|
|
3. Tentang Tasawuf
Tuhan, Yang Mahakuasa dan Mahabesar, berfirman:
Dan orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan
rendah hati, apabila disapa orang-orang jahil, mereka
menjawab dengan Salam (QS 25:63) (akan
diberi pahala berupa tempat yang paling mulia di surga).
Nabi bersabda: Dia yang mendengar suara para Sufi (ahl
al-tashawwuf) dan tidak mengatakan amin bagi doa mereka,
tercatat di hadapan Tuhan dalam daftar orang-orang yang
lengah. Makna yang sebenarnya dari nama ini telah
banyak dibahas, dan banyak kitab telah disusun mengenai
persoalan ini. Sebagian orang menyatakan bahwa Sufi itu
disebut demikian karena dia memakai jubah bulu domba
(jama-i shuf); sedangkan yang lain menyatakan
bahwa dia disebut demikian karena dia berada dalam barisan
pertama (shaff-i awwal); yang lain mengatakan
demikian karena Sufi mengaku sebagai termasuk ke dalam
golongan ashhab-i shuffah,1 yang begitu
diridhai Tuhan! Yang lain menyatakan bahwa nama itu berasal
dari shafa (kesucian). Keterangan-keterangan tentang makna
sebenarnya dari tasawuf ini jauh dari memenuhi
keperluan-keperluan etimologi, walaupun masing-masing
darinya didukung oleh dalil-dalil yang kuat.
Secara umum, shafa (kesucian) itu terpuji, dan
lawannya adalah kadar (ketidaksucian). Rasulullah saw.
bersabda: Shafw (bagian yang suci, yaitu yang
terbaik) dari dunia ini telah lenyap, dan hanya kadar
(ketidaksucian)-nya yang tinggal. Karena itu, kaum
pendukung keyakinan ini telah menyucikan akhlak dan tindakan
mereka, dan telah berusaha membebaskan diri mereka dari
noda-noda bawaan, atas dasar itulah mereka disebut
Sufi; dan penunjukan terhadap mazhab itu
merupakan sebuah nama yang tepat (az asamiyi
alam), karena martabat Sufi terlalu besar bagi
disembunyikannya transaksi-transaksi (muamalat)
mereka sehingga nama mereka tentu memerlukan derivasi
(asal-usul). Di zaman ini Tuhan telah mendindingi kebanyakan
orang dari tasawuf dan dari abdi-abdinya, dan telah
menyembunyikan rahasia-rahasianya dari hati mereka. Karena
itu, sementara orang membayangkan bahwa ia hanya berupa
praktik ketakwaan lahiriah yang tidak disertai tafakur
batin, dan yang lain menyangka bahwa ia merupakan suatu
bentuk dan sebuah sistem yang tidak memiliki hakikat dan
akar, sedemikian rupa sehingga mereka telah berpandangan
seperti pandangan pengejek (ahl-i hazl) dan para ahli
ilmu kalam, yang hanya memandang segi lahirnya, dan
sekaligus mengutuk tasawuf, tanpa berusaha menemukan apa
sesungguhnya ia itu. Orang pada umumnya, yang secara membabi
buta menerima pendapat ini, telah menghapus dari hati mereka
kedambaan dan pencarian akan kesucian batin dan telah
mengesampingkan ajaran-ajaran Nabi-nabi terdahulu dan
sahabat-sahabat Nabi saw. Sesungguhnya, kesucian adalah ciri
khas orang Shiddiq,2 jika kau menginginkan atau
mendambakan seorang Sufi sejati - karena kesucian
(shafa) memiliki akar dan cabang: akarnya berupa
keterpisahan hati dari yang lain
(aghyar), dan cabangnya berupa kekosongan hati dari
dunia yang memperdaya ini. Keduanya inilah ciri khas Shiddiq
Agung, (Khalifah) Abu Bakar Abdallah bin Abi Quhafa,
semoga Tuhan meridhainya. Dia adalah pemimpin (imam) dari
segenap orang yang menempuh jalan ini.
(Pengarang kemudian meriwayatkan bagaimana, setelah
wafatnya Nabi Muhammad, ketika Umar mengancam akan
memenggal kepala siapa pun yang menyatakan bahwa Nabi telah
meninggal dunia, Abu Bakar maju ke depan dan berteriak
dengan suara lantang: Siapa saja yang memuja Muhammad,
biar dia mengetahui bahwa Muhammad telah meninggal dunia;
tetapi siapa saja yang memuja Tuhannya Muhammad, biar dia
mengetahui bahwa Dia hidup dan tak pernah mati. Mereka
yang memandang Muhammad dengan mata kefanaan akan berhenti
menghormatinya segera setelah dia meninggalkan dunia ini,
tetapi bagi mereka yang memandangnya dengan mata realitas,
maka kehadiran dan ketidakhadirannya sama saja karena mereka
memandang keduanya berkat Tuhan; dan melihat, bukan
perubahan tertentu yang telah lewat, tetapi Pencipta segala
perubahan; dan memuliakan Muhammad sebagaimana Tuhan
memuliakannya; dan tidak mengarahkan hati mereka kepada
siapa pun (kecuali kepada Tuhan); dan tidak membuka mata
mereka untuk memandang manusia, karena dia yang
memandang manusia, akan binasa, tetapi dia yang kembali
kepada Tuhan, akan berkuasa [man nazhara ila
al-khalq halak wa-man rajaa ila al-haqq
malak]. Dan Abu Bakar menunjukkan bahwa hatinya
hampa dari dunia yang memperdaya ini, karena dia memberikan
semua kekayaannya dan memerdekakan hamba-hamba sahayanya
[mawali], dan menyelimuti dirinya dengan
jubah bulu domba [gilim], dan datang kepada
Rasulullah, yang menanyakan kepadanya apakah yang dia
tinggalkan untuk keluarganya. Abu Bakar menjawab:
Hanya Allah dan Rasul-Nya. Semua inilah ciri
khas Sufi yang tulus).
