh cahaya rahmat, karena laknat dan rahmat adalah
bukti-bukti Tuhan, dan apa saja yang berasal dari Tuhan
adalah baik dalam pandangan-Nya. Amir Al-Muminin,
Husayn bin Ali, pernah ditanya mengenai ucapan Abu
Dzar Ghifari: Aku lebih mencintai kefakiran daripada
kekayaan, dan sakit daripada sehat. Husayn menjawab:
Semoga rahmat Tuhan atas Abu Dzar! Namun, kukatakan
bahwa barangsiapa memperhatikan dengan saksama pilihan yang
dibuat oleh Tuhan baginya, tidaklah menginginkan apa-apa
kecuali apa yang Tuhan telah pilihkan baginya.
Bilamana seseorang menerima pilihan Tuhan dan meniadakan
pilihannya sendiri, ia terbebaskan dari semua duka cita.
Namun, ini tidak menganggap baik ketidakhadiran dari Tuhan
(ghaybat); ia menuntut kehadiran bersama Tuhan
(hudhur), karena keridhaan mengusir semua duka
cita dan menyembuhkan kelalaian, dan membersihkan hati
dari pikiran-pikiran yang berhubungan dengan selain Tuhan
dan membebaskannya dari belenggu kemalangan; karena hal ini
merupakan ciri khas keridhaan.
Dari sudut pandang etika, keridhaan adalah sikap pasrah
seseorang yang tahu bahwa suka dan duka ada dalam ilmu
Tuhan, dan sepenuhnya percaya bahwa Tuhan melihatnya dalam
segala keadaan. Ada empat golongan orang yang tawakal: (1)
orang-orang yang puas dengan pemberian Tuhan (atha)
yang berupa mengenal Tuhan (marifat); (2) orang-orang
yang puas dengan kebahagiaan (numa) yang berupa dunia
ini; (3) orang-orang yang puas dengan penderitaan (bala)
yang mengandung cobaan-cobaan yang beraneka ragam; dan (4)
orang-orang yang puas dengan sesuatu yang dipilihkan
(ishthifa) yang berupa cinta (mahabbat). Ia
yang memalingkan muka dari Sang Pemberi dan berpaling kepada
pemberian, menerimanya dengan jiwanya, dan bilamana ia
sedemikian menerimanya, sedih dan kesulitan lenyap dari
hatinya. Ia yang memalingkan muka dari pemberian dan
berpaling kepada Sang Pemberi, kehilangan pemberian itu dan
menempuh jalan keridhaan dengan usahanya sendiri. Nah, usaha
adalah kepedihan dan menyusahkan dan makrifat hanya terwujud
bilamana sifat hakikinya disingkapkan oleh Tuhan; dan karena
makrifat, bila dicari dengan usaha, merupakan belenggu dan
tirai, makrifat yang demikian adalah bukan-intuisi
(nakirat). Ia yang puas dengan dunia ini, tanpa
Tuhan, terlibat dalam kerusakan dan kebinasaan, sebab dunia
seluruhnya begitu tidak ada artinya sehingga sahabat Tuhan
tidak akan memperhatikannya. Kebahagiaan adalah kebahagiaan
bilamana mengantarkan kepada Sang Pemberi kebahagiaan; jika
tidak demikian, merupakan penderitaan. Ia yang puas dengan
penderitaan yang Tuhan turunkan, puas karena dalam
penderitaan ia melihat Si Pencipta dan bisa menanggung
penderitaannya dengan merenungkan Dia yang menurunkan
penderitaan; ia tidak menganggapnya sebagai kepedihan, yang
demikian adalah rasa nikmatnya dalam merenungi Kekasihnya.
Akhirnya, mereka yang puas dengan sesuatu yang dipilihkan
oleh Tuhan, adalah kekasih-kekasih-Nya, yang eksistensi
mereka adalah suatu ilusi dalam kemurkaan dan keridhaan-Nya;
yang hati mereka berada dalam hadirnya Kesucian dan dalam
taman Kedekatan; yang tidak berpikir tentang benda-benda
ciptaan dan telah bebas dari ikatan-ikatan maqam dan
keadaan dan telah mengabdikan diri mereka kepada
cinta Ilahi. Keridhaan mereka tidak melibatkan kesia-siaan
karena keridhaan dengan Tuhan adalah suatu kerajaan yang
nyata.
