Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

14. Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab Sufi

6. Sahliyah

Mereka adalah pengikut-pengikut Sahl bin ‘Abdallah dari Tustar (Al-Tustari), seorang Sufi besar dan dihormati, yang sudah disebutkan di atas. Doktrinnya menanamkan daya upaya dan meniadakan nafsu diri (mujahadat) dan latihan kezuhudan, dan dia biasa membawa murid-muridnya ke jenjang kesempurnaan dalam mujahadat. Diriwayatkan dalam sebuah hikayat terkenal bahwa dia berkata kepada salah seorang muridnya: “Usahakan mengucapkan kata-kata ini dalam satu hari secara terus-menerus, ‘Allah! Allah! Allah!’ dan lakukan hal yang sama pada hari-hari berikutnya,” sampai terbiasa mengucapkan kata-kata itu. Kemudian dia menyuruhnya mengulangi kata-kata itu pada malamnya juga, sampai kata-kata itu sedemikian karib sehingga ia mengucapkan kata-kata itu bahkan dalam tidurnya. Kemudian dia berkata: “Jangan ulangi lagi kata-kata itu, tapi biarkanlah segenap kemampuanmu tenggelam dalam mengingat Allah.” Sang murid melakukannya, sampai ia terserap dalam mengingat Allah. Suatu hari, ketika ia berada dalam rumahnya, sebilah kayu jatuh di atas kepalanya dan melukai kepalanya. Tetesan-tetesan darah yang tercecer di lantai membawakan bacaan, “Allah! Allah! Allah!”

“Jalan” Sahliyah adalah mendidik murid-murid dengan tindak-tindak mujahadat dan kezuhudan; sedangkan “jalan” Hamduniyah1 ialah melayani dan menghormati darwisy-darwisy; dan “jalan” Junaydiyah adalah mengawasi keadaan ruhani (muraqaba-i bathin).

Tujuan semua kezuhudan dan tindak mujahadat adalah menekan jiwa rendah (nafs); dan begitu manusia mengenal jiwa rendahnya, kebersahajaan-kebersahajaan zuhudnya tak berguna lagi baginya. Nah, oleh karenanya, aku akan menerangkan pengetahuan dan sifat hakiki jiwa rendah, dan pada halaman berikutnya aku akan menyajikan doktrin mengenai mujahadat dan prinsip-prinsipnya.

Sifat Hakiki Jiwa Rendah (Nafs) dan Pengertian tentang Keinginan Rendah (Hawa)

Ketahuilah bahwa nafs, secara etimologis, adalah esensi dan hakikat sesuatu. Namun, dalam bahasa sehari-hari dipakai untuk menunjuk kepada banyak pengertian yang saling berlawanan, misalnya “ruh”, “kejantanan” (muruwwat), “badan”, dan “darah”. Para mistikus dari mazhab ini sepakat bahwa nafs adalah sumber dan prinsip kejahatan, tetapi sebagian mengatakan bahwa nafs adalah substansi (‘ayn) yang berada di dalam badan, sebagaimana ruh, sebagian lain menganggapnya sebagai atribut (sifat) badan, sebagaimana jiwa. Namun, mereka semua sepakat bahwa melaluinya kualitas-kualitas rendah dijelmakan dan bahwa ia adalah sebab langsung dari tindakan-tindakan tak terpuji. Tindakan-tindakan demikian ada dua jenis, yaitu dosa-dosa (ma’ashi) dan kualitas-kualitas rendah (akhlaq-i dani), seperti sombong, iri hati, dengki, murka, kebencian, dan sebagainya, yang tidak dikehendaki menurut hukum dan akal. Kualitas-kualitas ini bisa disingkirkan dengan jalan disiplin (riyadhat); misalnya, dosa-dosa bisa disingkirkan dengan pertobatan. Dosa-dosa termasuk sifat-sifat lahiriah, sementara kualitas-kualitas tadi tergolong sifat-sifat batiniah. Begitu pula, riyadhat (disiplin) adalah tindak lahiriah dan pertobatan adalah sifat batiniah. Kualitas rendah yang muncul di dalam disucikan dengan sifat-sifat lahir yang baik, dan yang muncul di luar disucikan dengan sifat-sifat batin yang terpuji. Kedua-duanya, jiwa rendah dan ruh, adalah hal-hal yang halus (latha’if) yang berada dalam badan, seperti halnya setan-setan, para malaikat, surga, dan neraka berada di dalam alam semesta; namun, yang satu adalah tempat yang baik, sementara yang lain tempat yang buruk. Karenanya, menekan jiwa rendah adalah kepala dari semua tindak ibadah dan mahkota dari semua tindak mujahadat, dan hanya dengan demikian manusia dapat menemukan jalan menuju Tuhan, karena ketundukan kepada jiwa rendah menyebabkan kebinasaan dirinya, dan penguasaan atas jiwa rendah melahirkan keselamatannya.2

Nah, setiap sifat membutuhkan sesuatu yang dapat dilekatinya, dan pengetahuan tentang sifat itu, yakni jiwa, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan pengetahuan tentang badan keseluruhan, dan pengetahuan pada gilirannya memerlukan keterangan tentang kualitas-kualitas tabiat manusia (insaniyyat) dan rahasia yang terkandung di dalamnya, dan diwajibkan atas semua pencari Kebenaran. Karena, barangsiapa tidak mengenal dirinya sendiri, ia lebih tidak mengenal hal-hal lainnya; dan karena manusia harus mengenal Allah, ia pertama-pertama harus mengenal dirinya sendiri, supaya dengan memahami secara benar kesementaraan dirinya ia bisa mengenal kekekalan Tuhan, dan bisa mengetahui kelanggengan Tuhan melalui ketidaklanggengan dirinya. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, maka ia mengenal Tuhannya,” yakni, jika dia tahu bahwa dirinya fana, dia tentu tahu bahwa Tuhan Mahaabadi, atau jika dia tahu bahwa dirinya hina, pastilah dia tahu bahwa Tuhan Mahabesar, atau jika dia tahu bahwa dirinya itu hamba, dia tahu bahwa Allah itu Tuhan yang harus disembah. Karenanya, orang yang tidak mengenal dirinya sendiri, tidak akan mengetahui segala sesuatu.

