|
|
2. Tentang Kefakiran
Ketahuilah bahwa kefakiran menduduki derajat yang tinggi
di Jalan Kebenaran, dan bahwa orang fakir amat dihargai,
sebagaimana Tuhan berfirman: (Berinfaklah) kepada
orang-orang fakir yang tetap berjuang di jalan Allah dan
tidak dapat berikhtiar di muka bumi; orang yang tidak tahu,
menyangka mereka orang kaya, karena mereka memelihara diri
dari meminta-minta. (QS 2:274). Dan:
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sementara
mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan
berharap. (QS 32:16). Tambahan lagi, Nabi memilih
kefakiran dan berkata: Ya Tuhan, hidupkanlah aku dalam
kefakiran dan matikanlah dalam kefakiran, dan bangkitkan
dari mati di antara yang fakir! Dan beliau juga
berkata: Pada Hari Kebangkitan, Tuhan akan berkata,
Bawalah olehmu orang-orang yang Kucintai mendekat
kepada-Ku; kemudian malaikat-malaikat akan berkata,
Siapakah orang-orang yang Kaucintai? Dan Tuhan
akan menjawab, Orang-orang fakir dan yang tak
punya. Banyak ayat dalam Al-Quran dan hadis
berkata seperti ini, yang kemasyhurannya tidak perlu
dibincangkan di sini. Di antara kaum Muhajirin di masa Nabi,
terdapat orang-orang fakir (fuqara) yang duduk
di masjid dan mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada
Tuhan, dan dengan teguh meyakini bahwa Tuhan akan memberi
mereka roti untuk makanan sehari-hari mereka, dan bertawakal
kepada-Nya. Nabi suka berkumpul dengan mereka dan memberikan
perhatian kepada mereka; karena Tuhan berfirman:
Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang
menyeru Tuhannya di pagi hari dan di sore hari, yang
menginginkan keridhaan-Nya. (QS 6:52). Kapan saja
melihat salah seorang di antara mereka, Nabi saw. biasa
berkata: Semoga ayah dan ibuku menjadi kurbanmu!
Karena demi kau, Tuhan menegur aku.
Karena itu, Tuhan telah memuliakan kefakiran dan
menjadikannya derajat khusus orang fakir, yang telah
melepaskan semua hal yang lahir dan batin, dan benar-benar
berpaling kepada Sang Penyebab; yang kefakirannya menjadi
kebanggaan mereka, sehingga mereka mengeluh karena kefakiran
pergi, dan gembira akan datangnya, dan mendekapnya serta
menganggap semua yang lain hina.
Kini, kefakiran mempunyai bentuk (rasm) dan
hakikat (haqiqat). Bentuknya adalah kemiskinan, namun
hakikatnya adalah keberuntungan dan pilihan bebas. Dia yang
memandang bentuk, bertumpu pada bentuk dan, karena gagal
mencapai sasarannya, lari dari hakikat; namun dia yang
menemukan hakikat, mencegah pandangannya dari semua ciptaan,
dan, dalam peniadaan yang sempurna, karena hanya memandang
Yang Mahaesa, maka dia bergegas menuju hidup yang kekal.
Orang miskin (faqir) tidak memiliki apa-apa dan tidak
merasa kehilangan. Dia tidak menjadi kaya dengan memiliki
segala sesuatu, pun tidak miskin karena tidak memiliki apa
pun: kedua keadaan ini sama saja baginya. Dia akan lebih
merasa senang bilamana dia tidak memiliki apa pun, karena
para Syaikh mengatakan: Makin seseorang tertekan dalam
keadaan-keadaan, makin terbuka luas (gembira dan bahagia)
keadaan (batin) seseorang itu, karena tidaklah
merupakan keuntungan bagi seorang darwisy untuk memiliki
harta: jika dia memenjarakan segala sesuatu demi
kegunaannya sendiri, dia sendiri juga akan
terpenjara. Sahabat-sahabat Tuhan hidup dari
kemurahan Tuhan. Kekayaan dunia menahan mereka dari jalan
keridhaan.
