|
|
24. Menyingkap Tabir Kesepuluh: Istilah dan
Gagasan Penting Para Sufi
Mereka yang aktif dalam setiap keterampilan dan urusan
perniagaan, selagi membicarakan rahasia-rahasianya dengan
satu sama lain, menggunakan kata-kata dan ungkapan-ungkapan
tertentu, yang artinya hanya diketahui mereka sendiri.
Ungkapan-ungkapan semacam itu diciptakan untuk tujuan ganda:
pertama, mempermudah memahami kesulitan-kesulitan dan lebih
mendekatkan kepada pemahaman sang pemula; dan kedua,
menyembunyikan rahasia-rahasia ilmu pengetahuan itu dari
orang luar. Kaum Sufi juga mempunyai istilah-istilah teknis
untuk tujuan mengungkapkan materi pembicaraan mereka dan
supaya mereka bisa mengungkapkan atau menyembunyikan arti
istilah-istilah itu sesuka mereka. Sekarang aku akan
menerangkan sebagian dari istilah-istilah ini dan membedakan
makna-makna yang diberikankepada berbagai pasang
kata.
Hal dan Waqt
Waqt (waktu) adalah sebuah istilah yang sudah
termasyhur di kalangan kaum Sufi, dan para Syaikh telah
banyak membicarakannya, tapi tujuanku adalah mengukuhkan
kebenaran, bukan memberikan keterangan-keterangan yang
panjang. Waqt menyebabkan seseorang menjadi bebas dari masa
lampau dan masa mendatang, seperti umpamanya, bilamana suatu
pengaruh dari Tuhan turun ke dalam jiwanya dan membuat
hatinya berpadu (mujtami), ia tidak mempunyai
ingatan tentang masa lampau dan tidak berpikir tentang yang
belum terjadi. Semua orang gagal dalam masalah ini, dan
tidak mengetahui bagaimana masa lalu kita atau bagaimana
masa depan kita, kecuali pemilik-pemilik waqt, yang
mengatakan: Pengetahuan kami tidak bisa memahami masa
lalu dan masa depan, dan kami bahagia dengan Tuhan pada saat
sekarang (andar waqt). Jika kita memikirkan hari
esok, atau membiarkan pemikiran tentang hari esok masuk ke
dalam benak kita, kita akan ditabiri (dari Tuhan), dan tabir
adalah suatu penyimpangan yang besar
(paragandagi). Sungguh aneh memikirkan tentang
sesuatu yang tidak bisa dicapai. Abu Said Kharraz
mengatakan: Jangan lewatkan waktumu yang berharga
kecuali dengan hal yang paling berharga, dan hal yang paling
berharga bagi manusia adalah keadaan berada di antara masa
lalu dan masa mendatang. Dan Rasul bersabda: Aku
punya waktu (waqt) dengan Allah, di mana para
malaikat atau para nabi tidak ada yang menandingiku,
yaitu di mana delapan belas ribu alam tidak
terpikirkan olehku dan tidak berharga dalam
pandanganku. Karenanya, pada malam Miraj, ketika
kerajaan bumi dan langit berbaris di hadapan beliau dengan
segala keindahannya, beliau tidak melihat apa-apa (QS
53:17), karena Al-Mushthafa (Rasul saw. - penyunting) itu
mulia (aziz), dan orang yang mulia hanya
tertarik kepada yang mulia. Waktu-waktu
(awqat) dari kaum muwahhid (orang yang mengesakan
Allah SWT - penerjemah) ada dua: satu dalam keadaan
kehilangan (faqd) dan yang satunya lagi dalam keadaan
mendapatkan (wajd). Yang satu di tempat persatuan dan
yang satunya lagi di tempat keterpisahan. Pada kedua waktu
ini dia terkuasai (maqhur), karena persatuannya dan
keterpisahannya dimaujudkan oleh Tuhan tanpa kehendak atau
upayanya sendiri, suatu upaya atau kehendak yang akan
membuatnya dapat memberinya atribut (sifat). Bila daya
kehendak tak lagi ada padanya, apa saja yang ia lakukan atau
yang ia alami adalah akibat dari waktu
(waqt). Diriwayatkan bahwa Junayd mengatakan:
Aku melihat seorang darwisy di padang pasir, sedang
duduk di bawah sebatang pohon mimosa di suatu tempat yang
keras dan tidak enak, dan menanyakan kepadanya apa yang
membuatnya duduk begitu tenang di situ. Ia menjawab:
Aku punya waktu dan hilang di sini; kini
aku duduk dan sedih. Aku bertanya berapa lama ia telah
ada di situ. Ia menjawab: Dua belas tahun. Tidak
maukah Syaikh memanjatkan doa (himmati kunad) atas
namaku, sehingga aku bisa mendapatkan waktu-ku
lagi? kutinggalkan ia, kata Junayd, dan
melaksanakan ibadah haji dan berdoa untuknya. Doaku
terkabul. Ketika aku kembali, kujumpai ia duduk di tempat
yang sama. Mengapa, kataku, engkau tidak
juga pergi dari sini, padahal engkau sudah mendapatkan
keinginanmu? Ia menjawab: Wahai Syaikh, aku
menjadi tenang di tempat sunyi ini, dan di sini pula aku
kehilangan modal. Benarkah jika aku meninggalkan tempat di
mana aku telah menemukan modalku lagi dan di mana aku
menikmati hidup bersama Tuhan? Silakan Syaikh pergi dengan
damai, karena aku akan mencampur debuku dengan debu tempat
ini, sehingga aku bisa bangkit pada Hari Kebangkitan dari
debu ini yang menjadi tempat kesenanganku. Tiada
seorang pun yang bisa mencapai hakikat waktu
dengan berkehendak, karena waktu adalah sesuatu
yang berada di luar lingkup usaha manusia, karenanya waktu
tidak bisa didapat dengan usaha, juga tidak dijual di pasar,
dan karenanya pula orang tidak dapat menukarnya dengan
kehidupannya dan kehendak tidak punya kekuatan, baik untuk
meraih maupun menolaknya. Para Syaikh mengatakan,
Waktu adalah pedang yang tajam, karena ciri khas
pedang adalah memotong, dan waktu memotong akar
masa lalu dan masa mendatang dan menghapus dari hati,
perhatian tentang hari kemarin dan hari esok. Pedang adalah
sahabat yang membahayakan. Ia dapat menjadikan tuannya
sebagai raja dan dapat pula membinasakannya. Meskipun orang
menghormati pedang dan memanggulnya di atas bahunya selama
seribu tahun, pada saat memotong ia tak pandang bulu apakah
itu leher tuannya atau leher yang lainnya. Kekerasan
(qahr) adalah ciri khasnya, dan kekerasan tidak akan
terpisah darinya walaupun tuannya menginginkannya.
Hal (keadaan) adalah sesuatu yang turun kepada
waktu (waqt) dan menghiasinya, sebagaimana ruh
menghiasi badan. Waqt memerlukan hal, karena
waqt diperindah oleh hal dan karenanya langgeng. Bila
pemilik waqt memiliki hal, ia tidak lagi menjadi
subjek perubahan dan ia pun menjadi teguh (mustaqim)
dalam keadaannya. Karena, bila ia mempunyai waqt
tanpa hal, ia bisa kehilangan waqt, tapi bilamana hal
datang sendiri kepadanya, semua keadaan (ruzgar)-nya
menjadi waqt, dan itu tidak bisa hilang. Apa yang
tampak sebagai datang dan pergi (amad syud)
sebenarnya adalah akibat penjadian dan perwujudan
(takawwun u zhuhur), sebagaimana, sebelum ini,
waqt turun kepada dia yang memilikinya. Ia yang
berada dalam keadaan menjadi (mutakawwin) bisa lupa,
dan kepada dia yang lupa itu hal turun dan waqt
menjadi mantap (mutamakkin). Karena, pemilik
waqt bisa menjadi lupa, tetapi pemilik hal tidak
mungkin demikian. Lidah pemilik hal diam sehubungan dengan
hal-nya, tapi tindakan-tindakannya menyatakan hakikat
hal-nya. Oleh karena itu, pembimbing ruhani mengatakan:
Bertanya tentang hal sungguh aneh, karena hal
adalah pelenyapan ucapan (maqal). Allamah Abu
Ali Daqqaq mengatakan: Jika ada senang atau
susah di dunia ini atau di akhirat, bagian waqt
adalah perasaan di mana engkau ada di dalamnya. Tapi,
hal tidak seperti ini. Bilamana hal datang kepada seseorang
dari Tuhan, ia menyingkirkan semua perasaan ini dari
hatinya. Jadi, Yaqub adalah pemilik waqt.