Shufi, Mutashawwif, dan
Mustashwif
Telah aku katakan bahwa shafa (kesucian)
berlawanan dengan kadar (ketidaksucian), dan kadar adalah
salah satu sifat manusia. Sufi sejati adalah dia yang
senantiasa meninggalkan ketidaksucian. Maka, sifat dan
tabiat manusia (basyariyyat) telah menguasai segenap
wanita Mesir ketika mereka memandang dan terpukau kepada
keelokan (Nabi) Yusuf a.s. yang menakjubkan. Tetapi kemudian
pengaruh besar sifat itu sirna, hingga pada akhirnya mereka
memandangnya tanpa disertai tabiat manusiawi mereka dan
berseru: Ini bukan manusia (QS 12: 31).
Mereka telah membuatnya sasaran penglihatan mereka, dan
mereka telah mengungkapkan keadaan mereka sendiri. Karenanya
Syaikh-syaikh pembimbing di jalan ini - semoga Allah
mengasihi mereka - mengatakan: Laysa al-shafa min shifat
al-basyar li anna al-basyar madar wal-madar la
yakhlu min al-kadar (Kesucian bukanlah salah satu sifat
manusia, karena manusia adalah lempung, dan lempung
mengandung ketidaksucian, dan manusia tak dapat melepaskan
diri dari ketidaksucian). Karena itu, kesucian tidak serupa
dengan tindakan (afal), dan tidak bisa tabiat
manusia dibinasakan dengan cara usaha. Sifat kesucian sama
sekali tidak berkaitan dengan tindakan dan keadaan, dan
namanya tidak berhubungan dengan nama-nama dan
julukan-julukan - kesucian adalah ciri khas para pencinta
(Tuhan), mereka adalah matahari-matahari tanpa mendung -
karena kesucian adalah sifat orang-orang yang cinta, dan
sang pencinta adalah dia yang mati (fani) dalam
sifat-sifatnya sendiri dan hidup (baqi) dalam
sifat-sifat Kekasihnya, dan keadaan-keadaan
mereka menyerupai matahari cerah dalam pandangan ahli mistik
(arbab-i hal). Kekasih Tuhan, Muhammad sang Pilihan,
ditanya mengenai keadaan Haritsah. Beliau menjawab:
Abd nawwarallah qalbahu bi al-iman (Dia
seorang manusia yang hatinya disinari oleh cahaya iman,
sehingga wajahnya bersinar-sinar laksana bulan, dan dia
dibentuk oleh cahaya Ilahi).
Seorang Sufi terkemuka berkata: Dhiya al-syams
wal-qamar idza isytaraka namudzaj min shafa
al-hubb wa al-tawhid idza isytabaka (Paduan cahaya
matahari dan bulan seperti kesucian Cinta dan Pengesaan
Ilahi [Tauhid], ketika keduanya membaur
bersama-sama). Tentu saja, cahaya matahari dan bulan tidak
ada artinya dibanding cahaya Cinta dan Tauhid, dan keduanya
tak akan bisa dibandingkan dengan apa saja; tapi, di dunia
ini, tidak ada cahaya yang lebih cemerlang daripada kedua
sinar itu. Mata tak dapat melihat cahaya matahari dan bulan
dalam penampilannya yang sempurna. Selama ada pengaruh sinar
matahari dan bulan, mata senantiasa melihat langit, sedang
hati (dil) melihat singgasana kekuasaan Ilahi
(arsy) dengan cahaya ilmu dan Tauhid serta
cinta Ilahi, dan selagi masih hidup di dunia ini senantiasa
menjelajahi alam mendatang (akhirat). Semua Syaikh
pembimbing di jalan ini sepakat bahwa apabila seseorang
telah bebas dari penjara maqam-maqam dan meretaskan belenggu
ketidaksucian keadaan-keadaan (ahwal),
dan terbebaskan dari dunia perubahan dan kebinasaan, dan
memiliki semua sifat yang terpuji, maka dia terlepas dari
semua sifat. Dengan demikian, dia tidak dikungkung oleh
sifat terpuji dari dirinya, dia tidak memperhatikannya, dan
dia tidak berbangga diri karenanya. Keadaannya tidak dapat
ditangkap oleh segenap daya akal, dan waktunya terbebaskan
dari pengaruh pikiran-pikiran. Kehadirannya (hudhur)
dengan Tuhan tanpa henti, dan keberadaannya tidak bersebab.
Dan bilamana dia mencapai derajat ini, dia menjadi lenyap
(fani) di dunia ini dan akhirat, dan sifat-sifat
Ilahiah (rabbani) menggantikan sifat-sifat
manusiawinya yang telah sirna; emas dan tanah sama saja
dalam pandangannya, dan peraturan-peraturan yang terasa
sulit dilaksanakan orang-orang lain, terasa mudah
baginya.
(Berikut ini kisah tentang Haritsah, yang menyatakan
bahwa ia telah memiliki iman yang sejati kepada Tuhan. Nabi
saw. bertanya: Apakah hakikat imanmu? Haritsah
menjawab: Telah kutanggalkan sifat-sifat diriku, dan
aku berpaling dari dunia ini, sehingga batu-batu dan emas
serta perak dan lempungnya sama saja dalam pandanganku. Dan
kujalani seluruh malam hariku dengan penuh jaga, dan segenap
siang hariku dengan rasa dahaga, hingga aku merasa melihat
Singgasana Tuhanku menjelma, dan penghuni surga saling
kunjung-mengunjungi, dan penghuni neraka saling
lempar-melempari3 [atau, menurut suatu
lafal yang lain: membuat serangan mendadak terhadap
satu sama lain].4 Nabi saw. bersabda,
mengulangi kata-kata ini tiga kali: Engkau mengetahui,
maka tekunlah dalam upaya.)
