|
|
22. Menyingkap Tabir Kedelapan:
Haji
Haji itu wajib bagi setiap Muslim yang berakal sehat yang
mampu melaksanakannya dan telah mencapai kedewasaan. Haji
itu adalah memakai pakaian haji (ihram) pada tempat
yang ditentukan, singgah di Arafat, mengelilingi
Kabah, dan berlari antara Shafa dan Marwa. Tidak
diperbolehkan memasuki kawasan suci tanpa berpakaian ihram.
Kawasan suci (haram) disebut demikian karena di situ
terdapat Maqam Ibrahim. Ibrahim mempunyai dua maqam: maqam
badannya, yakni, Makkah, dan maqam ruhaninya, yakni,
persahabatan (dengan Tuhan - penerjemah) (khullat).
Barangsiapa mencari maqam badaniahnya, ia harus menafikan
semua hawa nafsu dan kesenangan dan memakai pakaian ihram
(kain persegi empat yang dililitkan di sekujur tubuhnya
tanpa jahitan [kafan]) dan mencegah dari
perburuan yang dihalalkan, dan mengendalikan sepenuhnya
semua indera, dan hadir di Arafat dan dari sana menuju
Muzdalifah dan Masyar Al-Haram, dan mengambil
batu-batu dan mengelilingi Kabah dan mengunjungi Mina
dan tinggal di sana tiga hari dan. melemparkan batu-batu
dengan cara yang sudah ditentukan dan memotong rambutnya dan
melaksanakan kurban dan memakai pakaian biasa (sehari-hari).
Tetapi barangsiapa mencari maqam ruhaniahnya, ia harus
menafikan pergaulan dengan sesamanya dan mengucapkan selamat
tinggal kepada kesenangan-kesenangan dan tidak berpikir lain
selain tentang Tuhan (karena pandangannya terhadap dunia
fenomenal adalah terlarang). Kemudian dia harus singgah di
Arafatnya makrifat, dan dari sana pergi ke
Muzdalifahnya persahabatan (ulfat), dan dari sini
menyuruh hatinya untuk mengelilingi Kabahnya penyucian
Ilahi (tanzih), dan melemparkan batu-batu hawa nafsu
dan pikiran-pikiran kotor di Mina keimanan, dan mengorbankan
jiwa rendahnya di altar mujahadat dan sampai pada maqam
persahabatan (khullat). Memasuki maqam badaniah
berarti aman dari musuh-musuh dan pedang-pedang mereka,
tetapi memasuki maqam ruhaniah berarti aman dari
keterpisahan (dari Tuhan) dan
akibat-akibatnya.1
Muhammad bin Al-Fadhl mengatakan: Aku heran pada
orang-orang yang mencari Kabab-Nya di dunia ini.
Mengapa mereka tidak berupaya melakukan musyahadat
tentang-Nya di dalam hati mereka? Tempat suci kadangkala
mereka capai dan kadangkala mereka tinggalkan tapi
musyahadat bisa mereka nikmati selalu. Jika mereka
harus mengunjungi batu (Kabah - penyunting), yang
dilihat hanya sekali setahun, sesungguhnya mereka lebih
harus mengunjungi Kabah-hati, di mana bisa dilihat
tiga ratus enam puluh kali sehari semalam. Tetapi setiap
langkah mistikus adalah simbol perjalanan menuju Makkah, dan
bilamana ia mencapai tempat suci ia menerima jubah
kehormatan bagi setiap langkah. Abu Yazid mengatakan:
Jika ganjaran seseorang untuk ibadahnya kepada Tuhan
ditunda sampai esok hari, ia tentu tidak ibadah kepada Tuhan
sekarang, karena ganjaran bagi setiap saat beribadah
dan mujahadat adalah langsung. Dan Abu Yazid juga
mengatakan: Pada hajiku yang pertama aku hanya melihat
Kabah; kedua kalinya, aku melihat Kabah dan
Tuhannya Kabah; dan ketiga ya, aku hanya melihat Tuhan
saja. Pendeknya, di mana ada mujahadat, di situ tidak
ada tempat suci. Tempat suci ada di mana musyahadat
ada. Kalau seluruh alam semesta ini bukan tempat pertemuan
manusia di mana ia mendekati Tuhan, dan ruang istirah di
mana ia menikmati kedekatan dengan Tuhan, ia tetap tak
mengenal cinta Ilahi. Tapi bilamana ia memiliki penglihatan,
seluruh alam semesta adalah tempat sucinya.