Kadang dia dibutakan oleh keterpisahan, kadang dia bisa
melihat lagi melalui persatuan, kadang dia sedih dan
meratap, kadang dia tenang dan gembira. Tapi, Ibrahim adalah
pemilik hal. Dia tidak menyadari keterpisahan, sehingga dia
tidak menjadi sedih, juga tidak menyadari persatuan,
sehingga dia tidak menjadi gembira. Matahari, bulan dan
bintang-bintang membantu mewujudkan hal-nya, tapi dia,
selagi memandang, bebas dari mereka. Apa saja yang dia
lihat, dia hanya melihat Allah, dan dia mengatakan:
Aku tidak suka pada mereka yang terbenam
(QS 6:76). Karena itu, dunia kadangkala menjadi neraka bagi
pemilik waqt, karena ia menyadari ketidakhadiran
(ghaybat) dan kalbunya menjadi sedih karena
kehilangan kekasihnya. Dan kadangkala hatinya bagaikan surga
dalam barakah musyahadat (kontemplasi), dan setiap
saat membawakan kepadanya anugerah dan pesan yang
menggembirakan (kabar gembira) dari Tuhan. Di lain pihak,
tidak ada perbedaan bagi pemilik hal, apakah dia ditabiri
oleh penderitaan atau menjadi tidak ditabiri oleh
kebahagiaan. Karena dia selalu berada di tempat penglihatan
yang sebenarnya (iyan). Hal adalah sifat dari
objek yang diinginkan (murad), sementara waqt
adalah derajat dari yang menginginkan (murid). Yang
terakhir ini bersama dengan dirinya sendiri dalam kesenangan
waqt, yang pertama dengan Tuhan dalam kelezatan hal.
Betapa jauh jarak yang memisahkan kedua derajat ini!
Maqam dan Tamkin,
dan Perbedaan Keduanya
Maqam (peringkat) menunjuk kepada ketegaran sang
pendamba dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap
objek yang ia dambakan dengan daya upaya yang gigih dan niat
yang suci. Setiap orang yang mendambakan Allah memiliki
maqam yang, dalam permulaan pencariannya, adalah sarana yang
digunakannya untuk mencari Tuhan. Meskipun sang pendamba
(pencari) memperoleh manfaat dari setiap maqam yang ia
lewati, akhirnya ia berhenti pada satu maqam, karena maqam
dan pencarian akan maqam melibatkan rencana dan rancangan
(tarkib u hila), bukan perilaku dan pengamalan
(rawisy u muamalat). Allah berfirman:
Tiada seorang pun di antara kami kecuali mempunyai
maqam tertentu (QS 37:164). Maqam Adam adalah
tobat (tawbat), maqam Nuh penyangkalan (zuhd),
maqam Ibrahim penyerahan (taslim), maqam Musa
penyesalan (inabat), maqam Dawud kesedihan
(huzn), maqam Isa harapan (raja), maqam
Yahya takut (khawj), dan maqam Rasul kita saw.
mengingat-Nya (dzikr). Mereka menarik sesuatu dari
sumber-sumber lain yang mereka pegang teguh, tapi
masing-masing di antara mereka akhirnya kembali ke maqam
semulanya. Dalam membicarakan doktrin Muhasibiyah, aku telah
memberikan keterangan tersendiri tentang maqam-maqam dan
membedakan antara hal dan maqam. Namun, di sini diperlukan
beberapa uraian lebih lanjut tentang masalah ini. Ketahuilah
bahwa jalan menuju Tuhan itu ada tiga macam: (1) maqam, (2)
hal, (3) tamkin. Allah mengutus semua Nabi untuk
menerangkan jalan dan menjelaskan prinsip dari berbagai
maqam yang berbeda. Seratus dua puluh empat ribu rasul, dan
lebih sedikit dari jumlah itu, datang disertai banyak maqam.
Dengan kedatangan Rasul kita, Muhammad saw. hal tampak oleh
mereka yang memiliki maqam dan mencapai suatu kemantapan di
mana semua upaya manusia sudah tak berguna, sampai agama
disempurnakan untuk umat manusia, sebagaimana Allah
berfirman: Hari ini tetah Kusempurnakan agamamu
untukmu dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu
(QS 5:3). Kemudian tamkin (keteguhan) dari orang yang
teguh tampak. Tapi, kalau aku merinci setiap hal dan
menerangkan setiap maqam, tujuanku akan terbengkalai.
Tamkin menunjuk kepada keberadaan pakar-pakar
keruhanian di tempat kesempurnaan dan pada derajat
tertinggi. Mereka yang berada dalam maqam meneruskan
perjalanan dari maqam mereka, tapi tidak mungkin melampaui
derajat tamkin, karena maqam adalah peringkat para
pemula, sedangkan tamkin adalah tempat tinggal
ahli-ahli ruhani, dan maqam adalah tahapan dalam perjalanan
ruhani, sedangkan tamkin adalah diam di dalam tempat
suci. Wali-wali Allah tidak hadir (dari dirinya sendiri)
ketika sedang dalam perjalanan dan asing (bagi diri mereka
sendiri) ketika berada dalam tahapan-tahapan. Kalbu-kalbu
mereka hadir (bersama Tuhan), dan dalam kehadiran itu setiap
alat itu buruk dan setiap sarana itu (tanda dari)
ketidakhadiran (dari Tuhan) dan kelemahan. Pada zaman
Paganisme (Jahiliyah), para penyair biasa memuji orang atas
perbuatan-perbuatan mulia, dan mereka membacakan syair
pujian mereka setelah berlalu beberapa waktu. Ketika seorang
penyair ada di hadapan orang yang telah ia puji, ia biasa
menghunus pedangnya dan mengeting (membunuh) untanya dan
kemudian menghancurkan pedangnya, seakan-akan mengatakan:
Aku perlu seekor unta untuk membawaku dari tempat yang
jauh ke hadapanmu, dan sebilah pedang untuk mencegah
orang-orang yang iri hati yang akan merintangi diriku dari
menghormatimu. Nah, karena aku sudah ada di hadapanmu,
kubunuh untaku, karena aku tidak akan meninggalkanmu lagi.
Dan kuhancurkan pedangku, karena aku tidak akan membiarkan
masuk ke dalam benak kepalaku pikiran yang menjauhkanku
darimu. Kemudian·, setelah beberapa hari, ia
biasa membacakan puisinya. Demikian pula, ketika Musa
mencapai tamkin, Tuhan menyuruhnya melepas sepatunya
dan mencampakkan tongkatnya (QS 20:12), yang kesemuanya ini
merupakan barang-barang perjalanan dan Musa sudah berada di
hadapan Tuhan. Permulaan cinta adalah mencari, tapi akhirnya
adalah ketenangan: air mengalir di sungai, tapi ketika sudah
mencapai lautan ia berhenti mengalir dan berubah rasanya,
sehingga orang-orang yang menginginkan air, menampiknya,
tapi orang-orang yang mendambakan mutiara mengabdikan diri
mereka kepada kematian dan bertekad mencari dan menyelam ke
dalam lautan, sampai mereka mendapatkan mutiara yang
tersembunyi atau kehilangan nyawa mereka. Dan salah seorang
Syaikh mengatakan: Tamkin adalah penyingkiran
talwin. Talwin juga merupakan suatu istilah teknis
kaum Sufi dan berkaitan erat dalam makna dengan
tamkin, sebagaimana hal berkaitan dengan maqam. Arti
talwin adalah perubahan dari satu keadaan ke keadaan lain,
dan perkataan yang disebut di atas berarti bahwa ia yang
teguh (mutamakkin) tidak maju mundur (mutaraddid), karena ia
telah membawa semua yang dimilikinya ke hadapan Tuhan dan
telah menghapus setiap pikiran tentang selain Tuhan dari
benaknya, sehingga tindakan yang terjadi padanya tidak
mengubah kedudukan lahiriahnya dan keadaan tidak mengubah
kedudukan batiniahnya. Jadi, Musa adalah subjek talwin. Dia
jatuh pingsan (QS 7:143) ketika Allah menampakkan
keperkasaan-Nya kepada Gunung Sinai. Tapi, Muhammad saw.
teguh (mantap). Beliau tidak mengalami perubahan, meskipun
beliau berada dalam penampakan keperkasaan Ilahi yang
dahsyat (tajalli Ilahiyah - penerjemah) dari Makkah sampai
di tempat yang berjarak dua ujung busur dari Tuhan (amat
dekat dengan Tuhan - penerjemah). Dan inilah peringkat
tertinggi. Nah tamkin ada dua macam - yang satu
mengacu kepada pengaruh dominan Tuhan (syahid-i haqq), dan
yang lain mengacu kepada pengaruh dominan diri sendiri
(syahid-i khud). Ia yang tamkin-nya dari jenis
yang terakhir, sifat-sifatnya tetap kuat; tapi, ia yang
tamkin-nya dari jenis yang pertama, tidak memiliki
sifat-sifat. Dan istilah-istilah penghapusan (mahw),
ketidakmabukan (shahw), pencapaian (lahq),
pembinasaan (mahq),1 pelenyapan
(fana), kelanggengan (baqa), ada (wujud), dan tidak
ada (adam) tidak tepat digunakan pada orang
yang sifat-sifatnya sudah lenyap, karena subjek itu perlu
mempertahankan kualitas-kualitas ini, dan bilamana subjek
itu sudah terserap (mustaghriq), dia kehilangan daya
untuk mempertahankan kualitas-kualitas ini.
Muhadharat dan Mukasyafat, dan
Perbedaan Keduanya
Muhadharat menunjuk kepada kehadiran hati dalam
ketinggian-ketinggian pembuktian (bayan), sementara
mukasyafat menunjuk kepada kehadiran ruh (sirr) dalam
wilayah penglihatan yang sebenarnya (iyan).
