|
|
19. Menyingkap Tabir Kelima:
Shalat
Secara etimologis, shalat (namaz) artinya
mengingat (Allah) dan menyerah (dzikr u inqiyad).
Tetapi menurut para faqih, istilah itu secara khusus dipakai
untuk shalat lima waktu yang Tuhan perintahkan untuk
dikerjakan pada lima waktu yang berbeda-beda, dan yang
mengandung syarat-syarat pendahuluan tertentu, seperti: (1)
penyucian secara lahiriah dari najis atau kotoran dan secara
batiniah dari hawa nafsu; (2) pakaian lahiriah supaya bersih
dan pakaian batiniah supaya tidak dicemari oleh sesuatu yang
diharamkan; (3) tempat bersuci diri supaya secara lahiriah
bebas dari kotoran dan secara batiniah bebas dari kerusakan
akhlak dan dosa; (4) menghadap kiblat, kiblat lahiriah
berupa Kabah dan kiblat batin berupa Arasy
Ilahi, yang berarti rahasia musyahadat;
(5) berdiri secara lahiriah dalam keadaan kukuh
(qudrat) dan secara batiniah dalam taman kedekatan dengan
Tuhan (qurbat); (6) niat yang tulus untuk mendekatkan diri
kepada Allah; (7) mengucapkan Allahu Akbar dalam
maqam penghormatan dan pelenyapan (fana), dan berdiri
pada tempat persatuan, dan membaca Al Quran secara hormat,
dan menundukkan kepala (rukuk) dengan kerendahan hati, dan
merendahkan diri (sujud) dengan rasa kehinaan, dan
bersyahadat dengan khusyuk, dan menyalami pelenyapan
sifat-sifat diri. Tercatat dalam kitab-kitab hadis bahwa
ketika Rasulullah saw. shalat, terdengar di dalam diri
beliau suara seperti air mendidih dalam ketel. Dan ketika
Ali sedang shalat, bulu kuduknya berdiri, beliau
gemetaran, dan berkata: Inilah saatnya memenuhi amanah
yang langit dan bumi tidak sanggup
menanggungnya.1
Shalat adalah Miraj
Shalat adalah istilah yang di dalamnya para pemula
menemukan keseluruhan jalan menuju Tuhan, dari awal sampai
akhir, dan yang di dalamnya maqam-maqam mereka ditampakkan.
Jadi, bagi para pemula, penyucian menggantikan tobat, dan
kebergantungan pada pembimbing ruhani menggantikan penentuan
kiblat, dan berdiri dalam shalat menggantikan perjuangan
melawan hawa nafsu (mujahadat), dan membaca Al-Quran
menggantikan zikir, dan rukuk menggantikan kerendahan hati,
bersujud menggantikan pengenalan-diri, dan mengucapkan
syahadat menggantikan keakraban (uns), dan salam
menggantikan pengunduran diri dari dunia dan bebas dari
belenggu maqam. Karena itu, ketika Rasulullah kehilangan
semua perasaan gembira (masyarib) dalam kegalauan
yang memuncak, beliau biasa mengatakan: Wahai Bilal,
senangkanlah kami dengan azan. Syaikh-syaikh Sufi
telah membicarakan masalah ini, dan masing-masing mempunyai
sikapnya sendiri-sendiri. Sebagian beranggapan bahwa shalat
adalah sarana untuk memperoleh kehadiran bersama
Tuhan (hudhur), dan yang lain menganggapnya sebagai
sarana untuk memperoleh ketidakhadiran
(ghaybat). Sebagian orang yang telah berada dalam
ketidakhadiran menjadi hadir dalam
shalat, sementara yang lain yang berada dalam
kehadiran menjadi tidak hadir.
