Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

2. Tentang Kefakiran

Ketahuilah bahwa kefakiran menduduki derajat yang tinggi di Jalan Kebenaran, dan bahwa orang fakir amat dihargai, sebagaimana Tuhan berfirman: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang tetap berjuang di jalan Allah dan tidak dapat berikhtiar di muka bumi; orang yang tidak tahu, menyangka mereka orang kaya, karena mereka memelihara diri dari meminta-minta.” (QS 2:274). Dan: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sementara mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan berharap.” (QS 32:16). Tambahan lagi, Nabi memilih kefakiran dan berkata: “Ya Tuhan, hidupkanlah aku dalam kefakiran dan matikanlah dalam kefakiran, dan bangkitkan dari mati di antara yang fakir!” Dan beliau juga berkata: “Pada Hari Kebangkitan, Tuhan akan berkata, ‘Bawalah olehmu orang-orang yang Kucintai mendekat kepada-Ku;’ kemudian malaikat-malaikat akan berkata, ‘Siapakah orang-orang yang Kaucintai?’ Dan Tuhan akan menjawab, ‘Orang-orang fakir dan yang tak punya’.” Banyak ayat dalam Al-Quran dan hadis berkata seperti ini, yang kemasyhurannya tidak perlu dibincangkan di sini. Di antara kaum Muhajirin di masa Nabi, terdapat orang-orang fakir (fuqara’) yang duduk di masjid dan mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Tuhan, dan dengan teguh meyakini bahwa Tuhan akan memberi mereka roti untuk makanan sehari-hari mereka, dan bertawakal kepada-Nya. Nabi suka berkumpul dengan mereka dan memberikan perhatian kepada mereka; karena Tuhan berfirman: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di sore hari, yang menginginkan keridhaan-Nya.” (QS 6:52). Kapan saja melihat salah seorang di antara mereka, Nabi saw. biasa berkata: “Semoga ayah dan ibuku menjadi kurbanmu! Karena demi kau, Tuhan menegur aku.”

Karena itu, Tuhan telah memuliakan kefakiran dan menjadikannya derajat khusus orang fakir, yang telah melepaskan semua hal yang lahir dan batin, dan benar-benar berpaling kepada Sang Penyebab; yang kefakirannya menjadi kebanggaan mereka, sehingga mereka mengeluh karena kefakiran pergi, dan gembira akan datangnya, dan mendekapnya serta menganggap semua yang lain hina.

Kini, kefakiran mempunyai bentuk (rasm) dan hakikat (haqiqat). Bentuknya adalah kemiskinan, namun hakikatnya adalah keberuntungan dan pilihan bebas. Dia yang memandang bentuk, bertumpu pada bentuk dan, karena gagal mencapai sasarannya, lari dari hakikat; namun dia yang menemukan hakikat, mencegah pandangannya dari semua ciptaan, dan, dalam peniadaan yang sempurna, karena hanya memandang Yang Mahaesa, maka dia bergegas menuju hidup yang kekal. Orang miskin (faqir) tidak memiliki apa-apa dan tidak merasa kehilangan. Dia tidak menjadi kaya dengan memiliki segala sesuatu, pun tidak miskin karena tidak memiliki apa pun: kedua keadaan ini sama saja baginya. Dia akan lebih merasa senang bilamana dia tidak memiliki apa pun, karena para Syaikh mengatakan: “Makin seseorang tertekan dalam keadaan-keadaan, makin terbuka luas (gembira dan bahagia) keadaan (batin) seseorang itu,” karena tidaklah merupakan keuntungan bagi seorang darwisy untuk memiliki harta: jika dia “memenjarakan” segala sesuatu demi kegunaannya sendiri, dia sendiri juga akan “terpenjara”. Sahabat-sahabat Tuhan hidup dari kemurahan Tuhan. Kekayaan dunia menahan mereka dari jalan keridhaan.