Muhadharat mengacu kepada bukti-bukti tanda-tanda Allah
(ayat), dan mukasyafat mengacu kepada bukti-bukti
kontemplasi (musyahadat). Ciri muhadharat ialah
perenungan terus-menerus mengenai tanda-tanda Tuhan,
sementara ciri mukasyafat ialah ketakjuban terus-menerus
pada kemahabesaran Tuhan. Ada perbedaan antara orang yang
merenungi tindakan-tindakan Ilahi dan orang yang takjub pada
keagungan Ilahi. Yang satu adalah pengikut persahabatan,
yang lain adalah sahabat cinta. Ketika Sahabat Tuhan
(Ibrahim) menatap kerajaan langit dan merenungi realitas
keberadaannya, hatinya dibuat hadir karenanya.
Dengan melihat tindakan, dia menjadi pencari Pelaku;
kehadiran (hudhur)-nya menjadikan tindakan itu
sebagai bukti tentang adanya Sang Pelaku, dan dalam
makrifat yang sempurna dia berseru:
Kuhadapkan wajahku kepada Wajah yang telah
menciptakan langit dan bumi (QS 6:79). Tapi,
ketika Kekasih Tuhan (Muhammad) diangkat ke langit, beliau
menutup matanya dari melihat segala sesuatu. Beliau tidak
melihat tindakan Tuhan, makhluk-makhluk, dan dirinya
sendiri, melainkan Sang Pelaku tersingkapkan bagi beliau,
dan dalam penyingkapan itu (kasyf) keinginannya
bertambah. Sia-sia beliau mencari penglihatan, kedekatan,
dan persatuan. Semakin nyata bagi beliau terbebaskannya
(tanzih) Yang Dicintainya (dari semua konsepsi
semacam itu), semakin bertambah keinginannya. Beliau tidak
bisa mundur atau maju karena beliau tenggelam dalam
ketakjuban. Di mana ada persahabatan, ketakjuban dianggap
kekufuran, tapi di mana ada cinta, persatuan dianggap
syirik, dan ketakjuban menjadi satu-satunya sumber daya,
karena dalam persahabatan, objek ketakjuban adalah wujud
(hasti), dan ketakjuban semacam itu adalah syirik.
Tetapi, dalam cinta, objek ketakjuban adalah tabiat dan
kualitas (chigunagi), dan ketakjuban ini adalah
pengesaan (tawhid). Dalam hubungan ini Syibli seringkali
mengatakan: Wahai Pemandu orang yang takjub,
tingkatkanlah ketakjubanku! karena dalam
musyahadat (tentang Tuhan), bertambah besar
ketakjuban seseorang, semakin tinggilah derajatnya. Kisah
tentang Abu Said Kharraz dan Ibrahim bin Sad
Alawi2 sangat terkenal - bagaimana mereka
melihat seorang wali Allah di pinggir laut dan bertanya
kepadanya, Apakah jalan menuju Tuhan itu? dan
betapa dia menjawab bahwa ada dua jalan menuju Tuhan, yang
satu untuk orang awam dan yang satunya lagi untuk orang yang
terpilih.
Ketika mereka menginginkan ia untuk menerangkan masalah
ini, ia mengatakan: Jalan orang awam ialah yang kalian
jalani. Kalian menerima karena sebab tertentu, dan kalian
menolak karena sebab tertentu pula. Tetapi, jalan orang
terpilih ialah melihat hanya Sang Penyebab, dan bukan
melihat sebab. Arti yang sebenarnya dari
hikayat-hikayat ini sudah dikemukakan.
Qabdh dan Basth, dan
Perbedaan Keduanya
Qabdh (penyempitan) dan basth (pengembangan
atau pelapangan) adalah dua keadaan yang tidak bisa
diwujudkan atau ditiadakan oleh daya upaya manusia. Tuhan
berfirman: Tuhanlah yang menyempitkan dan
melapangkan (QS 2:246). Qabdh menunjuk
kepada penyempitan hati dalam keadaan ditabiri
(hijab), dan basth menunjuk kepada kelapangan
hati dalam keadaan penyingkapan (kasyf). Kedua
keadaan ini datang dari Tuhan tanpa adanya usaha manusia.
Qabdh para ahli makrifat itu seperti rasa takut para
pemula, dan basth para ahli makrifat itu
seperti harapan para pemula. Inilah pengertian kaum Sufi
bagi istilah-istilah qabdh dan basth. Sebagian Syaikh
berpendapat bahwa qabdh lebih tinggi derajatnya daripada
basth, karena dua alasan: (1) disebut sebelum
basth dalam Al-Quran, (2) qabdh melibatkan
penghancuran dan penekanan, sementara basth
melibatkan pemberian makanan dan anugerah. Tidak diragukan
lagi bahwa lebih baik meluluhkan kemanusiaan diri ini dan
menekan jiwa rendahnya daripada menopang dan menolongnya,
karena keduanya adalah tabir terbesar (antara manusia dan
Allah). Yang lain juga berpendapat bahwa basth lebih
utama daripada qabdh. Menurut mereka, fakta bahwa qabdh
disebut sebelum basth dalam Al-Quran menunjukkan
keutamaan basth, karena orang-orang Arab biasa
menyebut terlebih dahulu sesuatu yang lebih rendah nilainya,
umpamanya, Tuhan berfirman: Ada di antara mereka
yang menganiaya dirinya, dan yang menempuh jalan tengah, dan
yang lebih mengutamakan berbuat kebajikan dengan izin
Allah (QS 35:32). Lagi pula, mereka menyatakan bahwa
dalam basth terdapat kegembiraan dan dalam qabdh
terdapat kesedihan. Para ahli makrifat merasakan
kegembiraan hanya dalam persatuan dengan objek pengetahuan,
dan merasakan kesedihan hanya dalam keterpisahan dari objek
keinginan, karenanya tinggal di tempat persatuan lebih baik
daripada tinggal di tempat keterpisahan. Syaikhku biasa
mengatakan bahwa qabdh dan basth adalah akibat dari
pengaruh ruhani semata, yang turun dari Tuhan kepada
manusia, dan memenuhi hati dengan kegembiraan dan
menundukkan jiwa rendah, atau menundukkan hati dan memenuhi
jiwa rendah dengan kegembiraan. Dalam kasus yang terakhir,
penyempitan (qabdh) hati adalah kelapangan (basth)
jiwa rendah; dan dalam kasus yang pertama, kelapangan hati
adalah penyempitan jiwa rendah. Ia yang menafsirkan masalah
ini dengan cara lain, berarti menyia-nyiakan hidupnya.
Karena Bayazid mengatakan: Penyempitan kalbu terletak
dalam kelapangan atau keleluasaan nafsu, dan kelapangan
kalbu terletak dalam penyempitan nafsu. Nafsu yang
sempit terlindungi dari kemudharatan, dan hati yang lapang
tercegah dari kerusakan, karena cemburu adalah aturan cinta,
dan penyempitan adalah tanda kecemburuan Tuhan. Dan para
pencinta supaya saling menyesalkan satu sama lain, dan
kelapangan adalah tanda saling menyesalkan. Ada suatu
riwayat terkenal yang mengatakan bahwa Yahya selalu menangis
semenjak dia dilahirkan, sementara Isa selalu
tersenyum semenjak dia dilahirkan, karena Yahya berada dalam
kesempitan (qabdh) dan Isa dalam kelapangan
(basth). Bilamana mereka saling berjumpa, Yahya biasa
mengatakan, Wahai Isa, apakah kau tidak
takut terputus (dari Tuhan)? dan Isa biasa
mengatakan, Wahai Yahya, apakah kau tidak punya
harapan akan kasih sayang Tuhan? Tiadalah sama sekali air
matamu ataupun senyumanku akan mengubah takdir abadi
Tuhan.
Uns dan Haybat, dan
Perbedaan Keduanya
Uns (kedekatan) dan haybat (keseganan) adalah dua
keadaan darwisy-darwisy yang berjalan di jalan menuju Tuhan.
