Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

14. Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab Sufi

4. Junaydiyah

Mereka adalah pengikut-pengikut Abul Qasim Al-Junayd bin Muhammad, yang pada zamannya disebut Meraknya para Ulama (Tha’us Al-’Ulama). Dia adalah pemimpin mazhab ini dan Imam dari semua Imam mereka. Doktrinnya didasarkan atas ketidakmabukan dan bertentangan dengan doktrin Thayfuriyah, sebagaimana telah dijelaskan. Doktrin yang terkenal dan termasyhur dari semua doktrin, dan semua Syaikh menganutnya, meskipun ada banyak perbedaan dalam ujaran-ujaran mereka tentang etika tasawuf. Kesempatan ini tak mengizinkanku untuk membahasnya lebih jauh dalam buku ini; orang-orang yang ingin lebih mengenalnya, hendaknya mencari keterangan di lain tempat.

Aku pernah membaca hikayat-hikayat bahwa ketika Husayn bin Manshur (Al-Hallaj), dalam keadaan tenggelam dengan perasaannya, memutuskan semua hubungan dengan ‘Amr bin ‘Utsman (Al-Makki) dan mengunjungi Junayd, Junayd bertanya untuk tujuan apa dia datang kepadanya. Husayn mengatakan: “Untuk bergabung dengan Syaikh.” Junayd menjawab: “Aku tidak menerima orang gila. Persahabatan membutuhkan kesehatan; jika kesehatan tidak ada, akibatnya adalah perilakumu terhadap Sahl bin ‘Abdallah Tustari dan ‘Amr!’ Husayn berkata: “Wahai Syaikh, ketidakmabukan dan kemabukan adalah dua sifat manusia, dan manusia ditabiri dari Tuhannya selama sifat-sifatnya belum sirna.” “Wahai putra Manshur,” berkatalah Junayd, “engkau keliru memahami ketidakmabukan dan kemabukan. Yang pertama menunjukkan kebaikan suasana ruhani seseorang dalam hubungannya dengan Tuhan, sementara yang kedua menunjukkan munculnya rasa rindu dan cinta yang berlebihan, dan kedua-duanya tidak bisa diperoleh dengan usaha manusia. Wahai putra Manshur, dalam kata-katamu kulihat banyak kebodohan dan kesia-siaan.”

5. Nuriyah

Mereka adalah pengikut-pengikut Abul Hasan Ahmad bin Muhammad Nuri, salah seorang ulama Sufi yang paling terkemuka. Prinsip doktrinnya ialah menganggap tasawuf lebih unggul daripada kefakiran. Dalam masalah tingkah laku, dia sepakat dengan Junayd. Kekhasan “jalan”-nya ialah bahwa dalam persahabatan (shuhbat) dia lebih mengutamakan kepentingan sahabatnya daripada dirinya sendiri, dan menganggap persahabatan tanpa pengutamaan semacam ini (itsar) tidak dibenarkan. Dia juga menganggap bahwa persahabatan adalah wajib bagi para darwisy, dan bahwa pengunduran diri (‘uzlat) tidaklah terpuji, dan bahwa setiap orang harus lebih mengutamakan sahabatnya daripada dirinya sendiri. Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Berhati-hatilah dengan ‘uzlat, karena ini berkaitan dengan setan; dan bersahabatlah karena di dalamnya ada keridhaan Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Sekarang aku akan menerangkan sifat pengutamaan yang sesungguhnya; dan pada bab tentang persahabatan dan melepaskan ikatan persahabatan, aku akan mengungkapkan rahasia-rahasia masalah itu agar membuatnya lebih jelas.

Pengutamaan Kepentingan Sahabat (Itsar)

Allah berfirman: “Dan mereka (kaum Anshar) lebih mengutamakan kepentingan mereka (kaum Muhajirin) daripada kepentingan mereka sendiri, meskipun mereka dalam kesusahan” (QS 59:9). Ayat ini diwahyukan sehubungan dengan orang-orang miskin di antara para Sahabat pada khususnya. Sifat pengutamaan yang sesungguhnya adalah berupa mempertahankan hak-hak yang menjadi sahabatnya dan, menundukkan kepentingan diri sendiri demi kepentingan sahabatnya, dan bersusah payah demi kebahagiaannya, karena pengutamaan semacam itu adalah membantu orang lain, dan mengamalkan apa yang Tuhan perintahkan kepada Rasul-Nya: “Gunakan permaafan dan perintahkan apa yang benar dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS 7:199). Ini akan diterangkan lebih lengkap dalam bab tentang aturan-aturan persahabatan.

