|
|
14. Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab
Sufi
2. Qashshariyah
Mereka adalah para pengikut Abu Shalih Hamdun bin Ahmad
bin Umara Al-Qashshar, seorang ulama terkenal dan Sufi
terkemuka. Doktrinnya ialah pengejawantahan dan pemakluman
celaan (malamat). Dia biasa mengatakan:
Pengetahuan Tuhan tentang dirimu lebih baik daripada
pengetahuan manusia, yakni, hubunganmu dengan Tuhan
hendaknya lebih baik daripada hubunganmu dengan manusia,
karena hubunganmu dengan manusia menabirimu dari Tuhan. Aku
telah memberikan sedikit banyak uraian tentang Al-Qashshar
dalam bab tentang Celaan. Dia meriwayatkan kisah
berikut: Suatu hari, ketika aku sedang berjalan di
permukaan dasar sungai yang kering di daerah Hira di
Nisyapur, aku bertemu dengan Nuh, seorang penyamun yang
terkenal karena kemurahan hatinya. Aku berkata kepadanya,
Wahai Nuh, apakah kemurahan hati itu? Dia
menjawab: Kemurahan hatiku atau hatimu? Aku
berkata, Terangkan kedua-duanya. Dia menjawab:
Kucopot jas (qaba) dan kupakai jubah bertambal
dan bersikap yang sesuai dengan pakaian itu, supaya aku bisa
menjadi seorang Sufi dan menyingkiri dosa karena rasa maluku
di hadapan Tuhan; tetapi engkau menanggalkan jubah bertambal
supaya engkau tidak tertipu oleh manusia, dan agar manusia
tidak tertipu olehmu; karena itu, kemurahan hatiku ialah
melaksanakan secara resmi hukum keagamaan, sementara
kemurahan hatimu ialah pelaksanaan secara ruhaniah
Kebenaran. Inilah suatu prinsip yang sangat sahih.
3. Thayfuriyah
Mereka adalah para pengikut Abu Yazid Thayfur bin
Isa bin Surusyan Al-Bisthami, seorang Sufi besar dan
terkemuka. Doktrinnya ialah kegairahan (ghalabat) dan
kemabukan (sukr). Kerinduan mendalam kepada Tuhan dan
kemabukan cinta tidak bisa dilakukan oleh manusia, dan
sia-sia untuk mengklaim, dan mustahil meniru, sesuatu yang
berada di luar kemampuan. Kemabukan bukanlah sifat dari
tenang-sadar, dan manusia tidak mampu mendapatkannya bagi
dirinya sendiri. Orang yang mabuk itu tenggelam dalam
perasaannya dan tidak memperhatikan benda-benda ciptaan,
sehingga dia harus mewujudkan kualitas yang melibatkan usaha
yang dilakukan secara sadar (taklif). Para Syaikh
Sufi sepakat bahwa orang yang dapat menjadi teladan yang
cocok bagi orang lain adalah orang yang lurus
(mustaqim) dan telah terlepas dari lingkaran hal-hal;
tetapi, ada sebagian yang mengatakan bahwa jalan kegairahan
dan kemabukan bisa ditempuh dengan usaha, karena Rasulullah
bersabda: Menangislah, atau buatlah seakan-akan engkau
menangis! Nah, meniru orang lain untuk tujuan mencari
pujian orang lain adalah syirik yang halus terselubung,
tetapi berbeda bilamana sasaran si peniru ialah agar Tuhan
membawanya ke peringkat orang yang ia tiru, sesuai dengan
sabda Rasul: Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka
ia termasuk dalam kaum itu. Dan salah seorang Syaikh
berkata: Kontemplasi (musyahadat) adalah hasil
dari perjuangan mematikan hawa nafsu
(mujahadat). Pandanganku sendiri ialah bahwa,
walaupun mujahadat selalu terpuji, kemabukan dan
kegairahan tidak bisa diusahakan sama sekali; oleh sebab itu
mereka tak bisa dimaujudkan oleh mujahadat, yang dalam diri
mereka sendiri tidak pernah menjadi sebab kemabukan.