Bilamana Tuhan menampakkan keperkasaan-Nya kepada hati
seseorang sehingga keagungan-Nya lebih berkuasa, ia
merasakan keseganan (haybat), tetapi bilamana
keindahan Tuhan (jamal) yang lebih berkuasa, ia merasakan
kedekatan (uns). Orang yang merasakan keseganan, ia menjadi
sedih, sedangkan orang yang merasakan kedekatan, ia
bersenang hati. Ada perbedaan antara orang yang dibakar oleh
keagungan-Nya dalam api cinta dan orang yang disinari oleh
keindahan-Nya dalam cahaya musyahadat. Sebagian
Syaikh mengatakan bahwa haybat adalah derajat ahli
makrifat dan uns derajat para pemula, karena semakin
jauh orang melangkah ke hadapan Tuhan dan dalam melepaskan
Dia dari sifat-sifat, hatinya semakin dikuasai oleh
keseganan dan semakin enggan ia kepada kedekatan, karena
orang itu dekat dengan sesamanya, dan kedekatan dengan Tuhan
tidak bisa dipahami, karena tidak mungkin ada keserupaan
antara Tuhan dan manusia. Jika kedekatan adalah mungkin, itu
hanya mungkin dengan zikir kepada-Nya, yang merupakan
sesuatu yang berbeda dari Diri-Nya Sendiri, karena itu
adalah sifat manusia. Dan dalam cinta, puas dengan selain
Yang Dicinta adalah kepalsuan dan kesombongan diri
semata-mata. Haybat, di lain pihak, timbul dari merenungi
kebesaran, yang merupakan sifat Tuhan, dan terdapat
perbedaan besar antara orang yang pengalamannya datang dari
dirinya sendiri melalui dirinya sendiri, dan orang yang
pengalamannya datang dari pelenyapan dirinya sendiri melalui
kelanggengan Tuhan. Diriwayatkan bahwa Syibli mengatakan:
Sudah lama aku biasa membayangkan bahwa aku merasa
bahagia dalam cinta kepada Tuhan dan dekat dengan
musyahadat tentang-Nya. Kini aku tahu bahwa kedekatan
tidak mungkin ada kecuali dengan sesama. Namun,
sebagian orang menyatakan bahwa haybat adalah akibat
dari keterpisahan dan hukuman, sedangkan uns adalah akibat
persatuan dan kasih sayang. Karenanya, sahabat-sahabat Tuhan
(wali-wali) harus dijaga dari konsekuensi-konsekuensi
haybat dan harus bergabung dengan uns, karena uns
melibatkan cinta, dan karena homogenitas tidak mungkin dalam
cinta (kepada Allah), demikian pula tidak mungkin dalam uns.
Syaikhku biasa mengatakan: Aku merasa heran pada
orang-orang yang menyatakan kedekatan dengan Tuhan itu tidak
mungkin, padahal Tuhan berfirman, Sesungguhnya
hamba-hamba-Ku, dan Katakan kepada
hamba-hamba-Ku, dan Bilamana hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu, dan Wahai hamba-hamba-Ku,
tiada ketakutan yang akan menimpamu hari ini, dan tiada pula
kesedihan (QS 43:68). Seorang hamba Tuhan, yang
melihat dukungan ini, tidak akan urung untuk mencintai-Nya,
dan bila ia telah mencintai ia akan menjadi dekat, karena
keseganan terhadap yang dicintai berarti menjauh
(beganagi) sedangkan kedekatan adalah kesatuan atau
kemanunggalan (yaganagi). Sudah menjadi ciri khas manusia
untuk menjadi dekat dengan yang berbuat bajik kepadanya. Dan
karena Tuhan telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak
kebajikan dan kita telah mengenal-Nya, tidaklah mungkin kita
akan berbicara tentang keseganan. Aku, Ali bin
Utsman Al-Jullabi, mengatakan bahwa kedua golongan
yang bertentangan ini benar, karena daya haybat
digunakan terhadap jiwa rendah dan keinginan-keinginannya,
dan cenderung melenyapkan tabiat manusia, sementara daya uns
digunakan terhadap hati dan cenderung meningkatkan
makrifat dalam hati. Oleh karenanya, Tuhan
melenyapkan nafsu orang-orang yang mencintai-Nya dengan
menampakkan keagungan-Nya dan menganugerahi hati mereka
kehidupan abadi dengan menampakkan keindahan-Nya. Para
penganut pelenyapan (fana) menganggap haybat
sebagai yang lebih utama, tetapi para penganut kelanggengan
(baqa) lebih menyukai uns.
Qahr dan Luthf, dan Perbedaan
Keduanya
Dua ungkapan ini digunakan oleh kaum Sufi berkenaan
dengan keadaan mereka sendiri. Yang mereka maksud dengan
qahr (kekerasan) adalah dukungan yang diberikan oleh Tuhan
kepada mereka dalam melenyapkan keinginan-keinginan mereka
dan dalam mencegah jiwa rendah dari keinginan birahinya. Dan
yang mereka maksud dengan luthf (kelembutan) adalah
pertolongan Tuhan agar hati mereka tetap hidup dan
kontemplasi tetap berlangsung dan ekstasi pada derajat
keteguhan (istiqamat) tetap lestari. Para pengikut luthf
mengatakan anugerah Tuhan (karamat) adalah pencapaian
keinginan tapi yang lain mengatakan bahwa anugerah Tuhan
adalah begini - bahwa Tuhan melalui kehendak-Nya mencegah
manusia dari kehendaknya sendiri dan menguasainya dengan
ketidak-berkehendakan (bemuradi), sehingga jika ia haus dan
menyelam ke dalam sungai, sungai itu menjadi kering.
Diriwayatkan bahwa di Baghdad ada dua orang darwisy
terkemuka, yang satu percaya pada qahr dan yang lain percaya
pada luthf, yang selalu berselisih dan masing-masing lebih
menyukai keadaannya sendiri daripada keadaan temannya itu.
Darwisy yang lebih mengutamakan luthf bertolak menuju Makkah
dan menjelajahi gurun pasir, namun tak pernah mencapai
tujuannya. Tidak ada kabar tentang dirinya selama beberapa
tahun, tapi akhirnya ia terlihat oleh seorang musafir dalam
perjalanan antara Makkah dan Baghdad. Wahai
saudaraku, katanya, bila engkau kembali ke Irak
katakan kepada temanku di Karkh bahwa jika dia ingin melihat
gurun pasir, dengan segala kekerasan dan kegersangannya,
seperti Karkh di Baghdad, dengan segala keajaibannya,
biarlah ia datang kemari, karena gurun pasir ini adalah
Karkh bagiku! Ketika musafir itu sampai di Karkh, dia
menyampaikan pesan ini kepada darwisy yang lain, yang
katanya: Ketika engkau kembali pulang, katakan
kepadanya bahwa tidak ada keunggulan dalam fakta bahwa gurun
pasir itu telah dibuat seperti Karkh baginya, supaya ia
tidak bisa lari dari istana (Ilahi). Keunggulan terletak
pada fakta bahwa Karkh, dengan segala kekayaannya yang
mengagumkan, telah dibuat bagiku seperti gurun pasir yang
mengerikan, dan sekalipun demikian aku bahagia di
sini. Dan diriwayatkan bahwa Syibli mengatakan, dalam
percakapan rahasianya dengan Tuhan: Wahai Tuhan, aku
tak akan berpaling dari-Mu, walaupun Engkau menjadikan
langit sebagai kerah leherku dan bumi sebagai rantai kakiku
dan seluruh dunia haus akan darahku. Syaikhku biasa
mengatakan: Pada suatu hari ada pertemuan wali-wali
Allah di tengah-tengah padang pasir. Dan aku menyertai
pembimbing ruhaniku, Husri, pergi ke tempat itu. Kulihat
sebagian di antara mereka naik unta, sebagian naik
singgasana, dan sebagian terbang, tapi Husri tidak
memperhatikan mereka. Kemudian aku melihat seorang pemuda
memakai sepasang sepatu yang sudah robek-robek dan sebatang
tongkat yang patah. Kakinya hampir-hampir tidak bisa
menopangnya, sedangkan kepalanya tidak memakai tutup kepala
dan badannya kurus kerontang. Begitu ia tampak, Husri
bangkit dan lari menemuinya dan mengantarkannya ke tempat
duduk yang terhormat. Hal ini mengherankan aku, dan kemudian
aku bertanya kepada Syaikh tentang pemuda itu. Dia menjawab:
Ia adalah salah seorang wali Allah yang tidak
mengikuti kewalian, tapi kewalian mengikutinya. Dan ia tidak
tertarik kepada keajaiban-keajaiban (karamat)
Pendeknya, apa yang kita pilih untuk diri kita sendiri itu
merugikan kita. Aku hanya menginginkan apa yang Tuhan
inginkan untukku, dan di situlah aku terjaga dari keburukan
karenanya dan menyelamatkan aku dari keburukan jiwaku. Jika
Dia menghendaki aku dalam qahr, aku tidak menginginkan
luthf, dan jika Dia menghendaki aku dalam luthf, aku
tidak menginginkan qahr. Aku tak punya pilihan selain
pilihan-Nya.
Nafy dan Itsbat, dan
Perbedaan Keduanya
Para Syaikh Sufi memberi nama-nama nafy (peniadaan) dan
itsbat (pengukuhan) kepada penghapusan sifat-sifat manusia
melalui pengukuhan terhadap bantuan Ilahi
(tayid). Yang mereka maksud dengan peniadaan
adalah meniadakan sifat-sifat manusia, dan yang mereka
maksud dengan pengukuhan adalah mengukuhkan kuasa Kebenaran,
karena penghapusan (mahw) adalah penghilangan total,
dan peniadaan total hanya bisa digunakan terhadap
sifat-sifat; karena peniadaan esensi itu tidak mungkin
selagi yang Universal (kulliyat) masih ada. Oleh
karenanya, sifat-sifat yang tercela harus ditiadakan dengan
memperkukuh kualitas-kualitas terpuji. Yakni mengaku-ngaku
mencintai Tuhan akan ditiadakan dengan memperkukuh realitas
(kenyataan), karena mengaku-ngaku adalah salah satu
kehampaan jiwa rendah. Tapi kaum Sufi, bilamana sifat-sifat
mereka ditaklukkan oleh kuasa Kebenaran, biasanya mengatakan
bahwa sifat-sifat manusia akan tiada jika kita memperkukuh
kelanggengan Tuhan. Masalah ini telah dibicarakan dalam bab
kefakiran dan kesucian dan dalam bab kefanaan dan kebakaan.