Kisah. Seorang darwisy bertemu dengan seorang raja. Raja
berkata: Mintalah hadiah dariku. Sang darwisy
menjawab: Aku tidak akan minta hadiah dari salah
seorang budakku. Mengapa demikian? kata
raja. Sang darwisy berkata: Aku punya dua budak yang
merupakan tuan-tuanmu: ketamakan dan pengharapan.
Nabi berkata: Kefakiran adalah kemuliaan bagi
mereka yang layak memperolehnya. Kemuliaannya adalah
demikian: tubuh seorang fakir dijaga oleh Tuhan dari
perbuatan-perbuatan yang nista dan dosa, dan hatinya
terpelihara dari kejahatan dan pikiran-pikiran yang kotor
karena bagian-bagian lahirnya telah terserap dalam
(perenungan akan) berkah Tuhan yang nyata, sementara
batinnya terlindung oleh rahmatnya yang gaib, sehingga
tubuhnya adalah ruhani dan hatinya adalah ilahiah (rabbani).
Maka tak ada hubungan lagi antara dia dan manusia; dunia ini
dan akhirat lebih rendah nilainya dari sepasang sayap nyamuk
dalam ukuran kefakirannya: dia tidak berada lagi di dalam
dunia ini bahkan untuk sesaat pun.
Antara Kekayaan dan Kemiskinan
Syaikh Sufi berbeda pandangan mengenai mana yang lebih
tinggi kemiskinan ataukah kekayaan, yang keduanya dipandang
sebagai sifat-sifat manusia; karena kekayaan yang sebenarnya
(ghina) milik Tuhan, yang sempurna dalam segala
sifat-Nya. Yahya bin Muadz Ar-Razi, Ahmad bin Abil
Hawari, Harits Al-Muhasibi, Abul Abbas bin Atha,
Ruwaym, Abul Hasan bin Simun,1 dan para
mutaakhirun, di antaranya, Syaikh Akbar Abu Said
Fadhlallah bin Muhammad Al-Mayhani, semuanya berpandangan
bahwa kekayaan lebih tinggi dibanding kemiskinan. Mereka
berpendapat bahwa kekayaan itu adalah satu sifat Tuhan,
sedangkan kemiskinan tidak dapat dinisbahkan kepada-Nya:
karena itu satu sifat yang umum bagi Tuhan dan manusia
adalah lebih tinggi daripada satu sifat yang tidak bisa
dikenakan kepada Tuhan. Aku menjawab: Masyarakat yang
disebutkan ini melulu nama, dan tidak memiliki keberadaan
dalam kenyataan: masyarakat yang sebenarnya membawa-serta
persamaan yang timbal-balik, namun sifat-sifat Tuhan adalah
kekal dan sifat-sifat manusia tercipta; karena itu hujahmu
salah. Aku, Ali bin Utsman Al-Jullabi,
menyatakan bahwa kekayaan adalah istilah yang bisa dengan
tepat dikenakan kepada Tuhan, namun bukan sifat yang layak
diberikan kepada manusia; sementara kefakiran adalah istilah
yang secara tepat dikenakan kepada manusia, bukan kepada
Tuhan. Secara kias seseorang disebut kaya, namun
sebenarnya dia tidak kaya. Lagi, untuk memberikan hujah yang
lebih jelas, kekayaan manusia adalah hasil dari macam-macam
sebab, sedang kekayaan Tuhan, yang Diri-Nya adalah Pembuat
segala sebab, tidak punya hubungan dengan sebab apa pun.
Karena itu, tidak ada umat yang bisa dikaitkan dengan sifat
ini. Tidaklah diperkenankan mengaitkan segala sesuatu dengan
Tuhan apakah dalam zat, sifat, atau nama. Kekayaan Tuhan
adalah Kebebasan-Nya dari siapa pun, dan Kekuasaan-Nya untuk
berbuat apa saja yang Dia kehendaki: Begitulah Dia adanya
selalu, dan akan demikianlah Dia selamanya. Kekayaan
manusia, di lain pihak, adalah, misalnya, sarana
penghidupannya, atau hadirnya rasa riang, atau selamat dari
dosa, atau kesenangannya bertafakur; hal-hal yang bersifat
fenomenal dan selalu mengalami perubahan.