Sufi adalah sebuah nama yang diberikan, dan
semula pernah diberikan, kepada wali-wali dan ahli-ahli
keruhanian yang sempurna. Salah seorang Syaikh berkata:
Man shaffahu al-hubb fa-huwa shaf warnan shaffahu
al-habib fa-huwa Shufiyy (Ia yang disucikan oleh cinta,
adalah suci, dan ia yang tenggelam dalam Kekasih dan telah
mencampakkan segala yang lain, adalah seorang Sufi). Nama
itu tidak mempunyai derivasi yang memenuhi
keperluan-keperluan etimologis karena tasawuf terlalu luhur
untuk memiliki sebuah genus (golongan), yang darinya tasawuf
berasal; karena pengasalan satu hal dari hal yang lainnya
membutuhkan homogenitas (mujanasat). Semua yang
maujud adalah lawan dari kesucian (shafa), dan segala
hal tidak diturunkan dari lawan-lawan mereka. Bagi para
Sufi, makna tasawuf lebih jelas daripada matahari, dan tidak
memerlukan keterangan atau petunjuk apa pun. Karenanya
Sufi tak perlu diterangkan, seluruh dunia adalah
juru-juru tafsirnya, apakah mereka mengenal martabat nama
itu atau tidak pada waktu ketika mereka menelaah maknanya.
Kemudian, yang sempurna di antara mereka disebut Sufi,
sedangkan para pencari yang lebih rendah tingkatannya
(thaliban) di antara mereka disebut mutashawwif;
karena tashawwuf termasuk ke dalam bentuk tafaul, yang
mengandung arti bersusah-payah
(takalluf),5 dan merupakan sebuah cabang
dari akar katanya yang asli. Perbedaan dalam arti dan dalam
etimologi sudah jelas. Kesucian (shafa) adalah suatu
kewalian dengan sebuah tanda dan suatu pemberitaan
(riwayat), dan tasawuf adalah suatu peniruan yang
sabar akan kesucian (hikayat lil-shafa bila
syikayat). Kemudian, kesucian merupakan sebuah gagasan
yang cemerlang dan nyata, dan tasawuf adalah peniruan
gagasan itu. Pengikut-pengikutnya menurut derajat ini ada
tiga macam: shufi, mutashawwif, dan mustashwif. Shufi adalah
yang mati pada dirinya dan hidup oleh Kebenaran; ia bebas
dari batas-batas kemampuan manusiawi, dan benar-benar telah
sampai (kepada Tuhan). Mutashawwif adalah ia yang
berusaha keras untuk mencapai tingkat ini dengan cara
menundukkan hawa nafsu (mujahadat), dan dalam
pencariannya ia meluruskan tingkah lakunya sesuai dengan
teladan mereka (Sufi-sufi). Mustashwif adalah ia yang
membuat dirinya secara lahiriah serupa mereka (Sufi-sufi)
untuk sekadar mencari uang, kekayaan, kekuasaan, serta
keuntungan-keuntungan duniawi, tapi sedikit pun tidak
mempunyai pengetahuan tentang, kedua hal ini.6
Karenanya dikatakan: Al-mustashwif inda
al-Shufiyyat ka al-dzubab wa inda ghayrihim ka
al-dziab, (Mustashwif, dalam pandangan para
Sufi, sehina lalat-lalat, dan kelakuan-kelakuannya hanya
didasarkan ketamakan semata-mata; orang lain menganggapnya
seperti seekor serigala, dan mulutnya tak terkendali (be
afsar), karena ia hanya menginginkan secuil bangkai).
Setelah meneliti teks di atas, tidak ditemukan kata-kata
yang salah ejaan menurut kaidah Bahasa Indonesia baku. Semua
kata dan istilah tampak sudah ditulis dengan benar, baik
kata serapan dari Arab maupun istilah khusus tasawuf. Jika
Anda ingin memeriksa ejaan kata tertentu atau bagian
spesifik, silakan sebutkan kata atau paragraf yang dimaksud
untuk pemeriksaan lebih mendalam.
Maka dari itu, shufi adalah seseorang yang manunggal
(shahib wushul), mutashawwif adalah seseorang
yang berpegang pada prinsip-prinsip (shahib ushul),
sedang mustashwif adalah seseorang yang suka berbuat
sia-sia (shahib fudhul). Ia yang memiliki jiwa
manunggal, tidak lagi mempunyai tujuan dan sasaran setelah
mendapatkan tujuannya dan mencapai sasarannya; ia yang
memiliki prinsip menjadi teguh dalam
keadaan-keadaan di jalan mistik, dan karenanya
ia dengan tekun mencari rahasia-rahasianya; tapi ia yang
cuma memiliki sifat suka berbuat sia-sia, kehilangan
semuanya (yang patut dimiliki), dan ia duduk di pintu
gerbang formalitas (rasm), dan dengan demikian ia
terhijab dari hakikat (mani), dan hijab ini
membuat kemanunggalan dan prinsip tidak tampak olehnya.
Syaikh-syaikh yang memiliki keyakinan ini telah memberikan
sejumlah besar definisi yang mendalam tentang tasawuf yang
tidak bisa dipaparkan satu per satu, tapi kami akan menyebut
sebagian saja dalam kitab ini, jika Allah, Pemberi
keberhasilan, mengizinkan.