Demikian pula, di akhirat nanti di mana Tuhan terlihat,
sebagian, yang tidak hadir, ketika mereka
melihat Tuhan, akan menjadi hadir, dan
sebaliknya. Aku, Ali bin Utsman Al-Jullabi,
menyatakan bahwa shalat adalah suatu perintah Ilahi dan
bukan sarana untuk memperoleh baik kehadiran
maupun ketidakhadiran, karena perintah Tuhan
bukanlah sarana untuk mencapai sesuatu. Sebab
kehadiran adalah kehadiran itu
sendiri, dan sebab ketidakhadiran adalah
ketidakhadiran itu sendiri. Jika shalat
merupakan sebab-langsung atau sarana kehadiran,
ia hanya bisa dikerjakan oleh orang yang hadir,
dan jika ia merupakan sebab langsung
ketidakhadiran, orang yang tidak
hadir niscaya menjadi hadir dengan
melalaikan pelaksanaannya. Tetapi, karena ia harus
dilaksanakan oleh semua orang, apakah mereka
hadir ataupun tidak hadir, shalat
adalah berdaulat dalam esensinya dan kemandiriannya. Shalat
banyak dilakukan dan diperintahkan oleh orang-orang yang
melakukan mujahadat atau orang-orang yang telah mencapai
keteguhan hati (istiqamat). Maka Syaikh-syaikh
memerintahkan murid-murid mereka untuk melakukan empat ratus
rakaat shalat selama siang dan malam, supaya badan-badan
mereka terbiasa dengan ibadah. Dan orang-orang yang
istiqamah juga melakukan banyak shalat sebagai rasa syukur
atas nikmat yang Allah limpahkan kepada mereka. Mengenai
orang-orang yang mempunyai keadaan-keadaan
(arbab-i ahwal), shalat-shalat mereka, dalam
kesempurnaan ekstasi, sesuai dengan maqam persatuan,
sehingga melalui shalat-shalat itu mereka menjadi bersatu;
dan ketika sudah tidak dalam keadaan ekstasi, shalat-shalat
mereka sesuai dengan maqam keterpisahan, sehingga dengan
demikian mereka menjadi terpisah. Yang pertama, orang-orang
yang bersatu dalam shalat-shalat mereka, melakukan shalat
wajib siang dan malam, dan juga melakukan shalat-shalat
sunnah, tetapi yang kedua, orang-orang yang terpisah,
melaksanakan shalat tidak lebih daripada yang mereka
butuhkan. Rasulullah bersabda: Dalam shalat terletak
kegembiraanku, karena shalat adalah sumber kebahagiaan
bagi orang yang istiqamah. Ketika Rasul dibawa mendekat
kepada Tuhan pada malam Miraj, dan jiwanya terlepas
dari rantai-rantai wujud fenomenal, dan ruhnya kehilangan
kesadaran akan semua derajat dan maqam, dan kekuatan
alamiahnya sirna, beliau mengatakan, bukan karena
kehendaknya sendiri, tapi diilhami oleh kerinduan:
Wahai Tuhan, janganlah bawa aku ke dunia penderitaan
sana! Jangan campakkan aku di bawah kuasa tabiat alamiah dan
hawa nafsu! Tuhan menjawab: Inilah keputusan-Ku
bahwa engkau harus kembali ke dunia untuk menegakkan hukum
agama (Syariat), supaya Aku bisa memberimu di situ apa
yang Aku telah berikan kepadamu di sini. Ketika
kembali ke dunia ini, beliau biasa mengatakan keadaan saat
beliau merasakan kerinduan kepada maqam yang tinggi itu:
Wahai Bilal, senangkanlah kami dengan azan! Maka
baginya setiap kali shalat merupakan Miraj dan
kedekatan baru kepada Tuhan. Sahl bin Abdallah
mengatakan: Tanda ketulusan seseorang adalah ia
mempunyai malaikat pengawal yang mendorongnya untuk
menunaikan shalat ketika waktu shalat telah datang, dan
membangunkannya jika ia sedang tidur. Tanda ketulusan
ini tampak pada Sahl sendiri, karena walaupun dia telah
lumpuh pada masa tuanya, tubuhnya menjadi tidak lumpuh
ketika waktu shalat telah tiba; dan sesudah melakukan shalat
dia lumpuh lagi. Salah seorang Syaikh mengatakan:
Empat hal yang perlu bagi orang yang melakukan shalat:
menundukkan hawa nafsu (mujahadat), menghilangkan
kekuatan-kekuatan alamiah, kesucian hati nurani, dan
musyahadat yang sempurna. Penundukan jiwa
rendah hanya dapat dilakukan dengan pemusatan pikiran;
menghilangkan kekuatan-kekuatan alamiah hanya bisa terjadi
melalui pengukuhan akan kemegahan Ilahi, yang mencakup
pembinasaan semua yang selain Tuhan; kesucian hati nurani
hanya dengan cinta; dan musyahadat yang sempurna
hanya dengan kesucian hati nurani. Diriwayatkan bahwa Husayn
bin Manshur (Al-Hallaj) terbiasa meletakkan pada dirinya
kewajiban melakukan empat ratus rakaat shalat pada siang dan
malam. Ketika ditanyakan mengapa dia suka bersusah payah
dalam derajat tinggi yang dicapainya, ia pun menjawab:
Susah dan senang menunjukkan perasaan-perasaanmu, tapi
orang yang sifat-sifatnya telah sirna tidaklah merasakan
pengaruh kesenangan maupun kesusahan. Berhati-hatilah engkau
jangan sampai engkau menyebut kelalaian sebagai kematangan
dan mendambakan dunia sebagai mencari Tuhan. Seseorang
meriwayatkan: Aku pernah shalat di belakang Dzun Nun.
