Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

22. Menyingkap Tabir Kedelapan: Haji

Haji itu wajib bagi setiap Muslim yang berakal sehat yang mampu melaksanakannya dan telah mencapai kedewasaan. Haji itu adalah memakai pakaian haji (ihram) pada tempat yang ditentukan, singgah di ‘Arafat, mengelilingi Ka’bah, dan berlari antara Shafa dan Marwa. Tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci tanpa berpakaian ihram. Kawasan suci (haram) disebut demikian karena di situ terdapat Maqam Ibrahim. Ibrahim mempunyai dua maqam: maqam badannya, yakni, Makkah, dan maqam ruhaninya, yakni, persahabatan (dengan Tuhan - penerjemah) (khullat). Barangsiapa mencari maqam badaniahnya, ia harus menafikan semua hawa nafsu dan kesenangan dan memakai pakaian ihram (kain persegi empat yang dililitkan di sekujur tubuhnya tanpa jahitan [kafan]) dan mencegah dari perburuan yang dihalalkan, dan mengendalikan sepenuhnya semua indera, dan hadir di ‘Arafat dan dari sana menuju Muzdalifah dan Masy’ar Al-Haram, dan mengambil batu-batu dan mengelilingi Ka’bah dan mengunjungi Mina dan tinggal di sana tiga hari dan. melemparkan batu-batu dengan cara yang sudah ditentukan dan memotong rambutnya dan melaksanakan kurban dan memakai pakaian biasa (sehari-hari). Tetapi barangsiapa mencari maqam ruhaniahnya, ia harus menafikan pergaulan dengan sesamanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesenangan-kesenangan dan tidak berpikir lain selain tentang Tuhan (karena pandangannya terhadap dunia fenomenal adalah terlarang). Kemudian dia harus singgah di ‘Arafatnya makrifat, dan dari sana pergi ke Muzdalifahnya persahabatan (ulfat), dan dari sini menyuruh hatinya untuk mengelilingi Ka’bahnya penyucian Ilahi (tanzih), dan melemparkan batu-batu hawa nafsu dan pikiran-pikiran kotor di Mina keimanan, dan mengorbankan jiwa rendahnya di altar mujahadat dan sampai pada maqam persahabatan (khullat). Memasuki maqam badaniah berarti aman dari musuh-musuh dan pedang-pedang mereka, tetapi memasuki maqam ruhaniah berarti aman dari keterpisahan (dari Tuhan) dan akibat-akibatnya.1

Muhammad bin Al-Fadhl mengatakan: “Aku heran pada orang-orang yang mencari Ka’bab-Nya di dunia ini. Mengapa mereka tidak berupaya melakukan musyahadat tentang-Nya di dalam hati mereka? Tempat suci kadangkala mereka capai dan kadangkala mereka tinggalkan tapi musyahadat bisa mereka nikmati selalu. Jika mereka harus mengunjungi batu (Ka’bah - penyunting), yang dilihat hanya sekali setahun, sesungguhnya mereka lebih harus mengunjungi Ka’bah-hati, di mana bisa dilihat tiga ratus enam puluh kali sehari semalam. Tetapi setiap langkah mistikus adalah simbol perjalanan menuju Makkah, dan bilamana ia mencapai tempat suci ia menerima jubah kehormatan bagi setiap langkah.” Abu Yazid mengatakan: “Jika ganjaran seseorang untuk ibadahnya kepada Tuhan ditunda sampai esok hari, ia tentu tidak ibadah kepada Tuhan sekarang, ” karena ganjaran bagi setiap saat beribadah dan mujahadat adalah langsung. Dan Abu Yazid juga mengatakan: “Pada hajiku yang pertama aku hanya melihat Ka’bah; kedua kalinya, aku melihat Ka’bah dan Tuhannya Ka’bah; dan ketiga ya, aku hanya melihat Tuhan saja.” Pendeknya, di mana ada mujahadat, di situ tidak ada tempat suci. Tempat suci ada di mana musyahadat ada. Kalau seluruh alam semesta ini bukan tempat pertemuan manusia di mana ia mendekati Tuhan, dan ruang istirah di mana ia menikmati kedekatan dengan Tuhan, ia tetap tak mengenal cinta Ilahi. Tapi bilamana ia memiliki penglihatan, seluruh alam semesta adalah tempat sucinya.