Tasawuf di Mata Para Sufi
Dzun Nun Al-Mishri berkata: Al-shufi idza nathaqa bana
nuthquhu an al-haqaiq wa-in sakata nathaqat
anhu al-jawarih bi-qath
al-alaiq. (Sufi adalah yang bahasanya,
ketika dia berbicara, adalah hakikat keadaannya, yakni dia
tidak mengatakan sesuatu pun yang tidak ada pada dirinya,
dan ketika dia berdiam diri, sikapnya menunjukkan
keadaannya, dan keadaannya menyatakan bahwa dia telah
memutuskan tali ikatan duniawi); yakni semua yang dia
katakan berdasarkan prinsip yang benar, dan semua yang dia
lakukan adalah keterpisahan yang penuh dari dunia
(tajrid); ketika dia berbicara, pembicaraannya
sepenuhnya tentang Kebenaran, dan ketika dia berdiam diri,
tindakan-tindakannya sepenuhnya kefakiran
(faqr). Junayd berkata: Al-tashawwuf natun
uqima al-abd fihi qila natun li al-abd am
li al-haqq faqala nat al-haqq haqiqatun wa-nat
al-abd rasmun (Tasawuf adalah suatu sifat yang di
dalamnya terletak hidupnya manusia). Mereka berkata:
Apakah ini sifat Tuhan ataukah sifat manusia?
Dia menjawab: Esensinya adalah sifat Tuhan, dan sistem
resminya adalah sifat manusia; yakni esensinya
melibatkan pelenyapan kualitas-kualitas manusia, yang
disebabkan oleh kekekalan kualitas-kualitas Ilahi, dan
inilah suatu atribut Tuhan; sedangkan sistem resminya yang
melibatkan kesinambungan manusia dalam mujahadat, dan
kesinambungan dalam mujahadat ini adalah suatu atribut
manusia. Atau kata-kata ini bisa diartikan lain, yaitu
bahwa, dalam Tauhid, tidak ada atribut-atribut manusia sama
sekali, karena atribut-atribut manusia tidaklah tetap,
melainkan hanya formal (rasm), yang tak kekal, karena
Tuhan adalah sumbernya. Maka dari itu, semua itu benar-benar
atribut-atribut (sifat-sifat) Tuhan. Jadi (untuk menjelaskan
apa yang dimaksud), Tuhan memerintahkan hamba-hamba-Nya
untuk berpuasa, dan bilamana mereka melaksanakan puasa, Dia
memberikan gelar orang yang berpuasa
(shaim) kepada mereka, dan secara nominal
puasa (shawm) ini milik manusia, tapi sebenarnya
ia milik Tuhan. Allah berfirman kepada Rasul-Nya:
Al-shawm li wa-ana ajzii bihi (Puasa adalah milik-Ku)
karena semua tindakan adalah milik-Nya, dan bilamana semua
manusia menisbahkan segala sesuatunya kepada diri mereka
sendiri, penisbahan ini adalah resmi (formal) dan
majazi (metaforis), bukan hakiki. Dan Abul Hasan Nuri
mengatakan: Al-tashawwuf tarku kulli hazhzhin li
al-nafs (Tasawuf adalah penyangkalan semua kesenangan
diri sendiri). Penyangkalan ada dua macam: resmi dan hakiki.
Umpamanya, jika seseorang menyangkal suatu kesenangan, dan
mendapatkan kesenangan dalam penyangkalan, inilah
penyangkalan formal (resmi); tetapi jika kesenangan
menyangkal dia, kemudian kesenangan lenyap, dan masalah ini
ada dalam kontemplasi yang sesungguhnya (musyahadat).
Maka dari itu, penyangkalan kesenangan adalah tindakan
manusia, tetapi pelenyapan kesenangan adalah tindakan Tuhan.
Tindakan manusia adalah resmi (formal) dan majazi atau
ibarat (metaforis), sementara tindakan Tuhan adalah
hakiki. Ujaran (Nuri) ini menjelaskan ujaran Junayd
sebagaimana dikutip di atas. Dan Abul Hasan Nuri juga
mengatakan: Al-shufiyyat humu alla-dzina shafat arwahuhum
fa-sharu fi al-shaff al-awwal bayna yadayi al-haqq
(Sufi-sufi ialah mereka yang ruh-ruhnya terbebaskan dari
pencemaran manusiawi, tersucikan dari noda jasmani, dan
terlepas dari hawa nafsu, sehingga mereka menemukan
ketenangan bersama Tuhan dalam barisan awal dan derajat yang
paling tinggi, dan terbebas dari semuanya kecuali Tuhan).
Dan dia juga mengatakan: Al-shufi alladz la yamlik wa-la
yumlak (Sufi adalah dia yang tidak memiliki apa pun dan
tidak juga dimiliki oleh sesuatu pun). Ini menunjukkan
hakikat pelenyapan (fana), karena seseorang yang
kualitas-kualitasnya terlenyapkan, maka dia tidak memiliki
dan juga tidak dimiliki, karena istilah milik
hanya bisa dengan tepat dikenakan kepada benda-benda yang
maujud. Maknanya ialah, bahwa Sufi tidaklah membuat miliknya
menjadi kebaikan di dunia ini atau kejayaan di akhirat,
karena ia sama sekali tidak berada dalam pemilikan dan
kendali dirinya sendiri: dia mencegah dirinya dari
menginginkan kekuasaan atas orang-orang atau benda-benda
yang lain, agar yang lainnya itu tidak bisa menginginkan
kepasrahan darinya. Perkataan ini menunjuk kepada suatu
rahasia dar Sufi-sufi yang mereka sebut pelenyapan
sempurna (fana-yi kulli). Insya Allah,
kami akan menuturkan dalam karya ini, sekadar informasi bagi
Anda, segi-segi penting di mana mereka telah berbuat
keliru.
