|
|
21. Menyingkap Tabir Ketujuh:
Puasa
Allah berfirman, Wahai orang-orang yang beriman,
puasa diwajibkan bagimu (QS 2·183). Dan Rasul
mengatakan bahwa beliau telah diberitahu oleh Jibril bahwa
Tuhan berfirman: Puasa adalah milik-Ku, dan Aku yang
paling berhak memberikan ganjaran untuknya
(al-shawm li wa-ana ajza bihi),1 karena
ibadah puasa ini adalah suatu misteri yang tidak berkaitan
dengan sesuatu yang lahiriah, suatu misteri yang tidak ada
sesuatu pun selain Allah yang tahu; karena itu ganjarannya
tidak terbatas. Menurut riwayat, manusia memasuki surga
karena rahmat Allah, dan tinggalnya mereka di dalamnya untuk
selamanya disebabkan oleh pahala bagi puasa mereka, dan
peringkat mereka di dalamnya bergantung pada ibadah mereka,
karena Allah berfirman: Aku yang paling berhak
memberikan ganjaran untuknya. Junayd mengatakan:
Puasa adalah separuh Jalan . Telah kulihat
Syaikh-syaikh berpuasa terus-menerus, dan yang lain hanya
berpuasa selama bulan Ramadhan. Yang pertama mencari
ganjaran, dan yang terakhir berusaha menafikan sikap keras
kepala dan riya. Telah kulihat juga yang lain berpuasa
dan tidak menyadari siapa pun dan hanya makan bilamana
makanan tersedia di hadapan mereka. Ini yang lebih sesuai
dengan Sunnah. Diriwayatkan bahwa Rasul mendatangi
Aisyah dan Hafshah yang mengatakan kepada beliau:
Kami menyimpan beberapa butir kurma dan minyak samin
untukmu. Bawakanlah, kata beliau,
aku ingin berpuasa, tapi aku akan berpuasa pada hari
lain sebagai pengganti. Telah kulihat yang lain lagi
berpuasa pada hari-hari putih (dari tanggal 13
sampai tanggal 15 setiap bulan), dan pada kesepuluh
(malam-malam terakhir) di bulan yang penuh berkah
(Ramadhan), dan juga selama bulan Rajah, Syaban, dan
Ramadhan. Lainnya telah kulihat melakukan puasa Dawud, yang
disebut oleh Rasul sebaik-baik puasa, yakni mereka berpuasa
satu hari dan membuka puasa pada hari berikutnya.
Suatu ketika, aku datang menemui Syaikh Ahmad Bukhari. Di
hadapannya terhidang satu talam kue manis (halwa),
dan dia sedang memakan kue itu, dan dia memberikan isyarat
kepadaku agar ikut mencicipi kue itu. Sebagaimana layaknya
orang muda, kujawab (tanpa berpikir lagi) bahwa aku sedang
berpuasa. Dia bertanya, Mengapa? Aku jawab:
Serupa dengan yang dilakukan si fulan. Dia
mengatakan: Tidak dibenarkan bagi manusia meniru
manusia lainnya. Aku ingin membuka puasaku, tapi dia
mengatakan: Karena engkau ingin berhenti menirunya,
jangan meniruku, karena aku juga seorang manusia.
Puasa pada hakikatnya adalah keberpantangan, dan ini memuat
seluruh metode tasawuf (thariqat). Derajat terendah
dalam puasa adalah lapar, yang merupakan makanan Tuhan di
bumi, dan secara universal terpuji dalam pandangan hukum dan
akal. Puasa sebulan suntuk wajib bagi setiap Muslim yang
telah mencapai kedewasaan. Puasa dimulai pada munculnya
bulan Ramadhan, dan berlanjut hingga nampak bulan Syawwal,
dan untuk setiap hari diperlukan niat yang ikhlas dan
penunaian kewajiban (puasa) itu. Keberpantangan melibatkan
banyak kewajiban, umpamanya menjaga perut tanpa makanan dan
minuman, dan menjaga mata dari pandangan-pandangan birahi,
dan telinga dari mendengarkan ucapan-ucapan buruk mengenai
seseorang, dan lidah dari kata-kata yang sia-sia atau yang
kotor, dan badan dari menuruti hal-hal duniawi dan
ketidaktaatan kepada Tuhan. Orang yang bertindak seperti ini
sebenarnya dia menjaga puasanya, karena Rasul mengatakan
kepada seseorang, Apabila engkau berpuasa, biarlah
telingamu berpuasa dan juga matamu, lidahmu, tanganmu dan
setiap anggota tubuhmu. Beliau juga bersabda,
Banyak orang yang tidak memperoleh kebaikan dari
puasanya kecuali lapar dan haus.