Ketika dia mulai mengucapkan takbir, dia berseru
Allahu Akbar dan jatuh pingsan seperti badan tak
bernyawa. Junayd, setelah ia berumur tua, tidak
meninggalkan rangkaian wirid (awrad) pada masa
mudanya. Ketika ia didesak untuk meninggalkan beberapa
ibadah sunnah yang tidak lagi mampu dilakukannya, dia
menjawab bahwa dia tidak bisa meninggalkan ibadah-ibadah itu
yang sejak mula telah menjadi sarananya untuk mencapai
kesejahteraan ruhani. Semua orang tahu bahwa malaikat
terus-menerus beribadah, karena mereka itu makhluk-makhluk
ruhaniah dan tidak mempunyai jiwa rendah atau hawa nafsu
(nafs). Jiwa rendah mencegah manusia dari ketaatan, dan
semakin ia ditundukkan semakin menjadi lebih mudah
melaksanakan ibadah; dan bilamana sepenuhnya dilenyapkan,
ibadah menjadi makanan dan minuman manusia, persis
sebagaimana hal itu (ibadah) makanan dan minuman malaikat.
Abdallah bin Mubarak mengatakan: Pada masa
mudaku, aku pernah melihat seorang wanita zuhud yang
disengat seekor kalajengking dengan empat puluh tempat
sengatan selagi ia bersembahyang, namun tidak terlihat
adanya perubahan ekspresi pada wajahnya. Ketika ia sudah
selesai, aku mengatakan: Wahai ibu, mengapa tidak kau
lemparkan kalajengking itu? Ia menjawab: Anak bodoh!
Apakah kau anggap benar selagi aku berurusan dengan Tuhan
aku boleh menuruti kehendakku?
Abul Khayr Aqtha2 mempunyai suatu
penyakit gangraina (kelemajuh) di kakinya. Para dokter
menyatakan bahwa kakinya harus dipotong, tapi dia tidak mau.
Murid-muridnya mengatakan: Potonglah selagi dia sedang
shalat, karena pada waktu itu dia tidak sadar. Para
dokter menuruti nasihat ini. Ketika Abul Khayr menyelesaikan
shalat-shalatnya ia mendapati kakinya telah
dipotong.3
Sufi-sufi tertentu melaksanakan amalan-amalan ibadah
wajib secara terbuka, namun melakukan amalan-amalan ibadah
sunnah secara sembunyi-sembunyi agar mereka terlepas dari
ke-riya-an (maksud tersembunyi agar dipuji orang).
Orang (kata mereka) yang menginginkan agar orang lain
menaruh perhatian kepada amal-amal keagamaannya, maka ia itu
munafik; dan jika ia mengatakan bahwa meskipun orang lain
melihat ibadah-ibadahnya ia sendiri tidak menyadari (tidak
memperhatikan) mereka, itu juga kemunafikan (nifaq).
Namun, Sufi-sufi yang lain memperlihatkan amalan-amalan
ibadah wajib dan sunnah, dengan alasan bahwa riya itu
tidak hakiki dan ibadah adalah hakiki. Maka dari itu,
sungguh aneh sekali menyembunyikan kenyataan demi bukan
kenyataan. Jangan biarkan pikiran riya (kata
mereka) memasuki hatimu, dan beribadahlah kepada Tuhan di
mana pun kau suka. Para Syaikh telah mengamalkan ruh
sejati dari peraturan-peraturan amal ibadah, dan telah
menyuruh murid-murid mereka melakukan hal yang sama. Salah
seorang dari mereka mengatakan: Aku berkelana selama
empat puluh tahun, dan selama waktu itu aku tidak pernah
meninggalkan shalat berjamaah, dan aku berada di kota
tertentu setiap hari Jumat.
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh shalat adalah
maqam-maqam cinta, yang akan aku kemukakan
prinsip-prinsipnya secara lengkap sekarang.
Cinta dan Masalah-masalahnya
Allah berfirman, Wahai orang-orang beriman,
barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka
kelak Allah akan mendatangkan sebagai pengganti suatu kaum
yang Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya ...
(QS 5:54); dan Dia juga berfirman: Di antara
manusia ada yang mengambil sesembahan-sesembahan selain
Allah, dan mencintai mereka seperti mereka mencintai Allah,
tetapi orang-orang beriman sangat mencintai Allah ... "
(QS 2:165) Dan Rasul bersabda: Aku mendengar Jibril
mengatakan bahwa Allah berfirman, Barangsiapa menghina
wali-wali-Ku, maka ia menyatakan perang kepada-Ku. Aku tidak
ragu-ragu dalam apa pun, namun Aku segan mencabut jiwa
hamba-Ku yang beriman yang membenci kematian dan yang
kepadanya Aku tidak suka menyiksa, tetapi ia tidak bisa
terlepas darinya. Dan tidak ada cara bagi hamba-Ku dalam
mencari ridha-Ku yang lebih menyenangkan bagi-Ku daripada
pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang Aku letakkan padanya.