- Yang tergelap di dunia adalah rumah Kekasih
tanpa Kekasih.
Karena itu, yang sebenarnya bernilai bukanlah
Kabah, melainkan kontemplasi (musyahadat) dan
pelenyapan (fana) di dalam istana persahabatan,
dan melihat Kabah merupakan sebab tidak langsung.
Tetapi, kita harus tahu bahwa setiap sebab bergantung pada
pencipta sebab-sebab (musabbib), dari tempat
tersembunyi mana pun kuasa Ilahi tampak, dan dari mana pun
keinginan pencari bisa dipenuhi. Tujuan mistikus
(mardan) dengan melintasi belantara dan padang pasir
bukanlah tempat suci itu sendiri, karena bagi seorang
pencinta Tuhan diharamkan memandang tempat suci-Nya. Bukan!
Tujuan mereka adalah mujahadat dalam suatu kerinduan yang
membuat mereka tak bisa tenang, dan kelenyapan dalam cinta
yang tak pernah berakhir. Seseorang datang kepada Junayd.
Junayd bertanya kepadanya dari mana ia datang. Ia menjawab:
Aku baru saja melakukan ibadah haji.
Junayd mengatakan: Dari saat ketika engkau pertama
kali berjalan dari rumahmu, apakah engkau juga telah
meninggalkan semua dosa? Ia menjawab:
Tidak. Lalu, kata Junayd,
berarti engkau tidak membuat perjalanan. Di setiap
tahap di mana engkau beristirah di malam hari, apakah engkau
tidak melintasi sebuah maqam di jalan menuju Allah? Ia
menjawab: Tidak. Lalu,
kata Junayd, berarti engkau tidak menempuh perjalanan
tahap demi tahap. Ketika engkau mengenakan pakaian haji
(ihram) di tempat yang ditentukan, apakah engkau membuang
sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan
pakaian-pakaian sehari-harimu? Tidak.
Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji. Ketika
engkau singgah di Arafat, apakah engkau telah singgah
barang sebentar dalam musyahadat kepada Tuhan?
Tidak. Berarti engkau tidak singgah di
Arafat. Ketika engkau pergi ke Muzdalifah dan mencapai
keinginanmu, apakah engkau sudah meniadakan semua hawa
nafsu? Tidak. Berarti engkau tidak
pergi ke Muzdalifah. Ketika engkau mengelilingi Kabah,
apakah engkau sudah memandang keindahan nonmaterial Tuhan di
tempat suci? Tidak. Berarti
engkau tidak mengelilingi Kabah. Ketika engkau lari
antara Shafa dan Marwa, apakah engkau telah mencapai
peringkat kesucian (shafa) dan kebajikan
(muruwwat)? Tidak. Berarti
engkau tidak lari. Ketika engkau telah datang ke Mina,
apakah semua keinginanmu (munyatsa) sirna?
Tidak. Berarti engkau belum mengunjungi
Mina. Ketika engkau sampai di tempat penyembelihan dan
melakukan kurban, apakah engkau telah mengurbankan segala
hawa nafsu? Tidak. Berarti engkau
tidak berkurban. Ketika engkau melemparkan batu-batu, apakah
engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang
menyertaimu? Tidak. Berarti
engkau belum melemparkan batu-batu, dan engkau belum
melaksanakan ibadah haji. Kembalilah dan lakukan ibadah haji
seperti yang telah kugambarkan supaya engkau bisa sampai
pada maqam Ibrahim. Fudhayl bin Iyadh
mengatakan: Aku melihat di Bukit Arafat seorang
pemuda berdiri tenang dengan menundukkan kepala, sementara
semua orang berdoa dengan suara keras, dan aku menanyakan
kepadanya mengapa ia tidak berdoa seperti mereka. Ia
menjawab bahwa ia sedang terkena tekanan berat, karena
kehilangan keadaan ruhaniah (waqti) yang semula ia
nikmati, dan bahwa ia sama sekali tidak bisa berteriak
kepada Tuhan. Aku mengatakan: Berdoalah, agar melalui
rahmat orang banyak ini Tuhan memenuhi keinginanmu.