Mereka mengatakan juga bahwa kata-kata yang dipersoalkan ini
mengandung arti meniadakan pilihan manusia dengan cara
memperkukuh pilihan Tuhan. Karenanya, orang yang mendapat
berkah mengatakan: Pilihan Tuhan untuk hamba-Nya
dengan pengetahuan-Nya tentang hamba-Nya lebih baik daripada
pilihan hamba-Nya untuk dirinya sendiri dengan kebodohannya
tentang Tuhannya, karena cinta, sebagaimana semua
setuju, adalah meniadakan pilihan pencinta dengan
memperkukuh pilihan Yang Dicintainya. Aku pernah membaca
dalam hikayat-hikayat bahwa seorang darwisy tenggelam di
laut, ketika seseorang berteriak: Saudara, tunggu aku
akan menyelamatkanmu! Ia berkata: Jangan.
Lalu apakah engkau ingin tenggelam?
Tidak. Sungguh aneh engkau tidak mau mati
dan tidak mau diselamatkan. Apa hubunganku
dengan keselamatan, kata darwisy itu, kalau aku
memilihnya? Pilihanku ialah yang Tuhan pilihkan
untukku. Para Syaikh mengatakan bahwa peniadaan
pilihan sendiri adalah tingkat terendah dalam cinta. Nah,
pilihan Tuhan tidak ada permulaannya dalam waktu dan tidak
mungkin dapat ditiadakan, tapi pilihan manusia bersifat
aksidental (aradhi) dan dapat ditiadakan, dan
harus diinjak-injak, sehingga pilihan abadi Tuhan akan
langgeng selamanya.3 Masalah ini banyak
mengundang perdebatan, tapi tujuanku hanyalah agar engkau
mengetahui arti istilah-istilah yang digunakan oleh kaum
Sufi. Aku telah menyebutkan beberapa di antaranya,
umpamanya, jam dan tafriqah, fana dan baqa,
ghaybat dan hudhur, dan sukr dan shahw, dalam bab
yang menguraikan tentang doktrin-doktrin para Sufi, dan
engkau harus mencari di situ keterangan tentang itu
semua.
Musamarat dan
Muhadatsat, dan Perbedaan Keduanya
Istilah-istilah ini menunjuk kepada dua keadaan Sufi yang
sempurna. Muhadatsat (percakapan), pada hakikatnya, adalah
percakapan ruhaniah yang berpadu dengan diamnya lidah, dan
musamarat (perbincangan malam hari), pada hakikatnya, adalah
kesinambungan keleluasaan (inbisath) yang berpadu
dengan penyembunyian pikiran-pikiran yang paling rahasia
(kitman-i sirr). Makna harfiah dari musamarat adalah
suatu keadaan ruhani (waqti) yang ada antara Tuhan
dan manusia di malam hari. Dan muhadatsat adalah keadaan
yang serupa, yang ada di siang hari, yang di dalamnya ada
percakapan eksoteris (lahiriah) dan esoteris (batiniah).
Karenanya, doa-doa rahasia (munajat) pada malam hari
disebut musamarat, sementara doa-doa yang dilakukan pada
siang hari disebut muhadatsat. Keadaan siang hari didasarkan
atas penampakan (kasyf), dan keadaan malam hari
didasarkan atas penyembunyian rahasia (satr). Dalam
cinta, musamarat lebih sempurna daripada muhadatsat, dan
berkaitan dengan keadaan Rasul, ketika Allah mengutus Jibril
kepada beliau dengan Buraq dan membawanya di malam hari dari
Makkah sampai ke suatu tempat sejarak dua ujung busur dari
kehadiran,-Nya. Rasul berbicara secara rahasia dengan Tuhan,
dan ketika beliau sampai di tujuan, lidahnya menjadi bisu di
hadapan penampakan keagungan Tuhan, dan hatinya takjub
terpesona pada kemahabesaran-Nya, dan beliau berkata:
Aku tak dapat memuji-Mu. Muhadatsat berkaitan
dengan keadaan Musa, yang ingin berhubungan dengan Tuhan,
setelah empat puluh hari pergi ke Bukit Sinai dan mendengar
kalam Tuhan dan minta untuk melihat-Nya, dan keinginannya
tak sampai. Ada perbedaan yang jelas antara orang yang
dibawa pergi (QS 17:1) dan orang yang pergi (QS 7:143).
Malam adalah waktu ketika pencinta-pencinta bersendiri satu
sama lain, dan siang adalah waktu ketika hamba-hamba
menunggui tuan-tuan mereka. Bilamana seorang hamba
menyimpang, ia diancam. Tapi seorang pencinta tak memiliki
hukum, yang bila melanggarnya ia akan dicela, karena
pencinta-pencinta tidak bisa melakukan apa pun yang tidak
menyenangkan satu sama lain.
Ilm al-yaqin dan
Ayn al-yaqin dan Haqq al-yaqin, dan Perbedaan
Ketiganya
Menurut prinsip-prinsip teologi, semua ungkapan ini
menunjuk kepada pengetahuan (ilm). Pengetahuan
tanpa kepercayaan yang pasti (yaqin) kepada realitas
objek yang diketahui bukanlah pengetahuan. Tetapi bilamana
pengetahuan diperoleh, maka yang tersembunyi menjadi seperti
yang terlihat sesungguhnya. Orang-orang beriman yang akan
melihat Tuhan pada Hari Pengadilan akan melihat-Nya nanti
seperti mereka mengenal-Nya sekarang. Jika mereka nanti
melihat-Nya selain itu, berarti penglihatan mereka tidak
sempurna, atau pengetahuan mereka kini keliru. Kedua
alternatif ini bertentangan dengan pengesaan
(tawhid), yang menuntut agar pengetahuan manusia
tentang Tuhan benar sekarang dan penglihatan mereka akan
Tuhan juga benar kelak. Karenanya, pengetahuan yang pasti
(ilm al-yaqin) itu seperti penglihatan yang
pasti (ayn al-yaqin), dan kebenaran yang pasti
(haqq-i yaqin) itu seperti pengetahuan yang pasti.
Sebagian orang mengatakan bahwa ayn al-yaqin adalah
penyerapan sempurna (istighraq) pengetahuan dalam
penglihatan. Tapi ini tidak mungkin, karena penglihatan
adalah alat untuk mencapai pengetahuan, seperti pendengaran,
dan sebagainya. Karena pengetahuan tidak bisa diserap dalam
pendengaran, penyerapannya dalam penglihatan juga tidak
mungkin. Yang dimaksud kaum Sufi dengan ilm
al-yaqin adalah pengetahuan tentang praktik (keagamaan)
di dunia ini yang sesuai dengan perintah-perintah Allah.
Yang mereka maksud dengan ayn al-yaqin adalah
pengetahuan tentang keadaan menjelang mati
(naz) dan saat meninggalkan dunia ini. Dan yang
mereka maksud dengan haqq al-yaqin adalah pengetahuan
intuitif tentang penglihatan (akan Allah) yang akan
ditampakkan di surga, dan tentang sifat alamiahnya. Oleh
karenanya, ilm al-yaqin adalah derajat para
teolog (ulama), karena mereka melaksanakan secara tepat
perintah-perintah Ilahi, dan ayn al-yaqin adalah maqam
para ahli makrifat (arifan), karena
mereka siap mati, dan haqq al-yaqin adalah
titik-pelenyapan para pencinta (dustan), karena mereka
menolak benda-benda ciptaan. Karenanya, ilm
al-yaqin diperoleh dengan peniadaan kehendak diri
(mujahadat), dan ayn al-yaqin dengan keakraban
(muanasat), dan haqq al-yaqin dengan
kontemplasi (musyahadat). Yang pertama adalah orang
awam, yang kedua adalah orang yang terpilih, dan yang ketiga
adalah yang terpilih di antara orang-orang pilihan (khash
al-khash).
Ilm dan Marifat, dan
Perbedaan Keduanya
Para ahli teologi (ulama) tidak membedakan antara
ilm dan marifat, kecuali bila mereka mengatakan
bahwa Allah bisa disebut alim (yang mengetahui), tapi
bukan arif (ahli makrifat), karena gelar
yang terakhir ini tidak mengandung rahmat Ilahi. Tapi para
Syaikh Sufi memberi nama marifat kepada setiap
pengetahuan yang berkaitan dengan praktik (keagamaan) dan
perasaan (hal), dan orang yang mengetahui tentang apa
yang menunjukkan perasaannya. Dan karena itulah orang yang
mengetahui itu mereka sebut arif. Di lain
pihak, mereka memberi nama ilm kepada setiap
pengetahuan yang tidak mengandung makna ruhaniah dan praktik
keagamaan, dan orang yang mempunyai pengetahuan semacam itu
mereka sebut alim. Lalu, orang yang mengetahui makna
dan hakikat sesuatu mereka sebut arif (ahli
makrifat), dan orang yang hanya mengetahui ungkapan
lisan saja dan mengingat-ingatnya tanpa menangkap hakikat
ruhaniahnya mereka sebut alim. Karena alasan inilah,
bilamana kaum Sufi ingin mengejek lawannya mereka
menyebutnya danisymand (berpengetahuan). Bagi orang awam,
ini tampaknya tak dapat diterima tapi kaum Sufi tidak
bermaksud mencela orang itu karena telah mendapatkan
pengetahuan, mereka mencelanya karena melalaikan muamalah
agama, karena orang alim bergantung pada dirinya
sendiri, tetapi orang arif bergantung pada
Tuhannya. Persoalan ini telah dibicarakan panjang lebar
dalam bab yang berjudul Menyingkap Tahir
makrifat, dan aku tidak perlu membicarakannya
lagi sekarang.