Aku bermimpi bertemu Rasul dan memohon kepada beliau
untuk memberiku nasihat, dan beliau menjawab: Tahanlah
lidahmu dan indera-inderamu. Menahan indera-indera
adalah mujahadat yang sempurna, karena semua macam
pengetahuan diperoleh melalui pancaindera: penglihatan,
pendengaran, pencecapan, penciuman, dan perabaan. Empat dari
indera-indera itu mempunyai suatu locus (tempat) yang
khusus, tetapi yang kelima, yakni perabaan, tersebar ke
seluruh tubuh. Segala sesuatu yang diketahui manusia
melewati lima pintu ini, kecuali pengetahuan intuitif dan
ilham Tuhan, dan pada masing-masing indera terdapat kesucian
dan ketidaksucian. Karena, sebagaimana mereka terbuka bagi
pengetahuan, akal, dan ruh, demikian pula mereka terbuka
bagi imajinasi dan hawa nafsu yang merupakan organ-organ
yang berperan dalam ketaatan dan dosa dan berperan dalam
kebahagiaan dan penderitaan. Karena itu, perlu bagi orang
yang melakukan puasa untuk memenjarakan semua indera itu
agar mereka bisa berpaling, dari ketidaktaatan ke ketaatan.
Berpantang hanya dari makanan dan minuman adalah permainan
anak-anak. Orang harus berpantang dari kesenangan-kesenangan
yang tidak berguna dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan,
bukan dari makan makanan yang halal. Aku heran pada
orang-orang yang mengatakan bahwa mereka melakukan puasa
sunnah namun mereka tidak mampu melaksanakan tugas yang
diwajibkan. Tidak berbuat dosa itu adalah wajib, sementara
berpuasa terus-menerus itu adalah sunnah rasul (yang bisa
dilaksanakan atau ditinggalkan). Bilamana seseorang dijaga
oleh Tuhan dari dosa, semua perikeadaannya adalah puasa.
Diriwayatkan oleh Abu Thalhah Al-Maliki bahwa Sahl bin
Abdallah Al-Tustari berpuasa pada hari kelahirannya
dan juga pada hari kematiannya, karena dia dilahirkan
sebelum tengah hari dan tidak menyusu hingga waktu shalat
maghrib, dan pada hari kematiannya dia sedang melakukan
puasa. Tetapi, berpuasa terus-menerus (ruza-i wishal)
dilarang oleh Rasulullah saw., karena ketika beliau berpuasa
terus-menerus, dan Sahabat-sahabatnya meniru beliau dalam
hal itu, beliau melarang mereka seraya mengatakan: Aku
tidak seperti salah seorang di antara kalian. Kulalui malam
bersama Tuhanku, yang memberiku makanan dan minuman.
Orang-orang yang melakukan mujahadat menyatakan bahwa
larangan ini adalah suatu tindakan memberi hati, bukanlah
suatu keputusan yang menyatakan bahwa puasa-puasa semacam
itu diharamkan, dan yang lain menganggap puasa-puasa semacam
itu sebagai bertentangan dengan Sunnah, tetapi fakta
menunjukkan bahwa terus-menerus itu (wishal) tidak mungkin,
karena puasa di siang hari dipotong oleh malam hari atau,
setidak-tidaknya, tidak sampai melebihi periode tertentu.
Diriwayatkan bahwa Sahl bin Abdallah Al-Tustari
terbiasa makan hanya sekali dalam lima belas hari, dan
bilamana bulan Ramadhan tiba ia tidak makan apa-apa hingga
Hari Raya, dan melakukan shalat empat ratus rakaat setiap
malam. Ini melampaui batas kemampuan manusia, dan tidak bisa
dipenuhi oleh seseorang tanpa bantuan Ilahi, yang hal itu
sendiri menjadi makanannya. Semua tahu bahwa Syaikh Abu
Nashr Sarraj,2 pengarang Kitab
Al-Luma,3 yang dijuluki Meraknya Kaum
Fakir (Thaus Al-Fuqara), pergi ke Baghdad pada bulan
Ramadhan, dan diberi sebuah kamar pribadi di dalam masjid
Syuniziyah, dan ditunjuk untuk memimpin darwisy-darwisy
sampai Hari Raya Idul Fitri. Selama shalat-shalat malam
Ramadhan (tarawih) ia membaca seluruh ayat Al-Quran
sebanyak lima kali. Setiap malam seorang pelayan membawakan
sepotong roti ke kamarnya. Ketika ia meninggalkan tempat
itu, pada Hari Raya Idul Fitri, pelayan itu mendapati semua
roti yang jumlahnya tiga puluh potong itu tidak disentuhnya.