Ketika ia hendak mengangkat tangannya dan berdoa, tiba-tiba
ia berteriak sekuat-kuatnya dan mati di situ. Dzun Nun
Al-Mishri mengatakan: Di Mina aku melihat seorang
remaja duduk dengan tenang selagi orang-orang sibuk
berkurban. Aku memandangnya untuk mengetahui apa yang ia
sedang kerjakan. Ia berseru: Wahai Tuhan, semua orang
berkurban. Aku ingin mengurbankan jiwa rendahku kepada-Mu;
apakah Engkau menerimanya. Habis berkata-kata, ia
mengarahkan jari telunjuknya ke tenggorokannya dan lalu mati
- semoga Allah mengasihinya!
Selanjutnya, haji ada dua macam: (1) dalam ketidakhadiran
(dari Tuhan) dan (2) dalam kehadiran (bersama Tuhan).
Seseorang yang tidak hadir dari Tuhan di Makkah, maka ia
berada dalam kedudukan yang seolah-olah ia tidak hadir dari
Tuhan di rumahnya sendiri, dan seseorang yang hadir bersama
Tuhan di rumahnya sendiri, maka ia berada dalam kedudukan
yang seolah-olah ia hadir bersama Tuhan di Makkah. Haji
adalah suatu tindak mujahadat untuk memperoleh
musyahadat, dan mujahadat tidak menjadi
sebab-langsung musyahadat, melainkan hanya sarana
untuk mencapai musyahadat. Maka dari itu, karena
sarana tidak mempunyai pengaruh lebih jauh atas realitas
segala hal, tujuan haji yang sebenarnya bukanlah mengunjungi
Kabah, melainkan untuk memperoleh musyahadat
tentang Tuhan.
Musyahadat
Rasulullah bersabda: Buatlah perut-perutmu
lapar dan hati-hatimu haus, dan tinggalkan dunia ini, semoga
kalian bisa melihat Tuhan dengan hatimu, dan Beliau
juga bersabda, Sembahlah Tuhan seakan-akan engkau
melihat-Nya, kalau engkau tidak melihat-Nya, maka Dia
melihatmu. Tuhan berfirman kepada Dawud:
Tahukah engkau apakah pengetahuan tentang Aku?
Itulah kehidupan hati dalam musyahadat tentang
Aku. Yang dimaksud musyahadat oleh
kaum Sufi adalah penglihatan ruhani akan Tuhan secara umum
dan pribadi, tanpa bertanya mengapa atau dengan cara apa.
Abul Abbas bin atha mengatakan, sehubungan
dengan firman Tuhan: Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan, Tuhan kami adalah Allah, dan
meneguhkan pendirian mereka (QS 41:30),
mereka mengatakan, Tuhan kami adalah Allah
dalam mujahadat dan mereka meneguhkan pendirian
di permadani musyahadat.
Pada hakikatnya, ada dua macam musyahadat. Yang
pertama adalah hasil dari kepercayaan yang sempurna
(shihhat-i yaqin), yang kedua adalah hasil dari cinta
membara, karena dalam keterbakaan cinta seseorang mencapai
derajat sedemikian rupa sehingga seluruh wujudnya terserap
dalam pikiran tentang Yang Dicintainya dan ia tidak melihat
yang lain. Muhammad bin Wasi mengatakan: Aku
tidak pernah melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan di
dalamnya, yakni melalui keimanan sempurna.