Dan hamba-Ku yang terus-menerus mencari ridha-Ku dengan
amal-amal sunnah hingga Aku mencintainya, dan bilamana Aku
mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya,
tangannya, dan penolongnya. Dan Rasul juga
bersabda, Tuhan suka menjumpai orang-orang yang suka
menjumpai-Nya, dan tidak suka menjumpai orang-orang yang
tidak suka menjumpai-Nya. Dan lagi, Apabila
Tuhan mencintai seseorang, Dia mengatakan kepada Jibril,
Wahai Jibril, Aku mencintai si fulan, maka begitu pula
engkau hendaknya. Kemudian Jibril mencintainya dan
mengatakan kepada para penghuni langit, Tuhan
mencintai si fulan, dan mereka juga mencintainya.
Kemudian Dia melimpahkan kepadanya ridha-Nya di bumi,
sehingga dia dicintai oleh para penduduk bumi. Dan
sebagaimana hal itu terjadi pada cinta, begitu pun hal itu
terjadi pada benci.
Mahabbat (cinta), menurut riwayat, diturunkan dari kata
hibbat, yang merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di
padang pasir. Sebutan hubb (cinta) diberikan kepada
benih-benih di padang pasir tersebut (hibb), karena
cinta adalah sumber kehidupan sebagaimana benih-benih
merupakan asal mula tanaman. Karena, ketika benih-benih
disebarkan di gurun pasir, mereka pun tersembunyi di bumi,
dan hujan turun pada mereka dan matahari menyinari mereka
dan dingin dan panas menyapu mereka, namun mereka tidak
rusak oleh perubahan musim, tapi malah tumbuh dan berbunga
dan memberikan buah. Demikian pula cinta, bilamana ia ada di
hati, ia tidak rusak oleh kehadiran atau ketidakhadiran,
oleh senang atau susah, oleh keterpisahan atau persatuan.
Yang lain mengatakan bahwa mahabbat diturunkan dari hubb,
yang berarti sebuah tempayan yang penuh dengan air
yang tenang, karena bilamana cinta berpadu di dalam
hati dan memenuhi hati, di situ tak ada ruang lagi bagi
pikiran tentang selain yang dicintai, sebagaimana Syibli
mengatakan: Cinta disebut mahabbat karena ia menghapus
(tamhu) dari hati segala sesuatu kecuali yang dicintai. Yang
lain lagi mengatakan bahwa mahabbat diturunkan dari hubb,
yang artinya, empat keping kayu penyangga poci air,
karena seorang pencinta dengan suka hati menerima apa saja
yang dilakukan kekasihnya terhadapnya - penghormatan atau
yang tidak berkenan di hati, susah atau senang, belaian
kasih atau kekasaran. Menurut yang lainnya lagi,
mahabbat diturunkan dari kata habb, jamak dari habbat, dan
habbat adalah relung hati, di mana cinta bersemayam. Dalam
hubungan ini, mahabbat disebut menurut tempat bersemayamnya,
suatu prinsip yang banyak sekali contohnya dalam bahasa
Arab. Yang lain menurunkannya dari habab,
gelembung-gelembung air dan luapan-luapannya pada
waktu hujan lebat, karena cinta adalah luapan hati
yang merindukan persatuan dengan sang kekasih. Sebagaimana
badan hidup karena ruh, begitu pula hati hidup karena cinta,
dan cinta hidup karena melihat dan bersatu dengan sang
kekasih. Yang lain juga menyatakan bahwa hubb adalah sebutan
terhadap cinta murni, karena orang-orang Arab menyebut putih
murni mata manusia habbat al-insan, seperti halnya mereka
menyebut hitam murni (relung) hati habbat al-qalb. Yang
terakhir ini tempat cinta, yang pertama pandangan
(penglihatan). Oleh karena itu, hati dan mata adalah
lawan-lawan dalam cinta, sebagaimana penyair mengatakan:
- Hatiku iri pada mataku yang suka melihat.
- Dan mataku iri pada hatiku yang suka
merenung.