Syariat dan Haqiqat, dan
Perbedaan Keduanya
Istilah-istilah ini digunakan oleh para Sufi untuk
menunjukkan kebagusan keadaan lahir dan keadaan batin. Dua
golongan salah tanggap dalam masalah ini. Pertama, para
teolog formal, yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan
antara syariat (hukum) dan haqiqat
(kebenaran), karena Hukum adalah Kebenaran dan Kebenaran
adalah Hukum. Kedua, sebagian orang zindiq, yang berpendapat
bahwa salah satu dari kedua hal ini dapat ada tanpa yang
lain, dan menyatakan bahwa bilamana Kebenaran ditampakkan,
Hukum lenyap. Ini adalah doktrin kaum Qaramithah dan
pengikut-pengikut mereka (muwaswisan). Bukti bahwa
Hukum sebenarnya terpisah dari Kebenaran terletak dalam
fakta bahwa dalam iman kepercayaan terpisah dari pengakuan.
Dan bukti bahwa Hukum dan Kebenaran pada dasarnya tidak
terpisah, namun satu adanya, terletak dalam fakta bahwa
kepercayaan tanpa pengakuan bukanlah iman, dan pengakuan
tanpa kepercayaan bukanlah iman. Dan ada perbedaan yang
jelas antara pengakuan dan kepercayaan. Haqiqat
berarti suatu kenyataan yang tidak dapat dihapus dan tetap
sama kekuatannya dari zaman Adam sampai akhir dunia, seperti
pengetahuan tentang Tuhan dan seperti praktik keagamaan,
yang disempurnakan oleh niat yang tulus. Dan syariat
berarti suatu kenyataan yang dapat dihapus dan diubah,
seperti peraturan-peraturan dan perintah-perintah. Oleh
karenanya syariat adalah tindakan manusia, sementara
haqiqat adalah penjagaan dan perlindungan Tuhan.
Akibatnya syariat tidak mungkin bisa dipertahankan
tanpa adanya haqiqat, dan haqiqat tidak
mungkin bisa dipertahankan tanpa pelaksanaan syariat.
Hubungan timbal-balik keduanya bisa dibandingkan dengan
hubungan badan dan ruh. Bilamana ruh meninggalkan badan,
maka badan yang hidup menjadi mayat, dan ruh lenyap seperti
angin, karena nilai keduanya bergantung pada kerja sama
keduanya satu sama lain. Demikian pula, Hukum tanpa
Kebenaran adalah riya, dan Kebenaran tanpa Hukum
adalah kemunafikan (nifaq). Allah berfirman:
Barangsiapa yang berjuang demi (keridhaan) Kami,
tentu Kami akan menunjuki mereka jalan-jalan Kami.
(QS 29:69). Mujahadat adalah Hukum, petunjuk adalah
Kebenaran. Yang pertama terletak dalam dilaksanakannya oleh
manusia peraturan-peraturan lahiriah, sedangkan yang
terakhir terletak dalam dijaganya oleh Tuhan
perasaan-perasaan ruhaniah manusia. Karena itu Hukum adalah
salah satu tindakan yang diupayakan oleh manusia, tapi
Kebenaran adalah salah satu anugerah yang dilimpahkan oleh
Tuhan.
Ada istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan lain yang
digunakan oleh kaum Sufi secara metaforis atau kiasan.
Istilah-istilah metaforis ini lebih sulit untuk dianalisis
dan ditafsirkan, tapi aku akan menerangkannya secara
singkat.
- Haqq. Yang dimaksud kaum Sufi dengan
haqq (kebenaran) adalah Tuhan, karena haqq adalah
salah satu nama Tuhan, sebagaimana Dia berfirman:
Demikianlah karena Tuhan adalah
Kebenaran (QS 22:6).
- Haqiqat. Yang mereka maksud dengan kata ini
adalah kediaman manusia di tempat persatuan dengan Tuhan,
dan ketegakan hatinya di tempat abstraksi
(tanzih).
- Khatharat. Keputusan-keputusan tentang
pemisahan atau keterpisahan (ahkam-i tafriq) yang
terlintas pada pikiran.
- Wathanat. Makna-makna Ilahiah yang menempati
hati.
- Thams. Meniadakan suatu substansi, tapi
sebagian bekasnya masih tertinggal.
- Rams. Meniadakan suatu substansi, sekaligus
dengan setiap bekasnya, dari kalbu.
- Alaiq. Sebab-sebab sekunder yang
menjadi pegangan para pendamba Tuhan sehingga mereka
gagal mendapatkan keinginan mereka.
- Wasaith. Sebab-sebab sekunder yang
menjadi pegangan para pendamba Tuhan dan karenanya
mendapatkan keinginan mereka.
- Zawaid. Berlimpahnya cahaya (pencerahan
ruhani) dalam kalbu.
- Fawaid. Pemahaman oleh ruh tentang apa
yang tidak bisa dilakukannya tanpanya.
- Malja. Keyakinan hati untuk mencapai
keinginannya.
- Manja. Terlepasnya hati dari tempat
ketidaksempurnaan.
- Kulliyyat. Terserapnya (istighraq)
sifat-sifat manusia dalam yang Universal
(kulliyyat).
- Lawaih. Terkukuhkannya objek keinginan,
sekalipun ditiadakan (itsbat-i murad ba wurud-i nafy-i
an).
- Lawami. Pengejawantahan cahaya (ruhani)
terhadap hati selagi pemahaman-pemahaman
(fawaid)-nya tetap langgeng.
- Thawali. Penampakan keindahan-keindahan
pengetahuan (mistis) terhadap hati.
- Thawariq. Yang datang ke dalam hati, dengan
berita gembira atau dengan ancaman, dalam percakapan
rahasia (dengan Tuhan) di malam hari.
- Lathaif Sebuah perlambang (isyarati),
yang disodorkan kepada hati, tentang kehalusan-kehalusan
perasaan.
- Sirr. Penyembunyian perasaan-perasaan
cinta.
- Najwa. Penyembunyian segenap ketidaksempurnaan
dari pengetahuan tentang selain (Tuhan).
- Isyarat. Memberitahu orang lain tentang objek
keinginan, tanpa mengucapkannya dengan lisan.
- Ima. Berbicara dengan seseorang secara tidak
langsung, tanpa keterangan lisan atau isyarat (be
ibarat u isyarat).
- Warid. Turunnya makna-makna ruhani ke
hati.
- Intibah. Hilangnya kelalaian dari hati.
- Isytibah. Kekacauan yang terasa dalam
menentukan kebenaran dan kepalsuan.
- Qarar. Terlepasnya kebimbangan dari realitas
perasaan.
- Inziaj. Bergeloranya hati dalam keadaan
ekstasi (wajd).
Istilah-istilah teknis yang lain juga digunakan kaum
Sufi, tanpa metafor atau kiasan, dalam pengesaan
(tawhid) dan dalam mengemukakan kepercayaan mereka
yang teguh kepada realitas-realitas ruhaniah.
- Alam. Istilah alam menunjuk
kepada makhluk-makhluk Tuhan. Konon terdapat delapan
belas ribu atau lima puluh ribu alam. Para filosof
mengatakan ada dua alam, atas dan bawah, sementara para
teolog mengatakan bahwa alam ialah apa saja
yang ada di antara Singgasana Tuhan (Arasy
Ilahi) dan bumi ini. Pendeknya, alam adalah
seluruh benda yang diciptakan. Para Sufi berbicara
tentang alam ruh (arwah) dan alam jiwa
(nufus), tetapi mereka tidak mengartikan seperti
yang diartikan oleh para filosof. Yang mereka maksudkan
ialah seluruh ruh dan jiwa.
- Muhdats. Yang kemudian adanya, yakni ia pernah
tidak ada dan setelah itu ada.
- Qadim. Yang memang ada, yakni ia selalu ada,
dan adanya mendahului semua yang ada. Ini tak lain adalah
Tuhan.
- Azal. Yang tidak mempunyai permulaan.
- Abad. Yang tidak mempunyai akhir.
- Dzat. Kemaujudan dan realitas sesuatu.
- Shifat. Yang tidak .dapat dikualifikasikan
(nat), karena ia tidak mandiri.
- Ism. Yang bukan merupakan objek yang bernama
(ghayr-i musamma).
- Tasmiyat. Informasi tentang objek yang
bernama.
- Nafy. Yang mengakibatkan ketidakmaujudan
setiap sesuatu yang ditiadakan.
- Itsbat. Yang mengakibatkan keberadaan setiap
objek pengukuhan.
- Siyyan. Kemungkinan adanya suatu benda dengan
adanya benda yang lain.