Lebih jauh lagi, orang awam lebih menyukai orang kaya
daripada orang miskin dengan alasan bahwa Tuhan telah
memberkati orang kaya di dua dunia dan telah menganugerahkan
kepadanya kekayaan. Yang mereka maksud dengan
kekayaan di sini adalah berlimpahnya harta
duniawi, kenikmatan jasmani, dan pengumbaran hawa nafsu.
Mereka berkata bahwa Tuhan telah memerintahkan kita agar
bersyukur atas kekayaan yang diperoleh, dan agar bersabar
dalam kemiskinan, yaitu sabar menghadapi kemalangan dan
bersyukur dalam kemakmuran; dan bahwa kemakmuran secara
hakiki lebih baik daripada kemalangan. Terhadap hal ini aku
menjawab bahwa, bilamana Tuhan memerintahkan kita agar
bersyukur atas kemakmuran, Dia menjadikan syukur sebagai
sarana untuk meningkatkan kemakmuran kita; tetapi bilamana
Dia memerintahkan kita agar bersabar dalam kemalangan, Dia
menjadikan kesabaran sebagai sarana untuk mendekatkan kita
kepada Diri-Nya. Dia berfirman:. Sungguh, jika kau
kembali bersyukur, Aku akan memberimu tambahan (QS
14: 7), dan juga, Tuhan bersama dengan orang yang
sabar.(QS 2:148).
Syaikh-syaikh yang meninggikan kekayaan di atas
kemiskinan tidak menggunakan istilah kekayaan
dalam arti yang populer. Apa yang mereka maksud bukanlah
perolehan manfaat tapi perolehan dari Yang
Maha Pemurah, dapat bersatu (dengan Tuhan) adalah
berbeda dari lupa (akan Tuhan). Syaikh Abu
Said2 - semoga Tuhan melimpahkan ampunan
dan kasih sayang-Nya kepadanya - berkata: Kemiskinan
adalah kekayaan dalam Tuhan (al-faqr huwa al-ghina
billah), yaitu penyingkapan abadi Kebenaran. Aku menjawab
terhadap hal ini, bahwa penyingkapan (mukasyafat)
menyiratkan kemungkinan tabir (hijab); karena itu, jika
seseorang yang memperoleh penyingkapan, terdindingi dari
penyingkapan oleh sifat kekayaan, ia menjadi memerlukan
penyingkapan, atau tidak; jika tidak, kesimpulannya tidak
masuk akal, jika dia memerlukan, keperluan bertentangan
dengan kekayaan; karena itu, istilah tersebut tidak dapat
berlaku. Di samping itu, tak seorang pun memiliki
kekayaan dalam Tuhan sebelum sifat-sifatnya
sirna dan tujuannya hanya satu; kekayaan tidak dapat
berpadanan dengan kelanggengan suatu objek atau dengan
peneguhan sifat-sifat bawaan manusia karena ciri-ciri pokok
kefanaan dan wujud fenomenal adalah keperluan dan
kemiskinan. Orang yang sifat-sifatnya masih bertahan
bukanlah kaya, dan orang yang sifat-sifatnya telah fana
tidak berhak atas nama apa pun. Karena itu, orang yang
kaya adalah dia yang diperkaya oleh Tuhan (al-ghani
man aghnahullah) sebab istilah kaya dalam
Tuhan menunjuk kepada pelaku (fail),
sedangkan istilah diperkaya oleh Tuhan berarti
orang yang dikenai tindakan (maful). Yang
pertama adalah mandiri, sedangkan yang kedua hidup melalui
sang pelaku; karena itu, menghidupkan diri merupakan sifat
bawaan manusia, sedangkan hidup melalui Tuhan melibatkan
peniadaan sifat-sifat. Karena itu, aku, Ali bin Utsman
Al-Jullabi, menyatakan bahwa kekayaan yang sejati
bertentangan dengan perihal keabadian (baqa) sifat apa pun,
karena sifat-sifat manusia telah terbukti cacat dan bisa
rusak; kekayaan tidak pula terletak dalam peniadaan
sifat-sifat ini karena nama tidak dapat diberikan kepada
sifat yang tidak lagi maujud, dan dia yang sifat-sifatnya
telah fana, tidak dapat dipandang sebagai miskin
atau kaya; karena itu, sifat kaya tidak dapat
teralihkan dari Tuhan kepada manusia, dan sifat miskin tidak
dapat teralihkan dari manusia kepada Tuhan.