Ibnu Al-Jalla7 mengatakan: Al-tashawwuf
haqiqatun la rasm lahu (Tasawuf adalah hakikat tanpa
bentuk), karena bentuk itu milik manusia dalam hubungannya
dengan perilaku (muamalat) mereka, sementara
hakikatnya khusus milik Tuhan. Karena tasawuf adalah
keberpalingan dari umat manusia, maka niscaya hal ini tanpa
bentuk. Dan Abu Ama Dimasyqi mengatakan:
Al-tashawwuf ruyat al-kawn bi-ayn al-naqsh
bal ghadhdh al-tharf an al-kawn (Tasawuf ialah
melihat ketidaksempurnaan dunia fenomena [dan ini
menunjukkan bahwa atribut-atribut atau sifat-sifat manusia
masih maujud], bahkan, menutup mata terhadap dunia
fenomena) (dan ini menunjukkan bahwa atribut-atribut atau
sifat-sifat manusia terlenyapkan; karena objek-objek
penglihatan adalah fenomena, dan apabila fenomena tidak
nampak lagi, penglihatan juga sirna). Menutup mata terhadap
dunia fenomena menjadikan pandangan ruhani hidup, yakni
siapa pun yang menjadi buta terhadap diri sendiri, dia
melihat melalui Ilahi, karena pendamba fenomena adalah juga
seorang pendamba diri, dan tindakannya maujud dari dan
melalui dirinya sendiri, dan dia tak dapat menemukan jalan
apa pun untuk membebaskan dirinya sendiri. Karenanya dirinya
sendiri dilihatnya tidak sempurna, dan ditutupnya matanya
terhadap diri sendiri, dan dia selalu tidak melihat; dan
meskipun si pelihat melihat tidak-sempurnaannya, sekalipun
demikian matanya adalah sebuah tabir, dan dia ditabiri oleh
penglihatannya, namun dia yang tidak pernah melihat tidak
ditabiri oleh kebutaannya. Inilah sebuah prinsip yang sangat
mapan di jalan tasawuf dan ahli mistik (arbab-i
maani), tetapi menjelaskannya di sini tidaklah
layak. Dan Abu Bakar Syibli mengatakan: Al-tashawwuf
syirkun li-annahu shiyanat al-qalb an
ruyat al-ghayr wa-la ghayr (Tasawuf adalah syirik
karena ia menjaga hati dari pandangan terhadap yang
lain, dan yang lain tidaklah ada. Artinya,
pandangan terhadap yang lain (selain Tuhan) dalam
membenarkan Keesaan Tuhan adalah syirik, dan apabila
yang lain tak bernilai dalam hati, sungguh aneh
menjaga hati dari mengingat yang lain). Hushri
mengatakan: Al-tashawwuf shafa al-sirr min kudurat
al-mukhalafat (Tasawuf adalah kesucian hati dari
pencemaran ketidakselarasan). Maknanya ialah bahwa dia harus
menjaga hatinya dari ketidakselarasan dengan Tuhan karena
cinta adalah keselarasan, dan keselarasan berlawanan dengan
ketidakselarasan, dan pencinta hanya punya satu kewajiban di
dunia, yakni menjaga atau melaksanakan perintah sang
kekasih; dan jika objek keinginan adalah satu, bagaimana
bisa muncul ketidakselarasan? Muhammad bin Ali bin
Al-Husayn bin Ali bin Abi Thalib, semoga Allah
meridhai mereka semua - mengatakan: Al-tashawwuf khulqun
fa-man zada alayka fi al-khulq zada alayka fi
al-tashawwuf (Tasawuf adalah kebaikan budi pekerti: ia
yang mempunyai budi pekerti yang lebih baik, adalah Sufi
yang lebih baik). Nah, kebaikan budi pekerti ada dua macam:
kepada Tuhan dan kepada sesama manusia. Yang pertama ialah
menyerah kepada keputusan-keputusan Tuhan, dan yang kedua
ialah menanggung beban masyarakat demi keridhaan Tuhan.
Kedua aspek ini menunjuk kepada sang pencari
(thalib). Tuhan tidak memerlukan penyerahan atau
pembangkangan sang pencari, dan kedua kualitas ini
bergantung pada pertimbangan Keesaan-Nya. Abu Muhammad
Murtaisy mengatakan: Al-shufi la yasbiqu himmatuhu
khathwatahu (Sufi adalah dia yang pikirannya selaras
dengan langkah kakinya), yakni dia sepenuhnya hadir; jiwanya
ada di mana badannya ada, dan badannya ada di mana jiwanya
ada, dan jiwanya ada di mana kakinya ada, dan kakinya ada di
mana jiwanya ada. Ini adalah tanda kehadiran tanpa kegaiban.
Sedangkan yang lain, sebaliknya mengatakan: Dia gaib
(tidak hadir) dari dirinya sendiri, dan ada dengan
Tuhan. Bukannya begini: dia ada dengan dirinya
sendiri, dan ada dengan Tuhan. Ungkapan itu menunjukkan
persatuan sempurna (jam al-jam), karena
tidak akan bisa ada ketidakhadiran dari diri sendiri selama
seseorang masih memandang dirinya sendiri; bilamana
memandang diri telah terhenti, maka ada kehadiran (dengan
Tuhan) tanpa ketidakhadiran. Dalam pengertian yang khusus
ini, perkataan itu serupa benar dengan apa yang dikatakan
oleh Syibli: Al-shufi la yara fi al-darayn
maallah ghayra Allah (Sufi adalah dia yang
tidak memandang sesuatu dalam dua dunia kecuali Tuhan).