- Dhiddan. Ketidakmungkinan adanya suatu benda
secara serentak dengan adanya benda yang lain.
- Ghayran. Kemungkinan adanya salah satu dari
dua benda, sekali pun benda yang lain ditiadakan.
- Jawhar. Dasar (ashl) dari sesuatu; yang
mandiri.
- Aradh. Yang maujud dalam jawhar
(substansi).
- Jism. Yang tersusun dari bagian-bagian.
- Sual. Mencari suatu kenyataan.
- Jawab. Memberi informasi tentang materi-pokok
suatu persoalan (sual).
- Husn. Yang sesuai dengan perintah
(Ilahi).
- Qubh. Yang tidak sesuai dengan perintah
(Ilahi).
- Safah. Melalaikan perintah (Ilahi).
- Zhulm. Meletakkan sesuatu tidak pada
tempatnya.
- Adl. Meletakkan setiap sesuatu pada
tempatnya.
- Malik. Dia yang tindakan-tindakannya tidak
mungkin bisa dicampur-tangani.
Ada istilah-istilah lain yang perlu dijelaskan yang pada
umumnya digunakan oleh kaum Sufi dalam pengertian mistis
yang tidak akrab di telinga para ahli ilmu bahasa.
- Khathir. Yang dimaksud para Sufi dengan
khathir (pikiran selintas) adalah maujudnya sesuatu dalam
pikiran yang segera disingkirkan pikiran lain, dan yang
pemiliknya mampu meniadakannya dari pikirannya.
Orang-orang yang mempunyai pikiran-pikiran semacam itu
mengikuti pikiran selintas dalam masalah-masalah yang
datang langsung dari Tuhan kepada manusia. Diriwayatkan
bahwa terpikir oleh Khayr Nassaj bahwa Junayd sedang
menunggu di depan pintunya, dan ia ingin mengusir pikiran
itu. Pikiran yang sama terulang dua dan tiga kali,
sehingga ia pergi keluar dan mendapati Junayd, yang
mengatakan kepadanya: Jika engkau mengikuti apa
yang terlintas dalam benakmu, tidak perlu bagiku berdiri
berlama-lama di sini. Bagaimana Junayd bisa
mengetahui apa yang terlintas pada benak Khayr? Persoalan
ini pernah ditanyakan, dan telah dijawab dengan komentar
bahwa Junayd adalah pembimbing ruhani Khayr, dan seorang
pembimbing ruhani pasti mengetahui semua yang terjadi
pada salah seorang muridnya.
- Waqia. Yang mereka maksud dengan
waqia adalah pikiran yang muncul dalam benak
dan bertahan di situ, tidak seperti khathir. Dan sang
pendamba tidak punya cara apa pun untuk menolaknya. Jadi,
mereka bukan mengatakan, khatara ala qalbi
(terlintas dalam benakku), tetapi waqaa fi
qalbi (sesuatu tertancap dalam benakku). Semua kalbu
atau benak terkena khathir (pikiran selintas), tapi
waqia hanya mungkin ada dalam kalbu atau benak yang
sepenuhnya terisi pengertian tentang Tuhan. Karenanya,
bilamana suatu kendala merintangi sang pemula di jalan
menuju Allah, mereka menyebutnya belenggu
(qayd) dan mengatakan: Waqia
telah menimpanya. Para ahli ilmu bahasa juga
menggunakan istilah waqia untuk menunjukkan
persoalan yang sulit. Dan bila dijawab dengan cara
memuaskan, mereka mengatakan, waqia hall
syud (kesulitan telah dipecahkan). Tetapi ahli
tasawuf (mistikus) mengatakan bahwa waqia adalah
yang tidak bisa dipecahkan, dan bahwa apa saja yang
terpecahkan adalah khathir, bukan waqia, karena
kendala-kendala yang menghadang mistikus bukannya
masalah-masalah yang senantiasa terbentuk berbagai
penilaian tentang masalah-masalah itu.
- Ikhtiyar. Yang mereka maksud dengan ikhtiyar
adalah lebih memilih pilihan Tuhan daripada pilihannya
sendiri, yakni mereka puas dengan kebaikan dan keburukan
yang Tuhan telah pilihkan untuk mereka. Lebih
diutamakannya pilihan Tuhan oleh seseorang itu sendiri
adalah akibat pilihan Tuhan, karena kalau Tuhan tidak
menyebabkan dia tidak punya pilihan, dia tentu tidak akan
pernah membiarkan sirna pilihannya sendiri. Ketika Abu
Yazid ditanya, Siapakah pangeran (amir) itu?
dia menjawab, Ia yang tidak lagi punya pilihan, dan
yang baginya pilihan Tuhan telah menjadi satu-satunya
pilihannya. Diriwayatkan bahwa Junayd, yang
terserang demam, memohon kepada Allah agar memberinya
kesembuhan. Suara berbisik di hatinya: Siapakah
engkau yang memohon di dalam kerajaan-Ku dan membuat
pilihan? Aku bisa menata kerajaan-Ku lebih baik dari
padamu. Ambillah pilihan-Ku, jangan mengajukan pilihanmu
sendiri.
- Imtihan. Yang mereka maksud dengan ungkapan
ini adalah masa diujinya hati para wali dengan
bermacam-macam penderitaan yang datang kepada mereka dari
Tuhan, seperti ketakutan, kesedihan, kesempitan,
keseganan dan sebagainya. Tuhan berfirman:
Mereka yang hatinya telah diuji Tuhan untuk
bertakwa, mereka akan diampuni dan diberi ganjaran
besar (QS 49:3). Ini adalah suatu derajat yang
luhur.
- Bala. Yang mereka maksud dengan bala
(penderitaan) adalah masa diujinya badan wali-wali Allah
dengan berbagai kesusahan, penyakit dan kemalangan. Makin
berat penderitaan seseorang, dia semakin mendekati Tuhan,
karena penderitaan adalah pakaian wali-wali dan tempat
penggodokan orang-orang suci dan santapan nabi-nabi.
Rasulullah bersabda, Kami, nabi-nabi, adalah yang
paling banyak menderita di antara manusia. Beliau
juga bersabda, Nabi-nabi adalah yang paling banyak
menderita di antara manusia, kemudian wali-wali, dan
kemudian orang-orang lain menurut peringkat mereka
masing-masing. Bala adalah nama dari suatu
kemalangan, yang turun ke hati dan badan seorang mukmin
sejati dan yang pada hakikatnya adalah rahmat. Dan karena
rahasianya tidak diketahuinya, dia diberi pahala oleh
Tuhan atas ketabahannya menanggung
kepedihan-kepedihannya. Kemalangan yang menimpa
orang-orang kafir bukanlah penderitaan (bala),
melainkan siksaan (syaqawat), dan orang-orang
kafir tidak pernah mendapatkan kebebasan dari siksaan.
Derajat bala lebih mulia daripada derajat imtihan, karena
imtihan hanya mengenai hati, sedangkan bala mempengaruhi
hati dan badan, dan dengan demikian lebih dahsyat.
- Tahalli. Sikap meniru orang-orang terpuji
dalam kata-kata dan perbuatan. Rasul bersabda: Iman
tidak diupayakan dengan tahalli (menghiasi diri
dengan kualitas-kualitas orang-orang lain) dan
tamanni (kehendak), tetapi sesuatu yang tenggelam
dalam-dalam ke dalam hati dan diuji kebenarannya dengan
tindakan. Jadi, tahalli adalah meniru orang
tanpa benar-benar bertindak seperti mereka. Orang-orang
yang tampak tidak seperti apa adanya tidak akan segera
dipermalukan, dan watak rahasia mereka kelak akan
terungkap. Namun, dalam pandangan kaum spiritualis,
mereka sesungguhnya sudah mendapat aib dan watak rahasia
mereka sudah tampak jelas.
- Tajalli. Pengaruh pencerahan Ilahi yang
mengandung berkat atas hati orang-orang yang diberkati,
sehingga mereka diberi kemampuan untuk melihat Tuhan
dengan kalbu-kalbu mereka. Perbedaan antara penglihatan
ruhani (ruyat ba-dil) dan penglihatan yang
sebenarnya (ruyat-i iyan) adalah
begini, bahwa orang-orang yang mengalami tajalli
(manifestasi Tuhan) melihat atau tidak melihat, sesuka
mereka, atau melihat pada suatu saat dan tidak melihat
pada saat yang lain. Sementara orang-orang yang mengalami
penglihatan yang sesungguhnya di surga mau tidak mau
melihat, meskipun mereka tidak ingin melihat; karena
tajalli dapat tersembunyi, sementara ruyat
(penglihatan) tidak mungkin bisa ditabiri.
- Takhalli. Berpaling dari godaan-godaan yang
menghalangi manusia dari mencapai Tuhan. Yang pertama
adalah dunia ini, sehingga ia tidak boleh memiliki, atau
harus lepas diri dari, dunia. Yang kedua adalah
menginginkan akhirat; dengan demikian ia harus
mengosongkan hatinya dari akhirat. Yang ketiga adalah
melakukan kesia-siaan; dengan demikian ia harus
mengosongkan ruhnya dari hal itu. Dan yang keempat adalah
bergaul dengan makhluk-makhluk; dengan demikian ia harus
mengosongkan dirinya darinya dan menghindarkan benaknya
dari memikirkannya.