Kisah. Seorang darwisy bertemu dengan seorang raja. Raja berkata: “Mintalah hadiah dariku.” Sang darwisy menjawab: “Aku tidak akan minta hadiah dari salah seorang budakku.” “Mengapa demikian?” kata raja. Sang darwisy berkata: “Aku punya dua budak yang merupakan tuan-tuanmu: ketamakan dan pengharapan.”

Nabi berkata: “Kefakiran adalah kemuliaan bagi mereka yang layak memperolehnya.” Kemuliaannya adalah demikian: tubuh seorang fakir dijaga oleh Tuhan dari perbuatan-perbuatan yang nista dan dosa, dan hatinya terpelihara dari kejahatan dan pikiran-pikiran yang kotor karena bagian-bagian lahirnya telah terserap dalam (perenungan akan) berkah Tuhan yang nyata, sementara batinnya terlindung oleh rahmatnya yang gaib, sehingga tubuhnya adalah ruhani dan hatinya adalah ilahiah (rabbani). Maka tak ada hubungan lagi antara dia dan manusia; dunia ini dan akhirat lebih rendah nilainya dari sepasang sayap nyamuk dalam ukuran kefakirannya: dia tidak berada lagi di dalam dunia ini bahkan untuk sesaat pun.

Antara Kekayaan dan Kemiskinan

Syaikh Sufi berbeda pandangan mengenai mana yang lebih tinggi kemiskinan ataukah kekayaan, yang keduanya dipandang sebagai sifat-sifat manusia; karena kekayaan yang sebenarnya (ghina) milik Tuhan, yang sempurna dalam segala sifat-Nya. Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, Ahmad bin Abil Hawari, Harits Al-Muhasibi, Abul ‘Abbas bin ‘Atha, Ruwaym, Abul Hasan bin Sim’un,1 dan para muta’akhirun, di antaranya, Syaikh Akbar Abu Sa’id Fadhlallah bin Muhammad Al-Mayhani, semuanya berpandangan bahwa kekayaan lebih tinggi dibanding kemiskinan. Mereka berpendapat bahwa kekayaan itu adalah satu sifat Tuhan, sedangkan kemiskinan tidak dapat dinisbahkan kepada-Nya: karena itu satu sifat yang umum bagi Tuhan dan manusia adalah lebih tinggi daripada satu sifat yang tidak bisa dikenakan kepada Tuhan. Aku menjawab: “Masyarakat yang disebutkan ini melulu nama, dan tidak memiliki keberadaan dalam kenyataan: masyarakat yang sebenarnya membawa-serta persamaan yang timbal-balik, namun sifat-sifat Tuhan adalah kekal dan sifat-sifat manusia tercipta; karena itu hujahmu salah.” Aku, Ali bin ‘Utsman Al-Jullabi, menyatakan bahwa kekayaan adalah istilah yang bisa dengan tepat dikenakan kepada Tuhan, namun bukan sifat yang layak diberikan kepada manusia; sementara kefakiran adalah istilah yang secara tepat dikenakan kepada manusia, bukan kepada Tuhan. Secara kias seseorang disebut “kaya”, namun sebenarnya dia tidak kaya. Lagi, untuk memberikan hujah yang lebih jelas, kekayaan manusia adalah hasil dari macam-macam sebab, sedang kekayaan Tuhan, yang Diri-Nya adalah Pembuat segala sebab, tidak punya hubungan dengan sebab apa pun. Karena itu, tidak ada umat yang bisa dikaitkan dengan sifat ini. Tidaklah diperkenankan mengaitkan segala sesuatu dengan Tuhan apakah dalam zat, sifat, atau nama. Kekayaan Tuhan adalah Kebebasan-Nya dari siapa pun, dan Kekuasaan-Nya untuk berbuat apa saja yang Dia kehendaki: Begitulah Dia adanya selalu, dan akan demikianlah Dia selamanya. Kekayaan manusia, di lain pihak, adalah, misalnya, sarana penghidupannya, atau hadirnya rasa riang, atau selamat dari dosa, atau kesenangannya bertafakur; hal-hal yang bersifat fenomenal dan selalu mengalami perubahan.