Semua Syaikh Sufi dan kebanyakan orang awam lebih
menyukai kemiskinan daripada kekayaan, dengan alasan bahwa
Al-Quran dan Sunnah menyatakan secara jelas bahwa kefakiran
lebih tinggi, dan karenanya sebagian besar kaum Muslim
setuju. Aku menjumpai, di antara hikayat-hikayat yang telah
kubaca, bahwa pernah persoalan ini dibahas oleh Junayd dan
Ibn atha. Ibn atha menekankan keunggulan orang
kaya. Dia berargumen bahwa di Hari Kebangkitan, mereka akan
dipanggil untuk mempertanggungjawabkan kekayaan mereka, dan
bahwa perhitungan (hisab) semacam itu mengakibatkan
terdengarnya Kata-kata Ilahi, tanpa tafakur apa pun, dalam
bentuk penyesalan (itab): dan penyesalan dialamatkan
oleh Yang Tercinta kepada sang pencinta. Junayd menjawab:
Jika Dia memanggil orang kaya untuk perhitungan, maka
Dia meminta agar orang miskin memberikan dalih; dan
memberikan dalih adalah lebih baik daripada
mempertanggung-jawabkan. Ini adalah pokok persoalan
yang sangat pelik. Dalam cinta yang sejati, maaf adalah
keyanglainan, dan penyesalan bertentangan dengan
kesatuan. Pencinta memandang kedua hal ini sebagai kecemaran
karena berdalih dilakukan untuk ketidakpatuhan tertentu
terhadap perintah Kekasih, dan penyesalan dilakukan karena
hal yang sama; tapi, keduanya tidak mungkin berada di dalam
cinta yang sejati, karena Kekasih tidak menuntut penebusan
dari pencinta, pun pencinta tidak lalai melaksanakan
kehendak Kekasih.
Setiap orang adalah miskin, meskipun dia
seorang pangeran. Secara hakiki, kekayaan Nabi Sulayman dan
kemiskinan Nabi Sulayman adalah satu. Tuhan berkata kepada
Nabi Ayub yang kesabarannya luar biasa, dan begitu pula
kepada Nabi Sulayman yang kerajaannya amat luas:
Kau adalah hamba yang baik (QS 38:29,
44). Ketika keridhaan Tuhan tercapai, tak ada perbedaan
antara kemiskinan dan kekayaan Nabi Sulayman.
Seorang penulis berkata: Aku telah mendengar bahwa
Abul Qasim Qusyayri - semoga Tuhan merahmati dan
mengampuninya - berkata: Orang telah berbicara banyak
mengenai kemiskinan dan kekayaan, dan telah memilih yang
satu atau yang lain bagi mereka sendiri, tapi aku memilih
keadaan apa pun yang dipilihkan oleh Tuhan untukku; jika Dia
menjadikan aku kaya, aku tidak akan lupa, dan jika Dia
menghendaki aku miskin, aku tidak akan menjadi iri dan
durhaka. Karena itu, kekayaan dan kemiskinan
adalah anugerah Tuhan: kekayaan rusak karena kelalaian,
kemiskinan karena iri hati. Kedua konsepsi itu sangat bagus,
namun berbeda dalam pelaksanaan. Kemiskinan adalah
keterceraian hati dari segala kecuali Tuhan, dan kekayaan
adalah terkuasainya hati oleh apa yang tidak dapat dibatasi.