Mengenai pengetahuan tentang tabiat manusia dan berbagai pandangan tentang topik itu, sebagian orang Islam menyatakan bahwa manusia tiada lain adalah ruh semata, dan badan ini adalah pembungkus dan tempat tinggalnya, untuk menjaganya dari kerusakan karena tingkah laku alamiah (thabayi’), dan yang sifat-sifatnya berupa penginderaan (sensasi) dan daya pikir. Pandangan ini salah, sebab badan, yang darinya jiwa terlepas, masih disebut “manusia” (insan); jika jiwa disatukan dengannya, ia adalah “manusia yang hidup”, dan jika jiwa pergi, ia adalah “manusia yang mati”. Lagi pula, jiwa juga ada dalam badan semua binatang, namun mereka tidak disebut “manusia”. Jika ruh menjadi sebab adanya tabiat manusia, tentu prinsip tabiat manusia mesti ada pada setiap makhluk yang memiliki jiwa (jan-dari); yang merupakan bukti kekeliruan pernyataan mereka. Sementara yang lain menyatakan bahwa istilah “tabiat manusia” bisa diterapkan pada ruh dan badan sekaligus, dan bahwa istilah itu tak lagi berlaku bilamana yang satu terpisah dari yang lain; misalnya, bilamana dua warna, hitam dan putih, terpadukan pada seekor kuda, maka disebut “belang” (ablaq), sedangkan bila terpisah satu dengan yang lain, disebut “hitam” dan “putih”. Ini juga keliru, sesuai dengan firman Tuhan: “Tidakkah datang atas manusia suatu kurun waktu ketika ia tidak disebut apa-apa?” (QS 76: 1); dalam ayat ini, lempung manusia, tanpa jiwa - karena jiwa belum bersatu dengan badannya - disebut “manusia”. Yang lain menyatakan bahwa “manusia” adalah sebuah atom (zarrah), berpusat di hati, yang merupakan prinsip (asal) dari semua sifat manusia. Ini juga aneh dan tak masuk akal, karena jika seseorang dibunuh dan hatinya dikeluarkan dari tubuhnya, ia tidak kehilangan nama “manusia”; lagi pula, disepakati bahwa hati tidaklah berada dalam tubuh manusia sebelum jiwa. Sebagian orang yang mengaku-ngaku sebagai Sufi (mustashwif) telah berbuat keliru mengenai masalah ini. Mereka menyatakan bahwa “manusia” bukanlah yang selalu makan dan minum dan mengalami kehancuran, melainkan suatu rahasia Ilahi, yang selubungnya adalah tubuh ini, yang berada dalam perpaduan suasana alamiah (imtizaj-i thab’i) dan dalam persatuan (ittihad) antara badan dan ruh. Terhadap masalah ini, aku menjawab bahwa berdasarkan kesepakatan umum, nama “manusia” itu milik orang waras dan orang gila, orang kafir dan orang tidak bermoral dan orang bodoh, pada mereka tidak ada “rahasia” seperti itu, dan yang menderita kerusakan dan makan dan minum; dan bahwa tidak ada sesuatu yang disebut “manusia” dalam badan, baik sewaktu ia ada maupun sesudah ia berhenti ada. Tuhan yang Mahakuasa telah memberikan nama “manusia” kepada sejumlah substansi yang Dia senyawakan dalam diri kita, tidak termasuk hal-hal yang tidak ditemukan dalam diri sebagian manusia, misalnya dalam ayat “Dan Kami telah ciptakan manusia dari lempung pilihan,” dan seterusnya (QS 23:12-14). Oleh karenanya, menurut firman Tuhan Yang Mahabenar yang berbicara Kebenaran, bentuk khas ini, dengan semua kandungannya dan dengan semua perubahan yang dialaminya, adalah “manusia”. Orang-orang Sunni tertentu mengatakan bahwa manusia ialah makhluk hidup yang bentuknya mempunyai ciri-ciri khas ini, dan yang kematian tidak mencabut nama ini dari dirinya, dan yang dia memiliki tata bentuk tubuh tertentu (shurat-i ma’hud) dan organ tubuh tertentu (alat-i mawsum) baik secara lahir maupun batin. Yang dimaksud mereka dengan “tata bentuk tubuh tertentu” adalah bahwa ia memiliki kesehatan yang baik atau kesehatan yang buruk, dan yang mereka maksud dengan “organ tertentu” adalah ia gila atau waras. Menurut kesepakatan umum bahwa semakin sahih sesuatu, semakin sempurna resam tubuhnya. Kemudian, ketahuilah bahwa dalam pandangan kaum Sufi, komposisi yang paling sempurna dari manusia memiliki tiga unsur, yaitu ruh, jiwa, dan badan; dan masing-masing unsur ini mempunyai sifat yang langgeng di dalamnya - sifat ruh adalah kecakapan aqliah, sifat jiwa ialah hawa nafsu, dan sifat badan ialah penginderaan. Manusia adalah suatu tipe alam semesta. Alam semesta adalah nama dua alam, dan dalam diri manusia ada tanda dari keduanya, karena ia terdiri dari lendir, darah, empedu, dan kemurungan hati, yang mana empat suasana jiwa berkaitan dengan empat unsur dunia ini, yakni air, tanah, udara, dan api; sedangkan jiwanya (jan), jiwa rendah (nafs), dan badannya berkaitan dengan surga, neraka, dan tempat Kebangkitan. Surga adalah hasil keridhaan Tuhan, dan neraka adalah hasil kemurkaan-Nya. Ruh orang beriman sejati juga memantulkan kedamaian pengetahuan, dan jiwa rendahnya memantulkan kekeliruan yang menabirinya dari Tuhan. Sebagaimana, pada saat Kebangkitan, orang beriman mesti dibebaskan dari neraka sebelum ia bisa mencapai surga dan mendapatkan penglihatan hakiki dan cinta murni; demikian pulalah di dunia ini, ia harus melepaskan diri dari kungkungan jiwa rendahnya sebelum ia bisa memperoleh kemuridan yang hakiki (iradat), yang mana ruh adalah prinsipnya, dan kedekatan sejati (dengan Tuhan) dan makrifat. Oleh sebab itu, barangsiapa mengenal-Nya di dunia ini dan berpaling dari segala sesuatu yang lain dan mengikuti jalan luhur hukum suci (Syari’at Tuhan), maka pada Hari Kebangkitan ia tidak akan melihat neraka dan “jembatan” (shirat). Pendeknya, ruh orang beriman mengantarkannya ke surga yang mana ruh ini merupakan tipe surga di dunia ini, dan jiwa rendahnya menariknya ke neraka, yang mana jiwa rendah merupakan tipe neraka di dunia ini. Maka dari itu, orang-orang yang mencari Tuhan tidak akan pernah mengendorkan perjuangannya melawan jiwa rendah, sehingga dengan demikian mereka bisa menggunakan kekuatan ruh dan akal, yang menjadi rumah bagi rahasia Ilahi.