Lebih jauh lagi, orang awam lebih menyukai orang kaya daripada orang miskin dengan alasan bahwa Tuhan telah memberkati orang kaya di dua dunia dan telah menganugerahkan kepadanya kekayaan. Yang mereka maksud dengan “kekayaan” di sini adalah berlimpahnya harta duniawi, kenikmatan jasmani, dan pengumbaran hawa nafsu. Mereka berkata bahwa Tuhan telah memerintahkan kita agar bersyukur atas kekayaan yang diperoleh, dan agar bersabar dalam kemiskinan, yaitu sabar menghadapi kemalangan dan bersyukur dalam kemakmuran; dan bahwa kemakmuran secara hakiki lebih baik daripada kemalangan. Terhadap hal ini aku menjawab bahwa, bilamana Tuhan memerintahkan kita agar bersyukur atas kemakmuran, Dia menjadikan syukur sebagai sarana untuk meningkatkan kemakmuran kita; tetapi bilamana Dia memerintahkan kita agar bersabar dalam kemalangan, Dia menjadikan kesabaran sebagai sarana untuk mendekatkan kita kepada Diri-Nya. Dia berfirman:. “Sungguh, jika kau kembali bersyukur, Aku akan memberimu tambahan” (QS 14: 7), dan juga, “Tuhan bersama dengan orang yang sabar.”(QS 2:148).

Syaikh-syaikh yang meninggikan kekayaan di atas kemiskinan tidak menggunakan istilah “kekayaan” dalam arti yang populer. Apa yang mereka maksud bukanlah “perolehan manfaat” tapi “perolehan dari Yang Maha Pemurah”, dapat bersatu (dengan Tuhan) adalah berbeda dari lupa (akan Tuhan). Syaikh Abu Sa’id2 - semoga Tuhan melimpahkan ampunan dan kasih sayang-Nya kepadanya - berkata: “Kemiskinan adalah kekayaan dalam Tuhan” (al-faqr huwa al-ghina billah), yaitu penyingkapan abadi Kebenaran. Aku menjawab terhadap hal ini, bahwa penyingkapan (mukasyafat) menyiratkan kemungkinan tabir (hijab); karena itu, jika seseorang yang memperoleh penyingkapan, terdindingi dari penyingkapan oleh sifat kekayaan, ia menjadi memerlukan penyingkapan, atau tidak; jika tidak, kesimpulannya tidak masuk akal, jika dia memerlukan, keperluan bertentangan dengan kekayaan; karena itu, istilah tersebut tidak dapat berlaku. Di samping itu, tak seorang pun memiliki “kekayaan dalam Tuhan” sebelum sifat-sifatnya sirna dan tujuannya hanya satu; kekayaan tidak dapat berpadanan dengan kelanggengan suatu objek atau dengan peneguhan sifat-sifat bawaan manusia karena ciri-ciri pokok kefanaan dan wujud fenomenal adalah keperluan dan kemiskinan. Orang yang sifat-sifatnya masih bertahan bukanlah kaya, dan orang yang sifat-sifatnya telah fana tidak berhak atas nama apa pun. Karena itu, “orang yang kaya adalah dia yang diperkaya oleh Tuhan” (al-ghani man aghnahullah) sebab istilah “kaya dalam Tuhan” menunjuk kepada pelaku (fa’il), sedangkan istilah “diperkaya oleh Tuhan” berarti orang yang dikenai tindakan (maf’ul). Yang pertama adalah mandiri, sedangkan yang kedua hidup melalui sang pelaku; karena itu, menghidupkan diri merupakan sifat bawaan manusia, sedangkan hidup melalui Tuhan melibatkan peniadaan sifat-sifat. Karena itu, aku, Ali bin ‘Utsman Al-Jullabi, menyatakan bahwa kekayaan yang sejati bertentangan dengan perihal keabadian (baqa) sifat apa pun, karena sifat-sifat manusia telah terbukti cacat dan bisa rusak; kekayaan tidak pula terletak dalam peniadaan sifat-sifat ini karena nama tidak dapat diberikan kepada sifat yang tidak lagi maujud, dan dia yang sifat-sifatnya telah fana, tidak dapat dipandang sebagai “miskin” atau “kaya”; karena itu, sifat kaya tidak dapat teralihkan dari Tuhan kepada manusia, dan sifat miskin tidak dapat teralihkan dari manusia kepada Tuhan.