Bilamana hati telah dijernihkan (dari segala kecuali Tuhan),
kemiskinan tak lebih baik daripada kekayaan, pun kekayaan
tidak lebih baik daripada kemiskinan. Kekayaan adalah
kelimpahan benda-benda dunia, dan kemiskinan adalah
kekurangan akan benda-benda dunia; semua benda milik Tuhan:
bilamana sang pencari mengucapkan selamat tinggal kepada
kemiskinan, antitesisnya lenyap, dan kedua istilah itu
tertransendensikan.
Pendapat Para Sufi tentang
Kemiskinan
Semua Syaikh sufi telah berbicara tentang permasalahan
kemiskinan. Aku sekarang ingin mengutip sebanyak mungkin
perkataan mereka untuk dirangkum dalam buku ini.
Salah seorang Sufi mutakhir berkata: Laysa al-faqir
man khala min al-zad: innama al-faqir man khala min
al-murad (Orang miskin bukan orang yang tak punya
rezeki, tetapi orang yang pembawaannya hampa dari nafsu
rendah. Sebagai contoh, jika Tuhan memberikan
kepadanya uang dan dia ingin menyimpannya, maka dia akan
kaya; dan jika dia ingin melepaskannya, dia tetap kaya
karena kemiskinan terletak dalam berhenti mempengaruhi
inisiatifnya sendiri. Yahya bin Muadz Ar-Razi berkata:
Al-faqr khawf al-faqr (Tanda kemiskinan sejati
adalah, walaupun telah mencapai kesempurnaan seorang wali
serta tafakur dan kefanaan-diri, selalu khawatir akan
keruntuhan dan kepergiannya). Dan Ruwaym berkata: Min
nat al-faqir hifzhu sirrihi wa-siyanatu nafsihi
wa-adau faridhatihi (Ciri orang miskin adalah
hatinya terlindung dari kepentingan diri, dan jiwanya
terjaga dari kecemaran, dan dia melaksanakan
kewajiban-kewajiban agama), yaitu tafakur batinnya tidak
bertentangan dengan tindakan lahirnya, atau sebaliknya;
itulah tanda bahwa dia telah membuang jauh-jauh sifat-sifat
kefanaan. Bisyr Al-Hafi berkata: Afdhal al-maqamat
itiqad al-shabr ala al-faqr ila al-qabr
(Sebaik-baik maqam adalah tekad teguh untuk terus tabah
dalam kemiskinan). Kini, kemiskinan adalah peniadaan semua
maqam: karena itu, tekad untuk tabah dalam kemiskinan
merupakan tanda dari memandang pekerjaan dan perbuatan
sebagai tidak sempurna, dan tanda dari cita-cita untuk
meniadakan sifat-sifat manusiawi. Tetapi, dalam arti yang
jelas, perkataan ini memaklumkan bahwa kemiskinan
mengungguli kekayaan, dan mengungkapkan tekad untuk tidak
pernah mencampakkannya. Syibli berkata: Al-faqir man la
yastaghni bi-syay dunallah (Orang miskin tidak pernah puas
dengan sesuatu pun kecuali Tuhan), karena dia tidak memiliki
keinginan lain. Arti harfiahnya adalah bahwa kau tidak ingin
menjadi kaya kecuali oleh-Nya, dan apabila kau telah
memperoleh Dia, kau menjadi kaya. Wujudmu, lantas, tentu
saja bukan Tuhan; dan karena kau tidak bisa memperoleh
kekayaan kecuali dengan melepaskan yang lain,
keengkauan-mu merupakan tabir antara kau dan
kekayaan: bilamana itu tercampakkan, kau kaya. Perkataan ini
sangat halus dan samar. Dalam pandangan ahli hakikat, ia
berarti: Al-faqr an la yustaghna anhu (Kemiskinan
adalah tidak pernah bebas dari kemiskinan). Inilah yang
dimaksudkan oleh Abdallah Anshari3 - Semoga
Tuhan meridhainya - ketika dia berkata bahwa kepiluan kita
itu kekal karena cita-cita kita tidak pernah mencapai
tujuannya, dan karena keseluruhan (kulliyat) kita tidak
pernah menjadi tidak ada di dunia ini atau dunia yang akan
datang. Hal itu demikian karena untuk dapat berbuah,