- Syurud. Arti syurud ialah berusaha tanpa
henti-hentinya untuk melepaskan diri dari
kerusakan-kerusakan (duniawi) dan tabir-tabir.
Sebab semua kegagalan para pendamba timbul, karena
dirinya tertabiri, dan bilamana tabir itu disingkap ia
menjadi bersatu dengan Allah. Kaum Sufi menggunakan
istilah syurud untuk tersingkapnya tabir dari dirinya
(isfar) dan penggunaan setiap daya upaya olehnya
untuk tujuan itu. Karena pada awalnya, yakni dalam
mencari, ia lebih tak kenal lelah; maka pada akhirnya,
yakni dalam persatuan, ia menjadi lebih teguh.
- Qushud. Yang mereka maksud dengan qushud
adalah tekad bulat untuk mencari hakikat objek yang
dicari. Tujuan-tujuan para Sufi tidak bergantung pada
gerak dan diam, karena sang pencinta, walaupun ia tenang
dalam cinta, ia tetap mengejar suatu tujuan
(qashid). Dalam hubungan ini, kaum Sufi berbeda
dari orang-orang awam, yang tujuan-tujuannya menghasilkan
pada diri mereka akibat tertentu secara lahiriah atau
batiniah. Sementara para pencinta Tuhan mendambakan-Nya
tanpa sebab (sarana) apa pun dan mengejar tujuan mereka
tanpa gerakan mereka sendiri, dan semua kualitas mereka
ditujukan untuk tujuan itu. Di mana ada cinta, segalanya
adalah tujuan.
- Ishthina. Yang mereka maksud dengan
istilah ini adalah bahwa Tuhan membuat seseorang luput
dari kesalahan melalui pelenyapan semua kepentingan
dirinya dan kesenangan-kesenangan hawa nafsunya, dan
mengubah sifat-sifat jiwa rendahnya, sehingga ia terlepas
dari keakuan. Derajat ini hanya dimiliki oleh para nabi,
tapi sebagian Syaikh berpendapat bahwa ini juga bisa
dicapai oleh para wali.
- Ishthifa. Ini adalah bahwa Tuhan membuat hati
seseorang kosong agar dapat menerima pengetahuan tentang
Diri-Nya, sehingga pengetahuan tentang Dia
(marifat) memancarkan kesuciannya ke seluruh
hatinya. Pada derajat ini semua orang beriman, yang awam
maupun yang terpilih, sama saja, entah mereka pendosa,
saleh, wali ataupun nabi, karena Allah berfirman:
Kami, kemudian, mewariskan Kitab itu kepada
hamba-hamba Kami yang Kami pilih (ishthafayna), sebagian
mereka ada yang menganiaya dirinya sendiri; sebagian
mereka ada yang menempuh jalan tengah; dan sebagian
mereka ada yang mengutamakan berbuat kebaikan dengan izin
Allah (QS 35:32).
- Ishthilam. Manifestasi-manifestasi
(tajalliyat) Ilahi yang menyebabkan seseorang
menjadi sepenuhnya dikuasai oleh suatu ujian yang
mengandung rahmat (imtihan), sementara kehendaknya
sirna. Qalb-i mumtahan (Hati yang teruji), dan
qalb-i mushthalam (hati yang hancur), mengandung
makna yang sama. Meskipun dalam kelaziman ungkapan Sufi,
ishthilam itu lebih khusus dan sempurna daripada
imtihan.
- Rayn. Tahir yang menutupi hati, yakni tabir
kekufuran dan kesesatan, yang tidak bisa disingkapkan
kecuali dengan iman. Tuhan berfirman, ketika melukiskan
hati orang-orang kafir: Sekali-kali tidak,
bahkan apa yang selalu mereka lakukan telah menutupi hati
mereka (rana ala qulubihim) (QS
83:14). Sebagian orang mengatakan bahwa rayn tidak
mungkin bisa disingkapkan dengan cara apa pun karena hati
orang-orang kafir tidak mampu menerima Islam, dan
orang-orang yang menerimanya tentulah - karena sudah
mengenal Allah sebelumnya - orang-orang beriman
sejati.
- Ghayn. Tabir yang menutupi hati yang dapat
disingkapkan dengan memohon ampun kepada Allah. Bisa
tipis ataupun tebal. Yang tebal ialah untuk orang-orang
yang lupa (kepada Allah) dan berbuat dosa-dosa besar.
Yang tipis ialah untuk semuanya, tidak terkecuali wali
ataupun nabi. Bukankah Rasul bersabda,
Sesungguhnya, hatiku tertabiri (yughanu
ala qalbi), dan sesungguhnya aku mohon ampun
kepada Allah seratus kali setiap hari. Untuk
menyingkap tabir yang tebal, diperlukan tobat yang benar.
Dan untuk menyingkap tabir yang tipis, diperlukan
kembali-setulus-tulusnya kepada Tuhan. Tobat adalah
berpaling dari ketidaktaatan ke ketaatan, dan kembali
(ruju) adalah berpaling dari diri ke Tuhan.
Tobat itu tobat dari dosa. Dosa manusia biasa
bertentangan dengan perintah Tuhan, sementara dosa para
pencinta Tuhan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Maka
dari itu, dosa manusia-manusia biasa berupa
ketidaktaatan, dan dosa para pencinta berupa kesadaran
tentang keberadaan mereka sendiri. Jika seseorang
berpaling dari kekeliruan ke kebenaran, mereka
mengatakan, Ia bertobat (taib);
tapi jika seseorang berpaling dari yang benar ke yang
lebih benar, mereka mengatakan, Ia kembali
(aib). Semuanya ini telah aku
bentangkan pada bab tobat.
- Talbis. Yang mereka maksud dengan
talbis adalah kemunculan sesuatu ketika
kemunculannya berlawanan dengan kenyataannya, sebagaimana
Tuhan berfirman: Kami pasti akan mengecoh mereka
(lalabasna alayhim) sebagaimana mereka mengecoh
yang lain (QS 6: 9). Kualitas pengecohan ini
tidak mungkin bisa dimiliki siapa pun kecuali Allah, yang
memperlihatkan orang kafir dalam samaran seorang mukmin
dan orang mukmin dalam samaran seorang kafir, sampai tiba
saatnya bagi terwujudnya keputusan-Nya dan kenyataan pada
setiap hal. Bilamana seorang Sufi menyembunyikan
kualitas-kualitas baik di balik topeng keburukan, mereka
mengatakan: Ia melakukan penyaraman
(talbis), tapi mereka menggunakan istilah
ini hanya dalam contoh-contoh semacam itu, dan tidak
menggunakannya pada sikap riya dan kemunafikan,
yang pada dasarnya adalah talbis, karena talbis tidak
digunakan kecuali terhadap suatu tindakan yang dilakukan
oleh Tuhan.
- Syurb. Kaum Sufi menyebut manisnya takwa dan
kelezatan karamah dan kebahagiaan kedekatan sebagai
syurb (minuman). Dan mereka tidak bisa melakukan
apa-apa tanpa kelezatan syurb. Kalau minuman badan
adalah air, minuman kalbu adalah kesenangan dan kemanisan
ruhaniah. Syaikhku biasa mengatakan bahwa seorang pemula
yang tidak menikmati syurb itu tidak mengenal
kewajiban-kewajiban sebagai pemula, dan seorang ahli
makrifat yang menikmati syurb itu tidak
mengenal makrifat karena sang pemula harus
mendapatkan kesenangan (syurb) dari
tindakan-tindakannya supaya ia bisa memenuhi
kewajiban-kewajiban seorang pemula yang mendambakan
Tuhan. Tetapi ahli makrifat tidak boleh merasakan
kesenangan semacam itu, supaya ia tidak tenggelam dengan
kesenangan semacam itu, sebagai ganti tenggelam dengan
Tuhan. Jika ia kembali kepada jiwa rendahnya, ia tidak
akan tenang (dengan Tuhan).
- Dzawq. Dzawq menyerupai syurb, tapi
syurb hanya digunakan terhadap
kesenangan-kesenangan, sedangkan dzawq diterapkan pada
kesenangan dan kesedihan sekaligus. Orang mengatakan
dzuqtu alhalawat (aku merasakan kemanisan), dan dzuqtu
al-bala (aku merasakan penderitaan). Tapi, tentang
syurb, mereka mengatakan syaribtu
bi-kasil-washl (aku minum dengan piala
persatuan), dan syaribtu bikasil-wudd
(aku minum dengan piala cinta), dan
seterusnya.4
Catatan Kaki:
- Mahq menunjuk kepada pelenyapan wujud
seseorang dalam esensi Tuhan, sementara mahw menunjuk
kepada pelenyapan tindakan-tindakannya dalam tindakan
Tuhan (Jurjani, Tarifat).
- Nafahat, No. 15.
- Di sini pengarang mengacu kepada contoh Musa, yang
doanya untuk melihat Allah ditolak (QS 7:143) karena dia
menggunakan pilihannya sendiri.
- Perbedaan antara syurb dan dzawq ini
dilukiskan dengan kutipan-kutipan dari Al-Quran, yakni QS
52:19; 44:49; dan 54:48.
|