Semua Syaikh Sufi dan kebanyakan orang awam lebih menyukai kemiskinan daripada kekayaan, dengan alasan bahwa Al-Quran dan Sunnah menyatakan secara jelas bahwa kefakiran lebih tinggi, dan karenanya sebagian besar kaum Muslim setuju. Aku menjumpai, di antara hikayat-hikayat yang telah kubaca, bahwa pernah persoalan ini dibahas oleh Junayd dan Ibn ‘atha. Ibn ‘atha menekankan keunggulan orang kaya. Dia berargumen bahwa di Hari Kebangkitan, mereka akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan kekayaan mereka, dan bahwa perhitungan (hisab) semacam itu mengakibatkan terdengarnya Kata-kata Ilahi, tanpa tafakur apa pun, dalam bentuk penyesalan (‘itab): dan penyesalan dialamatkan oleh Yang Tercinta kepada sang pencinta. Junayd menjawab: “Jika Dia memanggil orang kaya untuk perhitungan, maka Dia meminta agar orang miskin memberikan dalih; dan memberikan dalih adalah lebih baik daripada mempertanggung-jawabkan.” Ini adalah pokok persoalan yang sangat pelik. Dalam cinta yang sejati, maaf adalah “keyanglainan”, dan penyesalan bertentangan dengan kesatuan. Pencinta memandang kedua hal ini sebagai kecemaran karena berdalih dilakukan untuk ketidakpatuhan tertentu terhadap perintah Kekasih, dan penyesalan dilakukan karena hal yang sama; tapi, keduanya tidak mungkin berada di dalam cinta yang sejati, karena Kekasih tidak menuntut penebusan dari pencinta, pun pencinta tidak lalai melaksanakan kehendak Kekasih.

Setiap orang adalah “miskin”, meskipun dia seorang pangeran. Secara hakiki, kekayaan Nabi Sulayman dan kemiskinan Nabi Sulayman adalah satu. Tuhan berkata kepada Nabi Ayub yang kesabarannya luar biasa, dan begitu pula kepada Nabi Sulayman yang kerajaannya amat luas: “Kau adalah hamba yang baik” (QS 38:29, 44). Ketika keridhaan Tuhan tercapai, tak ada perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan Nabi Sulayman.

Seorang penulis berkata: “Aku telah mendengar bahwa Abul Qasim Qusyayri - semoga Tuhan merahmati dan mengampuninya - berkata: ‘Orang telah berbicara banyak mengenai kemiskinan dan kekayaan, dan telah memilih yang satu atau yang lain bagi mereka sendiri, tapi aku memilih keadaan apa pun yang dipilihkan oleh Tuhan untukku; jika Dia menjadikan aku kaya, aku tidak akan lupa, dan jika Dia menghendaki aku miskin, aku tidak akan menjadi iri dan durhaka’.” Karena itu, kekayaan dan kemiskinan adalah anugerah Tuhan: kekayaan rusak karena kelalaian, kemiskinan karena iri hati. Kedua konsepsi itu sangat bagus, namun berbeda dalam pelaksanaan. Kemiskinan adalah keterceraian hati dari segala kecuali Tuhan, dan kekayaan adalah terkuasainya hati oleh apa yang tidak dapat dibatasi. Bilamana hati telah dijernihkan (dari segala kecuali Tuhan), kemiskinan tak lebih baik daripada kekayaan, pun kekayaan tidak lebih baik daripada kemiskinan. Kekayaan adalah kelimpahan benda-benda dunia, dan kemiskinan adalah kekurangan akan benda-benda dunia; semua benda milik Tuhan: bilamana sang pencari mengucapkan selamat tinggal kepada kemiskinan, antitesisnya lenyap, dan kedua istilah itu tertransendensikan.