“Yang tergelap di dunia adalah rumah Kekasih tanpa Kekasih.”

Karena itu, yang sebenarnya bernilai bukanlah Ka’bah, melainkan kontemplasi (musyahadat) dan pelenyapan (fana’) di dalam istana persahabatan, dan melihat Ka’bah merupakan sebab tidak langsung. Tetapi, kita harus tahu bahwa setiap sebab bergantung pada pencipta sebab-sebab (musabbib), dari tempat tersembunyi mana pun kuasa Ilahi tampak, dan dari mana pun keinginan pencari bisa dipenuhi. Tujuan mistikus (mardan) dengan melintasi belantara dan padang pasir bukanlah tempat suci itu sendiri, karena bagi seorang pencinta Tuhan diharamkan memandang tempat suci-Nya. Bukan! Tujuan mereka adalah mujahadat dalam suatu kerinduan yang membuat mereka tak bisa tenang, dan kelenyapan dalam cinta yang tak pernah berakhir. Seseorang datang kepada Junayd. Junayd bertanya kepadanya dari mana ia datang. Ia menjawab: “Aku baru saja melakukan ibadah haji.” Junayd mengatakan: “Dari saat ketika engkau pertama kali berjalan dari rumahmu, apakah engkau juga telah meninggalkan semua dosa?” Ia menjawab: “Tidak.” “Lalu, ” kata Junayd, “berarti engkau tidak membuat perjalanan. Di setiap tahap di mana engkau beristirah di malam hari, apakah engkau tidak melintasi sebuah maqam di jalan menuju Allah?” Ia menjawab: “Tidak.” “Lalu, ” kata Junayd, “berarti engkau tidak menempuh perjalanan tahap demi tahap. Ketika engkau mengenakan pakaian haji (ihram) di tempat yang ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan pakaian-pakaian sehari-harimu?” “Tidak.” “Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji. Ketika engkau singgah di ‘Arafat, apakah engkau telah singgah barang sebentar dalam musyahadat kepada Tuhan?” “Tidak.” “Berarti engkau tidak singgah di ‘Arafat. Ketika engkau pergi ke Muzdalifah dan mencapai keinginanmu, apakah engkau sudah meniadakan semua hawa nafsu?” “Tidak.” “Berarti engkau tidak pergi ke Muzdalifah. Ketika engkau mengelilingi Ka’bah, apakah engkau sudah memandang keindahan nonmaterial Tuhan di tempat suci?” “Tidak.” “Berarti engkau tidak mengelilingi Ka’bah. Ketika engkau lari antara Shafa dan Marwa, apakah engkau telah mencapai peringkat kesucian (shafa) dan kebajikan (muruwwat)?” “Tidak.” “Berarti engkau tidak lari. Ketika engkau telah datang ke Mina, apakah semua keinginanmu (munyatsa) sirna?” “Tidak.” “Berarti engkau belum mengunjungi Mina. Ketika engkau sampai di tempat penyembelihan dan melakukan kurban, apakah engkau telah mengurbankan segala hawa nafsu?” “Tidak.” “Berarti engkau tidak berkurban. Ketika engkau melemparkan batu-batu, apakah engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang menyertaimu?” “Tidak.” “Berarti engkau belum melemparkan batu-batu, dan engkau belum melaksanakan ibadah haji. Kembalilah dan lakukan ibadah haji seperti yang telah kugambarkan supaya engkau bisa sampai pada maqam Ibrahim.” Fudhayl bin ‘Iyadh mengatakan: “Aku melihat di Bukit ‘Arafat seorang pemuda berdiri tenang dengan menundukkan kepala, sementara semua orang berdoa dengan suara keras, dan aku menanyakan kepadanya mengapa ia tidak berdoa seperti mereka. Ia menjawab bahwa ia sedang terkena tekanan berat, karena kehilangan keadaan ruhaniah (waqti) yang semula ia nikmati, dan bahwa ia sama sekali tidak bisa berteriak kepada Tuhan. Aku mengatakan: ‘Berdoalah, agar melalui rahmat orang banyak ini Tuhan memenuhi keinginanmu.’ Ketika ia hendak mengangkat tangannya dan berdoa, tiba-tiba ia berteriak sekuat-kuatnya dan mati di situ.” Dzun Nun Al-Mishri mengatakan: “Di Mina aku melihat seorang remaja duduk dengan tenang selagi orang-orang sibuk berkurban. Aku memandangnya untuk mengetahui apa yang ia sedang kerjakan. Ia berseru: ‘Wahai Tuhan, semua orang berkurban. Aku ingin mengurbankan jiwa rendahku kepada-Mu; apakah Engkau menerimanya.’ Habis berkata-kata, ia mengarahkan jari telunjuknya ke tenggorokannya dan lalu mati - semoga Allah mengasihinya!”