Ada dua jenis pengutamaan: pertama, dalam persahabatan, sebagaimana telah disebutkan tadi; dan kedua, dalam cinta. Dalam mengutamakan kebutuhan sahabat, ada kesusahan dan ikhtiar, namun dalam mengutamakan tuntutan sang kekasih, yang ada hanyalah kesenangan dan kenikmatan. Diriwayatkan bahwa ketika Ghulam Al-Khalil bertindak sewenang-wenang terhadap Sufi-sufi, Nuri dan Raqqam serta Abu Hamzah ditahan dan digiring ke istana Khalifah. Ghulam Al-Khalil mendesak Khalifah untuk menghukum mati mereka, dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang zindiq (sesat), dan Khalifah langsung memerintahkan agar mereka dihukum mati. Ketika algojo mendekati Raqqam, Nuri bangkit dan menyatakan kesediaannya untuk menggantikan Raqqam dengan penuh kepasrahan dan suka cita. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu kagum. Sang algojo berkata: “Wahai anak muda, pedang bukanlah benda yang diinginkan orang sedemikian berhasrat seperti engkau; dan giliranmu belum sampai.” Nuri menjawab: “Ya, ajaranku didirikan di atas pengutamaan. Hidup adalah sesuatu yang paling indah di dunia ini; aku ingin mengorbankan diri demi saudaraku selama masih tersedia sedikit waktu ini. Menurut pandanganku, sesaat di dunia ini lebih baik daripada seribu tahun di akhirat nanti, karena di sini tempat berbakti (khidmat) dan di sana tempat kedekatan (qurbat), dan kedekatan diperoleh dengan kebaktian.” Kebaikan Nuri dan kelembutan kata-katanya sempat mengagumkan Khalifah (yang diberitahu oleh seorang kurir tentang apa yang telah berlangsung) sedemikian rupa, sehingga dia meragukan hukuman mati bagi tiga orang Sufi itu dan meminta kepada kepala Qadhi, Abul ‘Abbas bin ‘Ali, untuk meninjau kembali masalah perkara itu. Qadhi, setelah membawa mereka pulang ke rumahnya dan bertanya kepada mereka mengenai aturan-aturan hukum dan kebenaran, merasa puas dengan mereka, dan menyesal karena tidak mempedulikan nasib mereka. Kemudian, Nuri berkata: “Wahai Qadhi, meskipun engkau telah menanyakan semua persoalan ini, engkau belum menanyakan sesuatu yang tidak menyimpang dari persoalan karena Tuhan mempunyai hamba-hamba yang makan lewat Dia, minum melalui Dia, duduk melalui Dia, dan hidup melalui Dia, serta senantiasa berkontemplasi tentang Dia; jika mereka terputus dari berkontemplasi tentang Dia, mereka akan menangis karena sedih.” Sang Qadhi tepesona dengan kedalaman bicaranya dan kebenaran keadaannya. Dia lalu menulis surat kepada Khalifah: “Jika Sufi-sufi adalah orang-orang zindiq, siapakah di dunia ini yang ahli tauhid (muwahhid)?” Khalifah memanggil mereka untuk menghadap, dan berkata: “Mintalah sesuatu.” Mereka menjawab: “Satu-satunya yang kami mohon darimu ialah Anda hendaknya melupakan kami, dan janganlah membuat kami orang-orang yang Anda sukai, dan jangan pula mengusir kami dari istanamu, karena kesukaan dan ketidaksukaanmu sama saja bagi kami. Khalifah menangis dan mengizinkan mereka pergi dengan rasa hormat.

Diriwayatkan bahwa Nafi1 berkata: “Ibn ‘Umar2 ingin makan ikan. Aku mencari keliling kota, tapi tidak menemukan seekor pun selama tujuh hari. Setelah memperolehnya, aku menyuruh agar ikan itu ditaruh di sepotong roti dan menghidangkannya kepada dia. Aku melihat ungkapan rasa senang di wajahnya sewaktu dia menerimanya, namun sekonyong-konyong seorang pengemis mendatangi pintu rumahnya, dan dia menyuruh agar ikan itu diberikan kepada pengemis itu. Nafi berkata: “Wahai tuan, engkau menginginkan ikan beberapa hari lamanya; biarlah kami beri pengemis itu barang lain.” Ibnu ‘Umar menjawab: ‘Ikan ini tidak dihalalkan bagiku, karena aku sudah tidak lagi menginginkannya, sebab ada sebuah hadis yang kudengar dari Rasulullah: “Kapan saja seseorang merasakan suatu keinginan dan lalu menampiknya, dan lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, maka ia akan diampuni dosa-dosanya.”