Pendapat Para Sufi tentang Kemiskinan

Semua Syaikh sufi telah berbicara tentang permasalahan kemiskinan. Aku sekarang ingin mengutip sebanyak mungkin perkataan mereka untuk dirangkum dalam buku ini.

Salah seorang Sufi mutakhir berkata: Laysa al-faqir man khala min al-zad: innama al-faqir man khala min al-murad (Orang miskin bukan orang yang tak punya rezeki, tetapi orang yang pembawaannya hampa dari nafsu rendah.” Sebagai contoh, jika Tuhan memberikan kepadanya uang dan dia ingin menyimpannya, maka dia akan kaya; dan jika dia ingin melepaskannya, dia tetap kaya karena kemiskinan terletak dalam berhenti mempengaruhi inisiatifnya sendiri. Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata: Al-faqr khawf al-faqr (Tanda kemiskinan sejati adalah, walaupun telah mencapai kesempurnaan seorang wali serta tafakur dan kefanaan-diri, selalu khawatir akan keruntuhan dan kepergiannya). Dan Ruwaym berkata: Min na’t al-faqir hifzhu sirrihi wa-siyanatu nafsihi wa-ada’u faridhatihi (Ciri orang miskin adalah hatinya terlindung dari kepentingan diri, dan jiwanya terjaga dari kecemaran, dan dia melaksanakan kewajiban-kewajiban agama), yaitu tafakur batinnya tidak bertentangan dengan tindakan lahirnya, atau sebaliknya; itulah tanda bahwa dia telah membuang jauh-jauh sifat-sifat kefanaan. Bisyr Al-Hafi berkata: Afdhal al-maqamat i’tiqad al-shabr ‘ala al-faqr ila al-qabr (Sebaik-baik maqam adalah tekad teguh untuk terus tabah dalam kemiskinan). Kini, kemiskinan adalah peniadaan semua maqam: karena itu, tekad untuk tabah dalam kemiskinan merupakan tanda dari memandang pekerjaan dan perbuatan sebagai tidak sempurna, dan tanda dari cita-cita untuk meniadakan sifat-sifat manusiawi. Tetapi, dalam arti yang jelas, perkataan ini memaklumkan bahwa kemiskinan mengungguli kekayaan, dan mengungkapkan tekad untuk tidak pernah mencampakkannya. Syibli berkata: Al-faqir man la yastaghni bi-syay dunallah (Orang miskin tidak pernah puas dengan sesuatu pun kecuali Tuhan), karena dia tidak memiliki keinginan lain. Arti harfiahnya adalah bahwa kau tidak ingin menjadi kaya kecuali oleh-Nya, dan apabila kau telah memperoleh Dia, kau menjadi kaya. Wujudmu, lantas, tentu saja bukan Tuhan; dan karena kau tidak bisa memperoleh kekayaan kecuali dengan melepaskan “yang lain”, “keengkauan”-mu merupakan tabir antara kau dan kekayaan: bilamana itu tercampakkan, kau kaya. Perkataan ini sangat halus dan samar. Dalam pandangan ahli hakikat, ia berarti: Al-faqr an la yustaghna ‘anhu (Kemiskinan adalah tidak pernah bebas dari kemiskinan). Inilah yang dimaksudkan oleh ‘Abdallah Anshari3 - Semoga Tuhan meridhainya - ketika dia berkata bahwa kepiluan kita itu kekal karena cita-cita kita tidak pernah mencapai tujuannya, dan karena keseluruhan (kulliyat) kita tidak pernah menjadi tidak ada di dunia ini atau dunia yang akan datang. Hal itu demikian karena untuk dapat berbuah, diperlukan homogenitas, tapi Tuhan tak punya bandingan, dan untuk berpaling dari Dia, diperlukan kelupaan, namun para darwisy tidak lupa. Suatu tugas yang tak berakhir, suatu jalan yang sulit ditempuh! Yang mati (fani) tidak pernah menjadi hidup (baqi), untuk dapat bersatu dengan-Nya; yang hidup tidak pernah menjadi mati, untuk dapat mendekat kepada-Nya. Semua yang dikerjakan dan diderita para pencinta-Nya, seluruhnya adalah ujian (mihnat); tetapi agar dapat menghibur diri mereka sendiri, mereka telah menemukan praseologi yang kedengarannya bagus (‘ibarati muzakhraf) dan telah menghasilkan maqam-maqam dan sebuah “jalan”. Ungkapan simbolik mereka bermula dan berakhir dalam diri mereka, dan maqam-maqam mereka hanya muncul dalam golongan (genus) mereka, sedang Tuhan adalah bebas dari segala hubungan dan sifat manusia. Abul Hasan Nuri berkata: Na’t al-faqir al-sukun ‘inda al-’adam wa al-badzl ‘inda al-wujud; dan dia juga berkata: Al-idhthirab ‘inda al-wujud (Bilamana dia tidak memperoleh apa pun, dia diam, dan bilamana dia memperoleh sesuatu, dia memandang orang lain lebih berhak memperolehnya daripada dirinya sendiri, dan karenanya dia memberikannya). Praktik yang disebutkan dalam perkataan ini memiliki arti yang penting. Ia mempunyai dua makna:

(1) Ketawakalannya, apabila dia tidak memperoleh apa-apa, adalah ridha; dan kemurahan hatinya, apabila dia memperoleh sesuatu, adalah cinta (mahabbat), karena “ridha” berarti “menerima jubah kehormatan” (qabil-i khil’at). Jubah kehormatan adalah tanda kedekatan (qurbat), sedangkan pencinta (muhibb) menolak jubah kehormatan karena hal itu merupakan tanda pemisahan (furqat); dan

(2) Ketawakalannya, apabila tidak memperoleh apa-apa, adalah berharap memperoleh sesuatu; dan apabila dia memperolehnya, “sesuatu” itu adalah selain Tuhan: dia tidak bisa terpuaskan dengan sesuatu selain Tuhan; karena itu dia menolaknya.

Kedua makna ini tersirat dalam perkataan Syaikh Agung, Abul Qasim Junayd: Al-faqr khuluww al-qalb ‘an al-asykat (Bilamana hatinya hampa dari gejala, maka dia miskin). Karena keberadaan gejala adalah “selain” (Tuhan), penolakan adalah satu-satunya jalan yang mungkin. Syibli berkata: Al-faqr bahr al-bala wa-bala’uhu kulluhu ‘izz” (Kemiskinan adalah lautan kesulitan, dan semua kesulitan demi Dia adalah kemuliaan). Kemuliaan adalah bagian dari “yang lain”. Yang berdukacita tenggelam dalam kesulitan dan tak mengetahui apa-apa tentang kemuliaan, sampai mereka melupakan kesulitannya dan hanya memandang sang Pencipta. Kemudian, kesulitan mereka berubah menjadi kemuliaan, dan kemuliaan mereka menjadi berada dalam keadaan ruhani (waqt), dan keadaan ruhani mereka menjadi cinta, dan cinta mereka menjadi tafakur, sehingga akhirnya otak orang yang bercita-cita sepenuhnya menjadi pusat dari penglihatan melalui kuasa imajinasinya: dia melihat tanpa mata, dan mendengar tanpa telinga. Selain itu, adalah mulia bagi seseorang menanggung beban kesulitan yang diletakkan tasnya oleh Kekasihnya, karena sebenarnya kemalangan adalah kemuliaan, dan kemakmuran adalah kehinaan. Kemuliaan adalah yang membuat seseorang hadir bersama Tuhan, dan kehinaan adalah yang membuat seseorang jauh dari Tuhan: duka cita kemiskinan adalah tanda “kehadiran”, sementara nikmat kekayaan adalah tanda “ketidakhadiran”. Karena itu, seseorang harus terus menanggung kesulitan yang melibatkan tafakur dan kekariban. Junayd berkata: Ya ma’syar al-fuqara innakum tu’rafuna billah wa-tukramuna lillah fa-’anzhuru kayfa takununa ma’allah idza khalawtum bihi (Wahai kaum miskin, kau dikenal melalui Tuhan dan dihormati demi Tuhan: jagalah perilakumu bilamana kau sendirian dengan-Nya), yaitu jika orang memanggilmu “miskin” dan menerima pengakuanmu, sadarilah bahwa kau melaksanakan