diperlukan homogenitas, tapi Tuhan tak punya bandingan, dan
untuk berpaling dari Dia, diperlukan kelupaan, namun para
darwisy tidak lupa. Suatu tugas yang tak berakhir, suatu
jalan yang sulit ditempuh! Yang mati (fani) tidak
pernah menjadi hidup (baqi), untuk dapat bersatu
dengan-Nya; yang hidup tidak pernah menjadi mati, untuk
dapat mendekat kepada-Nya. Semua yang dikerjakan dan
diderita para pencinta-Nya, seluruhnya adalah ujian
(mihnat); tetapi agar dapat menghibur diri mereka sendiri,
mereka telah menemukan praseologi yang kedengarannya bagus
(ibarati muzakhraf) dan telah menghasilkan maqam-maqam
dan sebuah jalan. Ungkapan simbolik mereka
bermula dan berakhir dalam diri mereka, dan maqam-maqam
mereka hanya muncul dalam golongan (genus) mereka,
sedang Tuhan adalah bebas dari segala hubungan dan sifat
manusia. Abul Hasan Nuri berkata: Nat al-faqir
al-sukun inda al-adam wa al-badzl inda
al-wujud; dan dia juga berkata: Al-idhthirab
inda al-wujud (Bilamana dia tidak memperoleh apa
pun, dia diam, dan bilamana dia memperoleh sesuatu, dia
memandang orang lain lebih berhak memperolehnya daripada
dirinya sendiri, dan karenanya dia memberikannya). Praktik
yang disebutkan dalam perkataan ini memiliki arti yang
penting. Ia mempunyai dua makna:
(1) Ketawakalannya, apabila dia tidak memperoleh
apa-apa, adalah ridha; dan kemurahan hatinya, apabila dia
memperoleh sesuatu, adalah cinta (mahabbat), karena
ridha berarti menerima jubah
kehormatan (qabil-i khilat). Jubah
kehormatan adalah tanda kedekatan (qurbat), sedangkan
pencinta (muhibb) menolak jubah kehormatan karena hal
itu merupakan tanda pemisahan (furqat); dan
(2) Ketawakalannya, apabila tidak memperoleh
apa-apa, adalah berharap memperoleh sesuatu; dan apabila dia
memperolehnya, sesuatu itu adalah selain Tuhan:
dia tidak bisa terpuaskan dengan sesuatu selain Tuhan;
karena itu dia menolaknya.
Kedua makna ini tersirat dalam perkataan Syaikh Agung,
Abul Qasim Junayd: Al-faqr khuluww al-qalb an
al-asykat (Bilamana hatinya hampa dari gejala, maka dia
miskin). Karena keberadaan gejala adalah selain
(Tuhan), penolakan adalah satu-satunya jalan yang mungkin.
Syibli berkata: Al-faqr bahr al-bala wa-balauhu
kulluhu izz (Kemiskinan adalah lautan
kesulitan, dan semua kesulitan demi Dia adalah kemuliaan).
Kemuliaan adalah bagian dari yang lain. Yang
berdukacita tenggelam dalam kesulitan dan tak mengetahui
apa-apa tentang kemuliaan, sampai mereka melupakan
kesulitannya dan hanya memandang sang Pencipta. Kemudian,
kesulitan mereka berubah menjadi kemuliaan, dan kemuliaan
mereka menjadi berada dalam keadaan ruhani (waqt),
dan keadaan ruhani mereka menjadi cinta, dan cinta mereka
menjadi tafakur, sehingga akhirnya otak orang yang
bercita-cita sepenuhnya menjadi pusat dari penglihatan
melalui kuasa imajinasinya: dia melihat tanpa mata, dan
mendengar tanpa telinga. Selain itu, adalah mulia bagi
seseorang menanggung beban kesulitan yang diletakkan tasnya
oleh Kekasihnya, karena sebenarnya kemalangan adalah
kemuliaan, dan kemakmuran adalah kehinaan. Kemuliaan adalah
yang membuat seseorang hadir bersama Tuhan, dan kehinaan
adalah yang membuat seseorang jauh dari Tuhan: duka cita
kemiskinan adalah tanda kehadiran, sementara
nikmat kekayaan adalah tanda ketidakhadiran.