Selanjutnya, haji ada dua macam: (1) dalam ketidakhadiran (dari Tuhan) dan (2) dalam kehadiran (bersama Tuhan). Seseorang yang tidak hadir dari Tuhan di Makkah, maka ia berada dalam kedudukan yang seolah-olah ia tidak hadir dari Tuhan di rumahnya sendiri, dan seseorang yang hadir bersama Tuhan di rumahnya sendiri, maka ia berada dalam kedudukan yang seolah-olah ia hadir bersama Tuhan di Makkah. Haji adalah suatu tindak mujahadat untuk memperoleh musyahadat, dan mujahadat tidak menjadi sebab-langsung musyahadat, melainkan hanya sarana untuk mencapai musyahadat. Maka dari itu, karena sarana tidak mempunyai pengaruh lebih jauh atas realitas segala hal, tujuan haji yang sebenarnya bukanlah mengunjungi Ka’bah, melainkan untuk memperoleh musyahadat tentang Tuhan.

Musyahadat

Rasulullah bersabda: “Buatlah perut-perutmu lapar dan hati-hatimu haus, dan tinggalkan dunia ini, semoga kalian bisa melihat Tuhan dengan hatimu, ” dan Beliau juga bersabda, “Sembahlah Tuhan seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu.” Tuhan berfirman kepada Dawud: “Tahukah engkau apakah pengetahuan tentang Aku? Itulah kehidupan hati dalam musyahadat tentang Aku.” Yang dimaksud “musyahadat” oleh kaum Sufi adalah penglihatan ruhani akan Tuhan secara umum dan pribadi, tanpa bertanya mengapa atau dengan cara apa. Abul ‘Abbas bin ‘atha mengatakan, sehubungan dengan firman Tuhan: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah, ” dan meneguhkan pendirian mereka” (QS 41:30), “mereka mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ dalam mujahadat dan mereka ‘meneguhkan pendirian’ di permadani musyahadat.”