Lebih Jauh tentang Jiwa Rendah

Sehubungan dengan apa yang telah dikatakan oleh Syaikh-syaikh mengenai jiwa rendah, Dzun Nun dari Mesir (Al-Mishri) berkata: “Pandangan jiwa rendah dan ajakan-ajakannya adalah seburuk-buruk tabir,” karena ketundukan kepadanya berarti ketidaktaatan kepada Allah, yang menjadi sumber semua tabir. Abu Yazid Bisthami mengatakan: “Jiwa rendah adalah sifat yang tidak pernah tenang kecuali dalam kepalsuan (kebatilan),” yakni tidak pernah mencari Kebenaran. Muhammad bin ‘Ali Al-Tirmidzi mengatakan: “Engkau ingin mengenal Tuhan sementara jiwa rendahmu langgeng dalam dirimu; padahal jiwa rendahmu tak mengenal dirinya sendiri; bagaimana ia akan mengenal yang lainnya?” Junayd berkata: “Memenuhi keinginan-keinginan jiwa rendahmu adalah dasar dari kekafiran,” karena jiwa rendah itu tidak berkaitan dengan, dan selalu berusaha berpaling dari, kebenaran murni Islam; dan dia yang berpaling, selalu menolak, dan dia yang menolak, menjadi terasing (begana). Abu Sulayman Darani mengatakan: “Jiwa rendah adalah mara bahaya yang menjadi penghalang (bagi orang yang mencari keridhaan Tuhan); dan penguasaan atasnya adalah sebaik-baik tindakan.”

Kini aku hendak memasuki tujuan utama, yaitu mengutarakan doktrin Sahl mengenai penundukan (mujahadat) dan pendisiplinan (riyadhat) jiwa rendah, dan menerangkan sifat hakikinya.