Macam Cinta
Ketahuilah bahwa istilah cinta
(mahabbat) digunakan oleh para ahli teologi dalam
tiga arti: Pertama, senantiasa menginginkan objek cinta, dan
kecenderungan serta syahwat (dalam asmara), yang dalam arti
ini cinta hanya mengacu kepada wujud-wujud ciptaan (makhluk)
dan kasih sayang mereka satu sama lain, tapi tidak bisa
digunakan kepada Tuhan, yang mahasuci dari apa pun yang
seperti ini. Kedua, kemurahan Tuhan dan anugerah-Nya yang
berupa keistimewaan kepada orang-orang yang Dia pilih dan
yang Dia sebabkan dapat mencapai kesempurnaan kewalian dan
yang dibedakan-Nya secara khusus dengan bermacam-macam
anugerah keajaiban-Nya. Ketiga, pujian yang Tuhan limpahkan
kepada seseorang karena suatu perbuatan yang baik
(tsana-yi jamil).4
Beberapa filosof skolastik mengatakan bahwa cinta Tuhan,
yang Dia telah membuatnya dikenal oleh kita, merupakan salah
satu sifat tradisional, seperti wajah-Nya dan tangan-Nya dan
penempatan Diri-Nya sendiri yang sekukuh-kukuhnya pada
singgasana-Nya (istiwa), yang eksistensinya dari
sudut akal akan tampak tidak mungkin jika tidak dinyatakan
sebagai sifat-sifat Ilahi dalam Al-Quran dan Sunnah. Karena
itu, kita mengakuinya dan mempercayainya. Kaum skolastik ini
bermaksud menyangkal dapat diterapkannya istilah
cinta pada Tuhan dalam semua artian yang aku
sebutkan. Aku akan menerangkan sekarang tentang kebenaran
masalah ini.
Cinta Tuhan kepada manusia adalah kehendak baik-Nya
kepadanya dan kasih-sayang-Nya kepadanya. Cinta adalah salah
satu nama kehendak-Nya (iradat), seperti
keridhaan, murka, kasih
sayang, dan lain-lain. Dan kehendak-Nya adalah suatu
sifat yang qadim di mana Dia menghendaki
tindakan-tindakan-Nya. Pendeknya, cinta Tuhan kepada manusia
itu adalah mempertunjukkan banyak keridhaan kepadanya, dan
memberinya ganjaran di dunia ini dan di akhirat, dan
membuatnya aman dari hukuman dan menjaganya selamat dari
dosa, dan melimpahkan kepadanya keadaan-keadaan
mulia dan kedudukan-kedudukan yang luhur dan
yang menyebabkannya memalingkan pikiran-pikirannya dari
semua yang bukan Tuhan. Bilamana Tuhan secara khusus
mengistimewakan seseorang dengan cara ini, pengkhususan
kehendak-Nya itu disebut cinta. Ini adalah doktrin Harits
Muhasibi, Junayd, sejumlah besar Syaikh Sufi, dan para ahli
hukum dari aliran ini; dan kebanyakan kaum skolastik Sunni
menganut pandangan yang sama. Mengenai pernyataan mereka
bahwa cinta Ilahi adalah pujian yang diberikan kepada
seseorang karena perbuatan baik (tsana-yi jamil bar
banda), pujian Tuhan adalah perkataan-Nya
(kalam), yang tidak diciptakan (bukan makhluk). Dan
mengenai pernyataan mereka bahwa cinta Ilahi berarti
kebajikan, kebajikan-Nya terkandung dalam
tindakan-tindakan-Nya. Oleh karenanya, pandangan-pandangan
yang berbeda itu pada hakikatnya berhubungan erat satu sama
lain.
Cinta manusia kepada Tuhan adalah suatu kualitas yang
mengejawantah dalam hati orang beriman yang taat, dalam
bentuk penghormatan dan pengagungan, sehingga ia berusaha
memuaskan Yang Dicintainya dan menjadi tidak sabar dan resah
karena keinginannya untuk memandang-Nya, dan tidak bisa
tenang dengan siapa pun kecuali Dia, dan menjadi akrab
dengan mengingat (dzikr) Dia, dan bertekad akan, melupakan
segala yang lain. Diam menjadi haram baginya, dan tenang
lenyap darinya. Ia terputus dari semua kebiasaan dan
hubungan-hubungan dengan sesamanya, dan menyangkal hawa
nafsu, dan berpaling kepada istana cinta dan tunduk kepada
hukum cinta dan mengenal Allah melalui sifat-sifat
sempurna-Nya. Tidaklah mungkin bahwa cinta manusia kepada
Tuhan serupa dengan cinta makhluk-makhluk-Nya terhadap satu
sama lain, karena yang pertama ialah keinginan untuk
memahami dan mencapai objek yang dicintai, sementara yang
kedua adalah sifat tubuh. Para pencinta Tuhan adalah
orang-orang yang mengabdikan diri mereka kepada kematian
dalam kedekatan kepada-Nya, bukan orang-orang yang mencari
watak (kayfiyyat)-Nya karena sang pencari bersandar pada
dirinya sendiri, namun ia yang mengabdikan dirinya kepada
kematian (mustahlik) bersandar pada Yang Dicintainya. Dan
para pencinta yang paling sejati adalah mereka yang suka
mati seperti itu, dan terkuasai, karena wujud fenomenal
tidak mempunyai cara untuk mendekati yang Qadim kecuali
melalui kemahakuasaan Yang Qadim. Ia yang mengenal cinta
sejati, tidak merasakan kesulitan-kesulitan lagi, dan semua
keraguannya lenyap. Lalu, cinta ada dua macam: (1) cinta
terhadap yang sejenis, yang merupakan suatu keinginan yang
dirangsang oleh hawa nafsu dan yang mencari esensi (dzat)
objek yang dicintai melalui hubungan seksual; (2) cinta dari
yang tidak serupa dengan objek cintanya dan yang berusaha
untuk menjadi terikat erat dengan suatu sifat objek itu,
misalnya mendengar tanpa kata-kata (suara) atau melihat
tanpa mata. Dan orang-orang beriman yang mencintai Tuhan
terdiri atas dua macam: (1) orang-orang yang menghargai
anugerah dan kebajikan Tuhan kepada mereka, dan mereka
diarahkan oleh penghargaan itu untuk mencintai Yang
Mahabajik; (2) orang-orang yang begitu dikuasai oleh cinta
sehingga mereka memandang semua anugerah sebagai tabir
(antara diri mereka dan Allah), dan dengan memandang Yang
Mahabajik mereka dipimpin ke (kesadaran tentang)
anugerah-anugerah-Nya. Cara yang terakhir ini adalah cara
yang lebih tinggi (mulia).