Sekarang aku akan menunjukkan perbedaan pendapat para Syaikh
mengenai sifat hakiki kemabukan (sukr) dan
ketidakmabukan (shahw), supaya kesulitan-kesulitan
bisa disingkirkan.
Kemabukan dan Ketidakmabukan
Ketahuilah bahwa kemabukan dan
kegairahan adalah istilah-istilah yang digunakan
oleh para ahli keruhanian untuk menunjukkan kegairahan cinta
kepada Tuhan, sementara istilah ketidakmabukan
mengungkapkan pencapaian sesuatu yang diinginkan. Sebagian
menempatkan istilah yang pertama di atas istilah yang kedua,
sementara yang lain menganggap istilah yang kedua
mengungguli istilah yang pertama. Abu Yazid dan
pengikut-pengikutnya lebih menyukai kemabukan daripada
ketidakmabukan. Mereka mengatakan bahwa ketidakmabukan
melibatkan kekukuhan dan keseimbangan sifat-sifat manusia,
yang merupakan tabir terbesar antara Tuhan dan manusia,
sementara kemabukan melibatkan kebinasaan sifat-sifat
manusia, seperti harapan dan pilihan, dan pelenyapan
kendali-diri manusia dalam Tuhan, sehingga hanya
kemampuan-kemampuan itu saja yang tetap hidup dalam dirinya
yang bukan milik manusia; dan semuanya itu paling lengkap
dan sempurna. Dengan demikian, Dawud berada dalam keadaan
ketidakmabukan; suatu tindakan yang berasal dari dirinya
yang Tuhan nisbahkan kepada Dawud sendiri dan berfirman,
Dawud membunuh Jalut (QS 2:252); tetapi
Rasul kita (Muhammad saw.) berada dalam keadaan kemabukan
(sukr) ; suatu tindakan yang berasal dari dirinya (Nabi
Muhammad) yang Tuhan nisbahkan kepada Diri Tuhan sendiri dan
berfirman, Dan bukanlah engkau (Muhammad) yang
telah melempar, ketika engkau melempar, melainkan Allah yang
telah melempar (QS 8:17). Betapa besar perbedaan
antara kedua orang ini! Penisbahan tindakan seorang manusia
kepada Tuhan lebih baik daripada penisbahan tindakan Tuhan
kepada seorang manusia, karena dalam kasus yang belakangan,
manusia berdiri sendiri (bertindak secara mandiri),
sementara dalam kasus yang pertama, dia berdiri lewat Tuhan.
Junayd dan pengikut-pengikutnya lebih menyukai
ketidakmabukan daripada kemabukan. Mereka mengatakan bahwa
kemabukan adalah buruk, karena hal ini melibatkan
terganggunya keadaan normal seseorang dan hilangnya akal
sehat dan kendali-diri; dan karena prinsip segala sesuatu
harus dicari dengan jalan fana atau baka, atau dengan jalan
pengingkaran atau pembenaran, prinsip tahkik baru bisa
dicapai kalau sang pencari itu sehat. Kebutaan tidak akan
pernah melepaskan seseorang dari belenggu dan kerusakan
fenomena. Fakta bahwa orang tetap tinggal dalam fenomena dan
melupakan Tuhan, disebabkan mereka tidak melihat segala
sesuatu sebagaimana adanya secara hakiki; karena jika mereka
melihat seperti itu, mereka akan bebas. Penglihatan ada dua
jenis: ia yang melihat sesuatu, melihatnya dengan mata
kebakaan atau dengan mata kefanaan. Jika dengan mata
kebakaan, ia memahami bahwa semesta alam tidaklah sempurna
dibanding dengan kebakaannya sendiri, karena ia tidak
menganggap fenomena sebagai yang kekal dengan sendirinya;
dan jika ia melihat dengan mata kefanaan, ia memahami bahwa
semua benda ciptaan tidak-berwujud di sisi kekekalan Tuhan.
Dalam kasus apa pun, ia berpaling dari benda-benda ciptaan.