Mujahadat Melawan Jiwa Rendah

Allah berfirman: “Barangsiapa yang berjuang keras (jahadu) demi diri Kami, Kami akan menunjuki mereka kepada jalan-jalan Kami” (QS 29:69). Dan Nabi saw. bersabda: “Mujahid ialah dia yang berjuang keras dengan segala kemampuannya menghadapi dirinya sendiri (jahadu nafsahu) demi Allah.” Dan beliau juga bersabda: “Kita telah kembali dari perang kecil (al-jihad al-asghar) menuju perang besar (al-jihad al-akbar).” Ketika ditanya, “Apakah perang besar itu?” beliau menjawab, “Perjuangan melawan diri sendiri (mujahadat al-nafs).” Jadi Rasulullah telah menetapkan bahwa peperangan melawan jiwa rendah lebih unggul atau lebih luhur daripada Perang Suci melawan kaum kafir, karena yang pertama itu lebih pedih. Ketahuilah bahwa jalan mujahadat jelas dan nyata, karena disepakati oleh para penganut semua agama dan mazhab dan diamalkan oleh Sufi-sufi pada khususnya; dan istilah “perang melawan hawa nafsu” (mujahadat) terkenal di kalangan Sufi-sufi dari setiap lapisan, dan Syaikh-syaikh telah mengungkapkan banyak ujaran tentang topik ini. Sahl bin ‘Abdallah Tustari mengambil prinsip ini secara ekstrem. Diriwayatkan bahwa dia biasa membuka puasanya hanya sekali dalam lima belas hari, dan dia makan cuma sedikit makanan guna menyambung hidupnya. Sementara semua Sufi telah mengukuhkan perlunya perang melawan hawa nafsu, dan telah menyatakannya sebagai sarana tak langsung (asbab) untuk mencapai kontemplasi (musyahadat), Sahl menyatakan bahwa perang melawan hawa nafsu adalah sebab langsung (‘illat) dari musyahadat, dan ia menisbahkan kepada pencarian (thalaba) pengaruh yang kuat atas pencapaian (yaft), sehingga dia bahkan menganggap hidup yang sekarang (di dunia - penerjemah), yang dihabiskan dalam pencarian, lebih unggul daripada kehidupan mendatang yang menghasilkan buah (di akhirat - penerjemah). “Jika,” katanya, “engkau melayani Tuhan di dunia ini, engkau akan mencapai kedekatan dengan-Nya di alam mendatang; tanpa pengabdian, tidak akan ada kedekatan semacam ini: selanjutnya mujahadat, yang dilakukan dengan bantuan Ilahi, merupakan sebab langsung persatuan dengan Tuhan.” Yang lain, sebaliknya, mengatakan bahwa tak ada sebab langsung bersatu dengan Tuhan, dan barangsiapa sampai kepada Tuhan, yang demikian karena kemurahan Ilahi (fadhl), yang tidak membutuhkan tindakan-tindakan manusia. Oleh sebab itu, mereka berpendapat, tujuan mujahadat ialah meluruskan keburukan-keburukan jiwa rendah, bukan mencapai kedekatan yang sesungguhnya, dan karena mujahadat dirujukkan kepada manusia, sementara musyahadat dirujukkan kepada Tuhan, maka tidak mungkin yang satu disebabkan oleh yang lain. Namun, Sahl menukil untuk mendukung pandangannya tentang firman Tuhan: “Barangsiapa berjuang keras demi Kami, Kami akan menunjuki mereka kepada jalan-jalan Kami” (QS 19:69), yakni barangsiapa menaklukkan hawa nafsunya sendiri, akan mencapai musyahadat. Selanjutnya, dia menegaskan bahwa karena kitab-kitab yang diwahyukan kepada Nabi-nabi, dan Syari’at, dan semua peraturan keagamaan yang dibebankan atas manusia, melibatkan mujahadat, maka itu semua pasti keliru dan sia-sia jika mujahadat bukanlah sebab bagi musyahadat. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, segala sesuatu berkaitan dengan prinsip-prinsip dan sebab-sebab. Jika dikatakan bahwa prinsip-prinsip tidak punya sebab-sebab, maka semua hukum dan tatanan berakhir: kewajiban-kewajiban keagamaan tak dapat dibenarkan, dan makanan juga bukan sebab kenyang dan pakaian bukan sebab adanya hangat. Karena itu, menganggap tindakan sebagai sesuatu yang disebabkan, adalah Pengesaan (tawhid), dan mengingkarinya adalah Peniadaan (ta’thil). Ia yang menyatakannya, membuktikan keberadaan musyahadat, dan ia yang menolaknya, menolak keberadaan musyahadat. Bukankah latihan (riyadhat) mengubah kualitas-kualitas kebinatangan seekor kuda liar dan menggantikannya dengan kualitas-kualitas manusia, sehingga ia akan memungut cambuk di tanah dan mempersembahkannya kepada tuannya, atau akan menggelindingkan bola dengan kakinya? Begitu pula, seorang anak asing dilatih berbicara bahasa Arab, dan menggunakan bahasa baru itu untuk menggantikan bahasa ibunya; dan binatang buas yang liar, yang dilatih agar lari sewaktu aba-aba diberikan, dan kembali lagi ketika dipanggil, lebih menyukai keterikatan daripada kebebasan.3 Oleh karenanya, Sahl dan para pengikutnya berpendapat, mujahadat itu hanya diperlukan untuk mencapai persatuan dengan Tuhan, sebagaimana pemilihan kata-kata dan komposisinya diperlukan untuk menjelaskan gagasan-gagasan; begitu orang dibimbing kepada pengetahuan tentang Sang Pencipta dengan keyakinan bahwa alam semesta diciptakan pada saat yang telah ditentukan, dia dibimbing ke arah persatuan dengan Tuhan melalui pengetahuan dan perjuangan menaklukkan jiwa rendah.

Sekarang aku akan mengemukakan argumen-argumen dari pihak yang menentang. Mereka mengatakan bahwa ayat Al-Quran (29:69) yang dikutip oleh Sahl adalah suatu hysteron proteron, dan yang artinya, “Orang-orang yang Kami bimbing kepada jalan-jalan Kami, berjuang keras demi Kami.” Dan Rasul bersabda: “Tiada seorang pun dari kalian yang akan diselamatkan oleh amal-amalnya.” “Wahai Rasul,” mereka berseru, “termasuk juga engkau?” “Ya,” kata beliau, “kecuali jika Tuhan melindungiku dengan rahmat-Nya.” Nah, mujahadat adalah tindak manusia, dan tindakannya tidak mungkin bisa menjadi sebab keselamatannya, yang bergantung pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Tuhan berfirman: “Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberinya petunjuk, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam, dan (tapi) barangsiapa yang Dia kehendaki untuk menyesatkannya, Dia akan membuat dadanya sesak lagi sempit” (QS 6: 125). Dengan meneguhkan kehendak-Nya, Dia menolak (akibat dari) peraturan-peraturan keagamaan yang dibebankan pada pundak manusia. Jika mujahadat menjadi sebab bagi persatuan, tentunya Iblis tidak akan dilaknat, atau jika melalaikan mujahadat menjadi sebab pelaknatan, tentunya Adam tak bakal diberkati. Hasil bergantung pada kemurahan yang sudah ditetapkan (‘inayat), bukan pada banyaknya mujahadat. Tidaklah benar bahwa ia yang paling berusaha sekuat tenaga, adalah yang paling selamat. Melainkan ia yang paling banyak menerima rahmatlah yang paling dekat dengan Tuhan. Seorang pendeta yang bersembahyang di dalam biaranya mungkin jauh dari Tuhan, sebaliknya seorang pendosa di kedai minum mungkin dekat dengan-Nya. Yang paling mulia di dunia adalah keimanan seorang anak kecil yang belum terkena hukum keagamaan (mukallaf), dan dalam hubungan ini juga adalah orang gila; lalu, jika mujahadat bukan menjadi sebab semulia-mulia segala anugerah, tidak ada sebab yang diperlukan bagi sesuatu yang lebih rendah.