Aku sudah membaca hikayat-hikayat bahwa sepuluh orang darwisy tersesat jalan di padang pasir dan ditimpa kehausan. Mereka hanya mempunyai satu cangkir air, dan setiap orang lebih mengutamakan kebutuhan yang lainnya, sehingga tak seorang pun di antara mereka meminumnya, dan mereka mati semua kecuali seorang, yang kemudian meminumnya dan mendapatkan kekuatan untuk meneruskan perjalanan. Seseorang berkata kepadanya: “Seandainya kau tidak meminumnya, itu lebih baik.” Dia menjawab: “Hukum mewajibkan aku meminumnya; jika tidak kulakukan, aku akan membunuh diriku sendiri dan dihukum karenanya.” Yang lain berkata: “Lalu kawan-kawanmu membunuh diri mereka sendiri?” “Tidak,” kata darwisy itu, “mereka tak mau minum, supaya sahabat-sahabat mereka bisa minum, tapi tatkala aku sendiri masih hidup, secara hukum aku wajib meminumnya.”3

Di kalangan bangsa Israil, ada seorang ahli ibadah yang mengabdi kepada Tuhan selama empat ratus tahun. Suatu hari dia berkata: “Wahai Tuhan, jika Engkau tidak menciptakan gunung-gunung ini, tentu pengembaraan demi agama (siyahat) akan lebih mudah bagi hamba-hamba-Mu.” Tuhan memerintahkan Rasul zaman itu untuk berbicara dengan ahli ibadah itu: “Apa perlunya engkau mencampuri urusan kerajaan-Ku? Nah, karena engkau telah mencampuri urusan, Aku hapus namamu dari daftar orang-orang yang diberkati, dan mencatatnya dalam daftar orang-orang terkutuk.” Ketika mendengar hal ini, ahli ibadah itu gemetar kesenangan dan sujud di lantai penuh rasa syukur. Rasul itu berkata: “Wahai orang bodoh, tak perlu engkau bersujud karena rasa syukur akan mendapatkan kutukan.” “Rasa syukurku,” menjawab ahli ibadah itu, “bukan karena akan dikutuk, melainkan karena namaku setidak-tidaknya tercatat dalam salah satu daftar-Nya. Tapi, wahai Rasul, ada sesuatu yang ingin kumohonkan. Katakanlah kepada Tuhan, ‘Karena Engkau akan mengirimku ke neraka, jadikanlah daku sedemikian besar sehingga aku dapat menggantikan tempat para ahli tauhid yang berdosa, dan biarlah mereka pergi ke surga’.” Tuhan memerintahkan Rasul itu untuk memberitahu si ahli ibadah bahwa masa percobaan yang telah dia alami bukan untuk tujuan menghinanya, melainkan untuk mengungkapkannya kepada orang-orang, dan bahwa pada Hari Kebangkitan dia dan orang-orang yang diberi syafaatnya akan masuk surga.

Aku bertanya kepada Ahmad Hammadi dari Sarakhs, bagaimana permulaan tobatnya. Dia menjawab: “Pada suatu hari aku pergi dari Sarakhs dan menggiring unta-untaku ke padang pasir dan diam di sana untuk waktu yang cukup lama. Aku selalu ingin lapar dan memberikan makananku kepada orang lain, dan kalamullah - ‘Mereka lebih mengutamakan kepentingan mereka (orang-orang lain) daripada diri mereka, meskipun mereka dalam kesusahan’ (QS 59:9) - masih segar dalam ingatanku; dan aku sangat mempercayai kaum Sufi. Suatu hari, seekor singa yang lapar datang dari gurun pasir dan membunuh salah satu untaku dan lalu pergi ke dataran tinggi dan mengaum. Semua binatang buas yang ada di sekitarnya, ketika mendengarnya mengaum, berkumpul mengelilinginya. Ia mencabik-cabik untaku itu dan kembali ke dataran tinggi tanpa memakannya sedikit pun. Binatang-binatang buas lain - rubah-rubah, srigala-srigala, dan sebagainya - mulai berpesta, dan singa tadi menunggu hingga mereka pergi. Lalu ia mendekat agar dapat makan secuil, namun ketika dilihatnya seekor rubah yang pincang, ia pun balik lagi sampai pendatang baru itu makan sekenyangnya. Sesudah itu, ia datang dan makan secuil. Ketika ia meninggalkan tempat itu ia berkata kepadaku yang sedang mengawasi dari jauh: ‘Wahai Ahmad, lebih mementingkan orang lain dalam masalah makanan hanyalah suatu tindak kebajikan anjing-anjing; seorang manusia mestinya mengorbankan hidup dan jiwanya.’ Ketika aku melihat bukti ini, aku menolak semua kedudukan duniawi, dan itulah permulaan tobatku.” Ja’far Khuldi berkata: “Suatu hari, ketika Abul Hasan Nuri sedang berdoa kepada Allah dalam kesendirian, aku kebetulan mendengarnya; dia sangat fasih lidahnya, Dia mengatakan, ‘Wahai Tuhan, dengan pengetahuan dan kekuasaan serta kehendak-Mu yang abadi, Engkau hukum orang-orang di neraka, yang telah Kau ciptakan; dan jika kehendak-Mu yang tak terhalangi untuk membuat neraka penuh dengan manusia, Engkau tentunya bisa mengisi neraka dan semua batas-batasnya dengan diriku seorang dan memasukkan mereka semua ke surga.’ Aku kagum dengan kata-katanya, namun aku bermimpi seseorang datang kepadaku seraya berkata: ‘Tuhan menyuruhmu memberitahu Abul Hasan bahwa dia telah diampuni karena kasih sayangnya kepada makhluk Tuhan dan penghormatannya kepada Tuhan’.”