Karena hal ini Rasulullah berujar dalam doanya: Ya
Allah, perlihatkan kepadaku segala sesuatu sebagaimana
adanya, karena barangsiapa melihat segala sesuatu
seperti itu, akan tenang. Nah, penglihatan semacam itu tidak
bisa dicapai kecuali dalam keadaan ketidakmabukan, dan orang
yang mabuk tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Sebagai
contoh, Musa a.s. mabuk; dia tidak bisa menanggung
perwujudan Tuhan, dia jatuh tersungkur tak berdaya (QS
7:143); tetapi, Rasul saw. dalam keadaan tenang-sadar;
beliau memiliki kejayaan yang sama terus-menerus, dengan
kesadaran yang terus meningkat, semenjak dari bumi Makkah,
hingga akhirnya beliau berada pada jarak dua ujung busur
panah, bahkan lebih dekat lagi, dari kehadiran Tuhan (QS
53:9).
Syaikhku, yang mengikuti doktrin Junayd, biasa mengatakan
bahwa kemabukan adalah tempat bermain anak-anak, tetapi
ketidakmabukan adalah medan laga orang-orang dewasa. Aku
katakan, selaras dengan Syaikhku, bahwa kesempurnaan keadaan
orang mabuk kepayang adalah ketidakmabukan. Tahap terendah
dalam ketidakmabukan berupa memandang ke arah ketidakmampuan
manusiawi; maka, ketidakmabukan yang nampak buruk lebih baik
daripada kemabukan yang memang benar-benar buruk.
Diriwayatkan bahwa Abu Utsman Al-Maghribi, pada masa
mudanya, melewatkan masa duapuluh tahun dalam pengasingan
diri, hidup di padang pasir yang ia tak pernah mendengar
suara seorang manusia pun, sampai sosok tubuhnya kerontang
dan matanya menyempit seperti lubang jarum. Setelah masa dua
puluh tahun dilaluinya, ia diperintah (oleh Tuhan) untuk
bergaul dengan umat manusia. Dia memutuskan untuk memulai
hidup dengan hamba-hamba Tuhan yang bersemayam di sisi
Kabah-Nya, karena dengan berbuat begitu ia akan
memperoleh berkah yang lebih besar. Syaikh-syaikh di Makkah
mengetahui kedatangannya dan menyambutnya. Ketika
mendapatinya sedemikian berubah yang ia hampir-hampir tak
tampak sebagai seorang makhluk manusia, mereka berkata
kepada nya: Wahai Abu Utsman, katakanlah mengapa
engkau pergi dan apa yang telah kau lihat dan apa yang telah
kau dapatkan dan untuk apa engkau kembali. Dia
menjawab: Aku pergi karena kemabukan, dan aku telah
melihat keburukannya, dan aku telah mendapatkan
keputusasaan, dan aku kembali karena kepayahan. Semua
Syaikh berkata: Wahai Abu Utsman, tidak
sah bagi seseorang sesudah engkau menerangkan makna
ketidakmabukan dan kemabukan, karena engkau telah bertindak
adil terhadap seluruh masalah dan telah mengutarakan
buruknya kemabukan.
Jadi, kemabukan adalah mengkhayalkan diri telah lenyap,
sementara sifat-sifat sebenarnya masih ada; dan ini adalah
tabir. Ketidakmabukan, pada lain pihak, adalah melihat
kekekalan sementara sifat-sifat sirna (fana); dan ini
adalah wahyu (tersingkapnya tabir rahasia) yang sebenarnya.
Sungguh tak masuk akal bagi seseorang untuk menganggap bahwa
kemabukan lebih dekat dengan kefanaan, daripada
ketidak-mabukan, karena kemabukan adalah kualitas yang
mengungguli ketidakmabukan; dan selama sifat-sifat seorang
manusia cenderung meningkat, ia ada tanpa pengetahuan;
namun, bilamana ia mulai meniadakannya, para pencari Tuhan
punya harapan tentang Dia.