Karena itu, seseorang harus terus menanggung kesulitan yang
melibatkan tafakur dan kekariban. Junayd berkata: Ya
masyar al-fuqara innakum turafuna billah
wa-tukramuna lillah fa-anzhuru kayfa takununa
maallah idza khalawtum bihi (Wahai kaum miskin,
kau dikenal melalui Tuhan dan dihormati demi Tuhan: jagalah
perilakumu bilamana kau sendirian dengan-Nya), yaitu jika
orang memanggilmu miskin dan menerima
pengakuanmu, sadarilah bahwa kau melaksanakan
kewajiban-kewajiban dari jalan kefakiran; dan jika mereka
memberimu nama lain, tidak selaras dengan apa yang kau akui,
jangan terima hal itu, tapi penuhilah pengakuanmu.
Serendah-rendah manusia adalah dia yang dianggap taat kepada
Tuhan, namun sebenarnya tidak; dan manusia yang paling mulia
adalah dia yang tidak dianggap taat kepada Tuhan, namun
sesungguhnya taat. Yang pertama menyerupai seorang tabib
yang bodoh, yang berpura-pura dapat mengobati orang, padahal
hanya membuat mereka semakin buruk, dan bilamana dia jatuh
sakit dia sendiri memerlukan tabib lain untuk mengobatinya;
dan yang kedua seperti orang yang tidak dikenal sebagai
tabib dan tidak memperhatikan orang lain, namun menggunakan
keahliannya agar dirinya tetap sehat. Salah seorang Sufi
mutakhir berkata: Al-faqr adan bila wujud
(Kemiskinan adalah bukan-wujud yang tidak memiliki
keberadaan). Menafsirkan perkataan ini adalah tidak mungkin,
karena apa yang tidak maujud tidak perlu diterangkan.
Tampaknya bahwa, menurut diktum ini, kemiskinan itu bukan
apa-apa, tetapi persoalannya bukan demikian;
keterangan-keterangan dan kesepakatan wali-wali Tuhan tidak
didasarkan pada suatu prinsip yang secara hakiki tidak
maujud. Maknanya di sini bukan ketidakmaujudan
esensi, tetapi ketidakmaujudan dari apa yang
mencemari esensi; dan semua sifat manusia merupakan
sumber pencemaran: bilamana hal itu tercampakkan, hasilnya
adalah kefanaan sifat-sifat yang merampas dari orang yang
menderita itu sarana untuk memperoleh, atau gagal
memperoleh, sasarannya; tapi tidak-perginya dia ke esensi
tampak baginya sebagai kefanaan esensi dan mencampakkannya
ke dalam kebinasaan.
Aku telah berjumpa dengan beberapa filosof skolastik
yang, karena tidak dapat memahami perkataan ini,
menertawakannya dan menyatakannya sebagai omong kosong; dan
juga dengan orang-orang tertentu yang berpura-pura (menempuh
jalan tasawuf) yang membuat hal itu sia-sia dan sangat
meyakini kebenarannya, meskipun mereka tidak memahami
prinsip-prinsip dasarnya. Kedua golongan itu sama-sama
salah: yang satu, karena bodoh, menolak kebenaran, dan yang
lain menjadikan kebodohan sebagai keadaan (kesempurnaan).