Doktrin Khas tentang Cinta
Di antara Syaikh-syaikh Sufi, Sumnun Al-Muhibb menganut
doktrin khas mengenai cinta. Ia menyatakan bahwa cinta
adalah dasar dan prinsip dari jalan menuju Tuhan, bahwa
semua keadaan (hal) dan
peringkat (maqam) adalah tingkat-tingkat
cinta, dan bahwa setiap tingkat dan tempat di mana sang
pencari bisa mengalami kehancuran, kecuali tempatnya cinta,
tidak bisa hancur dalam keadaan-keadaan apa pun selama jalan
itu sendiri tetap ada. Semua Syaikh yang lain sepakat dengan
dia dalam masalah ini, tetapi karena istilah
cinta sudah umum dan sudah dikenal, dan
mereka menginginkan doktrin tentang cinta Ilahi tetap
tersembunyi, sebagai ganti menyebutnya cinta
kemudian mereka memberinya sebutan kesucian
(shafwat), dan pencinta mereka sebut
Sufi. Mereka menggunakan
kefakiran (faqr) untuk menunjuk kepada
penyangkalan kehendak pribadi si pencinta dalam mengukuhkan
kehendak Yang Dicinta, dan mereka menyebut pencinta sebagai
fakir. Aku telah menerangkan teori tentang
shafwat dan faqr pada permulaan buku ini.
Amr bin Utsman Makki mengatakan dalam
Kitab-i Mahabbat5 bahwa Allah menciptakan
jiwa (dilha) tujuh ribu tahun sebelum badan, dan
menjaganya dalam peringkat kedekatan (qurb), dan
bahwa Dia menciptakan ruh (janha) tujuh ribu tahun
sebelum jiwa dan menjaganya dalam derajat kedekatan
(uns), dan bahwa Dia menciptakan kalbu
(sirrha) tujuh ribu tahun sebelum ruh dan menjaganya
dalam derajat persatuan (washl), dan mengungkapkan
keindahan-Nya kepada kalbu sebanyak tiga ratus enam puluh
kali setiap hari dan menganugerahkan kepadanya tiga ratus
enam puluh penglihatan akan rahmat, dan Dia menyebabkan ruh
mendengar kata cinta dan menampakkan tiga ratus enam puluh
nikmat kedekatan yang mendalam kepada jiwa, sehingga
semuanya memandangi alam semesta yang fenomenal dan melihat
tidak ada yang lebih elok daripada diri mereka sendiri dan
mereka dipenuhi dengan kesia-siaan dan kecongkakan. Karena
itu, Tuhan pun mengujinya. Dia memenjarakan kalbu di dalam
ruh dan ruh di dalam jiwa dan jiwa di dalam badan. Kemudian
Dia mencampur akal (aql) dengan mereka, dan mengutus
nabi-nabi dan memberikan perintah-perintah. Lalu
masing-masing di antara mereka mulai mencari peringkat
(maqam) aslinya. Tuhan menyuruh mereka bersembahyang. Badan
lalu melakukan shalat, jiwa menggapai cinta, ruh sampai pada
kedekatan dengan Tuhan, dan kalbu menemukan ketenangan dalam
persatuan dengan-Nya. Keterangan tentang cinta bukanlah
cinta, karena cinta adalah perasaan dunia ingin meraih
cinta, mereka tidak bisa; dan jika mereka berusaha
sekeras-kerasnya untuk menolaknya, mereka tidak bisa. Cinta
adalah suatu anugerah Ilahi, bukan sesuatu yang bisa
diusahakan untuk dicapai.