Aku, ‘Ali bin ‘Utsman Al-Jullabi, mengatakan bahwa perbedaan antara dua golongan dalam perselisihan ini terletak dalam pengungkapan (‘ibarat). Yang satu mengatakan, ‘Ia yang mencari, akan menemukan,” dan yang lain mengatakan, “Ia yang menemukan, akan mencari.” Mencari menjadi sebab dari menemukan, tetapi tak kurang benarnya bahwa menemukan menjadi sebab dari mencari. Golongan yang satu mempraktikkan mujahadat untuk tujuan mencapai musyahadat, dan golongan yang lain mempraktikkan musyahadat untuk tujuan mencapai mujahadat. Fakta menunjukkan bahwa hubungan mujahadat dengan musyahadat sama dengan hubungan karunia Ilahi (tawfiq), yang merupakan anugerah dari Tuhan, dengan kepatuhan (tha’at); karena sungguh aneh mencari kepatuhan tanpa karunia Ilahi, pun demikian aneh mencari karunia Ilahi tanpa ketaatan; dan karena tidak mungkin ada mujahadat tanpa musyahadat, pun tidak mungkin ada musyahadat tanpa mujahadat. Manusia dibimbing menuju mujahadat dengan pancaran sinar Keindahan Ilahi, dan karena pancaran sinar itu menjadi sebab adanya mujahadat, petunjuk Ilahi (hidayat) mendahului mujahadat.

Nah, mengenai argumen Sahl dan para pengikutnya bahwa kegagalan untuk meneguhkan mujahadat melibatkan penolakan akan semua peraturan keagamaan yang diturunkan dalam kitab-kitab yang diwahyukan kepada Nabi-nabi, pernyataan ini perlu dikoreksi. Kewajiban-kewajiban keagamaan (taklif) bergantung pada petunjuk Ilahi (hidayat), dan tindak-tindak mujahadat hanyalah bertindak meneguhkan hujah-hujah Tuhan, bukan menentukan persatuan hakiki dengan Tuhan. Tuhan berfirman: “Meskipun Kami telah turunkan malaikat-malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang mati berbicara kepada mereka, dan Kami kumpulkan segala sesuatu di hadapan mereka, mereka tidak akan percaya kecuali Allah menghendaki demikian” (QS 6:111), karena, yang menjadi sebab keimanan adalah kehendak Kami (Tuhan), bukan bukti-bukti atau mujahadat. Dengan demikian, wahyu-wahyu para Nabi dan peraturan-peraturan agama adalah sarana (asbab) untuk mencapai persatuan, tapi bukan menjadi sebab langsung (‘illat) dari persatuan (ittihad). Sejauh menyangkut kewajiban-kewajiban keagamaan, posisi Abu Bakar sama dengan posisi Abu Jahal, namun Abu Bakar, yang mempunyai keadilan dan rahmat, berhasil, sementara Abu Jahal, yang mempunyai keadilan tanpa anugerah rahmat, gagal. Maka dari itu, sebab bagi pencapaian adalah pencapaian itu sendiri, bukan usaha mencapai, karena jika sang pencari itu satu dengan yang dicari, sang pencari akan menjadi satu, dan dalam masalah itu dia tidak akan menjadi pencari, sebab dia yang telah mencapai, menjadi tenang, sedangkan pencari tidak bisa menjadi tenang.

Sehubungan dengan argumen mereka bahwa kualitas-kualitas seekor kuda diubah oleh mujahadat, ketahuilah bahwa mujahadat hanyalah sarana untuk melahirkan kualitas-kualitas yang tersembunyi dalam kuda namun tidak akan tampak sampai ia dilatih. Mujahadat tidak akan pernah mengubah seekor keledai menjadi seekor kuda atau seekor kuda menjadi seekor keledai, karena hal ini melibatkan perubahan identitas; dan karena mujahadat tidak memiliki kekuatan mengalihkan bentuk identitas, maka ia tidak mungkin bisa dikukuhkan di hadapan Tuhan.