Dia disebut Nuri karena ketika dia berkata-kata (mengucapkan doa-doa - penerjemah) di dalam sebuah ruangan gelap, seluruh ruangan itu dipancari dengan cahaya (nur) keruhaniannya. Dan dengan cahaya Kebenaran, dia biasa membaca pikiran-pikiran-terdalam murid-muridnya, sehingga Junayd berkata: “Abul Hasan adalah mata-mata atas hati manusia (jasus al-qulub).”

Inilah doktrin khasnya. Doktrinnya adalah suatu prinsip yang kukuh (terbukti kebenarannya - penerjemah), dan prinsip yang amat penting dalam pandangan orang-orang yang mempunyai ketajaman batin. Tiada yang lebih sulit daripada pengorbanan ruhani (badzl-i ruh) dan melepaskan yang dicintanya, dan Tuhan menjadikan pengorbanan ini sebagai kunci semua kebaikan, sebagaimana Dia berfirman: “Engkau tak akan sampai pada kebaikan sehingga engkau memberikan sesuatu yang kau cintai” (QS 3:92). Bilamana ruh dikorbankan, apakah artinya nilai kekayaan, kesehatan, jubah dan makanannya? Inilah dasar tasawuf. Seseorang datang menemui Ruwaym dan meminta bimbingannya. Ruwaym berkata: “Wahai anakku, segenap urusan terkandung dalam pengorbanan ruhani. Jika engkau mampu melaksanakannya, alangkah baiknya; jika tidak, janganlah berurusan dengan kesia-siaan (turrahat) kaum Sufi,” yakni semuanya selain ini adalah sia-sia; dan Allah berfirman: “Jangan katakan mati orang-orang yang terbunuh di Jalan Allah. Bahkan, mereka hidup” (QS 2: 154). Kehidupan abadi diperoleh dengan pengorbanan ruhani dan dengan meniadakan kepentingan diri dalam memenuhi perintah Allah, dan dengan ketaatan kepada sahabat-sahabat-Nya. Tapi dari sudut pandang makrifat, pengutamaan kepentingan orang lain dan pilihan bebas adalah pemisahan (tafriqat), dan pengutamaan yang sejati tersirat dalam persatuan dengan Tuhan, karena dasar hakiki dari kepentingan diri adalah penyerahan diri. Sepanjang kemajuan sang pencari berkaitan dengan daya upaya (kasb), ini berbahaya, tetapi bilamana pengaruh (jadzb) Kebenaran mengejawantahkan kekuasaannya, semua tindakannya kacau, dan dia kehilangan semua kekuatan pengungkapan; juga tidak bisa digunakan nama apa saja padanya, atau gambaran yang diberikan tentangnya atau sesuatu yang disifatkan kepadanya. Mengenai persoalan ini Syibli mengatakan dalam baris-baris puisi:

“Aku hilang bagi diriku dan tak tersadarkan,
Dan sifat-sifatku sirna.
Kini aku hilang bagi segalanya:
Tiada yang tinggal selain ungkapan terpaksa.”

Catatan Kaki:

  1. Seorang ahli hadis terkenal yang wafat sekitar 120 H.
  2. ‘Abdallah adalah putra Khalifah ‘Umar.
  3. Berikut ini dua kisah yang melukiskan topik yang sama: kisah pertama meriwayatkan bagaimana ‘Ali tidur di ranjang Nabi pada malam hijrah di Makkah, ketika orang-orang kafir mencari untuk membunuhnya; kisah kedua, betapa di medan perang Uhud kaum Muslim yang luka-luka, walaupun menderita kehausan, lebih suka mati daripada, minum air yang diperlukan kawan-kawan mereka.

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team