Diriwayatkan dalam riwayat-riwayat bahwa Musa berkata:
Wahai Tuhan, tunjukkan kepadaku suatu perbuatan, yang
jika aku lakukan, Engkau akan ridha. Tuhan menjawab:
Engkau tak bisa melakukannya, wahai Musa!
Kemudian Musa rebah bersujud, memuja Tuhan dan memohon
kepada-Nya, lalu Tuhan menurunkan wahyu kepadanya, dan
berfirman: Wahai putra Imran, keridhaan-Ku
kepadamu terkandung dalam keridhaanmu dengan
keputusan-Ku, yaitu bilamana seorang manusia ridha
dengan keputusan Tuhan, itu adalah tanda bahwa Tuhan ridha
dengan orang itu.
Bisyr Rafi bertanya kepada Fudhayl bin Iyadh
tentang mana yang lebih baik apakah zuhud atau ridha.
Fudhayl menjawab: Ridha, karena ia yang ridha,
tidaklah menginginkan tahap yang lebih tinggi, yakni,
di atas zuhud ada tahapan yang diinginkan orang yang zuhud,
dan tapi di atas ridha tidak ada peringkat yang diinginkan
orang yang ridha. Karena itu, kuburan wali lebih unggul
daripada pintu gerbang (istana). Kisah ini menunjukkan
kebenaran doktrin Muhasibi, bahwa ridha termasuk
keadaan dan anugerah Ilahi, bukan termasuk
tahapan-tahapan yang dicapai (dengan usaha). Betapapun,
mungkin saja, bahwa orang yang ridha mempunyai keinginan.
Rasulullah biasa berkata dalam doa-doanya: Wahai
Tuhan, aku mohon keridhaan-Mu setelah maujudnya ketetapan-Mu
(al-ridha bad al-qadha), yakni
buatlah aku senantiasa dalam keadaan seperti itu
sehingga bila ketetapan dari-Mu datang kepadaku, takdir akan
mendapatiku ridha dengan kedatangannya. Di sinilah
terbukti bahwa ridha itu muncul setelah kedatangan takdir,
karena, jika ridha mendahului, itu hanya tekad untuk ridha,
yang tidak bisa disamakan dengan ridha yang aktual. Abul
Abbas bin Atha berkata: Ridha itu begini, bahwa
hati menerima pilihan kekal Tuhan demi kepentingan
makhluk-Nya, yakni apa pun yang terjadi padanya, ia
akan memahaminya sebagai kehendak kekal Tuhan dan keputusan
azali-Nya, dan tidak akan bersedih, melainkan menerimanya
dengan suka hati. Harits Muhasibi, penegak doktrin ini,
mengatakan: Ridha adalah tawakalnya hati menghadapi
peristiwa-peristiwa yang timbul karena keputusan-keputusan
Tuhan. Ini adalah doktrin yang sahih, karena tawakal
dan ketenteraman hati bukanlah kualitas-kualitas yang
diusahakan oleh manusia, melainkan anugerah Tuhan. Dan
sebagai argumen untuk pandangan bahwa ridha adalah
keadaan, bukan maqam, mereka menukil kisah
tentang Utbah Al-Ghulam, yang semalaman tidak tidur
tapi terus berkata: Jika Engkau menghukumku, aku cinta
kepada-Mu, dan jika Engkau mengasihiku, aku cinta
kepada-Mu, yakni kepedihan hukuman-Mu dan
kegembiraan kasih-sayang-Mu mempengaruhi tubuh saja,
sedangkan semangat cinta ada dalam hati, yang tidak terusik
karenanya. Ini mendukung pandangan Muhasibi. Ridha
adalah hasil cinta karena sang pencinta ridha dengan apa
yang dilakukan kekasihnya. Abu Utsman Hiri mengatakan:
Selama empat puluh tahun belakangan ini Tuhan tak
pernah menempatkan diriku dalam keadaan yang tidak kusukai,
atau tidak pernah mengalihkan diriku ke keadaan lain yang
sangat kusedihkan. Ini menunjukkan ridha terus-menerus
dan cinta yang sempurna. Kisah tentang darwisy yang jatuh ke
dalam sungai Tigris sungguh terkenal. Menyadari bahwa ia tak
bisa berenang, seseorang yang berada di pinggir sungai
berteriak kepadanya: Tunggu, akan kusuruh seseorang
membawamu ke tepi? Si darwisy berkata,
Jangan. Apakah kau ingin mati
tenggelam? Tidak. Lalu, apa yang kau
inginkan? Si darwisy menjawab: Yang Tuhan
inginkan. Apa hubunganku dengan keinginan?