Diriwayatkan bahwa Yahya bin Muadz menulis surat
kepada Abu Yazid: Apakah yang kau katakan tentang
orang yang minum setetes air dari lautan cinta dan menjadi
mabuk? Bayazid menulis surat sebagai jawaban:
Apa yang kamu katakan tentang orang yang, jika semua
lautan di dunia ini diisi dengan anggur cinta, akan meneguk
semuanya dan masih minta lagi untuk menghilangkan rasa
hausnya? Orang-orang membayangkan bahwa Yahya
berbicara tentang kemabukan, dan Bayazid tentang
ketidakmabukan, namun sebenarnya tidak demikian. Orang yang
berada dalam keadaan tidak mabuk adalah ia yang tidak mampu
minum bahkan setetes pun, dan orang yang berada dalam
kemabukan adalah ia yang minum semuanya dan masih
menginginkannya lagi. Anggur merupakan alat kemabukan,
tetapi musuh ketidakmabukan. Kemabukan senantiasa
membutuhkan apa yang sejenis dengan kemabukan itu sendiri,
sementara ketidakmabukan tidak pernah senang meneguk
minuman.
Ada dua jenis kemabukan: (1) dengan anggur kasih sayang
(mawaddat) dan (2) dengan piala cinta
(mahabbat). Yang pertama adalah
disebabkan (malul), karena muncul
dari memperhatikan nikmat (nimat); tetapi yang kedua
tidak punya sebab, karena muncul dari memperhatikan pemberi
nikmat (munim). Dia yang memperhatikan nikmat
senantiasa melihat melalui dirinya sendiri, dan karenanya
melihat dirinya sendiri, namun dia yang memperhatikan sang
pemberi nikmat melihat melalui Diri-Nya, dan karenanya ia
tidak melihat dirinya sendiri, sehingga, meskipun ia mabuk,
kemabukannya adalah ketidakmabukan. Ketidakmabukan juga ada
dua jenis: ketidakmabukan dalam kelalaian (ghaflat)
dan ketidakmabukan dalam cinta (mahabbat). Yang
pertama adalah sebesar-besar tabir, tetapi yang kedua adalah
seterang-terang wahyu. Ketidakmabukan yang berkaitan dengan
kelalaian sebenarnya adalah kemabukan, sementara yang
berkaitan dengan cinta, meskipun itu berupa kemabukan,
sebenarnya adalah ketidakmabukan. Bilamana prinsip
(ashl)-nya ditegakkan dengan sebaik-baiknya,
ketidakmabukan dan kemabukan serupa satu sama lain, namun
bilamana prinsipnya tidak ada, keduanya tidak berdasar.
Pendeknya, di mana mistikus sejati melangkah, ketidakmabukan
dan kemabukan adalah akibat dari perbedaan
(ikhtilaf), dan bilamana Sultan Kebenaran
memperlihatkan keindahan-Nya, ketidakmabukan dan kemabukan
kedua-duanya tampak menjadi tamu-tamu yang tidak diundang
(thufayli), karena garis-garis batasnya menyatu, dan
akhir dari yang satu adalah awal dari yang lain, dan awal
serta akhir adalah istilah-istilah yang menyiratkan
pemisahan, yang perwujudannya hanya bersifat nisbi. Dalam
persatuan, semua pemisahan tertiadakan, sebagaimana
dikatakan penyair:
- Bila bintang-pagi anggur menampakkan
cahayanya,
- Yang mabuk dan yang tidak mabuk sama saja.
Di Sarakhs ada dua pembimbing ruhani, yaitu, Luqman dan
Abul Fadhl Hasan. Suatu hari, Luqman mengunjungi Abul Fadhl
dan menjumpainya memegang selembar kertas di tangannya. Dia
berkata: Wahai Abul Fadhl, apa yang sedang kau cari
dalam kertas ini? Abul Fadhl menjawab: Sesuatu
yang sama dengan yang sedang kau cari tanpa selembar
kertas. Luqman berkata: Lalu mengapa hal ini
berbeda? Abul Fadhl menjawab: Engkau melihat
perbedaan ketika engkau bertanya kepadaku apa yang kucari.
Jadilah tidak-mabuk dari kemabukan, dan lepaslah dari
ketidakmabukan, supaya perbedaan itu bisa disingkirkan
darimu, dan supaya kau ketahui apa yang engkau dan aku
cari.
Thayfuriyah dan Junaydiyah memiliki perbedaan seperti
yang telah ditunjukkan. Mengenai etika, doktrin Bayazid
berupa menjauhkan diri dari pergaulan dan memilih
pengunduran diri dari dunia, dan dia menyuruh murid-muridnya
melakukan tindakan yang sama. Inilah suatu jalan yang
terpuji.
|