kewajiban-kewajiban dari jalan kefakiran; dan jika mereka memberimu nama lain, tidak selaras dengan apa yang kau akui, jangan terima hal itu, tapi penuhilah pengakuanmu. Serendah-rendah manusia adalah dia yang dianggap taat kepada Tuhan, namun sebenarnya tidak; dan manusia yang paling mulia adalah dia yang tidak dianggap taat kepada Tuhan, namun sesungguhnya taat. Yang pertama menyerupai seorang tabib yang bodoh, yang berpura-pura dapat mengobati orang, padahal hanya membuat mereka semakin buruk, dan bilamana dia jatuh sakit dia sendiri memerlukan tabib lain untuk mengobatinya; dan yang kedua seperti orang yang tidak dikenal sebagai tabib dan tidak memperhatikan orang lain, namun menggunakan keahliannya agar dirinya tetap sehat. Salah seorang Sufi mutakhir berkata: Al-faqr ‘adan bila wujud (Kemiskinan adalah bukan-wujud yang tidak memiliki keberadaan). Menafsirkan perkataan ini adalah tidak mungkin, karena apa yang tidak maujud tidak perlu diterangkan. Tampaknya bahwa, menurut diktum ini, kemiskinan itu bukan apa-apa, tetapi persoalannya bukan demikian; keterangan-keterangan dan kesepakatan wali-wali Tuhan tidak didasarkan pada suatu prinsip yang secara hakiki tidak maujud. Maknanya di sini bukan “ketidakmaujudan esensi”, tetapi “ketidakmaujudan dari apa yang mencemari esensi”; dan semua sifat manusia merupakan sumber pencemaran: bilamana hal itu tercampakkan, hasilnya adalah kefanaan sifat-sifat yang merampas dari orang yang menderita itu sarana untuk memperoleh, atau gagal memperoleh, sasarannya; tapi tidak-perginya dia ke esensi tampak baginya sebagai kefanaan esensi dan mencampakkannya ke dalam kebinasaan.

Aku telah berjumpa dengan beberapa filosof skolastik yang, karena tidak dapat memahami perkataan ini, menertawakannya dan menyatakannya sebagai omong kosong; dan juga dengan orang-orang tertentu yang berpura-pura (menempuh jalan tasawuf) yang membuat hal itu sia-sia dan sangat meyakini kebenarannya, meskipun mereka tidak memahami prinsip-prinsip dasarnya. Kedua golongan itu sama-sama salah: yang satu, karena bodoh, menolak kebenaran, dan yang lain menjadikan kebodohan sebagai keadaan (kesempurnaan). Kini, ungkapan “ketidakberadaan” (‘adam) dan “kefanaan” (fana), sebagaimana digunakan oleh para Sufi, berarti lenyapnya sarana yang tercela (alat-i madzmum) dan sifat yang salah dalam upaya mencari sifat yang terpuji; mereka tidak mengisyaratkan pencarian akan yang tidak hakiki (‘adam-ma’ni) melalui alat yang maujud.