Penglihatan ini adalah dari Tuhan kepada
makhluk-makhluk-Nya. Syibli mengatakan: Aku tidak
pernah melihat sesuatu kecuali Tuhan, yakni dalam
keterbakaran cinta dan gairah musyahadat. Orang
melihat tindakan dengan mata jasmaniah dan, ketika melihat,
ia melihat Sang Pencipta dengan mata ruhaninya. Yang lain
sirna karena mencintai Sang Penciptanya segala sesuatu yang
lain, sehingga ia hanya melihat Sang Pencipta. Metode yang
satu bersifat demonstratif (istidlali), yang lain
bersifat ekstatis (jadzbi), Dalam masalah yang
pertama, suatu bukti yang jelas maujud dari bukti-bukti
tentang Tuhan. Dalam masalah yang terakhir, orang yang
melihat terkuasai oleh keinginan. Bukti-bukti dan
kenyataan-kenyataan merupakan tabir baginya, karena orang
yang mengenal sesuatu, sesuatu itulah yang dikaguminya, dan
orang yang mencintai sesuatu hanya sesuatu itulah yang
dipandangnya, serta meniadakan perselisihan dengan-Nya dan
ikut campur dalam ketentuan-ketentuan dan
tindakan-tindakan-Nya. Tuhan telah berfirman tentang Rasul
pada saat Miraj-nya: Penglihatannya tidak
menyimpang atau tidak melampaui dari apa yang
dilihatnya (QS 53:17), karena kerinduannya yang
sedemikian kepada Tuhan. Bilamana sang pencinta memalingkan
matanya dari benda-benda ciptaan, ia tentu akan melihat Sang
Pencipta dengan hatinya. Tuhan telah berfirman:
Katakan kepada orang-orang yang beriman agar
menutup mata mereka (QS 24:30), yakni menutup mata
jasmaniah mereka terhadap hawa nafsu dan mata ruhaniah
mereka terhadap benda-benda ciptaan. Ia yang paling tulus
dalam mujahadat adalah yang paling kuat dalam
musyahadat, karena musyahadat batin berkaitan
dengan mujahadat lahir. Sahl bin Abdallah Al-Tustari
mengatakan: Jika seseorang menutup matanya terhadap
Tuhan sesaat, ia tidak akan pernah memperoleh petunjuk
sepanjang hidupnya, karena memandang selain Tuhan
berarti berada di tangan selain Tuhan, dan orang yang berada
dalam kasih selain Allah, maka ia tersesat. Karenanya,
kehidupan kontemplatif adalah saat ketika mereka menikmati
kontemplasi (musyahadat). Waktu yang digunakan untuk
melihat secara kasat mata (muayanat) tidak mereka
anggap sebagai kehidupan, karena hal itu bagi mereka adalah
kematian yang sebenarnya. Jadi, ketika Abu Yazid ditanya
berapa umurnya, dia menjawab: Empat tahun.
Mereka berkata: Bagaimana bisa begitu? Dia
menjawab: Aku ditabiri (dari Tuhan) oleh dunia ini
selama tujuh puluh tahun, tetapi aku baru melihat-Nya empat
tahun terakhir ini. Kurun waktu tertabiri tidak termasuk
kehidupan. Syibli berseru dalam doa-doanya:
Wahai Tuhan, sembunyikan surga dan neraka di
tempat-tempat tersembunyi-Mu agar Engkau disembah tanpa
pamrih. Orang yang lupa kepada Tuhan, menyembah-Nya
melalui iman, karena watak manusia berminat kepada surga.
Tetapi, karena kalbu tidak punya minat untuk mencintai
Allah, orang yang lupa kepada Allah, tercegah dari
berkontemplasi tentang-Nya. Rasul memberitahu
Aisyah bahwa dia tidak melihat Tuhan pada malam
Miraj, tapi Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Rasul
memberitahukan kepadanya bahwa beliau melihat Tuhan pada
kesempatan itu. Karena itu, ini tetap menjadi perselisihan.
Tapi, dalam mengatakan bahwa beliau tidak melihat Tuhan,
Rasul mengacu kepada mata badaniahnya, sementara dalam
mengatakan kebalikannya, beliau mengacu kepada mata
ruhaninya. Karena Aisyah adalah seorang zhahiri
(formalis) dan Ibn Abbas adalah seorang spiritualis,
Rasul berbicara dengan masing-masing mereka menurut
pengertian mereka. Junayd mengatakan: Jika Tuhan
berbicara kepadaku, Pandanglah Aku. Aku akan
menjawab, Aku tidak akan melihat-Mu, karena,
dalam cinta, mata itu adalah selain (Tuhan) dan asing. Rasa
iri pada yang lain akan mencegahku dari melihat-Nya. Karena
di dunia ini aku terbiasa melihat-Nya tanpa perantaraan
mata, bagaimana aku akan menggunakan perantaraan semacam itu
di akhirat?
- Sungguh, aku iri pada mataku yang
melihat-Mu,
- Dan kututup mataku bila aku melihat-Mu.