Pendeknya, keberadaan manusia adalah yang lain,
dan bilamana manusia tidak melihat yang lain,
dia tidak melihat dirinya sendiri; dan sepenuhnya menjadi
hampa dari diri sendiri, apakah diri diakui atau
disangkal. Dan Junayd berkata: Al-tashawwuf mabniyuun
ala tsaman khishal al-sakha wa al-ridha wa al-shabr wa
al-isyarat wa al-ghurbat wa-labs al-shuf wa al-siyahat wa
al-faqr amma al-sakha fa-li Ibrahim wa-amma al-ridha
fa-li-Ismail wa-amma al-shabr fa-li-Ayyub wa-amma
al-isyarat fa-li-Zakariyya wa-amma al-ghurbat fa-li-Yahya
wa-amma labs al-shuf fa-li-Musa wa-amma al-siyahat
fa-li-Isa wa-amma al-faqr fa-ti-Muhammad sallallahu
alayhi wa-sallama wa-alayhim ajmain
(Tasawuf didirikan di atas delapan kualitas yang dicontohkan
oleh delapan orang Rasul: kemurahan hati Ibrahim, yang
mengorbankan putranya; kepasrahan hati Ismail, yang taat
kepada perintah Tuhan dan memberikan hidupnya yang paling
berharga; kesabaran Ayyub, yang dengan sabar menanggung
penderitaan akibat luka-luka boroknya dan menanggung
kecemburuan Yang Maha Pengasih; perlambangan Zakariyya, yang
kepadanya Tuhan berfirman, Engkau jangan berbicara
kepada manusia selama tiga hari kecuali dengan tanda-tanda
(isyarat) (QS 3:37), dan juga, Ketika ia
berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang berbisik
lembut (QS 19:3); dan keasingan Yahya, ia sebagai
seorang asing di negerinya sendiri dan merasa terasing bagi
sanak keluarganya, yang di tengah-tengah mereka ia hidup;
perjalanan ruhani Isa, yang dengan begitu rupa
meninggalkan (kemewahan) benda-benda duniawi sehingga ia
hanya menggunakan sebuah cangkir dan sebuah sisir - cangkir
itu ia lemparkan apabila ia melihat seseorang yang minum
dengan telapak tangannya, dan sisir itu dibuang apabila ia
melihat orang lain menggunakan jari-jarinya untuk menyisir
rambutnya; pakaian bulu domba yang digunakan oleh Musa,
jubahnya terbuat dari bulu-bulu binatang itu; dan kefakiran
Muhammad, yang kepadanya Tuhan telah menyampaikan kunci dari
semua perbendaharaan harta yang ada di permukaan bumi, dan
berkata: Jangan susahkan dirimu, tapi nikmatilah
setiap kemewahan dengan menggunakan semua harta kekayaan
ini; dan ia menjawab: Wahai Tuhan, aku tidak
menginginkan itu semua; berilah aku kenyang satu hari dan
lapar satu hari). Ini semua adalah prinsip-prinsip
perilaku yang paling utama.
Hushri mengatakan: Al-shufi la yujadu bada
adamihi wa-la yudamu bada wujudihi
(Sufi adalah dia yang wujudnya tanpa ketiadaan wujud, dan
ketiadaan wujudnya tanpa wujud), yakni dia tak pernah
kehilangan apa yang dia dapatkan, dan dia tak pernah
mendapatkan apa yang hilang darinya. Makna yang lain adalah
begini, bahwa temuannya (yaft) tak memiliki
bukan-temuan (na-yaft), dan bukan-temuannya tak
memiliki temuan kapan pun saja, sehingga ada suatu
pembenaran tanpa pembatalan, atau suatu pembatalan tanpa
pembenaran. Objek semua ungkapan ini ialah bahwa keadaan
fana seorang Sufi lepas sepenuhnya, dan bahwa
perasaan-perasaan badaniahnya (syawahid) sirna, dan
hubungannya dengan segala sesuatu terputus, agar rahasia
kefanaannya bisa dibuka tabirnya dan bagian-bagiannya yang
beragam disatukan dalam diri-hakikinya, dan agar dia bisa
hidup melalui dan dalam dirinya sendiri. Akibat dari hal ini
bisa ditunjukkan dalam diri dua orang Rasul: pertama, Musa,
yang dalam wujudnya tak ada bukan-wujud, sehingga dia
berkata: Wahai Tuhan, lapangkanlah dadaku dan
jadikanlah urusanku mudah bagiku (QS 20:25, 26);
kedua, Rasulullah (Muhammad) saw., yang dalam bukan-wujudnya
tiada wujud, sehingga Tuhan berfirman: Bukankah
Kami telah melapangkan dadamu? (QS 94:1). Yang
satu minta perhiasan dan menuntut kehormatan, tapi yang lain
sudah terhiasi, karenanya dia tidak perlu lagi menuntut
perhiasan.
Ali bin Bundar Al-Shayrafi dari Nisyapur berkata:
Al-tashawwuf isqath al-ruyat li-l-haqq
zhahiran wa-batinan (Tasawuf adalah begini, bahwa Sufi
tidak boleh memandang lahiriah dan batiniahnya sendiri,
melainkan harus memandang semuanya sebagai milik Tuhan).