Kedarwisyan dalam segala maknanya adalah kemiskinan metaforis, dan di antara semua aspeknya ada prinsip yang transenden. Rahasia-rahasia Ilahi datang dan melewati sang darwisy, sehingga urusan-urusannya dikerjakan oleh dirinya sendiri, tindakan-tindakannya ternisbahkan kepada dirinya sendiri, dan gagasan-gagasannya ternisbahkan kepada dirinya sendiri. Tetapi, bilamana urusan-urusannya bebas dari ikatan perolehan (kasb), tindakan-tindakannya tidak lagi dinisbahkan kepada dirinya. Lantas dia adalah jalan, bukan penempuh jalan, yaitu darwisy adalah tempat di mana sesuatu lewat, bukan penempuh jalan yang mengikuti keinginannya. Karena itu, dia tidak mendekatkan sesuatu kepada dirinya dan juga tidak menjauhkan sesuatu dari dirinya: semua yang meninggalkan jejak padanya, milik esensi.

Aku telah menyaksikan Sufi-sufi palsu, yang cuma tukang omong (arbab al-lisan), yang ketidaksempurnaan pemahamannya atas perkara ini tampak menolak keberadaan esensi kefakiran, sementara kurangnya keinginan akan hakikat kefakiran tampak menyangkal sifat-sifat esensinya. Mereka menyebut kegagalan mereka dalam mencari Kebenaran dan Hakikat sebagai “kefakiran” dan “kesucian”, dan tampaknya seolah-olah mereka membenarkan angan-angan mereka dan menolak segala yang lain. Setiap orang dari mereka dalam tingkat tertentu terdindingi dari kefakiran karena kebanggaan akan tasawuf menandakan kesempurnaan kewalian, dan klaim dituduh mengikuti jalan tasawuf adalah tujuan akhir, yaitu pengakuan ini hanya milik keadaan sempurna. Karena itu, sang pencari tidak punya pilihan kecuali menempuh jalan mereka dan menjelajahi maqam-maqam mereka dan mengenal ungkapan-ungkapan simbolik mereka, agar dia tidak menjadi seorang awam (‘ammi) di antara orang-orang yang terpilih. Mereka yang tidak mengetahui prinsip-prinsip umum tidak punya pijakan untuk berdiri, sedangkan mereka yang hanya tidak mengetahui cabang-cabangnya didukung oleh prinsip-prinsip itu. Aku telah mengatakan semua ini untuk mendorong kau menempuh perjalanan keruhanian ini dan menyibukkan dirimu dengan pemenuhan kewajiban-kewajibannya secara benar.

Kini, dalam bab mengenai tasawuf, aku ingin menerangkan beberapa prinsip, kiasan, dan ucapan-ucapan mistis dari mazhab ini. Kemudian aku akan menyebutkan nama orang-orang suci mazhab ini, dan menerangkan ajaran-ajaran yang berbeda-beda yang dianut oleh Syaikh-syaikh Sufi. Pada tempat berikutnya, aku akan menguraikan kenyataan-kenyataan, ilmu-ilmu dan hukum-hukum tasawuf. Pada akhirnya, aku akan menyajikan aturan-aturan disiplin mereka dan makna maqam-maqam mereka, agar kebenaran dari masalah ini menjadi jelas bagimu dan bagi semua pembaca kitabku ini.•

Catatan Kaki:

  1. Lihat Nafahat, No. 291, yang menyebutkan “nama mulia”-nya adalah Abu Al-Husayn.
  2. Lihat Bab XII.
  3. Sufi terkemuka dari Herat, yang wafat pada tahun 481 Hijri (H). Lihat buku Professor Browne, Literary History of Persia, vol. ii, h. 269.

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team