Junayd ditanya: Apakah engkau ingin melihat
Tuhan? Ia menjawab: Tidak. Mereka bertanya
mengapa. Ia menjawab: Ketika Musa ingin, dia tidak
melihat-Nya, dan ketika Muhammad tidak ingin, dia
melihat-Nya. Keinginan kita adalah tabir terbesar yang
menyembunyikan kita dari melihat Tuhan, karena dalam cinta
eksistensi kehendak diri adalah ketidaktaatan, dan
ketidaktaatan adalah tabir. Bilamana kehendak diri lenyap di
dunia ini, musyahadat pun tercapai, dan bilamana
musyahadat telah terkukuhkan, tidak ada perbedaan
antara dunia ini dan akhirat. Abu Yazid mengatakan:
Allah mempunyai hamba-hamba yang akan murtad jika
mereka ditabiri dari Dia di dunia ini atau di akhirat,
yakni Dia mempertahankan mereka dengan
musyahadat abadi dan menghidupkan mereka dengan
kehidupan cinta. Dan bilamana orang yang menikmati keadaan
tak tertabiri menjadi tertabiri, ia niscaya menjadi murtad.
Dzun Nun Al-Mishri mengatakan: Suatu hari, ketika aku
bepergian di Mesir, aku melihat beberapa pemuda sedang
melemparkan batu-batu kepada seorang remaja. Aku bertanya
kepada mereka apa yang mereka inginkan darinya. Mereka
menjawab: Dia gila. Aku bertanya apa buktinya,
dan mereka mengatakan bahwa ia mengaku melihat Tuhan. Aku
berpaling kepada remaja itu dan menanyakan apakah benar ia
telah mengatakan demikian. Ia menjawab: Aku mengatakan
bahwa jika aku tidak melihat Tuhan barang sebentar, aku akan
tetap terhijab (tertabiri) dan tidak akan taat
kepada-Nya. Beberapa Sufi telah berbuat
kesalahan karena beranggapan bahwa penglihatan ruhani dan
kontemplasi mencerminkan gagasan (shurati) tentang
Tuhan yang dibentuk dalam pikiran oleh imajinasi dari
ingatan maupun pemikiran. Ini benar-benar antropomorfisme
(tasybih) dan jelas-jelas sesat. Tuhan tidak terbatas
sehingga imajinasi tak mampu menggambarkan-Nya atau akal tak
mampu memahami tabiat-Nya. Yang bisa diimajinasikan itu
serupa dengan akal, tetapi Tuhan tidak serupa dengan jenis
apa pun, walaupun dalam hubungannya dengan yang Qadim semua
objek fenomenal itu jenisnya sama satu sama lain sekalipun
mereka tampak berbeda-beda. Karenanya, musyahadat di
dunia ini menyerupai penglihatan akan Tuhan di akhirat, dan
karena Sahabat-sahabat Nabi (ashhab) sepakat bahwa
penglihatan bisa terjadi di akhirat, maka musyahadat
di dunia ini juga bisa terjadi. Orang-orang yang mengatakan
tentang musyahadat di dunia ini maupun di akhirat
hanya mengatakan bahwa itu mungkin, bukan bahwa mereka telah
menikmati atau menikmatinya sekarang, karena
musyahadat adalah sifat hati (sirr) dan tidak
bisa diungkapkan dengan lisan kecuali secara metaforis atau
majazi. Karenanya, diam itu lebih tinggi peringkatnya
daripada berkata-kata, karena diam adalah tanda kontemplasi
(musyahadat), sementara berkata-kata adalah tanda
kesaksian mata jasmani (syahadat). Karena itu, Rasul,
ketika mencapai kedekatan dengan Tuhan, berkata: Aku
tak bisa mengungkapkan pujian kepada-Mu, karena
beliau berada dalam kontemplasi, dan kontemplasi dalam
derajat cinta adalah persatuan sempurna (yaganagi), dan
ungkapan lahiriah dalam persatuan adalah ke-lain-an
(beganagi). Kemudian beliau bersabda: Engkau
telah memuji Diri-Mu Sendiri, yakni kata-kata-Mu
adalah kata-kataku, dan pujian-Mu adalah pujianku, dan aku
pikir lidahku tak mampu mengungkapkan apa yang kurasakan.
Sebagaimana penyair mengatakan:
- Aku mendambakan kekasihku, tapi bila aku
melihatnya
- Aku jadi bisu, lidahku kelu, dan mataku
buta.
Catatan Kaki:
- Inilah kisah Ibrahim dan Namrud yang telah dituturkan
di muka.
|