Para Syaikh Sufi mengungkapkan banyak ujaran tentang
ridha, yang berbeda dalam ungkapan namun sama-sama
sependapat dalam dua prinsip yang sudah disebutkan.
Perbedaan antara
Keadaan (Hal) dan Kedudukan
(Maqam)
Ketahuilah bahwa kedua istilah ini biasa dipakai di
kalangan Sufi. Dan agar siswa mengenal kedua istilah itu,
aku tentu akan membahas masalah ini di sini, meskipun tidak
termasuk ke dalam bab yang sedang diuraikan ini.
Maqam menunjuk kepada keberadaan seseorang di
jalan. Allah, dan dipenuhi olehnya kewajiban-kewajiban yang
berkaitan dengan maqam itu dan penjagaannya atas itu
sehingga dia mencapai kesempurnaannya sejauh berada dalam
kekuatan manusia. Dia tidak boleh menyia-nyiakan maqam-nya
dengan tidak memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditimbulkan
maqam itu. Jadi, maqam pertama adalah tobat (tawbat),
kemudian menyusul berubah sikap (inabat), kemudian zuhud,
lalu tawakal kepada Tuhan, dan seterusnya; tidak
diperkenankan orang berubah sikap tanpa bertobat, atau zuhud
tanpa berubah sikap atau tawakal tanpa zuhud.
Keadaan (hal), di pihak lain, ialah
sesuatu yang turun dari Tuhan ke dalam hati manusia, tanpa
dia mampu menolaknya bila datang, atau meraihnya bila pergi,
dengan ikhtiarnya sendiri. Dengan demikian, sementara
istilah maqam menunjuk kepada jalan sang pencari, dan
kemajuannya di medan juang, dan peringkatnya di hadapan
Tuhan sesuai dengan kebajikannya, istilah hal menunjuk
kepada nikmat dan kemurahan yang Tuhan anugerahkan kepada
hati hamba-Nya, dan yang tidak berkaitan dengan kezuhudan
sang hamba (qatlun-nafs atau jihadun-nafs -
penerjemah). Maqam termasuk ke dalam kategori tindakan,
sedangkan hal termasuk ke dalam kategori anugerah. Oleh
karenanya, orang yang mempunyai maqam, siap siaga dengan
kezuhudannya, sedangkan orang yang memiliki hal, mati bagi
diri dan siap menerima hal yang Tuhan ciptakan
di dalam dirinya.
Di sini Syaikh-syaikh berbeda pendapat. Sebagian
berpendapat bahwa hal bisa permanen, sementara yang lainnya
menolak pandangan ini. Harits Muhasibi berpendapat bahwa hal
bisa permanen. Ia berpendirian bahwa cinta dan rindu serta
kontraksi (pengerutan) (qabdh) dan
pengembangan (basth) adalah hal-hal: jika
mereka tidak bisa permanen, maka sang pencinta tidak akan
menjadi pencinta; dan hingga hal manusia menjadi atributnya,
maka nama hal itu tidaklah cocok digunakan padanya. Karena
alasan inilah dia menganggap ridha sebagai salah satu hal,
dan pandangan yang sama dikemukakan melalui ujaran Abu
Utsman: Selama empat puluh tahun belakangan,
Tuhan tidak pernah menempatkan diriku dalam hal yang tidak
kusukai. Syaikh yang lain menolak bahwa hal bisa
permanen. Junayd berkata: Hal itu seperti sinar kilat;
kepermanenannya hanyalah suatu sugesti dari jiwa rendah
(nafs). Sebagian mengatakan, dengan nada yang
sama: Hal itu seperti namanya, yakni, ia
lenyap hampir secepat turunnya (tahillu) di hati
manusia. Apa saja yang permanen, menjadi atribut, dan
atribut ada dalam objek yang harus lebih sempurna daripada
atribut itu sendiri; dan ini mereduksi doktrin bahwa hal itu
permanen ke tingkat mustahil. Telah kukemukakan perbedaan
antara hal dan maqam agar engkau bisa mengetahui apa yang
dimaksud oleh istilah-istilah ini dalam ungkapan bahasa Sufi
atau dalam karya di hadapan Anda ini.