Cinta Membara
(Isyq)
Mengenai cinta membara (isyq) terdapat
banyak perselisihan di antara para Syaikh. Beberapa Sufi
beranggapan bahwa cinta membara terhadap Tuhan boleh-boleh
saja, namun itu bukan dari Tuhan. Cinta semacam itu, kata
mereka, adalah sifat dari orang yang terpisah dari
kekasihnya, dan manusia terpisah dari Tuhan, tetapi Tuhan
tidak terpisah dari manusia. Karenanya. manusia bisa sangat
mencintai Tuhan, namun istilah ini tidak bisa diterapkan
pada Tuhan. Yang lainnya berpandangan bahwa Tuhan tidak bisa
dijadikan objek cinta membara manusia, karena cinta semacam
itu melampaui batas, sementara Tuhan tidak terbatas.
Orang-orang masa kini menyatakan bahwa cinta yang membara,
di dunia ini dan di akhirat, adalah hanya tepat diterapkan
pada keinginan untuk mencapai esensi (zat), dan karena
esensi Tuhan tidak bisa dijangkau, maka istilah itu
(isyq) tidak tepat digunakan dalam hubungannya
dengan cinta manusia kepada Tuhan, meskipun istilah-istilah
cinta (mahabbat) dan cinta suci
(shafwat) itu betul. Lagi pula, mereka mengatakan bahwa
selagi cinta (mahabbat) bisa ditimbulkan lewat pendengaran,
cinta membara (isyq) tidak mungkin bisa
ditimbulkan tanpa penglihatan nyata. Karenanya, cinta
semacam itu tidak bisa dirasakan terhadap Tuhan, yang tidak
terlihat di dunia ini. Esensi Tuhan tidak bisa dijangkau
atau tidak bisa dicerap, sehingga manusia tidak bisa
merasakan cinta membara terhadap Tuhan. Tetapi manusia
merasakan cinta (mahabbat) terhadap Tuhan, karena
Tuhan, melalui sifat-sifat dan tindakan-tindakan-Nya,
menganugerahkan rahmat-Nya kepada sahabat-sahabat-Nya
(wali-wali-Nya). Karena Yaqub terserap dalam cinta
(mahabbat) kepada Yusuf, yang darinya dia terpisah, matanya
menjadi bersinar terang begitu dia mencium baju Yusuf;
tetapi karena Zulaykha siap mati demi cinta membaranya
kepada Yusuf, matanya tertutup hingga ia bersatu dengannya.
Juga dikatakan bahwa cinta membara bisa diterapkan pada
Tuhan, dengan alasan bahwa Tuhan ataupun cinta membara tidak
memiliki lawan.
Watak Cinta
Aku sekarang akan menyebutkan beberapa keterangan yang
telah diberikan oleh Syaikh-syaikh Sufi mengenai watak
sebenarnya dari cinta. Allamah Abul Qasim Qusyayri
mengatakan: Cinta adalah peniadaan sifat-sifat sang
pencinta dan pengukuhan esensi Yang Dicintai, yakni
karena Yang Dicintai itu baka (baqi) dan sang
pencinta fana (fani), keirian cinta menuntut agar
sang pencinta membuat kebakaan Yang Dicintai menjadi mutlak
dengan menafikan dirinya sendiri, dan ia tidak dapat
menafikan sifat-sifatnya sendiri kecuali dengan mengukuhkan
esensi Yang Dicintainya. Tidak ada pencinta yang bisa
berdiri dengan sifat-sifatnya sendiri, karena dalam masalah
itu ia tidak memerlukan keindahan Yang Dicintai. Tapi,
bilamana ia mengetahui bahwa hidupnya bergantung pada
keindahan Yang Dicintai, ia niscaya berusaha melenyapkan
sifat-sifatnya sendiri, yang menabirinya dari Yang
Dicintainya. Maka, dalam cinta kepada Sahabatnya, ia menjadi
musuh bagi dirinya sendiri. Sudah termasyhur bahwa kata-kata
terakhir Husayn bin Manshur (Al-Hallaj) ketika akan dihukum
mati adalah Hasb al-wajid ifrad al-wahid (Cukuplah
bagi pencinta membuat yang Satu itu satu), yakni bahwa
eksistensinya harus dilenyapkan dari jalan cinta dan bahwa
kekuasaan hawa nafsu atau jiwa rendahnya harus dihancurkan
sepenuhnya. Abu Yazid Bisthami mengatakan: Cinta itu
adalah menganggap milikmu yang banyak sebagai sedikit, dan
yang sedikit dari yang kau cintai sebagai yang banyak.