Mengenai pembimbing ruhani itu, yakni Sahl, yang sudah terbiasa melaksanakan mujahadat sehingga dia bebas dari jiwa rendah dan, sementara dia berada dalam kenyataan demikian, dia tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Dia tidak seperti sebagian orang yang menjadikan sebagai agama mereka berbicara mengenai mujahadat tanpa melaksanakannya. Betapa anehnya bahwa apa yang seharusnya dilaksanakan cuma menjadi kata-kata belaka! Pendeknya, kaum Sufi meyakini adanya mujahadat dan riyadhat, namun beranggapan bahwa keliru menjunjung tinggi keduanya saja. Orang-orang yang menyangkal mujahadat tidak berarti menyangkal kenyataannya, tetapi hanya menolak hal itu dijadikan segalanya atau bahwa orang harus puas dengan tindakan-tindakannya sendiri di tempat suci, karena mujahadat adalah tindak manusia, sementara musyahadat adalah keadaan dijaganya seseorang oleh Tuhan, dan tindakan-tindakan seseorang tidak mempunyai nilai sampai Tuhan menjaganya seperti ini. Mujahadat orang-orang yang Tuhan cintai adalah tindakan Tuhan di dalam diri mereka di luar kehendak mereka sendiri: ia menguasai dan melebur mereka; tetapi mujahadat orang-orang yang bodoh adalah tindakan mereka sendiri di dalam diri mereka sendiri dengan kehendak mereka sendiri; ini membahayakan dan menyedihkan mereka, sedangkan kesedihan disebabkan oleh keburukan. Maka dari itu, janganlah. berbicara tentang tindakan-tindakanmu sendiri sementara engkau bisa menghindarinya, dan jangan sekali-kali dalam keadaan apa pun menuruti keinginan jiwa rendahmu, karena ini merupakan wujud fenomenalmu yang menabiri engkau dari Tuhan. Jika engkau ditabiri oleh satu tindakan saja, engkau bisa menjadi tak tertabiri oleh yang lainnya, namun karena keseluruhan wujudmu adalah tabir, engkau tidak akan menjadi baka sampai engkau sepenuhnya sirna. Diriwayatkan dalam sebuah hikayat yang terkenal bahwa Husayn bin Manshur (Al-Hallaj) datang ke Kufah dan menginap di rumah Muhammad bin Al-Husayn Al’Alawi. Ibrahim Khawwash juga datang ke Kufah, dan, ketika mendengar tentang (kedatangan) Al-Hallaj, dia pergi menemuinya. Al-Hallaj berkata: “Wahai Ibrahim, selama empat puluh tahun hubunganmu dengan tasawuf ini, apa yang telah kau dapatkan darinya?” Ibrahim menjawab: “Aku telah membuat doktrin tentang penyerahan diri kepada Tuhan (tawakkal) khas doktrinku sendiri.” Al-Hallaj berkata: “Engkau telah menyia-nyiakan hidupmu dengan membina tabiat ruhanimu; apa yang terjadi dengan kefanaan dalam Pengesaan (al-fana fi al-tawhid)?” yakni, “pasrah kepada Tuhan adalah istilah yang menunjuk kepada perilakumu terhadap Tuhan dan kebagusan ruhanimu dalam hubungannya dengan penyerahan kepada-Nya; jika manusia menggunakan seluruh waktu hidupnya dengan mengobati tabiat ruhaninya, dia akan membutuhkan waktunya yang lain untuk mengurus tabiat jasmaninya, dan hidupnya akan hilang sebelum dia menemukan jejak Tuhan”. Dan ada sebuah kisah tentang Syaikh Abu ‘Ali Siyah dari Merw, bahwa dia berkata: “Aku melihat jiwa rendahku dalam bentuk yang menyerupai diriku sendiri, dan makhluk tertentu telah menangkapnya dengan rambutnya dan memberikannya kepadaku. Kuikat ia pada sebatang pohon dan bermaksud untuk menghancurkannya, ketika ia berteriak, ‘Wahai Abu ‘Ali, jangan kau persulit dirimu. Akulah tentara Tuhan (lasykar-i khudayam); engkau tak dapat merecahku sampai habis’.” Dan diriwayatkan mengenai Muhammad bin ‘Ulyan dari Nasa, seorang sahabat Junayd yang terkemuka, bahwa ia berkata: “Pada permulaan jalan kesufianku, ketika aku telah menyadari kerusakan-kerusakan jiwa rendah dan mengenal perangkap-perangkapnya, aku selalu merasakan kebencian terhadapnya dalam hatiku. Suatu hari, binatang seperti seekor rubah belia muncul dari tenggorokanku, dan Tuhan membuatku mengenal bahwa ia adalah jiwa rendahku. Aku mencampakkannya di bawah kakiku,, dan pada setiap tendangan yang kuberikan kepadanya, ia semakin membesar. Aku berkata: ‘Benda-benda lain bisa rusak karena tekanan dan pukulan; mengapa engkau semakin membesar?’ Ia menjawab: ‘Karena aku dicipta tahan uji; yang terasa sakit bagi benda-benda lain, terasa senang bagiku, dan kesenangan mereka adalah kesedihanku’.” Syaikh Abul ‘Abbas Syaqani, yang menjadi Imam pada zamannya, berkata: “Suatu hari, aku masuk ke dalam rumahku dan mendapati seekor anjing kuning terbaring tidur di situ. Mengiranya telah masuk dari jalan, aku bermaksud mengenyahkannya. Ia lari di bagian bawah pakaianku dan menghilang.” Syaikh Abul Qasim Gurgani, yang kini menjadi Quthb - semoga Allah memperpanjang hidupnya - mengatakan, ketika berbicara tentang permulaan tobatnya, bahwa dia telah melihat jiwa rendahnya berbentuk seekor ular. Seorang darwisy berkata: “Aku telah melihat jiwa rendahku berbentuk seekor tikus. ‘Siapakah engkau?’ tanyaku. Ia menjawab: ‘Akulah kerusakan dari orang-orang yang lalai, karena kugiring mereka kepada keburukan, dan keselamatan dari orang-orang yang mencintai Tuhan; karena jika aku tidak bersama mereka dalam kerusakanku, mereka tentu akan berbangga diri dalam kesucian mereka’.”

