Membuka Hijab (8/9)

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

Ada beberapa jalan yang digunakan orang untuk melakukan meditasi yaitu menatap dengan pikiran kepada suatu objek yang diyakininya. Serta sensasi yang mempengaruhi terhadap perilakunya. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Eckankar, didapatkan suatu sensasi yang terjadi pada pelaku meditator, dari seluruh aliran spiritual yang ada didunia. Eckankar menamainya kalam semesta Ilahi.

Ada jenis tahapan, serta kata-kata yang dijadikan sarana untuk tafakkur, jenis pengelompokan, suasana yang dirasakan didalam spiritual, serta penjelasan dan manfaatnya.

Kalam Ilahi Menurut Eckankar

(Lihat Lampiran dalam format RTF)

Eckankar membawa kesadaran kita menuju alam spiritual dan batasan-batasan yang dicapai oleh para meditator. Betapa ia sangat teliti dan hati-hati dalam mengungkapkan "keadaan" atau suasana yang dialami oleh spiritualis, pengelompokan dan tahapan-tahapan agar menjadi "catatan" bagi para pemula didalam menjalani "laku spiritual", terutama objek apa yang digunakan dalam menghantarkan jiwa kembali kepada eksistensi diri sejati.

Islam menempatkan "Allah" sebagai objek yang tak terbandingkan merupakan sarana membebaskan jiwa dari ikatan dan pengaruh alam yang dilaluinya, sehingga jiwa yang terlepas dari alam, mustahil syetan dan jin mampu menembus alam jiwa yang bebas (ikhlas). Firman Allah:

"Iblis menjawab: demi kekuasaan Engkau ,aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka" (Qs Shaad, 38: 82-83)

Pada alam inilah "jiwa " mencapai puncak kesempurnaan spiritual tertinggi, dan Allahpun memanggilnya kembali kesisi-Nya.

"Wahai jiwa yang tenang (yang tidak terikat oleh syahwatnya) ..."

"Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan rela dan meridhai"

"Dan masuklah kamu kedalam syurga-Ku" (Qs Al Fajr, 89: 27-30)

Pada tahapan ini Eckankar tidak mengungkapkan lebih lanjut keberadaan jiwa sejati, ia hanya mengatakan" diatas the sugmad adalah masih banyak tahapan yang belum terwujud".

Pada tahapan kesepuluh "Anami lok", dan kata-kata yang digunakan sebagai objek spiritual adalah "HU" (Hua), (dari konsep laa ilaha illa hua ... tiada tuhan kecuali Dia) dia yang tak terbandingkan oleh sesuatu. Suatu konsep Qur'ani yang membedakan dari jalan spiritual manapun dan akan terhindar dari jebakan kebisingan intuisi alam materi, yang banyak dipenuhi 'anak-anak syetan' yang menempati setiap ruang angkasa spiritual.

Dilanjutkan kepada tahapan sebelas "alam sugmad" dan tahapan duabelas "sugmad" yaitu tidak ada lagi kata-kata yang digunakan (sir). yaitu keadaan samudra cinta dan kalam Ilahi yang mengalir kepada jiwa muthmainnah (jiwa yang telah terbebas dari ikatan segala macam alam).

Kemenangan perjuangan Rasulullah menghadapi tantangan dan gangguan syetan saat beliau pergi mikraj dengan kekuatan jiwa muthmainnah. Sabda nabi:

"Orang yang gagah berani bukanlah orang yang dapat menyerbu musuhnya dengan tangkas dalam pertempuran, akan tetapi orang yang gagah berani itu sebenarnya yang kuasa dan mampu menahan hawa nafsunya" (al Hadist)

"Kalaulah syetan-syetan itu tidak berkerumun di hati Bani Adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam ghaib (abstrak)" (Hr Ahmad dari abu Hurairah)

Pada tahapan tertinggi (Al A'raaf), kita akan mampu melihat fenomena-fenomena alam dibawah, seperti intuisi yang ditimbulkan oleh halusinasi, fikiran, perasaan, dan getaran gelombang&endash;gelombang pendek, yang dihembuskan syetan dan jin. Sebab jiwa telah melampaui tahapan-tahapan dari ikatan seluruh alam semesta menjulang menuju yang bukan alam, yaitu Dzat yang maha mutlak.

Firman Allah:

"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Qs Al A'raaf, 7: 201)

"Syetan-syetan itu tidak dapat mendengarkan (pembicaraan) para malaikat (alam yang tinggi) dan mereka dilemparkan dari segala penjuru" (Qs As Shaaffaat, 37:8)

"Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas yang mengambilnya pemimpin dan atas orang yang mempersekutukannya dengan Allah" (Qs An Nahl, 16:99 - 100)

Pada ayat ayat ini dijelaskan bahwa apabila objek meditasinya bukan tertuju kepada yang tak terhingga, yaitu zat yang tidak sama dengan makhluq-Nya, maka selain itu adalah wilayah syetan dan anak cucunya yang siap menerkam jiwa-jiwa yang tersesat. Maka jangan heran banyak ahli dzikir yang menyimpang seakan ia mendapatkan ilham dari Allah dan kemudian mengaku sebagai nabi, sebagai imam mahdi dan wali Allah. dan dengan seenaknya ia meninggalkan perintah-perintah Allah, tidak shalat, tidak zakat, dan berperi laku kharikul 'adah (keluar dari ketentuan syariat Allah).

Subject: [dzikrullah] Membuka Hijab 8/9 (+/+ Lampiran)
Date: Thu, 29 Jun 2000 17:07:00 -0700 (PDT)
From: Sangkan SB <patrap1@yahoo.com>

(sebelum, sesudah)


"Ya Allah, Ajari Kami Untuk Selalu Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah" (Al Hadits)


Dengan menjadi anggota keluarga Majelis Dzikrullah memahami seluruh artikel: Perjalanan Menuju Ilahi, Syari'at, Etika Islam, Hakikat Manusia, Jiwa, Hati, Berguru Kepada Allah, Membuka Hijab, Patrap/Dzikir, tanggapan & artikel lainnya ... Insya Allah anda akan mampu melaksanakan peribadatan secara kusyu' dalam kehidupan sehari-hari.

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team