Pada hakikatnya, ada dua macam musyahadat. Yang pertama adalah hasil dari kepercayaan yang sempurna (shihhat-i yaqin), yang kedua adalah hasil dari cinta membara, karena dalam keterbakaan cinta seseorang mencapai derajat sedemikian rupa sehingga seluruh wujudnya terserap dalam pikiran tentang Yang Dicintainya dan ia tidak melihat yang lain. Muhammad bin Wasi’ mengatakan: “Aku tidak pernah melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan di dalamnya, ” yakni melalui keimanan sempurna. Penglihatan ini adalah dari Tuhan kepada makhluk-makhluk-Nya. Syibli mengatakan: “Aku tidak pernah melihat sesuatu kecuali Tuhan, ” yakni dalam keterbakaran cinta dan gairah musyahadat. Orang melihat tindakan dengan mata jasmaniah dan, ketika melihat, ia melihat Sang Pencipta dengan mata ruhaninya. Yang lain sirna karena mencintai Sang Penciptanya segala sesuatu yang lain, sehingga ia hanya melihat Sang Pencipta. Metode yang satu bersifat demonstratif (istidlali), yang lain bersifat ekstatis (jadzbi), Dalam masalah yang pertama, suatu bukti yang jelas maujud dari bukti-bukti tentang Tuhan. Dalam masalah yang terakhir, orang yang melihat terkuasai oleh keinginan. Bukti-bukti dan kenyataan-kenyataan merupakan tabir baginya, karena orang yang mengenal sesuatu, sesuatu itulah yang dikaguminya, dan orang yang mencintai sesuatu hanya sesuatu itulah yang dipandangnya, serta meniadakan perselisihan dengan-Nya dan ikut campur dalam ketentuan-ketentuan dan tindakan-tindakan-Nya. Tuhan telah berfirman tentang Rasul pada saat Mi’raj-nya: “Penglihatannya tidak menyimpang atau tidak melampaui dari apa yang dilihatnya” (QS 53:17), karena kerinduannya yang sedemikian kepada Tuhan. Bilamana sang pencinta memalingkan matanya dari benda-benda ciptaan, ia tentu akan melihat Sang Pencipta dengan hatinya. Tuhan telah berfirman: “Katakan kepada orang-orang yang beriman agar menutup mata mereka” (QS 24:30), yakni menutup mata jasmaniah mereka terhadap hawa nafsu dan mata ruhaniah mereka terhadap benda-benda ciptaan. Ia yang paling tulus dalam mujahadat adalah yang paling kuat dalam musyahadat, karena musyahadat batin berkaitan dengan mujahadat lahir. Sahl bin ‘Abdallah Al-Tustari mengatakan: “Jika seseorang menutup matanya terhadap Tuhan sesaat, ia tidak akan pernah memperoleh petunjuk sepanjang hidupnya, ” karena memandang selain Tuhan berarti berada di tangan selain Tuhan, dan orang yang berada dalam kasih selain Allah, maka ia tersesat. Karenanya, kehidupan kontemplatif adalah saat ketika mereka menikmati kontemplasi (musyahadat). Waktu yang digunakan untuk melihat secara kasat mata (mu’ayanat) tidak mereka anggap sebagai kehidupan, karena hal itu bagi mereka adalah kematian yang sebenarnya. Jadi, ketika Abu Yazid ditanya berapa umurnya, dia menjawab: “Empat tahun.” Mereka berkata: “Bagaimana bisa begitu?” Dia menjawab: “Aku ditabiri (dari Tuhan) oleh dunia ini selama tujuh puluh tahun, tetapi aku baru melihat-Nya empat tahun terakhir ini. Kurun waktu tertabiri tidak termasuk kehidupan.” Syibli berseru dalam doa-doanya: “Wahai Tuhan, sembunyikan surga dan neraka di tempat-tempat tersembunyi-Mu agar Engkau disembah tanpa pamrih.” Orang yang lupa kepada Tuhan, menyembah-Nya melalui iman, karena watak manusia berminat kepada surga. Tetapi, karena kalbu tidak punya minat untuk mencintai Allah, orang yang lupa kepada Allah, tercegah dari berkontemplasi tentang-Nya. Rasul memberitahu ‘A’isyah bahwa dia tidak melihat Tuhan pada malam Mi’raj, tapi Ibn ‘Abbas meriwayatkan bahwa Rasul memberitahukan kepadanya bahwa beliau melihat Tuhan pada kesempatan itu. Karena itu, ini tetap menjadi perselisihan. Tapi, dalam mengatakan bahwa beliau tidak melihat Tuhan, Rasul mengacu kepada mata badaniahnya, sementara dalam mengatakan kebalikannya, beliau mengacu kepada mata ruhaninya. Karena ‘A’isyah adalah seorang zhahiri (formalis) dan Ibn ‘Abbas adalah seorang spiritualis, Rasul berbicara dengan masing-masing mereka menurut pengertian mereka. Junayd mengatakan: “Jika Tuhan berbicara kepadaku, ‘Pandanglah Aku.’ Aku akan menjawab, ‘Aku tidak akan melihat-Mu, ’ karena, dalam cinta, mata itu adalah selain (Tuhan) dan asing. Rasa iri pada yang lain akan mencegahku dari melihat-Nya. Karena di dunia ini aku terbiasa melihat-Nya tanpa perantaraan mata, bagaimana aku akan menggunakan perantaraan semacam itu di akhirat?”

“Sungguh, aku iri pada mataku yang melihat-Mu,
Dan kututup mataku bila aku melihat-Mu.”