Kisah-kisah ini semua membuktikan bahwa jiwa rendah adalah substansi nyata (‘ayni), bukan sekadar atribut (sifat), dan bahwa ia mempunyai atribut-atribut yang kita ketahui dengan jelas. Rasulullah bersabda: “Sejahat-jahat musuhmu adalah jiwa rendahmu, yang berada di antara dua sisimu.” Bilamana engkau telah mengetahui tentangnya, engkau mengenal bahwa ia bisa dikuasai dengan disiplin (riyadhat), tetapi esensi dan substansinya tidak akan sirna. Jika ia benar-benar diketahui dan dikendalikan, sang pencari tidak perlu mengacuhkan walaupun ia tetap ada dalam dirinya. Karenanya, tujuan menaklukkan jiwa rendah adalah membasmi sifat-sifatnya, bukan melenyapkan realitasnya. Kini aku akan membahas sifat hakiki hawa nafsu dan penyangkalan akan birahi.

Sifat Hakiki Hawa Nafsu (Hawa)

Ketahuilah bahwa, menurut pandangan sebagian orang, hawa nafsu adalah istilah yang diterapkan kepada sifat-sifat jiwa rendah, tetapi, menurut yang lain, istilah yang menunjuk kepada kehendak alamiah (iradat-i thab’i) yang olehnya jiwa rendah dikendalikan dan diarahkan, sebagaimana ruh dikendalikan oleh akal. Setiap ruh yang tak mempunyai fakultas akal tidak sempurna, dan begitu juga setiap jiwa rendah yang tidak mempunyai fakultas hawa nafsu tidak sempurna. Manusia senantiasa diimbau oleh akal dan hawa nafsu. Jika ia menuruti panggilan akal, ia mencapai iman, tapi jika ia menuruti panggilan hawa nafsu, ia jatuh ke dalam kesesatan dan kekafiran. Karenanya, hawa nafsu adalah tabir dan penyesat, dan manusia diperintah untuk menekannya. Hawa nafsu ada dua jenis: (1) keinginan bersenang-senang dan birahi, dan (2) keinginan akan kehormatan duniawi dan kekuasaan. Ia yang menuruti kesenangan dan birahi, menyelinap ke tempat-tempat hiburan umum, dan manusia bebas dari kesesatannya, tetapi ia yang menginginkan kehormatan dan kekuasaan hidup di biara-biara (shawami’), tidak hanya menyesatkan dirinya sendiri tetapi juga menyesatkan orang lain. Orang yang setiap tindakannya bergantung pada hawa nafsu dan yang menemukan kepuasan dalam mengikutinya, adalah jauh dari Tuhan meskipun ia bersamamu di dalam masjid; tetapi, orang yang mencampakkan hawa nafsu, dekat dengan Tuhan meskipun ia berada di dalam gereja. Ibrahim Khawwash menuturkan hikayat begini: “Sekali waktu, aku mendengar bahwa di Rum ada seorang pendeta yang telah menghabiskan waktunya tujuh puluh tahun di biara. Aku berkata kepada diriku: ‘Sungguh mengagumkan! Empat puluh tahun adalah batas waktu ikrar-ikrar kependetaan; bagaimana keadaan yang dialami orang ini dengan tinggal di situ selama tujuh puluh tahun?’ Aku pergi mengunjunginya. Ketika aku tiba, ia membukakan pintu dan mengatakan kepadaku: ‘Wahai Ibrahim, aku tahu mengapa engkau datang. Aku tidak tinggal di sini selama tujuh puluh tahun dikarenakan ikrar-ikrar kependetaan, tetapi aku punya seekor anjing yang dikotori hawa nafsu, dan aku tinggal di biara ini untuk menjaga anjing itu (sagbani), dan mencegahnya berbuat aniaya kepada orang lain.’ Mendengarnya berkata begitu aku berseru: ‘Wahai Tuhan, Engkau kuasa menganugerahkan kebaikan kepada seorang manusia yang berada dalam kesesatan yang nyata.’ Dia mengatakan kepadaku: Wahai Ibrahim, berapa lama lagi engkau akan mencari orang? Carilah dirimu sendiri, dan bilamana engkau telah menemukan dirimu sendiri, awasilah dirimu sendiri, karena hawa nafsu ini membusanai dirinya sendiri setiap hari dengan tiga ratus enam puluh pakaian dewa yang beraneka warna dan menyesatkan orang’.”