Ali bin Bakkar meriwayatkan bahwa Hafsh Mishshisi
tidak makan apa-apa di bulan Ramadhan kecuali pada hari
kelima belas bulan itu. Kita tahu bahwa Ibrahim bin Adham
berpuasa dari awal hingga akhir Ramadhan, dan, meskipun pada
saat itu bulan Tammuz (Juli), bekerja setiap hari sebagai
pemanen dan memberikan upahnya kepada darwisy-darwisy, dan
bershalat dari mulai malam tiba hingga matahari terbit.
Mereka memperhatikannya dari dekat dan melihat bahwa dia
tidak tidur dan tidak makan. Dikatakan bahwa Syaikh Abu
Abdallah Khafif selama hidupnya melakukan empat puluh
puasa yang tidak terputus-putus dalam empat puluh hari, dan
aku pernah berjumpa dengan seorang tua yang terbiasa setiap
tahunnya melakukan dua puasa dalam empat puluh hari di
padang pasir. Aku hadir di ranjang-kematian Danisymand Abu
Muhammad Banghari. Ia tidak merasakan makanan selama delapan
puluh hari dan tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah
sama sekali. Di Merw, ada dua orang pembimbing ruhani, yang
seorang bernama Masud dan lainnya adalah Syaikh Abu
Ali Siyah. Masud mengirim pesan kepada Abu
Ali, katanya: Berapa lama kita akan membuat
pretensi-pretensi hampa? Baik, marilah kita berpuasa empat
puluh hari. Abu Ali menjawab: Tidak.
Marilah kita makan tiga kali sehari dan hanya membutuhkan
satu kali penyucian selama empat puluh hari.
Kesulitan-kesulitan dari persoalan ini belum tersingkirkan.
Orang-orang bodoh menyimpulkan bahwa terus-menerus dalam
puasa itu mungkin, sementara para dokter menyatakan bahwa
teori semacam itu tidak berdasar sama sekali. Aku kini akan
menerangkan masalah ini secara lengkap.
Berpuasa terus-menerus, tanpa melanggar perintah Tuhan,
adalah suatu karamah. Karamah memiliki aplikasi khusus,
bukan umum. Jika karamah dianugerahkan kepada semua orang,
iman akan menjadi suatu tindak keharusan (jabr) dan
ahli makrifat tidak akan diberi ganjaran atas
makrifatnya. Rasul telah menampilkan
mukjizat-mukjizat dan karenanya mengungkapkan bahwa beliau
berpuasa terus-menerus. Tetapi beliau melarang wali-wali
(ahl-i karamat) mengungkapkannya karena karamah
melibatkan kerahasiaan, sementara mukjizat melibatkan
pengungkapan rahasia. Inilah perbedaan yang jelas antara
keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Rasul-rasul
(mukjizat) dan yang dilakukan oleh wali-wali
(karamah), dan akan memadai bagi seseorang yang mendapatkan
petunjuk Tuhan. Empat puluh hari puasa (chilla) yang
dilakukan wali-wali berasal dari puasa Musa (QS 7:142).
Bilamana wali-wali ingin mendengar kata-kata Tuhan secara
spiritual, mereka berpuasa selama empat puluh hari. Sesudah
tiga puluh hari berlalu, mereka menggosok gigi mereka.
Kemudian mereka berpuasa sepuluh hari lagi, dan Tuhan
berbicara kepada hati mereka, karena apa saja yang nabi-nabi
alami secara terbuka, wali-wali bisa mengalaminya secara
diam-diam. Nah, mendengar kata Tuhan bertentangan dengan
kelanggengan temperamen alamiah. Karenanya, empat kapasitas
untuk merasa senang harus dilepaskan dari makanan dan
minuman selama empat puluh hari supaya mereka bisa
ditundukkan sepenuhnya, dan agar bisa terwujud kesucian
cinta dan kemuliaan ruhani.