Junayd ditanya: “Apakah engkau ingin melihat Tuhan?” Ia menjawab: “Tidak.” Mereka bertanya mengapa. Ia menjawab: “Ketika Musa ingin, dia tidak melihat-Nya, dan ketika Muhammad tidak ingin, dia melihat-Nya.” Keinginan kita adalah tabir terbesar yang menyembunyikan kita dari melihat Tuhan, karena dalam cinta eksistensi kehendak diri adalah ketidaktaatan, dan ketidaktaatan adalah tabir. Bilamana kehendak diri lenyap di dunia ini, musyahadat pun tercapai, dan bilamana musyahadat telah terkukuhkan, tidak ada perbedaan antara dunia ini dan akhirat. Abu Yazid mengatakan: “Allah mempunyai hamba-hamba yang akan murtad jika mereka ditabiri dari Dia di dunia ini atau di akhirat, ” yakni Dia mempertahankan mereka dengan musyahadat abadi dan menghidupkan mereka dengan kehidupan cinta. Dan bilamana orang yang menikmati keadaan tak tertabiri menjadi tertabiri, ia niscaya menjadi murtad. Dzun Nun Al-Mishri mengatakan: “Suatu hari, ketika aku bepergian di Mesir, aku melihat beberapa pemuda sedang melemparkan batu-batu kepada seorang remaja. Aku bertanya kepada mereka apa yang mereka inginkan darinya. Mereka menjawab: ‘Dia gila.’ Aku bertanya apa buktinya, dan mereka mengatakan bahwa ia mengaku melihat Tuhan. Aku berpaling kepada remaja itu dan menanyakan apakah benar ia telah mengatakan demikian. Ia menjawab: ‘Aku mengatakan bahwa jika aku tidak melihat Tuhan barang sebentar, aku akan tetap terhijab (tertabiri) dan tidak akan taat kepada-Nya’.” Beberapa Sufi telah berbuat kesalahan karena beranggapan bahwa penglihatan ruhani dan kontemplasi mencerminkan gagasan (shurati) tentang Tuhan yang dibentuk dalam pikiran oleh imajinasi dari ingatan maupun pemikiran. Ini benar-benar antropomorfisme (tasybih) dan jelas-jelas sesat. Tuhan tidak terbatas sehingga imajinasi tak mampu menggambarkan-Nya atau akal tak mampu memahami tabiat-Nya. Yang bisa diimajinasikan itu serupa dengan akal, tetapi Tuhan tidak serupa dengan jenis apa pun, walaupun dalam hubungannya dengan yang Qadim semua objek fenomenal itu jenisnya sama satu sama lain sekalipun mereka tampak berbeda-beda. Karenanya, musyahadat di dunia ini menyerupai penglihatan akan Tuhan di akhirat, dan karena Sahabat-sahabat Nabi (ashhab) sepakat bahwa penglihatan bisa terjadi di akhirat, maka musyahadat di dunia ini juga bisa terjadi. Orang-orang yang mengatakan tentang musyahadat di dunia ini maupun di akhirat hanya mengatakan bahwa itu mungkin, bukan bahwa mereka telah menikmati atau menikmatinya sekarang, karena musyahadat adalah sifat hati (sirr) dan tidak bisa diungkapkan dengan lisan kecuali secara metaforis atau majazi. Karenanya, diam itu lebih tinggi peringkatnya daripada berkata-kata, karena diam adalah tanda kontemplasi (musyahadat), sementara berkata-kata adalah tanda kesaksian mata jasmani (syahadat). Karena itu, Rasul, ketika mencapai kedekatan dengan Tuhan, berkata: “Aku tak bisa mengungkapkan pujian kepada-Mu, ” karena beliau berada dalam kontemplasi, dan kontemplasi dalam derajat cinta adalah persatuan sempurna (yaganagi), dan ungkapan lahiriah dalam persatuan adalah ke-lain-an (beganagi). Kemudian beliau bersabda: “Engkau telah memuji Diri-Mu Sendiri, ” yakni kata-kata-Mu adalah kata-kataku, dan pujian-Mu adalah pujianku, dan aku pikir lidahku tak mampu mengungkapkan apa yang kurasakan. Sebagaimana penyair mengatakan:

“Aku mendambakan kekasihku, tapi bila aku melihatnya
Aku jadi bisu, lidahku kelu, dan mataku buta.”•

Catatan Kaki:

  1. Inilah kisah Ibrahim dan Namrud yang telah dituturkan di muka.

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team