Pendeknya, setan baru dapat memasuki hati manusia setelah manusia itu ingin berbuat dosa; tetapi, bilamana sejumlah hawa nafsu tampak, setan mengambilnya dan memperlihatkannya kepada hati manusia; dan inilah yang disebut bisikan iblis (waswas). Ini dimulai dari hawa nafsu, dan sehubungan dengan fakta ini, Tuhan bersabda kepada Iblis ketika Iblis bertekad akan menyesatkan seluruh umat manusia: “Sesungguhnya, engkau tak berkuasa atas hamba-hamba-Ku” (QS 15:42), karena setan pada hakikatnya adalah jiwa rendah dan hawa nafsu manusia. Karenanya Rasul bersabda: “Tidak ada seorang pun yang setannya (yakni hawa nafsunya) tidak takluk kecuali ‘Umar, karena dia telah menaklukkan setannya.” Hawa nafsu menjadi salah satu unsur dalam lempung Adam; barangsiapa menundukkannya, maka ia menjadi raja, dan barangsiapa mengikutinya, maka ia menjadi tawanan. Junayd ditanya: “Apakah persatuan dengan Tuhan?” Dia menjawab: “Meniadakan hawa nafsu,” karena di antara semua tindak ibadah yang diridhai Tuhan, tiada yang lebih besar nilainya daripada menundukkan hawa nafsu, karena lebih mudah bagi seorang manusia menghancurkan gunung daripada menundukkan hawa nafsunya. Aku telah membaca dalam hikayat-hikayat bahwa Dzun Nun Al-Mishri berkata: “Kulihat seseorang terbang di udara, dan aku bertanya kepadanya bagaimana ia telah mencapai derajat seperti ini. Ia menjawab: ‘Aku injak hawa nafsu agar aku bisa naik ke udara’.” Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Fadhl Al-Balkhi berkata: “Aku kagum kepada seseorang yang dengan hawa nafsunya memasuki Rumah Tuhan (Baytullah) dan mengunjungi-Nya; mengapa ia tidak menginjak-injak hawa nafsunya sehingga ia bisa sampai kepada Tuhan?

Sifat yang paling menonjol dari hawa nafsu adalah birahi (syahwat). Birahi ialah sesuatu yang menyebar dalam berbagai bagian tubuh manusia, dan dibantu oleh pancaindera. Manusia harus menjaga semua anggota tubuhnya dari ini, dan ia akan ditanyai mengenai tindak tanduk masing-masing anggota tubuhnya. Birahi mata adalah melihat, birahi telinga mendengar, birahi hidung merasakan bau, birahi mulut berbicara, birahi lidah mencecap, birahi badan menyentuh, dan birahi pikir berpikir (andisyidan). Maka perlu bagi pencari Tuhan menggunakan seluruh waktu hidupnya, siang dan malam, dengan menjauhkan dirinya dari dorongan-dorongan hawa nafsu yang menampakkan diri melalui pancaindera, dan berdoa kepada Tuhan agar membuat dirinya sedemikian rupa sehingga keinginan ini akan tersingkir dari tabiat batinnya, karena barangsiapa dikuasai oleh syahwat, maka ia terhijab dari semua hal yang ruhaniah. Jika seseorang hendak menolaknya dengan segenap daya upayanya, ini akan memerlukan waktu yang panjang dan melelahkan. Jalan yang baik adalah kepasrahan (taslim). Diriwayatkan bahwa Abu ‘Ali Siyah dari Merw berkata: “Aku pergi ke kamar mandi, dan sesuai dengan sunnah Nabi, kugunakan sebilah pisau cukur. Aku berkata kepada diriku: ‘Wahai Abu ‘Ali, potonglah anggota tubuh ini (kemaluan - penerjemah) yang menjadi sumber semua birahi dan yang senantiasa membuatmu bergelimang sedemikian banyak keburukan.’ Suara dalam hatiku berbisik: ‘Wahai Abu ‘Ali, akankah kau ikut campur dalam kerajaan-Ku? Tidakkah semua anggota tubuhmu itu milik-Ku? Jika kau melakukannya, Aku bersumpah demi keagungan-Ku bahwa Aku akan menaruh seratus kali lipat birahi dan hawa nafsu di setiap helai rambut yang ada di situ’.”

Meskipun manusia tak punya kuasa atas apa yang buruk dalam resam tubuhnya, dia bisa mengubah sifat buruk itu dengan bantuan Ilahi dan dengan berpasrah kepada kehendak Tuhan dan dengan melepaskan dirinya dari kemampuan dan kekuatannya sendiri. Sesungguhnya, bilamana ia berpasrah diri, Tuhan melindunginya; dan melalui lindungan Tuhan ia bertambah dekat dengan pelenyapan keburukan, daripada ia melalui mujahadat karena lalat-lalat lebih mudah digebah dengan payung (mikanna) daripada dengan sapu pengusir lalat (midzabba). Jika tidak ditakdirkan mendapat perlindungan Tuhan, manusia tak bisa menjauh dari apa-apa dengan daya upayanya sendiri, dan jika Tuhan tidak membantu, usaha manusia sia-sia saja. Tujuan tindak usaha itu ada dua macam: menghindarkan takdir Tuhan, atau mengusahakan sesuatu meskipun sudah ditakdirkan; dan kedua tujuan ini tidaklah mungkin. Diriwayatkan bahwa ketika Syibli sedang sakit, dokter menasihatinya agar berpantang. “Dari apa?” katanya, “dari yang Tuhan anugerahkan kepadaku, atau dari yang tidak Dia anugerahkan? Tak mungkin berpantang dari yang pertama, sedang yang kedua tidak ada di tanganku.” Aku akan membicarakan persoalan ini dengan saksama pada kesempatan lain.

Catatan Kaki:

  1. Para pengikut Hamdun Al-Qashshar, yang umumnya disebut Qashshariyah.
  2. Di sini pengarang mengutip Al-Quran 79:40, 41; 2:81 (bagian dari ayat); 12:53; dan hadis-hadis: “Bilamana Tuhan menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, Dia menyebabkan si hamba melihat kekeliruan-kekeliruan nafsunya," dan “Tuhan berfirman kepada Dawud, ‘Wahai Dawud, bencilah pada nafsumu, karena cinta-Ku bergantung pada kebencianmu padanya’."
  3. Inilah gambaran tentang mujahadat yang Nabi saw. terapkan pada diri beliau.

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team