Kini, ungkapan ketidakberadaan
(adam) dan kefanaan (fana),
sebagaimana digunakan oleh para Sufi, berarti lenyapnya
sarana yang tercela (alat-i madzmum) dan sifat yang
salah dalam upaya mencari sifat yang terpuji; mereka tidak
mengisyaratkan pencarian akan yang tidak hakiki
(adam-mani) melalui alat yang maujud.
Kedarwisyan dalam segala maknanya adalah kemiskinan
metaforis, dan di antara semua aspeknya ada prinsip yang
transenden. Rahasia-rahasia Ilahi datang dan melewati sang
darwisy, sehingga urusan-urusannya dikerjakan oleh dirinya
sendiri, tindakan-tindakannya ternisbahkan kepada dirinya
sendiri, dan gagasan-gagasannya ternisbahkan kepada dirinya
sendiri. Tetapi, bilamana urusan-urusannya bebas dari ikatan
perolehan (kasb), tindakan-tindakannya tidak lagi
dinisbahkan kepada dirinya. Lantas dia adalah jalan, bukan
penempuh jalan, yaitu darwisy adalah tempat di mana sesuatu
lewat, bukan penempuh jalan yang mengikuti keinginannya.
Karena itu, dia tidak mendekatkan sesuatu kepada dirinya dan
juga tidak menjauhkan sesuatu dari dirinya: semua yang
meninggalkan jejak padanya, milik esensi.
Aku telah menyaksikan Sufi-sufi palsu, yang cuma tukang
omong (arbab al-lisan), yang ketidaksempurnaan
pemahamannya atas perkara ini tampak menolak keberadaan
esensi kefakiran, sementara kurangnya keinginan akan hakikat
kefakiran tampak menyangkal sifat-sifat esensinya. Mereka
menyebut kegagalan mereka dalam mencari Kebenaran dan
Hakikat sebagai kefakiran dan
kesucian, dan tampaknya seolah-olah mereka
membenarkan angan-angan mereka dan menolak segala yang lain.
Setiap orang dari mereka dalam tingkat tertentu terdindingi
dari kefakiran karena kebanggaan akan tasawuf menandakan
kesempurnaan kewalian, dan klaim dituduh mengikuti jalan
tasawuf adalah tujuan akhir, yaitu pengakuan ini hanya milik
keadaan sempurna. Karena itu, sang pencari tidak punya
pilihan kecuali menempuh jalan mereka dan menjelajahi
maqam-maqam mereka dan mengenal ungkapan-ungkapan simbolik
mereka, agar dia tidak menjadi seorang awam
(ammi) di antara orang-orang yang terpilih.
Mereka yang tidak mengetahui prinsip-prinsip umum tidak
punya pijakan untuk berdiri, sedangkan mereka yang hanya
tidak mengetahui cabang-cabangnya didukung oleh
prinsip-prinsip itu. Aku telah mengatakan semua ini untuk
mendorong kau menempuh perjalanan keruhanian ini dan
menyibukkan dirimu dengan pemenuhan kewajiban-kewajibannya
secara benar.
Kini, dalam bab mengenai tasawuf, aku ingin menerangkan
beberapa prinsip, kiasan, dan ucapan-ucapan mistis dari
mazhab ini. Kemudian aku akan menyebutkan nama orang-orang
suci mazhab ini, dan menerangkan ajaran-ajaran yang
berbeda-beda yang dianut oleh Syaikh-syaikh Sufi. Pada
tempat berikutnya, aku akan menguraikan kenyataan-kenyataan,
ilmu-ilmu dan hukum-hukum tasawuf. Pada akhirnya, aku akan
menyajikan aturan-aturan disiplin mereka dan makna
maqam-maqam mereka, agar kebenaran dari masalah ini menjadi
jelas bagimu dan bagi semua pembaca kitabku ini.
Catatan Kaki:
- Lihat Nafahat, No. 291, yang menyebutkan
nama mulia-nya adalah Abu Al-Husayn.
- Lihat Bab XII.
- Sufi terkemuka dari Herat, yang wafat pada tahun 481
Hijri (H). Lihat buku Professor Browne, Literary
History of Persia, vol. ii, h. 269.
|