Jadi, jika kamu melihat segi lahir, kamu akan mendapatkan
sebuah tanda lahiriah dari rahmat Allah, dan, seperti yang
engkau lihat, tindakan-tindakan lahiriah tidak akan punya
berat, sekalipun seberat sayap ngengat, di sisi rahmat
Allah, dan kamu akan berhenti memandang segi lahir; dan jika
kamu melihat segi batin, kamu akan menjumpai sebuah tanda
batiniah dari pertolongan Tuhan, dan, seperti yang kamu
lihat, tindakan-tindakan batiniah tidak akan seberat biji
sawi pun jika dibandingkan dengan pertolongan Tuhan, dan
kamu akan berhenti memandang segi batin, dan akan melihat
bahwa semuanya milik Tuhan; dan bilamana kamu melihat bahwa
semuanya milik Tuhan, kamu akan melihat bahwa dirimu sendiri
tak punya apa-apa.
Muhammad bin Ahmad Al-Muqri8 mengatakan:
Al-tashawwuf istiqamat al-ahwal maa al-haqq (Tasawuf
adalah mempertahankan keadaan-keadaan yang benar bersama
Tuhan), yakni keadaan-keadaan tidaklah
menjauhkan kaum Sufi dari keadaannya (yang benar), juga
tidak menjerumuskannya ke dalam kesalahan karena dia yang
hatinya diabdikan kepada Pencipta keadaan-keadaan
(muhawwil-i ahwal) tidaklah tercampakkan dari tingkat
kebenaran, juga tidak terhalang dari mencapai Kebenaran.
Aturan-Aturan Perilaku
(Muamalat)
Abu Hafs Haddad dari Nisyapur berkata: Al-tashawwuf
kulluhu adabun li-kulli waqtin adabun wa-li-kulli maqamin
adabun wa-li-kulli halin adabun fa-man lazima adab al-awqat
balagha mablagh al-rijal faman dhayyaa al-adab fa-huwa
baidun min haytsu yazunnu al-qurb wa-mardudun min
haytsu yazunnu al-qabul (Tasawuf sepenuhnya berupa
tingkah laku; setiap waktu, tempat, dan keadaan lingkungan
mempunyai adat kebiasaannya masing-masing; maka dia yang
menyesuaikan diri dengan adat-adat kebiasaan pada setiap
kesempatan, mencapai tingkat orang-orang suci; dan dia yang
tidak mengindahkan, adat-adat kebiasaan itu, maka dia akan
jauh tersingkir dari pikiran tentang kedekatan (dengan
Tuhan) dan tidak dapat membayangkan bahwa dia bisa diterima
Tuhan). Makna hal ini berkaitan erat dengan pernyataan Abul
Hasan Nuri: Laysa al-tashawwuf rusuman wa-la uluman
wa-la-kinnahu akhlaqun (Tasawuf tidak terdiri atas
praktik-praktik dan ilmu-ilmu, tapi ia adalah moral
[akhlak]), yakni jika ia terdiri atas
praktik-praktik, ia bisa dilakukan melalui usaha, dan jika
ia terdiri atas ilmu-ilmu, ia bisa diperoleh melalui
pelajaran: karenanya ia akhlak, dan tidak dapat diperoleh
sampai engkau menuntut dari diri engkau sendiri
prinsip-prinsip moral, dan membuat tindakan-tindakanmu
sesuai dengan prinsip-prinsip moral itu, dan memenuhi
tuntutan-tuntutannya. Perbedaan antara praktik-praktik
(rusum) dan moral (akhlaq) begini, bahwa praktik-praktik
adalah tindakan-tindakan seremonial yang maujud dari
motif-motif tertentu, tindakan-tindakan yang tidak memiliki
realitas, sehingga bentuknya berlainan dengan ruhnya,
sementara akhlak adalah tindakan-tindakan terpuji tanpa
upacara atau motif, tindakan-tindakan yang tidak memiliki
pretensi, sehingga bentuknya selaras dengan ruhnya.
Murtaisy mengatakan: Al-tashawwuf husn
al-khulq (Tasawuf adalah watak yang baik). Hal ini ada
tiga macam: pertama, kepada Tuhan, dengan memenuhi
perintah-perintah-Nya tanpa kemunafikan; kedua, kepada
manusia, dengan menghormati yang lebih tua dan berlaku kasih
sayang kepada yang lebih muda dan berbuat adil terhadap
sesama, dan dengan tidak mencari balasan dan keadilan dari
segenap orang pada umumnya; dan ketiga, kepada diri sendiri,
dengan tidak menuruti hawa nafsu dan setan. Barangsiapa yang
membuat dirinya benar dalam tiga perkara ini, adalah seorang
yang berwatak baik. Yang aku sebutkan ini sesuai dengan
sebuah kisah tentang Aisyah yang terpercaya
(shiddiqah) - semoga Tuhan meridhainya! Ia ditanya mengenai
akhlak Nabi. Baca lah Al-Quran, ia menjawab,
karena Tuhan telah memberitahu dalam firman-Nya:
Gunakan permaafan dan perintahkan apa yang baik dan
berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (QS
7:199). Dan Murtaisy juga mengatakan: Hadza
madzhabun kulluhu jiddun fa-la takhlithuhu bi-syay in
min-al-hazl (Mazhab tasawuf ini sepenuhnya kesungguhan,
karena itu jangan mempermainkannya dan jangan mencontoh
perilaku kaum formalis [mutarassiman], dan berikan
penerangan kepada orang-orang yang secara membabi buta
meniru mereka). Apabila,khalayak ramai melihat
formalis-formalis ini berada di tengah-tengah kaum pendamba
tasawuf pada zaman kita ini, dan memperhatikan tarian dan
nyanyian mereka, serta mengunjungi istana sultan-sultan, dan