Demikianlah, bagaimana Tuhan Sendiri memperlakukan
hamba-hamba-Nya, karena Dia menyebutnya sedikit
apa yang Dia telah berikan kepada mereka di dunia ini (QS 4:
79), tetapi menyebut pujian mereka kepada-Nya
banyak - laki-laki dan perempuan yang
banyak memuji Tuhan (QS 33:35) - agar semua
makhluk-Nya mengetahui bahwa Dia adalah Yang Tercinta,
karena tidak ada yang kecil (sedikit) yang Allah limpahkan
kepada manusia, dan semuanya sedikit yang manusia
persembahkan kepada Allah. Sahl bin Abdallah
Al-Tustari mengatakan: Cinta itu adalah melakukan
tindak-tindak ketaatan (muanaqat
al-thaat) dan menghindari tindak-tindak
kedurhakaan, karena seseorang melaksanakan perintah
dari yang dicintainya lebih mudah karena kekuatan cinta di
dalam hatinya. Demikianlah, penolakan orang-orang zindiq
yang menyatakan bahwa seseorang bisa mencapai derajat cinta
sedemikian rupa sehingga dia tidak lagi dituntut untuk taat,
suatu doktrin yang jelas-jelas sesat. Tidaklah mungkin bahwa
seseorang, selagi masih sehat akalnya, akan dibebaskan dari
kewajiban-kewajiban agamanya, karena hukum Muhammad tidak
akan pernah terhapus, dan jika orang semacam itu bisa
dibebaskan begitu rupa, mengapa tidak semuanya? Masalah
orang-orang yang dikuasai oleh perasaan yang mendalam
(maghlub) dan orang-orang idiot (yang tidak sempurna
akalnya) (matuh) itu berbeda. Mungkin saja
Allah dengan cinta-Nya akan membawa seseorang ke derajat
sedemikian sehingga ia tak mengalami kesulitan untuk
melaksanakan tugas-tugas agamanya, karena semakin orang
mencintai Dia yang memberikan perintah, semakin berkurang
kesulitan yang akan ia alami dalam melaksanakannya. Ketika
Rasul menumpahkan diri sepenuhnya untuk ibadah siang dan
malam, sehingga kaki beliau yang penuh berkah itu bengkak,
Allah berfirman: Kami tidak menurunkan Al-Quran
kepadamu agar engkau menjadi susah (QS 20:2). Dan
mungkin juga bahwa orang akan dibebaskan dari kesadaran
tentang melaksanakan perintah Allah, sebagaimana Rasul
bersabda: Sesungguhnya, sebuah tabir menutupi hatiku,
dan aku memohon ampunan kepada Tuhan tujuh puluh kali
sehari, yakni beliau memohon diampuni untuk
tindakan-tindakannya, karena beliau tidak memandang dirinya
sendiri dan tindakan-tindakannya, agar beliau senang dengan
ketaatannya, dan yang dipandang hanya kemegahan perintah
Allah, dan berpikir bahwa tindakan-tindakannya tidak berarti
sama sekali di haribaan Tuhan. Sumnun Al-Muhibb mengatakan:
Para pencinta Tuhan membawa kebesaran dunia ini dan
akhirat, karena Nabi saw. bersabda, Seseorang itu
bersama dengan yang dicintanya. Karena itu,
mereka bersama dengan Tuhan di dua alam itu, dan orang-orang
yang bersama dengan Tuhan tidak bisa berbuat salah.
Kebesaran dunia ini ialah bersamanya Tuhan dengan mereka,
dan kebesaran akhirat ialah keberadaan mereka bersama Tuhan.
Yahya bin Muadz Al-Razi mengatakan: Cinta sejati
tidaklah berkurang karena ketidakbaikan dan tidak bertambah
karena kebaikan dan kemurahan, karena di dalam cinta
kebaikan dan ketidakbaikan adalah sebab-sebab, dan sebab
dari sesuatu itu tidak ada lagi bilamana sesuatu itu sendiri
benar-benar ada. Seorang pencinta senang dalam penderitaan
yang ditimbulkan oleh yang dicintainya. Dan karena cinta, ia
menganggap kebaikan dan ketidakbaikan sama saja, tidak
berbeda. Ada kisah termasyhur bagaimana Syibli dianggap gila
dan ditahan di sebuah rumah sakit jiwa. Beberapa orang
datang mengunjunginya. Siapakah engkau? ia
bertanya. Mereka menjawab: Teman-temanmu, lalu
ia melempari mereka dengan batu-batu dan membuat mereka lari
tunggang langgang. Lalu ia berkata: Kalau kalian
teman-temanku, tentu kalian tidak akan lari dari
penderitaanku.
Catatan Kaki:
- Di sini pengarang mengutip sebuah uraian yang
diberikan oleh Hatim Al-Ashamm tentang kebiasaannya
berdoa atau shalat.
- Nafahat, No. 259.
- Inilah sebuah riwayat, yang pernah diriwayatkan dalam
kisah tentang Abu Bakar, mengenai kebiasaan Abu Bakar dan
Umar yang berbeda dalam membaca Al-Quran ketika
mereka melakukan shalat.
- Lihat Qusyayri (Kairo, 1318 H.), 170, 14 sqq.
- Buku tentang Cinta.
|