Lapar dan Segala yang Berhubungan
dengannya
Lapar mempertajam kecerdasan dan meningkatkan ,pikiran
dan kesehatan. Rasul bersabda: Buatlah perut-perutmu
lapar dan hati-hatimu haus dan badan-badanmu telanjang,
mudah-mudahan hati kalian bisa melihat Allah di dunia
ini. Meskipun lapar adalah penderitaan bagi badan, ia
menyinari hati dan membersihkan jiwa, dan mengantarkan ruh
kepada Tuhan. Makan sekenyang-kenyangnya adalah suatu
perbuatan layak bagi seekor binatang. Orang yang membina
alam ruhaninya melalui lapar, dengan tujuan mengabdikan diri
sepenuhnya kepada Tuhan dan melepaskan dirinya dari
ikatan-ikatan dunia, derajatnya tidak sama dengan orang yang
membina badannya dengan cara makan sekenyang-kenyangnya, dan
menghamba kepada hawa nafsunya. Orang-orang pada zaman
dulu makan untuk hidup, tapi engkau hidup untuk makan.
Karena secuil makanan, Adam jatuh dari surga dan dibuang
jauh dari kedekatan Allah.
Ia yang laparnya terpaksa bukanlah lapar yang sebenarnya,
karena orang yang ingin makan sesudah Tuhan menetapkan
sebaliknya ialah sebenar-benarnya makan. Faedah lapar itu
milik orang yang berpantang dari makan, bukan orang yang
dicegah dari makan. Kattani4 mengatakan:
Pemula hanya akan tidur bilamana ia dikuasai rasa
kantuk, dan hanya berbicara bilamana ia harus berbicara, dan
hanya makan bila ia benar-benar lapar. Menurut
sebagian orang, lapar (faqa) melibatkan
keberpantangan dari makanan selama dua hari dua malam. Yang
lain mengatakan tiga hari tiga malam, atau seminggu, atau
empat puluh hari, karena mistikus sejati percaya bahwa orang
tulus dan benar (shadiq) hanya sekali lapar dalam
empat puluh hari. Rasa laparnya hanyalah membantu menjaganya
untuk tetap hidup, dan semua rasa lapar selain itu adalah
naluri alamiah dan kesia-siaan. Ketahuilah bahwa semua
pembuluh darah dalam tubuh ahli makrifat adalah
bukti-bukti rahasia-rahasia Ilahi, dan kalbu-kalbu mereka
ditempati oleh penglihatan-penglihatan akan Tuhan Yang
Mahatinggi. Kalbu-kalbu mereka adalah pintu-pintu yang
terbuka dalam dada-dada mereka, dan pada pintu-pintu inilah
berada akal dan hawa nafsu. Akal didukung oleh ruh, dan hawa
nafsu oleh jiwa rendah. Semakin indera-indera alamiah
dimanjakan dengan makanan, bertambah kuatlah jiwa rendah
jadinya, dan semakin kuat hawa nafsu menguasai
anggota-anggota tubuh. Dan pada setiap pembuluh darah
maujudlah tabir (hijabi) yang berbeda. Tetapi,
bilamana makanan dicegah dari jiwa rendah, ia lemah, dan
akal mendapatkan kekuatan, dan misteri-misteri serta
bukti-bukti Ilahi menjadi lebih tampak, hingga, bilamana
jiwa rendah tidak mampu bekerja dan hawa nafsu lenyap,
setiap keinginan yang sia-sia terhapus dalam manifestasi
Kebenaran, dan pencari Tuhan mencapai seluruh keinginannya.
Diriwayatkan bahwa Abul Abbas Qashshab mengatakan:
Ketaatanku dan ketidaktaatanku bergantung pada dua
potong roti. Bila kumakan, aku menjumpai di dalam diriku
bahan setiap dosa, tapi bilamana aku mencegahnya, aku
menjumpai di dalam diriku dasar bagi setiap tindak
kesalehan. Buah lapar adalah kontemplasi tentang Tuhan
(musyahadat), sedangkan perintisnya adalah penundukan
hawa nafsu (mujahadat). Kenyang yang dipadu dengan
musyahadat lebih baik daripada lapar yang berpadu
dengan mujahadat, karena musyahadat adalah
medan-perang manusia, sementara mujahadat adalah tempat
bermain anak-anak.
Catatan Kaki:
- Umumnya diucapkan ajzi Aku memberi
ganjaran, tapi terjemahan Persia, ba-jaza-yi ar.
ma-i awlataram, yang artinya sama dengan ana ajza
bihi.
- Nafahat, No. 353.
- Kecemerlangan-kecemerlangan.
Nafahat menjudulinya.
- Nafahat, No. 215.
|