bertengkar demi upah yang kecil atau demi sesuap makanan,
kepercayaan mereka kepada keseluruhan lembaga para Sufi
telah rusak, dan mereka berkata: Ini semua adalah
prinsip-prinsip tasawuf, dan ajaran-ajaran sufi-sufi
terdahulu sama saja. Mereka tidak mengetahui bahwa ini
adalah zaman kelemahan (kemunduran) dan kurun sejarah
penderitaan akibatnya, ketamakan mendorong sultan untuk
bertindak sewenang-wenang, dan nafsu berahi mendorong ulama
berbuat zina dan kemesuman dan sifat suka bermegah-megah
mendorong sang zahid (asketik) menjadi munafik, dan
kebanggaan diri mendorong kaum Sufi untuk menari dan
menyanyi - ketahuilah bahwa keburukan terletak pada
orang-orang yang menganut doktrin-doktrin, bukan pada
prinsip-prinsip yang menjadi pijakan doktrin-doktrin itu;
dan bilamana sebagian pengejek menyembunyikan kebodohan
mereka dalam ketulusan mistikus sejati (ahrar), maka
ketulusan mistikus sejati ini tidak berubah menjadi
kebodohan. Dan Abu Ali Qarmini9 mengatakan:
Al-tashawwuf huwa al-akhlaq al-radhiyyat (Tasawuf
adalah moral yang baik). Tindakan-tindakan yang baik
sedemikian rupa sehingga makhluk dalam segala lingkungan
keadaan sepakat dengan Tuhan, dan merasakan kepuasan. Abu
Hasan Nuri mengatakan: Al-tashawwuf huwa al-hurriyat wa
al-futuwwat wa-tark al-taklif wa al-sakha wa-badzl
al-dunya (Tasawuf adalah kemerdekaan, sehingga manusia
terbebaskan dari ikatan-ikatan hawa nafsu dan kemurahan
hati), yakni dia dibersihkan dari kebanggaan akan kemurahan
hati; dan menghapuskan jerih payah yang sia-sia,
yakni dia tidak berusaha meraih pahala yang berlipat ganda
dan kedermawanan, yakni dia menyerahkan dunia
ini kepada orang-orang dunia ini.
Abul Hasan Fusyanja10 - semoga Tuhan
meridhainya - mengatakan: Al-tashawwuf al-yawmasmun
wa-la haqiqatun wa-qad kana haqiqatan wa-lasmun
(Pada masa ini tasawuf adalah sebuah nama tanpa hakikat,
tapi semula ia suatu hakikat tanpa nama), yaitu pada masa
Sahabat-sahabat Nabi saw. dan orang-orang terdahulu - semoga
Tuhan meridhai mereka semua - nama ini tak pernah ada, tapi
hakikatnya pernah ada pada setiap orang; kini nama itu ada,
tapi tidak ada hakikatnya. Artinya, semula praktik ini
dikenal, dan pretensinya (maksud tertentu yang terselip -
penerjemah) tidak dikenal, tapi kini pretensinya dikenal,
dan praktiknya tidak dikenal.
Aku telah memaparkan pada Bab tentang Tasawuf ini
sejumlah ujaran Syaikh-syaikh, supaya Jalan ini bisa menjadi
jelas bagimu - semoga Tuhan menganugerahimu kebahagiaan -
dan supaya engkau bisa mengatakan kepada kaum yang ragu-ragu
(skeptik): Apakah yang kamu maksudkan dengan
menyangkal kebenaran tasawuf? Jika mereka menyangkal
hanya namanya semata-mata, tidaklah apa-apa, karena
gagasan-gagasan tidak berkaitan dengan segala sesuatu yang
memiliki nama-nama; dan jika mereka menyangkal
gagasan-gagasan yang hakiki, ini berarti suatu penyangkalan
terhadap keseluruhan Hukum Suci Rasulullah saw. dan
sifat-sifatnya yang terpuji. Dan aku anjurkan kamu dalam
buku ini - semoga Tuhan menganugerahimu rahmat seperti yang
telah Dia anugerahkan kepada Wali-wali-Nya - agar memegang
teguh gagasan-gagasan ini dengan sebaik-baiknya dan agar
memenuhi tuntutan-tuntutan layak mereka, sehingga kamu bisa
mencegah diri dari maksud-maksud tertentu yang sia-sia dan
mempunyai keyakinan yang mendalam terhadap Sufi-sufi itu
sendiri. Tuhanlah yang memberikan keberhasilan.
Catatan Kaki:
- Lihat Bab IX.
- Nama Zaddiq, (sebuah kata Aramea yang berarti
lurus) diberikan kepada para zahid dan ahli
keruhanian di antara penganut agama Mani. Padanannya
dalam bahasa Arab, shiddiq, yang berarti
suci hati - merupakan suatu istilah yang
kerap kali dikenakan kepada para Sufi.
- Yatasharaun. B. melafalkan
yataadawn, dan dalam marginal
yatasaraun. Lafal yang benar ialah
yataawawn, mendamprat (atau
mengumpat) satu sama lain. Perhatikan
Lisan, xix, 343, 3.
- Yataghawarun. Ini adalah lafal dari J., I.
melafalkan yataawarun, L.
yataawadun, B. yataghamazun, dan
dalam marginal yatafawazun.
- Contoh-contoh arti bentuk tafaul ini
diberikan dalam Wrights Arabic Grammar, vol.
I, h. 37, Rem. b.
- Yaitu kesucian dan tasawuf.
- Demikianlah J. Lahore menulis Ibn Al-Jalali, I. Ibn
Al-Jullahi. Lihat Bab X, no. 43.
- Wafat pada 366 H. Lihat Nafahat, No. 332.
- IJ. Qazwini. B. Abu Ali Kirmansyahi Quraysyi.
Syaikh itu mungkin Muzhaffar Kirmansyahi Qarmini
(Nafahat, No. 270).
- Pada umumnya ditulis Fusyanyi. Lihat
Nafahat, No. 279.
|