Kesimpulannya, engkau harus mengetahui bahwa ridha adalah
akhir dari maqam dan awal dari hal; ini adalah sebuah tempat
di mana satu sisinya bertumpu pada perolehan dan usaha, dan
sisi lain tertumpu pada cinta dan kegairahan: tidak ada
maqam di atas itu, sebab, pada titik ini, perjuangan melawan
hawa nafsu (mujahadat) berhenti. Karena itu, permulaannya
berada dalam segala sesuatu yang didapat dengan usaha,
ujungnya berada dalam segala sesuatu yang dianugerahkan oleh
Tuhan. Dengan demikian, ini bisa disebut maqam atau hal.
Inilah doktrin Muhasibi yang berhubungan dengan teori
tasawuf. Namun, dalam praktik, dia tidak membuat perbedaan
kecuali dia biasa memperingatkan murid-muridnya agar tidak
memberikan ungkapan dan agar tidak bertindak yang, meskipun
sahih dalam prinsip, bisa dikira buruk. Umpamanya, dia
mempunyai seekor raja burung
(syah-murghi), yang biasa berlagu nyaring. Suatu
hari, Abu Hamzah dari Baghdad, murid Harits dan seorang
ekstatik, pergi mengunjunginya. Burung itu bersiul dan Abu
Hamzah pun berteriak. Harits bangkit seraya menggenggam
sebilah pisau, dan berseru, Engkau kafir, dan
tentu akan membunuhnya jika murid-murid yang lain tidak
melerai mereka. Dia lalu berkata kepada Abu Hamzah:
Jadilah seorang Muslim, wahai penjahat!
Murid-murid berseru: Wahai Syaikh, kami semua
mengenalnya sebagai seorang wali pilihan dan ahli tauhid;
mengapa Syaikh menjatuhkan tuduhan kepadanya semacam
itu? Harits menjawab: Aku tidak menuduhnya;
pendapat-pendapatnya terpuji, dan aku tahu bahwa dia
benar-benar seorang ahli tauhid, tetapi mengapa dia mesti
melakukan sesuatu yang menyerupai tindakan-tindakan orang
yang mempercayai inkarnasi (hululiyan)? Jika seekor burung
yang tak mengerti itu bersiul sesudah bergaya, mengapa dia
mesti bersikap seolah-olah suaranya adalah suara Tuhan?
Tuhan tidak bisa dibagi, dan Yang Abadi tidak pernah
berinkarnasi, atau bersatu atau bercampur dengan
fenomena. Ketika Abu Hamzah memahami pandangan ruhani
Syaikh, dia berkata: Wahai Syaikh, meskipun aku benar
dalam teori, bagaimanapun juga, karena perbuatanku
menyerupai tindakan-tindakan kaum zindiq, aku bertobat dan
menjauhinya.
Semoga Tuhan menjaga agar tindakanku tidak dituduh
macam-macam. Namun tidaklah mungkin bila orang bergabung
dengan kaum formalis (zhahiriyah) duniawi yang permusuhan
mereka dibangkitkan oleh orang yang tidak tunduk kepada
kemunafikan dan dosa mereka.
Catatan Kaki:
- Yaitu, pelepasan ikatan semua sifat fenomenal dari
Keesaan Tuhan.
- Menurut Qusyayri (105, 21 ff) kaum Irakiyah menganut
doktrin yang di sini dinisbahkan kepada kaum
Khurasaniyah, dan sebaliknya.
|